Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KELOMPOK

KEGIATAN FIELD LAB

HOME VISIT: DIARE


DI PUSKESMAS AMPEL 1

Disusun oleh :
KELOMPOK B2
Agil Noviar Alvirosa
Alexander Adi A. U.
Arina Sabila Haq
Dessy Rachmawati
Dicky Maulana Lazuardi
Masyola Gusta A.
Meda Mitasari
Muhammad Mardhiya A.
Nanda E.S Sejati
Nopriyan Pujokusuma
Reinita Vany
Soraya Sahidha

G0012006
G0012010
G0012026
G0012056
G0012060
G0012128
G0012130
G0012138
G0012146
G0012152
G0012176
G0012214

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2015

LEMBAR PENGESAHAN

Telah disahkan laporan Field Lab dengan topik Home Visit dengan keterangan
di bawah ini:

Kelompok

: B2

Tempat

: Puskesmas Ampel 1

Waktu

: 19 dan 29 Oktober , 5 dan12 November 2015

Surakarta, 12 November 2015


Menyetujui,
Kepala Puskesmas Ampel 1

dr.
NIP. 19670428 200003 2 004

Menyetujui,
Instruktur Field Lab

dr. Fitri Nur Rachmawati


NIP. 19840606 201001 2 045

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Puskesmas Ampel 1 Boyolali merupakan Pelayanan Kesehatan
Masyarakat di bawah Dinas Kesehatan Boyolali yang terletak di
Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali (Gambar 1). Kecamatan Ampel
sendiri memiliki 2 (dua) puskesmas yaitu, Puskesmas Ampel 1 dengan
wilayah 13 desa dan Puskesmas Ampel 2 dengan wilayah 7 desa.
Puskesmas Ampel didirikan pada tahun 1971 yang berlokasi di Dukuh
Candi, Kalurahan Candi, Kecamatan Ampel sampai sekarang. Pada awal
berdirinya Puskesmas Ampel mempunyai wilayah kerja satu kelurahan
seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk akhirnya ada kebijakan
dari pemerintah Kabupaten Boyolai untuk menambah jumlah puskesmas
maka wilayah kerja puskesmas Ampel hanya satu kelurahan yaitu
Kelurahan Candi Puskesmas Ampel 1 dengan pelayanan rawat jalan dan
penunjang. UPTD Puskesmas Ampel 1 merupakan Unit Pelayanan Dinas
Kesehatan Boyolali.

Gambar 1. Letak Geografis Puskesmas Ampel


3

Hasil analisis sistem informasi puskesmas (Simpus) Ampel 1


menunjukan salah satu penyakit yang masih sering terjadi di wilayah
Ampel 1 adalah diare. Data 3 tahun terakhir puskesmas Ampel 1 Boyolali
memperlihatkan fluktuasi prevalensi diare dari tahun 2013 hingga 2015.
Dari data tersebut juga memperlihatkan adanya kecenderungan bahwa
wanita lebih banyak mengalami diare dibanding laki laki. Selain itu, data
yang terintegrasi kedalam Simpus Puskesmas tersebut juga menunjukan
adanya kecenderungan kejadian diare yang di pada musim hujan seperti di
bulan November, Desember, Januari, dsb.
Oleh karenanya, monitoring dan home visit pasien diare dalam
wilayah kerja Puskesmas Ampel I ini merupakan sebuah kegiatan yang
seharusnya rutin dilakukan mengingat puskesmas adalah fasilitas layanan
kesehatan primer bagi masyarakat. Evaluasi faktor faktor penyebab
menjadi hal penting .untuk menentukan rencana terapi kedepan.
B.

Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, diharapkan mahasiswa mampu
melakukan kunjungan rumah (home visit) sebagai pelayanan kedokteran
keluarga..
Adapun learning outcome pembelajaran ini adalah diharap mahasiswa :
1.

Mampu memahami peran dan fungsi posyandu lansia.

2.

Menjelaskan dasar-dasar kunjungan rumah (home visit) dalam kedokteran keluarga.

3.

Melakukan tahapan-tahapan dan prosedur kegiatan kunjungan rumah (home visit)


dalam pelayanan kedokteran keluarga.

4.

Mengidentifikasi permasalahan kesehatan keluarga berdasarkan fungsi keluarga dan


menyusun usulan penatalaksanaannya secara holistik dan komprehensif.

BAB II
KEGIATAN YANG DILAKUKAN
A. Kegiatan Survey Pendahulan (Senin, 19 Oktober 2015)
Survey Pendahuluan merupakan kegiatan awal sebelum terlaksananya
kegiatan lapangan pada pekan berikutnya. Dalam kegiatan survey ini,
dilakukan koordinasi antara perwakilan kelompok, yaitu Agil dan Aghfa
dengan kepala puskesmas, dokter Indah.
B. Kegiatan Lapangan I (Kamis, 29 Oktober 2015)
Pada kegiatan lapangan I pada topik home visit ini, kami berdiskusi terkait
materi field lab dengan instruktur, dokter Ika dan ibu Dwi. Kegiatan ini
dilakukan untuk menyesuaikan teori yang didapatkan di kampus dan
dibandingkan dengan home visit yang ada di Puskesmas. Selain itu kami
mencari data Puskesmas tentang kasus yang terjadi dan yang memungkinkan
untuk kami lakukan home visit pada pasien. Pasien yang kami tentukan untuk
dilakukan home visit pada pekan selanjutnya adalah Saudara Dwi Eka yang
mengalami diare dan dirawat inap di Puskesmas. Selama pelaksanaan
lapangan I ini, tidak ada hambatan yang berarti.
C. Kegiatan Lapangan II (Kamis, 5 November 2015)
Pada pertemuan hari Kamis, 5 November 2015, kami tiba di Puskesmas
Anggrek I. Pada pertemuan ini, kami melakukan home visit pada rumah
Saudara Dwi Eka. Kami melakukan wawancara dan survey secara langsung
dengan keluarga dan dengan Dwi, kami menemukan beberapa informasi yang
penting terkait dengan keadaan umum pasien saat ini, riwayat penyakit pasien,
riwayat keluarga, riwayat gaya hidup dan kebiasaan, riwayat gizi, dan
psikososial.
Selain itu, kami juga mendapatkan informasi fungsi keluarga yang
meliputi fungsi biologis, fungsi social, fungsi psikis, fungsi psikologis, fungsi
ekonomi, fungsi penguasaan masalah, fungsi fisiologis (skor APGAR), dan
fungsi patologis (skor SCREEM). Keadaan rumah pasien juga kami gali
5

informasi. Hal ini dikarenakan keadaan rumah memiliki peranan penting


dalam proses terjadinya suatu penyakit.

Keadaan rumah yang kita gali

keadaannya adalah ukuran rumah, ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur,
kamar mandi/WC, dapur, sumur, lantai, dinding, ventilasi, septic tank, dan
pembuangan sampah, serta denah rumah.
D. Kegiatan Lapangan III (12 November 2015)
Kegiatan lapangan ketiga adalah kegiatan yang di agendakan untuk
mengumpulkan laporan yang telah kami buat dan mempresentasikan kegiatan
yang telah kami lakukan.

BAB III
PEMBAHASAN
1. Karakteristik Demografis Keluarga
Tabel 1. Karakteristik Demografis Keluarga
N Nama
o

Keduduka
n

L/
P

Umur
Pendi
(tahun) dikan

Pekerjaan

Penderita
Klinik

Bapak
Sutiyono

Paman

38

STM

Peternak kambing

Ibu Tursini

Bibi

35

SMP

Ibu rumah tangga

Nur

Anak

12

SMP

Siswa

Haikal

Anak

SD

Siswa

Dwi Eka

Keponakan

19

SMK

Buruh pabrik

Diare, maag

2. Identitas Penderita
a. Nama

: Dwi Eka

b. Umur
: 19 tahun
c. Jenis kelamin
: perempuan
d. Agama
: islam
e. Pekerjaan
: buruh pabrik
f. Alamat
: Candi, Ampel, Boyolali
g. Status pernikahan
: belum menikah
h. Tanggal kunjungan
: 5 November 2015
3. Penetapan Masalah Pasien
a. Riwayat medis
Pasien mengalami diare hingga dirawat inap di puskesmas selama 5 hari. Diare
dengan frekuensi 2-3 kali dalam sehari, konsistensi cair, disertai demam,
keringat dingin, dan tanda-tanda dehidrasi. Setahun sebelumnya didapatkan
riwayat diare yang sama namun tidak sampai menyebabkan rawat inap. Selain
itu Dwi mempunyai riwayat maag.
b. Riwayat penyakit keluarga
Dalam keluarga Dwi tidak didapatkan riwayat penyakit kronis, seperti diabetes
mellitus dan hipertensi. Riwayat alergi juga tidak ditemukan. Kedua orangtua
Dwi meninggal karena gangguan pencernaan.

c. Riwayat kebiasaan
Dwi rutin mencuci tangan setiap sebelum makan. Namun kebiasaan makannya
hanya dua kali dalam sehari. Tidak ada kebiasaan buruk seperti merokok dan
konsumsi alkohol. Dwi mengaku tidak biasa meminum minuman kemasan,
namun beberapa hari sebelum diare Dwi mencoba meminum teh kemasan yang
dijual di area pabriknya, hal inilah yang diperkirakan menyebabkan diare.
d. Riwayat sosial ekonomi
Kebutuhan keluarga sehari-hari tercukupi dengan baik. Keluarga Dwi sering
mengikuti kegiatan kerja bakti rutin. Bapak Sutiyono mempunyai 25 ekor
kambing yang dipelihara di belakang rumah, dan pekerjaan sehari-harinya
adalah mencari rumput dan menggembala kambing. Ibu Tursini adalah ibu
rumah tangga, terkadang masih mengikuti program PKK. Dwi sudah bekerja di
pabrik garmen masih rutin mengikuti kegiatan karang taruna.
e. Riwayat gizi
Keluarga Dwi biasa mengonsumsi nasi dan sayuran hijau. Selain itu juga
didampingi lauk berupa tahu, tempe, telur, dan terkadang daging. Berat badan
dan tinggi badan Dwi belum sempat diukur pada kunjungan home visit. Namun
secara umum Dwi tampak sudah lebih aktif menjawab pertanyaan dan lebih
segar jika dibandingkan dengan terakhir kali saat Dwi baru pulang dari rawat
inap di Puskesmas Ampel 1.
f. Diagnosis holistik (biopsikososial)
Meskipun terbiasa mencuci tangan sebelum makan, Dwi diperkirakan
menderita diare karena makanan yang dikonsumsi memang kurang higienis.

4. Fungsi Keluarga
a. Fungsi biologis
Keluarga tinggal dalam satu rumah terdiri dari ayah (Bapak Sutiyono, 35
tahun), ibu (Ibu Tursini, 30 tahun), anak pertama (Nur, 12 tahun), anak kedua
(Haikal, 9 tahun), dan keponakan (Dwi, 19 tahun).
b. Fungsi sosial
Diketahui Bapak Sutiyono dan Ibu Tursini aktif mengikuti kegiatan
masyarakat, seperti kerja bakti dan PKK. Pasien juga aktif mengikuti kegiatan
karang taruna. Hubungan dengan tetangga berjalan baik.
c. Fungsi psikologis

Hubungan antar anggota keluarga baik. Pekerjaan Ibu Tursini sebagai ibu
rumah tangga yang hanya tinggal di rumah dan Bapak Sutiyono sebagai
peternak kambing sekaligus pencari rumput membuat keluarga ini tidak
kekurangan waktu untuk bersama. Dwi sendiri bekerja sesuai shift kerjanya.
Meski bukan anak kandung dan hanya berstatus keponakan, namun Dwi sudah
dianggap oleh Bapak Sutiyono dan Ibu Tursini layaknya anak sendiri.
d. Fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan
Kebutuhan keluarga sehari-hari dapat dipenuhi dengan baik.
e. Fungsi penguasaan masalah dan kemampuan beradaptasi
Keluarga dapat berinteraksi dengan masyarakat dengan baik tanpa ada masalah
yang berarti. Tidak ada masalah berarti di dalam keluarga ini.
f. Fungsi fisiologis (Skor APGAR)
Tabel 2. Skor APGAR
Sering / Kadang

A.P.G.A.R. keluarga
A

Selalu

Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga


saya bila saya menghadapi masalah

Saya puas dengan cara keluarga saya membahas


dan membagi masalah dengan saya

Jarang

-kadang / tidak

G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan


mendukung keinginan saya untuk melakukan
kegiatan baru atau arah hidup yang baru
A

Saya

puas

dengan

cara

keluarga

saya

mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon


emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll
R

Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya


membagi waktu bersama-sama

Berdasarkan skor APGAR, diketahui fungsi biologis baik


g. Fungsi patologis (Skor SCREEM)
SUMBER

PATOLOGI

KET

Social

Hubungan dengan masyarakat cukup baik dan harmonis. +


Partisipasi cukup aktif dalam kegiatan yang ada di masyarakat.

Cultural

Menggunakan bahasa yang baik, tata krama, dan kesopanan

Religious

Pemahaman agama baik. Seluruh keluarga menjalani ibadah +


secara rutin dan tertib.

Economic

Ekonomi keluarga tergolong cukup, kebutuhan keluarga sehari- +


hari dapat terpenuhi.

Education

Riwayat pendidikan keluarga kurang. Ayah dan ibu pasien hanya -

al

tamat SMP.

Medical

Untuk pelayanan kesehatan, keluarga ini biasa datang ke dokter +


yang praktek di lingkungan setempat. Akses untuk mencapai
puskesmas juga tidak jauh.

5. Struktur Keluarga (Genogram)

Tn. Rusdi

Ny. Saminah

Riwayat Ispa kronik

Tn. Sriyono

Nur

Ny. Tursini

Haikal

Tn. Jumari, 34

Dwi Eka, 18 th

Rematitis dan
Gastritis Kronis

Ny. Tumini, 30

Dio , 12 tahun
10

Riwayat Gastritis
Kronis dan dermatitis

Gambar 1. Struktur keluarga (Genogram)


Keterangan:
= laki-laki

= pasien

= perempuan

= meninggal

6. Pola Interaksi Keluarga

Ny.
Tursin
i

Tn.
Sriyono

Nu
r

Haikal

Eka

11

Gambar 2. Pola Interaksi keluarga


Keterangan :
Hubungan harmonis
Hubungan kurang/ tidak harmonis

Laki-laki

Perempuan

Meninggal

7. Keadaan Rumah dan Lingkungan


a. Ukuran rumah
Ukuran rumah pasien sekitar 6x20 meter2 dengan 5 penghuni yaitu pasien, ibu
dan ayah pasien, kakak pasien dan nenek pasien.

b. Ruang tamu
Ruang tamu berukuran 3x5 meter2 dengan satu set kursi tamu beserta mejanya.
Ruang tamu tergolong cukup luas dengan ventilasi yang sangat memadai.
c. Ruang keluarga
Ruang keluarga difungsikan sebagai ruangan untuk menonton televisi bersamasama, terletak tepat di belakang ruang tamu.
d. Ruang tidur
Terdapat dua ruang tidur yang terletak di sisi kanan ruang tamu dan tepat di
samping ruang keluarga.
e. Kamar mandi/WC
Terdapat satu kamar mandi sekaligus WC di dalam rumah. WC yang digunakan
adalah kloset jongkok dengan leher angsa yang cukup terawat. Meskipun

12

ditempatkan dalam ember, air di rumah ini cukup bersih karena berasal dari
sumur.
f. Dapur
Dapur cukup luas dengan lantai sudah dikeramik, sehingga relative bersih.
Dapur terlihat rapi,piring disusun rapi didalam rak.
g. Dinding rumah
Dinding rumah merupakan dinding permanen dengan bahan baku batu-bata
dan semen.
h. Ventilasi rumah
Secara umum system ventilasi di rumah ini baik. Cahaya yang masuk sudah
cukup, keadaan rumah tidak pengap, dan tidak ada ruangan yang gelap karena
kekurangan cahaya.
i. Lantai rumah
Lantai rumah sudah dikeramik.
j. Sumur/sumber air
Sumur terletak di depan rumah.
k. Septic tank
Tidak ada septic tank di rumah ini. Sebagai gantinya, semua limbah buangan
dan kotoran langsung dialirkan ke sungai yang berada tepat di samping rumah.
l. Tempat pembuangan sampah
Tersedia tempat sampaah di ruang tamu dan beberapa ruangan lainnya. Sampah
kemudian dibakar di depan rumah.
8. Denah Rumah
Kandang kambing

13

KM/WC

Dapur

Ruang keluarga

Ruang tamu

Halaman Samping

Kamar

Sumur

Halaman Depan

Gambar 3. Denah Rumah Pasien Diare


9. Daftar Masalah
a. Masalah Medis : Dwi Eka dengan penyakit diare. Selain itu, pasien juga
memiliki riwayat gastritis kronis dan dermatitis
b. Masalah non medis
Perilaku hidup : Kebiasaan makan tidak teratur
Masalah psikososial : Tidak ada
10. Kesimpulan dan saran
Pemberian edukasi tentang:
Diet sehat Makan dengan karbohidrat kompleks : nasi, roti. Makan
makanan yang tinggi protein dan gula. Perbanyak makan buah dan sayur

14

berserat tinggi. Jadwal makan juga sebaiknya sedikit-sedikit tapi sering.


Membiasakan untuk sarapan pagi, sehingga gastritis nya tidak sering kambuh
jadi tidak terlalu sering minum Antasida doen karena dapat mengganggu
keseimbangan

mikroorganisme

saat asam

lambung

turun, sehingga

kemungkinan dapat menyebabkan diare.


Meningkatkan kebersihan pribadi dan lingkungan
Kontrol ke Puskesmas setelah obat habis
Olahraga rutin dipertahankan.

15

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Keluhan diare yang diderita diperkirakan akibat konsumsi dari makanan yang
kurang higienis. Fungsi keluarga sudah baik, dimana tidak ditemukannya
masalah yang berarti baik diantara keluarga maupun masyarakat sekitar.
Keadaan rumah dan lingkungan cukup baik dan bersih.
B. SARAN
Dapat dilakukan pemberian edukasi tentang:
1.
2.
3.
4.

Konsumsi makanan yang sehat dan higienis


Meningkatkan kebersihan pribadi dan lingkungan
Kontrol ke Puskesmas setelah obat habis
Olahraga rutin tetap dipertahankan.

16

DAFTAR PUSTAKA
Darmojo R. B. 2007. Gerontologi dan Geriatri di Indonesia.Dalam: Sudoyo A. W.,
Setiyahada B., Alwi I., Simadibrata M., Setiati S.(eds). Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid III. Edisi IV. Jakarta:Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FKUI, pp: 1447-50.
Hanim D., Widyaningsih V., Lestari A., Wicaksono B. et al 2015. Manual Field
Lab KIE: Pembinaan Posyandu Lansia Guna Pelayanan Kesehatan
Lansia.Surakarta: Fakultas Kedokteran UNS, pp.1-51.
Setiti S. G. 2007. Laporan Hasil Penelitian: Pelayanan Lanjut Usia Berbasis
Kekerabatan

http://www.depsos.go.id/unduh/penelitian2007/200707.

diakses 26 Mei 2015

17

LAMPIRAN 1

18