Anda di halaman 1dari 18

PENDAHULUAN

Kesehatan merupakan kebutuhan yang paling mendasar. Untuk menjaga kesehatan


atau mengobati penyakitnya maka manusia membutuhkan obat. Obat-obatan serta yang kini
banyak digunakan adalah pengobatan modern yang menggunakan obat-obat kimia sintesis
serta alat-alat yang canggih, namun pengobatan modern memiliki banyak efek samping bagi
manusia.
Keberadaan pengobatan modern yang semakin berkembang mengancam keberadaan
pengobatan tradisional yang sudah ada. Di sisi lain, obat tradisional / jamu telah berkembang
secara luas di banyak negara dan semakin populer. Di beberapa negara berkembang, obat
tradisional bahkan telah dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan terutama dalam pelayanan
kesehatan strata pertama. Negara-negara maju yang sistem pelayanan kesehatannya
didominasi pengobatan konvensional pun kini menerima pengobatan tradisional, walaupun
mereka menyebutnya dengan pengobatan komplementer/alternatif (complementary and
alternative medicine), misalnya Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Di Asia, negara
yang banyak menggunakan obat tradisional adalah Cina, Korea, India, dan termasuk
Indonesia.
Di Indonesia, penggunaan obat tradisional merupakan bagian dari budaya bangsa dan
warisan nenek moyang. Obat tradisional di Indonesia telah dimanfaatkan secara luas oleh
masyarakat sejak berabad-abad yang lalu dalam bentuk jamu.

Filosofi pengobatan semacam itu berdasarkan teori Yin dan Yang,


lima elemen, delapan prinsip, teori Zang Fu (teori yang
menguraikan tentang fungsi fisiologis dan perubahan patologis dari
organ dalam dengan fokus utama pada fungsi fisiologis organ dan
jaringan somatik), dan sistem meridian tubuh.
TCM berakar pada Taoisme, Buddha, dan Neo-Konfusianisme.
Pelajar China dari segala macam bidang selama 3.000 tahun
terakhir (dari 1200 SM sampai sekarang) telah fokus pada hukum
alam semesta yang nampak dan bagaimana mereka
mengimplikasikan posisi manusia dalam alam semesta. Sastra
klasik China seperti I Ching dan Spiritual Tao, dan beberapa sastra
lain, menghubungkan prinsip-prinsip alam semesta dengan
kesehatan dan penyembuhan.

Kertas kerja WHO menyebutkan hampir 80% populasi penduduk di Afrika menggunakan
pengobatan tradisional dalam kehidupan mereka. Angka ini juga hamper berimbang di Asia dan
Amerika Latin. Di China, konsumsi herba untuk mengobati penyakit mencapai 30-50%. Di San
Fransisco, London, dan Afrika Selatan 75% dari penderita HIV/AIDS menggunakan pengobatan
komplementer lantaran medis tak banyak memberikan harapan. Sekitar 70% penduduk Kanada
paling tidak sekali dalam hidupnya menggunakan obat tradisional. Di Jerman, Negara yang
terkenal dengan tradisi homeopathynya, hamper 90% penduduknya menggunakan herbal untuk
tujuan pengobatan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Antara 1995-2000 tercatat ada 10.800
dokter yang mengambil pelatihan khusus dalam bidang pengobatan tradisional.
Di Negara-negara Eropa lain, Amerika Utara, dan Negara-negara industry lain setidaknya 50%
dari populasi penduduknya pernah menggunakan pengobatan alternative untuk mengobati
masalah kesehatan. Di Jepang 60-70% dokter meresepkan obat tradisional kampo untuk
pasien mereka. Di Malaysia, obat tradisional melayu yang sebagian besar sama dengan
Indonesia digunakan berdampingan dengan pengobatan China dan India. Di Amerika Serikat
atas rekomendasi The National Institute of Health, 75 dari sekitar 125 sekolah kedokteran
memasukan materi obat tradisional dalam kurikulum

Sejarah[sunting | sunting sumber]


Sebagian besar filosofi pengobatan tradisional Cina berasal dari
filsafat Taois dan mencerminkan kepercayaan purba Cina yang
menyatakan pengalaman pribadi seseorang memperlihatkan prinsip
kausatif di lingkungan. Prinsip kausatif ini berhubungan dengan takdir dari
surga.
Selama masa kejayaan Kekaisaran Kuning pada 2696 sampai 2598 SM,
dihasilkan karya yang terkenal yakni Neijing Suwen (

) atau Pertanyaan Dasar mengenai Pengobatan Penyakit Dalam, yang


dikenal juga sebagai Huangdi Neijing.
Ketika masa dinasti Han, Chang Chung-Ching, seorang walikota Chang-sa,
pada akhir abad ke-2 Masehi, menulis sebuah karya Risalat Demam Tifoid,
yang mengandung referensi pada Neijing Suwen. Ini adalah referensi
ke Neijing Suwen terlama yang pernah diketahui.
Pada masa dinasti Chin, seorang tabib akupunktur, Huang-fu Mi (215282 Masehi), juga mengutip karya Kaisar Kuning itu pada karyanya Chia I

Ching. Wang Ping, pada masadinasti Tang, mengatakan bahwaia memiliki


kopi asli Neijing Suwen yang telah ia sunting.
Bagaimanapun, pengobatan klasik Tionghoa berbeda dengan pengobatan
tradisional Tionghoa. Pemerintah nasionalis, pada masanya, menolak dan
mencabut perlindungan hukum pada pengobatan klasiknya karena mereka
tidak menginginkan Cina tertinggal dalam hal perkembangan ilmu
pengetahuan yang ilmiah. Selama 30 tahun, pengobatan klasik dilarang di
Cina dan beberapa orang dituntut oleh pemerintah karena melakukan
pengobatan klasik. Pada tahun 1960-an, Mao Zedong pada akhirnya
memutuskan bahwa pemerintah tidak dapat melarang pengobatan klasik.
Ia memerintahkan 10 dokter terbaik untuk menyelidiki pengobatan klasik
serta membuat sebuah bentuk standar aplikasi dari pengibatan klasik
tersebut. Standarisasi itu menghasilkan pengibatan tradisional Tionghoa.
Kini, pengobatan tradisional Tionghoa diajarkan hampir di semua sekolah
kedokteran di Cina, sebagian besar Asia, dan Amerika Utara.
Walauapun kedokteran dan kebudayaan Barat telah menyentuh Cina,
pengobatan tradisional belum dapat tergantikan. Hal ini disebabkan oleh
banyak faktor sosiologis danantropologis. Pengobatan tradisional
dipercaya sangat efektif, dan kadang-kadang dapat berfungsi sebagai obat
paliatif ketik kedokteran Barat tidak mampu menangani lagi, seperti
pengobatan rutin pada kasus flu dan alergi, serta menangani
pencegahan keracunan.
Cina sangat dipengaruhi oleh marxisme. Pada sisi lain, dugaan
supranatural bertentantangan pada kepercayaan Marxis, materialisme
dialektikal. Cina modern membawa pengobatan tradisional Cina ke sisi
ilmiah dan teknologi serta meninggalkan sisi kosmologisnya.

engenal Sejarah Traditional Chinese Medicine (TCM).

Pengobatan Tradisional China (TCM) dan sejarah


makanan di China sangat erat kaitannya. Secara
tradisional, masyarakat China menghubungkan
konsumsi makanan tertentu untuk fungsi tubuh
tertentu. Budaya dan filosofi China menyatakan bahwa
fungsi tubuh, makanan yang dikonsumsi seseorang, dan
bagaimana penyakit diobati berkaitan erat dengan
lingkungan seseorang.
suatu seni penyembuhan yang telah dikenal
lebih dari 3.000 tahun yang lalu.
Seorang tabib yang mempraktekkan TCM mencari
tanda-tanda ketidakharmonisan atau
ketidakseimbangan dalam lingkungan internal dan
eksternal pasien untuk memahami, merawat, dan

diharapkan dapat mencegah penyakit. Bentuk pelayanan


kesehatan ini telah berkembang selama ribuan tahun,
berakar kuat pada sistem kepercayaan kuno, termasuk
konsep-konsep spiritual tradisional.
Pengobatan tradisional Cina tidak jarang berselisih
dengan kedokteran Barat, namun beberapa praktisi
mengombinasikannya dengan prinsip kedokteran
berdasarkan pembuktian.
TCM berbeda dengan pengobatan klasik China. Hal ini
berkaitan dengan perjalanan sejarah bangsa China.
Pemerintah nasionalis, pada masanya, menolak dan
mencabut perlindungan hukum pada pengobatan
klasiknya karena mereka tidak menginginkan China
tertinggal dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan
yang ilmiah. Selama 30 tahun, pengobatan klasik
dilarang di China dan beberapa orang dituntut oleh
pemerintah karena melakukan pengobatan klasik.
Pada tahun 1960-an, Mao Zedong pada akhirnya
memutuskan bahwa pemerintah tidak dapat melarang
pengobatan klasik. Ia memerintahkan 10 dokter terbaik
untuk menyelidiki pengobatan klasik serta membuat
sebuah bentuk standar aplikasi dari pengobatan klasik
tersebut. Standarisasi itu menghasilkan TCM.
Hingga saat ini praktek TCM masih menjadi andalan
sistem pengobatan masyarakat China, bersama dengan
praktek kedokteran modern Barat. Sebelum abad ke-19,
dokter China dan Barat sama sekali tidak mengetahui
tentang bakteri penyebab infeksi.
Praktisi medis Barat dan China kemudian bergantung
terutama pada pengamatan dan pengalaman untuk

melawan invasi bakteri yang berbahaya; pemahaman


tentang teori kuman baru dimungkinkan setelah abad
ke-20. Di abad ke-21, ahli TCM telah mencapai hasil
yang terpercaya dalam memerangi efek kemoterapi pada
pasien kanker, pecandu narkoba, dan pengobatan
kondisi kronis, seperti diabetes dan penyakit ginjal
tertentu serta memberantas malaria dengan tanaman
Artemisia.
Praktisi TCM terus menempa keahlian mereka, dalam
hubungannya dengan praktek kedokteran Barat.
Wacana ini dipublikasikan dalam laporan Victoria /
Australia yang menyatakan, Lulusan TCM mampu
mendiagnosis penyakit dalam istilah kedokteran Barat,
meresepkan obat-obatan Barat, dan melakukan
prosedur pembedahan kecil. Akibatnya, mereka
membuka praktek TCM sebagai suatu keahlian dalam
spektrum pengobatan kesehatan China dengan
kerangka yang lebih luas.
Namun, prinsip dasar seni penyembuhan ini didasarkan
pada beberapa aliran filsafat.
Akar Filosofi Pengobatan Cina.
Filosofi pengobatan semacam itu berdasarkan
teori Yin dan Yang, lima elemen (Wu Xing), delapan
prinsip, sistem meridian tubuh manusia (Jing-Luo),
teori Zang Fu (teori yang menguraikan tentang fungsi
fisiologis dan perubahan patologis dari organ dalam
dengan fokus utama pada fungsi fisiologis organ dan
jaringan somatik), dan sistem meridian tubuh.
TCM berakar pada Taoisme, Buddha, dan NeoKonfusianisme. Pelajar China dari segala macam bidang
selama 3.000 tahun terakhir (dari 1200 SM sampai
sekarang) telah fokus pada hukum alam semesta yang

nampak dan bagaimana mereka mengimplikasikan


posisi manusia dalam alam semesta. Sastra klasik China
seperti I Ching dan Spiritual Tao, dan beberapa sastra
lain, menghubungkan prinsip-prinsip alam semesta
dengan kesehatan dan penyembuhan.
Salah satu pertimbangan utama adalah : manusia
merupakan bagian dari alam semesta dan
tidak dapat dipisahkan dari proses perubahan
alam semesta; keseimbangan dan kesehatan
yang optimal merupakan hasil dari interaksi
harmonis antara kejadian alam semesta dan
perubahan selanjutnya, segala sesuatu di alam
semesta ini pada akhirnya saling
berhubungan.
Mengingat hal tersebut, tidak perlu susah payah
membayangkan jika tubuh manusia merupakan
perwujudan dari alam semesta kecil, dengan satu
sistem interkoneksi yang utuh, lengkap, dan canggih.
Dengan demikian, ahli TCM akan selalu menggunakan
pendekatan holistik dan cermat untuk menghindari
kerugian pasien.
Perusahaan farmasi Barat mulai mengakui nilai TCM
dan merekrut tim ilmuwan untuk melakukan studi
double blind (suatu studi dimana peneliti maupun objek
penelitian sama-sama tidak mengetahui obat mana yang
digunakan) yang mahal di beberapa belahan dunia
untuk mengumpulkan beragam jenis tumbuhan obat
dan pengetahuan dari praktisi tradisional China.
Perusahaan farmasi sangat menyadari bahwa senyawa
yang paling banyak digunakan dalam pengobatan

modern berasal dari tanaman, atau dalam beberapa


kasus, berasal dari binatang.
Praktik TCM.
Teknik pengobatan TCM dilakukan dengan berbagai
cara. Diantaranya adalah dengan metode pengobatan
herbal. akupunktur, moksibasi, auriculotherapy dan
cupping.
1. Metode pengobatan herbal adalah metode
pengobatan yang menggunakan tumbuhan-tumbuhan
tertentu sebagai sarana utamanya.

2. Akupunktur adalah teknik memasukkan atau


memanipulasi jarum ke dalam "titik akupunktur" tubuh.
Menurut ajaran ilmu akupunktur, ini akan memulihkan
kesehatan dan kebugaran, dan khususnya sangat baik
untuk mengobati rasa sakit. Definisi serta karakterisasi

titik-titik ini distandardisasikan oleh Organisasi


Kesehatan Dunia (WHO). Akupunktur berasal dari
Tiongkok dan pada umumnya dikaitkan dengan Obatobatan Tradisional Tiongkok. Bermacam-macam jenis
akupuntur (Jepang, Korea, dan Tiongkok klasik)
dipraktekkan dan diajarkan di seluruh dunia.

Dengan perkembangan teknologi terbaru telah


diciptakan alat terapi akupunktur modern bernama
Aculife. Aculife merupakan alat deteksi dan terapi
kesehatan yang mencakup deteksi dan terapi elektrik
dan magnetik (terapi elektro magnetik) yang
bersandarkan pada teori pengobatan akupunktur China
kuno. Sebagai keunggulannya, aculife adalah alat
kesehatan yang dapat melakukan pendeteksian penyakit
(general check up) dan gangguan kesehatan, yang
sekaligus juga bisa melakukan terapi penyembuhan
terhadap penyakit atau gangguan kesehatan.

3. Teknik moksibasi adalah penyembuhan penyakit


dengan sistem penghangatan atau pembakaran
dengan moxawool (bahan moksa, seperti bahan wol)
agar memproduksi panas pada titik-titik akupunktur
atau tempat tertentu pada tubuh pasien. Moxawool
dibuat dari daun-daun artemisia vulgaris (daun moksa)
yang kering dan digiling (digilas) menjadi serbuk halus.

4. Auriculotherapy atau akupunktur telinga adalah


terapi pengobatan alternatif yang didasarkan pada
gagasan bahwa telinga merupakan microsystem seluruh
tubuh yang direpresentasikan oleh daun telinga, bagian
luar telinga. Penyakit dari seluruh tubuh diasumsikan
dapat diobati oleh stimulasi dari permukaan telinga
secara eksklusif.

5. Cupping adalah teknik pengobatan yang dikenal di


Indonesia dengan nama bekam, yakni teknik
pengobatan metode yang menggunakan tekanan udara
dengan menciptakan ruang kedap udara dekat kulit
pasien pada titik akupuntur tertentu. Metode ini sangat
mirip dengan pengobatan tradisional di Asia Tenggara
yang dilakukan dengan mengerik kulit dengan uang
logam atau benda lain dengan tujuan membuka
penyumbatan. Terapi ini digunakan untuk melegakan
penyumbatan dalam bidang TCM, dan digunakan
dalam perawatan penyakit pernapasan.

Obat dalam TCM.


Pengobatan tradisional dipercaya sangat efektif, dan
kadang-kadang dapat berfungsi sebagai obat
paliatif (sistem perawatan terpadu yang bertujuan
meningkatkan kualitas hidup, dengan cara meringankan
nyeri dan penderitaan lain) ketika kedokteran Barat
tidak mampu menangani lagi, seperti pengobatan rutin
pada kasus flu dan alergi, serta menangani pencegahan
keracunan.
Karena dikerjakan atas dasar prinsip tradisional, maka
bahan-bahan yang digunakan TCM dalam proses
pengobatannya juga berasal dari hal-hal yang bersifat
alami, dan secara langsung berasal dari alam. Semakin
tinggi kadar kealamiannya, maka semakin tinggi pula
nilai bahan tersebut, baik dari sisi harga maupun daya
sembuh.

Ada dua sumber bahan obat yang digunakan dalam


TCM, yakni yang berasal dari hewan dan yang berasal
dari tumbuhan. Yang berasal dari hewan di antaranya
adalah: minyak ular (untuk mengurangi nyeri sendi);
penis dan mata harimau (untuk meningkatkan vitalitas
dan mengobati impotensi); cula badak (untuk
mendinginkan darah); sirip ikan hiu (untuk peremajaan
kulit, mengobati kanker, untuk ginjal, dan penyakit yang
menyerang paru-paru); dan kuda laut (untuk
menyembuhkan asma, impotensi, gangguan tiroid,
jantung, dan penyakit kulit.
Sementara bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan
atau herbal, sebagian besarnya masih mengandalkan
ginseng sebagai bahan pengobatan yang paling terkenal
dari Timur. Bahan-bahan lainnya tidak teridentifikasi
secara umum karena sebagian praktisi TCM
merahasiakan hal tersebut untuk
menjaga originalitas daneksklusivitas bahan.
Antara Pengobatan Modern dan Pengobatan
Tradisional Cina.
Di China modern, kepercayaan terhadap TCM sangat
kuat, meskipun seseorang lebih menyukai berkonsultasi
dengan dokter Barat jika patah kaki atau usus buntu
pecah, namun kemudian dilanjutkan dengan latihan
China tradisional untuk meningkatkan kesehatan,
meminum ramuan tradisional China, dan mengonsumsi
makanan China yang tepat untuk tetap sehat setelah
krisis telah berlalu.

Hal ini juga perlu diperhatikan bahwa setidaknya di


kota-kota besar di China, seorang praktisi TCM modern
akan merujuk pasiennya ke fasilitas medis Barat jika
sistem pasien terlalu tidak seimbang untuk diobati
melalui pengobatan tradisional China.
Seperti kutipan peribahasa China, Sebuah obat
populer yang belum dicoba sering membuat
histeris dokter ilmiah. Dokter yang tidak
perhatian tidak lebih baik dari seorang
pembunuh. Dokter tingkat rendah merawat
penyakit yang sudah timbul, dokter tingkat
medium merawat penyakit yang akan datang,
sedang dokter yang unggul dapat mencegah
datangnya penyakit.
Seharusnya kita merasa beruntung memiliki dokter yang
unggul dalam hal pencegahan penyakit daripada
mengobati setelah menderita penyakit.

Sejarah Ringkas TJM (Traditional Japanese Medicine) Pengetahuan


tentang akupunktur, moksibusi dan herba sampai ke Jepang pada tahun
562 M yang dibawa oleh seorang ahli pengobatan Cina yang bernama
Zhicong (Chiso). Di tahun 701 M sistem pengobatan tradisional tersebut
dilegalkan dan diregulasi oleh Kekaisaran Jepang. Pada tahun 718 M
berdirilah sekolah pengobatan pertama dimana pembelajaran akupunktur
memakan waktu belajar selama 7 tahun, sedangkan pembelajaran pijat
anma memakan 3 tahun. Hingga pertengahan abad 9 pengobatan Cina
berasimilasi dengan baik di Jepang sampai akhirnya ahli pengobatan
tradisional Jepang mengembangkan tekniknya sendiri. Di tahun 984 M,
Kekaisaran Jepang memerintahkan Yasuyori Tamba untuk mengkompilasi
dan mempublikasikan sebuah buku pengobatan tradisional dalam sebuah
buku yang disebut I Shim Po. Lalu kemudian ilmu pengobatan mengalami
pasang surut hingga abad ke 16 akibat kondisi sosial politik di Jepang. Di
akhir abad ke 17 ditemukanlah Shinkan (insertion tube) oleh Waichi
Sugiyama seorang akupunkturis buta (saat ini di Jepang sekitar 35-40%
akupunkturis berlisensi adalah penyandang tuna netra). Shinkan sebagai
alat bantu akupunktur menjadi begitu populer di Jepang, hingga Waichi
Sugiyama disebut sebagai bapaknya akupunktur Jepang. Selama periode
Edo hingga restorasi Meiji (abad ke 18 hingga 19), pengobatan tradisional

Jepang mengalami perubahan yang cukup dramatis, dimana ilmu


pengobatan barat (western medicine) mulai mempengaruhi mendominasi
aktivitas pelayanan kesehatan di seluruh Jepang. Tahun 1883 munculah
dekrit bahwa pelayanan pengobatan termasuk pengobatan tradisional
hanya boleh dilakukan oleh praktisi kesehatan yang telah menempuh ilmu
pengobatan barat. Namun demikian di tahun 1895 dekrit tersebut sedikit
dilonggarkan, pelayanan akupunktur dan moksibusi boleh dilakukan oleh
akupunkturis berlisensi tetapi pengobatan herba (kampo) tetap harus
dilakukan oleh seorang dokter yang berpendidikan barat. Setelah kalah di
Perang Dunia ke 2 di tahun 1945, Jenderal Douglas McArthur melarang
semua pengobatan tradisional di Jepang, namum hal ini mendapat protes
keras dari para terapis tradisional Jepang terutama akupunkturis. Untuk
menengahi masalah ini, pemerintah Jepang akhirnya merancang
pendidikan tinggi untuk pengobatan tradisional (setingkat Universitas) yang
tentu saja kurikulumnya sangat dipengaruhi oleh pola pendidikan barat.
Selama 1400 tahun perkembangan pengobatan tradisional di Jepang
seperti akupunktur, moksibusi, kampo, anma, shiatsu dan lainnya telah
mengalami evolusi terutama teknik-teknik yang dikembangkan secara
individu maupun secara bersama-sama.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/budiaribowo/sejarahpengobatan-tradisional-jepang_553013f06ea8341f1e8b45c1