Anda di halaman 1dari 22

OU

TLI
NE

A. LATAR BELAKANG
B. MAKSUD, TUJUAN
DAN SASARAN
C. REVIEW
KEBIJAKAN
D. PROFIL
PERMUKIMAN
E. ANALISA
DAN
PROYEKSI
F. POTENSI
DAN
PERMASALAHAN

1 EXECUTIVE SUMMARY
2

PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAN


PENGEMBANGAN PERUMAHAN DAN

3
A.

KAWASAN PERMUKIMAN (RP3KP)


4
KABUPATEN GRESIK

LATAR BELAKANG
Pembangunan perumahan dan kawasan permukiman merupakan kebutuhan
dasar manusia yang mempunyai fungsi strategis sebagai pusat pendidikan keluarga,
persemaian budaya, dan peningkatan kualitas generasi yang akan datang, serta
merupakan

pengejawantahan

jati

diri.

Salah

satu

perwujudan

tercapainya

kesejahteraan rakyat ditandai dengan meningkatnya kualitas kehidupan yang layak


dan bermartabat melalui pemenuhan kebutuhan papan sebagai salah satu kebutuhan
dasar manusia. Dengan demikian pembangunan perumahan dan kawasan
permukiman merupakan salah satu bidang strategis dalam upaya pembangunan
manusia Indonesia yang seutuhnya dan pembangunan perumahan dan kawasan
permukiman merupakan kegiatan yang bersifat multi sektor, yang hasilnya langsung
menyentuh salah satu kebutuhan dasar masyarakat.
Dinamika perkembangan pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten Gresik
membawadampak terjadi nya pola pergeseran dalam pemanfaatan ruang dari
kawasan yang bercirikanperdesaan ke kawasan yang bercirikan perkotaan.
Perkembangan kebutuhan ruang wilayah dan kondisi daya dukung ruang wilayah
yang mengalami pergeseran mengakibatkan peningkatan pertumbuhan kawasan
terbangun. Sejalan dengan perkembangan wilayah Kabupaten Gresik perlu adanya

arahan pengembangan kewilayahan sehingga pemanfaatan ruang wilayah oleh


pengguna ruang yang secara fungsi mempunyai nilai ekonomis dapat terkendali.
Berdasarkan Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan
Kawasan Permukiman, bahwa pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib
memberikan kemudahan pembangunan dan perolehan rumah bagi Masyarakat
Berpengahasilan Rendah (selanjutnya disebut MBR). Hal ini merupakan wujud
komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Dalam rangka meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembangunan Perumahan
dan Kawasan Pemukiman dan dalam upaya percepatan pembangunan Perumahan
dan

Kawasan

perencanaan

Pemukiman
pembangunan

yang

berkelanjutan

strategis terkait

dibutuhkan

pembangunan

suatu

dokumen

Perumahan

dan

Kawasan Pemukiman. Dokumen yang dimaksud adalah Dokumen Rencana


Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Kawasan Pemukiman (RP3KP).
Sehubungan dengan hal tersebut, maka saat ini diperlukan adanya suatu kegiatan
Penyusunan Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Kawasan
Pemukiman (RP3KP) Kabupaten Gresik.

B.

MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN

a)

MAKSUD DAN TUJUAN


Penyusunan Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan
Kawasan Pemukiman (RP3KP) Kabupaten Gresik ini dimaksudkan untuk:
1) Melaksanakan Standar Pelayanan Minimal bidang Perumahan Rakyat;
2) Mengidentifikasi permasalahan perumahan dan pemukiman, yang meliputi :
a. Permasalahan yang ada (pemberian ijin lokasi, pemberian perijinan yang
melebihi daya dukung lingkungan, pertumbuhan permukiman kumuh);
b. Permasalahan yang perlu diantisipasi (review terhadap peruntukan kawasan,
penetapan fungsi kawasan non perumahan yang berkembang menjadi
kawasan perumahan atau sebaliknya, penetapan negative list terhadap
kawasan terlarang, penetapan daya dukung lahan yang mengalami degradasi);
c. Permasalahan lain (masalah sektoral, masalah lintas publik, dan masalah yang
dipecahkan secara terkoordinasi melalui forum masyarakat).
3) Tersedianya data dasar perumahan dan pemukiman yang diperhitungkan sehingga
masih dapat digunakan (valid) dan mudah dikelola.
4) Terdefinisinya sasaran dan kebijakan daerah dalam pemenuhan kebutuhan sektor
Perumahan dan Kawasan Pemukiman secara terintegrasi dan sistematis;
5) Terwujudnya pedoman dan arahan terkait Perumahan dan Kawasan Pemukiman
dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan Perumahan dan Kawasan
Pemukiman;

6) Tersinerginya Pembangunan Perumahan dan Kawasan Pemukiman antar pihakpihak yang membidangi perumahan dan pihak-pihak lain yang terkait Perumahan
dan Kawasan Pemukiman;
7) Menunjang pembangunan ekonomi sosial dan budaya;
8) Pemberdayaan pemangku kepentingan.
b)

SASARAN
Sebagai bagian dari rencana tata ruang wilayah, sasaran dari penyusunan
Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Kawasan Pemukiman
(RP3KP) ini antara lain:
a.

Tersedianya rencana pembangunan perumahan dan kawasan permukiman di


daerah yang aspiratif dan akomodatif, yang dapat diacu bersama oleh pelaku

b.

dan penyelenggara pembangunan;


Tersedianya skenario pembangunan perumahan dan kawasan permukiman yang
memungkinkan terselenggaranya pembangunan secara tertib dan terorganisasi
serta terbuka peluang bagi masyarakat untuk berperan serta dalam seluruh

c.

prosesnya;
Tertanganinya kawasan permukiman kumuh; terakomodasinya kebutuhan akan
perumahan dan kawasan permukiman yang dijamin oleh kepastian hukum,

d.

terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah;dan


Tersedianya Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan
Kawasan Pemukiman (RP3KP) yang memadai kualitasnya, terutama bagi
daerah yang telah memperlihatkan kebutuhan serta rnemiliki intensitas
permasalahan yang mendesak di bidang perumahan dan kawasan permukiman.

C.

REVIEW KEBIJAKAN
Adapun kebijakan yang direview dalam penyusunan RP3KP Gresik diantaranya adalah:

NO
1

KEBIJAKAN
Komitmen Global
(MDGs, Habitat
Agenda)

Kebijakan Nasional (UU


No 1 Tahun 2011
tentang Perumahan dan
Kawasan Permukiman,
dan KSNPP (Kebijakan
dan Strategi Nasional
Perumahan dan
Permukiman)

REVIEW
Rumah sudah disebut layak, jika memenuhi beberapa kaidah sebagai berikut:
1) Ada jaminan kepemilikan yang dilindungi oleh hukum,
2) Ada ketersediaan servis, bahan, fasilitas, dan prasarana,
3) Sesuai dengan kemampuan daya beli masyarakat,
4) Layak huni/habitable,
5) Dapat diakses oleh siapa saja,
6) Lokasinya mendukung bagi kehidupan,
7) Kelayakan budaya, termasuk menjamin keyakinan yang dianut secara luas.
Bidang perumahan dan permukiman memiliki peran dalam menyukseskan tujuan dan target MDGs
terutama pada tujuan 1 dan tujuan 7. Tujuan 1 adalah memberantas kemiskinan dan kelaparan
ekstrem dengan target menurunkan proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan menjadi
setengahnya antara 1990-2015. Kemudian tujuan ke-7 yaitu memastikan kelestarian lingkungan.
Targetnya adalah:
1) Target 7A: Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam kebijakan dan
program negara serta mengakhiri kerusakan sumberdaya alam.
2) Target 7C: Menurunkan separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses yang berkelanjutan
terhadap air minum yang aman dan sanitasi dasar pada 2015.
3) Target 7D: Pada 2020 telah mencapai perbaikan signifikan dalam kehidupan (setidaknya) 100 juta
penghuni kawasan kumuh.
Review UU No 1 tahun 2011
UU mengatur penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman, pencegahan dan peningkatan
kualitas permukiman kumuh, pendanaan & pembiayaan, dan peran masyarakat
Dalam menangani permukiman kumuh dilakukan upaya pencegahan, terdiri dari pengawasan,
pengendalian dan pemberdayaan masyarakat, serta upaya peningkatan kualitas permukiman, yaitu
pemugaran, peremajaan, dan permukiman kembali
Review KSNPP (Kebijakan dan Strategi Nasional Perumahan dan Permukiman)
A. Kebijakan (1): Melembagakan sistem penyelenggaraan perumahan dan permukiman dengan
pelibatan masyarakat sebagai pelaku utama.
Strategi (1): Pengembangan peraturan perundang-undangan dan pemantapan kelembagaan di bidang
perumahan dan permukiman serta fasilitasi pelaksanaan penataan ruang kawasan permukiman yang
transparan dan partisipatif

NO

KEBIJAKAN

Kebijakan Regional
(RTRW Propinsi Jawa
Timur)

Kebijakan Daerah
(RTRW Kabupaten
Gresik )

Kebijakan Daerah
(RPJMD Kabupaten
Gresik 2010-2015)

REVIEW
B. Kebijakan (2): Mewujudkan pemenuhan kebutuhan perumahan (papan) bagi seluruh lapisan
masyarakat, sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia.
Strategi (2): Pemenuhan kebutuhan rumah yang layak dan terjangkau dengan menitikberatkan kepada
masyarakat miskin dan berpendapatan rendah.
C. Kebijakan (3): Mewujudkan permukiman yang sehat, aman, harmonis dan berkelanjutan guna
mendukung pengembangan jatidiri, kemandirian, dan produktivitas masyarakat.
Strategi (3): Perwujudan kondisi lingkungan permukiman yang sehat, aman, harmonis dan
berkelanjutan.
Dalam RTRW Provinsi Jawa Timur Kabupaten Gresik masuk dalam wilayah SMA (Surabaya
Metropolitan Area). Pusat permukiman perkotaan di wilayah SMA diarahkan berdasarkan potensi
perkembangan masing-masing perkotaan sebagai satu kesatuan pengembangan wilayah Surabaya
Metropolitan Area (SMA).Struktur Pusat Permukiman Perkotaan Gresik yang meliputi
wilayah
Perkotaan Cerme, Perkotaan Gresik, Perkotaan Kebomas, Perkotaan Manyar, Perkotaan Bungah
dan Perkotaan Sidayu. Diarahkan mempunyai pusat di Perkotaan Gresik dan Perkotaan Kebomas.
b. Mengingat kebijakan kawasan industri yang berorientasi ke jalan arteri dan jalan bebas hambatan,
maka kawasan permukiman di arahkan mengkluster dengan konsep kota mandiri. Kawasan
permukiman di arahkan mempunyai akses tersendiri yang terhubung dengan jalan bebas hambatan.
Pengembangan kegiatan di kawasan perkotaan meliputi: perikanan, industri, dan perdagangan/jasa.
Dalam rencana pola ruang Kabupaten Gresik, penggunaan lahan untuk pengembangan kawasan
permukiman dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kawasan permukiman perkotaan dan kawasan
permukiman pedesaan.
Luas penggunaan lahan permukiman total di Kabupaten Gresik tahun 2030 adalah 25.953.39 ha atau
21,78% dari seluruh lahan. Permukiman skala besar terkonsentrasi di Kecamatan Driyorejo, Kedamean,
Menganti, Cerme sekitar 3.000 4.000 ha.
Permukiman perkotaan pada PPK diarahkan di seluruh ibukota kecamatan, Permukiman perkotaan
pada kawasan yang terpengaruh perkembangan Kota Surabaya diarahkan di Kecamatan Driyorejo,
Kedamean, Menganti, dan Cerme.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Gresik tahun 20102015, kebijakan dan program pembangunan daerah untuk permukiman sasaran yang dirumuskan
adalah meningkatnya kualitas sarana dasar permukiman melalui program peningkatan kualitas
permukiman. Implementasi atau penjabaran dalam program Satuan Kerja Perangkat Daerah, adalah :
Program Pengembangan Perumahan,Program Lingkungan Sehat Perumahan, Program Pemberdayaan
Komunitas Perumahan, Program Perbaikan perumahan akibat bencana alam/sosial, Program
peningkatan kesiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran,Program pengelolaan areal pemakaman.
5

NO

KEBIJAKAN
Kebijakan Daerah
(RPIJMD Kabupaten
Gresik 2013-2017)

Kebijakan Daerah
(SPPIP (Strategi
Pembangunan
Permukiman dan
Infrastruktur Perkotaan)
Kabupaten Gresik)

REVIEW
Rencana Pengembangan Permukiman Perkotaan
Permukiman lahan perkotaan berdasarkan deliniasi rencana kawasan perkotaan meliputi Kecamatan
Manyar, Kecamatan Kebomas, Kecamatan Gresik, Kecamatan Duduksampeyan, Kecamatan Cerme,
Kecamatan Benjeng, Kecamatan Menganti, dan Kecamatan Driyorejo. Dimana dari persebaran
permukiman perkotaan di Kabupaten Gresik, dibagi berdasarkan karakteristik kawasan permukiman,
antara lain: kawasan Rumah Siap Huni (RSH), kawasan peremajaan, kawasan rumah susun
sederhana sewa (RSSS).
Rencana Pengembangan Permukiman Perdesaan
A. Pengembangan KTP2D (Kawasan Terpilih Pusat Pengembangan Desa)
Lokasi yang ditunjuk dalam daftar calon alternatif lokasi Kawasan Terpilih Pusat Pengembangan
Desa (KTP2D) adalah Kecamatan Duduksampeyan dengan DPP Desa Waduk Kidul. Sehingga
desa hinterland dari Desa Wadak kidul adalah Desa Bendungan, Desa Wadak Lor, Desa Kemudi,
dan Desa Petisbenem.
B. Pengembangan Kawasan Perdesaan Minapolitan
Pengembangan kawasan perdesaan minapolitan terdapat pada kecamatan Sidayu yang tersebar
pada 4 desa yakni Desa Srowo, Desa Ceret, Desa Srowo dan Desa Racikulon.
Usulan dan prioritas program pengembangan kawasan perdesaan minapolitan disusun
berdasarkan paket-paket fungsional dan prioritas penanganan sesuai dengan kebijakan dan
strategi pembangunan secara nasional maupun daerah.
Konsepsi pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan di Kabupaten Gresik :
1) mengendalikan perkembangan kawasan permukiman Gresik Kota Lama yang mengedepankan
pengembangan kawasan bersejarah.
2) mendorong pengembangan kawasan permukiman skala besar pada wilayah hinterland Surabaya
Metropolitan Area.
3) mendorong pengembangan kawasan permukiman yang mendukung pengembangan agropolitan
dan minapolitan.
4) mendorong pengembangan hunian vertikal pada kawasan perkotaan yang telah padat dan juga
untuk mendukung penyediaan rumah bagi masyarakat pekerja industri.
5) mengembangkan serta menata kawasan permukiman pesisir dalam upaya mendorong
pengembangan sektor perikanan.
6) mengendalikan perkembangan kawasan permukiman rawan bencana banjir pada wilayah bantaran
Sungai Bengawan Solo dan Kali Lamong melalui pertimbangan mitigasi bencana.

Sumber: kajian kebijakan, 2015

D.

PROFIL PERMUKIMAN
Profil permukiman didapatkan dari hasil survey di 18 Kecamatan Kabupaten Gresik. Adapun ringkasan profil per kecamatan adalah
sebagai berikut ini:

NO
KECAMATAN
1
Wringinanom

PROFILPERMUKIMAN
Potensi yang ada di Kecamatan Wringin Anom yaitu merupakan salah satu jalan utama yang berbatasan langsung dengan
Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Mojokerto dan desa wringinanom bagian selatan dilalui oleh Kali Surabaya yang juga menjadi
pembatas dengan Sidoarjo. Sedangkan Permasalahan perumahan di Kecamatan Kedamean yaitu masih terkait dengan banjir yang
tiap tahun sering terjadi di beberapa desa. Hal ini terjadi akibat banyaknya kawasan industri yang mendominasi Kecamatan Wringin
Anom sehingga pengelolaan limbah yang tidak sesuai yang sering menyebabkan banjir di Kecamatan Wringin Anom. Terdapat
beberapa desa yang sering menjadi langganan banjir, yaitu Desa Kedunganyar, Desa Sumbrani, Desa Wringin Anom, Desa
Lebanisuko, Desa Lebaniwaras, Desa Sumengko, dan Desa Pasinan Lemah Putri.
Kondisinfrastruktur jalan

Driyorejo

Potensi perumahan di Kecamatan Driyorejo yaitu masih tersedia lahan perumahan yang cukup luas. Sedangkan permasalahan
yang sering terjadi pada permukiman formal di kawasan ini yakni di beberapa ruas jalan lingkungan perumahan berkondisi buruk,
rusak dan bergelombang. Permasalahan juga terdapat pada air bersih. Aliran air pada jaringan PDAM kurang lancar karena
disebabkan kurangnya debit air bersih yang tersedia untuk Kabupaten Gresik sangat terbatas. Perumahan di Kecamatan Driyorejo
telah memiliki MCK di setiap rumah dan saluran drainase untuk menampung air hujan dan air limbah rumah tangga. Namun untuk
sektor persampahan, warga perumahan membuang sampah mereka di lahan kosong, karena di perumahan yang mereka tempati
tidak tersedia TPS.

NO

KECAMATAN

PROFILPERMUKIMAN

3.

Kecamatan
Kedamean

Permasalahan perumahan di Kecamatan Kedamean yaitu masih terkait dengan banjir yang tiap tahun sering terjadi di beberapa
desa. Desa yang sering sekali menjadi kawasan yang sering terjadi banjir yaitu Desa Glindah dan Desa Cermen Lerek. Hal ini
mengakibatkan rusak jalan poros dan mengakibatkan tanggul putus yang mencapai 3-4 m.

Kecamatan
Menganti

Potensi perumahan di Kecamatan menganti yaitu masih tersedia lahan perumahan yang cukup luas. Sedangkan permasalahan
yang sering terjadi pada permukiman formal di kawasan ini yakni di beberapa ruas jalan lingkungan perumahan berkondisi buruk,
rusak dan bergelombang. Permasalahan juga terdapat pada air bersih. Aliran air pada jaringan PDAM kurang lancar karena
disebabkan kurangnya debit air bersih yang tersedia untuk Kabupaten Gresik sangat terbatas. Perumahan di Kecamatan Menganti
telah memiliki MCK di setiap rumah dan saluran drainase untuk menampung air hujan dan air limbah rumah tangga. Namun untuk
sektor persampahan, warga perumahan membuang sampah mereka di lahan kosong, karena di perumahan yang mereka tempati
tidak tersedia TPS.

NO

KECAMATAN

PROFILPERMUKIMAN

Kecamatan
Cerme

Potensi perumahan di Kecamatan Cerme yaitu masih tersedia lahan kosong untuk perumahan yang cukup luas. Permasalahan
terdapat pada air bersih. Aliran air pada jaringan PDAM kurang lancar karena disebabkan kurangnya debit air bersih yang tersedia
untuk Kabupaten Gresik sangat terbatas. Selain itu, terdapat Desa yang belum dialairi PDAM yakni Gedang Kulon. Perumahan di
Kecamatan Cerme telah memiliki MCK di setiap rumah dan saluran drainase untuk menampung airhujan dan air limbah rumah
tangga. Namun untuk sektor persampahan, warga perumahan membuang sampah mereka di lahan kosong dan disaluran drainase,
karena di perumahan yang mereka tempati tidak tersedia TPS. Selain itu, terdapat desa di Kecamatan Cerme yang sangat rawan
terjadi banjir yakni Desa Iker-iker, Desa Morowedi, Desa Pandu dan Desa Jono yang disebabkan oleh luapan Kali Lamong dan
juga karena kontur tanah.

Kecamatan
Benjeng

Potensi perumahan di Kecamatan Benjeng yaitu masih tersedia lahan perumahan yang cukup luas. Sedangkan permasalahan
yang sering terjadi pada permukiman formal di kawasan ini yakni di beberapa ruas jalan lingkungan perumahan berkondisi buruk,
rusak dan bergelombang. Permasalahan juga terdapat pada air bersih dimana hanya sebgaian kecil yang dilayani oleh PDAM.
Perumahan di Kecamatan Benjeng telah memiliki MCK di setiap rumah dan saluran drainase untuk menampung air hujan dan air
limbah rumah tangga. Namun untuk sektor persampahan, warga perumahan membuang sampah mereka di lahan kosong, karena
di perumahan yang mereka tempati tidak tersedia TPS. Selain itu Kecamatan benjeng merupakan kawasan rawan banjir akibat kali
lamong yang meluap.
9

NO

KECAMATAN

PROFILPERMUKIMAN

Kecamatan
Balongpanggang

Potensi perumahan di Kecamatan menganti yaitu masih tersedia lahan perumahan yang cukup luas. Sedangkan permasalahan
yang sering terjadi pada permukiman formal di kawasan ini yakni di beberapa ruas jalan lingkungan perumahan berkondisi buruk,
rusak dan bergelombang. Permasalahan di Kecamatan Balongpanggang merupakan kawasan banjir dan tidak memiliki system
drainase yang baik serta untuk sektor persampahan, warga perumahan membuang sampah mereka di lahan kosong, karena di
perumahan yang mereka tempati tidak tersedia TPS.

Kecamatan
Duduk
Sampeyan

Potensi perumahan di Kecamatan Duduk Sampean yaitu masih tersedia lahan perumahan yang cukup luas. Selain itu, masih
sangat minim rumah yang di kelola oleh developer. Sedangkan permasalahan yang sering terjadi pada permukiman formal di
kawasan ini yakni jalan yang sangat sempit yang hanya dapat dilalui kendaraan roda 2 yakni Di Desa Kramat yang
menghubungkan dengan DesaPejangganan (Kec. Manyar). Permasalahan juga terdapat pada air bersih. Aliran air pada jaringan
PDAM kurang lancar karena disebabkan kurangnya debit air bersih yang tersedia untuk Kabupaten Gresik sangat terbatas.
Kurangnya sarana pengelolaan persampahan sehingga banyak masyarakat yang membuang sampah di saluran drainase.

10

NO

KECAMATAN

PROFILPERMUKIMAN

Kecamatan
Kebomas

Potensi perumahan di Kecamatan Kebomas yaitu masih tersedia lahan perumahan yang dapat dikembangkan lagi sebagai
perumahan swadaya ataupun perumahan formal. Selain itu aksesibilitas menuju kawasan perumahan di Kecamatan Kebomas
sudah sangat terjangkau, dan kondisi jalan yang cukup baik dan juga kondisi persampahan yang sudah terdapat petugas sampah
dan TPS. Permasalahan juga terdapat pada air bersih. Aliran air pada jaringan PDAM kurang lancar karena disebabkan kurangnya
debit air bersih yang tersedia untuk Kabupaten Gresik sangat terbatas. Perumahan di Kecamatan Kebomas telah memiliki MCK di
setiap rumah dan saluran drainase untuk menampung air hujan dan air limbah rumah tangga. Namun masih juga terdapat MCK
yang digunakan secara komunal hal tersebut dapat diartikan masih ada kondisi perumahan yang belum sehat.

10

Kecamatan
Gresik

Potensi perumahan yang dimiliki Kecamatan Gresik adalah : Aksesibilitas perumahan di Kecamatan terbilang baik karena kondisi
jalan sudah berupa paving atau aspal. Sistem persampahan di Kecamatan Gresik sudah dilakukan dengan baik yaitu dengan
pengangkutan dari tiap rumah menuju TPS-TPS yang tersedia. Mayoritas masyarakat di Kecamatan Gresik telah memiliki MCK di
rumah masing-masing. Potensi perumahan yang dimiliki Kecamatan Gresik adalah : Aksesibilitas perumahan di Kecamatan
terbilang baik karena kondisi jalan sudah berupa paving atau aspal. Sistem persampahan di Kecamatan Gresik sudah dilakukan
dengan baik yaitu dengan pengangkutan dari tiap rumah menuju TPS-TPS yang tersedia. Mayoritas masyarakat di Kecamatan
Gresik telah memiliki MCK di rumah masing-masing.
11

NO

KECAMATAN

PROFILPERMUKIMAN

11

Kecamatan
Manyar

Potensi di Kecamatan Manyar adalah masih tersedia lahan kosong untuk pengembangan perumahan dan permukiman, seperti di
Desa Banyuwangi, Desa Betoyokauman, Desa Betoyoguci, Desa Sumberejo, Desa Beyotokauman, Desa Gumeno, dan Desa
Pejanggangan. Permasalahan yang ada di Kecamatan Manyar yaitu beberapa kawasan permukiman dekat dengan area industri
pabrik besar terutama di Desa Roomo, Desa Sukomulyo dan Desa Yosowilangun.

12

Kecamatan
Bungah

Potensi yang dapat dikembangkan adalah masih banyak tersedia lahan kosong yang dapat digunakan untuk mengembangkan
perumahan dan permukiman di Kecamatan Bungah. Sedangkan, permasalahan yang ada yaitu masih banyak warga yang tidak
memiliki jamban terutama di Pulau Mengare (Desa Kramat, Desa Watuagung dan Desa Tanjungwidoro), selain itu di pulau tersebut
masih banyak rumah yang semi permanen dan non permanen. Permasalahan lainnya adalah masih banyak warga desa di
Kecamatan Bungah yang memanfaatkan lahan kosong untuk dimanfaatkan sebagai tempat penampungan sampah sementara.
Pemanfaatan lahan kosong untuk tempat pembuangan sampah dapat merugikan bagi pemilik lahan, dan merusak keindahan
lingkungan sekitar.

12

NO

KECAMATAN

PROFILPERMUKIMAN

13

Kecamatan
Sidayu

Potensi perumahan di Kecamatan Sidayu yaitu masih tersedia lahan perumahan yang cukup luas. Permasalahan juga terdapat
pada air bersih. Aliran air pada jaringan PDAM kurang lancar karena disebabkan kurangnya debit air bersih yang tersedia untuk
Kabupaten Gresik sangat terbatas dan beberapa tercemar air laut. Perumahan di Kecamatan Sidayu telah memiliki MCK di setiap
rumah dan saluran drainase untuk menampung air hujan dan air limbah rumah tangga. Namun untuk sektor persampahan, warga
perumahan membuang sampah mereka di lahan kosong, karena di perumahan yang mereka tempati tidak tersedia TPS. Saluran
drainase pada kanan-kiri Jalan Raya Sidayu belum memiliki saluran drainase, ditakutkan nantinya dapat mengganggu kelancaran
jalan yang menghubungkan Kabupaten Gresik dengan Kabupaten Lamongan.

14

Kecamatan
Dukun

Potensi : di Kecamatan Dukun masih tersedia lahan kosong untuk dibangun perumahan dengan ukuran cukup luas. Sebagian
besar rumah sudah memiliki jamban dan septictank. Masalah : 1. sebagian jalan lingkungan di Desa Baron memiliki kondisi yang
buruk. 2. Tidak semua rumah memiliki tempat sampah. 3. System drainase yang tidak terawat sehingga akan menjadi sumber
masalah pada saat musim hujan.

13

NO

KECAMATAN

PROFILPERMUKIMAN

15

Kecamatan
Panceng

Potensi : 1. Masih tersedia lahan kosong yang cukup luas sehingga masih bisa dikembangkan untuk pembangunan ,2. Banyak
rumah yang sudah memiliki tempat sampah sendiri,3. Sebagian besar rumah sudah memiliki jamban dan septictank
Masalah : 1. Kondisi jalan di Desa Banyutengah bergelombang, 2. System persampahan yang masih tidak teratur, masih banyak
masyarakat yang membuang sampah di lahan kosong.

16

Kecamatan
Ujung Pangkah

Potensi perumahan di Kecamatan Ujungpangkah yaitu masih tersedia lahan perumahan yang cukup luas. Selain itu, jalan, air
bersih dan drainase yang sudah tersebar di seluruh kelurahan di Kecamatan Ujungpangkah juga menjadi potensi. Perumahan di
Kecamatan Ujungpangkah telah memiliki MCK di setiap rumah dan saluran drainase untuk menampung air hujan dan air limbah
rumah tangga. Namun untuk sektor persampahan, warga perumahan membuang sampah mereka di lahan kosong, karena di
perumahan yang mereka tempati tidak tersedia TPS.

14

NO

17

KECAMATAN

Kecamatan
Sangkapura

PROFILPERMUKIMAN

Potensi perumahan di Kecamatan Sangkapura yaitu masih tersedia lahan perumahan yang dapat dikembangkan lagi tetapi hanya
sebagai perumahan swadaya, tetapi perlu memperhatikan kelerengan dari sebagian desa yang berada pada daerah pegunungan.
Dengan penduduk yang ramah dan tradisi gotong royong yang sangat tinggi, peran serta masyarakat berpengaruh dalam
pembangunan yang ada di Kecamatan Sangkapura. Walau berada di Pulau Bawean, di dalam Kecamatan Sangkapura terdapat
kemudahan akses untuk melakukan pola pergerakan internal, yang dimana jalan yang ada disana sebagian telah di aspal dan di
paving, selain itu juga terdapat jalan yang di cor.
Perumahan di Kecamatan Sangkapura telah memiliki MCK hampir di setiap rumah dan saluran drainase untuk menampung air
hujan dan air limbah rumah tangga. Namun masih juga terdapat MCK yang digunakan secara komunal hal tersebut dapat diartikan
masih ada kondisi perumahan yang belum sehat. Selain itu perlu adanya perbaikan sistem persampahan yang selama ini masih
dengan cara dibakar, ditimbun dan dibuang ke sungai, sehingga dapat mencemari lingkungan setempat, dan juga penerangan jalan
umum di Kecamatan Sangkapura masih minim, sehingga pada saat pukul 18.00 WIB keatas daerah yang masih belum terjangkau
cukup sulit dilalui hanya dengan penerangan lampu kendaraan bermotor.

15

NO
KECAMATAN
18 Kecamatan
Tambak

PROFILPERMUKIMAN
Potensi perumahan yang dimiliki Kecamatan Tambak adalah : a. Aksesibilitas perumahan di Kecamatan terbilang baik karena
kondisi jalan sudah berupa jalan cor atau paving,b. Walaupun tidak terlayani oleh distribusi PDAM, namun masyarakat Kecamatan
Tambak tidak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air bersih karena terdapat aliran air pegunungan dan sumber air sumur galian
yang kondisinya baik sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.,c. Lahan yang tersedia pada Kecamatan Tambak sangat luas
dan kepadatan penduduknya rendah.,d. Pada Kecamatan Tambak tidak terdapat perumahan kumuh dan tidak terdapat
kesenjangan sosial yang signifikan antar perumahan yang terdapat pada Kecamatan Tambak.
Permasalahan perumahan yang dimiliki Kecamatan Tambak adalah : a. Belum adanya sistem pengelolaan sampah yang terpadu.
Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan menyebabkan masih banyaknya masyarakat yang masih membuang
sampah di sungai atau laut. Selain itu, tidak tersedianya TPS menyebabkan masyarakat menimbun sampah pada lahan yang tidak
seharusnya atau membakar sampah yang juga dapat merusak lingkungan. b. Sebagian besar jalan di Kecamatan Tambak tidak
dilengkapi dengan penerangan jalan umum sehingga penerangan jalan hanya bergantung pada lampu-lampu rumah yang berada
di tepi jalan. Hal ini dapat membahayakan pengguna jalan apabila melintasi jalan yang berada di kawasan yang tidak terdapat
rumah pada malam hari karena tidak ada penerangan sama sekali.

16

E.

ANALISA DAN PROYEKSI

1)

Proyeksi Dan Analisis Kependudukan


Berdasarkan perhitungan, hasil prediksi jumlah penduduk di Kabupaten Gresik pada

tahun akhir perencanaan (tahun 2035) adalah sebesar 10.784.784 jiwa, dengan Kecamatan
Cermen merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk paling banyak yakni sebesar
1.726.198 jiwa, sedangkan Kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit adalah
Kecamatan Gresik yakni sebesar 229.043 jiwa pada akhir tahun perencanaan.
2)

Analisis Pola Migrasi dan Pergerakan


Pada wilayah Kabupaten Gresik, proporsi penduduk pendatang dan penduduk pindah

adalah 53% dan 47%.


Tabel Proyeksi Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2)
Kabupaten Gresik 2016 2035

Kecamatan

Wringinanom
Driyorejo
Kedamean
Menganti
Cerme
Benjeng
Balongpanggang
Duduksampeyan
Kebomas
Gresik
Manyar
Bungah
Sidayu
Dukun
Panceng
Ujungpangkah
Sangkapura
Tambak

Jumlah

Jumlah
Penduduk

70734
102213
61117
118888
78066
66157
59576
51257
101526
93659
108784
66200
42915
68368
51685
50463
74970
41417

1307995

Jumlah
Penduduk
Datang
2470
4949
0
1572
1016
240
198
563
2651
1446
2013
401
365
405
243
55
144
18731

Jumlah
Penduduk
Pindah
2741
5015
0
1205
453
456
183
453
1494
1021
362
305
395
273
165
62
14583

Prosentase
Pendatang terhadap
Jumlah Total
Penduduk (%)

3.49%
4.84%
0.00%
1.32%
1.30%
0.36%
0.33%
1.10%
2.61%
1.54%
1.85%
0.61%
0.85%
0.00%
0.78%
0.48%
0.07%
0.35%
1.22%

Sumber: Hasil Analisis, 2015

3)

Proyeksi dan Analisis Kebutuhan Rumah

Proyeksi Kebutuhan Rumah


Dalam penyusunan RP3KP ini, dilakukan survey data dasar Kabupaten Gresik di
seluruh wilayah kelurahan/desa yang meliputi luas wilayah, jumlah penduduk, jumlah rumah
tangga dan jumlah rumah. Hasil survey menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 2015,
dengan total luas wilayah 7,255.99 Ha Kabupaten Gresik memiliki total penduduk sebesar
1.324.777 jiwa. Sehingga didapatkan angka kepadatan penduduk sebesar 1,975 jiwa/ha
untuk seluruh wilayah Kabupaten Gresik. Kemudian dengan jumlah keluarga/rumah tangga
17

sebesar 321,926 KK dan jumlah rumah sebesar 256,603 maka dapat diketahui nilai
household sebesar 1.30 KK/rumah dan nilai kepadatan hunian rumah sebesar 5.51
jiwa/rumah.
Berdasarkan hasil proyeksi, didapatkan hasil proyeksi bahwa jumlah kebutuhan rumah
di Kabupaten Gresik pada kurun waktu 5 tahun perencanaan (tahun 2020) sebesar 550,190
unit, pada kurun waktu 10 tahun perencanaan (tahun 2025) sebesar 829,327 unit, pada
kurun waktu 15 tahun perencanaan (tahun 2030) sebesar 1,265,789 unit dan pada kurun
waktu 20 tahun perencanaanatau akhir tahun perencanaan (tahun 2035)1,957,311 unit.
Tabel. Data Dasar Kabupaten Gresik Tahun 2015

NO

Kecamatan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Wringinanom
Driyorejo
Kedamean
Menganti
Cerme
Benjeng
Balongpanggang
Duduksampeyan
Kebomas
Gresik
Manyar
Bungah
Sidayu
Dukun
Panceng
Ujungpangkah
Sangkapura
Tambak

Luas
Wilayah
(Ha)
62.62
51.30
65.96
68.71
71.73
6,126.00
63.88
74.29
30.06
5.54
95.42
79.49
47.13
59.03
62.59
94.82
118.72
78.70

Jumlah
Penduduk
(jiwa)

72,589
103,731
62,255
120,880
78,968
66,698
59,700
51,835
102,851
93,335
110,165
67,123
43,444
68,954
52,437
50,971
76,741
42,100
1,324,777
Sumber: Hasil Survey dan Analisis, 2015

Jumlah
keluarga
(KK)
19,081
27,710
18,259
28,574
19,619
14,010
12,851
12,211
26,690
25,456
26,436
16,363
10,638
18,077
13,196
13,457
12,753
6,545
321,926

Jumlah
Rumah
(unit)

Kepadatan
Penduduk
(jiwa/ha)

Household
(KK/rumah)

19,212
23,229
14,400
27,116
21,096
6,112
12,134
10,617
18,461
16,255
15,244
13,336
8,585
12,762
10,383
8,827
12,521
6,313
256,603

1,159
2,022
944
1,759
1,101
11
935
698
3,422
16,847
1,155
844
922
1,168
838
538
646
535
1,975

0.99
1.19
1.27
1.05
0.93
2.29
1.06
1.15
1.45
1.57
1.73
1.23
1.24
1.42
1.27
1.52
1.02
1.04
1.30

Kepadata
hunian
rumah
(jiwa/ruma
3.
4.
4.
4.
3.
10.
4.
4.
5.
5.
7.
5.
5.
5.
5.
5.
6.
6.
5.

Proyeksi kebutuhan rumah tersebut sangat fluktuatif di seluruh wilayah kecamatan


dimana akan dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan ekonomi, transportasi, perbaikan
infrastruktur, pertumbuhan penduduk, luas dan posisi wilayah dan sebagainya. Wilayah
kecamatan dengan kebutuhan rumah tertinggi hingga tahun 2035 secara berturut-turut
terdapat di Kecamatan Cerme (313,285 unit), Kecamatan Kebomas (174,236 unit),
Kecamatan Menganti (142,781 unit) dan Kecamatan Wringinanom (142,781 unit).Sedangkan
wilayah kecamatan dengan kebutuhan rumah terendah hingga tahun 2035 secara berturutturut terdapat di Kecamatan Gresik (41,569 unit), Kecamatan Balongpanggang (51,309 unit),
Kecamatan Dudusampean (63,206 unit) dan Kecamatan Sedati (63,206 unit).
Terjadi kondisi yang unik bahwa Kecamatan Gresik yang merupakan ibukota
kabupaten justru memiliki tingkat kebutuhan rumah yang terendah. Hal ini dipengaruhi oleh
luas wilayah Kecamatan Gresik yang sangat kecil (hanya 5,54 Ha) dan tingkat kepadatan
18

penduduk yang sudah sangat tinggi (16,847 jiwa/ha), sehingga secara daya dukung wilayah
sudah tidak memungkinkan untuk penambahan pengembangan perumahan dan kawasan
permukiman.
Analisis Surplus dan Backlog Rumah
Berdasarkan hasil analisis dan proyeksi, dalam dua puluh tahun kedepan (tahun 2035),
Kabupaten Gresik mengalami backlog perumahan sebesar 1,700,708 unit rumah. Meskipun
begitu, masih terdapat 2 wilayah kecamatan yang justru masih surplus rumah, yaitu
Kecamatan Driyorejo yang surplus rumah sebesar 514 unit sampai tahun 2016. Setelah itu,
tahun 2017 baru backlog sebesar 1,530 unit. Kecamatan lainnya adalah Menganti yang pada
tahun 2017 diproyeksikan masih backlog sebesar 1.436 unit. Setelah itu, tahun 2018 mulai
backlog sebesar 1.436 unit.

Gambar 5.4. Grafik Backlog Rumah Kabupaten Gresik s/d Tahun 2035
(Sumber: Hasil Survey dan Analisis, 2015)

Wilayah kecamatan dengan jumlah backlog tertinggi secara berturut-turut adalah


Kecamatan Cerme sebesar 292,189 unit rumah, Kecamatan Kebomas sebesar 155,775 unit
rumah, Kecamatan Wringinanom sebesar 123,569 unit rumah dan Kecamatan Menganti
sebesar 115.665 unit rumah. Yang perlu digarisbawahi aadalah hasil analisis backlog rumah
di atas baru berdasarkan ketersediaan rumah dengan type landed housing (rumah
horisontal) yang ada di Kabupaten Gresik. Jadi belum diperhitungkan ketersediaan unit
rumah susun sederhana sewa dan perumahan formal di seluruh Kabupaten Gresik,
mengingat hambatan ketersediaan data.
4)

ANALISIS KETERSEDIAAN LAHAN PERUMAHAN

Perhitungan Ketersediaan Lahan Perumahan


19

Hasil proyeksi kebutuhan lahan permukiman di seluruh wilayah Kabupaten Gresik


untuk dua puluh tahun kedepan (sampai dengan tahun 2035) seluas 56,561.10 Ha. Angka ini
didapatkan dari hasil proyeksi kebutuhan lahan perumahan yang diasumsikan sebesar 70%
(yaitu 39,592.77 ha) ditambah proyeksi kebutuhan lahan untuk PSU yang diasumsikan
sebesar 30% (yaitu 16,963.33). Asumsi untuk komposisi lahan perumahan dan PSU
berdasarkan Peraturan Kementerian Perumahan Rakyat Nomor 11 Tahun 2008 tentang
Pedoman Keserasian Kawasan, dengan mengambil nilai paling minimal. Sedangkan untuk
proyeksi kebutuhan lahan permukiman (perumahan dan PSU) per lima tahun disajikan
dalam tabel berikut ini.
Tabel. Komposisi Pengaturan Lahan pada Kawasan Perumahan
No
Kecamatan
1
Wringinanom
2
Driyorejo
3
Kedamean
4
Menganti
5
Cerme
6
Benjeng
7
Balongpanggang
8
Duduksampeyan
9
Kebomas
10
Gresik
11
Manyar
12
Bungah
13
Sidayu
14
Dukun
15
Panceng
16
Ujungpangkah
17
Sangkapura
18
Tambak
Total Kebutuhan Lahan Permukiman
(Perumahan + PSU) - Ha
Alokasi Lahan permukiman dalam
RTRW Kab Gresik (ha)
Defisit atau Surplus lahan
permukiman (ha)
Sumber: Hasil Analisis, 2015

2016
659.44
674.90
636.44
689.90
708.34
640.41
624.85
615.20
685.17
690.41
679.72
636.40
604.51
642.42
620.74
626.35
654.65
609.71

2020
965.49
952.67
865.86
1,010.08
1,196.35
871.27
759.51
776.68
1,040.14
807.69
959.48
834.19
763.18
874.01
813.66
852.14
924.09
799.21

2025
1,554.93
1,465.80
1,272.24
1,626.75
2,303.48
1,280.18
969.35
1,039.37
1,752.69
982.67
1,476.28
1,170.00
1,021.30
1,284.21
1,141.20
1,252.08
1,421.83
1,120.93

2030
2,504.23
2,255.31
1,869.34
4,219.36
4,435.15
1,881.00
1,237.17
1,390.92
2,953.39
1,195.57
2,271.44
1,640.98
1,877.97
1,886.92
1,600.59
1,839.71
2,187.65
1,572.16

2035
4,033.09
3,470.08
2,746.67
4,219.36
8,539.50
2,763.80
1,578.98
1,861.36
4,976.63
1,454.60
3,494.90
2,301.56
1,829.00
2,772.51
2,244.91
2,703.14
3,365.98
2,205.04

11,700

16,066

24,135

38,819

56,561

25,953

25,953

25,953

25,953

25,953

-14,254

-9,888

-1,818

12,865

30,608

Telah disebutkan sebelumnya bahwa alokasi luasan lahan seluruh jenis perumahan
dan permukiman dalam RTRW Kabupaten Gresik Tahun 2010-2030 sebesar 25,953.39
hektar.Dengan membandingkan angka kebutuhan dan alokasinya, maka didapatkan defisit
atau surplus lahan permukiman. Untuk Kabupaten Gresik, tahun 2016 masih surplus lahan
permukiman sebesar 14.254 Ha, tahun 2020 masih surplus sebesar 9.888 Ha dan tahun
2025 masih surplus sebesar 1.818 Ha. Sedangkan setelah itu mulai terjadi defisit lahan
permukiman, pada tahun 2030 sebesar 12.866 Ha dan pada akhir tahun perencanaan
(2035) angka defisit sebesar 30.608 Ha.

20

Pola Pemanfaatan Lahan Perumahan


Dalam pembangunan perumahan formal, ketentuan penyediaan lahan PSU telah
diatur komposisi penyediaan lahannya seperti yang ditetapkan dalam Permenpera Nomor 11
Tahun 2008 tentang Pedoman Keserasian Kawasan Perumahan dan Permukiman. Dimana
untuk luasan lahan perumahan 25 Ha maka perlu membagi pola lahan menjadi 70% lahan
efektif dan 30% lahan PSU, kemudian untuk luasan lahan perumahan 25-100 Ha, polanya
terdiri dari 60% lahan efektif dan 40% lahan PSU, terakhir untuk luasan lahan perumahan
100Ha polanya adalah 55% lahan efektif dan 45% lahan PSU. Akan tetap kewajiban
penyediaan PSU, terutama untuk area RTH bukan hanya kewajiban bagi pengembang
perumahan formal. Begitupun dengan rencana pembangunan rumah swadaya, dalam
pengajuan IMB-nya harus memenuhi persyaratan seperti (10% RTH privat/pekarangan, KDB,
KLB, dan sebagainya). Hal ini selain untuk menciptakan rumah yang sehat dan layak huni,
juga dalam rangka membantu pemenuhan 30% RTH wilayah dan penyediaan PSU yang telah
dipersyaratkan.

A.

POTENSI DAN PERMASALAHAN


POTENSI PENGEMBANGAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN
Potensi

pengembangan

perumahan dan permukiman di

Kabupaten Gresik

diantaranya adalah :
1. Banyaknya pengembangan permukiman formal oleh developer serta terdapat
bebeapa lahan kosong yang sudah berada di bawah kekuasaan developer
2. Masih tersedianya banyak lahan yang dapat dikembangkan sebagai kawasan
perumahan swadaya maupun perumahan formal
PERMASALAHAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN
1. Konversi lahan pertanian menjadi kawasan perumahan dan permukiman. Kondisi
ini perlu mendapatkan perhatian karena dapat mengganggu ketahanan pangan
wilayah Kabupaten Gresik
2. Beberapa wilayah kecamatan merupakan wilayah rawan bencana terutama
wilayah yang memiliki kelerengan hingga 15% dan ketinggian kurang dari 25 mdpl
yang berpotensi terjadi tanah longsor, seperti Kecamatan Panceng, Kecamatan
Ujungpangkah, Kecamatan Kebomas, Kecamatan Manyar dan Kecamatan
Kedamean
3. Kecenderungan pembangunan perumahan mengikuti pola jaringan jalan yang
bertujuan memudahkan akses menuju Kota Gresik. Kondisi ini menimbulkan

21

permasalahan tersendiri yaitu pembangunan perumahan menggeser lahan


produktivitas tinggi yang berada di pusat kota
4. Kurangnya

perhatian

terhadap

pengembangan

kawasan

perumahan

dan

permukiman tradisional atau bersejarah khususnya di kawasan Kota Gresik Lama


5. Untuk permasalahan pada sarana dan prasarana dasar perumahan diantaranya
adalah : buruknya kondisi jalan berupa jalan lingkungan sebagai aksesibilitas
penduduk menuju kawasan perumahan dan permukiman, kondisi jaringan air
bersih kurang baik karena tidak semua rumah dilayani oleh PDAM
6. Belum adanya sistem pengelolaan sampah yang terpadu. Kurangnya kepedulian
masyarakat terhadap lingkungan menyebabkan masih banyaknya masyarakat
yang masih membuang sampah di sungai. Selain itu, tidak tersedianya TPS
menyebabkan masyarakat menimbun sampah pada lahan yang tidak seharusnya
atau membakar sampah yang juga dapat merusak lingkungan. Selain itu,
buruknya saluran drainase di kawasan perumahan dan permukiman seperti
saluran mampet dan tertimbun sampah bercampur tanah.

22