Anda di halaman 1dari 53

INCOME STATEMENT (REVENUE AND EXPENSE)

Makalah Sesi ke-VII (09 April 2015)


Disusun untuk Melengkapi Salah Satu Tugas Kelompok
Mata Kuliah Teori Akuntansi

Oleh
Kelompok III:

1.

Binda Nairani Ekanisa

(023144149)

2.

Erly Supriyanti

(023144150)

3.

Sri Weni Hayati

(023144152)

4.

Ritagustina BR. Ginting

(023144163)

5.

Adinda Rahmi Juliana

(023144148)

FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI


UNIVERSITAS TRISAKTI
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis
dapat menyelesaikan Tugas Kelompok dengan judul Income Statement (Revenue
And Expense).
Penulisan makalah ini merupakan untuk melengkapi salah satu tugas
kelompok mata kuliah teori akuntansi. Dalam proses penyusunan makalah ini,
penulis mendapatkan dukungan, bantuan, dan bimbingan dari berbagai pihak, baik
secara moril, materiil maupun doa.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan
makalah ini. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran bagi berbagai pihak
yang membaca agar kami bisa mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya
dalam dunia akuntansi. Semoga pada kesempatan lain penulis dapat memperbaiki
kesalahan yang ada dalam penulisan.

Jakarta, 09 April 2015

Penulis

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Economic Consequences Of Financial Reporting


2.2 Revenue And Gain Defined
Oleh: Binda Nairani Ekanisa (023 144 149)
2.1 Economic Consequences Of Financial Reporting
Income Statement (Laporan Laba Rugi) merupakan sesuatu yang utama bagi
perusahaan terkait ukuran pendapatan. Income statement memiliki nilai prediktif
sesuai karakteristik kualitatif yang didefinisikan dalam SFAC Nomor 2.
Income statement memiliki nilai sebagai ukuran arus kas masa depan, yakni
sebagai ukuran dari efisiensi manajemen dan panduan dalam pencapaian tujuan
manajerial.
Di sisi yang lain, investor merupakan fokus utama dalam lingkungan pelaporan
keuangan. Sumber daya investor (current resources) yang digunakan perusahaan
untuk memperoleh keuntungan mengandung sifat ketidakpastian atas arus kas masa
depan (future-uncertain resources). Sebagai konsekuensinya, investor dalam kondisi
seperti ini memerlukan informasi yang yang dapat membantu mereka untuk menilai
arus kas di masa yang akan datang.
Seperti kita ketahui bersama, pelaporan keuangan memiliki beberapa
konsekuensi ekonomis (economic consequences of financial reporting) yakni:

1.

Informasi keuangan dapat mempengaruhi distribusi kekayaan diantara investor.


Investor yang memperoleh informasi lebih banyak (mempekerjakan analis
sekuritas) mungkin mampu meningkatkan kekayaan mereka daripada investor
yang kurang informasi.

2.

Informasi keuangan dapat mempengaruhi tingkatan risiko yang diterima


perusahaan. Fokus pada jangka pendek, memiliki risiko lebih kecil, tetapi
mungkin mengandung efek-efek jangka panjang yang merugikan (long-term
detrimental effects).

3.

Informasi keuangan dapat mempengaruhi tingkat formasi modal dalam


ekonomi dan menghasilkan realokasi kekayaan antara konsumsi dan investasi
dalam ekonomi.

4.

Informasi keuangan dapat mempengaruhi bagaimana investasi dialokasikan


dalam perusahaan.
Konsekuensi-konsekuensi ekonomis inilah yang seharusya dipertimbangkan

oleh FASB dan SEC, sebagai organisasi penyusun standar akuntansi, mengingat
pengaruh yang ditimbulkan oleh masing-masing konsekuensi di atas akan berbedabeda bagi para pengguna informasi keuangan.

2.2 Definisi pendapatan dan untung (Revenue And Gain Defined)

Berbagai sumber mamaknai pendapatan kurang lebih sama walaupun dengan


variasi yang berbeda. Dalam SFAC No. 6 FASB mendefinisikan pendapatan dan
untung sebagai berikut :
Revenues are inflows or other enhancements of asset of an entity or
setlements of its liabilities (or combination of both) from delivering or
producing goods, rendering service, or other activities that constitute the
entitys ongoing major or central operations (prg 78).
Pendapatan adalah arus masuk atau perangkat tambahan lain aset dari suatu
entitas atau penyelesaian kewajiban (atau kombinasi keduanya) dari
pengiriman atau produksi barang, jasa, atau kegiatan lainnya yang merupakan
operasi yang sedang berlangsung oleh entitas besar atau pusat (prg. 78).
Gains are increases in equity (net assets) from peripheral or incedental
transaction of an entity and from all other transaction and other events and
circumstances affecting the entity except those that result from revenues or
invesment by owners (prg 82).
Keuntungan adalah kenaikan ekuitas (aktiva bersih) dari transaksi insidental
dari suatu entitas dan dari semua transaksi lain dan peristiwa lain dan keadaan
yang mempengaruhi entitas kecuali yang dihasilkan dari pendapatan atau
investasi oleh pemilik (prg 82).
Dalam Standar Akuntansi Keuangan (2002), IAI mengadopsi definisi
pendapatan dari IASC yang menempatkan pendapatan (revenue) sebagai unsur
penghasilan (income) sebagai berikut :

Penghasilan adalah kenaikan manfaat ekonomi selama periode akuntansi


dalam bentuk arus masuk atau perangkat tambahan aset atau penurunan
kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas, selain yang berkaitan dengan
peserta ekuitas (hlm. 17)
Pendapatan timbul dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan disebut
dengan berbagai nama yang berbeda termasuk penjualan, biaya, bunga,
dividen, royalti, dan sewa (hlm.18)
Keuntungan merupakan item lainnya yang memenuhi definisi penghasilan dan
mungkin, atau tidak mungkin, timbul dalam perjalanan dari aktivitas normal
perusahaan. Keuntungan merupakan kenaikan manfaat ekonomi dan dengan
demikian tidak berbeda dari pendapatan. Oleh karena itu, mereka tidak
dianggap sebagai elemen yang terpisah dalam kerangka kerja ini (hlm. 18)
Definisi-definisi di atas memisahkan antara pengertian dan pengakuan
sehingga tidak ada yang menjukkan kriteria pengakuan. Sementara itu, APB (1970)
mendefinisikan pendapatan dengan memasukkan kriteria pengakuan sebagai berikut
(APB Statement No 4 prg 134) :
Pendapatan - kenaikan bruto dalam aset atau penurunan bruto dalam
kewajiban yang diakui dan diukur sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum yang dihasilkan dari jenis-jenis laba kegiatan diarahkan
kegiatan perusahaan yang dapat mengubah ekuitas pemilik.
Dari beberapa definisi di atas dapat didaftar karakteristik-karakteristik atau
kata kata kunci yang membentuk pengertian pendapatan dan untung. Yang
membentuk pengertian pendapatan dan untung adalah:

1. Aliran masuk atau kenaikan aset


2.

Kegiatan yang mempresentasi operasi utama atau sentral yang menerus.

3.

Pelunasan, penurunan, atau pengurangan kewajiban.

4.

Suatu entitas

5.

Produk perusahaan

6.

Pertukaran produk

7.

Menyandang beberapa nama atau mengambil beberapa bentuk.

8.

Mengakibatkan kenaikan ekuitas.


Beberapa karakteristik di atas dikatakan merupakan turunan/konsekuensi dari

atau dikandung secara implisit oleh kata kunci yang lain. Karakteristik (3) sampai (8)
sebenarnya merupakan penjabaran atau konsekuensi dari ketiga karakteristik
sebelumnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa karakteristik (1) dan (2)
merupakan karakteristik konsekuensi, pendukung, atau penjelas.
1.

Kenaikan Aset
Paton dan Litleton (1970:47) menyebutkan bahwa aset dapat bertambah karena

berbagai transaksi, kejadian, atau keadaan sebagai berikut:


a.

Transaksi pendanaan yang berasal dari kreditor dan investor.

b.

Laba yang berasal dari kegiatan investasi, misalnya penjualan aset tetap, surat
berharga, segmen bisnis, dan anak perusahaan.

c.

Hadiah, donasi atau temuan

d.

Revaluasi aset yang telah ada.

e.

Penyediaan dan/atau penyerahan produk (barang dan jasa)


Untuk disebut sebagai pendapatan, aliran aset masuk adalah jumlah rupiah

kotor. FASB mengisyaratkan jumlah kotor dengan menyatakan bahwa pendapatan

adalah jumlah rupiah yang datang dari penyerahan produk atau pelaksanaan jasa.
(IASC) menunjuk jumlah kotor dengan menyebutkan bahwa jumlah rupiah
pendapatan dapat berupa penjualan, imbalan jasa, bunga, dividen, royalitas, dan
sewa.
Pendefinisian pendapatan sebagai kenaikan aset merupakan pendefinisian
dengan konsep aliran masuk. Konsep ini mempunyai kelemahan karena pendapatan
dianggap baru ada setelah transaksi penjualan terjadi. Dengan kata lain pendapatan
timbul karena peristiwa atau transaksi pada saat tertentu dan bukan karena proses
selama suatu periode. Kelemahan lain adalah definisi ini mengacaukan pengukuran
dan penentuan saat pengakuan dengan proses penciptaan pendapatan. IAI harus
membatasi bahwa kenaikan aset tersebut adalah yang menaikkan ekuitas kecuali
yang berasal dari transaksi dengan pemilik.
Konsep kenaikan aset mengalami masalah dalam hal aliran masuk yang berupa
pembayaran di muka yang berasal dari pelanggan. Walaupun pembayaran semacam
ini merupakan bagian dari operasi utama perusahaan, pada kenyataannya aliran
masuk tersebut tidak atau belum dianggap pendapatan. Demikian juga, walaupun
penjualan kredit menimbulkan piutang usaha, piutang sering dianggap bukan suatu
aliran masuk aset.
2.

Operasi Utama Berlanjut


Tidak semua kenaikan aset di atas membentuk pendapatan. Kegiatan utama

atau sentral yang menerus atau berlanjut merupakan karakteristik yang membatasi
kenaikan yang dapat disebut pendapatan. Kenaikan aset harus berasal dari kegiatan
operasi dan bukan kegiatan investasi dan pendanaan. Kegiatan operasi ini

diwujudkan dalam bentuk memproduksi dan mengirimkan berbagai barang kepada


pelanggan atau menyerahkan atau melaksanakan berbagai jasa.
Pengertian operasi utama menunjukkan kegiatan sebagaimana pengertian
operasi dalam klasifikasi kegiatan yang membentuk statemen aliran kas yaitu,
operasi, investasi, dan pendanaan. Akan tetapi, pendapatan atau untung yang tidak
berasal dari operasi utama dengan sendirinya lalu dapat disebut sebagai pos
nonoperasi.
Operasi dan Non-operasi
Produk yang dihasilkan secara tidak rutin atau insidential sering dianggap
sebagai pos pendapatan non-operasi dan dipisahkan penyajiannya. Pembedaan
memang perlu tetapi mengklasifikasinya sebagai non-operasi dapat menyesatkan
dalam pengukuran kinerja atau daya melaba perusahaan.
Paton dan Litleton (1970) berpendapat bahwa pemisahan laba atau rugi sebagai
pos operasi dan non-operasi hanya dapat dibenarkan kalau laba atau rugi sebagai pos
operasi tesebut benar benar luar biasa dan berkaitan dengan tujuan perusahaan utama
hanya secara sangat kebetulan saja. Jadi, istilah non-operasi kurang deskriptif
untuk mengklasifikasikan beberapa pendapatan atau untung yang sebenarnya masuk
dalam pengertian operasi dalam arti luas. Bila tidak bersifat luar biasa, pos-pos
tersebut lebih tepat dilaporkan sebagai pendapatan lain-lain dan untung (other
revenue and gains).
3.

Penurunan Kewajiban
Hal ini terjadi bila suatu entitas telah mengalami kenaikan aset sebelumnya

misalnya menerima pembayaran di muka dari pelanggan. Penerimaan ini bukan


merupakan pendapatan karena perusahaan belum melakukan prestasi yang

menimbulkan hak penuh atas aset yang diterima. Oleh karena itu, jumlah rupiah yang
diterima biasanya diperlukan sebagai pendapatan tak terhak (unearned revenues)
atau pendapatan tangguhan (deffered revenues) yang statusnya adalah kewajiban
sampai ada prestasi dari perusahaan berupa pengirimkan barang atau pelaksanaan
jasa. Pengiriman barang atau pelaksanaan jasa akan mengurangi kewajiban yang
menimbulkan pendapatan. Kejadian itu mengubah kewajiban menjadi pendapatan.
4.

Suatu Entitas
Dimasukkan kata entitas atau perusahaan dalam definisi mengisyaratkan bahwa

konsep kesatuan usaha dianut dalam pendefinisian. Pendapatan didefinisikan sebagai


kenaikan aset bukannya kenaikan ekuitas bersih. Jadi, aset yang masuk itulah yang
disebut pendapatan. Aset tersebut dikuasai oleh perusahaan. Akan tetapi, karena
hubungan perusahaan dengan pemilik merupakan hubungan utang-piutang, pada saat
aset naik sebagai pendapatan utang perusahaan kepada pemilik juga naik dengan
jumlah yang sama. Hal ini mengisyaratkan bahwa konsep kesatuan usaha dianut
dalam pendefinisian. Karena pendapatan didefinisikan sebagai kenaikan aset bukan
kenaikan ekuitas.
5.

Produk Perusahaan
Paton dan Littleton menyatakan bahwa pendapatan adalah produk perusahaan.

Di sini pendapatan didefinisikan secara fisis bukan moneter. Definisi ini juga netral
terhadap saat pengakuan. Aliran aset dari pelanggan berfungsi hanya sebagai
pengukur tetapi bukan pendapatan itu sendiri; produk fisis yang dihasilkan oleh
kegiatan usaha itulah pendapatan. Pengertian semacam ini sesuai dengan konsep
upaya dan capaian (effort and accomplishment) yaitu pendapatan merupakan capaian
upaya produktif perusahaan. Produk merupakan capaian dari tiap kegiatan produktif.

Dengan pengertian ini, pendapatan terbentuk atau terhimpun bersamaan dengan atau
selama kegiatan produktif tanpa harus menunggu kejadian atau saat penyerahan
produk kepada pelanggan.
6.

Pertukaran
Ini dikarenakan pendapatan akhirnya harus dinyatakan dalam satuan moneter

untuk dicatat dalam sistem pembukuan. Satuan moneter yang paling objektif adalah
kalau jumlah rupiah tersebut merupakan hasil transaksi atau pertukaran antara pihak
independen.
7.

Berbagai bentuk dan Nama


Pendapatan adalah konsep yang bersifat generik dan mencakupi semua pos

dengan berbagai bentuk dan nama apapun. Pendapatan untuk perusahaan


perdagangan misalnya disebut dengan penjualan.
UNTUNG
IAI dan APB tidak membedakan untung dan pendapatan dan keduanya
digabung dalam konsep penghasilan. Kata kunci yang melekat pada untung adalah :
1.

Kenaikan ekuitas (aset bersih)

2.

Transaksi periferal atau insidental

3.

Selain yang berupa pendapatan atau investasi oleh pemilik.


Dari ketiga karakteristik di atas, yang paling membedakan dengan pendapatan

adalah karakteristik (2) sebagai lawan dari operasi utama. Karakteristik (akibat
konsep kesatua usaha). Tidak ada petunjuk bahwa kenaikan aset yang menyebabkan
kenaikan ekuitas (akibat konsep kesatuan usaha). Tidak ada petunjuk bahwa
kenaikan aset yang menyebabkan kenaikan ekuitas tersebut merupakan jumlah kotor
atau bersih. Jadi, untung dapat merupakan jumlah kotor atau jumlah bersih.

10

Karakteristik (3) juga merupakan karakteristik pendapatan karena untuk disebut


pendapatan kenaikan aset harus bukan berasal dari transaksi dengan pemilik
(investasi oleh pemilik). Karena secara konseptual dan essensial karakteristik
pendapatan tidak berbeda dengan untung. IAI dan APB tidak memandang untung
sebagai elemen tersendiri dan didefinisi secara formal. APB memandang untung
semata-mata merupakan klasifikasi pendapatan dalam penyajian statemen laba-rugi.
FASB membedakan antara untung dan pendapatan karena adanya karakteristik
sumber yang dapat dibedakan dengan operasi utama. Karakteristik sumber dari
untung itu sendiri adalah :
1.

Periferal dan insidental: misalnya penjualan investasi dalam surat-surat


berharga, penjualan aset tetap, pelunasan utang obligasi sebelum jatuh tempo.

2.

Transfer nontimbal-balik (nonreciprocal transfer) dengan pihak lain : misalnya


hadiah dan donasi (bagi organisasi nonprofit) dan penerimaan ganti rugi
pemenangan tuntutan perkara hukum.

3.

Penahanan aset (holding asset): misalnya kenaikan harga sekuritas investasi,


kenaikan nilai tukar valuta asing, dan kenaikan karena penahanan sediaan
(holding gains)

4.

Faktor lingkungan : misalnya ganti rugi asuransi musibah alam yang melebihi
kos aset yang rusak.

FASB sendiri mengakui bahwa pembedaan tersebut sebenarnya lebih dimaksudkan


untuk kepentingan penyajian pendapatan atas dasar sumbernya daripada untuk
membedakan secara tegas karakteristik antara pendapatan dan untung.

11

2.3 Pengukuran dan Pengakuan Pendapatan


(Revenue Recognition and Measurement)
Oleh: Erly Supriyanti (023 144 150)
2.3.1 Pengukuran Pendapatan
Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan. Nilai wajar harus
disesuaikan dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan oleh perusahaan seperti
yang diyatakan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23:
1.

Pada paragraf 08 tersebut menyatakan bahwa:


Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar atas imbalan yang diterima atau

yang dapat diterima.


2.

Pada paragraf 09 tersebut menyatakan bahwa:


Jumlah pendapatan yang timbul dari suatu transaksi biasanya ditentukan oleh

persetujuan antara perusahaan dan pembeli atau pengguna aset tersebut. Jumlah
tersebut diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima
perusahaan dikurangi jumlah diskon dagang dan rabat volume yang diperbolehkan
oleh perusahaan.
3.

Pada paragraf 10 tersebut menyatakan bahwa:


Pada umumnya imbalan tersebut berbentuk kas atau setara kas dan jumlah

pendapatan adalah jumlah kas atau setara kas yang diterima atau yang dapat diterima.
Namun jika terdapat perbedaan antara nilai wajar dan jumlah nominal, maka imbalan
tersebut diakui sebagai pendapatan bunga. Nilai wajar disini dimaksudkan sebagai
suatu jumlah dimana kegiatan mungkin ditukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan
antara pihak yang memakai dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar,
kemungkinan kurang dari jumlah nominal yang diterima atau yang dapat diterima.

12

4.

Sedangkan pada paragraf 11 tersebut menyatakan bahwa:


Barang yang dijual atau jasa yang diberikan untuk diperkirakan atau barter

dengan barang dan jasa yang tidak sama, maka pertukaran dianggap sebagai
transaksi yang mengakibatkan pendapatan. Tetapi bila barang atau jasa yang
dipertukarkan untuk barang atau jasa dengan nilai yang sama maka pertukaran
tersebut tidak dianggap sebagai transaksi yang mengakibatkan pendapatan.
Nilai wajar memiliki arti jumlah dimana suatu aset dapat dipertukarkan atau
suatu liabilitas diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk
melakukan transaksi wajar (arms length transaction).
Dalam perusahaan, nilai tukar (exchange value) barang atau jasa yang terjadi
dan disepakati menunjukkan ekuivalen kas atau biasa disebut nilai tunai ekuivalen
kas (cash equivalent value) atau nilai sekarang dari pendiskontoan dari tagihan yang
diharapkan dan akhirnya diterima perusahaan dari transaksi pendapatan. Dalam hal
ini, maka pengembalian barang (return), potongan (discount) dan pengurangan lain
seperti komisi dari harga yang ditagih harus dikurangi dari nilai tukar ekuivalen
transaksi.
Menurut Samryn (2011: 118) pengukuran pendapatan menjelaskan,
Jumlah pendapatan (revenue) yang timbul dari suatu transaksi biasanya
ditentukan dengan syarat perjanjian antara entitas dan pembeli atau pengguna aset.
Pendapatan diukur atas dasar jumlah nilai wajar yang diterima atau ditagihkan,
dengan memperhitungkan jumlah potongan perdagangan dan volume rabat yang
diperbolehkan suatu entitas.
Adapun dua pendekatan yang dipakai dalam pengukuran pendapatan, yaitu:
1.

Pendekatan aktivitas

13

Pendekatan ini lebih berorientasi pada nilai tambah (value added) dalam arti
ekonomis. Penekanan utama dari pendekatan ini adalah deskripsi kegiatan dan bukan
pada pelaporan transaksi. Dengan demikian setiap tahap penggantian kegiatan
perusahaan maka pendapatan juga akan berubah. Menurut pendekatan ini pendapatan
dapat diklasifikasikan sesuai operasi di dalam perusahaan, misalnya pendapatan dari
produksi dan penjualan produk/jasa, pendapatan yang berasal dari pembelian dan
penjualan surat berharga.
2.

Pendekatan transaksi
Dalam pendekatan transaksi, perubahan atas aset dan liabillitas hanya dicatat

karena akibat dari transaksi, baik transfer ekstern maupun intern. Pengukuran dengan
pendekatan ini bertumpu pada realisasi, yaitu pada saat terjadinya transaksi
penjualan.
2.3.2 Pengakuan Pendapatan
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam Standar Akuntansi Keuangan
(2007 : 15):
Pengakuan (recognition) merupakan proses pembentukan suatu pos yang
memenuhi defenisi unsur serta kriteria pengakuan dalam neraca dan laba rugi.
Pengakuan dilakukan dengan menyatakan pos tersebut baik dalam kata-kata
maupun dalam jumlah uang dan mencantumkannya ke dalam neraca atau laba
rugi. Pos yang memenuhi kriteria tersebut harus diakui dalam neraca atau
laporan laba rugi. Kelalaian untuk mengakui pos semacam itu tidak dapat
diralat melalui pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan maupun
melalui catatan atau materi penjelasan.

14

Menurut Suwardjono, pengakuan adalah pencatatan jumlah rupiah secara resmi


ke dalam sistem akuntansi sehingga jumlah tersebut terefleksi dalam statemen
keuangan. Pengakuan pendapatan tidak boleh menyimpang dari landasan konseptual.
Oleh karena itu, secara konseptual pendapatan hanya dapat diakui kalau memenuhi
kualitas keterukuran (measurability), dan keterandalan (reliability). Kualitas tersebut
harus dioperasionalkan dalam bentuk kriteria pengakuan pendapatan. Untuk
menjabarkan kriteria kualitas informasi menjadi kriteria pengakuan pendapatan,
perlu dipahami dua konsep penting yaitu pembentukan pendapatan (earning of
revenue) dan realisasi pendapatan (realization of revenue)
A.

Pembentukan Pendapatan
Pembentukan pendapatan adalah suatu konsep yang berkaitan dengan masalah

kapan dan bagaimana sesungguhnya pendapatan itu timbul dan menjadi ada. Dengan
kata lain, apakah pendapatan itu timbul dari keadaan produktif atau karena kejadian
tertentu. Konsep ini menyatakan bahwa pendapatan terbentuk, terhimpun atau terhak
bersamaan dengan dan melekat pada seluruh atau totalitas proses berlangsungnya
operasi perusahaan dan bukan sebagai hasil transaksi tertentu. Konsep dasar ini
sering disebut pendekatan proses pembentukan pendapatan atau pendekatan kegiatan.
Pendekatan ini dilandasi oleh konsep dasar upaya dan hasil serta kontinuitas
usaha. Pendekatan ini juga dilandasi oleh konsep homogenesitas kos yaitu bahwa
semua tahap kegiatan atau unsur di dalamnya mempunyai kedudukan atau arti
penting yang sama dalam menghasilkan pendapatan (Paton dan Littleton 1970 : 67
dalam Suwardjono, 2005 : 364).
B.

Realisasi Pendapatan

15

Menurut konsep ini, pendapatan baru dikatakan terjadi atau terbentuk pada
saat terjadi kesepakatan atau kontrak dengan pihak independen untuk membayar
produk baik produk telah selesai dan diserahkan atau belum dibuat sama sekali.
Konsep realisasi atau pendekatan transaksi lebih menekankan kejadian yang
dapat menandai pengakuan pendapatan yaitu :
1.

Kejadian perubahan produk menjadi potensi jasa lain melalui proses penjualan
yang sah atau semacamnya (misalnya kontrak penjualan).

2.

Penguatan atau validasi transaksi penjualan tersebut dengan diperolehnya aset


lancar (kas, setara kas atau piutang).
Dari kedua kejadian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa proses realisasi

merupakan konfirmasi proses penghimpunan dana.


C.

Kriteria Pengakuan Pendapatan


FASB mengajukan dua kriteria pengakuan pendapatan (dan untung) yang

keduanya harus dipenuhi yaitu (SFAC No. 5, prg. 83):


1.

Terrealisasi atau cukup pasti terrealisasi (realized or realizable)


Pendapatan dikatakan terrealisasi bilamana produk (barang atau jasa), barang

dagangan atau aset lain telah terjual atau ditukarkan dengan kas atau klaim atas kas.
Dan dikatakan cukup pasti terrealisasi bilamana aset berkaitan yang diterima atau
ditahan mudah dikonversi menjadi kas atau klaim atas kas yang cukup pasti
jumlahnya.

2.

Terbentuk atau terhak (earned)

16

Pendapatan dapat dikatakan telah terbentuk bilamana perusahaan telah


melakukan secara substansial kegiatan yang harus dilakukan untuk dapat menghaki
manfaat atau nilai yang melekat pada pendapatan.
Terbentuknya pendapatan tidak harus selalu mendahului realisasi pendapatan;
dapat terjadi, pendapatan terrealisasi sebelum terbentuk.
Kam, 1990:243-252 dalam Suwardjono, 2005:368 mengemukakan kriteria
pengakuan secara teknis. Pendapatan baru dapat diakui setelah syarat-syarat berikut :
1.

Keterukuran nilai asset.

2.

Adanya suatu transaksi.

3.

Proses penghimpunan secara substansial telah selesai.

D.

Saat Pengakuan Pendapatan


Masalah kapan suatu pendapatan dapat diakui berkaitan dengan saat (timing)

pengakuan pendapatan itu sendiri. Ada beberapa gagasan mengenai hal ini :
1.

Pada Saat Kontrak Penjualan


Pada umumnya, perlakuan semacam ini berlaku untuk perusahaan yang

memproduksi barang konsumsi dan jarak antara penandatanganan kontrak dan


penyerahan barang cukup pendek (kurang dari satu tahun).
2.

Selama proses produksi secara bertahap


Masalah yang yang timbul dari pengakuan selama proses produksi ini adalah:
a) Akresi, yaitu pertambahan nilai akibat pertumbuhan fisis atau proses
alamiah lainnya. Akresi memenuhi pengertian pendapatan karena aset jelas
telah bertambah dan banyaknya tambahan fisis tersebut dapat ditentukan
secara objektif. Tapi yang terjadi sekarang adalah pendapatan sudah
terbentuk tapi belum terrealisasi. Untuk merealisasikan pertambahan nilai

17

tersebut, proses produksi masih diperlukan dan masih diikuti dengan


perubahan aset menjadi aset lancar baru (kas dan piutang). Oleh karena itu,
tidak selayaknya akresi dianggap sebagai pendapatan.
b) Apresiasi yaitu, selisih nilai pasar wajar aset perusahaan dengan kos
(atau nilai buku aset terdepresiasi). Dibandingkan akresi, apresiasi lebih
kurang memenuhi definisi pendapatan karena tidak berkaitan langsung
dengan operasi perusahaan tetapi lebih berkaitan dengan kondisi pasar.
c) Penghematan Kos, sering dikenal dengan potongan pembelian. Hal ini
bukanlah suatu pendapatan, kalau pembelian dilakukan dengan cara
bijaksana, yang terjadi hanyalah bahwa kos akan menjadi lebih rendah
dibandingkan dengan pembelian biasa. Memang benar bahwa efisiensi dan
keberuntungan dalam pembelian akan mempunnyai pengaruh terhadap
laba yang akhirnya diperoleh. Akan tetapi, diperolehnya laba tersebut
masih menunggu realisasi penjualan.
d) Pada saat produk selesai
Jika sudah ada kontrak penjualan sebelumnya, tidak ada masalah dengan
pengakuan pendapatan pada saat produksi selesai karena pendapatan sudah
terrealisasi dan pada saat produk selesai, pendapatan secara subtansial
sudah terbentuk. Pengakuan ini setara dengan metode kontrak-selesai
Namun bila belum ada kontrak penjualan sebelumnya, hanya kriteria
terbentuk yang terpenuhi. Dan hal seperti ini keberatan untuk dikatakan
sebagai pendapatan.

E.

Pada saat penjualan

18

Masalah pengakuan pada saat penjualan, diantaranya:


1.

Kembalian dan potongan tunai


Dalam hal ini, FASB menetapkan bahwa kalau suatu perusahaan menjual

produknya dengan hak mengembalikan maka pendapatan dapat diakui pada saat
penjualan jika semua syarat-syarat berikut terpenuhi:
a)

Harga jual cukup pasti atau dapat ditentukan pada tanggal penjualan.

b)

Pembeli sudah membayar kepada penjual.

c)

Kewajiban membayar oleh pembeli tidak berubah dalam hal terjadi pencurian
atau kerusakan fisis produk.

d)

Pembeli benar-benar ada secara substantif artinya pembeli merupakan suatu


badan yang secara ekonomik dapat disebut perusahaan.

e)

Penjual tidak mempunyai kewajiban yang material untuk melakukan tindakan


di masa datang yang secara langsung menjadikan pembeli mampu menjual
produk bersangkutan.

f)

Jumlah rupiah kembalian dapat ditaksir secara layak.


Adanya potongan tunai tidak menghalangi pengakuan pendapatan pada saat

penjualan. Masalah yang timbul tidak berkaitan dengan pengakuan pendapatan tetapi
berapa jumlah rupiah pendapatan harus dicatat.
2.

Kos purna-jual
Masalah yang paling pelik dan sulit adalah masalah yang bersangkutan dengan

penyesuaian yang diperlukan untuk mengakui pengaruh kegiatan yang mungkin akan
terjadi setelah penjualan dan harus dibebankan terhadap penjualan tersebut. Prosedur
yang umum dilakukan untuk mengantisipasi kos semacam itu adalah mendebit

19

jumlah rupiah yang sama ke dalam satu akun cadangan melalui penyesuaian akhir
tahun.
3.

Kerugian piutang
Masalah kerugian piutang dapat diatasi dengan perlakuan yang sama seperti kos-

purna jual yaitu dengan membentuk cadangan kerugian piutang.


Konsep Pendapatan menurut IAS 18 dan PSAK23
No. Keterangan
1 Pengertian

IAS 18
PSAK 23
Pendapatan (revenue) itu sendiriPenghasilan (income)
didefinisikan sebagai pendapatanmeliputi pendapatan (revenue)
yang timbul dari aktivitas normalmaupun keuntungan (gain).
suatu entitasbaik perseorangPendapatan adalah
atau

badan

melakukan

usaha

aktivitas

yangpenghasilan yang timbul


usahaselama dalam aktivitas normal

dalam berbagai varian, mungkinentitas dan dikenal dengan


disebut:

bermacam-macam sebutan

Penjualan;

yang berbeda seperti

Fee;

penjualan, penghasilan jasa

Bunga;

(fees), bunga, dividen dan

Dividend;

royalti.

Royalti.
2

Ruang lingkup

(a) penjualan barang;

(a) penjualan barang;

(b) penjualan jasa; dan

(b) penjualan jasa; dan

(c) penggunaan aset entitas oleh (c) penggunaan aset entitas

pihak lain yang menghasilkan

oleh pihak lain yang

bunga, royalti, dan dividen.

menghasilkan bunga, royalti,

Pengukuran

dan dividen.
Pendapatan diukur atas dasarPendapatan diukur

pendapatan

jumlah nilai wajar yang diterima nilai


atau

ditagihkan

memperhitungkan

wajar

imbalan

dengan
yang

denganditerima atau dapat diterima.


jumlah

20

potongan

perdagangan

volume
4

dan

rabat

yang

diperbolehkan suatu entitas.


Pengidentifikasian Dalam kondisi yang umum,Pendapatan
transaksi

kriteria

standar

diterapkan

pengakuannilai

terhadap

wajar

diukur

dengan

imbalan

yang

setiapditerima atau dapat diterima.

transaksi. Akan tetapi, dalam


transaksi yang lebih kompleks,
kriteria perlu diterapkan kepada
5

Pendapatan atas

komponen suatu transaksi.


Pendapatan
(revenue)

penjualan barang

penjualan barang harus diakuibarang diakui jika seluruh

dariPendapatan dari penjualan

hanya bilamana seluruh kondisikondisi berikut dipenuhi:


ini terpenuhi :
a.

Risiko dan imbalan yang

a.

Entitas telah

signifikan dari kepemilikan

memindahkan risiko dan

atas barang tersebut yang

manfaat kepemilikan

telah ditransfer oleh entitas

barang secara signifikan

kepada pembeli.

kepada pembeli;

b. Entitas tidak memiliki

b.

Entitas tidak lagi

kendali yang efektif atas

melanjutkan pengelolaan

barang sudah dijual atau

yang biasanya terkait

tidak memiliki keterlibatan

dengan kepemilikan atas

menajerial yang

barang ataupun

berkelanjutan hingga suatu

melakukan pengendalian

tingkatan yang biasanya

efektif atas barang yang

21

berhubungan dengan

dijual;

kepemilikan.

c.

jumlah pendapatan
tersebut dapat diukur

c.

Jumlah pendapatan dapat

dengan andal;

diukur dengan andal

d.

kemungkinan besar
manfaat ekonomi yang

d. kemungkinan besar imbalan


secara ekonomi yang terkait

tersebut akan mengalir

dengan transaksi yang akan

kepada entitas tersebut;

mengalir kepada entitas

dan

tersebut; dan
e.

terkait dengan transaksi

e.

biaya yang terjadi atau

biaya yang terjadi atau akan

akan terjadi sehubungan

terjadi dalam kaitan dengan

transaksi penjualan

transaksi dapat diukur

tersebut dapat diukur

dengan andal.

dengan andal.

Pendapatan dari

Pendapatan

(revenue)

dariPenjualan

jasa,

jika

hasil

penyerahan jasa

penyerahan jasa harus diakuitransaksi yang terkait dengan


melalui rujukan kepada tahappenjualan

jasa

dapat

penyelesaian dari transaksi padadiestimasi

dengan

andal,

akhir

periode

pelaporanpendapatan

bilamana:

dengan

sehubungan

transaksi

tersebut

harus diakui dengan acuan


a.

Jumlah
(revenue)

pendapatanpada tingkat penyelesaian dari


dapat

diukurtransaksi pada tanggal neraca.

dengan andal.
b. Kemungkinan
imbalan

ekonomis

Hasil

transaksi

dapat

bahwadiestimasi dengan andal jika


yangseluruh kondisi berikut ini

terkait dengan trasaksi akandipenuhi:


mengalir ke dalam entitas.
c.

Tahapan penyelesaian dari

a. jumlah pendapatan dapat


diukur dengan andal;

transaksi pada akhir periode b. kemungkinan

besar

22

pelaporan

dapat

diukur

manfaat

dengan andal.
d. Biaya

yang

sehubungan
terjadi

atas

transaksi

transaksi dan biaya untuk


menyelesaikan

ekonomi
dengan

tersebut

dapat

diperoleh entitas;

transaksi c. tingkat penyelesaian dari

dapat diukur dengan andal.

suatu
tanggal

transaksi

pada

neraca

dapat

diukur dengan andal; dan


d. biaya yang timbul untuk
transaksi

dan

menyelesaikan
tersebut
7

Bunga, royalti, dan Pendapatan


dividen

(revenue)

biaya
transaksi

dapat

diukur

dengan andal.
yangPendapatan yang timbul dari

timbul dari penggunaan asetpenggunaan aset entitas oleh


entitas oleh pihak ketiga danpihak lain yang menghasilkan
menghasilkan bunga, royalti danbunga, royalti, dan dividen
deviden baru diakui bilamana : diakui atas dasar yang
dijelaskan dalam paragraf 30,
jika:
a) Dimungkinkan bahwa
imbalan ekonomis yang

a)

kemungkinan besar

terkait dengan transaksi akan

manfaat ekonomi

mengalir kepada entitas.

sehubungan dengan

b) Jumlah pendapatan dapat

transaksi tersebut akan

diukur dengan andal

diperoleh entitas; dan


b) jumlah pendapatan dapat

c) Pendapatan (revenue) harus


diakui atas dasar sebagai

diukur dengan andal.


c)

Pendapatan diakui

berikut:

dengan dasar sebagai

Bunga harus diakui dengan

berikut:

bunga diakui

23

menggunakan metode bunga

menggunakan metode

efektif (IAS 39)

suku bunga efektif seperti

Royalti harus diakui atas

yang dijelaskan di PSAK

dasar

55 (revisi 2006):

akrual sesuai

dengan syarat perjanjian

Instrumen keuangan:

yang relevan

pengakuan dan

Dividen harus diakui

pengukuran.

bilamana pemegang saham

royalti diakui atas dasar

berhak menerima

akrual sesuai dengan

pembayaran.

substansi perjanjian yang


relevan; dan

dividen diakui jika hak


pemegang saham untuk
menerima pembayaran
ditetapkan.

Pengungkapan

Pengungkapan berikut harus

Entitas mengungkapkan:

dilakukan :

a.

a.

kebijakan akuntansi yang

Kebijakan akuntansi yang

digunakan untuk

diadopsi untuk pengakuan

pengakuan pendapatan,

pendapatan (revenue)

termasuk metode yang

termasuk metode yang

digunakan untuk

diadopsi untuk menentukan

menentukan tingkat

tahapan penyelesaian dan

penyelesaian transaksi

transaksi yang terkait

yang melibatkan

dengan penyerahan jasa.

pemberian jasa;

b. Jumlah dari setiap kategori

dari pendapatan yang

b.

jumlah setiap kategori

24

signifikan yang diakui

signifikan dari

selama periode berjalan ,

pendapatan yang diakui

termasuk

selama periode tersebut,

pendapatan(revenue) yang

termasuk pendapatan

berasal dari:

yang berasal dari:

(i) penjualan barang;

(i) penjualan barang;

(ii) penjualan jasa;

(ii) penjualan jasa;

(iii) bunga;

(iii) bunga;

(iv) royalti;

(iv) royalti;

(v) dividen; dan

(v) dividen; dan

c.

c.

jumlah pendapatan yang

jumlah pendapatan yang

berasal dari pertukaran

berasal dari pertukaran

barang atau jasa termasuk di

barang atau jasa yang

dalam setiap kategori

tercakup dalam setiap

pendapatan yang signifikan

kategori signifikan dari


pendapatan.

2.4 Definisi Beban dan Rugi (Expense and Losses Defined)


2.5 Pengukuran dan Pengakuan Beban
(Expense Recognition and Measurement)
Oleh: Sri Weni Hayati (023 144 152)

2.4

Definisi Beban dan Rugi (Expense and Losses Defined)


IAI (IASC) mendefinisi biaya dalam Standar Akuntansi Keuangan (2002)

sebagai berikut :
Beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama satu perioda akuntansi
dalam bentuk arus keluar atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan

25

penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam


modal.
Biaya mempunyai dua karakteristik utama yaitu:
1.

Aliran keluar atau penurunan asset.

2.

Akibat kegiatan yang membentuk operasi utama yang menerus

Penurunan Aset
Untuk dapat mengatakan bahwa biaya timbul, harus terjadi transaksi atau
kejadian yang menurunkan asset atau menimbulkan aliran keluar aset atau sumber
ekonomik. Pemakaian bahan baku untuk pembuatan produk tidak dapat disebut
sebagai biaya kalau produk tersebut belum terjual (keluar dari kesatuan usaha)
karena kalau produk belum terjual sebenarnya belum terjadi penurunan asset. Yang
terjadi hanyalah perubahan bentuk asset sebagai potensi jasa.

Operasi Utama yang Menerus


Tidak semua penurunan atau konsumsi asset membentuk biaya. Agar menjadi
biaya konsumsi tersebut harus berkaitan dengan kegiatan utama atau sentral kesatuan
usaha. Perusahaan dianggap ingin mendapatkan dan mengukur laba dengan tepat,
harus ada kaitan yang logis antara biaya dan pendapatan
Kenaikan Kewajiban
Semua badan autoritatif mendefinisi biaya tidak hanya dari sudut penurunan
asset tetapi juga dari kenaikan kewajiban. Alasannya adalah agar makna biaya cukup
luas untuk mencukupi pula pos-pos yang timbul dalam penyesuaian akhir tahun.
Sebagai contoh adalah tarif pengiriman barang oleh perusahaan ekspedisi yang

26

belum dibayar perusahaan. Jasa pengiriman telah dikonsumsi dan menimbulkan


pendapatan sehingga biaya harus timbul diikuti dengan kenaikan kewajiban.
Penurunan Ekuitas
Penurunan ekuitas lebih menegaskan pengertian biaya karena tidak setiap
penurunan asset mengakibatkan penurunan ekuitas. Misalnya pembagian deviden kas
merupakan penurunan asset tetapi tidak dapat disebut sebagai biaya. Jadi, penurunan
ekuitas hanya merupakan karakteristik pendukung makna biaya. Hal ini serupa
dengan keteridentifikasian terbayar sebagai karakteristik pendukung pengertian
kewajiban.
Aliran Fisis atau Moneter ?
Biaya timbul dari penyerahan/produksi barang atau dari pelaksanaan jasa
memberi isyarat bahwa FASB memaknai biaya sebagai kejadian fisis. Bila asset
diganti dengan barang dan jasa (seperti yang disarankan Kam), aliran tersebut jelas
menunjukkan aliran fisis. Biaya seharusnya didefinisi sebagai perubahan atau
penurunan nilai sehingga timbulnya biaya harus merupakan kejadian moneter.
Rugi
Kata-kata kunci yang melekat pada pengertian rugi adalah:
1.

Penurunan ekuitas (asset bersih);

2.

Transaksi peripheral atau incidental;

3.

Selain apa yang didefinisi sebagai biaya atau selain distribusi ke pemilik.

Empat sumber rugi yang di identifikasi FASB adalah (SFAC No.6, prg. 85):
1.

Peripheral dan incidental

2.

Transfer nontimbal-balik

3.

Penahanan asset

27

4.

Faktor lingkungan

2.5 Pengukuran dan Pengakuan Beban (Expense Recognition and Measurement)


Pengakuan Beban/Biaya
Pengakuan menyangkut masalah kriteria pengakuan yaitu apa yang harus
dipenuhi agar penurunan nilai asset yang memenuhi definisi biaya atau rugi dapat
diakui dan masalah saat pengakuan yaitu peristiwa atau kejadian apa yang menandai
bahwa criteria pengakuan telah dipenuhi. Biaya dan rugi tidak mengalami masalah
pembentukan dan realisasi. Oleh karena itu, criteria pengakuan tidak dibedakan
dengan kaidah pengakuan sehingga masalah pengakuan biaya (rugi) adalah kapan
penurunan nilai asset dapat dikatakan telah terjadi atau kapan biaya (rugi) tealh
timbul sehingga jumlah rupiah biaya (rugi) dapat diakui.

Kriteria Pengakuan
Biaya atau rugi pada umumnya diakui bilamana salah satu dari dua criteria berikut
terpenuhi (SFAC No. 5,prg. 85) :
a.

Konsumsi manfaat
Biaya atau rugi diakui bilamana manfaat ekonomik yang dikuasai suatu entitas
telah dimanfaatkan atau dikonsumsi dalam pengiriman atau pembuatan barang,
penyerahan atau pelaksanaan jasa, atau kegiatan lain yang merepresentasi
operasi utama atu sentral entitas tersebut.

b.

Lenyapnya atau berkurangnya manfaat masa datang

28

Biaya atau rugi diakui bilamana asset yang telah diakui sebelumnya
diperkirakan telah berkurang manfaat ekonomiknya atau tidak lagi mempunyai
manfaat ekonomik.
FASB memberikan pedoman umum saat pengakuan seperti dibawah ini:
1.

Hubungan Kos dan Biaya


Biaya selalu dapat disebut kos karena kos melekat di dalamnya (konsep dasar

kos melekat). Akan tetapi, kos tidak selalu dapat disebut biaya karena kos dapat juga
merepresentasi asset. Dengan kos sebagai pengukur, criteria konsumsi manfaat dan
kenyelapan manfaat dapat dinyatakan dalam bentuk keterhabisan kos.
2.

Proses dan Konsep Penandingan


Dua tahap kritis perlakuan kos adalah pengakuan (aliran masuk sebagai asset)

dan pembebanan (aliran keluar sebagai biaya). Proses penandingan adalah proses
penentuan laba dengan dengan cara mengukur atau menakar dahulu pendapatan
untuk suatu perioda dan barulah kemudian menentukan biaya yang berkaitan dengan
pendapatan tersebut. Konsep atau prinsip penandingan adalah dasar pemikiran untuk
menghubungkan pendapatan dan biaya sehingga laba yang dihasilkan bermakna.
Prinsip penandingan menjadi suatu kebutuhan dalam akuntansi karena alasan
berikut:
a. Pengakuan pendapatan tidak langsung dikaitkan dengan pengakuan biaya
karena teknik pembukuan tidak memungkinkan hal tersebut.
b. Transaksi terjadinya pendapatan pada umumnya tidak berkaitan langsung
dengan transaksi terjadinya biaya.
Atas dasar konsep upaya dan capaian, konsep penandingan menyatakan bahwa
untuk mendapatkan laba periodic yang yang bermakna maka pendapatan yang diakui

29

untuk suatu perioda harus ditandingkan (diasosiasi) dengan biaya yang dianggap
telah menciptakan pendapatan tersebut.
3.

Menandingkan Bukan Mengkompensasi


Aliran pendapatan dan kos berbeda dan keduanya mencerminkan dua factor

yang berbeda (upaya dan hasil) sehingga tipa faktor harus ditunjukkan secara utuh
sesuai dengan fungsinya. Pos yang satu tidak selayaknya dikompensasi dengan pos
yang lain.
Basis Asosiasi
Dalam rangka menghubungkan biaya dan biaya, perlu dipertimbangkan basis
asosiasi yang menggambarkan penandingan yang secara ekonomik layak. Berbagai
basis asosiasi diantaranya sebagai berikut.
Asosiasi Sebab dan Akibat
Konsep upaya dan capaian menyatakan bahwa biaya merupakan upaya dalam rangka
mendapatkan capaian berupa pendapatan. Ini berati ada hubungan sebab-akibat
antara biaya dan pendapatan. Oleh Karena itu, basis penandinagn yang paling masuk
akal adalah sebab-akibat walaupun basis ini lebih merupakan asumsi daripada
kenyataan karena dalam banyak hal sulit untuk dibuktikan secara menyakinkan
bahwa biaya menyebabkan pendapatan
Paton dan Littleton (1970) menyatakan dasar ini adalah yang paling ideal
karena paling merepresentasi konsep upaya dan hasil. Namun penandingan langsung
menghadapi beberapa masalah teknis diantaranya :
1.

Identifikasi Kos Produk


Karena produk terjual merupakan takaran penandingan, kos produk akan

dipecah menjadi dua komponen yaitu kos produk yang telah terjual dan kos produk

30

yang belum terjualdan masih menjadi asset perusahaan. Kos yang melekat pada
produk terjual akan langsung dibebenkan sebagai biaya. Kos sediaan baru
dibebankan sebagai biaya kalau produk telah terjual.
2.

Produk Usang atau Musiman


Masalah lain yang berkaitan dengan penandingan atas dasar sebab akibat

adalah adanya produk musiman yang tidak laku dijual. Persoalannya adalah apakah
kos produk musiman yang tidak terjual merupakan sebab (sebagai biaya) atau bukan
(sebagai rugi) . Sediaan akhir yang tidak terjual sebenarnya merupakan upaya (biaya)
atau sebab untuk mendatangkan penjualan yang dicapai musim tertentu. Jadi tidak
selayaknyalah kos sediaan yang tidak terjual diperlakukan sebagai rugi.
3.

Barang Rusak
Kelayakan ekonomik menuntut pertimbangan dengan memperhatikan kondisi

yang melingkupi suatu masalah. Bila kerusakan produk merupakan hal yang normal
atau bahkan merupakan prasyarat untuk menghasilkan barang dengan kualitas baik,
kos barang yang rusak dapat dianggap sebagai upaya menghasilkan pendapatan.
Sebaliknya, kalau kerusakan atau cacatnya produk merupakan hal yang tidak biasa
terjadi (karena kelalaian atau musibah) maka jumlah rupiah tersebut dapat
diperlakukan sebagai rugi.
4.

Identifikasi Kos Nonproduk


Dalam kaitannya dengan penandingan sebab-akibat ,kos nonproduksi tidak

harus ditunda pembebanannya untuk dikeitkan dengan pendapatan masa datang kalau
tidak ada kepastian tentang pendapatan masa datang yang dapat dikaitkan dengan kos
nonproduksi. Ini berarti asosiasi produk diganti dengan asosiasi perioda.
5.

Biaya Antisipasian

31

Biaya antisipasian (anticipated expenses) adalah biaya yang dianggap


menyebabkan timbulnya pendapatan tetapi baru terjadi seteleh pendapatan diakui.
Sebagai contoh adalah kos yang berkaitan dengan kegiatan purna-jual seperti
jaminan penjualan, jaminan reparasi gratis, dan pengumpulan piutang. Bila
penandingan sebab-akibat dipertahankan , kos semacam itu harus diantisipasi dan
diakui pada periode terjadinya penjualan meskipun kos belum terjadi.
6.

Alokasi Sistematik dan Rasional


Alokasi sistematik dan rasional merupakan proses penandingan dengan perioda

sebagai penakar pendapatan dan biaya. Proses ini sering disebut penandingan
perioda. Dalam pengakuan biaya, diasumsi bahwa yang menerima manfaat dari
potensi jasa adalah perioda bukan produk. Keberatan terhadap penandingan ini
adalah bahwa proses alokasi menimbulkan banyak metoda alokasi. Sebenarnya ,
adanya berbagai metoda alokasi menunjukkan bahwa akuntansi berusaha untuk
menyelaraskan pola penyerapan kos yang kira-kira mendekati pola pemanfaatan
potensi jasa sehingga konsep penandingan yang tepat dapat dicapai. Depresiasi asset
tetap merupakan contoh masalah ini. Alasan lain yang mendukung dasar
penandingan ini adalah:
1.

Banyak jenis biaya perioda yang berkaitan secara tidak langsung dengan
pendapatan perioda berjalan sehingga tidaklah terlalu menyimpang dari
asosiasi sebab-akibat meskipun kos potensi jasa diakui dan dilaporkan sebagai
biaya pada saat potensi jasa tersebut dikonsumsi.

2.

Dalam banyak hal, memang sulit untuk mencari kaitan langsung antara biayabiaya tertentu dengan pendapatan. Meskipun demikian, kalau biaya-biaya

32

tersebut memang diperlukan untuk operasi perusahaan secara keseluruhan


maka meretia harus dibebankan pada periode berjalan.
3.

Bila biaya tidak dapat diasosiasi dengan cukup pasti dengan pendapatan masa
datang atau manfaat ekonomik tidak dapat dikaitkan dengan perioda-perioda
masa datang.

4.

Kalau kegiatan atau kejadian sifatnya normal dan berulang serta jumlahnya
relatif konstan, pembebanan langsung tidak mempengaruhi laba secara material
meskipun hal tersebut tidak menggambarkan penandingan yang sempurna atau
bahkan salah tanding.

5.

Alokasi sistemik dan rasional memmeng merupakan kebutuhan.

Kriteria Penangguhan
Kos non operasi yang berulang terjadinya cukup beralasan untuk langsung
dibebankan daripada ditunda atau disediakan untuk mencapai tepat-tanding.

Alokasi Kos Bergabung atau Bersama


Alokasi kos bergabung atau bersama bersifat internal dalam suatu perioda
sehingga hasilnya tidak mempengaruhi kos operasi total untuk perioda tersebut
meskipun dasar alokasi agak arbitrer. Alokasi semacam ini hendaknya tidak
diterapkan untuk alokasi kos faktor jasa antarperioda. Hendriksen menyatakan bahwa
alokasi secara arbitrer antarperioda akan lebih menyesatkan hasilnya daripada tidak
dilakukan alokasi karena alokasi memberi kesan adanya ketepatan yang dalam
kondisi tertentu mungkin tidak dapat dipenuhi.
Alokasi Bukan Sarana Pemerataan Laba

33

Fungsi akuntansi adalah untuk mengungkapkan kondisi perusahaan dengan


jelas bukan malahan menutupinya dengan pemerataan laba. Kemajuan dan reputasi
suatu perusahaan harus ditunjukkan dengan kinerja yang sebenarnya bukan sematamata dengan permainan angka. Untuk mengatasi fluktuasi laba tahunan, cara terbaik
adalah menerbitkan serangkaian statemen laba-rugi tahunan seperti apa adanya
bukan serangakaian statemen laba yang diratakan.
Pendekatan Nonalokasi
Pendapat yang cukup kontroversal dan eksterm dikemukakan oleh Thomas
(1987) tentang alokasi dalam akuntansi. Thomas menyatakan bahwa alokasi hanya
dapat dipertahankan bila tiga karakteristik berikut dipenuhi:
1.

Ketertambahan

2.

Ketakraguan

3.

Keterpertahankan

2.6 The Value of Corporate Earning


Oleh: Ritagustina BR. Ginting (023 144 163)

A.

Nilai Laba Perusahaan


Laba merupakan salah satu parameter kinerja perusahaan yang mendapatkan

perhatian utama dari investor dan kreditur karena mereka menggunakan laba untuk
mengevaluasi kinerja manajemen, mengukur kinerja operasional perusahaan,
memperkirakan earnings power dan untuk memprediksi laba dimasa yang akan
datang. Dengan demikian informasi earnings atau laba memainkan peranan yang

34

signifikan dalam proses pengambilan keputusan ekonomi oleh pengguna laporan


keuangan. Manajer memiliki kepentingan yang sangat kuat dalam pemilihan
kebijakan akuntansi untuk mengelola earnings agar terlihat bagus secara finansial.
Menurut Siallagan dan Machfoeds, 2006 Informasi tentang laba digunakan
untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan bisnis dalam mencapai tujuan operasi
yang telah ditetapkan.
Beberapa penelitian mendukung bahwa manipulasi terhaap earning juga sering
dilakukan oleh manajemen. Penyusunan earnings dilakukan oleh manajemen yang
lebih mengetahui kondisi di dalam perusahaan, kondisi tersebut diprediksi oleh
Dechow (1995) dapat menimbulkan masalah karena manajemen sebagai pihak yang
memberikan informasi tentang kinerja perusahaan dievaluasi dan dihargai
berdasarkan laporan yang dibuatnya sendiri. Laba yang kurang berkualitas bisa
terjadi karena dalam menjalankan bisnis perusahaan, manajemen bukan merupakan
pemilik perusahaan. Pemisahan kepemilikan ini akan dapat menimbulkan konflik
dalam pengendalian dan pelaksanaan pengelolaan perusahaan yang menyebabkan
para manajer bertindak tidak sesuai dengan keinginan para pemilik di mana
manajemen berusaha untuk menunjukan suatu hasil kinerja yang bagus dengan
melakukan income smoothing yang bertujuan untuk mencapai kepentingan pribadi
mereka. Konflik yang terjadi akibat pemisahan kepemilikan ini disebut dengan
konflik keagenan yaitu konflik yang biasanya terjadi antara pihak manajer (agent)
dan pemilik modal (principal) dikarenakan adanya kepentingan yang berbeda antara
pihak manajer (agent) dan pemilik (principal).

35

Beberapa mekanisme yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah


keagenan tersebut adalah dengan meningkatkan kepemilikan manajerial (Jansen dan
Meckling, 1976).
Sedangkan menurut Bernhart dan Rosenstein 1998 menyatakan beberapa
mekanisme corporate governance yang dapat mengatasai masalah keagenan tersebut
seperti:
1.

Mekanisme internal, seperti struktur dan dewan komisaris,

2.

Mekanisme eksternal seperti pasar untuk kontrol perusahaan


Dengan meningkatkan kepemilikan saham oleh manajer, diharapkan manajer

akan bertindak sesuai dengan keinginan para principal karena manajer akan
termotivasi untuk meningkatkan kinerja. Kemampuan dewan komisaris untuk
mengawasi merupakan fungsi yang positif dari porsi dan independensi dari dewan
komisaris eksternal. Dewan komisaris juga bertanggung jawab atas kualitas laporan
yang disajikan.
Komite audit yang bertanggung jawab untuk mengawasi laporan keuangan,
mengawasi audit eksternal, dan mengamati sistem pengendalian internal juga
diharapkan dapat mengurangi sifat opportunistic manajemen yang melakukan
manajemen laba (earnings management).
Beberapa ahli mengemukan teori tentang peran para pengendali dalam
keberadaan laba, seperti :
1.

Warfield et al. (1995) menemukan bukti bahwa kepemilikan manajerial


berhubungan secara negatif dengan manajemen laba sebagai proksi kualitas
laba.

36

2.

Chtourou et al. (2001) menemukan bahwa earnings management secara


signifikan berhubungan dengan beberapa praktik governance oleh dewan
komisaris dan komite audit.

3.

Klein (2002) memberikan bukti secara empiris bahwa perusahaan yang


membentuk komite audit independen melaporkan laba dengan kandungan
akrual diskresioner yang lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan yang
tidak membentuk komite audit independen.

4.

Chan et al (2001) menemukan bukti adanya hubungan yang negatif antara


akrual dengan harga saham yang akan datang.

5.

Morck, Shleifer&Vishny (1988) menemukan bukti bahwa Tobins Q (nilai


perusahaan) meningkat dan kemudian menurun searah dengan peningkatan
kepemilikan manajerial.
Salah satu cara yang dilakukan manajemen dalam proses penyusunan laporan

keuangan yang dapat mempengaruhi tingkat laba yang ditampilkan adalah earnings
management yang diharapkan dapat meningkatkan nilai perusahaan pada saat
tertentu. Tujuan earnings management adalah meningkatkan kesejahteraan pihak
tertentu walaupun dalam jangka panjang tidak terdapat perbedaan laba kumulatif
perusahaan dengan laba yang dapat diidentifikasikan sebagai suatu keuntungan
(Fischer dan Rosenzweirg, 1995).
Menurut Scott (2000) pengelolaan laba dapat dilakukan dengan
1.

Secara efisien serta memberikan informasi laba yang efektif

2.

Mengelola laba yang dilakukan secara oportunitis


Pengelolaan laba yang efisien dan bersifat informatif merupakan harapan bagi

pemilik modal. Sedangkan bagi para manajer, pengelolaan laba yang opportunis

37

terkadang yang mereka butuhkan sebab dengan melaporkan

laba yang bersifat

opportunis mereka dapat memperoleh apa yang mereka inginkan seperti


mendapatkan bonus atau mendapatkan kenaikan gaji.
Faktor-Faktor Pendorong Manajemen Laba
Terdapat tiga hipotesis yang melatarbelakangi terjadinya manajemen laba (Watt
dan Zimmerman, 1986), yaitu:
1.

Bonus Plan Hypothesis


Manajemen akan memilih metode akuntansi yang memaksimalkan utilitasnya
yaitu bonus yang tinggi. Manajer perusahaan yang memberikan bonus besar
berdasarkan earnings lebih banyak menggunakan metode akuntansi yang
meningkatkan laba yang dilaporkan.

2.

Debt Covenant Hypothesis


Manajemen Laba dapat dipandang sebagai dua perspektif, yaitu
a.

Sebagai perilaku opportunistic manajer untuk memaksimalkan utilitasnya


dalam menghadapi kompensasi, kontrak hutang dan political cost,

b.

Sebagai upaya untuk mempengaruhi nilai saham perusahaan.


Perusahaan yang mempunyai leverage yang tinggi akan cenderung
menggunakan metode akuntansi yang dapat menaikan pendapatan,
karena dengan semakin besarnya pendapatan berarti dana yang
digunakan untuk menjamin hutang semakin bertambah. Hal ini dapat
memperbaiki posisi perusahaan saat negosiasi ulang permintaan dana
pinjaman.

3.

Political Cost Hypothesis

38

Semakin besar perusahaan, semakin besar pula kemungkinan perusahaan


tersebut memilih metode akuntansi yang menurunkan laba. Hal tersebut
dikarenakan dengan laba yang tinggi, pemerintah akan segera mengambil
tindakan menaikan pajak pendapatan perusahaan dan lain sebagainya.
Beberapa motivasi terjadinya earnings management:
1.

Bonus Purposes
Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan bertindak
secara opportunistic, para manajer yang bekerja pada perusahaan yang
menerapkan rencana bonus akan berusahan mengatur laba yang dilaporkannya
dengan tujuan dapat memaksimalkan jumlah bonus yang akan diterimanya.

2.

Political Motivations
Earnings management digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkan pada
perusahaan publik. Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan
karena adanya tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah menetapkan
peraturan yang lebih ketat.

3.

Taxation Motivations
Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang paling
nyata. Berbagai metode akuntansi digunakan dengan tujuan penghematan pajak
pendapatan. Hal ini dilakukan dengan perencanaan laba yang memungkinkan
mengurangi jumlah pajak terutang dan mengatur waktu pajak terutang.

4.

Pergantian CEO

39

CEO yang mendekati masa pensiun akan cenderung menaikkan pendapatan


untuk meningkatkan bonus mereka. Dan jika kinerja perusahaan buruk, maka
mereka cenderung untuk menaikan jumlah laba yang dilaporkan. Tujuannya
adalah menghindarkan diri dari pemecatan.
5.

Initital Public Offering (IPO)


Perusahaan yang akan go public belum memiliki nilai pasar, dan menyebabkan
manajer perusahaan yang akan go public melakukan manajemen laba dalam
prospectus mereka dengan harapan dapat menaikkan harga saham perusahaan.

6.

Pentingnya Memberi Informasi Kepada Investor


Informasi mengenai kinerja perusahaan harus disampaikan kepada investor
sehingga pelaporan laba perlu disajikan agar investor tetap menilai bahwa
perusahaan tersebut dalam kinerja yang baik.

Pola Earnings Management


Pola earnings management menurut Scott (2000) dapat dilakukan dengan cara:
1.

Taking a Bath
Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru
dengan melaporkan kerugian dalam jumlah besar. Tindakan ini diharapkan
dapat meningkatkan laba di masa datang.

2.

Income Minimization
Dilakukan pada saat perusahaan mengalami tingkat profitabilitas yang tinggi
sehingga jika laba pada periode mendatang diperkirakan turun drastis dapat
diatasi dengan mengambil laba periode sebelumnya.

3.

Income Maximization

40

Dilakukan pada saat laba menurun. Tindakan atas income maximization


bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang
lebih besar. Pola ini dilakukan oleh perusahaan yang melakukan pelanggaran
perjanjian hutang
4.

Income Smoothing
Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan sehingga
dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada umumnya
investor lebih menyukai laba yang relatif stabil.

Teknik Earnings Management


Teknik dan pola manajemen laba menurut Setiawati dan Naim (2000) dapat
dilakukan dengan tiga teknik yaitu:
1.

Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi


Cara manajemen mempengaruhi laba melalui judgment (perkiraan) terhadap
estimasi akuntansi antara lain estimasi tingkat piutang tak tertagih, estimasi
kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud,
estimasi biaya garansi, dan lain-lain.

2.

Mengubah metode akuntansi


Perubahan metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi,
contoh: merubah metode depresiasi aktiva tetap, dari metode depresiasi angka
tahun ke metode depresiasi garis lurus.

3.

Menggeser periode biaya atau pendapatan.

41

Contoh rekayasa periode biaya atau pendapatan antara lain: mempercepat atau
menunda pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan sampai pada
periode akuntansi berikutnya, mempercepat atau menunda pengeluaran
promosi sampai periode berikutnya, mempercepat atau menunda pengiriman
produk ke pelanggan, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tak
dipakai.
Corporate governance merupakan konsep yang diajukan demi peningkatan
kinerja perusahaan melalui supervisi atau monitoring kinerja manajemen dan
menjamin akuntabilitas manajemen terhadap stakeholders dengan mendasarkan pada
kerangka peraturan. Salah satu interpretasi corporate governance adalah sebagai
suatu sistem yang dapat digambarkan sebagai penyedia rules and regulations bagi
suatu organisasi untuk menata aktivitas-aktivitas dalam rangka mencapai tujuan
organisasi baik tujuan jangka panjang, menengah maupun tujuan jangka pendek
(Syakhroza, 2003). Dengan adanya corporate governance dalam pengelolaan
perusahaan diharapkan akan terbentuk suatu transparansi bagi pemakai pengguna
laporan keuangan sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
Adapun tujuan Pelaporan Laba menurut Suwardjono yaitu sebagai:

Pengukur efisiensi

Pengukur kinerja entitas dan manajemen

Dasar penentuan pajak

Sarana alokasi sumber ekonomik

Penentuan tarif jasa publik

Optimalisasi kontrak utang-piutang

Basis kompensasi

42

Motivator

Suwardjono menjelaskan bahwa Makna Laba merupakan


1.

Kenaikan kemakmuran/kapital (wealth/capital).

2.

Kenaikan dalam suatu perioda.

3.

Dapat dinikmati, didistribusi, atau ditarik oleh entitas yang menguasai atau
mempunyai klaim terhadap kemakmuran/kapital asalkan kemakmuran mulamula (awal) tetap dijaga keutuhannya.

2.7 Tantangan Untuk Pembuatan & Penetapan Standar Akuntansi


(Challenges for Accounting Standard Setter)
2.8 Permasalahan Untuk Auditor (Issues for Auditors)
Oleh: Adinda Rahmi Juliana (023 144 148)

2.7 Tantangan Untuk Pembuatan & Penetapan Standar Akuntansi (Challenges for
Accounting Standard Setter)
Sebuah sistem pelaporan keuangan yang didukung oleh pemerintahan yang
kuat, standar kualitas tinggi, dan suara kerangka regulasi adalah kunci untuk
pembangunan ekonomi. Memang, standar kualitas tinggi pelaporan keuangan, audit,
dan etika mendukung kepercayaan yang menempatkan investor dalam informasi
keuangan dan non keuangan dan, dengan demikian, memainkan peran integral dalam
memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara dan stabilitas
keuangan.
Masyarakat berpandangan bahwa standar internasional semakin menjadi lebih
lama, lebih kompleks, dan aturan berbasis sulit, dan bahwa struktur dan kompleksitas
dari standar yang mempengaruhi, terutama di cara yang merugikan, baik adopsi dan
implementasinya. Secara khusus, referensi dibuat untuk internasional standar
akuntansi atas instrumen keuangan dan standar audit internasional pada risiko audit,
penipuan, dan kontrol kualitas. Meskipun ada beberapa komplain pada panjangnya
proses dan tingkat detail, kebutuhan untuk implementasi bimbingan pada umumnya
lebih didukung. Regulator internasional, bagaimanapun, tampaknya mendukung ISA
yang lebih lama dan lebih rinci yang dikeluarkan baru-baru ini. Panjang dan detail
dalam ISA menyediakan lingkungan regulasi yang lebih ketat dan aplikasi yang
konsisten dari ISA.

43

44

Pemerintah internasional menekankan pentingnya menerapkan pendekatan


berbasis prinsip dalam penetapan standar internasional. Ia merasa bahwa standar yang
panjang, kompleks, dan aturan berbasis prinsip kuat dan sulit untuk menerapkan
cenderung menghasilkan kepatuhan dan menghindari mentalitas kecurangan.
Penelitian melaporkan bahwa standar internasional setter tampaknya memiliki sedikit
atau tidak ada simpati untuk fakta bahwa beberapa negara perlu memasukkan standar
internasional yang mereka adopsi dalam hukum atau peraturan nasional mereka.
Standar internasional tidak tertulis dalam bentuk hukum atau peraturan dan, oleh
karena itu, harus "disulap" oleh pembuat standar nasional. Atau seperti yang terjadi di
negara yang menggabungkan ISA dalam surat standar auditing nasional, kewajiban
digabungkan dalam hukum nasional atau peraturan serta peraturan tertulis jelas yang
tergabung dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh badan akuntansi profesional
nasional.
Pemerintah pemerhati dan penentu standar memperingatkan pembuat standar
nasional terhadap pendekatan tersebut di atas karena dapat mempengaruhi otoritas
standar nasional. Sebagai contoh, kewajiban yang tergabung dalam undang-undang
atau peraturan nasional mungkin authoritative atau otoriter, sedangkan teks penjelasan
diterbitkan tempat lain mungkin non-authoritative atau tidak otoriter. Oleh karena itu,
penting untuk mempertimbangkan hirarki standar nasional dibandingkan dengan
kewenangan yang melekat pada internasional standar. Pada beberapa negara juga
sering didapati mengalami kesulitan memahami pemesanan teks dalam standar audit
internasional karena logika struktur standar tersebut tidak selalu jelas untuk mereka.
Contoh dikutip adalah praktek di ISA dari menempatkan kewajiban pada auditor,
diikuti oleh definisi terminologi yang termasuk dalam kewajiban, dan kemudian

45

menjelaskan kewajiban. Beberapa merasa bahwa langkah-langkah ini harus


diperlakukan dalam urutan yang berbeda. Menambah kompleksitas SAK yaitu IASB
bergerak menuju model nilai wajar. Banyak dari mereka berpandangan bahwa nilai
wajar merupakan konsep subjektif dan sulit untuk mengukur secara akurat interpretasi yang berbeda dapat menyebabkan kesimpulan yang berbeda. Namun,
investasi profesional, yang percaya bahwa IASB tidak akan cukup jauh dalam model
nilai wajar, adalah dari melihat bahwa masalah bisa diatasi dengan menjelaskan efek
yang adil valuasi memiliki posisi keuangan dan hasil usaha dalam pernyataan
keuangan. Sebagai contoh, volatilitas yang disebabkan oleh penilaian wajar dapat
diungkapkan dalam bagian terpisah dari dana pemegang saham. Pasar (dan regulator)
maka akan tahu bagaimana untuk menangani hal ini.
Kesimpulan dan Tindakan Usulan
Disarankan bahwa standar internasional setter menjadi lebih selaras dengan
tantangan nasional pembuat standar dan preparers, auditor, dan pengguna laporan
keuangan hadapi dalam mengadopsi dan mengimplementasikan standar internasional.
Secara khusus, banyak auditor di banyak negara merekomendasikan bahwa agar
pembuat standar internasional mengembangkan standar yang terus didasarkan prinsipprinsip, teks yang tidak rumit, dan struktur yang cocok untuk dipasang pada hukum
atau peraturan nasional dan implementasinya. IAASB telah mengambil langkah
pertama dalam hal ini. Hal ini telah dilakukan sebuah proyek untuk memperjelas
bahasa dan gaya pernyataannya. Tujuannya adalah untuk mengeluarkan pernyataan
yang dipahami oleh orang-orang yang melakukan keterlibatan yang relevan dan jelas
dan dapat diterapkan secara konsisten.

46

Jelas menjadi sangat menantang waktu untuk auditor, dan pengguna laporan
keuangan - tidak hanya sebagai hasil baru dan direvisi internasional standar, tetapi
juga karena banyaknya persyaratan baru yang berasal dari pihak selain akuntansi dan
audit setter standar. Peserta atau pengguna sistem akuntansi mempertanyakan apakah
efek kumulatif perubahan ini pada preparers, auditor, dan pengguna. Laporan
keuangan sedang dipantau oleh orang-orang yang mengatur persyaratan. Seorang
peserta atau pengguna sistem akuntansi merekomendasikan bahwa pertanyaan berikut
harus ditanyakan setiap mengubah: Apakah nilai tambah melebihi biaya untuk
melaksanakan perubahan? Frekuensi, volume, dan kompleksitas perubahan standar
internasional yang dibuktikan sebagai berikut:
1.

Perbaikan IASB
Proyek, yang memunculkan 13 standar yang telah diubah bersamaan dengan
konsekuensial amandemen kepada banyak pihak lain (dokumen 598-halaman
yang dikeluarkan oleh IASB pada bulan Desember 2003).

2.

Perubahan berulang pada standar yang sama, termasuk perubahan membalikkan


IASB sebelumnya dan perubahan untuk tujuan konvergensi internasional. Ini
termasuk perubahan akuntansi internasional standar pada penyajian laporan
keuangan; kebijakan akuntansi, perubahan estimasi akuntansi dan kesalahan;
pabrik dan peralatan properti; pengaruh perubahan kurs valuta asing; dan
instrumen keuangan.

3.

Perubahan Kompleks membutuhkan cukup teknis keahlian. Ini termasuk


perubahan internasional standar akuntansi pada instrumen keuangan, penurunan
nilai aset, dan manfaat bagi karyawan.

47

4.

Perubahan model risiko audit IAASB itu, yang memunculkan tiga standar audit
internasional baru dan amandemen konsekuensial ke banyak orang lain.

5.

Standar internasional baru pada kontrol kualitas, berurusan dengan kontrol


kualitas di kantor akuntan dan mengaudit tingkat keterlibatan.

6.

Sebuah standar audit internasional direvisi pada tanggung jawab auditor untuk
mempertimbangkan penipuan dalam audit atas laporan keuangan yang
dipublikasikan dalam Februari 2004, sementara revisi sebelumnya standar yang
sama berlaku efektif untuk audit laporan keuangan untuk periode yang berakhir
pada atau setelah 30 Juni 2002.

2.8 Permasalahan Untuk Auditor (Issues for Auditors)


Auditor Internal dianggap independen untuk tujuan pelaporan internal jika
kepala organisasi audit yang memenuhi semua kriteria sebagai berikut:
1.

Bertanggung jawab baik kepada salah satu kepala, wakil kepala, atau pihak
yang bertanggung jawab dengan tata kelola entitas pemerintah.

2.

Hasil laporan audit kepada kedua kepala atau wakil kepala, dan mereka yang
tertuduh.

3.

Apakah di luar staf atau manajemen lini fungsi unit yang diaudit.

4.

Memiliki akses ke pihak yang bertanggung jawab atas pemerintah.

5.

Apakah cukup dihapus dari tekanan politik untuk melakukan dan melaporkan
audit secara objektif tanpa takut akan pembalasan
Auditor Eksternal, merupakan para auditor yang bekerja pada perusahaan

akuntan publik, dimana salah satu jasa yang ditawarkan oleh kantor akuntan publik
adalah jasa pemeriksaan audit pada laporan keuangan perusahaan yang disusun

48

manajemen perusahaan. Pada perusahaaan dengan skala menengah keatas biasanya


menggunakan jasa auditor eksternal untuk menilai kembali laporan keuangan
perusahaannya. Pemeriksaan audit oleh auditor eksternal berguna agar laporan
keuangan tersebut mampu disajikan secara lebih akurat dan terpercaya, karena
laporan keuangan memiliki resiko informasi, yaitu bahwa laporan keuangan mungkin
tidak benar, tidak lengkap, dan juga biasa. Selain itu sebagai syarat untuk masuk ke
pasar modal. Oleh sebab itu dikatakan bahwa pemeriksaan audit laporan keuangan
meningkatkan kredibilitas laporan keuangan dengan menekan resiko informasi.
Kemudian laporan keuangan tersebut mampu membawa keyakinan atas pihak
ekternal yang akan atau sudah menjadi patner atas perusahaan tersebut. Karena
pengguna laporan keuangan tidak hanya pihak internal saja namun juga pihak
eksternal. Dimana pihak ekternal menggunakan laporan keuangan untuk mengambil
keputusan, contohnya seperti pengambilan keputusan investasi bagi para investor.
Para pengguna eksternal laporan keuangan mengaharapkan dengan adanya
pemeriksaan audit oleh auditor eksternal laporan keuangan tersebut akan jauh dari
kesalahan penyajian material sekaligus mampu mencari dan mendeteksi kecurangan,
sehingga laporan keuangan tersebut tidak merugikan bagi pihak eksternal yang
menggunakannya. Perlindungan konstitusional atau hukum yang sering di tempatkan
untuk mengurangi ancaman struktural bagi independensi audit organisasi yang secara
struktural berada di dalam lembaga pemerintah.

Untuk auditor eksternal, ini mungkin mencakup struktur di mana pemerintah


organisasi audit:

49

1.

Pada tingkat pemerintahan yang berbeda dari entitas yang diaudit, seperti
negara auditor mengaudit program pemerintah daerah.

2.

Dalam cabang yang berbeda dari pemerintah dari entitas yang diaudit, seperti
auditor eksekutif audit program legislatif.
Dalam menjalani misi sebagai auditor terdapat beberapa faktor pendukung yang

dihadapi oleh auditor antara lain:


1.

2.

Faktor Intern
a.

Kualitas auditor

b.

Perilaku para auditor

c.

Hasil pemeriksaan

Faktor Ekstern
a.

Dukungan top management

b.

Struktur organisasi audit

c.

Kedudukan audit yang independent dan kompeten

Selain faktor pendukung terdapat pula beberapa tantangan yang dihadapi oleh
auditor, diantaranya :
1.

Pandangan bahwa internal audit mengganggu kegiatan.

2.

Kesulitan membentuk kriteria.

3.

Tanggapan unit yang diperiksa.

4.

Diragukan independensinya untuk auditor internal.

5.

Diragukan kemampuan dan kompetennya bagi auditor eksternal.

6.

Eselonering atau jenjang jabatannya tidak sejajar dengan direktur, melainkan


sedikit dibawah para direktur eksekutif yang kegiatannya harus diperiksa

50

7.

Kedudukannya diuar jabatan sebagai chief of internal audit diangkat dengan


surat keputusan direktur utama, bukan oleh pejabat diluar direksi, misalnya
dewan komisaris atau dewan pengawas atau RUPS. Internal audit walaupun
tidak setingkat direktur sebaiknya merasa sebagai tangan kanan Direktur Utama
sehingga tindakan yang dilakukan untuk dan atas nama Direktur Utama.

DAFTAR PUSTAKA

Bragg, Steven M.2010.Panduan IFRS, Edisi Revisi, Indeks, Jakarta


Chariri, Anis dan Imam Ghozali, 2003.Teori Akuntansi. Semarang: Badan Penerbit
Universitas Diponegoro.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta:
Salemba Empat.
Kartikahadi, Hans dkk. 2012. Akuntansi Keuangan berdasarkan SAK berbasis
IFRS.Jakarta: Salemba Empat.
Kieso, dkk.2008. Akuntansi Intermediate. Diterjemahkan oleh Herman
Wibowo. Jakarta: Salemba Empat.
Suwardjono, 2005.Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan.Edisi 3,
Yogyakarta: BPFE.
Wahyuni, Ersa Tri dan Ng Eng Juan.2012. Pendapatan Menurut Standar
Akuntansi Keuangan No.23 edisi 2. Jakarta: Salemba Empat.
http://blog.umy.ac.id (diakses pada tanggal 05 April 2015)
http://ilmiahekonomi.blogspot.com (diakses pada tanggal 05 April 2015)
http://eprints.undip.ac.id/26967/1/Skripsi..2(r).pdf (diakses pada tanggal 05 April
2015)