Anda di halaman 1dari 36

Sesi ke-7

INCOME STATEMENT (REVENUE AND EXPENSE)

KELOMPOK III:

Binda Nairani Ekanisa (023144149)


Erly Supriyanti (023144150)
Sri Weni Hayati (023144152)
Ritagustina BR Ginting (023144163)
Adinda Rahmi Juliana (023144148)
Jurusan Akuntansi
Kelas Khusus -2015-

Presented By
Binda Nairani Ekanisa (023 144 149)

ECONOMIC CONSEQUENCES OF
FINANCIAL REPORTING
1.

2.

3.

4.

Informasi
keuangan
dapat
mempengaruhi
distribusi
kekayaan diantara investor. Investor yang memperoleh
informasi lebih banyak (mempekerjakan analis sekuritas)
mungkin mampu meningkatkan kekayaan mereka daripada
investor yang kurang informasi.
Informasi keuangan dapat mempengaruhi tingkatan risiko
yang diterima perusahaan. Fokus pada jangka pendek,
memiliki risiko lebih kecil, tetapi mungkin mengandung efekefek jangka panjang yang merugikan (long-term detrimental
effects).
Informasi keuangan dapat mempengaruhi tingkat formasi
modal dalam ekonomi dan menghasilkan realokasi kekayaan
antara konsumsi dan investasi dalam ekonomi.
Informasi keuangan dapat mempengaruhi bagaimana
investasi dialokasikan dalam perusahaan.

REVENUE AND GAIN DEFINED


Pendapatan adalah arus masuk atau perangkat
tambahan lain aset dari suatu entitas atau
penyelesaian
kewajiban
(atau
kombinasi
keduanya) dari pengiriman atau produksi
barang, jasa render, atau kegiatan lainnya yang
merupakan operasi yang sedang berlangsung
oleh entitas besar atau pusat.
Keuntungan adalah kenaikan ekuitas (aktiva
bersih) dari transaksi perifer atau insidental dari
suatu entitas dan dari semua transaksi lain dan
peristiwa lain dan keadaan yang mempengaruhi
entitas kecuali yang dihasilkan dari pendapatan
atau investasi oleh pemilik .

Karakteristik-karakteristik atau kata kata


kunci yang membentuk pengertian
pendapatan dan untung
Aliran masuk atau kenaikan aset,
Kegiatan yang mempresentasi operasi utama
atau sentral yang menerus,
Pelunasan, penurunan, atau pengurangan
kewajiban,
Suatu entitas,
Produk perusahaan,
Pertukaran produk,
Menyandang beberapa nama atau mengambil
beberapa bentuk,
Mengakibatkan kenaikan ekuitas.

Kata kunci yang melekat pada


untung

Kenaikan ekuitas (aset bersih).


Transaksi periferal atau insidental.
Selain yang berupa pendapatan atau
investasi oleh pemilik.

Karakteristik sumber dari untung

Periferal dan insidental


Transfer nontimbal-balik
(nonreciprocal transfer)
Penahanan aset (holding asset)
Faktor lingkungan

Presented By
Erly Supriyanti (023 144 150)

Pengukuran Pendapatan (Revenue


measurement)
Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan.
Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23:

Pengakuan Pendapatan (Revenue


Recognition)
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam Standar
Akuntansi Keuangan (2007 : 15):
Pengakuan (recognition) merupakan proses
pembentukan suatu pos yang memenuhi defenisi unsur
serta kriteria pengakuan dalam neraca dan laba rugi.
Pengakuan dilakukan dengan menyatakan pos tersebut
baik dalam kata-kata maupun dalam jumlah uang dan
mencantumkannya ke dalam neraca atau laba rugi. Pos
yang memenuhi kriteria tersebut harus diakui dalam
neraca atau laporan laba rugi. Kelalaian untuk
mengakui pos semacam itu tidak dapat diralat melalui
pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan
maupun melalui catatan atau materi penjelasan.

A. Pembentukan Pendapatan

Merupakan suatu konsep yang berkaitan dengan masalah


kapan dan bagaimana sesungguhnya pendapatan itu timbul
dan menjadi ada.

Pendekatan ini juga dilandasi oleh konsep homogenesitas kos


yaitu bahwa semua tahap kegiatan atau unsur di dalamnya
mempunyai kedudukan atau arti penting yang sama dalam
menghasilkan pendapatan (Paton dan Littleton 1970 : 67
dalam Suwardjono, 2005 : 364).

B. Realisasi Pendapatan
Menurut konsep ini, pendapatan baru dikatakan
terjadi atau terbentuk pada saat terjadi kesepakatan
atau kontrak dengan pihak independen untuk
membayar produk baik produk telah selesai dan
diserahkan atau belum dibuat sama sekali.
Konsep realisasi atau pendekatan transaksi lebih
menekankan kejadian yang dapat menandai
pengakuan pendapatan yaitu :
1.Kejadian perubahan produk menjadi potensi jasa lain
melalui
proses
penjualan
yang
sah
atau
semacamnya (misalnya kontrak penjualan).
2.Penguatan atau validasi transaksi penjualan tersebut
dengan diperolehnya aset lancar (kas, setara kas
atau piutang).

C. Kriteria Pengakuan Pendapatan

Terrealisasi atau cukup pasti


terrealisasi (realized or
realizable)

Terbentuk atau terhak


(earned)

Dua kriteria
pengakuan
pendapatan
(SFAC No. 5,
prg. 83)

Pelaporan

D. Saat Pengakuan Pendapatan


1. Pada Saat Kontrak Penjualan
Pada umumnya, perlakuan semacam ini berlaku untuk
perusahaan yang memproduksi barang konsumsi dan
jarak antara penandatanganan kontrak dan penyerahan
barang cukup pendek (kurang dari satu tahun).
2. Selama proses produksi secara bertahap
Akresi, yaitu pertambahan nilai akibat pertumbuhan
fisis atau proses alamiah lainnya.
Apresiasi yaitu, selisih nilai pasar wajar aset
perusahaan dengan kos (atau nilai buku aset
terdepresiasi).
Penghematan Kos, sering dikenal dengan potongan
pembelian.
Pada saat produk selesai

E. Pada saat penjualan


Masalah pengakuan pada saat penjualan, diantaranya:
1. Kembalian dan potongan tunai
Dalam hal ini, FASB menetapkan bahwa kalau suatu
perusahaan
menjual
produknya
dengan
hak
mengembalikan maka pendapatan dapat diakui pada
saat penjualan jika semua syarat-syarat berikut
terpenuhi diantaranya:
Harga jual cukup pasti atau dapat ditentukan pada
tanggal penjualan.
Pembeli sudah membayar kepada penjual.
Kewajiban membayar oleh pembeli tidak berubah
dalam hal terjadi pencurian atau kerusakan fisis produk.
Pembeli benar-benar ada secara substantif

2. Kos purna-jual
Masalah yang paling pelik dan sulit adalah
masalah
yang
bersangkutan
dengan
penyesuaian yang diperlukan untuk mengakui
pengaruh kegiatan yang mungkin akan terjadi
setelah penjualan dan harus dibebankan
terhadap penjualan tersebut.
3. Kerugian piutang
Masalah kerugian piutang dapat diatasi dengan
perlakuan yang sama seperti kos-purna jual
yaitu dengan membentuk cadangan kerugian
piutang.

Presented By
Sri Weni Hayati (023 144 152)

Pengertian Biaya

IAI (IASC) mendefinisi biaya dalam Standar


Akuntansi Keuangan (2002) sebagai berikut
:
Beban
adalah
penurunan
manfaat
ekonomi selama satu perioda akuntansi
dalam bentuk arus keluar atau terjadinya
kewajiban yang mengakibatkan penurunan
ekuitas yang tidak menyangkut pembagian
kepada penanam modal.

Aliran Fisis atau Moneter ?

Biaya
timbul
dari
penyerahan/produksi barang atau dari
pelaksanaan jasa memberi isyarat
bahwa FASB memaknai biaya sebagai
kejadian fisis. Bila asset diganti
dengan barang dan jasa (seperti yang
disarankan Kam), aliran tersebut jelas
menunjukkan
aliran
fisis.
Biaya
seharusnya
didefinisi
sebagai
perubahan
atau
penurunan
nilai
sehingga
timbulnya
biaya
harus

Sumber Rugi yang di Identifikasi FASB


adalah (SFAC No.6, prg. 85):

a. Periferal dan insidental: misalnya penjulaan


investasi dalam surat berharga, penjualan
aset tetap, pelunasan utang obligasi
sebelum jatuh tempo.
b. Transfer Non timbal Balik : pencurian dan
pembayaran ganti rugi dari kekalahan
dalam tuntutan perkara hukum.
c. Penahanan Aset : misalnya penurunan
harga sekuritas investasi, penurunan nilai
tukar valuta asing dan penurunan harga
karena penahanan sediaan
d. Faktor Lingkungan : misalnya ganti rugi
asuransi musibah alam yang lebih rendah
dari kos aset yang rusak.

Biaya atau rugi pada umumnya diakui


bilamana salah satu dari dua kriteria berikut
terpenuhi (SFAC No. 5,prg. 85) :
1. Konsumsi manfaat
Biaya atau rugi diakui bilamana manfaat ekonomik
yang dikuasai suatu entitas telah dimanfaatkan
atau
dikonsumsi
dalam
pengiriman
atau
pembuatan barang, penyerahan atau pelaksanaan
jasa, atau kegiatan lain yang merepresentasi
operasi utama atu sentral entitas tersebut.
2.

Lenyapnya atau berkurangnya manfaat masa


datang
Biaya atau rugi diakui bilamana asset yang telah
diakui sebelumnya diperkirakan telah berkurang

Hubungan Kos dan Biaya

Biaya selalu dapat disebut kos karena


kos melekat di dalamnya (konsep dasar
kos melekat). Akan tetapi, kos tidak
selalu dapat disebut biaya karena kos
dapat
juga
merepresentasi
asset.
Dengan kos sebagai pengukur, kriteria
konsumsi manfaat dan kenyelapan
manfaat
dapat
dinyatakan
dalam
bentuk keterhabisan kos

Presented By
Ritagustina BR. Ginting (023 144
163)

Laba Merupakan selisih pendapatan dan


biaya yang diukur dan disajikan atas dasar
prinsip akuntansi berterima umum (PABU).
Fungsi Laba
Salah satu parameter kinerja perusahaan
mengevaluasi kinerja manajemen
mengukur kinerja operasional perusahaan
memperkirakan earnings power
untuk memprediksi laba dimasa yang akan
datang.

Manajemen Laba
Manajemen laba adalah campur tangan manajemen
dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan
tujuan untuk menguntungkan dirinya sendiri
Cara yang dilakukan manajemen dalam proses
penyusunan laporan keuangan yang dapat
mempengaruhi tingkat laba yang ditampilkan
Faktor-Faktor Pendorong Manajemen Laba
Terdapat tiga hipotesis yang melatarbelakangi terjadinya
manajemen laba (Watt dan Zimmerman, 1986), yaitu:
1. Bonus Plan Hypothesis
2. Debt Covenant Hypothesis
3. Political Cost Hypothesis

Beberapa motivasi terjadinya


Manajemen Laba

a. Bonus Purposes
b. Political Motivations
c. Taxation Motivations
d. Pergantian CEO
e. Initital Public Offering (IPO)
f. Pentingnya Memberi Informasi
Kepada Investor

Teknik Manajemen Laba


Memanfaatkan peluang untuk
membuat estimasi akuntansi
Mengubah metode akuntansi
Menggeser periode biaya atau
pendapatan

http://eprints.uns.ac.id/5311/1/102021409200909521.pdf

Pola Manajemen Laba

a. Taking a Bath
b. Income Minimization
c. Income Maximization
d. Income Smoothing

http://eprints.uns.ac.id/5311/1/102021409200909521.pdf

Tujuan Pelaporan Laba


Menurut Suwardjono tujuan pelaporan laba
sebagai:
Pengukur efisiensi
Pengukur kinerja entitas dan manajemen
Dasar penentuan pajak
Sarana alokasi sumber ekonomik
Penentuan tarif jasa publik
Optimalisasi kontrak utang-piutang
Basis kompensasi
Motivator

Makna Laba
Suwardjono menjelaskan bahwa Makna Laba
merupakan
Kenaikan kemakmuran/kapital
(wealth/capital).
Kenaikan dalam suatu periode.
Dapat dinikmati, didistribusi, atau ditarik
oleh entitas yang menguasai atau
mempunyai klaim terhadap
kemakmuran/kapital asalkan kemakmuran
mula-mula (awal) tetap dijaga keutuhannya.

Presented By
Adinda Rahmi Juliana (023 144 163)

I. Tantangan Untuk Pembuatan & Penetapan Standar Akuntansi


(Challenges for Accounting Standard Setter).
Kesimpulan dan Tindakan Usulan
Disarankan bahwa standar internasional setter menjadi lebih selaras dengan
tantangan nasional pembuat standar dan preparers, auditor, dan pengguna
laporan keuangan hadapi dalam mengadopsi dan mengimplementasikan standar
internasional. Secara khusus, banyak auditor di banyak negara
merekomendasikan
bahwa
agar
pembuat
standar
internasional
mengembangkan standar yang terus didasarkan prinsip-prinsip, teks yang tidak
rumit, dan struktur yang cocok untuk dipasang pada hukum atau peraturan
nasional dan implementasinya. IAASB telah mengambil langkah pertama
dalam hal ini. Hal ini telah dilakukan sebuah proyek untuk memperjelas bahasa
dan gaya pernyataannya. Tujuannya adalah untuk mengeluarkan pernyataan
yang dipahami oleh orang-orang yang melakukan keterlibatan yang relevan
dan jelas dan dapat diterapkan secara konsisten.

Mencapai konvergensi dengan IFRSS SAK dan ISAS


Mereka yang bergelut di dunia atau bidang akuntansi telah mengakui dan
melaporkan bahwa hal tersebut sama pentingnya bagi pembuat standar
internasional untuk keseimbangan antara perlunya meningkatkan standar
internasional mengenai prioritas dasar dan kebutuhan untuk mengatasi
masalah praktis memberikan negara dengan waktu yang mereka butuhkan
untuk mengadopsi dan menerapkan standar tersebut. Misalnya,
memungkinkan waktu singkat untuk menerapkan IFRS kompleks yang
membutuhkan perubahan signifikan untuk suatu entitas keuangan sistem
pelaporan atau ISA yang kompleks yang memerlukan signifikan perubahan
untuk mengaudit metodologi dan pelatihan dapat merusak kemajuan
menuju konvergensi internasional.

II. Permasalahan Untuk Auditor (Issues for Auditors)


Masalah Yang Dihadapi Auditor

Dalam menjalani misi internal auditor terdapat beberapa faktor


pendukung yang dihadapi oleh auditor antara lain
1. Faktor Intern
* Kualitas auditor
* Perilaku para auditor
* Hasil pemeriksaan
2. Faktor Ekstern
* Dukungan top management
* Struktur organisasi audit
* Kedudukan audit yang independent dan kompeten

Selain faktor pendukung terdapat pula beberapa tantangan yang


dihadapi oleh auditor, diantaranya :
* Pandangan bahwa internal audit mengganggu kegiatan
* Kesulitan membentuk kriteria
* Tanggapan unit yang diperiksa
* Diragukan independensinya bagi auditor internal
* Diragukan kemampuan dan kompetennya bagi auditor eksternal
* Eselonering atau jenjang jabatannya tidak sejajar dengan direktur,
melainkan sedikit dibawah para direktur eksekutif yang kegiatannya
harus diperiksa
* Kedudukannya diuar jabatan sebagai chief of internal audit
diangkat dengan surat keputusan direktur utama, bukan oleh pejabat
diluar direksi, misalnya dewan komisaris atau dewan pengawas atau
RUPS. Internal audit walaupun tidak setingkat direktur sebaiknya
merasa sebagai tangan kanan Direktur Utama sehingga tindakan
yang dilakukan untuk dan atas nama Direktur Utama.

Daftar Pustaka

Bragg, Steven M.2010.Panduan IFRS, Edisi Revisi, Indeks, Jakarta


Chariri, Anis dan Imam Ghozali, 2003.Teori Akuntansi. Semarang:
Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan.
Jakarta:
Salemba Empat.
Kartikahadi, Hans dkk. 2012. Akuntansi Keuangan berdasarkan
SAK berbasis
IFRS.Jakarta: Salemba Empat.
Kieso, dkk.2008. Akuntansi Intermediate. Diterjemahkan oleh
Herman
Wibowo. Jakarta: Salemba Empat.
Suwardjono, 2005.Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan
Keuangan.Edisi 3, Yogyakarta: BPFE.
Wahyuni, Ersa Tri dan Ng Eng Juan.2012. Pendapatan Menurut
Standar
Akuntansi Keuangan No.23 edisi 2. Jakarta: Salemba
Empat.