Anda di halaman 1dari 25

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI

PROGRAM STUDI FARMASI F-MIPA


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA II


PERCOBAAN I
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI ALKALOID PIPERIN
DARI FRUCTUS PIPERIS ALBI

Disusun oleh:
Laila Khairani
J1E112027
Kelompok IV

PROGRAM STUDI S-1 FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015

PERCOBAAN I
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI ALKALOID PIPERIN
DARI FRUCTUS PIPERIS ALBI

KELOMPOK I
Mengetahui,
Asisten

Nilai Laporan Awal

( Hayatun Pardah )

Tanggal : 13 Maret 2015

Nilai Laporan Akhir

Tanggal : 06 April 2015

PROGRAM STUDI S-1 FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2015
PERCOBAAN I
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI ALKALOID PIPERIN
DARI FRUCTUS PIPERIS ALBI

I. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah memahami prinsip dan melakukan
isolasi piperin dari fructus piperis albi beserta analisis kualitatif hasil isolasi
dengan metode kromatografi lapis tipis.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional di Indonesia telah
dilakukan oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu. Indonesia
dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, memiliki lebih kurang 30.000
spesies tumbuhan dan 940 spesies diantaranya termasuk tumbuhan berkhasiat.
Tumbuhan tersebut menghasilkan metabolit sekunder dengan struktur molekul
dan aktifitas biologi yang beraneka ragam serta memiliki potensi yang sangat
baik untuk dikembangkan menjadi obat berbagai macam penyakit (Titis et al.,
2013).
Pemanfaatan tumbuhan sebagai penghasil senyawa-senyawa kimia aktif
baru yang unik dan potensial secara ekonomi selalu menarik perhatian ahli kimia
organik dan alam, mengingat jumlah dan varietasnya yang demikian banyak.
Dari semua itu sebagian belum diketahui kandungan senyawa aktifnya. Oleh
karena itu penelitian senyawa aktif yang sistematis terhadap tumbuhan perlu
dilakukan dalam rangka memanfaatkan dan mengembangkan lebih lanjut
senyawa tersebut (Isnawati et al., 2008).
Ladamengandungminyakatsiri,pinena,kariofilena,lionena,filandrena
alkaloidpiperina,kavisina,piperitina,piperidina,zatpahitdanminyaklemak.
Rasa pedas disebabkan oleh resin yang disebut kavisin. Kandungan piperine
dapatmerangsangcairanlambungdanairludah.Selainituladabersifatpedas,
menghangatkandanmelancarkanperedarandarah.Khasiatdaribuahladayaitu

dapat mengobati kaki bengkak pada ibu hamil, kolera, nyeri haid, rematik,
salesma,airmaniyangencer,danimpoten(Septiatin,2008).
Istilah alkaloid (berarti "mirip alkali", karena dianggap bersifat basa)
pertama kali dipakai oleh Carl Friedrich Wilhelm Meissner (1819), seorang
apoteker dari Halle (Jerman) untuk menyebut berbagai senyawa yang diperoleh
dari ekstraksi tumbuhan yang bersifat basa (pada waktu itu sudah dikenal,
misalnya, morfina, striknina, serta solanina). Alkaloid adalah kelompok senyawa
yang mengandung nitrogen dalam bentuk gugus fungsi amin. Pada umumnya,
alkaloid mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung 1 atau lebih atom
nitrogen, biasanya dalam gabungan sebagai bagian dari sistem siklik. Alkaloid
biasanya beracun, jadi banyak digunakan dalam bidang pengobatan. Alkaloid
biasanya tak berwarna, sering kali bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk
kristal tapi hanya sedikit yang berupa cairan pada suhu kamar (Markham, 1982).
Kebanyakan alkaloid yang telah diisolasi berupa padatan kristal tidak
larut dengan titik lebur yang tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi.
Sedikit alkaloid yang berbentuk amorf dan beberapa seperti; nikotin dan koniin
berupa cairan. Kebanyakan alkaloid tidak berwarna, tetapi beberapa senyawa
yang kompleks, spesies aromatik berwarna (contoh berberin berwarna kuning
dan betanin berwarna merah). Pada umumnya, basa bebas alkaloid hanya larut
dalam pelarut organik, meskipun beberapa pseudoalkaloid dan protoalkaloid
larut dalam air. Garam alkaloid dan alkaloid quartener sangat larut dalam air
(Harborne, 1984).
Kebanyakan alkaloid bersifat basa. Sifat tersebut tergantung pada adanya
pasangan elektron pada nitrogen. Jika gugus fungsional yang berdekatan dengan
nitrogen bersifat melepaskan elektron, sebagai contoh gugus alkil, maka
ketersediaan elektron pada nitrogen naik dan senyawa lebih bersifat basa.
Hingga trietilamin lebih basa daripada dietilamin dan senyawa dietilamin lebih
basa daripada etilamin. Sebaliknya, bila gugus fungsional yang berdekatan
bersifat menarik elektron (contoh; gugus karbonil), maka ketersediaan pasangan
elektron berkurang dan pengaruh yang ditimbulkan alkaloid dapat bersifat netral
atau bahkan sedikit asam. Contohnya yaitu senyawa yang mengandung gugus
amida (Sirait, 2007).

Piperine merupakan alkaloid yang ditemukan secara alami pada tanaman


milik kelompok piridin keluarga Piperaceae, seperti P. nigrum dan P. longum.
Piperin adalah trans stereoisomer dari 1-piperoylpiperidine. Hal ini juga dikenal
sebagai (E, E) -1 - piperoylpiperidine dan (E, E) -1 - [5 - (1, 3 - benzodioxol-5il)-1-okso-2, 4-pentdienyl] piperidin. Piperin adalah alkaloid bertanggung jawab
atas kepedasan dari lada hitam dan lada panjang, bersama dengan chavicine
(suatu isomer dari piperin). Ini juga telah digunakan dalam beberapa bentuk obat
tradisional dan sebagai insektisida. Piperin secara luas digunakan dalam berbagai
obat batuk herbal untuk antitusif potensial yang dan bronkodilator properti. Hal
ini digunakan dalam anti inflamasi malaria, anti, anti pengobatan leukemia. Studi
terbaru menunjukkan medicial akan sangat membantu dalam meningkatkan
penyerapan vitamin tertentu, selenium dan beta-karoten, juga meningkatkan
tubuh alami thermogenik aktivitas (Astutiningsih, 2010).
Ekstraksi adalah proses penarikan zat aktif suatu simplisia dengan
menggunakan pelarut tertentu. Pemikiran metode ekstraksi senyawa bukan atom
dipergunakan oleh beberapa faktor, yaitu sifat jaringan tanaman, sifat kandungan
zat aktif serta kelarutan dalam pelarut yang digunakan. Prinsip ekstraksi adalah
melarutkan senyawa polar dalam pelarut polar dan senyawa non polar dalam
senyawa non polar. Secara umum ekstraksi dilakukan secara berturut-turut mulai
dengan pelarut non polar (n-heksan) lalu pelarut yang kepolarannya menengah
(diklor metan atau etilasetat) kemudian pelarut yang bersifat polar (metanol atau
etanol) (Robensonstrever, 1995).
Metode ekstraksi yang digunakan pada percobaan kali ini adalah
sokletasi. Teknik ini menggunakan ekstraksi kontinu dengan pelarut-pelarut yang
polaritasnya makin meningkat. Metode ini memiliki kelemahan yang sama
dengan metode ekstraksi panas lainnya (kemungkinan terjadi peruraian produk),
tetapi cara ini merupakan metode ekstraksi terbaik untuk memperoleh hasil
ekstrak yang banyak. Selain itu, karena aktivitas biologis tidak hilang saat
dipanaskan, teknik ini dapat digunakan dalam pencarian induk obat (Barnes &
Heinrich, 2009).
Pengerjaan sokletasi secara umum yaitu bahan yang akan diekstraksi
pada sokletasi diletakkan dalam sebuah kantong ekstraksi (kertas, karton dan

sebagainya), alat ekstraksi dan gelas yang bekerja berkesinambungan di bagian


dalam. Wadah gelas yang mengandung kantong diletakkan di antara labu
penyulingan dengan pendingin aliran baik melalui pipet, berkondensasi di
dalamnya menetes pada bahan yang diekstraksi. Larutan berkumpul di dalam
wadah gelas. Setelah mencapai tinggi maksimalnya secara otomatis dipindahkan
ke dalam labu, maka zat yang terakumulasi melalui penguapan bahan pelarut
murni berikutnya (Voight, 1994).
Metode identifikasi yang digunakan pada percobaan kali ini adalah
metode KLT. Prinsip KLT adalah pemisahan komponen kimia berdasarkan
prinsip adsorbsi dan partisi, yang ditentukan oleh fase diam (adsorben) dan fase
gerak (eluen). Komponen kimia bergerak naik mengikuti fase gerak karena daya
serap adsorben terhadap komponen-komponen kimia tidak sama sehingga
komponen kimia dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda berdasarkan
tingkat kepolarannya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya pemisahan
(Kusmardiyanti & Nawawi, 1992).
Isolasi senyawa alkaloid dilakukan dengan menambahkan asam asetat
pada ekstrak etanol sampai suasana menjadi asam, sehingga alkaloid akan
membentuk garam alkaloid. Garam alkaloid ini kemudian dipartisi menggunakan
etil asetat, sehingga didapatkan dua lapisan. Lapisan atas adalah etilasitat dan
lapisan bawah adalah lapisan asam dimana alkaloid terkait pada lapisan ini.
Untuk membebaskan alkaloid dari bentuk garam, ditambahkan ammonum
hidroksida sampai suasana jadi basa, sehingga alkaloid akan jadi basa alkaloid
kembali (Murtadio et al., 2013).
III.

METODOLOGI PRAKTIKUM
III. 1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah batang
pengaduk, batu didih, botol penampung ekstrak, cawan porselin, chamber,
corong, gelas beker 50 ml, gelas beker 500 ml, gelas ukur 10 ml, gunting,
kompor dengan penangas air atau heating mantel, labu alas bulat, labu
ukur 100 ml, neraca analitik, perangkat KLT, perangkat penyari soxhlet
(volume ekstraktor 100 mL), pipa kapiler, pipet tetes, pot salep, sendok
tanduk, sudip, termometer dan vial.

III. 2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini diantaranya
adalah aluminium foil, es batu, etanol 96%, fase diam (toluena : etil asetat
= 7 : 3) dalam 10 ml, kertas saring, KOH etanolik 10%, lanolin, serbuk
buah piper album dan silika gel GF254.
III. 3. Cara Kerja
III.3.1 Minggu pertama
40 gram serbuk merica

Ditimbang
Dibungkus dengan kertas
saring
Dimasukkan ke perangkat
soxlet bagian tabung tempat
serbuk diletakkan

Lanolin

Dioleskan pada bagian ujung


tabung simplisia dan ujung
labu alas bulat

400 ml Etanol 96%

Ditambahkan dalam tabung


tempat serbuk diletakkan

3 biji batu didih

Ditambahkan dalam labu alas


bulat yang berisi etanol 96%
tadi

Serbuk merica

Diekstraksi selama beberapa


jam hingga sampai terjadi 5
siklus pada suhu 78oC

Hasil

3ml filtrat

Hasil

Disaring dengan kertas saring

Sisa filtrat
Dimasukkan dalam
vial
Disimpan

Diuapkan di atas penangas air


sampai konsistensi kental

10 mL KOH-etanolik 10%

Ditambahkan sambil diaduk


sampai terbentuk endapan

Hasil campuran

Disaring dengan kertas saring

Dimasukkan dalam vial


Diberi etiket pada vial
Didiamkan dalam lemari es
sampai 1 minggu atau sampai
terbentuk kristal

Filtrat

Hasil

III.3.2. Minggu Kedua


Hasil berupa kristal

Filtrat

Disimpan dalam vial


untuk uji KLT

Dipisahkan dari cairan dengan


kertas saring yang ditetesi
etanol

Kristal+kertas
saring

Dikeringkan dalam desikator


selama 15 menit

Ditetesi etanol secukupnya

Hasil
Hasil

Filtratnya

Diuji KLT

Hasil

III.3.3. Minggu ketiga


Hasil bukan berupa kristal yakni cairan

Hasil

Digunakan untuk sampel


kromatografi

IV.

HASIL
No.
1.

2.

Perlakuan

Hasil

Menimbang serbuk

Berat serbuk =

merica

40 gram

Memasukkan dan

Serbuk siap di

membungkus serbuk

soxletasi

dalam kertas saring

3.

Mengoleskan lanolin

Ujung tabung

pada bagian ujung

dan labu alas

tabung diletakkannya

bulat menjadi

serbuk dan ujung labu

licin dan

alas bulat

mudah untuk
dilepaskan

4.

Memasukkan serbuk

Serbuk siap di

yang sudah dibungkus

ekstraksi

dalam kertas saring


dalam tabung tempat
diletakkannya sampel
5.

Mengalirkan pelarut

Pelarut sudah

etanol 96% dari tabung

berada di labu

sampel hingga masuk

alas bulat dan

dalam labu alas bulat

siap untuk

yang sudah berisi batu

diuapkan

didih

Dokumentasi

6.

Merangkai peralatan

Soxlet sudah

soxlet

bisa digunakan
untuk ekstraksi

Menyalakan waterbath

Pelarut sudah

pada suhu 90oC untuk

mulai menguap

meninggikan suhu
8.

pelarut
Mengatur suhu

Suhu sesuai

waterbath menjadi

dengan titik

78oC

didih etanol
96%

9.

Mengekstraksi sampel

Hasilnya 5

sampai pada shifon

siklus eksraksi

arm terlihat larutan


jernih
10

Menyaring hasil

Diperoleh

ekstraksi dengan kertas

ekstrak cair

saring

bebas dari
partikel tida
larut

11

Memipet ekstrak cair

3 ml ekstrak

dengan pipet volume

cair siap untuk

dan memasukkannya

uji KLT

dalam vial berwarna


gelap dan dilapisi
13

14

aluminium foil
Menimbang cawan

Berat = 156,1

porselin kosong

gram

Memasukkan ekstrak

cair ke dalam cawan


porselin
15

16

Menimbang cawan

Berat = 441,87

berisi ekstrak cair

gram

Menguapkan ekstrak

Ekstrak kental

cair hingga menjadi


17

eksrak kental
Menimbang cawan

Berat= 156, 38

yang berisi ekstrak

gram

kental
18

Membuat 10 ml KOH

10 ml KOH

etanolik 10 % dengan

etanolik 10 %

cara mencampurkan 1
ml KOH dengan 9 mL
19

etanol 96%
Menambahkan 10 ml

Menghasilkan

KOH etanolik pada

endapan

ekstrak kental yang


ada di cawan porselin
20

dan diaduk
Menyaring endapan

Filtrat yang

dengan kertas saring

berupa ekstrak
bebas dari

partikel tidak
larut
21

Memasukkan filtrat
dalam vial berwarna

gelap dan dilapisi


22

aluminium foil
Memasukkan vial
dalam lemari es dan

Terbentuk

23

24

menunggu selama 1

kristal

minggu
Menimbang kertas

Berat = 0,56

saring kosong

gram

Menyaring kristal

Dihasilkan

dengan kertas saring

filtrat dan

yang ditetesi etanol

kristal yang

96%

tertahan di
kertas saring

25.

26

Memasukkan filtrat

Filtrat siap

dalam vial

diuji KLT

Menimbang kertas

Berat kertas

saring+kristal yang

saring + kristal

masih basah

basah = 1,35
gram

27

Memasukkan kertas

Kertas saring

saring+kristal ke dalam menjadi kering


desikator selama 15

dan terlihat

menit

kristal yang
jelas

28

Menimbang kristal

Berat kristal =

setelah di desikator

berat kristal
dalam gelas
beker berat
gelas beker =
36,24 gram
36,21 gram =
0,03 gram

29

Kristal dilarutkan

Semua kristal

dengan etanol 96%

ikut terlarut
dalam etanol
96 %

30

Mengaduk filtrat

Krital terlarut

dengan batang

sempurna

pengaduk

dalametanol
96%

31

32

Memasukkan filtrat

Filtrat siap

dalam vial

diuji KLT

Silika gel sebagai fase

Silika gel telah

diam diaktifkan dalam

aktif dan siap

oven dengan suhu

ditotolkan

105oC selama 30 menit


33

Sementara menunggu,

Eluen etil

dibuat eluen etil

asetat : toluena

asetat : toluena dengan

7:3

perbandingan 7:3
34

35

36

Memasukkan eluen ke

Eluen siap

dalam chamber

dijenuhkan

Eluen ditunggu dengan

Eluen naik

menutup rapat

hingga kertas

chamber yang telah

saring bagian

dimasukkan kertas

atas

saring ke dalamnya
Untuk penotolan,

dibuat design
8 cm

a
4 cm

a = 1 cm
b = 0,5 cm

membentuk ukuran
silika gel dan diberi
batas atas dan batas
37

bawah untuk penotolan


Ekstrak 1, ekstrak 2,

Ada 3 totolan

dan ekstrak 3

di silika gel

ditotolkan pada garis


38

39

40

batas bawah silika gel


Silika gel dielusi

Semua bagain

dalam chamber hingga

silika gel telah

batas atas

terelusi

Silika gel diamati

Nampak plat

dibawah sinar UV 254

berflorouresen-

nm

si

Silika gel diamati

Nampak plat

dibawah sinar UV 366

berwarna gelap

nm

Hasil % Rendeman
% Rendeman =
=

Berat kristal
x 100
Berat simplisia awa;

0,03 g
x 100
40 g

= 0,075 %

b Gambar dan nilai Rf silika gel pada sinar UV 254 nm


b

3 ml ekstrak cair hasil ekstraksi


soxlet Filtrat hasil penyaringan

5,5 cm
5 cm

8 cm
4 cm

2cm
0,5 cm

a
4 cm

Larutan etanol yang


kristal
mengandung kristal
a = 1 cm
b = 0,5 cm

3 ml ekstrak cair hasil ekstraksi soxlet


0,5 cm
=0,07
Rf = 6,5 cm
Rf =

2cm
=0,30
6,5 cm

Rf =

4 cm
=0,61
6,5 cm

Rf =

5 cm
=0,76
6,5 cm

Rf =

5,5 cm
=0,84
6,5 cm

Filtrat hasil penyaringan kristal


0,5 cm
=0,07
Rf = 6,5 cm
Rf =

2cm
=0,30
6,5 cm

Rf =

4 cm
=0,61
6,5 cm

Rf =

5 cm
=0,76
6,5 cm

Larutan etanol yang mengandung kristal


2cm
=0,30
Rf = 6,5 cm
Rf =

4 cm
=0,61
6,5 cm

c Gambar dan nilai Rf silika gel pada sinar UV 366 nm

a
4 cm

a = 1 cm

b = 0,5 cm

3 ml Filtrat hasil ekstraksi soxlet


Filtrat hasil penyaringan
kristal
Larutan etanol yang
mengandung kristal

3 ml ekstrak cair hasil ekstraksi soxlet


Tidak menghasilkan noda, sehingga tidak dapat dihitung Rfnya.

Filtrat hasil penyaringan kristal


Tidak menghasilkan noda, sehingga tidak dapat dihitung Rfnya.

Larutan etanol yang mengandung kristal


Tidak menghasilkan noda, sehingga tidak dapat dihitung Rfnya.

V. PEMBAHASAN
Praktikum yang dilakukan kali ini berjudul isolasi dan identifikasi senyawa
alkaloid dari buah merica (Piperis alba) yang bertujuan untuk memahami prinsip
dan melakukan isolasi piperin dari fructus Piperis albi beserta analisis kualitatif
hasil isolasi dengan metode kromatografi lapis tipis. Piperin merupakan suatu
senyawa yang sangat bermanfaat dalam kesehatan, misalnya piperin berkhasiat
sebagai obat cacing, anti asma, anti nyeri. Piperin banyak ditemukan pada
simplisia yang termasuk dalam keluarga piperaceae, yaitu pada Piperis nigri,
Piperis albi, Piperis retrofracti dan lain-lain. Tanaman yang termasuk dalam
keluarga piperaceae sangat banyak ditemukan dihampir seluruh dataran rendah
di Indonesia, karena tanaman ini tidak tahan terhadap genangan air.
Pemerian lada yaitu berbau aromatik khas dan rasa pedas. Isi simplisia
minyak atsiri lada mengandung felandren, dipenten, kariopilen, enthoksilin,
limonene, alkaloida piperin dan kavisina. Khasiat dari simplisia lada yaitu anti
sariawan, anti batuk, adstrigen dan antiseptik. Piperin adalah kristal berbentuk
jarum, berwarna kuning, tidak berbau, tidak berasa, lama-kelamaan pedas. Larut
dalam etanol, asam cuka, benzene, dan kloroform. Piperin mempunyai daya
hambat enzim prostaglandin sintase sehingga bersifat antiflogistik. Piperin juga
berkhasiat sebagai antioksidan, antidiare, insektisida, antiinflamasi, dan parfum.
Alkaloid itu sendiri adalah senyawa organik yang terdapat dialam bersifat
basa atau alkali dan sifat basa ini disebabkan karena adanya atom N (nitrogen)
dalam molekul senyawa tersebut dalam struktur lingkar heterosiklik atau
aromatis dan dalam dosis kecil dapat memberikan efek farmakologi pada
manusia dan hewan. Alkaloid juga suatu golongan senyawa organik yang
terbanyak ditemukan dialam. Kebanyakan alkaloida berupa padatan kristal

dengan titik lebur tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisinya.


Kebanyakan alkaloid tidak berwarna, tetapi beberapa senyawa kompleks spesies
aromatis berwarna. Pada umumnya basa bebas alkaloid hanya larut dalam
pelarut organik meskipun beberapa pseudo alkaloid dan protoalkaloid larut
dalam air. Garam alkaloida dan alkaloid quartener sangat larut dalam air.
Percobaan kali ini menggunakan metode ektraksi. Ektraksi merupakan
proses penarikan atau pengeluaran suatu komponen cairan dari campuran
menggunakan pelarut yang sesuai. Jenis-jenis ektraksi ada dua. Ektraksi cara
dingin dan ektraksi cara panas. Pada praktikum ini digunakan metode cara
dingin yaitu soxletasi. Soxletasi memiliki prinsip kerja ektraksi menggunakan
pelarut yang selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ektraksi kontinyu
dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik.
Metode soxlet dipilih karena pelarut yang digunakan lebih sedikit
(efesiensi bahan) dan larutan sari yang dialirkan melalui sifon tetap tinggal
dalam labu. Sehingga pelarut yang digunakan untuk mengekstrak sampel selalu
baru dan meningkatkan laju ektraksi. Waktu yang digunakan lebih cepat.
Kerugian metode ini ialah pelarut yang digunakan harus mudah menguap dan
hanya digunakan untuk ekstrak yang tahan panas.
Prinsip kerja dari keseluruhan pada praktikum ini yaitu langkah awal
proses isolasi ini adalah menarik semua komponen kimia yang terkandung,
pemisahan sari dari bagian yang tidak larut, pemisahan senyawa resin dan
pengidentifikasian kristal dengan KLT. Praktikum kali ini menggunakan bahanbahan aluminium foil digunakan untuk menutupi pelarut atau ektrak agar tidak
mudah menguap, batu didih digunakan pada labu alas bulat agar pada saat
pemanasan pelarut labu alasnya tidak pecah dan untuk meratakan pemanasan,
etanol sebagai pelarut zat aktif, etil asetat sebagai fase gerak, kertas saring
digunakan untuk memudahkan penyaringan titrat hasil ektraksi. KOH-etanol
digunakan untuk memisahkan senyawa renin dengan meminimalisikan
pembentukan garam sehingga didapatkan alkaloida yang murni, aquadest
digunakan sebagai pelarut dan untuk membersihkan alat. Serbuk buah Piperis
albi sebagai zat aktif atau bahan utama yang diisolasi dan diidentifikasi, silika
gel F 254 sebagai fase diam dan toluene sebagai fase gerak.

Setelah diekstraksi dengan metode soxletasi didapat % rendemen ekstrak


0,7 %. Fungsi perhitungan % rendemen adalah untuk acuan seberapa banyak
jumlah sampel yang diperlukan untuk menghasilkan jumlah ektrak yang
dinginkan, dimana pada praktikum ini ketika massa simplisisa 40 gram didapat
% rendemen ekstrak kental sebesar 0,7 %.
Hasil ekstraksi kemudian disaring dan di ambil 3 ml serta disimpan di vial
1 untuk uji KLT. Sisanya ditimbang dan diuapkan sampai mendapatkan hasil
ekstrak kental. Ditambahkan KOH etanolik pada ekstrak kental untuk
memisahkan senyawa renin dengan meminimalisikan pembentukan garam
sehingga didapatkan alkaloida yang murni. Disaring, dimasukkan kedalam vial
dan disimpan didalam lemari es sampai terbentuk kristal. Hasil rendemen Kristal
yang terbentuk adalah sebesar 0,075 %.
Kristal yang terbentuk disaring, filtrat dimasukkan kedalam vial 2 untuk di
uji KLT. Kristal dilarutkan dalam etanol dan dimasukkan ke dalam vial 3 untuk
diuji KLT. Diaktifkan silika gel sebagai fase diam dalam oven pada suhu 105 oC
selama 30 menit untuk mengurangi kadar air yang ada pada fase diam agar
diharapkan tidak mengganggu proses pemisahan yang menyebabkan hasil
pemisahan tidak bagus. Dibuat eluen dengan cara etil asetat : toluene (7:3) dan
dimasukkan ke dalam chamber sampai jenuh. Ditotolkan vial 1, 2, dan 3 pada
silika gel dan dimasukkan ke dalam chamber untuk dielusi dalam chamber
hingga tanda batas atas. Diambil silika gel dan diamati hasilnya dibawah sinar
UV 254 nm dan sinar UV 366 nm.
KLT dapat digunakan untuk memisahkan berbagai senyawa seperti ion-ion
anorganik, dan senyawa-senyawa organik baik yang terdapat dialam dan
senyawa-senyawa organik sintetik. Kelebihan penggunaan kromatografi lapis
tipis (KLT) dibandingkan dengan yang lain adalah karena dapat dihasilkannya
pemisahan yang lebih sempurna, kepekaan yang lebih tinggi dan dapat
dilaksanakan dengan lebih cepat. Prinsip dari metode KLT ini adalah absorbsi
dan partisi dilakukan dengan eluen toluene dan etil asetat (7:3) dimana
perbandingan 7:3 memberikan hasil pemisahan yang berjalan sempurna dan
baik. Eluen dapat disimpulkan bersifat nonpolar karena senyawa yang
diidentifikasikan adalah alkaloid yang bersifat polar pula.

Fase diam yang digunakan adalah silika gel yang digunakan yaitu silika
gel F 254 yang artinya silika gel yang memiliki gypsum (CaSO 4.1/2 H2O)
menunjukkan panjang gelombang eksitasi senyawa yang berflorosensi yang
ditambahkan sebanyak 254. Fase diam ini harus diaktifkan terlebih dahulu agar
tidak terjadi tailing (noda berekor) dan chamber yang berisi fase gerak harus
dijenuhkan dengan cara mengisi eluen polar dan non polar ke dalam masingmasing chamber. Chamber dijenuhkan agar tekanan antara di dalam dan di luar
chamber sama. Chamber yang jenuh ditandai dengan naiknya eluen melalui
kertas saring sampai batas yang ditentukan yang biasa berjarak 0-0,5 cm dari
atas plat. Dijenuhkan agar proses elusidasi dapat berjalan lancer karena uap
eluen memenuhi seluruh ruang chamber, menghilangkan uap air atau gas lain
yang mengisi fase penjerap yang akan menghalangi laju eluen.
Penampakan pada lampu UV 254 nm adalah karena adanya daya interaksi
antara sinar UV dengan indikator fluoresensi yang terdapat pada lempeng.
Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang dipancarkan oleh
komponen tersebut ketika elektron tereksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat
energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan semula sambil
melepaskan energi. Penampakan noda pada lampu UV 366 nm karena adanya
daya interaksi sinar UV dengan gugus kromofor yang terikat oleh ausokrom
yang ada pada noda tersebut. Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi
cahaya yang dipancarkan komponen tersebut ketika elektron dari tingkat energi
dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan semula
sambil melepaskan energi.
Tujuan penggunaan sinar UV adalah mendeteksi senyawa fluoresensi,
dimana senyawa tersebut memiliki gugus kromofor. Gugus kromofor merupakan
gugus yang dapat memberi atau menghasilkan warna. Untuk penampakkan
beberapa senyawa maka akan berfluoresensi pada panjang gelombang tersebut
sehingga pada saat diberi sinar UV noda akan tampak. Sinar UV tidak merusak
senyawa yang dideteksi sehingga hasil kromatografi dapat digunakan kembali.
Hasil pengamatan yang diperoleh untuk KLT pada 254 Rf pada sampel
ekstrak cair (vial 1) yaitu 0,07; 0,30; 0,61; 0,76; 0,84. Sampel filtrat hasil
penyaringan kristal (vial 2) yaitu Rf pada 254 : 0,07; 0,30; 0,61; 0,76. Sampel

larutan etanol yang mengandung kristal (vial 3) yaitu Rf pada 254 : 0,30; 0,61.
Hasil pengamatan yang diperoleh untuk KLT pada 366 tidak menunjukkan
adanya noda, sehingga tidak dapat dihitung Rfnya.
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa hasil Rf
kebanyakan menghasilkan nilai yang sama yang menunjukkan mengandung
senyawa yang sama. Menurut literatur piperin berada pada Rf 0,25 (Madhavi,
2009) sehingga nilai yang mendekati ada pada ketiga sampel yang ditotolkan
pada plat KLT tersebut. Nilai Rf yang paling mendekati yaitu 0,30, dimana nilai
ini dapat diamati pada ketiga sampel.

VI.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah :
1. Alkaloid adalah senyawa organik yang terdapat dialam bersifat basa atau
alkalidan, sifat basa ini disebabkan karena adanya atom N (nitrogen) dalam
molekul senyawa.
2. Piperin berkhasiat sebagai antioksidan, antidiare, insektisida, antiinflamasi,
dan parfum.
3. Metode ekstraksi yang digunakan adalah metode soxletasi dan identifikasi
senyawa alkaloid dilakukan dengan metode KLT.
4. Hasil rendemen ekstrak kental yang didapat adalah 0,7 % dan rendemen
kristal adalah 0,075 % .
5. Menurut literatur piperin berada pada Rf 0,25 sehingga nilai yang mendekati
ada pada ketiga sampel yang ditotolkan.

DAFTAR PUSTAKA
Astutiningsih, C. 2010. Buku Ajar Fitokimia. STIF Yayasan Farmasi Semarang Press.
Semarang.
Barnes, J & M. Heinrich. 2009. Farmakognosi dan Fitoterapi. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta.
Harborne, J. B. 1984. Metode Fitokimia. Penerbit ITB. Bandung.
Isnawati, A., M. Harfia & Kamilatunisah. 2008. Isolasi Dan Identifikasi Senyawa
Kumarin dari Tanaman Artemisia annua (L). Jurnal Media Litbang Kesehatan.
18 (3) : 107-118.
Kusmardiyanti, S & A. Nawawi. 1992. Kimia Bahan Alam. Pusat Antar Universitas
Bidang Ilmu Hayati. Yogyakarta.
Markham, K. 1982. Techniques of Flavonoid Identification. Academic Press Inc.
London.
Murtadio, Y., O. Kusrini & E. Fachriyah. 2013. Isolasi, Identifikasi Senyawa
Alkaloid Total Daun Tempuyung (Sonchus arvensis Linn.) dan Uji Sitotokik
dengan Metode BSLT ( Brine Shrimp Lethality Test). Chem Info. 1(1): 379385.
Robensonstrever. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penerbit ITB.
Bandung.
Sirait, M. 2007. Penentuan Fitokimia dalam Farmasi. Penerbit ITB. Bandung.

Titis, M. B. M., E. Fachriyah & D. Kusrini. 2013. Isolasi, Identifikasi dan Uji
Aktifitas Senyawa Alkaloid Daun Binahonh (Anredesa cordifola (Tenare)
Steenis. Chem Info. 1(1) : 196-201.
Voight, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Universitas Gadjah Mada
University. Yogyalarta.

LAMPIRAN

1. Apa yang dimaksud dengan alkaloid ? Apa yang dimaksud dengan amida ?
Gambarkan kerangkanya !
Jawab : Alkaloid merupakan senyawa organik yang bersifat basa dan
mengandung satu atau lebih nitrogen, biasanya dalam gabungan sebagai
bagian dari sistem siklik. Amida adalah seyawa dengan gugus
fungsional organik yang memiliki gugus karbonil (C=O) yang berikatan
dengan satu atom nitrogen (N).
Kerangka amida

2. Gambarkan piperin ! Bagaimana polaritasnya !

Kerangka alkaloid

Jawab : Piperin bersifat nonpolar, larut dalam etanol, asam cuka, benzene, dan
kloroform. Piperin juga termasuk gologan alkaloid. Sifat kimianya larut
dalam lemak atau lipid yang sifatnya nonpolar.

3. Apa fungsi penambahan KOH etanolik dalam percobaan ini dan jelaskan dengan
reaksi yang terjadi !
Jawab : Fungsinya agar piperin dapat terhidrolisis dan menghasilkan kalium
piperinat dan piperidin. Untuk memisahkan senyawa resin engan
meminimalkan pembentukan garam sehingga idapat alkaloid yang
murni. Pada saat isolasi pemberian KOH etanolik tidak boleh
berlebihan dan harus dalam keadaan panas. KOH akan menghidrolisis
ekstrak menjadi kalium piperinat dan piperidin, sedangkan etanol akan
melarutkan pengotor yang terdapat dalam ekstrak.
4. Bagaimana kandungan sistematika Piper nigrum ?
Jawab : Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Magnoliidae

Ordo

: Piperales

Famili

: Piperaceae (suku sirih-sirihan)

Genus

: Piper

Spesies

: Piper nigrum L.

5. Sebutkan kandungan golongan senyawa yang umumnya terdapatdalam


tumbuhan yang termasuk satu jenis dengan Piper nigrum !
Jawab : Piperin, alakoid 2-5%, amilum 30-40%, kuinisin, minyak atsiri, dan
protein resin.
6. Apa perbedaan antara fructus piperis nigri dan fructus piperis albi ?
Jawab : Fructus piperis albi diperoleh dengan memetik bii masak merah (pada
saat matang) diremas perlahan, direndam dalam air, kulit dan daging
buah direndam sebelum dikeringkan di sinar atahari, jadi lebih halus
dibandingkan dengan lada hitam. Sedangkan fructus piperis nigri
diperoleh dengan memetik buah yang masih hijau, dikupas,
difermentasi untuk menambahkan rasa lada, kemudian dikeringkan di
bawah sinar matahari dan rasanya lebih pedas karena kandungan
minyak atsiri lebih banyak dari lada putih