Anda di halaman 1dari 8

Promotif, Vol.5 No.

1, Okt 2015 Hal 09-16

Artikel II

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PELAKSANAAN PEMBERANTASAN SARANG


NYAMUK (PSN) DENGAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI
KELURAHAN TALISE KECAMATAN PALU TIMUR KOTA PALU
1)

DaraSuci

2)

NurAfni

Bagian Epidemiologi FKM Unismuh Palu


ABSTRAK
Latar Belakang : Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat di Indonesia. Di Kelurahan Talise merupakan daerah endemis
DBD, dimana kasus DBD setiap tahunnya selalu ada, bahkan pada tahun 2011
Kelurahan Talise merupakan kelurahan tertinggi se-Kota Palu dengan jumlah kasus
DBD . Tujuan Penelitian : untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan pelaksanaan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di Kelurahan Talise Kecamatan Palu Timur
Kota Palu. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik
dengan pendekatan Cross Sectional Study. Sampel : Seluruh Kepala Keluarga (KK)
yang ada dii Kelurahan Talise Kecamatan Palu Timur Kota Palu, yaitu sebanyak 4394
KK. Adapun besar sampel dalam penelitian ini adalah 98 responden dengan tehnik
pengambilan sampel Simple Random Sampling. Analisis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah analisis Univariat dan analisis Bivariat dengan uji Chi-Square.
Hasil Penelitian : menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara
pengetahuan dengan penyakit DBD di Kelurahan Talise Kecamatan Palu Timur Kota
Palu dengan nilai p = 0.000 ( p =0,05) dan ada hubungan yang signifikan antara
Pelaksanaan PSN dengan penyakit DBD di Kelurahan Talise Kecamatan Palu Timur
Kota Palu dengan nilai p = 0.000 ( p =0,05). Kesimpulan : ada hubungan yang
signifikan antara pengetahuan dan pelaksanaan PSN dengan penyakit DBD. Saran :
Ditujukan kepada Puskesmas agar meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat
Kelurahan Talise untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang DBD.
Kata Kunci
: Pengetahuan,Pelaksanaan PSN, DBD
Daftar Pustaka :
(52%) dari penduduk yang beresiko
tersebut hidup di wilayah Asia Tenggara
.World Health Organization (WHO)
memperkirakan sekitar 50 juta kasus
infeksi dengue tiap tahunnya. Case
fatality rate (CFR) DBD dapat saja
melampaui angka 20%. Adanya akses
yang lebih baik untuk mencapai tempat
pelayanan kesehatan dan penanganan
yang tepat baik sejak gejala awal
maupun perawatan lanjutan serta
peningkatan pengetahuan tentang DBD
dapat menurunkan tingkat kematiannya
hingga di bawah 1% (WHO, 2010).

PENDAHULUAN
Penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD) ditemukan hampir diseluruh
belahan dunia terutama di negara tropik
dan subtropik baik secara endemik
maupun
epidemik
dengan
masa
peralihan
yang
berkaitan
dengan
datangnya musim penghujan. Beberapa
dekade terakhir ini, insiden DBD
menunjukkan peningkatan yang sangat
pesat di seluruh penjuru dunia. Sebanyak
2,5 milyar penduduk dunia berisiko
terserang DBD. Sebanyak 1,6 milyar
9

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 09-16

Artikel II

Di Indonesia pada tahun 2010, jumlah


kasus DBD 156.086 dengan korban
meninggal 1.358 orang. Insiden Rate (IR)
sebesar 65,70/100.000 penduduk dan
CFR 0,87 %. Sementara hingga Oktober
2011, jumlah kasus 49.486 dengan
korban meninggal 403 orang. IR
20,83/100.000 penduduk dan CFR 0,81
% (Anonim, 2011)
Di Sulawesi Tengah DBD mulai
ditemukan pada tahun 1992 dengan
kasus suspect DBD sebanyak 8 orang.
Sampai bulan November 2011 di seluruh
wilayah Indonesia, Propinsi Sulawesi
Tengah menduduki urutan ke empat
Insiden Rate (IR) atau angka penularan
paling tinggi sepanjang tahun 2011 yaitu
47,37 kasus/100.000 penduduk (Dirjen
P2 & PL Depkes RI, 2011). Jumlah kasus
DBD di Propinsi Sulawesi tengah sampai
pada tahun 2010 berjumlah 2.092 kasus
yang terjadi di 11 kabupaten/kota dan
yang paling tertinggi wilayah Kota Palu
dengan jumlah 1.325 kasus DBD
(Abdullah, 2010).
Kota Palu merupakan daerah perkotaan
dengan peningkatan arus transpotasi dan
kepadatan penduduk serta dikelilingi
daerah-daerah endemis dan kepadatan
vector yang tinggi sehingga menjadi
daerah yang berpotensi terjadinya
Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD. Kasus
DBD di Kota Palu selama 3 tahun
terakhir cenderung berfluktuasi. Jumlah
kasus DBD di Kota Palu pada tahun
2011 berjumlah 1.061 penderita dengan
kematian 9 orang CFR 0,84%. Kasus
DBD pada tahun 2010 mencapai 1.325
penderita dan 14 orang diantaranya
meninggal atau CFR 1,05 %. Kasus DBD
pada tahun 2010 meningkat drastis
dibandingkan pada tahun 2009 berjumlah
577 penderita dan 4 orang meninggal
atau CFR 0,69 % . Hal ini masih sangat
tinggi dibandingkan dengan angka
standar nasional yaitu < 20 per 100.000
penduduk,dan jumlah kematian atau
CFR= 0,69 %.(Sukmawati, 2011)

Di Wilayah Kerja Puskesmas Talise


jumlah kasus DBD pada tahun 2011
sebanyak 127 kasus dan 2 orang
diantaranya meninggal, CFR 1,57 %.
Jumlah kasus DBD paling tinggi wilayah
kerja Puskesmas Talise berada di
Kelurahan Talise dengan jumlah kasus
78 penderita dan 1 orang meninggal atau
CFR 1,28 % .
Kelurahan
Talise
dengan
jumlah
penduduk 18.878 jiwa merupakan daerah
endemis DBD, dimana kasus DBD setiap
tahunnya selalu ada, bahkan pada tahun
2011 Kelurahan Talise merupakan
kelurahan tertinggi se-Kota Palu dengan
jumlah kasus DBD .Tingginya angka
kesakitan dan angka kematian DBD
disebabkan oleh faktor risiko yang
mempengaruhi penyakit DBD dari segi
pengetahuan misalnya pengetahuan
tentang tanda/gejala, cara penularan,
dan penyebabnya serta pencegahan dan
penanggulangan penularan penyakit
DBD (Kusumawati, 2007), dan masih
kurangnya kepedulian masyarakat untuk
melakukan
pemberantasan
sarang
nyamuk (PSN)Hal ini terlihat dari Angka
Bebas Jentik (ABJ) di Kelurahan Talise
pada tahun 2011 sebesar 88,5%. Angka
ini masih jauh dibawah angka standar
nasional (> 95 %) (Sukmawati, 2011).
Masyarakat tidak mengetahui bahwa
PSN merupakan cara yang efektif untuk
memutuskan rantai penularan DBD.
Tingkatan
pengetahuan
masyarakat
tentang penyakit DBD dapat memberikan
suatu
hambatan
dalam
upaya
pencegahan penyakit DBD.
BAHAN DAN METODE
Jenis
penelitian
analitik
dengan
pendekatan Cross Sectional Study, yaitu
dimana data yang menyangkut data
variabel Independen
dan
variabel
Dependen akan dikumpulkan dalam
waktu yang bersamaan (Notoatmodjo,
2005).
Lokasi
penelitian
dilaksanakan
di
Kelurahan Talise Kecamatan Palu Timur
10

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 09-16

Artikel II

Kota Palu Propinsi Sulawesi Tengah.


Waktu pelaksanaan penelitian yaitu pada
bulan Mei Tahun 2014. Populasi dalam
penelitian ini adalah jumlah Kepala
Keluarga (KK) yang ada di Kelurahan
Talise Kecamatan Palu Timur Kota Palu,
yaitu sebanyak 4.394 KK. Sampel dalam
penelitian ini adalah 98 responden.

a. Analisis Univariat
Distribusi Responden Berdasarkan
Pengetahuan
Pengetahuan
responden
dapat
diketahui dari pengisian kuesioner,
dengan kriteria pengetahuan rendah
jika hasil ukur < median dan
pengetahuan tinggi jika hasil ukur >
median. Berdasarkan data hasil
pengisian kuesioner tersebut setelah
dilakukan
penskoran
diperoleh
gambaran
responden
yang
berpengetahuan
rendah
dan
berpengetahuan tinggi seperti pada
tabel
berikut:

HASIL
Uji statistik yang dilakukan adalah
Chi-Square dengan hasil analisis
sebagai berikut:

Tabel 1
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan di Kelurahan Talise
Kecamatan Palu Timur Kota Palu
Pengetahuan
n
Persentase (%)
Tinggi
49
50.0
Rendah
49
50.0
Jumlah
98
100.0
Sumber : Data Primer diolah Juli 2012

Berdasarkan tabel 1 menunjukkan


bahwa responden yang mempunyai
pengetahuan tinggi sebanyak 49

responden (50,0%). Dan responden


yang mempunyai pengetahuan rendah
sebanyak 49 responden (50,0%).

Tabel 2
Distribusi Responden Berdasarkan Pelaksanaan PSN di Kelurahan Talise
Kecamatan Palu Timur Kota Palu
Pelaksanaan PSN
n
Persentase (%)
Baik
60
61.2
Kurang Baik
38
38.8
Jumlah
98
100.0
Sumber : Data Primer diolah Juli 2012
Berdasarkan tabel 2 menunjukkan
bahwa responden yang melaksanakan
PSN dengan baik sebanyak 60

responden
(61,2%)
dan
yang
melaksanakan PSN kurang baik
sebanyak 38 responden (38,8%).
11

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 09-16

Artikel II

Tabel 3
Distribusi Responden Berdasarkan Penyakit DBD di Kelurahan Talise
Kecamatan Palu Timur Kota Palu
Penyakit DBD
n
Persentase (%)
Tidak Menderita
52
53.1
Menderita
46
46.9
Jumlah
98
100.0

Sumber : Data Primer diolah Juli 2012


Berdasarkan table 3
menunjukkan bahwa responden
yang tidak menderita DBD
sebanyak 52 responden (53,1%)
dan
yang menderita DBD
sebanyak 46 responden (46,9%).
b. Analisis Bivariat
Analisis Bivariat dilakukan dengan
meihat ada tidaknya hubungan
antara variabel yaitu pengetahuan
dan pelaksanaan PSN dengan
variabel terikat yaitu Penyakit DBD
melalui uji Chi-Square, dimana

tingkat
kepercayaannya
adalah
sebesar 95 %.
Pengetahuan
tentang
DBD
merupakan
hal
yang
sangat
menentukan
dalam
membentuk
perilaku masyarakat agar dapat
terhindar
dari
suatu
penyakit,
termasuk penyakit DBD. Adapun
hubungan
pengetahuan
dengan
penyakit DBD di Kelurahan Talise
Kecamatan Palu Timur Kota Palu
dapat di lihat pada tabel berikut :

Tabel 4
Distribusi Hubungan Pengetahuan dengan Penyakit DBD di Kelurahan Talise
Kecamatan Palu Timur Kota Palu
Penyakit DBD
Pengetahuan

Rendah
Tinggi
Total

n
36

%
73.5

Tidak
Menderi
ta
n
%
13
26.5

10

20.4

39

79.6

49

100.0

46

46.9

52

53,1

98

100.0

Menderit
a

Sumber : Data Primer 2012


Berdasarkan
tabel
4
menunjukkan bahwa dari 49 responden
yang berpengetahuan rendah serta
menderita DBD sebanyak 36 responden
(73,5%) dan tidak menderita DBD
sebanyak
13
responden
(26,5%).
Sedangkan dari 49 responden yang
berpengetahuan tinggi serta menderita
DBD sebanyak 10 responden (20,4%)

Total

n
49

%
100.0

P
Value

0.000

Odds
Ratio(
OR)
CI= 95 %

10.800
(4.21627.666)

dan tidak menderita DBD sebanyak 39


responden (79,6%).
Hasil
uji
statistik
dengan
menggunakan Chi-Square diperoleh nilai
P= 0,000 (P < 0,05) berarti secara
statistik ada hubungan bermakna antara
pengetahuan
responden
dengan
penyakit DBD (Ho ditolak). Dari hasil
analisis diperoleh pula nilai Odds Ratio
12

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 09-16

Artikel II

(OR) = 10,800 berarti responden yang


mempunyai
pengetahuan
rendah
mempunyai risiko atau peluang 10,800
kali lebih besar untuk menderita penyakit
DBD dibanding dengan responden yang
mempunyai pengetahuan tinggi.
Pelaksanaan
PSN
yang
dilakukan
oleh
masyarakat
dapat

mengurangi angka kesakitan maupun


angka kematian Penyakit DBD. Adapun
hubungan pelaksanaan PSN dengan
Penyakit DBD di Kelurahan Talise
Kecamatan Palu Timur Kota Palu dapat
di
lihat
pada
tabel
berikut
:

Tabel 5
Distribusi Hubungan Pelaksanaan PSN dengan Penyakit DBD di Kelurahan
Talise Kecamatan Palu Timur Kota Palu
Penyakit DBD
Pelaks
anaan
PSN

Mender
ita
n

Tidak
Mender
ita
n
%

Total

P
Value

Odds
Ratio(OR)
CI= 95 %

0.000

13.286
(4,853-36,370)

Kurang
Baik

31

81.6

18.4

38

100.0

Baik

15

25.0

45

75.0

60

100.0

Total
46

46.9

52

53.1

98

100.0

Sumber : Data Primer 2012


Berdasarkan
tabel
5
menunjukkan bahwa dari 38 responden
yang melaksanakan PSN kurang baik
serta menderita DBD sebanyak 31
responden (81,6%) dan tidak menderita
DBD sebanyak 7 responden (18,4%).
Sedangkan dari 60 responden yang
melaksanakan PSN dengan baik serta
menderita DBD sebanyak 15 responden
(25,0%) dan tidak menderita DBD
sebanyak 45 responden (75,0%)
Hasil
uji
statistik
dengan
menggunakan Chi-Square diperoleh nilai
P= 0,000 (P < 0,05) berarti secara
statistik ada hubungan bermakna antara
pelaksanaan PSN oleh responden
dengan penyakit DBD (Ho ditolak).Dari
hasil analisis diperoleh pula nilai Odds
Ratio (OR) = 13.286 berarti responden
yang melaksanakan PSN kurang baik

mempunyai risiko atau peluang 13.286


kali lebih besar untuk menderita penyakit
DBD dibanding dengan responden yang
melaksanakan PSN dengan baik.
PEMBAHASAN
1.
Hubungan Pengetahuan dengan
Penyakit DBD
Hasil penelitian melalui analisis
Univariat menunjukkan, bahwa
responden
yang
memiliki
pengetahuan rendah berjumlah
sama dengan responden yang
memiliki pengetahuan tinggi dan
hasil analisis Bivariat
dengan
menggunakan
Chi-Square
menunjukkan
bahwa
ada
hubungan pengetahuan dengan
penyakit DBD, karena responden
yang berpengetahuan rendah
13

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 09-16

Artikel II

serta menderita penyakit DBD


jumlahnya lebih banyak (73,5%)
di bandingkan dengan responden
yang memiliki pengetahuan tinggi
dan menderita penyakit DBD
(26,5%).
Responden
yang
memiliki pengetahuan rendah
10,800 kali lebih berisiko untuk
menderita
penyakit
DBD
dibandingkan dengan responden
yang memiliki pengetahuan tinggi,
hal ini berdasarkan hasil Odds
Ratio (OR) sebesar 10,800(CI=
4,216-27,666). Adanya hubungan
pengetahuan dengan penyakit
DBD di dukung oleh penelitian
Ferawati AR (2009) di wilayah
kerja Puskesmas Parigi dengan
nilai P = 0,010 (P < 0,05) berarti
terdapat
hubungan
antara
pengetahuan dengan kejadian
DBD, dimana pengetahuan yang
kurang baik memiliki risiko 7,429
kali
lebih
besar
menderita
penyakit DBD di bandingkan
dengan pengetahuan yang baik.
Menurut
peneliti,
masyarakat
yang
pernah
menderita penyakit DBD di
Kelurahan Talise mempunyai
pengetahuan yang masih rendah
disebabkan karena kurangnya
kepedulian masyarakat untuk
mencari informasi yang berkaitan
dengan penyakit DBD baik dari
media
informasi
maupun
penyuluhan
oleh
tenaga
kesehatan karena masyarakat
hanya disibukkan oleh aktifitas
keseharian
masing-masing.
Pengetahuan yang tinggi tentang
penyakit
DBD
akan
mempengaruhi
perilaku
masyarakat dalam melakukan
upaya pencegahan penyakit DBD
sehingga
dapat
menurunkan
angka kejadian penyakit DBD di
Kelurahan Talise.

Pengetahuan merupakan
domain yang sangat penting
utnuk
terbentuknya
tindakan
seseorang, karena perilaku yang
didasari oleh pengetahuan akan
lebih langgeng daripada perilaku
yang
tidak
didasari
oleh
pengetahuan. Sebelum orang
mengadopsi perilaku baru, dalam
diri seseorang terjadi proses
berurutan,
yaitu
kesadaran,
merasa tertarik, menimbangnimbang,
mencoba,
daan
akhirnya subjek berperilaku baru
sesuai
dengan
pengetahuan
,kesadaran
dan
sikapnya
terhadap
rangsangan
(Notoadmodjo,2007). Dari segi
pengetahuan, faktor risiko yang
mempengaruhi penyakit DBD
misalnya pengetahuan tentang
tanda/gejala,
cara
penularan,penyebabnya
serta
pencegahan dan penanggulangan
penularan
penyakit
DBD
(Kusumawati, 2007)
2.

14

Hubungan
Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN) dengan
Penyakit DBD
Hasil penelitian melaui
analisis Univariat menunjukkan,
bahwa
responden
yang
melaksanakan PSN kurang baik
lebih
sedikit(38,8%)
di
bandingkan
responden
yang
melaksanakan PSN dengan baik
(61,2%). Hasil analisis Bivariat
dengan
menggunakan
ChiSquare menunjukkan bahwa ada
hubungan
pelaksanaan
PSN
dengan penyakit DBD karena
responden yang melaksanakan
PSN kurang baik serta menderita
penyakit DBD lebih banyak
(81,6%) di bandingkan dengan
responden yang melaksanakan
PSN
dengan
baik(18,4%).
Responden yang melaksanakan

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 09-16

Artikel II

PSN kurang baik 13.286 kali lebih


berisiko untuk menderita penyakit
DBD, hal ini berdasarkan hasil
Odds Ratio (OR) sebesar 13.286
(CI=4,853-36,370).
Penelitian ini didukung
oleh penelitian Farid Setyo
Nugroho
(2009)
tentang
Hubungan Pelaksanaan PSN di
wilayah kerja Kabupaten Boyolali,
Jawa Tengah dengan nilai P =
0,039 (P < 0,05) berarti terdapat
hubungan antara pelaksanaan
PSN dengan terjadinya penyakit
DBD.
Pelaksanaan PSN yang
kurang baik banyak dilakukan
oleh
masyarakat
yang
mempunyai anggota keluarganya
pernah menderita DBD, menurut
peneliti pelaksanaan PSN dengan
baik merupakan cara yang paling
efektif
untuk
memberantas
perkembangbiakan vektor peyakit
DBD. Permasalahan utama dalam
upaya menekan angka kesakitan
DBD
adalah
masih
belum
berhasilnya upaya menggerakkan
peran serta masyarakat dalam
Pemberantasan Sarang Nyamuk
(PSN) DBD
Pelaksanaan PSN yang
kurang baik diketahui dari perilaku
responden yang tidak menutup
tempat-tempat penampungan air
jarang
menguras
atau
membersihkan
tempat-tempat
penampungan air lebih dari sekali
seminggu,tidak
menaburkan
bubuk
abate
tempat
penampungan
air,
tidak
membakar
atau
mengubur
sampah yang menjadi tempat
perindukan
nyamuk
Aedes
Aegepty, dan masyarakat yang
memiliki
kolam
tidak
memeliharan ikan pemakan jentik.
Menurut (Depkes RI,
2005) cara yang dianggap paling

tepat untuk memberantas vektor


(nyamuk Aedes aegypti) adalah
dengan PSN DBD. Apabila
kegiatan PSN DBD dilakukan oleh
seluruh masyarakat secara terus
menerus dan berkesinambungan
maka keberadaan jentik Aedes
aegypti dapat dibasmi, sehingga
resiko penularan DBD dapat
dikurangi. Untuk itu maka perlu
dilakukan kegiatan-kegiatan di
dalam
masyarakat
seperti
kegiatan bulan bakti gerakan 3-M,
pemeriksaan jentik berkala dan
penyuluhan kepada keluarga atau
masyarakat (Depkes RI, 2005).
Partisipasi
masyarakat
dalam PSN DBD perlu lebih
ditingkatkan, antara lain melalui
Juru Pemantau Jentik (Jumantik)
dalam melakukan pemeriksaan
jentik
secara
berkala
dan
berkesinambungan
serta
menggerakkan masyarakat dalam
PSN (Sukmawati, 2011).
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Ada hubungan yang signifikan antara
pengetahuan dengan penyakit DBD di
Kelurahan Talise Kecamatan Palu
Timur Kota Palu dengan nilai P=
0,000 (P < 0,05).Responden yang
memiliki
pengetahuan
rendah
mempunyai resiko atau peluang
10,800 kali lebih besar untuk
menderita
penyakit
DBD,
dibandingkan
dengan
responden
memiliki pengetahuan tinggi.
2. Ada hubungan yang signifikan antara
pelaksanaan Pemberantasa Sarang
Nyamuk (PSN) dengan penyakit DBD
di Kelurahan Talise Kecamatan Palu
Timur Kota Palu dengan nilai P=
0,000 (P < 0,05). Responden yang
melaksanakan PSN kurang baik
mempunyai resiko atau peluang
15

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 09-16

Artikel II

13,286 kali lebih besar untuk


menderita
penyakit
DBD,
dibandingkan
dengan
responden
yang melaksanakan PSN dengan
baik.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah. 2011. Profil Kesehatan
Propinsi SultengTahun 2011,
Palu.
Anonim. 2011.Perkembangan Kasus
Demam
Berdarah
di
Indonesia.Jakartahttp://www.de
pkes.go.id. Di unduh tanggal 08
februari 2012

SARAN
1. Kepada Kepala Puskesmas Talise
disarankan agar dapat membuat
kebijakan mengenai rutinitas kegiatan
PSN
yang
dilaksanakan
oleh
masyarakat Kelurahan Talise.
2. Kepada
Tenaga
Kesehatanperlu
meningkatkan kegiatan penyuluhan
secara berkesinambungan terutama
di Kelurahan Talise agar dapat lebih
meningkatkan
pemahaman
masyarakat tentang DBD dan dapat
mempraktikkan kegiatan PSN dengan
baik.
3. Kepada
institusi
pendidikan
disarankan agar penelitian ini dapat
dijadikan
referensii
untuk
pengembangan keilmuan di Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas
Muhammadiyah.
4. Kepada
peneliti
selanjutnya
disarankan agar dapat melakukan
penelitian tentang penyakit DBD
dengan variabel yang berbeda untuk
pengembangan ilmu pengetahuan di
bidang kesehatan masyarakat.

Depkes RI 2005. Pencegahan dan


Pemberantasan
Demam
Berdarah Dengue (DBD) di
Indonesia, Jakarta.
Kusumawati, 2007. Hubungan Faktor
Perilaku
dengan
Kejadian
Demam
Berdarah
Dengue(DBD) di Wilayah Kerja
Puskesmas
Boyolali.
2008.http://www.penyakitmenul
ar.info/webpppl/def_menu.asp?
menuldType=0&Subid=1.Diund
uh tanggal 26 Februari 2012
Notoatmodjo,
S.2005.Metodologi
Penelitian Kesehatan. Rineka
Cipta, Jakarta
Sukmawati, E.2010. Profil Kesehatan
Kota Palu Tahun 2010, Palu.

16