Anda di halaman 1dari 10

Promotif, Vol.5 No.

1, Okt 2015 Hal 17-26

Artikel III

PERILAKU KESEHATAN MASYARAKAT TERHADAP PENGGUNAAN SANITASI


LINGKUNGAN DI KELURAHAN SARONGSONG II KECAMATAN AIRMADIDI
KABUPATEN MINAHASA UTARA
1)

Sulaemana Engkeng

1)

FKM Universitas Sam Ratulangi Manado

ABSTRAK
Latar Belakang : Sanitasi lingkungan adalah usaha untuk mengendalikan semua
faktor-faktor fisik manusia yang dapat menimbulkan hal-hal yang merugikan bagi
perkembangan fisik, kesehatan dan ketahanan hidupnya. Masyarakat Sarongsong II
dalam mewujudkan perilaku sehat, bersih dan memiliki derajat kesehatan yang
optimal. Untuk itu perlu diciptakan kondisi lingkungan yang kondusif bagi terciptanya
keadaan sehat, yang dapat diupayakan melalui peningkatan kualitas sarana sanitasi
lingkungan seperti penyediaan air bersih , pembuangan tinja, saluran pembuangan air
limbah. Tujuan Penelitian : menggambarkan kondisi perilaku kesehatan masyarakat
terhadap penggunaan sanitasi lingkungan di kelurahan Sarongsong II Kecamatan
Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara . Metode Penelititan : Jenis penelitian Study
Observasional dan pendekatan deskriptif dengan bantuan kuesioner. Penulis hanya
membatasi mengenai : penyediaan air bersih, pembuangan tinja dan saluran
pembuangan air limbah. Sampel : Fasilitas sanitasi lingkungan di gunakan oleh warga
kelurahan Sarongsong II,. Hasil Penelitian : Masyarakat di kelurahan Sarongsong II
ditemukan bahwa sumber utama air bersih sebanyak (65%) pemakaian utama air
bersih yaitu sumur dan yang terkecil adalah air ledeng yaitu (6.9%). Sarana
pembuangan tinja terhadap kepemilikan Jamban sebanyak (94.6%) sudah memiliki
jamban sendiri dan masih terdapat (5.4%) yang belum memiliki jamban sendiri.
Sedangkan saluran pembuangan air limbah tangga sebanyak(54.2%) membuang air
limbah rumah tangga di permukaan tanah dan terdapat(1.1%) menggunakan sistem
penyalur tertutup. Kesimpulan : Keadaan penyediaan air besar dalam keadaan baik
atau memenuhi syarat. Begitupula dengan sarana pembuangan tinja atau jamban
sebagian besar memenuhi syarat. Sedangkan sarana pembuangan air limbah
sebagian besar tidak memenuhi syarat . Perlu diadakan perbaikan-perbaikan pada
beberapa sarana yang tidak memenuhi syarat dan untuk sarana yang sudah baik agar
tetap dipelihara. Saran : Perlu penambahan jenis jamban leher angsa di Kelurahan
Sarongsong, Kondisi saluran pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat perlu
mendapat perhatian khusus dalam proses pembuatan SPAL.
Kata Kunci : Penyediaan air bersih, Pembuangan tinja, Saluran pembuangan air limbah

PENDAHULUHAN

adalah cara pandang, pola pikir atau


model pembangunan kesehatan yang
bersifat
holistik,
melihat
masalah
kesehatan yang dipengaruhi banyak
faktor yang bersifat lintas sektor yang
upayanya
lebih
diarahkan
pada

Memasuki
era
millennium
baru
Pemerintah
Indonesia
telah
mencanangkan gerakan pembangunan
berwawasan kesehatan yang dilandasi
paradigma sehat. Paradigma sehat
17

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 17-26

Artikel III

peningkatan,
pemeliharaan
dan
perlindungan kesehatan.
Salah satu strategi pembangunan
kesehatan nasional dalam rangka
menuju Indonesia Sehat 2010 adalah
menerapkan pembangunan kesehatan
yang berwawasan kesehatan artinya
setiap upaya program berdampak positif
dalam membentuk perilaku sehat dan
lingkungan sehat.
Seiring dengan cepatnya berkembang
dalam era globalisasi serta adanya
transisi demografi dan epidemiologi
penyakit, maka masalah penyakit akibat
perilaku dan perubahan gaya hidup yang
berkaitan dengan perilaku dan sosial
budaya
cenderung
akan
semakin
kompleks. Perbaikannya tidak hanya
dilakukan
pada
aspek
pelayanan
kesehatan, perbaikan pada lingkungan
dan merekayasa kependudukan atau
faktor
keturunan,
tetapi
perlu
memperhatikan faktor perilaku kesehatan
masyarakat yang berkaitan dengan
aspek sanitasi lingkungan terutama
pengelolaan air limbah , penggunaan air
bersih dan sampah. Mengingat dampak
dari perilaku terhadap derajat kesehatan
cukup besar, maka diperlukan berbagai
upaya untuk mengubah perilaku yang
tidak sehat menjadi sehat.
Sanitasi lingkungan adalah usaha untuk
mengendalikan dari semua faktor-faktor
fisik manusia yang menimbulkan hal-hal
yang merugikan bagi perkembangan
fisik, kesehatan dan ketahan hidupnya.
Jadi
sanitasi
lingkungan
lebih
menekankan
pada
pengawasan
pengendalian faktor hidup.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
mengestimasi bahwa lebih dari 2 milliar
orang membutuhkan sanitasi yang baik
hingga Tahun 2015. Dalam hal ini
perbaikan sanitasi lingkungan dan
penyediaan air bersih dapat mengurangi
5000 kematian tiap hari karena diare dan
serangan
penyakit
infeksi
akibat
buruknya sanitasi, serta rendahnya
pendapatan ekonomi.

Departemen Kesehatan RI menyebutkan


bahwa Kebutuhan sanitasi dasar harus
mampu memenuhi lebih dari 138 juta
orang pertahun hingga 2015,
untuk
mengurangi jumlah orang yang hidup
tanpa sanitasi dan air bersih hingga
separuhnya. (www. Depkes.com).
Kepala
Keluarga
di
Kelurahan
Sarongsong II berjumlah 713 KK
(Monografi Kelurahan Sarongsong II,
2011) dan seluruh populasi yang
menurut kriteria dijadikan subjek dalam
pengambilan data. Keadaan Demografi
Kelurahan Sarongsong II memiliki jumlah
penduduk sebesar 2901 jiwa yang terdiri
dari:
Laki-laki: 1371 jiwa dan
Perempuan : 1530 jiwa, dimana jumlah
penduduk/KK di setiap lingkungan adalah
sebagai berikut: Lingkungan I: 374/78,
Lingkungan II : 464/142 ,Lingkungan III :
365/111, Lingkungan IV :
498/124
Lingkungan V: 178/49 , Lingkungan VI :
342/94 dan Lingkungan VII
:
680/115.
Perincian
Penduduk
Kelurahan
Sarongsong II, jumlah penduduk yang
paling banyak berada di lingkungan VII
dengan jumlah KK 115 dari total 713 KK
yang ada di Kelurahan Sarongsong II,
dengan jumlah penduduk 680 jiwa yang
terdiri dari laki-laki sejumlah 230 jiwa dan
jumlah perempuan sejumlah 450 jiwa
dari total penduduk yang ada yaitu
sebanyak
2901
jiwa.
Sedangkan
lingkungan yang jumlah penduduknya
paling sedikit adalah lingkungan V
dengan jumlah KK sebanyak 49 KK
dengan jumlah penduduk laki-laki
sejumlah 90 jiwa dan perempuan
sejumlah 88 jiwa. Jumlah penduduk yang
mempunyai mata pencaharian sebanyak
604 orang, yang terdiri atas: buruh
tani:130 ,petani: 250 Pemilik usaha
pertanian:3, Tukang kayu 98, Montir :75
Tukang sumur : 5 Tukang jahi: 9 ,
Tukang kue 11, Tukang rias 2, Pengrajin
industri rumah tangga :2, Karyawan
swasta : 17,
dan 2 Karyawan di
perusahaan
pemerintah.
(Profil
18

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 17-26

Artikel III

Kelurahan Sarongsong II Kecamatan


Airmadidi. 2011)
Berbagai isu sentral mengenai masalah
lingkungan hampir dapat dipastikan akan
terus mewarnai kehidupan manusia.
Masalah lingkungan hidup tampaknya
masih mendapat kata kunci dalam
beberapa dekade terakhir ini. Masalah
lingkungan yang dihadapi Indonesia saat
ini adalah rendahnya sanitasi lingkungan
terutama masalah, penyedian air bersih
pembuangan air kotoran (tinja) manusia
dan saluran pembuangan air limbah
(SPAL).
Selain pembuangan tinja, penyediaan air
minum yang tidak memenuhi syarat dan
kecenderungan masyarakat baik di
daerah pedesaan maupun perkotaan
dalam membuang limbahnya ke sungai
telah menjadi adat kebiasaan juga
merupakan masalah sanitasi yang perlu
mendapat perhatian.
Buruknya
sanitasi
lingkungan
menimbulkan berbagai penyakit seperti
wabah diare, disentri serta berbagai
macam penyakit kulit. Masyarakat di
kelurahan Sarongsong II
diharapkan
dapat berperan dalam mewujudkan
terciptanya perlaku sehat dan memiliki
derajat kesehatan yang optimal. Untuk itu
perlu diciptakan lingkungan masyarakat
yang kondusif bagi terciptanya keadaan
sehat, yang dapat diupayakan melalui
peningkatan
kesehatan
terhadap
penggunaan
sanitasi
lingkungan.
(Nahdawati, 2001). Berdasarkan latar
belakang, maka penulis tertarik untuk
meneliti tentang perilaku kesehatan
masyarakat
terhadap
penggunaan
sanitasi
lingkungan
di
kelurahan
Sarongsong II Kecamatan Airmadidi
Kabupaten Minahasa Utara.

Populasi penelitian adalah semua


masyarakat di kelurahan sarongsong II
dan Sampel penelitian adalah fasilitas
sanitasi lingkungan yang digunakan oleh
warga
Kelurahan
Sarongsong
II
Kecamatan
Airmadidi
Kabupaten
Minahasa Utara. Data primer dalam
penelitian
ini
diperoleh
dengan
melakukan observasi atau pengamatan
langsung
oleh
peneliti
dengan
menggunakan
kuesioner
terhadap
kondisi sanitasi lingkungan yang meliputi
: penyediaan air bersih, pembuangan
tinja, saluran pembuangan air limbah
dan data sekunder diperoleh dari
wawancara
dengan
menggunakan
kuesioner
Kegiatan dalam proses
pengolahan data yaitu : memeriksa data
(Editing), pemberian kode (coding),
menyusun data (tabulating), mengolah
data dan menarik kesimpulan dan
analisa data dilakukan secara deskriptif
dan di tampilkan dalam bentuk tabel dan
narasi.
HASIL
Kelurahan Sarongsong II terdiri dari VII
lingkungan dengan jumlah KK adalah
713 KK dan jumlah penduduk adalah
2901 jiwa. Dan untuk Posko Sarongsong
II kami hanya melakukan survei dan
pendataan pada 260 KK (dari total KK
yang ada) yang ditentukan dengan
metode systematic random sampling.
Dimana jumlah KK yang diambil di
lingkungan
I
berjumlah
29
KK,
lingkungan II 52 KK, lingkungan III 40
KK, lingkungan IV 45 KK, lingkungan V
18 KK, lingkungan VI 34 KK, dan
lingkungan VII 42 KK. Setelah dilakukan
pendataan melalui wawancara dengan
menggunakan
kuesioner
yang
berlangsung selama bulan Juli
September 2012 dan disajikan dalam
bentuk dan narasi . Dari hasil
pengolahan
data
yang
dilakukan,
disajikan sebagai berikut:
1. Penyediaan Air Bersih
1.1 Sumber Utama Air Bersih

BAHAN DAN METODE


Jenis penelitian yang digunakan adalah
Study Observasional dengan rancangan
penelitian deskriptif. Penelitian
ini
direncanakan
akan dilakukan
di
kelurahan Sarongsong II Kecamatan
Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara.
19

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 17-26

Artikel III

Tabel 1. Distribusi Sumber Utama Air Bersih di Kelurahan Sarongsong


Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara
Lingkungan

Sumber Utama Air Bersih

34

13.1

31

14

169

65

24

39

15

11

18

6.9

52

40

45

18

34

42

260

100

II

III

IV

VI

VII

Air ledeng

17

Sumur

28

38

12

35

11

Sungai

Mata air

Air hujan

Lainnya

Total

29

Berdasarkan Tabel 1, Distribusi Sumber


Utama Air Bersih, penduduk di
Kelurahan Sarongsong II sebanyak 169
KK (65%) pemakaian utama air bersih

yaitu Sumur dan yang terkecil adalah air


ledeng yaitu 18 KK (6.9%).
1.2

Status

Kepemilikan

Sumur

Tabel 2. Distribusi Status Kepemilikan Sumur di Kelurahan Sarongsong


Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara
Lingkungan

Status Kepemilikan Sumur

131

50.4

11

31

11.9

25

98

37.7

18

34

42

260

100

II

III

IV

VI

VII

Milik sendiri

24

41

18

13

21

Milik orang lain

Umum

22

29

Total

29

52

40

45

Berdasarkan Tabel 2,Distribusi Status


Kepemilikan
Sumur,
penduduk
Kelurahan Sarongsong II sebanyak 131
KK (50.4%) memiliki sumur sendiri dan
sebanyak 31 KK (11.9%) yang memiliki

status kepemilikan sumur milik orang


lain.

1.3 Kemudahan Memperoleh Air

20

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 17-26

Artikel III

Tabel 3. Distribusi Kemudahan Memperoleh Air di Kelurahan Sarongsong


Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara
Kemudahan

Lingkungan

26

220

84.6

16

29

10.4

0.8

11

4.2

45

18

34

42

260

100

Memperoleh Air

II

III

IV

VI

VII

Ya

29

51

30

40

15

29

SulitDimusim Kemarau

Sulit Sepanjang Tahun

Lainnya

10

Total

29

52

40

Berdasarkan
Tabel
3,
Distribusi
Kemudahan Memperoleh Air, penduduk
di Kelurahan Sarongsong II sebanyak
220 KK (84.6%) mudah memperoleh air
dan terdapat 29 KK (10.4%)
yang
kesulitan memperoleh air dimusim
kemarau.

1.4 Kualitas Fisik Air


Tabel 4. Distribusi Kualitas Fisik
Air di Kelurahan Sarongsong
Kecamatan Airmadidi
Kabupaten Minahasa Utara

Lingkungan

Kualitas Fisik Air

251

96.5

0.8

2.7

34

42

260

100

II

III

IV

VI

VII

Baik

29

50

38

45

17

32

40

Tidak Baik Sepanjang Tahun

Kadang-Kadang Tidak Baik

Total

29

52

40

45

18

Berdasarkan Tabel 4, Distribusi Kualitas


Fisik Air, penduduk di Kelurahan
Sarongsong II sebanyak 251 KK (96.5%)
memiliki kualitas fisik air baik dan
terdapat 2 KK (0.8%) memiliki kualitas

fisik air yang tidak baik disepanjang


tahun.
2. Pembuangan Tinja
2.1 Tempat Buang

21

Air

Besar

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 17-26

Artikel III

Tabel 5. Distribusi Keluarga Berdasarkan Tempat Anggota Rumah Tangga


Buang Air Besar di Kelurahan Sarongsong Kecamatan Airmadidi
Kabupaten Minahasa Utara
Lingkungan

Tempat Buang Air Besar

252

96.
9

1.9

1.2

18

34

42

260

100

II

III

IV

VI

VII

Jamban

28

51

40

41

17

33

42

Sungai

Kebun

Sembarang

Tidak Menjawab

Total

29

52

40

45

Berdasarkan Tabel 5, Distribusi Keluarga


Berdasarkan Tempat AnggotaRumah
Tangga Membuang Air Besar,penduduk
Kelurahan Sarongsong II sebanyak 252
KK (96.9%) membuang air besar di

jamban dan terdapat 5 KK (1.9%) yang


membuang air besar di kebun.
2.2

Kepemilikan

Jamban

Tabel 6. Distribusi Keluarga Berdasarkan Kepemilikan Jamban di Kelurahan


Sarongsong Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara
Lingkungan

Kepemilikan Jamban

40

246

94.
6

14

5.4

34

42

260

100

II

III

IV

VI

VII

Ya

28

47

38

42

18

33

Tidak

Total

29

52

40

45

18

Berdasarkan Tabel 6,Distribusi Keluarga


Berdasarkan
Kepemilikan
Jamban,
penduduk di Kelurahan Sarongsong II
sebanyak 246 KK (94.6%)
sudah

memiliki jamban sendiri dan masih


terdapat 14 KK (5.4%) yang belum
memiliki jamban sendiri.

22

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 17-26

Artikel III

2.3 Jenis Jamban


Tabel 7 Distribusi Jenis Jamban di Kelurahan Sarongsong Kecamatan
Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara
Lingkungan

Jenis Jamban

29
1

234
3

90
1.2

12

23

8.8

18

34

42

0
10
0

II

III

IV

VI

VII

Leher angsa
Cubluk

27
0

49
1

40
0

44
0

17
0

28
1

Cemplung

Tidak Menjawab

Total

29

52

40

45

Berdasarkan Tabel 7, Distribusi Jenis


Jamban,
penduduk
Kelurahan
Sarongsong
II sebanyak 234 KK
(90%)memiliki jenis jamban leher angsa

260

dan terdapat 3 KK (1.2%) memiliki jenis


jamban cubluk.
2.4
penampungan/Pembuangan

Sistem
Tinja

Tabel 8. Distribusi Sistem Penampungan/Pembuangan Tinja Yang Digunakan


di Kelurahan Sarongsong Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara
Lingkungan

Sistem Penampungan/
Pembuangan Tinja

II

III

IV

VI

VII

Septic Tank yang Dibuat Kedap

27

48

40

44

17

25

29

230

13

28

88.
4
10.
8
0.8

Tidak Menjawab

Total

29

52

40

45

18

34

42

260

100

Lubang yang Digalih Tanpa


Diplester
Langsung Dialirkan Ke Sungai

Berdasarkan Tabel 8, Distribusi Sistem


Penampungan/Pembuangan
Tinja,
penduduk di Kelurahan Sarongsong II
sebanyak 230 KK (88.4%) sistem

penampungan/pembuangan tinja yang


digunakan adalah septic tank yang
dibuat kedap dan 2 KK (0.8%) langsung
dialirkan ke sungai.

23

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 17-26

Artikel III

3. Saluran Pembuangan air Limbah (SPAL)


3.1 Pembuangan Air Limbah Rumah Tangga
Tabel 9 Distribusi Pembuangan Air Limbah Rumah Tangga di Kelurahan
Sarongsong Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara
Pembuangan Air Limbah
Rumah Tangga

Lingkungan

31

141

54.2

21

8.1

95

36.6

1.1

40

45

18

34

42

260

100

II

III

IV

VI

VII

11

20

14

31

10

24

16

24

21

14

Lainnya

Total

29

52

Dibuang Di Permukaan
Tanah
Dibuang Ke Lubang yang
Digalih
Menggunakan
Sistem
Penyalur Terbuka
Menggunakan
Sistem
Penyalur Tertutup

Berdasarkan
Tabel
9,
Distribusi
Pembuangan
Air
Limbah
Rumah
Tangga,
penduduk
di
Kelurahan
Sarongsong II sebanyak 141 KK (54.2%)
membuang air limbah rumah tangga di
permukaan tanah dan terdapat 3 KK
(1.1%) menggunakan sistem penyalur
tertutup.

Air merupakan kebutuhan pokok dan


mutlak untuk kehidupan. Selain itu juga
merupakan sumber utama gangguan
bagi kesehatan manusia. Dimana air
dapat menjadi sumber utama atau media
paling efektif untuk menularkan penyakit
(Water Born Desease). Sehingga dengan
menggunakan
air
bersih
dapat
menghindarkan
masyarakat
dari
berbagai jenis penyakit Water Born
Desease. Berdasarkan tabel 1 Sumber
Utama Air Bersih, penduduk di Kelurahan
Sarongsong II sebanyak 169 KK (65%)
pemakaian utama air bersih yaitu Sumur
dan yang terkecil adalah air ledeng yaitu
18 KK (6.9%). Perilaku warga selalu
menggunakan sumur dan air ledeng
biasanya digunakan untuk keperluan
memasak makanan, air minum , mandi,
mencuci
pakaian
dan
keperluan
membersihkan ruangan serta halaman
rumah.Analisis data yang dilakukan
menunjukan bahwa kualitas fisik kedua
sarana penyediaan air bersih masingmasing tidak berwarnah, tidak berbau,
tidak berasa dan cukup. Cukup dalam
penelitian ini lebih mengarah pada

PEMBAHASAN
Hasil pengumpulan data yang telah
dilaksanakan di kelurahan Sarongsong
Kecamatan
Airmadidi
Kabupaten
Minahasa Utara Tahun 2012. Diperoleh
bahwa
pada
umumnya
perilaku
kesehatan
masyarakat
terhadap
penggunaan
sanitasi
lingkungan
khususnya penyediaan air bersih,
pembuangan tinja, saluran pembungan
air limbah. Namun demikian beberapa
fasilitas sanitasi tersebut masih kurang
memadai. Adapun gambaran perilaku
kesehatan
masyarakat
terhadap
penggunaan sanitasi
lingkungan
diuraikan sebagai berikut :
1. Penyediaan Air Bersih
24

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 17-26

Artikel III

ketersediaan air yang siap dipakai seperti


dikamar mandi, kran-kran yang siap
pakai dan seterusnya. Di atas tanah
dibuat bibir sumur setinggi 1,5 meter
agar air tidak masuk kembali dalam
sumur dan dapat mencegah terjadinya
kecelakaan. Sekitar sumur diberi lantai
plesteran dengan ukuran 2x3 m sehingga
dapat digunakan untuk mencuci. Namun
disekelilingnya belum dibuat saluran
pembuangan air limbah, tetapi hal
tersebut tidak mempengaruhi kualitas air
sumur.
Sementara syarat kesehatan terhadap
sarana penyediaan air tidak menjadi
perhatian peneliti karena peneliti tidak
ingin melihat hubungan antara sarana
dan kualitas air yang dihasilkan.Untuk
keperluan minum air yang digunakan
berasal dari sumur dan air ledeng ,
kemudian air tersebut dimasak sampai
mendidih sekitar 10-15 menit sehingga
kuman-kuman pathogen dapat mati.
Setelah itu disajikan dalam keadaan
tertutup. Hal ini menggambarkan bahwa
keadaan penyediaan air minum di
pondok pesantren ini sudah baik oleh
karena baik sumber maupun cara
pengolahan air minum sudah memenuhi
syarat. Begitupula dengan penelitian
yang dilakukan Rahmawati pada Tahun
2004 di Pondok Pesantren Putra Datuk
Sulaeman Palopo juga menyatakan
bahwa sumur gali yang digunakan warga
pesantren
tersebut
dalam
kondisi
memenuhi syarat.
2. Sarana Pembuangan Tinja
Tinja adalah bahan buangan yang
dikeluarkan
dari
tubuh
manusia.
Pembuangan tinja pada sembarangan
tempat akan menyebabkan pencemaran
lingkungan disekitarnya dan menjadi
media berkembang biaknya vektor-vektor
penyakit. Oleh sebab itu tinja harus
dibuang ditempat aman yaitu jamban.
Berdasarkan Tabel 5 Keluarga dan
anggota keluarga Rumah Tangga
Membuang
Air
Besar,penduduk
Kelurahan Sarongsong II sebanyak 252
KK (96.9%) membuang air besar di

jamban dan terdapat 5 KK (1.9%) yang


membuang air besar di kebun. Masalah
pembuangan tinja perlu mendapat
perhatian
yang
serius,
mengingat
perilaku
warga setempat masih ada
tidak memperhatikan dan memerlukan
sarana pembuangan tinja yang memadai
maka penyediaan maupun penggunaan
jamban dapat sesuai dengan kapasitas
penghuninya. Dari hasil penelitian
diketahui semua jamban menggunakan
tipe leher angsa. Mempunyai bilik 1,5 X
1,5 meter dan masing-masing terdapat
bak air di dalamnya, serta lantai dan
dindingnya terbuat dari semen. Air pada
bak berasal dari sumur dan air ledeng
dialirkan melalui pipa-pipa dan mata air
analisis yang dilakukan menunjukan
bahwa ada beberapa warga memakai
jenis jamban cemblung sebesar 8.8%,
namun hal tersebut merupakan hal yang
serius untuk diperhatikan karena jamban
yang tidak memenuhi syarat dan tidak
bersih dapat memberi risiko yang besar
untuk menimbulkan beberapa jenis
penyakit ataupun kecelakaan dan dapat
mengganggu nilai estetika (keindahan).
3. Saluran Pembuangan Air Limbah
(SPAL)
Air
limbah
merupakan
medium
berkembang biaknya mikrooragnisme
sekaligus merupakan sarang beberapa
faktor penyebab penyakit. Air limbah
yang
sudah
tercemar
dapat
mempengaruhi kelangsungan hidup dari
beberapa jenis makhluk hidup di sekitar
lingkungan tersebut. Selain itu dapat pula
mencemari sumber air minum yang
dipergunakan.
Berdasarkan
Tabel
9
Penelitian
menunjukkan bahwa Pembuangan Air
Limbah Rumah Tangga, penduduk di
Kelurahan Sarongsong II sebanyak 141
KK (54.2%) membuang air limbah rumah
tangga di permukaan tanah dan terdapat
3 KK (1.1%) menggunakan sistem
penyalur tertutup dan 95 KK (36,6%)
masih menggunakan sistem penyalur
terbuka.Hasil
pengumpulan
data
menunjukkan bahwa penyediaan saluran
25

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 17-26

Artikel III

pembuangan air limbah di kelurahan


Sarongsong
Kecamatan
Airmadidi
Kabupaten Minahasa Utara sudah
tersedia dan belum memadai secara
jumlah sarana yang ada. Dari hasil
penelitian ditemukan dimana SPAL yang
tidak
memenuhi
syarat
tersebut
merupakan saluran terbuka sehingga
dapat menjadi tempat bersarangnya
serangga dan binatang rengat lainnya.
Selain hal tersebut kelandaian atau
kemiringan
saluran
kurang
tepat
sehingga air yang seharusnya mengalir
jadi tidak mengalir dan menciptakan
genangan
air,
serta
cenderung
menimbulkan bau yang tidak sedap serta
merusak
keindahan.
Saluran
pembuangan air limbah ini sudah retak
sehingga lantainya menjadi tidak kedap
air, jika keadaan ini dibiarkan maka akan
mempengaruhi saluran selanjutnya atau
menyumbat saluran yang lain.

DAFTAR PUSTAKA
.
Alimin Umar, 1991, Aspek Kesehatan
Lingkungan, Lephanas Ujung Pandang.
Azwar A, 1990, Pengantar Ilmu
Kesehatan Lingkungan, PT. Mutiara
Bustan. M.N 2007. Epidemiologi Penyakit
Tidak Menular. Jakarta : Renika Cipta
, 2000,
Kesejahteraan Sosial Sehat
2010, Jakarta.
, 1994, Ketetapan MPR RI. No.
11/MPR/1993
Tentang
GBHN,Surabaya,
Evaluasi
Sanitasi
Lingkungan
Pemukiman Kumuh.
Chandra, Budiman. 2006. Pengantar
Kesehatan Lingkungan.Jakarta : EGC
,
2000,
Kesehatan
lingkungan,
Universitas Gajah Mada
Press, yogyakarta.
Rahmawati.2003, Gambaran Kondisi
Sanitasi Lingkungan Pada
Pondok Pesantren Putra
Datok
Sulaiman
Palopo
Tahun
2003.
STIK
Tamalatea Makassar
Profil
Kelurahan
Sarongsong
II
Kecamatan Airmadidi. 2011
Soeparmin
dan
Soeparman,
Pembuangan
Tinja
dan
Limbah Cair, Penerbit Buku
Kedokteran.
________,
Dampak
dari
sanitasi
lingkungan
yang
buruk
(online),
(
http
://www.CyberNews.com,
diakses 10 juni 2006 )
________, Kebutuhan akan sanitasi
sebagai
dampak
dari
ekonomi yang buruk dan
penurunan produksi keluarga
(online), ( http ://www.
Depkes..com diakses 7 juni
2006
)

KESIMPULAN
1. Sarana penyediaan air bersih adalah
berupa air ledeng, sumur dan kualitas
air semua memenuhi syarat
2. Sarana pembuangan tinja semua
bertipe leher angsa dan lebih dari
sebagian atau
90% sudah
memenuhi syarat namun masih ada
10% yang belum memenuhi syara
kebersihannya.
3. Saluran pembuangan air limbah di
kelurahan
Sarongsong
II
yang
tersedia
hanya
sebagian yang
menggunakan
sistem
penyalur
tertutup memenuhi syarat 1,1 %.
SARAN
1. Perlu penambahan jenis jamban leher
angsa di Kelurahan Sarongsong.
2. Kondisi
Saluran Pembuangan Air
Limbah yang tidak memenuhi syarat
perlu mendapat perhatian khusus
dalam proses pembuatan SPAL

26