Anda di halaman 1dari 5

Mengenal OHSAS 18001 dalam Penerapan SMK3

Derajat kesehatan dan keselamatan yang tinggi di tempat kerja


merupakan hak pekerja yang wajib dipenuhi oleh perusahaan disamping
hak-hak normatif lainnya. Perusahaan hendaknya sadar dan mengerti
bahwa pekerja bukanlah sebuah sumber daya yang terus-menerus
dimanfaatkan melainkan sebagai makhluk sosial yang harus dijaga dan
diperhatikan mengingat banyaknya faktor dan resiko bahaya yang ada di
tempat kerja.
Selain perusahaan, pemerintah pun turut bertanggungjawab untuk
melindungi kesehatan dan keselamatan kerja. Upaya yang dilakukan oleh
pemerintah dengan mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang
yang mengatur tentang K3 yaitu UU No.1 tahun 1970 tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Permenaker No.05/Men/1996
tentang Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3).
Tujuan dan sasaran yang termuat dalam SMK3 ini adalah menciptakan
suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja dengan melibatkan unsur
manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja dalam rangka
mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta
terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
Namun tujuan mulia ini belum sepenuhnya dapat dicapai, mengapa?
Kita lihat saja pada kondisi K3 di Indonesia, berdasar data tahun 2004
hingga Januari 2005, tingkat kecelakaan kerja di Indonesia mencapai
95.418 kasus dengan 1736 pekerja meninggal, 60 pekerja mengalami
cacat tetap, 2932 pekerja cacat sebagian dan 6114 pekerja mengalami
cacat ringan. Kondisi ini sesungguhnya sudah mengalami penurunan
angka kecelakaan kerja jika dibandingkan dengan data pada tahun 2003
yaitu 105.846 kasus, terjadi penurunan kasus sekitar 9,9%. Bila dirunut
dalam rentang 5 tahun mulai tahun 1999, kasus kecelakaan kerja di
Indonesia mengalami fluktuasi, dapat dilihat pada tabel berikut:

Kasus kecelakaan kerja di Indonesia


Tahun

Jumlah
kasus

Pertumbuha
n

1999

91.510

2000

98.902

8,08 %

2001

104.774

5,94 %

2002

103.804

-0,92 %

2003

105.846

1,97 %

2004

95.418

-9,85 %

Walaupun terjadi penurunan jumlah kasus kecelakaan kerja, pada tahun


2005 jumlah kecelakaan kerja di Indonesia menduduki peringkat tertinggi
di antara negara-negara ASEAN. Kondisi yang sama juga terjadi di tahun
2001, standar keselamatan kerja di Indonesia paling buruk dibandingkan
dengan negara-negara di Asia Tenggara lain, termasuk 2 negara lain yaitu
Bangladesh dan Pakistan.
Mengapa angka kecelakaan kerja di Indonesia masih begitu
tinggi?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja,
yaitu unsafe condition dan unsafe behavior. Unsafe behavior merupakan
perilaku dan kebiasaan yang mengarah pada terjadinya kecelakaan kerja
seperti tidak menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) dan penggunaan
peralatan yang tidak standard sedang unsafe condition merupakan kondisi
tempat kerja yang tidak aman seperti terlalu gelap, panas dan gangguangangguan faktor fisik lingkungan kerja lainnya. Faktor-faktor tersebut
dapat dieliminasi dengan adanya komitmen perusahaan dalam
menetapkan kebijakan dan peraturan K3 serta didukung oleh kualitas
SDM perusahaan dalam pelaksanaannya.
Sayangnya, masih sedikit perusahaan di Indonesia yang berkomitmen
untuk melaksanakan pedoman SMK3 dalam lingkungan kerjanya. Menurut
catatan SPSI, baru sekitar 45% dari total jumlah perusahaan di Indonesia
(data Depnaker tahun 2002, perusahaan di bawah pengawasannya
sebanyak 176.713) yang memuat komitmen K3 dalam perjanjian kerja
bersamanya. Jika perusahaan sadar, komitmennya dalam melaksanakan
kebijakan K3 sebenarnya dapat membantu mengurangi angka kecelakaan
kerja di lingkungan kerja. Dengan sadar dan berkomitmen, perusahaan
akan melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan kondisi kerja yang
aman dan sehat. Komitmen perusahaan yang rendah ini diperburuk lagi
dengan masih rendahnya kualitas SDM di Indonesia yang turut
memberikan point dalam kejadian kecelakaan kerja, data dari Badan
Pusat Statistik tahun 2003 menunjukkan bahwa hanya 2.7% angkatan
kerja di Indonesia yang mempunyai latar belakang pendidikan perguruan
tinggi dan 54.6% angkatan kerja hanya tamatan SD.
Sebenarnya, penerapan K3 dalam sistem manajemen perusahaan
memberikan banyak keuntungan selain peningkatan produktifitas kerja
dan tetap terjaganya kesehatan, keselamatan pekerja, penerapan K3 juga
dapat meningkatkan citra baik perusahaan yang dapat memperkuat posisi
bisnis perusahaan. Satu lagi hal penting bahwa dengan komitmen
penerapan K3, angka kecelakaan kerja dapat ditekan sehingga dapat
menekan biaya kompensasi akibat kecelakaan kerja. Perlu diketahui
bahwa nilai kompensasi yang harus dibayar karena kecelakaan kerja di
Indonesia tahun 2004 sebesar 102,461 milliar rupiah apalagi jika kita lihat
data 2003 yang sebesar 190,607 milliar rupiah, sungguh suatu nilai yang
sangat disayangkan jika harus dibuang percuma! Sebenarnya keadaan ini
tidak jauh berbeda dengan di AS, tahun 1995 pemerintah AS harus
menderita kerugian sebesar 119 milliar dollar karena kecelakaan kerja
dengan tingkat pertumbuhan kerugian sebesar 67,9 milliar dollar dalam
kurun waktu 15 tahun sejak tahun 1980.

Usaha pemerhati K3 dunia untuk menurunkan angka kecelakaan kerja


melalui suatu pedoman terhadap pelaksanaan K3 telah ada sejak
beberapa tahun yang lalu. Awalnya adalah dengan penerbitan suatu
pendekatan sistem manajemen yaitu Health and Safety ManagementHS(G)65 yang dikembangkan oleh Health and Safety Executive Inggris
yang diterbitkan terakhir pada tahun 1977. Mei 1996 muncul standar
pelaksanaan K3,BS 8800 (British Standard 8800) yang bertujuan untuk
meningkatkan kinerja organisasi K3 melalui penyediaan pedoman
bagaimana manajemen K3 berintegrasi dengan manajemen dari aspek
bisnis yang lain. Hingga tahun 1999 muncul standar baru yaitu OHSAS
18001 yang dikeluarkan sebagai spesifikasi dan didasarkan pada model
yang sama dengan ISO 14001, bersamaan dengan itu diterbitkan pula
OHSAS 18002 sebagai pedoman pada penerapan OHSAS 18001.
Sebenarnya apa OHSAS itu? Bagaimana penerapannya dalam system
manajemen perusahaan? Mari kita mengenal lebih dekat.
OHSAS 18001, Apa dan bagaimana?
OHSAS Occupational Health and Safety Assesment Series-18001
merupakan standar internasional untuk penerapan SMK3. Tujuan dari
OHSAS ini sendiri tidak jauh berbeda dengan tujuan SMK3 Permenaker,
yaitu meningkatkan kondisi kesehatan kerja dan mencegah terjadinya
potensi kecelakaan kerja dan mencegah terjadinya potensi kecelakaan
kerja karena kondisi K3 tidak saja menimbulkan kerugian secara
ekonomis tetapi juga kerugian non ekonomis seperti menjadi buruknya
citra perusahaan.
Cikal bakal OHSAS 18001 adalah dokumen yang dikeluarkan oleh British
Standards Institute (BSI) yaitu Occupational Health and Safety
Management Sistem-Specification (OHSAS) 18001:1999. OHSAS 18001
diterbitkan oleh BSI dengan tim penyusun dari 12 lembaga standarisasi
maupun sertifikasi beberapa negara di dunia seperti, Standards Australia,
SFS Certification dan International Certification Services.
Standar OHSAS mengandung beberapa komponen utama yang harus
dipenuhi oleh perusahaan dalam penerapan SMK3 demi pelaksanaan K3
yang berkesinambungan.
Komponen Utama OHSAS 18001 .
Komponen utama standar OHSAS 18001 dalam penerapannya di
perusahaan meliputi:
1. Adanya komitmen perusahaan tentang K3.
2. Adanya perencanaan tentang program-program K3
3. Operasi dan Implementasi K3
4. Pemeriksaan dan tindakan koreksi terhadap pelaksanaan K3 di
perusahaan
5. Pengkajian manajemen perusahaan tentang kebijakan K3 untuk
pelaksanaan berkesinambungan.
Berdasarkan 5 komponen utama diatas, tahapan dalam penyusunan SMK3
menurut OHSAS 18001 melalui 7 tahapan yaitu mengindentifikasi resiko

dan bahaya, mengidentifikasi ketetapan UU dan peraturan hukum yang


berlaku, menentukan target dan pelaksana program, melancarkan
program perencanaan untuk mencapai target dan objek yang telah
ditentukan, mengadakan perencanaan terhadap kejadian darurat,
peninjauan ulang terhadap target dan para pelaksana system, terakhir
yaitu penetapan kebijakan sebagai usaha untuk mencapai kemajuan yang
berkesinambungan. Tahapan penerapan ini lebih panjang jika
dibandingkan dengan penerapan SMK3 menurut permenaker tetapi dari
segi isi tidak ada perbedaan yang signifikan.
Seiring dengan upaya pelaksanaan OHSAS dalam perusahaan, muncullah
suatu konsep baru sebagai akibat praktek OHSAS 18001 dalam
manajemen perusahaan. Konsep baru tersebut dikenal dengan nama
Green Company
Green Company
Konsep OHSAS 18001 memiliki beberapa kesesuaian dengan ISO 14001
dan ISO 9001, sehingga beberapa perusahaan mulai menjalankan
multiple management systems yaitu menjalankan ketiga system
manajemen di atas( Manajemen Mutu ISO 9001:2000, Sistem Manajemen
Lingkungan ISO 14001:2004 dan SMK3 OHSAS 18001:1999).
Penggabungan ini menimbulkan suatu konsep baru yaitu Green Company
Konsep Green Company adalah suatu konsep dimana sebuah perusahaan
mempunyai manajemen yang secara sadar meletakkan pertimbangan
perlindungan dan pembangunan lingkungan, keselamatan dan kesehatan
stakeholder dalam setiap pengambilan keputusan bisnisnya sebagai
wujud nyata tanggungjawab dan upaya memberikan kontribusi positif
kepada masyarakat serta pembangunan yang berkelanjutan. Konsep
Green Company memiliki 4 komponen utama yang tidak bias dipisahkan
satu sama lainnya yaitu green strategy, green process, green product dan
green employee. Salah satu perusahaan yang telah menjalankan konsep
Green Company adalah PT.Astra Internasional.
Lalu bagaimana gambaran pelaksanaan penerapan OHSAS 18001 dalam
perusahaan?
Coba kita lihat PT. Wijaya Karya atau WIKA yang merupakan salah satu
perusahaan BUMN yang telah menerapkan OHSAS 18001 dalam
manajemennya. WIKA adalah sebuah BUMN yang bergerak dalam bidang
jasa konstruksi. Bidang pekerjaan dengan tingkat resiko kecelakaan kerja
yang cukup tinggi. Karena alasan itulah, manajemen WIKA sangat
berkomitmen dalam imlementasi SMK3 dan pengawasan terhadap
pelaksanaannya secara terus menerus di seluruh jajaran unit kerjanya.
Komitmen WIKA dalam pelaksanaan SMK3 telah mengantarnya sebagai
pelopor penerapan SMK3 sesuai standard internasional OHSAS 18001
untuk perusahan jasa konstruksi. Bahkan pada November 2005 WIKA
memperoleh penghargaan sebagai Indonesias Most Caring Companies for
Safety Award 2005.
Apabila ditilik pada kegiatan-kegiatan rutinnya, memang beberapa
penghargaan tersebut tidak salah tangan. Sebut saja kegiatan sebagai
sosialisasi manajemen resiko yang diadakan oleh WIKA sebagai tahapan

perencanaan penerapan SMK3 . Kegiatan ini diikuti oleh semua unit


kerjanya sebagai upaya untuk mempopulerkan budaya manajemen resiko
di lingkungan kerja WIKA seperti menghindari, mengontrol dan
mentransfer resiko yang ada dan mungkin bisa ada dalam kegiatan
operasi. Ada lagi kegiatan rutin yang dilakukan WIKA sebagai upaya untuk
mensosialisasikan dan mengkomunikasikan berbagai kegiatan K3 dalam
perusahaan, Safety Talk, yang diadakan tiap bulannya .
Lalu bagaimana proses pelaksanaan K3 itu diukur?
Pelaksanaan K3 WIKA di lapangan, diukur dengan Safety Implementation
Level (SIL) yang berisi tentang kriteria dan standar pengukuran yang
telah ditetapkan hingga nantinya ada penilaian atau audit terhadap
pelaksanaan kriteria-kriteria yang harus ada. Proses audit dilakukan
dengan suatu acara yang disebut Surveillance Audit OHSAS 18001 yang
dapat digabung dengan audit ISO 9001:2000 dengan tim auditor yang
terdiri dari Tim Audit Eksternal OHSAS 18001:1999 dari PT. Sucofindo dan
tim Auditor ISO 9001:2000. Hasil audit ini digunakan oleh WIKA untuk
perbaikan manajemen K3 dan evaluasi diri untuk mengukur kinerja
perusahaan demi pengembangan SMK3 yang berkesinambungan.
Pengkajian ini dilakukan sebagai usaha untuk lebih concern terhadap K3
dan tetap menjaga komitmen Good Safety is Good Bussiness Hasilnya?
Tidak sia-sia! Januari 2006 WIKA mendapatkan penghargaan Zero
Accident dari Depnaker dan Bendera Emas dari PT. Sucofindo sebagai
perusahaan yang peduli terhadap penerapan SMK3. Bahkan berbagai
proyek baru mengalir untuk WIKA salah satunya karena komitmen WIKA
ini, sebuah keuntungan yang patut dipertahankan.
Begitu membanggakan jika perusahaan di Indonesia yang belum
menerapkan OHSAS 18001 mulai tergerak hati untuk mencoba. Akan
banyak nyawa terselamatkan dan banyak keuntungan yang dapat diraup.
Jadi tidak ada salahnya perusahan mulai mengenal dan mengakrabkan diri
dengan OHSAS 18001:1999, semua terasa lebih indah dan lebih hidup.
Good Safety is Good Bussiness, Anda Setuju?