Anda di halaman 1dari 10

PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

PENCUCIAN DAN STERILISASI KARET DAN GLASS WARE

Disusun oleh:
KELOMPOK VI
M.Wahyu Hidayat

(J1E111013)

M Ridwan Ali

(J1E112067)

Nur Ermilati Rusda

(J1E112071)

Ma'ruf Algifari

(J1E112069)

Kurnia Syafitri

(J1E112060)

Selvia Muliana

(J1E112072)

Hj Annisa

(J1E112068)

Riska Arnitha

(J1E112020)

Nurul Huda Ika P

(J1E112016)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2015
PERCOBAAN I
PENCUCIAN DAN STERILISASI KARET DAN GLASS WARE
I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sediaan parenteral seperti infus dan injeksi, proses pembuatannya
dilakukan secara aseptik dan steril. Selama proses pembuatanya ada
prosedur yang dinamakan sterilisasi. Proses sterilisasi dapat melalui cara
fisika, kimia dan mekanik. Secara fisika berarti sterilisasi menggunakan
panas, baik panas kering maupun panas basah. Metode panas kering dapat
menggunakan oven, dan metode panas basah contohya adalah autoklaf.
Secara kimia, sterilisasi di sini menggunakan bahan-bahan kimia dalam
pemusnahan mikroorganisme, seperti fenol, alkohol 70%, dan sebagainya.
Sterilisasi cara mekanik contohnya adalah filtrasi, penyinaran (ultraviolet)
dan ozonisasi. Dalam pembuatan sediaan farmasi yang penggunaannya
secara parenteral harus melewati serangkaian uji yang ditujukan untuk
memastikan steril atau tidaknya dari sediaan tersebut. Hal ini dikarenakan
sediaan tersebut langsung masuk ke dalam tubuh melalui penyuntikkan
langsung ke jaringan atau pembuluh darah. Bila sediaan tersebut tidak
steril, dikhawatirkan bukannya memberikan efek terapi yang diinginkan
melainkan timbul suatu masalah baru seperti infeksi, dan sebagainya.
Masuknya mikroorganisme melalui sediaan yang tidak steril ke dalam
tubuh, akan sulit diatasi karena langsung beredar ke seluruh tubuh.
Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan
keadaan steril. Secara tradisional keadaan steril adalah kondisi mutlak
yang tercipta sebagai akibat penghancuran dan penghilangan semua
mikroorganisme hidup. Formulasi sediaan steril merupakan salah satu
bentuk sediaan farmasi yang banyak dipakai, terutama saat pasien
dioperasi, diinfus, disuntik, mempunyai luka terbuka yang harus diobati,
dan sebagainya. Semuanya sangat membutuhkan kondisi steril karena
pengobatan yang langsung bersentuhan dengan sel tubuh, lapisan mukosa

organ tubuh, dan dimasukkan langsung ke dalam cairan atau rongga tubuh
sangat memungkinkan terjadinya infeksi bila obat tidak steril. Oleh karena
itu, kita memerlukan sediaan obat yang steril dan juga dalam kondisi
isohidris dan isotonis agar tidak mengiritasi (Lachman et al, 1994).
1.2 Tujuan
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah agar mahasiswa mampu
memahami tahapan-tahapan dalam proses pencucian dan sterilisasi karet,
ampul, vial dan botol infus.
II.

DASAR TEORI
Sterilisasi adalah menghilangkan semua bentuk kehidupan, baik
patogen, non patogen, vegetatif, non vegetatif dari suatu objek atau
material. Hal tersebut dapat dicapai melalui cara penghilangan secara
fisika semua organisme hidup, misalnya penyaringan atau pembunuhan
organisme dengan panas, bahan kimia, atau dengan cara lainnya. Alasan
dilakukannya sterilisasi adalah untuk mencegah transmisi penyakit, untuk
mencegah pembusukan material oleh mikroorganisme, dan mencegah
kompetisi nutrien dalam media pertumbuhan sehingga memungkinkan
kultur organisme spesifik berbiak untuk keperluan sendiri (seperti produksi
ragi) atau untuk metabolitnya (seperti memproduksi minuman dan
antibiotika) (Agoes, 2009).
Uji sterilitas dilakukan terhadap produk atau bahan yang
sebelumnya sudah mengalami proses pensterilan yang telah diberlakukan.
Hasil membuktikan bahwa prosedur sterilisasi dapat diulang secara efektif.
Tetapi umumnya disetujui bahwa kontrol yang dilakukan selama proses
validasi memberikan jaminan lebih efektifnya proses sterilisasi. Uji ini
dilakukan terhadap sampel yang dipilih untuk mewakili keseluruhan lot
bahan tersebut. Sampel bisa diambil dari kemasan atau wadah akhir suatu
produk, atau sebagian dari tangki baik cairan atau bahan baik lainnya
(Lachman et al, 1994).
Bahan sediaan atau barang kemudian hanya boleh dinyatakan
sebagai steril, jika melalui suatu pengujian terhadap sterilitas terbukti,

bahwa mereka

bebas dari mikroorganisme. Jika tidak tercatat bukti

terhadap sterilitas, maka suatu penandaan yang cocok telah berlangsung


dibawah keterangan dari cara sterilisasi yang telah dilakukan. Untuk
kontrol sterilitas dengan sendirinya tidak dapat ditarik seluruh muatannya.
Oleh karenanya orang melakukan pengujian basis acak semata-mata pada
suatu jumlah wadah tertentu, tetapi representatif dari setiap muatan dan
dari situ ditarik kesimpulan terhadap keseluruhan muatan. Jika pengujian
terhadap sterilitas selama waktu pembiakan total dalam suatu wadah kultur
tidak muncul suatu tumbuhnya mikroorganisme (dapat dikenali melalui
pembentukan koloni atau kekeruhan atau perubahan warna setelah
penambahan sebuah indikator) maka zat yang diuji dinyatakan steril.
Namun jika disatu pihak suatu pertumbuhan mikroorganisme dapat
ditetapkan, maka zat yang diuji berlaku sebagai tidak steril (Voight, 1995).
Ada tiga cara utama yang umum dipakai dalam sterilisasi
yaitu penggunaan panas, penggunaan bahan kimia, dan penyaringan
(filtrasi). Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap air maka
disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah, bila tanpa
kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi
kering.

Sedangkan

sterilisasi

kimiawi

dapat

dilakukan

dengan

menggunakan gas atau radiasi. Pemilihan metode didasarkan pada sifat


bahan yang akan disterilkan (Hadioetomo, 1985).
Sterilisasi basah biasanya dilakukan didalam autoklaf (pada
hakikatnya, autoklaf adalah pressure cooker berukuran besar) atau
sterilisator

uap

yang

mudah diangkat

atau

(portabel)

dengan

menggunakan uap air jenuh bertekanan pada suhu 121o C selama 15


menit. Karena naiknya titik didih air menjadi 121 oC itu disebabkan oleh
tekanan 1 atmosfer (atm) pada ketinggian permukaan laut, maka daur
sterilisasi tersebut sering kali juga dinyatakan sebagai : 1 atm selama
15 menit. Namun perlu diingat bahwa pernyataan ini hanya berlaku pada
tempat-tempat yang tingginya sama dengan

permukaan

laut.

Pada

tempat-tempat yang lebih tinggi diperlukan tekanan lebih besar untuk


mencapai suhu 121oC. Karena itu daripada menyatakan besarnya
tekanan, lebih baik menyatakan bahwa keadaan steril dicapai dengan

cara mempertahankan suhu 121oC selama 15 menit. Dapat pula


dipakai kombinasi suhu dan waktu yang lain yang memberikan hasil
sama (Hadioetomo, 1985).
Sterilisasi panas kering biasanya dilakukan dengan oven pensteril
yang dirancang khusus untuk tujuan ini. Oven dapat dipanaskan dengan
gas atau listrik dan umumnya termperatur diatur secara otomatis. Karena
panas dan kering kurang efektif dalam membunuh mikroba daripada uap
air panas, maka diperlukan termperatur yang lebih tinggi dan waktu yang
lebih panjang. Sterilisasi panas kering, biasanya ditetapkan pada
temperatur 160o 170o C dengan waktu tidak kurang dari 2 jam.
Temperatur yang lebih tinggi memungkinkan waktu sterilisasi yang lebih
pendek dari waktu yang ditentukan oleh peraturan, sebaliknya temperatur
yang lebih rendah membutuhkan waktu yang lebih panjang. Sterilisasi
panas kering umunya digunakan untuk senyawa-senyawa yang tidak
efektif disterilkan dengan uap air panas. Senyawa-senyawa tersebut
meliputi minyak lemak, glisering, berbagai produk minyak tanah seperti
petrolatum, petrolaum cair (minyak mineral), parafin dan berbagai serbuk
yang stabil oleh pemanasan seperti ZnO (Ansel, 2008).
Penggunaan metode kimia untuk membunuh atau inaktivasi
mikroorganisme telah digunaan secara luas. Radiasi sinar violet (lewatlembayung) cukup ekstensif digunakan di laboratorium, ruang steril, dan
kabinet kerja dimana dilakukan pekerjaan dibawah kondisi aseptik. Pada
kondisi ini radiasi yang mempunyai daya penetrasi rendah dimaksudkan
hanya untuk membunuh mikroorganisme yang berada di udara atau pada
ekspose permukaan, dan yang secara kebetulan ada pada peralatan atau
juga pada filter udara. Selain itu, penggunaan utama radiasi adalah untuk
sterilisasi kemasan farmasetik dan material pembedahan. Jika diperlukan
daya penetrasi kuat, maka digunakan sinar gama atau sinar elektron.
Keuntungan utama dari metode ini adalah material yang peka panas dapat
dikemas secara nonsteril serta disegel dalam kontener, dan kemudian
disterilisasi sesudah ditutup dan disegel tanpa ekspose terhadap panas
III.

(Agoes, 2009).
METODE EVALUASI

III.1 Alat dan Bahan


a. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ampul
Autoklaf
Batang pengaduk
Botol infus
Bunsen
Cawan petri

7. Corong kaca
8. Erlenmeyer 500 mL
9. Erlenmeyer 500 mL
10. Gelas beker 100 mL
11. Gelas beker 200 mL
12. Gelas ukur 10 mL
13. Gelas ukur 25 mL
14. Kaca arloji
15. Oven
16. Penjepit kayu
17. Pinset
18. Pipet tetes
19. Rak tabung
20. Sendok tanduk
21. Spatula
22. Tabung reaksi
23. Vial
b. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Aluminium foil
Aquadest
Kapas
Kertas perkamen
Tepol
Tisu

III.2 Cara Kerja


1. Siapkan tepol dan air untuk mencuci semua alat.
2. Rendam alat-alat ke dalam tepol, tunggu beberapa saat
kemudian dikeluarkan sambil dicelup-celup.
3. Bilas ke dalam air bersih dan keringkan dengan menggunakan
tisu.

4. Bungkus alat dengan menggunakan aluminium foil dan


kemudian bungkus lagi dengan kertas perkamen.
5. Pisahkan alat yang terbuat dari kaca dan karet.
6. Dilakukan sterilisasi dengan menggunakan oven untuk alat yang
terbuat dari kaca dan besi pada suhu 180C selama 2 (dua) jam
atau 200C selama 1 (satu) jam. Sedangkan untuk alat yang
terbuat dari karet dilakukan sterilisasi dengan autoklaf pada suhu
121C selama 30 menit.
IV.

HASIL PRAKTIKUM
4.1 Hasil Pencucian dan Sterilisasi

V.

No

Nama Alat

.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Ose
Gelas beker
Botol infus
Labu ukur
Erlenmeyer
Kaca arloji
Gelas ukur
Pipet tetes
Pinset
Tabung reaksi
Vial
Spatula

Gambar

PEMBAHASAN
Praktikum pertama yang dilakukan adalah pencucian dan sterilisasi,
yang bertujuan untuk memahami tahapan-tahapan dalam proses pencucian dan
sterilisasi karet, vial, ampul dan botol infus. Sterilisasi merupakan tindakan
menghilangkan mikroorganisme patogen, non patogen, spora, jamur, bakteri,
ataupun LPS (lipopolisakarida). Secara umum prinsip sterilisasi didasarkan
pada mekanisme destruksi mikroba dan inaktivasi atau penghilangan secara
fisikal dengan metode panas, baik panas kering maupun basah, menggunakan
mekanisme pembunuhan (pembinasaan) atau inaktivasi mikroorganisme tanpa
perlu menghancurkan sel secara sempurna.

Sebelum dilakukan proses sterilisasi, terlebih dahulu dilakukan tahap


pencucian. Tujuan pencucian dan sterilisasi ini adalah untuk menghilangkan
zat-zat pengotor atau penghilangan semua jenis organisme hidup, dan dalam
hal ini adalah mikroorganisme (fungi, mycoplasma, virus, bakteri, protozoa)
sehingga diperoleh pengemasan yang steril, bebas pirogen dan bebas partikel
sehingga tidak mempengaruhi produk dan isi. Pencucian dilakukan dengan
menggunakan larutan tepol, larutan tepol dibuat dengan melarutkan tepol ke
dalam air menggunakan perbandingan tepol : air (1 : 5). Tepol 1% merupakan
surfaktan yg mempunyai gugus lipofil dan hidrofil. Gugus lipofil akan
mengikat lemak dalam tutup karet, sedangkan gugus hidrofil akan tertarik oleh
aquadest pada pencucian yang terakhir sehingga tutup karet terbebas dari lemak
yang menempel. Tepol yang digunakan dalam sterilisasi kali ini berguna
sebagai desinfektan dan zat pembasah sehingga tepol dapat berpenetrasi ke
dalam pori-pori bahan yang akan disterilkan. ). Selanjutnya alat-alat yang telah
dicuci tersebut dikeringkan dengan tisu. Kemudian dilakukan pembungkusan
alat dengan aluminium foil dan kertas perkamen. Tujuan dari pembungkusan
yaitu agar alat-alat tidak terkontaminasi dengan bakteri luar dan alat tidak
pecah karena pada umumnya alat terbuat dari kaca. Setelah dibungkus
kemudian dilakukan proses sterilisasi alat yaitu dimasukkan ke dalam oven
untuk alat yang terbuat dari bahan kaca dan ke dalam autoklaf untuk alat yang
terbuat dari bahan karet.
Sterilisasi pada percobaan ini dilakukan dengan dua cara yaitu cara
panas kering menggunakan oven dan cara panas basah menggunakan autoklaf.
Sterilisasi alat yang dilakukan dengan metode panas kering menggunakan oven
dengan temperatur 200oC selama 1 jam. Tetapi yang dilakukan dalam
percobaan ini menggunakan oven dengan suhu 180oC selama 1 jam,
dikarenakan keterbatasan alat yang mana suhunya tidak mencapai suhu 200oC.
Menurut Ansel (2008) sterilisasi alat menggunakan oven ini hanya dilakukan
untuk alat-alat kaca dan alat-alat bedah yang tahan terhadap pemanasan dengan
suhu tinggi dan terpapar panas cukup lama. Contoh alat yang disterilisasi
dengan cara ini adalah gelas beker, corong kaca, pipet volume, dan alat-alat
kaca lainnya. Metode ini merupakan metode pilihan bila dibutuhkan peralatan

yang kering atau wadah yang kering seperti pada pengemasan zat-zat kimia
kering atau larutan bukan air. Kematian oleh pemanasan kering timbul karena
sel mikroba mengalami dehidrasi diikuti dengan pembakaran pelan-pelan atau
proses oksidasi.
Sterilisasi alat yang dilakukan dengan metode panas basah (autoklaf)
untuk waktu pemanasan dibutuhkan selama 5 menit, waktu pengeluaran udara
5 menit (0-100oC), waktu menaik 5 menit (100-121oC), waktu pembinasaan 15
menit (121oC) dan waktu pendinginan 15 menit. Sterilisasi dengan cara ini
digunakan untuk alat-alat yang tidak tahan dengan pemanasan tinggi karena itu
cara panas basah digunakan untuk mensterilisasi alat-alat karet atau sediaan
steril praktikum. Suhu yang tinggi pada sterilisasi cara panas kering
dikhawatirkan akan melelehkan alat-alat karet atau merusak stabilitas sediaan
sehingga

sterilisasinya

(conditioning)

pada

dilakukan

sterilisasi

dengan

cara

panas

cara

ini.

basah

Fase

pemanasan

merupakan proses

pemvakuman untuk menghilangkan udara, fase pemaparan uap (exposure)


merupakan proses peningkatan tekanan peningkatan suhu dan proses
pembunuhan mikroorganisme, fase pembuangan (exhaust) dilakukan setelah
holding time (waktu pembunuhan mikroorganisme, merupakan proses
pengeluaran uap dan proses penurunan tekanan, yang terakhir fase pengeringan
atau pendinginan, merupakan proses pemasukan udara steril atau pengeringan.
Karena proses sterilisasi ini tergantung pada adanya kelembaban dan
temperatur yang ditingkatkan, maka udara dikeluarkan dari ruang autoklaf
ketika proses sterilisasi mulai. Ini disebabkan campuran udara dengan uap air
akan menghasilkan temperatur yang lebih rendah daripada hanya uap air saja
pada tekanan yang sama. Pada sterilisasi larutan air dengan metode ini, uap air
sudah ada, dan semua itu dibutuhkan untuk peningkatan temperatur larutan
pada waktu yang telah ditentukan. Dengan demikian larutan yang dikemas
dalam wadah tertutup rapat, seperti ampul mudah disterilkan dengan cara ini.
Metode ini tidak digunakan untuk mensterilkan minyak-minyak, lemak-lemak,
sediaan berminyak, dan sediaan-sediaan lain yang tidak dapat ditembus oleh
uap air atau pensterilan serbuk terbuka yang mungkin rusak oleh uap air jenuh
(Ansel, 2008).

VI.

KESIMPULAN
Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini yaitu antara
lain :
1. Sterilisasi merupakan tindakan menghilangkan mikroorganisme patogen,
non patogen, spora, jamur, bakteri, ataupun LPS (lipopolisakarida).
Sterilisasi yang dilakukan pada praktikum ini adalah sterilisasi panas
kering dengan oven dan sterilisasi panas basah dengan autoklaf.
2. Sterilisasi alat yang dilakukan dengan metode panas kering menggunakan
oven dengan temperatur 180oC selama 1 jam, dikarenakan keterbatasan
alat yang mana suhunya tidak mencapai suhu 200oC. Alat yang disterilisasi
dengan cara ini adalah gelas beker, corong kaca, pipet volume, dan alatalat kaca lainnya.
3. Sterilisasi alat yang dilakukan dengan metode panas basah (autoklaf) untuk
waktu pemanasan dibutuhkan selama 5 menit, waktu pengeluaran udara 5
menit (0-100oC), waktu menaik 5 menit (100-121oC), waktu pembinasaan
15 menit (121oC) dan waktu pendinginan 15 menit. Sterilisasi dengan cara
ini digunakan untuk alat-alat yang tidak tahan dengan pemanasan tinggi
karena itu cara panas basah digunakan untuk mensterilisasi alat-alat karet
atau sediaan steril praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Agoes, G. 2009. Sediaan Farmasi Steril. Penerbit ITB, Bandung.
Ansel, H. C. 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi IV. UI Press, Jakarta.
Hadioetomo, R. S. 1985.
Jakarta.

Mikrobiologi Dasar dalam Praktek.

PT. Gramedia,

Lachman, L., H. A. Lieberman & J. L. Kanig. 1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri. Edisi Ketiga Volume III. UI Press, Jakarta.
Voight, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. UGM Press. Yogyakarta.