Anda di halaman 1dari 8

Promotif, Vol.5 No.

1, Okt 2015 Hal 01-08

Artikel II

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP SUAMI DENGAN PRAKTEK


PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI PUSKESMAS MANAGAISAKI
1)

Abd. Rahman

1)

FKIK Universitas Tadulako


ABSTRAK

Latar Belakang : Menurut World Health Organization (WHO) praktek menyusui dii
negara berkembang telah berhasil menyelamatkan sekitar 1,5 juta bayi pertahun. Atas
dasar tersebut WHO merekomendasikan untuk hanya memberikan ASI eksklusif
sampai bayi berusia 4-6 bulan. Menurut pendapat Steven Allen dalam siaran pers
UNICEF, 2004 disitasi oleh Roesli, (2000) bahwa ASI bukanlah sekedar makanan
tetapi penyelamat kehidupan. Setiap tahunnya lebih dari 25.000 bayi Indonesia dan
1,3 juta bayi di seluruh dunia dapat diselamatkan dengan pemberian ASI eksklusif pada
tahun 1999, setelah pengalaman selama 9 tahun, UNICEF memberikan klarifikasii
tentang rekomendasi jangka waktu pemberian ASI eksklusif. Tujuan penelitian :
Diketahuinya Hubungan Pengetahuan dan Sikap Suami dengan Praktek Pemberian
ASI Eksklusif Pada Bayi 0-6 bulan di Puskesmas Managaisaki. Metode Penelitian :
Jenis penelitian analitik dengan rancangan Cross Sectional Study (Potong Lintang),
Sampel : semua suami yang memiliki anak usia 0 6 bulan di Puskesmas
Managaisaki yaitu berjumlah 46 orang dengan tekhnik pengambilan sampel secara
Consecutive Sampling dengan tekhnik pengambilan sampel secara Consecutive
Sampling. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden
melaksanakan praktek pemberian ASI ekslusif yaitu sebanyak 25 (52.1%), sebagian
besar responden mempunyai pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 30 responden
atau 62.5% dan sebagian besar suami mempunyai sikap yang baik yaitu sebanyak 27
responden atau 58.7%. Hasil uji statistik menunjukkan pengetahuan dan sikap
berhubungan dengan praktek pemberian ASI eksklusif. Kesimpulan: Terdapat
hubungan bermakna antara pengetahuan dan sikap suami dengan praktek pemberian
ASI Eksklusif. Saran : Bagi pihak Puskesmas Managaisaki, perlunya membuat
program penyuluhan yang berkesinambungan kepada orang tua laki-laki atau suamii
untuk lebih mengenalkan tentang pentingnya ASI dan pentingnya dukungan suamii
terhadap istri dalam memberikan ASI khususnya ASI eksklusif sehingga cakupan
pemberian ASI eksklusif meningkat.
Kata kunci
: Pengetahuan, Sikap Suami, Pemberian ASI Eksklusif
Daftar Pustaka : 19 (1998-2008)

PENDAHULUAN
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) merupakan
hal penting pada bayi terutama
pemberian ASI awal (kolostrum) karena
kaya dengan antibodi yang mempunyai
efek terhadap penurunan risiko kematian.
ASI adalah makanan yang ideal untuk
pertumbuhan dan perkembangan bayi.

ASI berguna untuk perkembangan


sensorik dan kognitif, mencegah bayi
terserang penyakit infeksi dan kronis. ASI
terutama ASI eksklusif menurunkan
kematian bayi dan kejadian sakit pada
anak yaitu diare atau pneumoni, dan
membantu kesembuhan dari penyakit
(WHO, 2004).
1

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 01-08

Artikel II

Menurut World Health Organization


(WHO) Praktek menyusui di negara
berkembang
telah
berhasil
menyelamatkan sekitar 1,5 juta bayi
pertahun. Atas dasar tersebut WHO
merekomendasikan
untuk
hanya
memberikan ASI eksklusif sampai bayi
berusia 4-6 bulan. Menurut pendapat
Steven Allen dalam siaran pers UNICEF,
2004 disitasi oleh Roesli, (2000) bahwa
ASI bukanlah sekedar makanan tetapi
penyelamat kehidupan. Setiap tahunnya
lebih dari 25.000 bayi Indonesia dan 1,3
juta bayi di seluruh dunia dapat
diselamatkan dengan pemberian ASI
eksklusif pada tahun 1999, setelah
pengalaman selama 9 tahun, UNICEF
memberikan
klarifikasi
tentang
rekomendasi jangka waktu pemberian
ASI eksklusif. Rekomendasi terbaru
UNICEF
bersama
World
Health
Assembly (WHA) dan banyak negara
lainnya adalah menetapkan jangka waktu
pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan.
Sejalan dengan hasil kajian WHO di atas,
Menkes
melalui
Kepmenkes
RI
No.450/MENKES/IV/2004
yang
menetapkan perpanjangan pemberian
ASI secara eksklusif dari yang semula 4
bulan menjadi 6 bulan. Inisiasi menyusui
segera dan pemberian ASI eksklusif
sejak lahir hingga usia 6 bulan adalah
dua praktek pemberian ASI yang penting
untuk
kelangsungan
hidup
dan
pertumbuhan bayi optimal (WHO, 2002).
Target pelaksanaan pemberian ASI
eksklusif sebesar 80%, namun dalam
pelaksanaan
ASI
eksklusif
masih
memprihatinkan. Di Indonesia praktek
inisiasi
menyusui
segera
setelah
persalinan dan pemberian ASI eksklusif
masih rendah. Proporsi praktek inisiasi
menyusui dalam 30 menit setelah
persalinan adalah 8,3%, dalam satu jam
adalah 4-36% (BPS dan ORC Macro,
2003). Berdasarkan Survei Demografi
Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002,
hanya 3,7% bayi yang memperoleh ASI
pada
hari
pertama.
Sedangkan
pemberian ASI pada bayi umur kurang 2
bulan sebesar 64%, antara 2-3 bulan

45,5%, antara 4-5 bulan 13,9% dan


antara 6-7 bulan 7,8%. Sementara itu
cakupan pemberian susu formula
meningkat 3 kali lipat dalam kurun waktu
antara 1997 sebesar 10,8% menjadi
32,4%
pada
tahun
2002.
Dan
berdasarkan
Survei
Demografi
Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007
bayi dibawah umur 6 bulan yang
mendapat ASI eksklusif hanya sebesar
32% (Depkes, 2002).
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi
efektifnya praktek menyusui adalah
faktor sosiall demografi ibu dan keluarga,
struktur dan dukungan sosial (peran
suami dan keluarga), status kesehatan
ibu dan bayi, pengetahuan, sikap dan
keterampilan ibu,
kebiasaan makan,
pelayanan kesehatan, organisasi dan
kebijakan,
kultural, ekonomi dan
lingkungan. Menurut hasil penelitian
Zulfayeni et al. (2005), faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi pemberian ASI
eksklusif adalah pemberian ASI dalam
waktu satu jam pertama setelah lahir,
pelayanan
rawat
gabung,
tidak
membiasakan menggunakan dot/botol
susu, pemberian penyuluhan mengenai
ASI oleh petugas kesehatan, dukungan
suami (peran ayah) dan dukungan
anggota keluarga lain.
Penelitian mengenai dukungan menyusui
telah secara konsisten mengidentifikasi
suami sebagai satu sumber dukungan
yang
penting
dalam
penentuan
keputusan untuk menyusui. Peran suami
mempengaruhi 4 aspek yaitu keputusan
menyusui,
bantuan
saat
pertama
menyusui, durasi menyusui, dan faktor
risiko pemberian air susu botol.
Penelitian
yang
dilakukan
oleh
Februhartanty tahun 2007 ditemui bahwa
peran suami pada praktek pemberian
ASI dapat dipengaruhi oleh pengetahuan
dan sikap suami terhadap hal-hal yang
berhubungan dengan pemberian ASI,
faktor sosial ekonomi serta terpapar
dengan berbagai sarana komunikasi
media massa dan interpersonal. Suami
juga berperan dalam memberikan
dukungan emosional pada ibu saat
2

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 01-08

Artikel II

proses persalinan, ikut serta dalam


proses pengambilan keputusan tentang
pemberian makan bayi, terlibat dalam
urusan perawatan anak, dalam pekerjaan
rumah tangga, dalam ekonomi keluarga,
serta
berperan
dalam
menjaga
keharmonisan hubungan rumah tangga
(Sullivan et al., 2004).
Berdasarkan profil Kesehatan Propinsi
Sulawesi Tengah (2010) cakupan
program ASII eksklusif pada tahun 2010
baru
mencapai
36,2%
sementara
Kabupaten Tolitoli baru mencapai 35%.
Hal tersebut masih jauh dari target
nasional yaitu 80% (Profill Kesehatan
Propinsi Sulawesi Tengah, 2010).
Sedangkan menurut profil Kesehatan
Kabupaten
Tolitoli
tahun
2011
puskesmas yang paling rendah cakupan
ASII Eksklusifnya adalah Puskesmas
Managaisaki yaitu hanya 6,2%.

Sumber data yang digunakan dalam


penelitian ini adalah data primer yang di
peroleh dari hasil wawancara terhadap
responden dan data sekunder yang di
peroleh darii instansi yang terkait dalam
penelitian ini yaitu: Dinas Kesehatan
Kabupaten Tolitoli dan Puskesmas
Managaisaki. Pengolahan data dilakukan
setelah pengumpulan data dilaksanakan
dengan maksud agar data yang
dikumpulkan memiliki sifat, setelah itu
dianalisis meliputi analisis Univariat yaitu
menggambarkan karakteristik masing
masing variabel
penelitian dengan
distribusi frekuensi dan persentase
masing - masing kelompok data yang di
tampilkan dalam bentuk narasi, tabel,
dan grafik dan analisis Bivariat untuk
melihat hubungan antara variabel
independen dengan variabell dependen
dengan menggunakan uji Chi Square
(membandingkan
variabel
kategori)
dengan tingkat kepercayaan 95%, bila
nilai P 0,05 berarti Ho ditolak (Ada
hubungan) dan bila P >0,05 berarti Ho
diterima (Tidak ada hubungan) dengan
memperhatikan nilai rasio prevalensi
(RP) dalam hal ini variabel independen
adalah Pengetahuan dan Sikap Suami
sementara
yang
menjadi
variabel
dependennya adalah Praktek Pemberian
ASII Eksklusif.

BAHAN DAN METODE


Penelitian ini merupakan jenis penelitian
analitik
dengan
rancangan
Cross
Sectional Study (Potong Lintang) untuk
mengetahui Hubungan Pengetahuan dan
Sikap Suami dengan Praktek Pemberian
ASI Ekslusif.
Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah
Kerja
Puskesmas
Managaisaki
Kecamatan Baolan Kabupaten Tolitoli.
Populasi dalam penelitian ini adalah
semua suami yang memiliki anak usia 0
6 bulan di Puskesmas Managaisaki.
Pengambilan sampel dalam penelitian ini
adalah
dengan
cara
Consecutive
Sampling. Adapun besar sampel dalam
penelitian ini adalah sebanyak 46
responden.

HASIL
1. Karateristik Umum Variabel yang di
teliti
a. Umur Suami
Karakteristik umum
responden
berdasarkan umur suami dapat
dilihat pada tabel 1 dibawah ini :

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 01-08

Artikel II

Tabel 1 : Distribusi Responden Menurut Klasifikasi Umur Suami


di Puskesmas Managaisaki
Klasifikasi Umur
Jumlah
Persentase
(Tahun)
(%)
20 24
3
6.5
25 29
7
15.2
30 34
13
28.3
35 39
15
32.6
40 44
7
15.2
45 49
1
2.2
Total
46
100
Sumber data Primer 2013
Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa dari
46 responden yang diteliti klasifikasi
umur terbanyak adalah 3539 tahun
yaitu sebesar 15 atau (32.6%).
Sedangkan terendah pada kelompok
umur 4549 tahun yaitu 1 responden
atau 2.2%.

b. Tingkat Pendidikan Suami


Karakteristik umum
responden
berdasarkan
tingkat
pendidikan
suami dapat dilihat pada tabel 2
dibawah ini:

Tabel 2 : Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan Suami


di Puskesmas Managaisaki
Tingkat Pendidikan
SD
SMP
SMA
PT
Total
Sumber data Primer 2013

Jumlah
9
12
23
2
46

Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa dari


46 responden yang diteliti tingkat
pendidikan suami tertinggi adalah SMA
yaitu sebesar 23 atau 50% sedangkan
terendah
pada
responden
yang
pendidikannya perguruan tinggi yaitu 2
responden atau 4.3%.

Persentase (%)
19.6
26.1
50.0
4.3
100

2. Analisis Univariat
a. Pengetahuan Suami
Karakteristik
responden
berdasarkan pengetahuan suami
dapat dilihat pada tabel 3 berikut
ini
:

Tabel 3 : Distribusi Responden Menurut Pengetahuan


Suami di Puskesmas Managaisaki
Pengetahuan
Jumlah
Persentase
(%)
Baik
30
65.2
Kurang
16
34.8
Total
46
100
Sumber data Primer 2013
4

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 01-08

Artikel II

Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa


dari 46 responden yang diteliti ratarata suami mempunyai pengetahuan
baik yaitu 30 (62.5%).

b. Sikap Suami
Karakteristik
responden
berdasarkan sikap suami dapat
dilihat pada tabel 4 dibawah ini :

Tabel 4 : Distribusi Responden Menurut Sikap Suami


di Puskesmas Managaisaki
Sikap

Jumlah

Baik
Kurang

27
19

Persentase
(%)
58.7
41.3

46

100

Total
Sumber data Primer 2013
Tabel 4 di atas menunjukkan bahwa
dari 46 responden yang diteliti rata-rata
suami mempunyai sikap baik yaitu 27
(58.7%)

gunakan dalam analisis ini adalah


Chi Square dengan perhitungan
Confidence Interval (CI) 95% serta
tingkat kemaknaan p < 0,05.

3. Analisis Bivariat
Analisis Bivariat di lakukan untuk
mengetahui tingkat kemaknaan dan
hubungan
antara
variabel
independen
dengan
variabel
dependen. Uji statistik yang di

a. Hubungan Pengetahuan dengan


Praktek Pemberian ASI Eksklusif
dapat di lihat pada tabel 5 di
bawah
ini
:

Tabel 5: Analisis Hubungan Pengetahuan Suami dengan


Praktek Pemberian ASI Eksklusif
di Puskesmas Managaisaki

Pengetahuan
Suami
Baik
Kurang

Praktek Pemberian ASI


Eksklusif
Ya
Tidak
n
%
n
%
20
5

68.97
29.41

Keterangan : Signifikansi
Berdasarkan hasil uji statistik
variabel pengetahuan suami
dengan praktek pemberian ASI
eksklusif ada hubungan secara
bermakna, hal ini di ketahui dari
nilai p = 0,022.

9
12

31.03
70.59

0.022

b. Hubungan
Pendidikan
Ibu
dengan
Penggunaan
Kontrasepsi dapat di lihat pada
tabel 6 di bawah ini :

Tabel 6 : Analisis Hubungan Pendidikan dengan


5

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 01-08

Artikel II

Penggunaan Kontrasepsi Pada Ibu


di Puskesmas Managaisaki

Pendidikan

Penggunaan Kontrasepsi
Ya
Tidak
n
%
n
%

Tinggi
21
Rendah
5
Keterangan : Signifikansi
Berdasarkan hasil uji statistik variabel
pengetahuan suami dengan praktek
pemberian ASI eksklusif
terdapat
hubungan yang bermakna, hal ini di
ketahui dari nilai p = 0,002.

77.78
26.31

6
14

22.22
73.69

0.002

darii petugas kesehatan maupun dari


media khususnya televisi tentang
pentingnya pemberian ASI eksklusif
selain itu di dukung oleh faktor
pendidikan karena sebagian besar
pendidikan responden adalah SMA.
Pernyataan ini sejalan dengan
pendapat
Notoadmodjo (2003),
bahwa pengetahuan seseorang akan
baik
jika
ditunjang
dengan
pendidikan, sosial ekonomi, serta
pengalaman yang memadai.
Menurut Alport (1945) megemukakan
bahwa pengetahuan bukanlah fakta
dari suatu kenyataan yang dipelajari,
melainkan sebagai konstruksi kognitif
seseorang
terhadap
objek
pengalaman maupun lingkungan,
pengetahuan sangat erat kaitanya
dengan
pendidikan
dimana
diharapkan
seseorang
dengan
pendidikan
tinggi
maka
orang
tersebut semakin banyak pula
pengetahuanya,
namun
perlu
ditekankan bahwa seseorang yang
berpendidikan rendah bukan berarti
berpengetahuan
rendah
pula,
peningkatan
pengetahuan
tidak
mutlak diperoleh di pendidikan formal
akan tetapi juga dapat diperoleh pada
pendidikan non formal.

PEMBAHASAN
1. Hubungan
Pengetahuan
Suami
dengan Praktek Pemberian ASI
eksklusif dii Puskesmas Managaisaki.
Pengetahuan merupakan hasil dari
tahu, yang terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap
objek tertentu. Sebagian besar
pengetahuan diperoleh melalui mata
dan telinga. Pengetahuan merupakan
pedoman dalam membentuk tindakan
seseorang
(overt
behavior).
Berdasarkan
pengalaman
dan
penelitian, diperoleh bahwa perilaku
yang didasari oleh pengetahuan lebih
langgeng daripada perilaku yang
tidak didasari pengetahuan.
Pengetahuan merupakan hal yang
terpenting dalam kehidupan manusia
dimana pengetahuan bisa diperoleh
melalui pendidikan baik formal
maupun non formal. Selain itu,
pengetahuan juga dapat diperoleh
dengan melihat secara langsung atau
melalui media seperti televisi, radio,
buku, majalah atau surat kabar
(Notoatmodjo, 2003).
Dari
hasil
analisis
bivariat
menunjukkan bahwa ada hubungan
yang bermakna antara pengetahuan
suami dengan praktek pemberian ASI
eksklusif.
hal
ini
dikarenakan
responden
sering
mendapat
penyuluhan dan informasi kesehatan

2. Hubungan Sikap Suami dengan


Praktek Pemberian ASI Eksklusif di
Puskesmas Managaisaki.
Sikap merupakan kesiapan atau
kesediaan untuk bertindak, yang
menjadii predisposisi tindakan suatu
perilaku, bukan pelaksanaan motif
tertentu. Sikap merupakan kesiapan
6

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 01-08

Artikel II

untuk bereaksi terhadap objek di


lingkungan tertentu sebagai suatu
penghayatan
terhadap
objek
(Notoatmodjo, 2003).
Dari
hasil
analisis
bivariat
menunjukkan bahwa ada hubungan
yang bermakna antara sikap suami
dengan praktek pemberian ASI
eksklusif. Hasil penelitian inii sejalan
dengan pendapat Sarwono (1997)
bahwa sikap seseorang dapat
berubah
dengan
diperolehnya
tambahan informasi tentang objek
tertentu, sikap tidak dibawa sejak
lahir, tetapi dipelajari dan dibentuk
berdasarkan pengalaman dan latihan
sepanjang perkembangan individu.
Sebagai makhluk sosial, manusia
tidak lepas dari pengaruh interaksi
dengan orang lain (eksternal), selain
makhluk individuall (internal) kedua
faktor tersebut berpengaruh terhadap
sikap.
Penelitian
ini
sejalan
dengan
penelitian yang dilakukan oleh
Februhartanty (2007) bahwa peran
suami pada praktek pemberian ASI
dapat dipengaruhi oleh sikap suami
terhadap hal-hal yang berhubungan
dengan pemberian ASI, faktor sosiall
ekonomi serta terpapar dengan
berbagai sarana komunikasi media
massa dan interpersonal. Penelitian
Sullivan
et
al.,
(2004)
yang
menyatakan bahwa suami juga
berperan
dalam
memberikan
dukungan emosional pada ibu saat
proses persalinan, ikut serta dalam
proses
pengambilan
keputusan
tentang
pemberian makan bayii
termasuk pemberian ASI, terlibat
dalam urusan perawatan anak, dalam
pekerjaan rumah tangga, dalam
ekonomi keluarga, serta berperan
dalam
menjaga
keharmonisan
hubungan rumah tangga.

ASI eksklusif dapat disimpulkan bahwa


terdapat hubungan yang bermakna
antara pengetahuan dan sikap suami
dengan
praktek
pemberian
ASII
eksklusif.
SARAN
Bagi pihak Puskesmas Managaisaki,
perlunya membuat program penyuluhan
yang berkesinambungan kepada orang
tua laki-laki atau suami untuk lebih
mengenalkan tentang pentingnya ASI
dan
pentingnya
dukungan
suami
terhadap istri dalam memberikan ASI
khususnya ASI eksklusif sehingga
cakupan pemberian ASI eksklusif
meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto S, (2006), Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik, Edisi IV
Rineka Cipta, Jakarta.
Badan Pusat Statistik, BKKBN & ORC
Marco (2003) Survei demografi dan
kesehatan Indonesia 2002-2003.
Calverton, Maryland, USA: ORC
Marco.
________ (2001) Panduan manajemen
laktasi: Keunggulan
ASI dan
manfaat menyusui. Jakarta: Dit.
Gizi Masyarakat.
________ (2002) Manajemen laktasi.
Jakarta: Direktorat Jenderal Bina
Kesehatan masyarakat.
________
(2002) Strategi Nasional
peningkatan pemberian air susu ibu
sampai tahun 2005. Jakarta.
Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi
Tengah (2010) Profil Kesehatan
Sulawesi Tengah tahun . Palu.
Dinas Kesehatan Kabupaten Tolitoli
(2011) Profil Kesehatan Kabupaten
Tolitoli, Tolitoli.
Februhartanty, J., Musliatun, S. &
Septiari, A.M. (2007) Peran ayah
untuk
meningkatkan
praktek
menyusui:
dapatkah
ayah
di
Indonesia melakukannya? Jakarta:
SEAMEO-TROPMED
Regional
Center of Community Nutrition,
University of Indonesia.

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian di Puskesmas
Managaisaki tentang pengetahuan dan
sikap suamii dengan praktek pemberian
7

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 01-08

Artikel II

Lawrence, R.A. & Lawrence, R.M. ( 2005


) Menyusui Eksklusif: a guide for the
th
edition.
medical profession. 6
Philadellphia,USA: Mosby Inc.
Notoatmodjo, S.(2002) Pendidikan dan
Perilaku
Kesehatan.
Jakarta:
Rineka Cipta.
Nystrom K and Ohrling K (2004).
Parenthood pengalaman selama
tahun pertama anak: tinjauan
Sastra. J Adv Nurs; 46 (3):319-330.
Pruett, K.D. (1998) Peran Ayah.
Pediatrics, 102(5 Suppl E):12531261.
Roesli, U. (2000) Mengenal ASI ekslusif
. Jakarta: Trubus Agriwidya.
_______ (2008) Inisiasi menyusu dini
plus ASI ekslusif. Cetakan I.
Jakarta: Pustaka Bunda.
Septiari, A.M., Februhartanty, J. &
Bardosono, S. ( 2006 ) Praktek dan
Sikap Bidan Terhadap kebijakan
ASI Eksklusif Saat sampai enam
bulan: Studi kualitatif digunakan di
Jakarta Utara. Jakarta: SEAMEOTROPMED Pusat Regional Gizi
Masyarakat, UniversitasIndonesia.
Sugiyono, (2008), Metode Penelitian
Kuntitatif Kualitatif dan R&D,
Cetakan IV, Alfabeta, Bandung.

Sullivan, M.L., Leathers, S.J. & Kelley,


M.A. (2004) Karakteristik keluarga
yang berhubungan dengan durasi
menyusui selama masa bayi awal
antara primipara. J Hum Lact,
20(2):196-205
Taveras, E.M., Capra, A.M., Braveman,
P.A., Jensvold, N.G., Escobar, G.J.
and Lieu, T.A. (2003) Klinik
dukungan
dan
faktor
risiko
psikososial yang terkait dengan
penghentian
menyusui.
Pediatri,,112, 108-115
WHO (2002)
Gizi kecukupan ASI
eksklusif untuk bayi cukup bulan
selama enam bulan pertama
kehidupan. Genewa: WHO
_____ (2004) Nutrition: Pemberian ASI
Eksklusif [Internet]. Available from:
<www.CAH-Exclusive
Breastfeeding.htm> [Accessed
8
November 2008].
Zulfayeni., Julia, M. & Helmiyati, S.
(2005)
Pengaruh
dukungan
pelayanan kesehatan
terhadap
pemberian ASI ekslusif pada bayi
usia 4 bulan di Kota Pekanbaru.
Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 2(2):5359.