Anda di halaman 1dari 7

Promotif, Vol.5 No.

1, Okt 2015 Hal 27-33

Artikel IV

KESIAPAN PERAWAT PELAKSANA DALAM PENANGANAN GAWAT DARURAT


PASIEN TRAUMA KEPALA DI RSD MADANI PROPINSI SULAWESI TENGAH
1)

2)

3)

2)

Malik Abdul Supriadi, Condeng Baharuddin


1)
Keperawatan Politeknik Kesehatan Palu
ABSTRAK

Latar Belakang : Kedaruratan medik dapat terjadi pada seorang maupun sekelompok
orang pada setiap saat dan dimana saja. Keadaan ini membutuhkan pertolongan
segera, dapat berupa pertolongan pertama hingga pertolongan selanjutnya secara
mantap dirumah sakit. Tujuan Penelitian : Untuk memperoleh gambaran kesiapan
perawat pelaksana di ruang IGD dan ICU RSD Madani Propinsi Sulawesi Tengah
dalam penanganan gawat darurat pasien trauma kepala ditinjau dari kebijakan, fasilitas
dan kompetensi perawat. Metode Penelitian : Desain penelitian yang digunakan
adalah penelitian deskriptif. Tehnik sampling pada penelitian ini adalah non random
sampling dengan metode total sampling, jumlah sampel 31 responden. Analisis data
dengan analisis univariat. Hasil Penelitian : Hasil analisis distribusi frekuensi
menunjukkan bahwa kebijakan di ruang IGD dan ICU dalam kategori baik (100 %),
fasilitas di ruang IGD dan ICU baik (85,7 %), fasilitas yang tidak ada (14,3%) yaitu
ruang yang tenang untuk keluarga yang berduka, sistem komunikasi dengan unit
pemadam kebakaran, unit radiologi yang lokasinya berdekatan dengan IGD dan ICU.
Kompetensi Perawat yang bertugas diruang IGD dan ICU RSD Madani Propinsi
Sulawesi Tengah Tahun 2013 sebagian besar kompeten dalam menangani korban
dengan cedera kepala yaitu sebesar 27 responden (87,1%) dan 4 responden (12,9%)
tidak kompeten.dengan karakteristik mayoritas berumur 22-27 tahun, jenis kelamin
perempuan, pendidikan DIII, masa kerja 1-5 tahun, tidak pernah mengikuti pelatihan
PPGD dan BTCLS. Saran : Bagi peneliti yang akan datang agar lebih
mengembangkan penelitian dengan variabel-variabel yang lain. Kepada pihak rumah
sakit agar dapat melengkapi fasilitas di IGD dan ICU, menempatkan perawat di IGD
dan ICU dengan masa kerja yang lama, pendidikan yang lebih tinggi, dan yang telah
mengikuti pelatihan PPGD dan BTCLS, mengadakan pelatihan-pelatihan yang
berkesinambungan terutama pelatihan yang ada kaitannya dengan penanganan korban
cedera kepala sehingga pelayanan rumah sakit lebih berkualitas dan berkuantitas.
Kata Kunci : Perawat, Gawat Darurat, Pasien Trauma Kepala

PENDAHULUAN
Hingga saat ini kecelakaan jalan raya
masih memegang predikat pembunuh
terbesar ketiga di dunia, setelah penyakit
Jantung dan TBC. Penyebab kematian
akibat kecelakaan umumnya disebabkan
oleh
trauma
kepala.
Trauma
didefinisikan sebagai perpindahan energi
yang terjadi dari lingkungan ketubuh
manusia. Trauma dapat dikategorikan
sebagai kejadian yang disengaja dan

tidak
disengaja,
Secara
statistik
diperkirakan setiap tahun 2% penduduk
dunia mengalami cedera kepala. Di
Amerika Serikat trauma yang tidak
disengaja menjadi penyebab utama
nomor lima timbulnya kematian disemua
golongan usia dan menjadi penyebab
nomor satu dikategori usia 1-34 tahun
(Dewi Kartikawati.N, 2008).
Cedera kepala atau trauma kepala
merupakan penyebab utama kecacatan
27

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 27-33

Artikel IV

dan kematian, dengan faktor penyebab


terbanyak yaitu kecelakaan kendaraan
bermotor. Sebagian orang meninggal
karena cedera kepala sekunder. Cedera
kepala sekunder meliputi iskemia karena
hypoxia
dan
hipotensi,
hemoragi
sekunder,
dan
edema
serebral
(Nurachman, 2000).
Peranan perawat dibagian emergency
telah mengalami perubahan dalam
kaitannya
dengan
perkembangan
beberapa tahun terakhir ini yaitu
meningkatnya
penggunaan
bagian
emergency
oleh
mereka
yang
memerlukan
pengobatan
dan
meningkatnya pelayanan yang diberikan.
Perawat di bagian emergency sebaiknya
mempunyai
beberapa
ketrampilan
diantaranya : mengkaji dan menentukan
prioritas dalam menyeleksi pasien yang
memerlukan
pengobatan
segera,
menangani
pasien-pasien
yang
mempunyai tingkat kecemasan tinggi,
ketrampilan teknik yang khusus untuk
memberikan
cairan
parenteral,
defibrilasi,
resusitasi,
intubasi,
mengoperasikan alat-alat monitoring dan
menginterprestasikan hasil pemeriksaan
laboratorium dan EKG serta tindakantindakan yang diperlukan (Lovian Datus,
2011).
Tujuan umum pada penelitian ini adalah
memperoleh
gambaran
kesiapan
perawat pelaksana di Instalasi Gawat
Darurat dan Intensive Care Unit Rumah
Sakit Daerah Madani Propinsi Sulawesi
Tengah dalam penanganan gawat
darurat pasien trauma kepala. Adapun
tujuan khususnya Diketahui kebijakankebijakan,,
fasilitas,
karakteristik
perawat, dan kompetensi perawat yang
ditetapkan di Instalasi Gawat Darurat
dan Intensive Care Unit

korban cedera kepala ditinjau dari


kebijakan, fasilitas dan kompetensi
perawat. Populasi dalam penelitian ini
Populasi penelitian pada variabel
kebijakan adalah seluruh SOP tentang
standar penanganan cedera kepala yang
ada di Instalasi Gawat Darurat dan
Intensive Care Unit (ICU). Populasi pada
variabel fasilitas adalah seluruh fasilitas
yang terdapat di Instalasi Gawat Darurat
dan
Intensive
Care
Unit
(ICU),
Sedangkan populasi pada variabel
kompetensi perawat adalah keseluruhan
perawat yang bertugas di Instalasi
Gawat Darurat dan Intensive Care Unit
(ICU) Rumah Sakit Daerah Madani
Propinsi
Sulawesi
Tengah
yang
berjumlah 31 responden.
HASIL
Berdasarkan tabel 1 dijelaskan bahwa
dari 8 item variabel kebijakan yang di
teliti di IGD dan ICU Rumah Sakit
Daerah Madani Propinsi Sulawesi
Tengah, hasilnya keseluruhan item ada
di IGD dan ICU, yaitu 8 item (100 %).
Berdasarkan tabel 2 dijelaskan bahwa
dari 21 item fasilitas yang di teliti di IGD
dan ICU Rumah Sakit Daerah Madani
Propinsi Sulawesi Tengah. hasilnya 18
item (85,7 %) fasilitas dan 3 item (14,3
%) fasilitas tidak ada di IGD dan ICU.
Berdasarkan tabel 3, dijelaskan bahwa
dari 31 Perawat di Instalasi Gawat
Darurat dan Intensive Care Unit Rumah
Sakit Daerah Madani Propinsi Sulawesi
Tengah 27 responden ( 87.1% )
kompeten dalam menangani korban
cedera kepala dan 4 responden (12,9%)
tidak kompeten.
PEMBAHASAN
1. Dari hasil analisis univariat pada
variable kebijakan Instalasi Gawat
Darurat dan Intensive Care Unit
Rumah Sakit Daerah Madani Propinsi
Sulawesi Tengah didapatkan hasil
bahwa keseluruhan item ada di IGD
dan ICU. yaitu 8 item (100 %).

BAHAN DAN METODE


Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif
yang
bertujuan
untuk
mendeskriptifkan
tentang
kesiapan
perawat pelaksana dalam menangani
28

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 27-33

Artikel IV

Berdasarkan hasil tersebut dapat


dilihat bahwa penerapan kebijakan di
Instalasi Gawat Darurat dan Intensive
Care Unit Rumah Sakit Daerah
Madani Propinsi Sulawesi Tengah
dalam hal SOP penanganan korban
cedera kepala dalam kategori baik.
Asumsi peneliti, hasil penelitian ini
menggambarkan
bahwa
dengan
adanya kebijakan yang di tetapkan
oleh Pimpinan Rumah Sakit maka
kejelasan
tentang
Prosedur
Penanganan Korban Cedera Kepala
dapat terlaksana dengan baik.
Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan
oleh pihak rumah sakit akan
menuntun
pegawai
melakukan
tindakan sesuai dengan Standar
Operasional
Prosedur.
Dengan
kebijakan
yang
baik
maka
penanganan korban cedera kepala
akan semakin baik. Kebijakan juga
melindungi para petugas dari jeratan
hukum jika dilakukan sesuai Standar
Operasional Prosedur.
Menurut
Edi
Suharto
(2008)
menyatakan bahwa kebijakan adalah
suatu ketetapan yang memuat
prinsip-prinsip untuk mengarahkan
cara bertindak yang dibuat secara
terencana dan konsisten dalam
mencapai tujuan tertentu.
Menurut home care jogja (2006),
Kebijakan merupakan keputusankeputusan direktur/pimpinan Rumah
Sakit (RS) pada tatanan strategi atau
bersifat garis besar yang mengikat
pengawai RS. Bila kebijakan bersifat
garis besar maka kejelasan langkahlangkah dalam penerapannya perlu
disusun pedoman atau prosedur.

Intensive Care Unit. Adapun fasilitas


tidak ada di Instalasi Gawat Darurat
dan Intensive Care Unit yaitu: ruang
yang tenang untuk keluarga yang
berduka, system komunikasi dengan
unit pemadam kebakaran, unit
radiologi yang lokasinya berdekatan
dengan IGD dan ICU. Fasilitas tidak
ada tersebut dapat berpengaruh
dalam pelayanan di rumah sakit
terutama di IGD dan ICU. Fasilitas
yang
lengkap
otomatis
akan
menunjang pelayanan kesehatan
rumah sakit terutama pelayanan di
IGD dan ICU. Untuk mencapai hal
tersebut, Rumah Sakit Daerah
Madani Propinsi Sulawesi Tengah
terus menerus meningkatkan kualitas
pelayanan
kesehatan
melalui
pengadaan fasilitas kesehatan yang
menunjang
penanganan
cedera
kepala termasuk pemanfaatan salah
satu ruangan yang ada di IGD
sebagai ruangan tindakan operasi.
Hasil penelitian ini merupakan
gambaran bahwa Fasilitas IGD dan
ICU perlu dipersiapkan secara
khusus dan teliti sehingga dapat
menunjang pemberian pelayanan
yang cepat dan tepat dalam
pelayanan gawat darurat di IGD dan
ICU. Fasilitas merupakan faktor yang
memungkinkan
individu
untuk
melakukan tindakan. Dalam hal ini
fasilitas mencakup sumber daya yang
terdapat di rumah sakit dan dapat
digunakan
dalam
pemberian
pelayanan
kesehatan
kepada
masyarakat. Fasilitas yang baik
otomatis akan menunjang pelayanan
kesehatan yang baik pula, terutama
dalam penanganan korban cedera
kepala. Adanya fasilitas untuk
penanganan korban cedera kepala
memungkinkan
para
petugas
melakukan
penanganan
korban
cedera kepala secara berulang-ulang
sesuai standar operasional prosedur
yang telah ditetapkan rumah sakit.

2. Dari hasil analisis univariat pada


variabel fasilitas di Instalasi Gawat
Darurat dan Intensive Care Unit
Rumah Sakit Daerah Madani Propinsi
Sulawesi Tengah yaitu 18 fasilitas
(85,7%) dan 3 fasilitas (14,3%)
fasilitas tidak ada di IGD dan
29

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 27-33

Artikel IV

Menurut Artikata (2011), bahwa


fasilitas adalah suatu sarana untuk
kelancaran pelaksanaan fungsi sosial
yang disediakan oleh pemerintah
untuk
masyarakat.
Tersedianya
fasilitas adalah salah satu tolak ukur
keberhasilan dalam penanganan
korban cedera kepala.
Menurut Suad Husnan (2002),
Fasilitas kerja merupakan suatu
bentuk
pelayanan
perusahaan
terhadap karyawan agar menunjang
kinerja dalam memenuhi kebutuhan
karyawan,
sehingga
dapat
meningkatkan
produktifitas
kerja
karyawan.

(12,9%) tersebut tempat tugasnya


diruang ICU yang tidak focus pada
kasus trauma, dengan karakteristik
responden yaitu mayoritas berumur
22-27
tahun,
jenis
kelamin
perempuan, pendidikan DIII, masa
kerja 1-5 tahun, dan tidak pernah
mengikuti pelatihan PPGD, BCLS dan
BTCLS dan juga persyaratan perawat
IGD adalah perawat yang telah
mempunyai
sertifikat
kegawatdaruratan
yaitu
sertifikat
pelatihan PPGD (penanggulangan
penderita gawat darurat) dan BTCLS
(Basic Trauma Cardiac Life support).
Menurut Efendi (2008), kompetensi
perawat adalah Petugas dalam
melayani pasien harus cepat dan
tepat sesuai kebutuhan pasien. Oleh
sebab itu, standar kompetensi
profesi lebih berorientasi kepada
kwalitas kinerja, sehingga setidaktidaknya menggambarkan kinerja
seperti apa yang diharapkan dapat
dilakukan oleh seseorang yang
mempunyai kompetensi tersebut,
seberapa jauh tingkat kesempurnaan
pelaksanaan
pekerjaan
yang
diharapkan, dan seperti apa indikator
penilaian yang dapat dipergunakan
untuk menilai kinerja profesi.
Menurut Widayatum (1999), Umur
produktif orang bekerja adalah
rentang umur antara 22-33 tahun.
Pegawai yang lebih muda cenderung
mempunyai fisik yang kuat dan masih
semangat
dalam
menekuni
pekerjaannya.
Selain
itu
juga
merupakan masa pencapaian sukses,
masa seseorang menerima dan
menyesuaikan diri dengan perubahan
fisiologis yang terjadi.
Menurut Simamora (1995), pelatihan
adalah serangkaian aktifitas yang
dirancang
untuk
meningkatkan
keahlian-keahlian,
pengetahuan,
pengalaman ataupun perubahan
sikap seorang individu.
Menurut A. Aziz (2008), pendidikan

3. Dari hasil analisis univariat pada


variabel kompetensi perawat di
Instalasi Gawat Darurat dan Intensive
Care Unit
Rumah Sakit Daerah
Madani Propinsi Sulawesi Tengah
didapatkan hasil bahwa sebagian
besar responden kompeten yaitu
sebesar 27 responden (87,1%) dan 4
responden (12,9%) tidak kompeten.
Hasil penelitian ini menggambarkan
bahwa
kompetensi
perawat
merupakan faktor krusial dalam
menentukan kinerja perawat dalam
penanganan korban cedera kepala di
Instalasi Gawat Darurat dan Intensive
Care Unit Rumah Sakit Daerah
Madani Propinsi Sulawesi Tengah.
Perawat yang bekerja di rumah sakit
harus memiliki kompetensi dan
keterampilan
yang
harus
ditingkatkan/dikembangkan
dan
dipelihara
sehingga
menjamin
perawat dapat melaksanakan peran
dan fungsinya secara profesional. Di
Instalasi Gawat Darurat dan Intensive
Care Unit
Rumah Sakit Daerah
Madani Propinsi Sulawesi Tengah
masih ada 4 responden (12,9%) yang
tidak kompeten dan belum memenuhi
kriteria standar kompetensi dalam
penanganan cedera kepala. Hal ini
disebabkan karena 4 responden
30

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 27-33

Artikel IV

merupakan suatu proses yang sangat


kompleks dengan tujuan akhir terjadi
perubahan perilaku terhadap diri
seseorang. Pendidikan merupakan
unsur utama yang harus dilakukan,
karena
melalui
pendidikan
perkembangan profesi keperawatan
akan lebih terarah dan berkembang
sesuai dengan kemajuan ilmu dan
tekhnologi
sehingga
tenaga
keperawatan yang dihasilkan dapat
berkualitas.

mayoritas berumur 22-27 tahun, jenis


kelamin perempuan, pendidikan DIII,
masa kerja 1-5 tahun, tidak pernah
mengikuti pelatihan PPGD dan
BTCLS
SARAN
1. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan agar penelitian ini dapat
menjadi
sarana
bacaan
diperpustakaan
guna
mengembangkan
pengetahuan
tentang penanganan gawat darurat
cedera kepala
2. Rumah sakit
Diharapkan pihak rumah sakit agar
dapat melengkapi fasilitas di IGD dan
ICU karena fasilitas yang lengkap
dapat
menunjang
pelayanan
kesehatan, dan juga senantiasa
berusaha
meningkatkan
kualitas
pelayanan kegawatdaruratan dengan
menempatkan perawat di IGD dan
ICU dengan masa kerja yang lama,
pendidikan yang lebih tinggi, dan
yang telah mengikuti pelatihan PPGD
(penanggulangan penderita gawat
darurat) dan BTCLS (Basic Trauma
Cardiac
Life
support)
karena
persyaratan perawat IGD adalah
perawat
yang
telah
mengikuti
pelatihan kegawatdaruratan yaitu
pelatihan PPGD (penanggulangan
penderita gawat darurat) dan BTCLS
(Basic Trauma Cardiac Life support),
3. Peneliti Lain
Peneliti yang akan datang diharapkan
lebih mengembangkan penelitian
dengan veriabel-variabel yang lain.
Hasil penelitian ini dapat digunakan
sebagai bahan referensi untuk
mengadakan penelitian serupa di
waktu yang akan datang.

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang dilakukan
tentang kesiapan perawat pelaksana
dalam penanganan gawat darurat pasien
trauma kepala yang ditinjau dari
kebijakan, fasilitas, dan kompetensi
perawat di ruang IGD dan ICU RSD
Madani Propinsi Sulawesi Tengah tahun
2013 dengan 31 perawat sebagai
responden dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1. Kebijakan yang ditetapkan di ruang
IGD dan ICU RSD Madani Propinsi
Sulawesi Tengah Tahun 2013
dikategorikan baik (100 %).
2. Fasilitas yang tersedia di IGD dan
ICU RSD Madani Propinsi Sulawesi
Tengah tahun 2013 sebagian besar
dikategorikan baik (85,7%) dan masih
ada 3 fasilitas (14,3%) tidak ada di
IGD dan ICU yaitu: ruang yang
tenang untuk keluarga yang berduka,
system komunikasi dengan unit
pemadam kebakaran, unit radiologi
yang lokasinya berdekatan dengan
IGD dan ICU.
3. Kompetensi Perawat pelaksana yang
bertugas diruang IGD dan ICU RSD
Madani Propinsi Sulawesi Tengah
Tahun
2013
sebagian
besar
kompeten dalam menangani korban
dengan cedera kepala yaitu sebesar
27 responden (87,1%) dan 4
responden
(12,9%)
tidak
kompeten.dengan
karakteristik

DAFTAR PUSTAKA
A.Azis Alimul Hidayat. (2008). Metode
Penelitian
Keperawatan
dan
31

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 27-33

Artikel IV

Tehnik Analisa Data . Jakarta:


Salemba Medika.
Artikata.
(2013).
Fasilitas.
http//www.artikata.com/arti327022-fasilitas.html.
diunduh
tanggal 19 januari 2013.
Depkes
RI.
(2002).
Pedoman
Penyusunan Standar Pelayanan
Minimal Rumah Sakit
Jakarta:
Depkes
(1999). Kriteria Instalasi Gawat Darurat
tersedia di www.depkes.go.id.
diunduh tgl 15-1-2013
(2006).
Teori
Kompetensi,
http://mankep.blogspot.com//teorikompetensi.html) diunduh tgl 15-12013
Dewi Kartikawati, (2008) Buku Ajar
Dasar-Dasar Keperawatan Gawat
Darurat.
Jakarta:
Salemba
Medika.
Edi Suharto. (2008). Kebijakan Sosial
Sebagai
Kebijakan
Publik.
Jakarta:Alfabeta
Efendi. (2008). Pendidikan dalam
Keperawatan.
Jakarta:Salemba
Medika
Fransisca B Batticaca. (2008). Asuhan
Keperawatan
Klien
dengan
Gangguan Sistem Persyarafan.
Jakarta: Salemba Medika.
Home care jogja. (2012). Layanan
homecare di Jogja dan Konsultan
Manajemen
Rumah
Sakit.
http://homecarejogja.com/carapembuatan-kebijakan-danpedoman-rumah-sakit/) diakses tgl
19-12-2012
Kepmenkes RI. (2001). Registrasi dan
Praktik
Perawat,
http//
ayuanggraeni.
blogspot.com/kepmenkes.RI.1239.
html.diunduh tanggal 19 januari
2013.
Kepmendiknas. (2002). Kurikulum Inti
Pendidikan Tinggi, http:// www.
pustakaguru.com//kepmendiknastahun-2002-no-045u2002.html
diunduh tanggal 19 januari 2013.

Kozier, (1995). Fundamental of Nursing.


New York: Addison Wesley
Krisanty. (2009). Asuhan Keperawatan
Gawat darurat, Jakarta: CV. Trans
Info Media.
Linda E, (1995 ). Tindakan Paramedis
Terhadap
kegawatan
Dan
Pertolongan Pertama,
Edisi 2,
Jakarta : Pustaka Cipta.
Lovian Datus. (2011). Aspek Legal
Keperawatan
Gawat
Darurat,
http:/
/nsloviandatusskep.blogspot.com/
aspek legal keperawatan gawat
darurat.html.diakses tanggal 19
januari 2013.
Mansjoer, Arief. (2000). Kapita Selekta
Kedokteran, Edisi 3, Jakarta:
Media Aeskulapius.
Muhaj,
Khaidir.
(2009).
Laporan
Pendahuluan
cedera
Kepala.
http://khaidirmuhaj.blogspot.com/2
009/03/askep-cedera-kepala.hlml
diakses tgl 29-12-2012.
Notoatmodjo,
(2010).
Metodologi
Penelitian Kesehatan Edisi Revisi.
Jakarta: Rineka Cipta.
(2005). Metodologi Penelitian Kesehatan
Edisi Revisi. Jakarta: Rineka
Cipta.
Nursalam,
(2003).
Konsep
Dan
Penerapan Metodologi Penelitian
Ilmu
Keperawatan;
Pedoman
skripsi, tesis dan instrumen
penelitian keperawatan, Jakarta :
Selemba Medika.
(2008).
Konsep
Dan
Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan,.Jakarta : Selemba
Medika.
Nurachman, Elly, dan Engram. (2000).
Buku Saku Prosedur Keperawatan
mediokal-Bedah. Jakarta: EGC
Purwadianto dan Hackley (2000). Buku
Saku
Keperawatan
MedikalBedah. Jakarta: EGC.
Setiadi, (2007). Konsep dan Penulisan
Riset
Keperawatan.
Cetakan
Pertama Yogyakarta : Graha Ilmu.
32

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 27-33

Artikel IV

Sabarguna. (2006). Strategik Rumah


Sakit berbasis Sistem Informasi.
Yogyakarta: Konsorsium Rumah
Sakit
Siahaan (2011). Pengaruh Kepuasan
Kerja
terhadap
Komitmen
Organisasi.
http://repository.usu.ac.id/bitstrea
m/123456789/22290/3/Chapter%2
0II.pdf. Diunduh tanggal 19 Maret
2013.
Suharsimi Arikunto. 2001. Evaluasi
Program Pendidikan. Jakarta: PT.
Bumi Aksara
Slameto. (2003). Belajar dan faktorfaktor yang mempengaruhinya.
Jakarta: Rineka Cipta.
Suad
Husnan.
(2002).
Pengaruh
Fasilitas Terhadap Produktifitas
Kerja.
http://
albertkoyong.blogspot.com/2011/p
engaruh-fasilitas-kerja-terhadaphtml. Diunduh tanggal 19 Maret
2013.

Sugiyono.
(2007).
Statistik
untuk
penelitian. Bandung: Alfabeta.
Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa. (2003).
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Tim Penyusun. (2011). Profil Rumah
Sakit Daerah Madani Propinsi
Sulawesi Tengah. Palu: RSD
Madani.
Tim YAGD 118. (2010). Buku Panduan
PPGD dan BTCLS Edisi Ketiga.
Jakarta:Perpustakaan Nasional.
Undang-Undang RI No.13, (2003).
Tentang Ketenagakerjaan
Undang-Undang RI No.36, (2009).
Tentang
Kesehatan,
Jakarta:
Sekretaris Negara
Widayatum. (1999). Ilmu perilaku,
Jakarta: CV. Sagung Seto.

33