Anda di halaman 1dari 20

Penyakit Akibat Kerja yang Disebabkan oleh Pajanan Kimia Solvent

1. Pendahuluan
International Labour Organization (ILO) dan World Health Organization (WHO)
mendefinisikan kesehatan kerja sebagai segala usaha promosi dan pemeliharaan kesejahteraan
yang dilakukan untuk mencapai derajat tertinggi dari keadaan fisik, mental dan kehidupan sosial
dari pekerja, dari seluruh jenis pekerjaan. Penyediaan pelayanan kesehatan kerja ialah salah satu
cara untuk mencapai tujuan ini. Alas an mengapa kesehatan kerja begitu penting bagi pekerja
oleh karena banyaknya pajanan/ekspos yang dapat diterima oleh seorang pekerja selama ia
menjalani pekerjaan di lingkungan pekerjaannya yang dapat mengganggu kondisi kesehatannya
baik fisik maupun mental, bahkan tidak jarang pajanan ini menyebabkan dampak yang cukup
serius bagi kesehatan pekerja.
Bekerja dan kesehatan memiliki hubungan yang saling timbal-balik. Bekerja dapat
menurunkan kondisi kesehatan seseorang, namun di lain hal bekerja dapat menjadi sesuatu yang
menguntungkan untuk status kesehatan seseorang. Status kesehatan pekerja akan berdampak
pada performa individu selama bekerja. Pekerja yang sehat akan lebih produktif dibandingkan
pekerja yang tidak sehat. Namun, seorang pekerja tentu tidak akan selamanya sehat, terkadang
pajanan di lingkungan kerja justru menjadi faktor penting yang menurunkan status kesehatan
pekerja. Pajanan yang dapat juga diistilahkan sebagai hazard terbagi mejadi beberapa jenis,
yaitu physical hazard (fisik), chemical hazard (kimia), biological hazard (biologik), ergonomic
hazard (ergonomi), psychosocial hazard (psikososial). Kesemua jenis hazard ini dapat
menimbulkan gangguan pada pekerja, dengan mekanismenya masing-masing. Salah satu yang
akan dibahas di dalam makalah ini ialah gangguan pada pekerja akibat chemical hazard.

2. Pembahasan
2.1 Definisi PAK dan klasifikasi diagnosis PAK
Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan,
proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian Penyakit Akibat Kerja merupakan penyakit
yang artifisial atau man made disease. Dalam melakukan pekerjaan apapun, sebenarnya kita
berisiko untuk mendapatkan gangguan kesehatan atau penyakit yang ditimbulkan oleh penyakit
tersebut. Oleh karena itu , penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan,
1

alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja. Pada simposium internasional mengenai
penyakit akibat hubungan pekerjaan yang diselenggarakan oleh ILO (International Labour
Organization) di Linz, Austria, dihasilkan definisi menyangkut PAK sebagai berikut: Penyakit
Akibat Kerja Occupational Disease adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik
atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, yang pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab
yang sudah diakui. Penyakit yang Berhubungan dengan Pekerjaan Work Related Disease
adalah penyakit yang mempunyai beberapa agen penyebab, dimana faktor pekerjaan memegang
peranan bersama dengan faktor risiko lainnya dalam berkembangnya penyakit yang mempunyai
etiologi kompleks. Penyakit yang Mengenai Populasi Kerja Disease of Fecting Working
Populations adalah penyakit yang terjadi pada populasi pekerja tanpa adanya agen penyebab
ditempat kerja, namun dapat diperberat oleh kondisi pekerjaan yang buruk bagi kesehatan. WHO
membedakan empat kategori Penyakit Akibat Kerja, yaitu: Penyakit yang hanya disebabkan oleh
pekerjaan, misalnya Pneumoconiosis, penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan,
misalnya Karsinoma Bronkhogenik, penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab
di antara faktor-faktor penyebab lainnya, misalnya Bronkhitis khronis, penyakit dimana
pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada sebelumnya, misalnya asma.1
2.2 Agent penyebab dan dampaknya
Penyakit akibat hubungan kerja dapat diklasifikasikan menjadi 5 golongan yaitu golongan
fisik, golongan biologi, golongan kimiawi, golongan ergonomic, dan golongan psikososial.
2.2.1

Golongan fisik

Bising merupakan suara yang tidak dikehendaki dimana kualitas bising sendiri ditentukan
oleh frekuensi dan intensitasnya. Nilai ambang batasnya sekitar 85dB per 8 jam/hari. Jika lebih
maka akan timbul gangguan pendengaran (sensorineural) serta berdampak pula bagi kesehatan
baik auditori (trauma akustik, ketulian sementara dan permanen) dan nonauditori (gangguan
komunikasi, fisiologi, dan perilaku). Evaluasi pendengaran dapat dilakukan dengan tes
audiometri (paling sering), tes garpu tala, dsb. Pencegahan dapat digunakan penyumbat telinga.
Vibrasi ialah suatu fenomena dimana terhadi peningkatan dan penurunan dimensi terhadap suatu
nilai dasar secara berulang-ulang sesuai waktu. Dimana dimensinya adalah jarak, kecepatan dan
akselerasi. Sumbernya ada yang local (bor atau gergaji) dan seluruh tubuh (alat forklift). Dampak
2

bagi kesehatan biasanya ada keluhan nyeri saraf spinal radicular, nyeri pada bahu, leher,
pinggang hingga menjalar ke paha kadanag tidak ada gejala yang khas pada viberasi seluruh
tubuh sedangkan pada vibrasi local terdapat gangguan pada sirkulasi darah berupa hand-arm
vibration syndrome (adanya spasme pembuluh darah digitalisan ada gejala seperti Raynuad
syndrom). Evaluasi vibrasi dapat dengan pemeriksaan sensitisasi, nail press test, dsb. Suhu terdiri
dari tekanan panas dan tekanan dingin. Dampak dari tekanan panas heat fatique, heat rash, heat
syncope, heat cramps, heat exhaustion, dan heat stroke. Dampak dari tekanan dingin hipotermi,
frostbite, trenchfoot, chillbrain. Pencahayaan terdiri dari 2 faktor yaitu intensitas cahaya dan
tingkat kesilauan. Cahaya sendiri memiliki 2 kategori menyilaukan yaitu discomfort glare dan
disabillity glare. Radiasi gelombang elektromagnetik misalnya gelombang non ionisasi seperti
gelombang radio, infra merah, sinar terlihat dan sinar UV. Dampak bagi kesehatan ialah adanya
gangguan yang timbul pada pajanan akut sekitar 10 mW/cm 2 oleh karena gelombang ini mampu
menghasilkan panas maka akan terjadi denaturasi protein, proses inflamasi, nekrosis, dan
jaringan parut (gelombang mikro). Gelombang infra merah dapat menyebabkan cedera pada
kornea, iris dan lensa.t dapat menyebabkan fotokeratitis. Gelombang pengion seperti alfa, beta,
proton dan neutron, dapat menyebabkan berbagai dampak pada kesehatan baik secara akut
maupun kronis. Sindrom radiasi akut pada fase prodrome terdapat gangguan GIT dan system
saraf pusat. Laten biasanya gejala prodrome membaik. Iilnes adanya gejala seperti gejala
prodrome, gangguan hematopoeitik, kardvas, embrio dan gonas serta fase recovery.2
2.2.2

golongan kimiawi
Gangguan oleh karena zat kimia dapat berupa gangguan fisik dan gangguan kesehatan.

Gangguan fisik diakibatkan oleh zat kimia tertentu karena fisiknya, dapat dikelompokkan
menjadi cairan atau benda padat yang flammable, cairan yang mudah terbakar, dan mudah
meledak. Misalnya peroksida organic yang dapat bereaksi meledak terhadap perubahan
suhu/tekanan, pengoksida merupakan zat kimia yang dapat menyulut kebakaran pada bahan lain,
bahan pyroporic material dapat menyebabkan terbakar secara spontanpada suhu 130 F, bahan
yang tidak stabil, dan bahan yang bereaksi dengan air. Gangguan kesehatan dapat terjadi secara
kronik (asbestos) maupun akut/dosis tinggi (ammonia). Dampak pada kesehatan akut ialah
terjadi secara cepat, pajanan singkat namun konsentrasi tinggi (keracunan CO, inhalasi sianida,
inhalasi hydrogen sulfide). Dampak pada kesehatan kronik disebabkan oleh pajanan kimia yang
3

tidak mengakibatkan gangguan segera, jelas, atau menyebabkan sakit secara cepat, bahaya dapat
tidak terlihat, terasa, atau bau, efek panjang dan kontinu dapat menyebabkan kanker akibat
merokok atau black lung dari debu tambang. Zat-zat kimia tersebut bias terpajan ke manusia
dengan cara inhalasi hampir semua bahan yang ada diudara dapat diinhalasi), absorpsi kulit
(kontak kulit denhan zat yang menyebabkan reaksi pada kulit), ingesti (sebagian besar tenaga
kerja tidak menyadari/sengaja menelan bahan yang ditanganinya), injeksi dikaikan dengan
blood-borne pathogens, dan ocular (absorpsi melalui mata). Ada 5 bentuk jenis zat kimia
ditempat kerja yaitu padat, debu, uap, gas, dan cairan.1,2
Beberapa zat kimia ialah padat dalam bentuk bubuk atau debu. Debu sendiri dapat
dilepaskan ke udara dengan cara memotong, mengebor, penggerusan atau pengamplasan, debu
tersebut tentunya dapat terinhalasi dan juga teringesti bila debu tersebut mengendap pada piring,
peralatan makan lain, maupun makanan. Debu sendiri terbagi atas deposit particulate matter
( debu yang sementara diudara dan mengendap oleh karena gaya tarik bumi) dan suspended
particulate matter yang lebih berbahaya karena mudah terinhalasi ( debu yang tetap diudara yang
tidak mudah mengendap). Debu yang mudah terhirup yang berukuran 0,1-10 mikron dimana 0,10,5 mikron terinhalasi dan melakukan gerak brown berdifusi masuk-keluar alveoli dan bias
tertimbun disana, <1 mikron debu yang tidak mudah mengendap, 1-3 mikron yang paling bahaya
bias terinhalalasi sampai ke bronkiolus terminalis-alveoli, 3-5 mikron pada saluran napas tengah,
5-10 mikron masuk pada saluran napas atas. Zat kimia padat berupa asap ( tetesan yang sangat
halus dari bentuk logam bila logam diuapkan pada panas tinggi biasanya pengelasan) dan serat
( serupa dengan debu tapi bentuknya memanjang seperti asbestos). Zat kimia cairan dapat berupa
zat asam dan basa kuat (banyak digunakan sebagai larutan dan sangat korosif terhadap jaringan) ,
pestisida ( untuk mengawetkan kayu dan untuk insekta) serta kabut (dapat diinhalasi, mengendap
dikulit dan diabsorsi serta dapat mengkontaminasi makanan bila diudara). Zat kimia dalam
bentuk gas ( kimia yang dalam fase gas berada pada temperature ruang) dan uap (menguap dari
zat cair atau padat pada temperature ruangan) masuk ke tubuh manusia melalui inhalasi. Contoh
gas toksik korosif dan dapat mengiritasi system respirasi yaitu sulfur oksida dan nitrogen oksida
(paling bahaya), gas yang dapat menembut kulit yaitu hodrogen sianida, gas yang dapat masuk
ke sirkulasi daray ialah karbon monoksida. Pelarut atau solvent industri sebagian besar berupa
cairan kimia organic, banyak diantaranya yang cepat menguap, pada umumnya flammable,
contohnya benzene (lem), karbon tetraklorida, karbon disulfide. Seberapa toksis suatu zat kimia
4

bergantung pada dosis (tergantung pada jumlah zat kimia yang masuk kedalam tubuh), toksisitas
akut ( ukuran toksisitas kimia dalam bentuk dosis tunggal dalam periode waktu singkat) dan
toksisitas kronik ( ukuran toksisitas dari pajanan kimia dalam periode waktu yang lama). Faktorfaktor yang menentukan jenis efek toksik kimia ialah rute masuknya, respon individu,
frekuensi/konsentrasi/lama pajanan, bentuk fidik kimia, komposisi zat kimia, dan target organ.
Ada nilai batas ambang pada pajanan kimia di tempat kerja yaitu menurut rerata 8 jam pajanan
atau kadar puncak.1-3
2.2.3

golongan biologi
Pajanan biologic pada tempat kerja sering tidak bisa dihindarkan, harus juga dibedakan

antara pejakit akibat pajanan biologi di tempat kerja atau yang biasa terjadi pada masyarakat
luas. Tidak terdapat bats aman pada pajanan biologi, pada pajanan yang rendah sekalipun namun
virulensinya tinggi dan data tahan tubuh seseorang yang rentan dapat menimbulan infeksi
maupun reaksi alergi. Sumber utama pajanan mikroba ialah pembusukkan, lingkungan kerja,
individu/ternak yang terinfeksi, dan benda yang terkontaminasi. Jenis pekerjaan yang rentan
seperti pada sector pertanian, produk pertanian, kesehatan, perawatan gedung, dsb. Pada pekerja
sector pertanian dapat terjadi masalah kesehatan berupa penyakit kulit (dermatitis kontak
alergika dan cedera gigitan binatang), saluran pernafasan ( asma, hipersensitiviti pneumonitis,
dan TBC), zoonosis, dan penyakit parasite ( Avian flu). Pada pekerja bidang kesehatan sering
terjadi penyakit infeksi misalkan infeksi nosocomial dan infeksi akibat pekerjaan, serta yang
paling dikhawatirkan ialah jenis penyakit hepatitis B dan C, HIV AIDS, TB, dan SARS. Resiko
penularan HIV, HBV, dan HCV biasanya melalui luka tusuk jarum suntik. Untuk pencegahannya
dapat dilakukan imunisasi, APD, MCU, dan penyuluhan.2,3
2.2.4

golongan ergonomic
Ergonomic merupakan suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-

informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu system
kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja dalam system itu dengan baik, yaitu mencapai
tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu dengan efektif, aman, dan nyaman. Ergonomic
berkenaan juga dengan optimasi, efisiansi, kesehatan, keselamatan dan kenyamanan manusia di
tempat kerja, di rumah dan di tempat rekreasi. Dalam ilmu ergonomi dikenal dengan Fitting the
5

Task to the Person and Fitting The Person To The Task. Maksudnya adalah penyesuaian
pekerjanya dan penyesuaian pekerja dengan pekerjaannya yaitu sebuah system kerja yang
mengatur sedemikian rupa agar pekerja merasa aman dan nyaman dalam bekerja. Hal-hal yang
dipelajari dalam ilmu ergonomi yaitu : Lingkungan kerja meliputi kebersihan, tata letak, suhu,
pencahayaan, sirkulasi udara , desain peralatan dan lainnya. Persyaratan fisik dan psikologis
(mental) pekerja untuk melakukan sebuah pekerjaan: pendidikan, postur badan, pengalaman
kerja, umur dan lainnya. Bahan-bahan/peralatan kerja yang berisiko menimbulkan kecelakaan
kerja: pisau, palu, barang pecah belah, zat kimia dan lainnya. Interaksi antara pekerja dengan
peralatan kerja: kenyamanan kerja, kesehatan dan keselamatan kerja, kesesuaian ukuran alat
kerja dengan pekerja, standar operasional prosedur dan lainnya. Manfaat penerapan prinsip
ergonomi di tempat kerja yaitu : Mengerti tentang pengaruh dari suatu jenis pekerjaan pada diri
pekerja dan kinerja pekerja, memprediksi potensi pengaruh pekerjaan pada tubuh pekerja,
mengevaluasi kesesuaian tempat kerja, peralatan kerja dengan pekerja saat bekerja,
meningkatkan produktivitas dan upaya untuk menciptakan kesesuaian antara kemampuan
pekerja dan persyaratan kerja, membangun pengetahuan dasar guna mendorong pekerja untuk
meningkatkan produktivitas, mencegah dan mengurangi resiko timbulnya penyakit akibat kerja,
meningkatkan faktor keselamatan kerja, meningkatkan keuntungan, pendapatan, kesehatan dan
kesejahteraan untuk individu dan institus . Keuntungan melakukan penilaian ergonomi di tempat
kerja yaitu : Mengurangi potensi timbulnya kecelakaan kerja, mengurangi potensi gangguan
kesehatan pada pekerja, meningkatkan produktivitas dan penampilan kerja kelompok/bagian.
Menurut pulat (1992) mengenai permasalahan bidang kajian ergonomi yaitu :
Antropometri, kognitif, musculoskeletal, kardiovaskular, psikomotor. Beberapa aspek yang
mempengaruhi ergonomi dalam kelangsungan hidup manusia adalah Antropometri merupakan
bagian dari ergonomi yang secara khusus mempelajari ukuran tubuh yang meliputi dimensi
linear, serta, isi dan juga meliputi daerah ukuran, kekuatan, kecepatan dan aspek lain dari
gerakan tubuh. Antropometri dapat dibagi menjadi : Antropometri dinamis adalah ukuran tubuh
atau karakteristik tubuh dalam keadaan bergerak, atau memperhatikan gerakan-gerakan yang
mungkin terjadi saat pekerja tersebut melaksanakan kegiatan. Contoh : putaran sudut tangan,
sudut putaran pergelangan kaki. Antropometri statis merupakan ukuran tubuh dan karakteristik
tubuh dalam keadaan diam (statis) untuk posisi yang telah ditentukan atau standar. Contoh :
tinggi badan, lebar bahu Lingkungan kerja yang tidak kondusif untuk bekerja mempengaruhi
6

pelaksanaan pekerjaan seseorang yang sedang di laksanakan. Aspek lingkungan kerja sangat
mempengaruhi prestasi pekerjaan para pekerja. Lingkungan kerja meliputi : Kondisi kerja, waktu
kerja, lingkungan sosial. Sikap kerja yang bertentangan dengan sikap alamai tubuh manusia akan
bebrdampak buruk bagi kesehatan setiap pekerja, karena akan menimbulkan kelelahan dan cidera
otot-otot. Dalam sikap yang tidak alamiah banyak terjadi gerakan otot-otot yang tidak
semestinya, hal tersebut yang mengakibatkan cidera pada otot. Interaksi manusia dengan mesin
adalah keserasian manusia dengan mesin atau peralatan kerja yang digunakan. Ketidak serasian
antara pekerja dengan mesin atau peralatan kerja yang digunakannya akan berdapak pada
kesehatan tubuh sipekerja itu sendiri. Lingkungan kerja fisik mencakup segala hal dari fasilitas
parkir di luar gedung perusahaan, lokasi dan rancangan gedung sampai jumlah cahaya dan suara
yang menimpa meja kerja atau ruang kerja seorang tenaga kerja. Lama jam kerja per hari atau
per minggu penting untuk dikaji untuk mencegah adanya kelelahan berlebihan. Kerja dikatakan
efisien apabila waktu penyelesaian berlangsung singkat. Untuk menghitung waktu (standar time)
penyelesaian pekerjaan maka perlu diterapkan prinsip-prinsip dan teknik pengukuruan kerja.
Pengukuran kerja adalah suatu metode penetapan keseimbangan antara kegiatan manusia
dikontribusikan dengan unit output yang dihasilkan. Waktu baku diperlukan terutama untuk
perencanaan kebutuhan tertentu tenaga kerja (man power planning), estimasi biaya untuk upah
karyawan, penjadwalan produksi dan penganggaran, perencanaan sistem, pemberian bonus
(insentif) bagi karyawan yang berprestasi, indikasi keluaran yang mampu dihasilkan oleh
seorang pekerja. Social termasuk di dalamnya bagaimana pekerja diorganisir dalam
melaksanakan tugas-tugasnya, interaksi sosial sesama pekerja, khususnya menghadapi teknologi
baru. Di samping itu pekerjaan yang dilaksanakan bila tidak sesuai dengan kemampuan dan
kapasitasnya akan menimbulkan stress psikologis dan problema kesehatan. Karenanya kondisi
sosial ini banyak seharusnya dimanfaatkan oleh pimpinan tempat kerja untuk membina dan
membangkitkan motivasi kerja, seperti sistem penghargaan bagi yang berhasil dan hukuman bagi
yang salah dan lalai bekerja. Fungsi Anthropometri dalam kaitannya dengan penerapan prinsip
Ergonomi di tempat kerja yaitu Antropometri merupakan kumpulan data numerik yang
berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia (ukuran, volume, dan berat) serta
penerapan dari data tersebut untuk perancangan fasilitas atau produk. Data antropometri
diperlukan untuk perancangan sistem kerja yang baik. Lingkungan fisik juga dapat
mempengaruhi para pekerja baik secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan fisik
7

adalah

semua

keadaan

yang

terdapat

di

sekitar

tempat

kerja.

Yang

dimaksud

dengan Human eror adalah batas ketelitian yang tidak dapat diatasi oleh standar kemampuan
manusia, misalnya kecelakaan kerja yang disebabkan oleh factor pekerja (manusia) karna
kesalahan atau kelalaian pekerja itu sendiri. Semua itu tidak bias diatasi oleh standar kemampuan
manusia. Alasan mengapa banyak perusahaan yang tidak menjalakan prinsip-prinsip dalam
ergonomi yaitu Kurangnya pengetahuan pemimpin perusahaan tentang pentingnya ergonomi
dalam linggkungan kerja, kurangnya kepedulian pemimpin perusahaan dengan kesehatan para
pekerjanya, kurangnya pengetahuan para pekerja tentang pentingnya penerapan prinsip dalam
ergonomi di lngkungan kerja untuk keamanan, kenyamanan dan kesehatannya, biaya yang
dikeluarkan perusahaan untuk penerapan prinsip ergonomi di lingkungan kerja yang mahal, tidak
adanya ketegasan dari pemerintah tentang sanksi yang diberikan kepada perusahaan yang tidak
menjalankan prinsip-prinsip dalam ergonomi pada lingkungan kerjanya.3
2.2.5

golongan psikologi kerja


Definisinya ialah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dimana ia menjalankan

perannya sebagai tenaga kerja dan perannya sebgai individu/ kelompok untuk mencapai
tujuannya. Banyak kegiatan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung membuat
stress seperti bekerja. Stress akibat bekerja ialah gangguan perilaku dan jiwa yang terjadi karena
berbagai faktor seperti stress dilingkungan kerjanya atau coping mekanisme dan mekanisme
pertahanan selain itu bias karena bekerja dalam shift, beban kerja yang berlebihan, bekerja
monoton, dsb. Menurut cherrys (1978) pekerja yang mengalami stress tertinggi adalah pekerja
white collar sedangkan yangterendah ialah pekerja manual. Penyebab stress kerja yang pertama
ialah faktor psikososial: masalah gaji, beban kerja, kemampuan pekerja. Dari faktor individu:
tidak memiliki kesempatan belajar, bekerja terlalu lama, tidak ada waktu untuk rileks, dsb. Jenis
pekerjaan yang tinggi tingkat stressnya seperti dokter, teknisi lab, petani, manajer. Dampak stress
terdiri dari 3 gejala yaitu gejala fisiologis (peningkatan debar jantung dan pernafasan serta
tekanan darah), gejala psikologis (ketidakpuasan dan marah-marah), dan gejala perilaku
( perubahan kebiasaan makan, banyak merokok, gangguan tidur, tidak masuk kerja dan
penurunan aktivitas). Pencegahan stress kerja menghilangkan stressor kerja, pengendalian
kognitif, kegiatan relaksasi, peningkatan motivasi kerja serta pelihara kesehatan fisik dan jiwa.1,2
2.3 7 langkah diagnosis okupasi
2.3.1 Diagnosis klinis
8

Langkah pertama diagnosis klinis harus dapat ditegakkan terlebih dahulu, dengan
memanfaatkan fasilitas-fasilitas penunjang yang ada, seperti umumnya dilakukan untuk
mendiagnosis suatu penyakit. Dimulai dengan anamnesis, kemudian dilakukan pemeriksaan
fisik, pemeriksaan penunjang.
2.3.1.1 Anamnesis
Pada anamnesis tanyakan identitas pasien terlebih dahulu, pada scenario kasus
didapatkan seorang pria usia 30 tahun bekerja di pabrik sepatu. Didapatkan keluhan utama pasien
ialah sering merasa pusing sejak 1 bulan terakhir, sulit konsentrasi dan sulit tidur. Pada riwayat
penyakit sekarang: tanyakan pusingnya berputar/satu sisi kepala/nyeri ditusuk/tumpul, hilang
timbul atau sepanjang hari, apakah ada disertai keluhan lain seperti demam, mual muntah, dsb.
(pusing berputar yang hilang saat istirahat). Riwayat penyakit dahulu: belum pernah ada keluhan
dan tidak tahu ada alergi atau tidak. Riwayat penyakit keluarga: tidak ada yang berkeluhan sama.
Riwayat psikosocial: pasien tidak merokok, istirahatnya cukup, lingkungan tidak bising,
kebersihan baik. Riwayat pekerjaan: pasien karyawan pabrik sepatu di bagian produksi selama
10 tahun yang bertugas untuk menempelkan sol sepatu dengan lem, sehari bekerja 8 jam, tidak
memakai APD (masker) tapi disediakan oleh pabriknya, tidak terdapat fasilitas refreshing.
Jika dicurigai vertigo maka tanyakan bagaimana pusingnya, melayang, goyang, berputar,
tujuh keliling, rasa naik perahu dan sebagainya. Perlu diketahui juga keadaan yang
memprovokasi timbulnya vertigo. Perubahan posisi kepala dan tubuh, keletihan dan ketegangan.
Profil wakti, apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan, hilang timbul, paroksismal, kronikm
progresif atau membaik. Beberapa penyakit tertentu mempunyai profil waktu yang karakteristik.
Tanyakan juga apakah juga ada gangguan pendengaran yang biasanya menyertai/ditemukan pada
lesi alat vestibuler atau n. vestibularis. Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin, kanamisin,
salisilat, antimalarial dan lain-lain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik dan adanya penyakit
sistemik seperti anemia, penyakit jantung, hipertensi, hipotensi, penyakit paru dan kemungkinan
trauma akustik.4
Jika kecurigaan mengarah pada intoksikasi solvent maka Anamnesis yang teliti pada
riwayat pekerjaan pasien, hal ini terutama ditujukan untuk mengetahui terlebih dahulu rute dari
agen penyebab (dapat berupa rute oral, dermal, atau inhalasi), seberapa banyak jumlah agen yang
9

sudah tertelan/terinhalasi, dan kapan waktu pekerja tersebut menginhalasi/menelan agen. Sebagai
tambahan, perlu pula dicantumkan pertanyaan mengenai co-ingestants, muntah atau batuk
sebelum kedatangan pasien ke dokter dan segala usaha terapi yang sudah dilakukan pasien
sebelum akhirnya datang kepada dokter.1
2.3.1.2 Pemeriksaan fisik
Dimulai dengan pemeriksaan keadaan umum, kesadaran, dan tanda-tanda vital dari
pasien meliputi pemeriksaan frekuensi nadi, frekuensi pernapasan, tekanan darah dan suhu
tubuh.
Pemeriksaan fisik pada pasien yang dicurigai vertigo ialah ditujukan untuk meneliti
faktor-faktor penyebab, baik kelainan sistemik, otologik atau neurologik-vestibuler atau
serebeler, dapat berupa pemeriksaan fungsi pendengaran dan keseimbangan, gerak bola
mata/nistagmus dan fungsi serebelum. Contoh salah satu pemeriksaannya dix-hallpike.
Pendekatan klinis terhadap keluhan vertigo adalah untuk menentukan penyebab, apakah akibat
kelainan sentral yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat (korteks serebrim
serebelum, batang otak atau berkaitan dengan sistim vestibuler/otologik, selain itu harus
dipertimbangkan pula faktor psiikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan vertigo
tersebut. Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain aritmi jantung, hipertensi,
hipotensi, gagal jantung kongestif, anemi, hipoglikemi. Dalam menghadapi kasus vertigo,
pertama-tama harus ditentukan bentuk vertigonya, lalu letak lesi dan kemudian penyebabnya,
agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan terapi simtomatik yang sesuai.4
Pada pasien dengan intoksikasi solvent berat, dapat ditemukan frekuensi pernapasan yang
rendah sebagai tanda-tanda awal henti napas/distres sistem pernapasan. Paru-paru merupakan
tempat utama dari toksisitas umum dari berbagai solven organik dan biasanya terjadi setelah
pekerja menghirup atau menelan agen, diperlukan pemeriksaan fisik paru-paru dalam hal ini.
Gejala yang berhubungan dengan sistem pernapasan dapat berupa batuk, sendawa, dan tersedak
yang terjadi 30 menit setelah pajanan dan seringkali dapat muncul terlambat setelah beberapa
jam. Beberapa pasien mengeluh mengalami batuk yang transien, batuk yang berkepanjangan dan
hipoksia lebih mengarah kepada aspirasi. Selain pemeriksaan fisik paru, diperlukan pula
pemeriksaan neurologis untuk menyelidiki gejala gangguan neurologis pasien apakah berkaitan
dengan penyakit neurologis yang mendasarinya. Gejala yang mengacu kepada pemeriksaan
10

neurologis seperti sakit kepala, letargi, dan status mental yang menurun atau berubah yang
dimulai dengan disorientasi ringan, gangguan memori, perubahan dari mood pasien, cara bicara
serta kesadaran pasien. Gejala yang tidak spesifik seperti kelemahan dan kelelahan. Dikarenakan
beberapa solven bersifat sangat lipofilik, maka kerapkali timbul gejala euforia pada pasien.
Neuropati perifer biasanya muncul mulai dari ekstremitas dan akan berprogresi secara proksimal.
Kesemuanya ini memerlukan assessment neurologis yang teliti untuk membedakan penyakit
disebabkan oleh intoksikasi solven atau justru pasien memiliki lesi neurologis yang sudah ada
sebelumnya.1,3,5
2.3.1.3 Pemeriksaan penunjang
Pada dasarnya, pemeriksaan penunjang yang dilakukan didasarkan pada pajanan yang
terjadi. Pemeriksaan pulse oximetry sebaiknya dilakukan pada semua pasien untuk mengevaluasi
oksigenasi. Pemeriksaan yang dapat dilakukan, mencakup: Pemeriksaan laboratorium mencakup
pemeriksaan darah lengkap untuk mengetahui gambaran komponen darah, yang biasanya pada
ingesti akut dapat ditemukan gambaran leukositosis, gambaran anemia dapat terjadi sebagai
akibat dari hemolisis intravaskuler (jarang). Untuk mengkonfirmasi pajanan terhadap solven
organik, maka pemantauan dari biologic exposure index (BEI) dapat memberikan informasi yang
berguna. Banyak jenis dari solven organik memiliki kadar pajanan yang masih dalam batas yang
aman dan biasa akan dibuang dari tubuh dalam bentuk yang tidak berubah melalui tindakan
ekshalasi namun metabolisme dari fraksi solven yang diserap selanjutnya akan dikonjugasikan
menjadi senyawa yang larut air dan akan dieskresikan utamanya melalu urin. Eskresi melalu urin
atau melalui sistem bilier dari komponen yang tidak berubah atau metabolit dari zat biasanya
terjadi. Komponen inilah yang selanjutnya akan menjadi dasar dari BEI. Namun, pemantauan
kerapkali sulit untuk dilakukan oleh karena pajanan dapat terjadi di masa lampau yang sudah
terlampau jauh atau spesimen seringkali susah didapatkan.1,2,5
Untuk gangguan sistem saraf pusat kronik Pemeriksaan yang bisa digunakan untuk
menunjang diagnosis ialah neurobehavioral test, elektroensefalografi, pneumoensefalografi, CT
Scan, MRI, PET Scan dan cerebral blood flow untuk melihat adanya kortikol atrofi dan
abnormalitas ensefalografik. Neurobehavioral test merupakan metode non-invasif dalam menilai
sistem saraf pusat. Dalam menilai intoksikasi terhadap bahan kimia digunakan Neurobehavioral
Evaluation System (NES). Pelbagai jenis tes dilakukan antaranya dari aspek kelajuan psikomotor
11

dan kontrol, perpetual speed, pembelajaran dan perhatian. Sebelum tes dilakukan terdapat
beberapa soal yang dibentuk untuk dijawab oleh orang yang ingin diuji.1,2,5
Untuk gangguan sistem saraf perifer gejala tipikal pada solvent-induced neuropathy
adalah kesemutan perlahan secara ascendens, paresthesia dan kelemahan. Bisa juga disertai nyeri
dan kram otot. Pada penemuan gejala klinis ditemukan berkurangnya sensasi dan kekuatan
secara simetris.

Pemeriksaan yang bisa digunakan untuk menilai ialah tes neurofisiologik,

electromyography, sural nerve biopsy dan odor threshold testing dan tes untuk menilai saraf
olfaktorius. Tes neurofisiologik ini sangat berguna untuk skrining tenaga kerja dalam jumlah
yang banyak. Antara tes yang sensitif dalam menilai neurotoksisitas ialah keseimbangan, masa
untuk bereaksi terhadap pilihan dan warna. Untuk tes keseimbangan digunakan untuk menilai
saraf perifer motorik dan sensorik serta system vestibuler, visual dan pusat integratif di otak.
Ketidakseimbangan biasanya terjadi diakibatkan oleh paparan kronik daripada bahan kimia
toluene, benzene, ethylene bromide dan banyak lagi. Tes masa untuk bereaksi terhadap pilihan
berperan dalam menilai jalur dari mata ke otak dan dari otak ke tangan. Tes ini menggunakan
computer-generated visual stimulus Dengan menggunakan huruf A dan S, huruf tersebut akan
terapapar di skrin computer dan orang yang diuji harus bereaksi sesuai dengan huruf yang
dipaparkan. Electromyography adalah tes yang digunakan untuk menilai derajat kesehatan otot
dan velositas konduksi daripada saraf. Merupakan neurofisikal tes ntuk menilai fungsi otot dan
saraf. Kelainan menunjukkan terjadinya denervasi. Sural nerve biopsy Bisa digunakan sural
nerve atau saraf radialis yang superfisial untuk biopsi. Anestesi local digunakan untuk operasi
ini. Insisi kecil dibuat dan sebagian saraf diangkat. Sampel diperiksa menggunakan mikroskop
cahaya atau mikroskop electron. Fiber saraf juga bisa dinilai. Hasil digunakan untuk menilai
sama ada terdapat degenerasi axon, rusaknya saraf-saraf kecil, demielinisasi atau kondisi
inflamasi pada saraf. Pada keadaan normal, tiadanya pertumbuhan abnormal dan inklusi.1,2,5
2.3.2

Pajanan yang dialami


Langkah kedua dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis dengan

menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah mencari tahu pajanan yang dialami oleh
pasien dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Pajanan yang dinilai haruslah meliputi pajanan
yang dialami saat ini dan juga pajanan yang dialami sebelumnya. Informasi mengenai pajanan
yang dialami oleh pasien boleh didapatkan melalui anamnesis. Seperti yang diketahui dari
12

anamnesis pasien berkerja pada bagian produksi sepatu yang bertugas untuk menempelkan sol
sepatu lem, dimana kita ketahui salah satu komposisi lem terdiri dari pelarut organik. Pelarut
organik adalah bahan kimia yang berbentuk cair pada suhu kamar, berfungsi sebagai pelarut
bahan kimia lainnya. Pelarut organik sangat beragam dengan struktur kimia yang bermacammacam: golongan hidrokarbon aromatik (benzena, toluena, xylena, dll), hidrokarbon alifatik,
aldehida, alkohol, eter, keton, glikol, hidrokarbon terhalogenisasi, dan lain-lain. Kesamaannya
adalah kemampuannya melarutkan dan mendispersikan lemak, minyak, cat, dan lain-lain.
Penggunaan Pelarut organik di bidang industri bermacam-macam, contohnya benzena, toluena,
xylena (BTX) di gunakan sebagai lem, pelarut, cat, dan lain-lain. Penggunaan toluena sebagai
sebagai pelarut cat, thinner, tinta, lem, bahan tambahan produk kosmetik, industri pestisida,
crude petroleum, disinfektan, industri plastik, dan serat sintetik. Rute masuk ke dalam tubuh
dapat melalui tiga mekanisme, yaitu inhalasi (terhirup), ingesti (tertelan), dan kontak langsung
melalui kulit. Pelarut organik seperti benzena, toluena, xylena (BTX) mudah menguap, seringkali
uap BTX terhirup oleh pekerja yang tidak mengunakan alat pelindung diri. Pelarut organik ini
berbahaya bagi kesehatan pekerja karena dapat menyebabkan (tergantung jenisnya): Iritasi
hidung, tenggorokan, dan saluran napas, iritasi dan inflamasi pada paru, gangguan susunan saraf
pusat, gangguan susunan saraf tepi, gangguan neurologis: gangguan pendengaran contohnya
toluene, gangguan sistem reproduksi, beberapa bersifat karsinogenik contohnya benzene,
gangguan organ seperti ginjal, hati, dll, iritasi mata, dan iritasi kulit.1,6
2.3.3

Hubungan pajanan dengan penyakit


Langkah ketiga dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis dengan

menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan mecari tahu hubungan pajanan
yang dialami oleh pasien dengan penyakit. Langkah ini dimulai dengan identifikasi pajanan
yang ada, lalu dicari apakah ada hubungan antara pajanan dengan penyakit yang dialami pasien
tersebut. Hubungan antara pajanan dan penyakit ini haruslah didukung oleh bahan ilmiah seperti
literature atau penelitian. Seandainya belum ada bahan ilmiah yang mampu membuktikan
hubungan antara pajanan dan penyakit, seorang dokter boleh menggunakan pengalaman yang
ada padanya untuk menentukan apakah ada hubungan antara pajanan dengan penyakit. Pada
scenario kasus didapatkan bahwa pasien merupakan karyawan dipabrik sepatu di bagian
produksi yang bertugas untuk menempelkan sol sepatu dengan menggunakan lem. Pasien sudah
13

bekerja selama 10 tahun, dan baru sebulan terakhir ini pasien mengeluh pusing, sulit konsentrasi
dan tidur. Secara garis besar, pada pasien pekerja dengan kecurigaan keracunan solven organik
pada lem seperti benzene, xylen dan toluene, efek terhadap kesehatan dikategorikan menjadi 2,
berdasarkan sistem neurologis atau dilihat berdasarkan pajanan yang diterima pasien.
Berdasarkan neurologis atau sistem saraf dibagi menjadi 2, yaitu sistem saraf pusat dan sistem
saraf perifer, pembagian ini dapat dilakukan berdasarkan gejala neurologis yang spesifik dan
muncul pada pasien.1,6
Pajanan dikategorikan berdasarkan durasi dari pajanan (jangka pendek atau jangka
panjang; untuk itu perlu diketahui seberapa lama pekerja sudah melakukan pekerjaannya
tersebut), intensitas dari pajanan (rendah atau tinggi). Efek yang bersifat akut biasanya
disebabkan oleh efek pajanan jangka pendek. Pajanan yang bersifat jangka pendek dengan
intensitas yang rendah dapat nampak sebagai kondisi subklinis dan dapat bersifat reversibel atau
ireversibel. Pajanan kronik biasanya terjadi sebagai akibat dari pajanan yang berlangsung selama
beberapa periode waktu, standar dikatakan kronik bervariasi tergantung beberapa penulis.
Pajanan yang terjadi biasanya dalam kadar yang rendah. Dampak pada kesehatan dapat bersifat
subklinis atau klinis. Efek akut dari pajanan jangka pendek biasanya akan segera nampak sebagai
tanda yang bersifat mendadak pada pasien dengan umumnya berupa gejala gangguan SSP
sebagai akibat dari pajanan dengan kadar tinggi terhadap solven organik.Gejala dapat bervariasi,
namun umumnya gejala yang khas ialah pasien mengalami disorientasi, pusing, euforia, dan
kebingungan yang kemudian akan berlanjut menjadi ketidaksadaran pasien, lumpuh, kejang dan
kematian akibat henti napas/jantung. Lain halnya dengan pajanan yang bersifat kronik, biasanya
beberapa gejala yang dapat ditanyakan kepada pasien ialah berupa sakit kepala, kelelahan,
gangguan tidur, rasa nyeri, rasa kebas, kesemutan, perubahaan mood, dan beberapa gejala
menyeluruh lain. Menurut Longstreth (1999), disfungsi neurologis akibat pajanan yang akut
dengan kadar tinggi memiliki riwayat sebagai berikut: onset gejala bersifat akut mencakup
kelelahan sakit kepala, pusing, disorientasi, kebingungan, halusinasi, dan/atau kejang dan akibat
neurologis lain seperti koma/kematian. Pajanan akut yang sudah dilaporkan dari sumber
manapun, seperti makanan, minuman, bahan-bahan kimia atau lingkungan kerja. Gejala dari
peningkatan tekanan intrakranial seperti sakit kepala, mual-muntah, yang dapat menetap oleh
karena pajanan toksik yang akut. Bekerja di ruangan tertutup. Bekerja dengan sedikit/tanpa
peralatan proteksi diri. Tidak menggunakan data higiene industri untuk mengetahui kadar
14

pajanan yang diperbolehkan. Drug-abuse atau ketergantungan (non-okupasi), depresi, percobaan


bunuh diri, riwayat gangguan psikologis (non-okupasi). Kelelahan, pusing yang hilang setelah
pajanan dihentikan. Efek yang sudah diketahui berasal dari efek akut neurotoksin. Sedangkan,
menurut LaDou, disfungsi neurologis akibat pajanan jangka panjang dengan kadar rendah dapat
dicurigai pada pasien dengan riwayat berikut ini: gejala neurologis yang reversibel, tetap atau
bahkan progresif setelah penghentian pajanan. Onset gejala yang lambat atau hilang timbul.
Gejala yang mengarah kepada sistem saraf pusat seperti sakit kepala, kebingungan, disorientasi,
perubahan perilaku atau masalah pada memori dengan onset lambat atau hilang timbul. Gejala
yang mengarah kepada sistem saraf tepi, seperti rasa kebas pada kaki dan tangan, rasa nyeri,
kelemahan, atau kesulitan berjala dengan onset gejala yang lambat dan hilang timbul. Gejala
neurologis lain. Tidak ada fokalitas pada pemeriksaan neurologis. Dipekerjakan dalam jangka
waktu yang lama di bidang indsutri dimana solven organik dipergunakan. Beberapa gejala yang
sering muncul, dapat saja diakibatkan oleh pajanan singkat dengan dosis yang tinggi saat
bekerja. Gejala kelelahan yang progresif dan gejala lain seperti kesulitan untuk mengingat dan
berkonsentrasi, yang akan berkurang di akhir minggu dan akan muncul kembali ketika minggu
bekerja dimulai kembali. Peralatan proteksi diri yang terbatas. Bukti dari kontaminasi udara
ruangan oleh solven organik di atas kadar yang diperbolehkan oleh ketentuan pajanan udara oleh
pemerintah.1,2,6
Gangguan kesehatan akut pada pekerja yang terpajan benzena secara berlebihan
(overexposed workers) berupa sakit kepala, vertigo, mual, muntah. Pajanan kronis benzena dapat
menyebabkan gangguan darah seperti anemia dan menurunnya jumlah sel darah putih. Kontak
dalam waktu yang lama dengan kulit menyebabkan kerusakan kulit mirip akibat terbakar. Studi
epidemiologi terhadap para pekerja yang terpajan benzena dalam periode waktu yang lama
menunjukkan bertambahnya pekerja yang menderita kanker, seperti kanker darah (leukemia).2,7
2.3.4

Jumlah pajanan
Langkah keempat dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis

dengan menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan mencari tahu apakah
pajanan yang dialami oleh pasien cukup besar sehingga dapat menimbulkan penyakit yang
dialaminya. Langkah ini melibatkan pemahaman mengenai patofisiologi penyakit, disertai bukti
kuantitatif yaitu epidemiologinya dan bukti kualitatif.
15

Benzene merupakan salah satu senyawa kimia yang paling banyak digunakan dalam
industry di dunia. Di Amerika Serikat, benze merupakan peringkat teratas dari 20 zat kimia
terbanyak yang diproduksi. Benzen digunakan secara luas sebagai pelarut dan industry obat sebai
bahan baku atau bahan intermediate dalam pembuatan banyak senyawa kimia, juga sebagai zat
adiktif pada bensin. Penggunaan utama benzene adalah untuk produksi etilbenzena, cumene dan
sikoheksan. Etil benzene ialah senyawa intermediate untuk pembentukan stirena, dimana
digunakan untuk pembentukan plastic. Cumene digunakan untuk memproduksi fenol dan aseton.
Benzene juga merupakan salah satu komponen dalam bensin tanpa timbal untuk meningkatkan
nilai oktan bensin. Oleh karena itulah polusi udara yang disebabkan senyawa aromatic seperti
benzene dalam bensin tanpa timbal meningkat. US-EPA telah mengklasifikasikan benzene
sebagai polutan udara berbahaya dan limbah berbahaya. Selain itu, ada bukti yang cukup
mendukung dalam pengklasifikasian benzene sebagai karsinogen manusia (Grup A) (IRIS,
2007). Oleh karena itu pengklasifikasian oleh US-EPA ini di masa sekarang pelarut benzene
semakin dibatasi, tetapi di ganti oleh pelarut organic lain. Tetapi karena benzene masih terdapat
dalam pelarut organic pengganti ini sebagai impuritien (pengotor), maka manusia masih dapat
terpajan oleh benzene di lingkungan kerja. Benzene juga digunakan dalam industry pembuatan
sepatu dan industry percetakan (ATSDR, 2007).6,7
Dalam proses produksi industry sepatu penggunaan lem yang mengandung bahan kimia
yang berbahaya tidak dapat dihindari. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gussenhoven
tahun 2000, diketahui bahwa senyawa BTX ( Benzene, toluene dan xylen) merupakan bahan
penting dari industry sepatu. Hal ini dikarenakan BTX merupakan komponen utama dalam lem,
pelarut dan juga cat yang digunakan dalam industry tersebut. Penelitian terhadap dua industry
sepatu di cina menunjukkan bahwa paparan benzene ialah 21,86 ppm pada industry sepatu
rumahan dan 3,46 ppm pada industry sepatu skala besar. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Rohtman tahun 1996 menyebutkan bahwa terjadi penurunan parameter hematologi (total sel
darah putih, sel darah merah, trombosit, dan hematocrit) selama pekerja terpajan oleh benzene,
jika dibandingkan dengan control dengan pengecualian dengan kadar MCV justru meningkat.
Pesatori dkk tahun 2009 melakukan penelitian mengenai efek hematologi awal terhadap populasi
manusia yang terpajan oleh konsentrasi rendah benzene. Mereka mengevaluasi hematologi
(SDM, SDP, neutrophil, limfosit, monosit, eosinophil, hb, MCV, MPV) terhadap 153 pekerja
petrokimia yang terpajan benzene dengan rentang konsentrasi 0,01-23,9 ppm. Hasil yang
16

diketahui tidak ada efek dosis terhadap respon terhadap sebagian besar parameter hematologi
yang diperiksa, tetapi jumlah eosinophil berbanding terbalik denganpajanan benzene di kalangan
perokok. Sebaliknya keadaan basophil meningkat dengan keadaan pajanan. Pajanan benzene dan
toluene juga dapat menurunkan kadar leukosit telomere length (LTL). Pajanan 50 ppm toluene
dapat meningkatkan induksi lipopolisakarida proliferasi sel tikus secara signifikan. Pajanan
toluene juga menyebabkan penurunan aktivitas enzyme antioksidan secara signifikan dan
meningkatkan peroksidasi lemak dan kerusakan protein. Efek utama yang timbul dari menghirup
uap xylen adalah depresi pada system saraf pusat dengan gejala seperti sakit kepala, pusing, mual
muntah. Semua gejala-gejala tersebut dapat timbul pada pajanan 100 ppm. Sedangkan efek
pajanan xylene pada darah belum ditemukan, walaupun penelitian sebelumnya menyebutkan
bahwa terjadi anemia akibat kontaminasi xylen dan benzene. Dari tingginya kandungan pelarut
organic BTX yang terdapat pada lem yang digunakan maka diperlukan suatu analisis pajanan
senyawa BTX dan pengaruhnya terhadap hematologi darah karena jumlah paparan yang
diperbolehkan oleh NIOSH (National Institute for Occupational Health and Safety) untuk 8 jam
kerja hanya sebesar 0,1 ppm untuk benzene dan 100 ppm untuk toluene dan xylen. Di Indonesia,
Badan Standardisasi Nasional (BSN) dalam SNI 19-0232-2005 yang mengacu pada surat edaran
Menteri Tenaga Kerja Nomor SE-01/MEN/1997 menetapkan nilai ambang batas di udara tempat
kerja adalah 32 mg/m3 atau 10 ppm untuk benzene, 188 mg/m3 atau 20 ppm untuk toluene dan
434 mg/m3 atau 100 ppm untuk xylen.1,6
2.3.5

Faktor individu yang berperan


Langkah kelima dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis

dengan menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan mencari tahu apakah ada
factor individu yang boleh menimbulkan penyakit yang dialaminya. Factor individu mencakup
status kesehatan fisik pasien, factor kesehatan mental pasien dan higinis perorangan pasien.
Berdasarkan kasus, diketahui hygiene pasien baik.
2.3.6

Faktor lain diluar pekerjaan


Langkah keenam dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis

dengan menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan mencari tahu apakah ada
factor lain di luar pekerjaan termasuk hobi, kebiasaan sehari-hari, pajanan di rumah dan juga
17

pajanan dari kerja sambilan seandainya ada. Berdasarkan kasus tidak dijelaskan adanya pajanan
factor lain di luar pekerjaan
2.3.7

Diagnosis PAK
Langkah terakhir dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis

dengan menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah penarikan diagnosis okupasi
berdasarkan hasil dari langkah pertama sampai langkah ke enam. Penarikan diagnosis haruslah
berdasarkan pada bukti ilmiah dapat dibagi atas : Penyakit Akibat Kerja (PAK) atau Penyakit
Akibat Hubungan Kerja (PAHK), Penyakit yang diperberat pajanan di tempat kerja, Belum dapat
ditegakan , Bukan Penyakit Akibat Kerja (PAK). Pada scenario kasus dan diketahui dari
anamnesis pasien terpapar lem dalam produksi sepatu. Sebagaimana kita ketahui komposisi lem
yaitu adanya pelarut BTX (benzene, Toluena, dan xylene). Pajanan akut dapat menimbulkan
iritasi saluran pernapasan, sakit kepala, vertigo, kelelahan, sulit konsentrasi, efek nerologis lain
hingga kematian. Sedangkan efek kronik dapat menjadi kanker dan gangguan hematologi.
Namun perlu diketahui dalam pajanan yang kronik dapat menjadi akut, maka gejala akut dapat
timbul juga pada pajanan kronik jika nilai ambang batas di udara terlewat, untuk benzene 10
ppm, toluene 20 ppm, dan xylene 100 ppm. Jadi dapat kita katakana diagnosis okupasinya ialah
PAK karena intoksikasi solvent, namun untuk menetukan diagnosis okupasi pasti memerlukan
data pendukung PP .
2.4 Tatalaksana
2.4.1 Medikamentosa
Pengobatan yang dilakukan ialah bersifat simptomatik saja,1 seperti pada scenario kasus
pasien merasa pusing. Klinisi dapat memberikan obat paracetamol 500 mg untuk menghilangkan
nyeri kepala tersebut diminum jika kepala terasa nyeri saja.
2.4.2

Non-medikamentosa
Kita memberitahukan pasien pentingnya penggunaan alat pelindung diri yang sesuai yang

utama untuk inhalasi BTX dengan konsentrasi kurang atau sama dengan 10 ppm, 50 ppm, dan
100 ppm menggunakan tipe masker perlindungan pernapasan dan digunakan berturut-turut
adalah half mask respiratory with organic vapor catridge, full faceplace with organic vapor
catridge dan full faceplace powered with organic vapor catridge. Pemeriksaan Medical Check
18

Up (MCU) sebelum kerja, berkala/tahunan, dan pemeriksaan khusus. Pasien disarankan untuk
melakukan pemeriksaan neurofisiologis (ENMG) dan neuropsikologis (MMSE dan EEG) setiap
9 bulan atau 1 tahun setelah pajanan dikurangi atau diberhentikan. 3 Selain itu pasien diharapkan
untuk menjaga pola makan dan tidur (disesuaikan dengan system shift dari pabrik tersebut).
Olahraga yang cukup 30 menit/hari minimal 5x seminggu.
2.4.3

Pencegahan

Monitoring lingkungan kerja adalah metode untuk menilai pajanan bahaya potensial di area
kerja dengan cara mengukur keberadaan pajanan tersebut di udara, air dan tanah. Ventilasi
berperan penting untuk mengurangi dosis pajanan kimia yang bersifat mudah terinhalasi, selain
itu system shift juga penting untuk memberi batasan pada pekerja agar tidak terjadi intoksifikasi
pelarut akibat pekerjan. Biomonitoring adalah metode untuk menilai pajanan bahaya potensial
tempat kerja dan atau efeknya pada tubuh pekerja dengan cara mengukur keberadaan pajanan
(umumnya bahan kimia), metabolit atau produk reaksi yang terdapat dalam jaringan atau
specimen tubuh seperti darah, urin atau rambut. Pengamatan biologis adalah pelengkap
pengamatan lingkungan. Teknik pengamatan biologis akan memberikan informasi tentang beban
tubuh (pajanan internal) yang memberi gambaran keseimbangan antara penerimaan,
biotransformasi, dan pengeluaran, kontras terhadap pengamatan lingkungan yang mengukur
kadar pajanan udara di tempat kerja atau zona pernapasan. Pengamatan biologis khususnya
berguna bila penyerapan melalui kulit atau secara tidak sengaja menelan, menjadi jalan masuk
pajanan yang bermakna. Pajanan kulit terhadap bahan pelarut umum terjadi di antara tukang cat,
pembersih lemak dan tukang cetak. Para pekerja ini sering memakai pelarut untuk membersihkan
kulit yang ternoda cat/tinta atau minyak. Hal penting yang perlu diperhatikan mengenai efek
kronis adalah bahwa hasil pengamatan biologis yang dilakukan saat itu mungkin tidak
mencerminkan keadaan pajanan masa lalu. Oleh karena itu, lebih berguna bila melihat hasil
serial marker biologis dibandingkan hanya melihat satu hasil saja. Pencegahan juga bias dengan
manajemen resiko yang terbagi atas 3 Hazard identification, Risk assessment dan risk control,
biasanya dikenal dengan singkatan HIRARC. Sementara Kepmenaker No 05/1996 menempatkan
manajemen resiko sebagai salah satu elemen penting yaittu pada klaussul 2.2.1 menyebutkan:
perencanaan identifikasi bahaya, penilaian resiko, dan pengendalian resiko: identifikasi bahaya,
penilaian dan pengendalian resiko dari kegiatan, produk barang dan jasi harus dipertimbangkan
19

pada saat merumuskan rencana untuk memenuhu kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja.
Untuk itu harus di tetapkan dan dipelihara prosedurnya. Berdasarkan nilai karekteristik resiko
yang telah didapatkan, manajemen resiko sebenarnya merupakan pilihan-puluhan yang dilakukan
untuk memperkecilrisiko dampak pajanan benzene terhadap karyawan atau pekerja, dengan
mengubah nilai faktor-faktor pemajanan, sehingga asupan lebih kecil atau sama dengan dosis
referensi toksisitasnya yang pada dasarnya hanya ada 2 cara untuk menyamakan intake dan RFC
yaitu menurunkan konsentrasi agent resiko dan atau mengurangi waktu kontak. Mengurangi
pajanan dapat dilakukan dengan memberlakukan sistem shift dan sistem rotating. Klinisi juga
sebaiknya berani untuk memberitahukan kepada pasiennya untuk merubah pekerjaan/posisi
pekerjaannya apabila pasien sudah mengelami gejala intoksikasi yang cukup berat.2,3,6,7
3. Kesimpulan
Untuk mendiagnosis suatu penyakit akibat kerja harus melalu 7 langkah yaitu diagnosis
klinis, pajanan yang dialami, hubungan pajanan dengan penyakit, jumlah pajanan, factor diluar
pekerjaan, factor individu dan diagnosis okupasinya. Pada scenario diketahu bahwa pasien lakilaki usia 30 tahun berkerha di pabrik sepatu bagian produksi tugasnya menempelkan sol sepatu
dengan lem ( mengandung BTX) sekitar 10 tahun. Diketahui pasien mengeluh pusing berputar,
sulit konsentrasi dan tidur sejak 1 bulan terakhir. Dari riwayat pekerjaannya pasien tidak
memakai APD. PF dalam keadaan normal (TTV) dan PP (hematologic dan roentgen normal) Jadi
dapat disimpulkan penyakit akibat kerja karena pajanan kimia BTX yang merupakan komponen
pelarut lem namun untuk diagnosis okupasi yang pasti masih memerlukan data pendukung
berupa pemeriksaan penunjang untuk mengetahui apakah pasien melewati nilai ambang batas zat
kimia tersebut.
Daftar Pustaka

20