Anda di halaman 1dari 14

Promotif, Vol.5 No.

1, Okt 2015 Hal 62-75

Artikel VIII

HUBUNGAN PELAYANAN PETUGAS KESEHATAN DENGAN PERSEPSI


MASYARAKAT DI PUSKESMAS SINGGANI KOTA PALU
PROVINSI SULAWESI TENGAH
1)

2)

SOFIAN MOHAMAD ANDRI


Bagian administrasi dan kebijakan kesehatan FKM Unismuh Palu
ABSTRAK

Latar Belakang : Dalam pelayanan kesehatan, sekurang kurangnya terdapat dua


profesi utama yaitu Dokter dan Perawat. Profesi itu sendiri merupakan bidang
pekerjaan yang dalam melaksanakan tugasnya memerlukan pendidikan khusus.
Peranan seorang Dokter dan Perawat pada pelayanan kesehatan adalah menjalankan
tugasnya dengan melakukan pemeriksaan fisik, menentukan diagnosis penyakit
dengan baik dan melakukan Follow-up terhadap pasien, serta memberikan penyuluhan
ataukonseling pada pasien. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui hubungan
pelayanan kesehatan dengan persepsi masyarakat Di Puskesmas Singgani Kota Palu
Provinsi Sulawesih Tengah. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan
Observasi Analitik dengan pendekatan Croos Sectional. Sampel dalam penelitian ini
adalah seluruh pasien yang berkunjung ke Puskesmas Singgani pada saat dilakukan
penelitian dengan menggunakan rumus estimasi proporsidengan jumlah 96 orang.
Hasil penelitian : Menunjukkan bahwa Ada hubungan pelayanan petugas Administrasi
dengan Persepsi Masyarakat di Puskesmas Singgani Kota PaluProvinsi Sulawesi
Tengahdengannilai p value 0,009 (< 0,05), Ada hubungan Pelayanan Petugas
Kesehatan dengan Persepsi Masyarakat di Puskesmas Singgani Kota PaluProvinsi
Sulawesi Tengah dengan nilai p value 0,001 (< 0,05) danTidak Ada hubungan
Pelayanan Petugas Apotik ( Obat ) dengan Persepsi Masyarakat di Puskesmas
Singgani Kota PaluProvinsi Sulawesi Tengah dengan nilai p value 0,228 (< 0,05).
Saran : Ditujukan bagi Instansi Kesehatan dalam hal ini peneliti menginginkan bahwa
Penelitian ini dapat memberikan bahan evaluasi terhadap pelayanan yang diberikan
kepada pasien agar lebih meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien yang dating
berkunjung kePuskesmas Singgani. Bagi petugas Administrasi bagianLoket di
Puskesmas Singgani agar dalam memberikan pelayanan, yang sesuai dengan
prosedur yang telah ditetapkan untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu
pelayanan di Puskesmas Singgani Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah.
Daftar Pustaka
Kata Kunci

:
:

17 (1997 2012)
Loket, Petugas Kesehatan, Petugas Apotik dan Persepsi
Mayarakat

PENDAHULUAN

diberikan tidak hanya melalui rumah sakit


yang membutuhkan sumber daya yang
tinggi, tapi dapat diberikan melalui
fasilitas yang lebih sederhana, lebih
murah tapi lebih tersebar luas seperti
puskesmas, puskesmas pembantu, bidan
di desa, dan didukung dengan sistem

Menurut Departemen Kesehatan RI


tahun 2009, pelayanan kesehatan
melalui puskesmas diperlukan karena
demi pemerataan pelayanan kesehatan,
agar
dapat
menjangkau
seluruh
penduduk, maka pelayanan kesehatan
62

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 62-75

Artikel VIII

rujukan sehingga dapat menjangkau


penduduk lebih banyak.
Pembangunan
dibidang
kesehatan
merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari pembangunan nasional,
sebab salah satu dari keberhasilan
program
pembangunan
adalah
keberhasilan dari program pembangunan
kesehatan. Empat misi pembangunan
kesehatan
yakni
menggerakkan
pembangunan nasional berwawasan
kesehatan,
mendorong
kemandirian
masyarakat
untuk
hidup
sehat,
memelihara
dan
meningkatkan
pelayanan kesehatan yang bermutu,
merata dan terjangkau serta memelihara
dan meningkatkan kesehatan individu,
keluarga dan masyarakat beserta
lingkungannya.
Salah satu upaya untuk mendukung misi
tersebut adalah dengan penyediaan
berbagai sarana pelayanan kesehatan,
puskesmas
merupakan
sarana
pelayanan kesehatan strata pertama
dalam
pelaksanaan
pembangunan
kesehatan. Untuk mencapai hasil yang
optimal dan meningkatkan mutu serta
kinerja puskesmas, sehingga dapat
memberikan
kepuasan
kepada
masyarakat, tidak hanya didukung
dengan adanya sarana dan prasarana
yang memadai. Dalam hal tersebut yang
lebih utama adalah pemberian pelayanan
yang baik kepada masyarakat.
Puskesmas berperan menyelenggarakan
upaya kesehatan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap penduduk agar
memperoleh derajat kesehatan yang
optimal. Dengan demikian puskesmas
berfungsi sebagai pusat penggerak
pembangunan berwawasan kesehatan,
pusat pemberdayaan keluarga dan
masyarakat. Oleh karena itu sebagai
sarana pelayanan kesehatan strata
pertama
dalam
pelaksanaan
pembangunan kesehatan, hendaknya
dalam memberi pelayanan yang optimal
kepada masyarakat. (Depkes RI, 2009).

Dengan mendekati masyarakat dan


memahami
latar
belakang
kebudayaannya, dokter dan perawat
sebagai
tenaga
kesehatan
dari
puskesmas harus bisa menyakinkan
masyarakat akan pentingnya kesehatan,
memperoleh dukungan mereka, dan jika
perlu mendorong agar mengubah segala
kebiasaan dan perilaku yang dapat
mengganggu kesehatan. Selain itu,
mereka harus memotivasi peran serta
masyarakat dalam bermacam kegiatan
kesehatan. Disamping itu, puskesmas
sebagai locus interaksi telah meniadakan
golongan social-ekonomi tertentu seperti
biasanya terjadi dalam pertemuan, yang
sebagian besar dihadiri oleh golongan
masyarakat yang berstatus sosial
ekonomi relatif tinggi. Masyarakat dari
kelas social ekonomi rendah terlalu sibuk
bekerja sehingga tidak mempunyai
kesempatan mendapatkan pengetahuan
baru. Kadang-kadang mereka diberitahu
secara tidak langsung melalui kader
kesehatan atau pejabat desa yang hadir
dalam pertemuan.
Namun informasi yang disampaikan
sering kurang lengkap dan akurat.
Mengingat masyarakat yang berstatus
sosial ekonomi rendah adalah pihak yang
paling
membutuhkan
pelayanan
kesehatan, perlu ditemukan strategi yang
tepat untuk menginformasikan mereka
secara langsung. Pemanfaatan interaksi
penyedia pelayanan pasien sebagai
media pendidikan kesehatan cukup
strategis
karena
memungkinkan
pemberian informasi yang berulangulang. Kedatangan pasien ke puskesmas
untuk diobati atau menemani keluarga
merupakan waktu yang tepat.
Bila penjelasan mengenai kesehatan
diberikan pada saat pasien setiap kali
berkunjung
ke
puskesmas,
maka
pemahaman akan lebih mendalam
dibandingkan
dengan
satu
kali
pengajaran saja.
Puskesmas Singgani adalah salah satu
puskesmas yang ada di kota Palu, upaya
kesehatan yang diselenggarakan di
64
63

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 62-75

Artikel VIII

puskesmas singgani terdiri dari upaya


kesehatan wajib dan upaya kesehatan
pengembangan, yang termasuk dalam
Upaya Kesehatan Wajib adalah promosi
kesehatan,
kesehatan
lingkungan,
kesehatan ibu anak dan keluarga
berencana, perbaikan gizi masyarakat,
pencegahan
dan
pemberantasan
penyakit menular serta pengobatan.
Sedangkan
Upaya
Kesehatan
Pengembangan adalah upaya kesehatan
yang
ditetapkan
berdasarkan
permaslahan kesehatan yang ditemukan
dimasyarakat setempat serta disesuaikan
dengan kemampuan puskesmas. Agar
kegiatan yang ada di Puskesmas
Singgani berjalan sesuai dengan apa
yang diharapkan maka puskesmas
singgani harus memberikan pelayanan
yang optimal dan perlu didukung oleh
tenaga dokter, perawat, dan tenaga
penunjang lainnya seperti tenaga bidan,
kesehatan lingkungan, ahli gizi serta
tenaga administrasi yang professional (
Puskesmas Singgani, 2012 ).
Kualitas
pelayanan
kesehatan
di
puskesmas dapat dilihat dari rata-rata
jumlah kunjungan perbulan, dengan
peningkatan jumlah kunjungan berarti
pelayanan
yang
diberikan
dapat
memberikan kepuasan pada pasien.
Karena pelayanan puskesmas yang baik
adalah
pelayanan
yang
dapat
memberikan kepuasan pada pasien dan
apabila pasien merasa puas, maka
mereka akan kembali lagi untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan.
Selain kepuasan pasien, penilaian
terhadapat pelayanan kesehatan yang
ada di puskesmas yang tidak kalah
penting adalah persepsi masyarakat
terhadap pelayanan yang diberikan.
Apabila persepsi masyarakat baik, maka
dapat berdampak terhadap peningkatan
jumlah kunjungan
di puskesmas,
sebaliknya jika persepsi masyarakat
kurang baik, maka dapat berdampak
terhadap penurunan jumlah kunjungan di
puskesmas.

Sesuai dengan observasi yang telah


dilakukan bahwa masih ada pasien yang
komplain terhadap kinerja kerja petugas
kesehatan yang tidak sesuai dengan
prosedur yang ada sehingga pasien
merasa diperlakukan tidak adil dan
informasi yang diberikan kurang lengkap
khususnya pada petugas kesehatan
bagian administrasi bagian loket, petugas
kesehatan ( dokter/ perawat/ bidan ) dan
petugas kesehatan bagian pelayanan
obat.
Data jumlah kunjungan yang diperoleh
dari puskesmas Singgani tahun 2012
sebanyak 69.669 pasien, sedangkan
jumlah kunjungan tahun 2013 yaitu
64.374
pasien.
Dengan
demikian
terdapat peningkatan jumlah kunjungan
di pukesmas Singgani antara Tahun
2012 hinggan tahun 2013.

BAHAN DAN METODE


Penelitian ini merupakan jenis penelitian
analitik dengan menggunakan desain
Cross Secsional Study dimana data yang
menyangkut data variabel dependen dan
independen dikumpul dalam waktu yang
bersamaan
(Notoatmodjo,
2010).
Penelitian ini lakukan di unit kerja
Puskesmas Singgani pada bulan juli
sampai dengan agustus 2014. Populasi
dalam penelitian ini adalah semua
mayarakat yang ada diwilayah kerja
Puskesmas Singgani yang berkunjung ke
Puskesmas Singgani. Sampel adalah
sebagian yang di ambil dari keseluruhan
objek yang akan diteliti dan dianggap
mewakili populasi.
Sampel dalam
penelitian ini berjumlah 96. Analisis data
menggunakan
analisis
Univariat
dilakukan untuk melihat distribusi,
ferekuensi dari masing-masing Variabel,
Variabel
Independen
(
Pelayana
Administrasi, Pelayanan Petugas, dan
Pelayanan Obat ) dan Variabel
Dependen ( Persepsi Masyarakat ) dan
analisis Bivariat dilakukan untuk melihat
hubungan antara Variabel Independen
65
64

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 62-75

Artikel VIII

dan Variabel Dependen. Dengan nilai


kemaknaan
0,05
dengan
tingkat
kepercayaan 95%. Adapun uji yang
HASIL

digunakan pada penelitian ini adalah uji


Chi Square.

A.

Karakteristik Responden
1. Umur Responden
Distribusi umur responden dapat dilihat pada tabel berikut dibawah ini:
Tabel 1
Distribusi Responden Berdasarkan Umur Di Puskesmas
Singgani Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah
No
1
2
3
4

Umur
Frekuensi (f)
Persentase (%)
20 29
29
30,2
30 39
37
38,5
40 49
17
17,7
50
13
13,5
Total
96
100
Sumber : Data Primer, Tahun 2014
Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa
(38,5%) dan yang paling sedikit adalah
dari 96 responden menurut umur, yang
responden yang berumur 50 tahun yaitu
terbanyak adalah responden yang
13 orang (13,5%).
berumur 30-39 tahun yaitu 37 orang
2. Jenis Kelamin Responden
Distribusi jenis kelamin responden dapat dilihat pada tabel berikut dibawah
ini:
Tabel 2
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Di Puskesmas
Singgani Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah
No
1
2

Jenis Kelamin
Frekuensi (f)
Persentase (%)
Laki-laki
43
44,8
Perempuan
53
55,2
Total
96
100
Sumber : Data Primer, Tahun 2014
Berdasarkan
tabel
2
kelamin perempuan yaitu 53 orang
menunjukkan bahwa dari 96 responden
(55,2%) dan yang paling sedikit adalah
menurut jenis kelamin yang terbanyak
responden yang berjenis kelamin laki-laki
adalah responden
yang berejenis
yaitu
43
orang
(43,8%).

66
65

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 62-75

Artikel VIII

3. Pendidikan Responden
Distribusi pendidikan responden dapat dilihat pada tabel berikut dibawah ini:
Tabel 5.3
Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Di Puskesmas
Singgani Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah
No

Pendidikan

Frekuensi (f)

1
2
3
4
5
6

Persentase
(%)
2,1
9,4
25
17,7
5,2
40,6
100

Tidak Sekolah
2
SD
9
SMP
24
SMA
17
D3
5
S1
39
Total
96
Sumber : Data Primer, Tahun 2014
Berdasarkan tabel 5.3 menunjukkan
dan responden yang tingkat pendidikan
bahwa dari 96 responden, diperoleh
tidak pernah sekolah,
yang paling
responden yang tingkat pendidikan S1
sedikit yaitu 2 orang (2,1%)
yang terbanyak yaitu 39 orang (40,6%)
4. Pekerjaan Responden
Distribusi pekerjaan responden dapat dilihat pada tabel berikut dibawah ini:
Tabel 5.4
Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Di Puskesmas
Singgani Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah
No
1
2
3
4
5
6

Pekerjaan
Frekuensi (f)
Persentase (%)
Tidak Kerja
20
20,8
Tukang
4
4,2
Honorer
8
8,3
Wiraswasta
23
23,9
PNS
39
40,6
Pensiun
2
2,1
Total
96
100
Sumber : Data Primer, Tahun 2014
Berdasarkan
tabel
4
orang (40,6%), dan responden yang
menunjukkan bahwa dari 96 responden,
pekerjaannya sebagai pensiunan sangat
sebagian besar responden PNS yaitu 39
sedikit yaitu hanya 2 orang (2,1%).

67
66

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 62-75

Artikel VIII

B. Analisis Univariat
1. Pelayanan Petugas Adminstrasi bagian Loket
Distribusi pelayanan petugas administrasi bagian loket dapat dilihat pada tabel
berikut ini:
Tabel 5
Distribusi Responden Berdasarkan Pelayanan Petugas Administrasi
bagian Loket Di Puskesmas Singgani Kota Palu Provinsi Sulawesi
Tengah
Pelayanan
Petugas Administrasi
Frekuensi (f)
Persentase (%)
bagian Loket
1
Tidak Baik
44
45,8
2
Baik
52
54,2
Total
96
100
Sumber : Data Primer, Tahun 2014
Berdasarkan
tabel
5.5
loket baik yaitu 52 orang (54,2%).
menunjukkan
bahwa
dari
96
sedangkan
yang
menyatakan
responden,
yang
menyatakan
pelayanan petugas administrasi bagian
pelayanan petugas administrasi bagian
loket tidak baik yaitu 44 orang (45,8%).
2. Pelayanan Petugas Kesehatan ( Dokter/ Bidan / Perawat )
Distribusi pelayanan petugas kesehatan dapat dilihat pada tabel
berikut ini:
Tabel 6
Distribusi Responden Berdasarkan Pelayanan Petugas Kesehatan
(Dokter/ Bidan / Perawat ) Di Puskesmas Singgani Kota Palu Provinsi
Sulawesi Tengah
No

Pelayanan Petugas
Frekuensi (f)
Persentase (%)
Kesehatan
1
Tidak Baik
44
45,8
2
Baik
52
54,2
Total
96
100
Sumber : Data Primer, Tahun 2014
Berdasarkan
tabel
6
sedangkan yang menyatakan pelayanan
menunjukkan bahwa dari 96 responden,
petugas kesehatan tidak baik yaitu 44
yang menyatakan pelayanan petugas
orang (45,8 %).
kesehatan baik yaitu 52 orang (54,2 %)
No

68
67

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 62-75

Artikel VIII

3. Pelayanan Petugas Apotek ( Obat )


Distribusi pelayanan petugas apotek dapat diliihat pada tabel berikut ini:
Tabel 7
Distribusi Responden Berdasarkan Pelayanan Petugas Apotek
(
Obat ) Di Puskesmas Singgani Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah
Pelayanan Petugas Apotek (
Obat )
1
Tidak Baik
2
Baik
Total
Sumber : Data Primer, Tahun 2014
Berdasarkan
tabel
7
menunjukkan
bahwa
dari
96
responden,
yang
menyatakan
pelayanan petugas apotek ( obat ) baik
No

Frekuensi (f)

Persentase (%)

21
75
96

21,9
78,1
100

yaitu 75 orang (78,1 %) sedangkan


yang menyatakan pelayanan petugas
apotek tidak baik yaitu 21 orang (21,9
%).

4. Persepsi Masyarakat
Distribusi persepsi masyarakat dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 8
Distribusi Responden Berdasarkan Persepsi Masyarakat Di
Puskesmas Singgani Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah
No
1
2

Persepsi Masyarakat
Frekuensi (f)
Persentase (%)
Tidak Baik
46
47,9
Baik
50
52,1
Total
96
100
Sumber : Data Primer, Tahun 2014
Berdasarkan
tabel
8 50 orang (52,1%) sedangkan yang
menunjukkan bahwa dari 96 responden, menyatakan tidak baik dengan persepsi
yang menyatakan baik dengan persepsi masyarakat di puskesmas Singgani yaitu
masyarakat di puskesmas singgani yaitu 46 orang (47,9%)
C. Analisis Bivariat
1. Hubungan Pelayanan Petugas Adminstrasi di Loket dengan Persepsi
Masyarakat.

69
68

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 62-75

Artikel VIII

Tabel 9
Hubungan Pelayanan Petugas Administrasi di Loket dengan Persepsi
Masyarakat Di Puskesmas Singgani Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah

N
o

Pelayanan
Administrasi

Persepsi
Masyarakat
Tidak
Baik
Baik
f
%
f
%

Jumlah
f

TidakBaik

28 63,6 16

36,4

44

100

Baik

18 34,6 34

65,4

52

100

Total

46 47,9 50

52,1

96

100

P
Value

OR

0,009

3,306

Sumber : Data Primer, Tahun 2014


Berdasarkan tabel 9 menunjukkan
bahwa dari total responden 96 orang,
yang menyatakan pelayanan petugas
administrasi di loket tidak baik dan
persepsi masyarakat tidak baik sebanyak
28 orang (63,6%), dan pelayanan
petugas administrasi di loket tidak baik
tetapi persepsi masyarakat baik yaitu 16
orang
(36,4%),
sedangkan
yang
menyatakan
pelayanan
petugas
administrasi di loket baik tetapi persepsi
masyarakat tidak baik yaitu 18 orang
(34,6 %), dan yang menyatakan
pelayanan petugas administrasi di loket

2.

baik dan persepsi masyarakat baik


sebanyak 34 orang (65,4 %)
Berdasarkan hasil uji ChiSquare nilai p value didapatkan yaitu
0,009 (p < 0,05) berarti secara statistika
ada hubungan yang bermakna antara
pelayanan petugas administrasi di loket
dengan persepsi masyarakat. Dengan
nilai Odds Ratio (OR) 3,306 yang
artinya pelayanan petugas administrasi
di loket yang baik mempunyai peluang
3 kali untuk dapat memberikan persepsi
masyarakat
terhadap
pelayanan
petugas administrasi di loket, yang
tidak baik.

Hubungan Pelayanan Petugas Kesehatan ( Dokter / Bidan/ Perawat ) dengan


Persepsi Masyarakat
Tabel 10
Hubungan Pelayanan Petugas Kesehatan ( Dokter / Bidan/ Perawat )
dengan Persepsi Masyarakat Di Puskesmas Singgani Kota Palu Provinsi
Sulawesih Tengah
Persepsi Masyarakat
Jumlah
P
No
OR
Pelayanan
Tidak Baik
Baik
Value
f
%
f
%
f
%
1
4
1
Tidak Baik
30
68,2
31,8
100
4
4
3
5
0,001 4,821
2
Baik
16
30,8
69,2
100
6
2
47,9
5
9
Total
46
52,1
100
0
6
69
71

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 62-75

Artikel VIII

Sumber : Data Primer, Tahun 2014


Berdasarkan hasil uji chi-square
Pada tabel 10 menunjukkan bahwa
dari total responden 96 orang, yang
nilai yang didapatkan yaitu 0,001
menyatakan
pelayanan
petugas
(p < 0,05) berarti secara statistika ada
kesehatan tidak baik dan persepsi
hubungan yang bermakna antara
masyarakat tidak baik sebanyak 30
pelayanan petugas kesehatan dengan
orang (68,2%), pelayanan petugas
persepsi masyarakat. Dengan nilai
Odds Ratio (OR) 4,281 yang artinya
kesehatan tidak baik tetapi persepsi
masyarakat baik yaitu 14 orang
pelayanan petugas kesehatan dengan
(31,8%), sedangkan pelayanan petugas
persepsi
masyarakat
yang
baik
kesehatan
baik
tetapi
persepsi
mempunyai peluang 4 kali untuk dapat
masyarakat tidak baik sebanyak 16
memberikan
persepsi
masyarakat
orang (30,8%), dan yang menyatakan
terhadap pelayanan petugas kesehatan
pelayanan petugas kesehatan baik dan
yang tidak baik.
persepsi masyarakat baik sebanyak 36
orang (69,2 %).
3. Hubungan Pelayanan Petugas Apotek dengan Persepsi Masyarakat
:
Tabel 11
Hubungan Pelayanan Petugas Apotek ( Obat ) dengan Persepsi
Masyarakat Di Puskesmas Singgani Kota Palu Provinsi Sulawesih
Tengah
Persepsi Masyarakat
Jumlah

No

Pelayanan
Petugas Apotek

Tidak Baik

13

61,9

38,1

21

100

Baik

33

44

42

56

75

100

Total

46

47,9

50

52,1

96

100

Tidak
Baik
f
%

Baik

P
Value

OR

0,228

2,068

Sumber : Data Primer, Tahun 2014


Pada
tabel
11
menunjukkan
bahwa
dari
total
responden 96 orang, yang menyatakan
pelayanan petugas apotek tidak baik dan
persepsi
masyarakat
tidak
baik
sebanyak 13 orang (61,9%), dan
pelayanan petugas apotek baik tetapi
persepsi masyarakat tidak baik yaitu 8
orang
(38,1%),
sedangkan
yang
menyatakan pelayanan petugas apotek
baik tetapi persepsi masyarakat tidak
baik sebanyak 33 orang (44%), dan

yang menyatakan. pelayanan petugas


apotek baik dan persepsi masyarakat
tidak baik sebanyak 42 orang (56 %).
Berdasarkan hasil uji
chi-square nilai didapatkan yaitu 0,228
(p > 0,05) berarti secara statistika tidak
ada hubungan yang bermakna antara
pelayanan petugas apotek dengan
persepsi masyarakat. Dengan nilai Odds
Ratio (OR) 2,068 yang artinya pelayanan
petugas
apotek
dengan
persepsi
masyarakat yang tidak baik mempunyai
2
70

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 62-75

Artikel VIII

peluang 2 kali untuk dapat memberikan


persepsi masyarakat pada pelayanan
petugas apotek yang baik.
PEMBAHASAN
1. Hubungan Pelayanan Petugas
Administrasi bagian Loket
Hasil
analisis
univariat
menunjukkan bahwa responden
yang
menyatakan
pelayanan
petugas administrasi bagian loket
yang baik lebih banyak dibanding
yang menyatakan tidak baik (tabel
5.5).
Hasil
analisis
bivariat
menunjukkan bahwa pelayanan
petugas administrasi bagian loket
yang baik lebih besar kemungkinan
dapat
memberikan
persepsi
masyarakat terhadap pelayanan
petugas administrasi bagian loket
dibandingkan
dengan
persepsi
masyarakat terhadap pelayanan
petugas administrasi bagian loket
yang
tidak
baik.
Sedangkan
pelayanan petugas administrasi
bagian loket yang tidak baik lebih
kecil
kemungkinan
dapat
memberikan persepsi masyarakat
pada
pelayanan
petugas
administrasi
bagian
loket
dibandingkan
dengan
persepsi
masyarakat terhadap pelayanan
petugas administrasi bagian loket
yang baik (tabel 5.8).
Menurut
asumsi
peneliti,
pelayanan petugas administrasi
bagian loket di puskesmas yang
tidak baik dapat membuat pasien
memberi persepsi yang tidak baik,
seperti lamanya menunggu antrian,
kurangnya
keramahan
dan
perhatian yang diberikan oleh
petugas kesehatan serta pemberian
penjelasan baik secara umum
maupun individu yang tidak dapat
dimengerti dan dipahami oleh para
pasien akan berdampak adanya
ketidak puasan terhadap pelayanan
yang
diberikan.
Sebaliknya
pelayanan kesehatan di puskesmas
yang baik seperti bersikap hati-hati,

tidak kasar, ramah, sopan dan


santun, serta memberi bimbingan
dan penjelasan terlebih dahulu
sebelum memberikan pelayanan
kepada pasien, dapat membuat
pasien merasa nyaman terhadap
pelayanan yang diberikan oleh
petugas kesehatan.
Secara statistik ada hubungan
bermakna
antara
pelayanan
petugas administrasi bagian loket
dengan persepsi masyarakat di
puskesmas Singgani kota Palu
provinsi Sulawesi Tengah dengan
nilai p value 0,009 (< 0,05).
Hal ini didukung juga oleh
penelitian
dari
Harun
2002,
menyatakan bahwa sebagian besar
pasien mendapatkan pelayanan
yang baik dari petugas pelayanan
administrasi di loket yakni mulai dari
petugas menanyakan keluhan yang
dirasakan
oleh
pasien
serta
memberikan
informasi
kepada
pasien dan bersikap ramah dalam
melayani pasien sehingga pasien
akan lebih merasa puas dengan
pelayanan yang diberikan oleh
petugas pelayanan administrasi di
loket.
Penelitian ini sejalan dengan
hasil dari penelitian Harun 2002,
yang dilakukan di puskesmas kota
Pontianak Kalimantan didapatkan
hasil bahwa ada hubungan yang
bermakna
antara
pelayanan
administrasi
di
loket
dengan
persepsi masyarakat dan telah diuji
secara satistik dengan nilai korelasi
(p = 0,020).
Dari hasil penelitian ini dapat
dilihat antara pelayanan petugas
administrasi bagian loket dan
persepsi masyarakat, yaitu lebih
banyak masyarakat yang merasa
pelayanan yang baik akan memberi
persepsi yang baik di banding
pelayanan
yang
tidak
baik
masyarakat akan memberi persepsi
yang tidak baik.
2
71

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 62-75

Artikel VIII

Penelitian ini sesuai dengan


yang dikemukakan oleh Wijono,
(1999) bahwa masyarakat akan
merasa puas apabila apa yang
diharapkan
sesuai
dengan
kenyataan.
Suatu
pelayanan
kesehatan dapat dikatakan sebagai
pelayanan kesehatan yang bermutu
apabila
penerapan
semua
persyaratan pelayanan kesehatan
dapat memuaskan dan pasien
kembali
berobat
di
tempat
pelayanan kesehatan yang sama
apabila dikemudian hari sakit.
sebaliknya pelayanan dikatakan
tidak
bermutu
atau
tidak
memuaskan apabila pelanggan
tidak
mendapatkan
pelayanan
sesuai apa yang diharapkan dan
ada kecenderungan pelanggan
enggan
untuk
kembali
memanfaatkan pelayanan tersebut.
2. Pelayanan Petugas Kesehatan (
Dokter/ Bidan / Perawat ) dengan
Persepsi Masyarakat
Hasil
analisis
univariat
menunjukkan bahwa responden
yang
menyatakan
pelayanan
petugas kesehatan yang baik lebih
banyak dibanding yang menyatakan
tidak baik (tabel 5.6). Hasil analisis
bivariat
menunjukkan
bahwa
pelayanan petugas kesehatan yang
baik lebih besar kemungkinan
masyarakat dapat memberikan
persepsi pada pelayanan petugas
kesehatan yang baik, dibanding
yang
tidak
baik.
Sedangkan
pelayanan petugas kesehatan yang
tidak baik lebih besar kemungkinan
masyarakat dapat memberikan
persepsi yang tidak baik pada
pelayanan
petugas
kesehatan
dibandingkan
dengan
persepsi
masyarakat yang baik (tabel 5.10).
Menurut
asumsi
peneliti,
pelayanan petugas kesehatan yang
tidak baik dalam memberikan
pelayanan pada masyarakat dapat
membuat masyarakat memberi

persepsi
terhadap
pelayanan
kesehatan yang diberikan oleh
petugas kesehatan itu sendiri. Hal
ini disebabkan karena pelayanan
yang diberikan oleh
petugas
kesehatan tidak sesuai dengan apa
yang di harapkan oleh masyarakat
sehingga
masyarakat
memberi
persepsi yang tidak baik terhadap
petugas kesehatan itu sendiri dan
berdampak pada kurang puasnya
pasien terhadap pelayanan pada
pasien di puskesmas Singgani.
Sebaliknya pelayanan petugas
kesehatan yang baik didalam
memberikan pelayanan kesehatan
seperti bersikap hati-hati, tidak
kasar, ramah, sopan dan santun,
kebersihan
ruangan,
dan
kenyamanan pasien saat petugas
kesehatan memberikan pelayanan
kesehatan,
sehingga
dapat
membuat pasien merasa puas
terhadap pelayanan yang diberikan
oleh petugas kesehatan. Dengan
demikian
berdampak
pada
peningkatan kualitas pelayanan
kesehatan.
Secara statistik ada hubungan
yang bermakna antara pelayanan
petugas kesehatan dengan persepsi
masyarakat di puskesmas Singgani
kota Palu provinsi Sulawesi Tengah
dengan nilai p value 0,001 (< 0,05).
Penelitian ini sejalan dengan
hasil dari penelitian Handoko
Murhestriarso, 2009, yang dilakukan
di puskesmas kecamatan di Jakarta
Selatan didapatkan hasil bahwa ada
hubungan yang bermakna antara
pelayanan
petugas
kesehatan
dengan persepsi pasien dan telah
diuji secara satistic dengan p-value
0.021 (< 0.05) yang berarti bahwa
ada keterkaitan hubungan antara
pelayanan
petugas
kesehatan
dengan persepsi pasien.
3. Pelayanan Petugas Apotek ( Obat
) dengan Persepsi Masyarakat
3
72

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 62-75

Artikel VIII

Hasil
analisis
univariat
menunjukkan bahwa responden
yang
menyatakan
pelayanan
petugas apotek yang baik lebih
banyak dibanding yang menyatakan
tidak baik (tabel 5.7). Hasil analisis
bivariat
menunjukkan
bahwa
pelayanan petugas apotek yang
baik lebih besar kemungkinan
masyarakat dapat memberikan
persepsi pada pelayanan petugas
apotek yang baik, dibanding yang
tidak baik. Sedangkan pelayanan
petugas apotek yang tidak baik
lebih
besar
kemungkinan
masyarakat dapat memberikan
persepsi yang tidak baik pada
pelayanan
petugas
apotek,
dibandingkan
dengan
persepsi
masyaraakat
yang baik (tabel
5.11).
Secara statistik tidak ada
hubungan yang bermakna antara
pelayanan petugas apotek dengan
persepsi masyarakat di puskesmas
Singgani
kota
Palu
provinsi
Sulawesi Tengah dengan nilai p
value 0,228 (> 0,05).
Menurut asumsi peneliti bahwa
pelayanan petugas apotek yang
baik maupun yang tidak baik akan
mempengaruhi kualitas pelayanan
petugas
dalam
memberikan
pelayanan
kesehatan
kepada
pasien, hal ini dapat memberikan
persepsi
masyarakat
tentang
kualitas pelayanan yang diberikan
oleh petugas kesehatan, bahwa
semakin baik pelayanan yang
diberikan oleh petugas apotek,
maka semakin baik pula persepsi
masyarakat
akan
kualitas
pelayanan yang diberikan, demikian
pula sebaliknya semakin tidak baik
pelayanan yang diberikan oleh
petugas apotek, maka persepsi
yang timbul dimasyarakat akan
kualitas pelayanan kesehatan tidak
baik pula.

Petugas kesehatan di apotek


sebaliknnya dalam memberikan
pelayanan
kesehatan
kepada
pasien harus bersikap hati-hati,
tidak kasar, ramah, sopan dan
santun,
menjaga
kerahasiaan
pasien,
serta
memberikan
penjelasan kepada pasien yang
dapat dipahami oleh pasien, dengan
demikian pasien akan merasa puas
dan
akan
berdampak
pada
peningkatan kualitas pelayanan
petugas di apotek.
Penelitian ini sejalan dengan
hasil dari penelitian Harun 2002,
yang dilakukan di puskesmas kota
Pontianak Kalimantan didapatkan
hasil bahwa tidak ada hubungan
yang bermakna antara pelayanan
informasi obat dengan kepuasan
pasien dan telah di uji secara
satistik dengan nilai korelasi (p =
0,070).
KESIMPULAN
1. Ada hubungan pelayanan petugas
Administrasi bagian Loket dengan
Persepsi Masyarakat di Puskesmas
Singgani
Kota
Palu
Provinsi
Sulawesi Tengah dengan nilai p
value 0,009 (< 0,05).
2. Ada hubungan Pelayanan Petugas
Kesehatan ( Dokter/ Bidan/ Perawat
) dengan Persepsi Masyarakat di
Puskesmas Singgani Kota Palu
Provinsi Sulawesi Tengah dengan
nilai p value 0,001 (< 0,05).
3. Tidak Ada hubungan Pelayanan
Petugas Apotik ( Obat ) dengan
Persepsi Masyarakat di Puskesmas
Singgani
Kota
Palu
Provinsi
Sulawesi Tengah dengan nilai p
value 0,228 (> 0,05).
SARAN
1. Bagi Institusi
Diharapkan
kepada
pihak
akademik agar dapat menjadikan
hasil penelitian ini sebagai bahan
yang dapat menambah khasanah
ilmu
pengetahuan
dan
merekomendasikan kepada para
4
73

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 62-75

Artikel VIII

peneliti selanjutnya agar dapat


melakukan penelitian serupa di
tempat lainnya
sehingga lebih
melengkapi hasil dan kesimpulan
tentang materi penelitian ini.
2. Bagi Instansi Kesehatan
Hasil
Penelitian
ini
dapat
memberikan bahan evaluasi terhadap
pelayanan yang diberikan kepada
pasien agar lebih meningkatkan
kualitas pelayanan kepada pasien
yang
datang
berkunjung
ke
Puskesmas Singgani serta agar hasil
penelitian ini kiranya dapat menjadi
salah satu bahan evaluasi dalam
peningkatan mutu pelayanan tenaga
petugas kesehatan di puskesmas
lebih melihat pelayanan yang di
berikan kepada masyarakat sehingga
dapat
memberikan
pelayanan
maksimal.
Bagian
petugas
Administrasi
bagian
Loket
di
Puskesmas Singgani agar dalam
memberikan pelayanan Administrasi
bagian Loket, harus sesuai dengan
prosedur yang telah ditetapkan untuk
mempertahankan dan meningkatkan
mutu pelayanan di Puskesmas
Singgani Kota Palu Provinsi Sulawesi
Tengah.

Puskesmas, Direktorat Jenderal


Bina Kesehatan Massyarakat,
Jakarat
------------(B), 2006, Pedoman Penilaian
Kinerja Puskesmas, Direktorat
Jenderal Bina Kesehatan
Masyarakat, Jakarta
Depkes RI, 2009, Pedoman
perencanaan tingkat puskesmas,
Direktorat Jenderal Bina
Kesehatan Masyarakat, Jakarta.
Effendi. 2009. Tentang Pengertian
Puskesmas. Sasana
Mitra
Sukses, Jakarta.
Etjang, 2002.Ilmu kesehatan
masyarakat.EGC, Jakarta
Gaspersz, Vincent, 1997,Manajemen
Bisnis
Total
dalam
Era
Globalisasi. Jakarta : Penerbit
PT.Gramedia.
Harun. 2002. Pelayanan Informasi Obat
(PIO) dan Ketersediaan Sarana
Puskesmas.
Pontianak.
Kalimantan.
Helmi, S. 2008. Kualitas Pelayanan
kesehatan,
http://shelmi.wordpress.com/200
8/19/04/kualitas-pelayanan/ .(
diunduh tanggal 19 juni 2014 )
John M. Ivancevich, dkk.2006.Perilaku
dan Manajemen
Organisasi.Jakarta.Erlangga
Makmuri Muchlas.2008.Perilaku
Organisasi.Yogyakarta.Gadjah
Mada University Press
Muninjaya. 2004. Manajemen Kesehatan
. Jakarta : EGC.
Notoatmodjo, 2010. Metodologi
Penelitian Kesehatan, PT.
Rineka Cipta, Jakarta
Puskesmas Singgani, 2012, Profil
Puskesmas, Palu.
Sakung, J. 2011. Bahan Ajar Biostatistik
I. FKM Unismuh, Palu.
Soeroso, 2002, Tingkat Kepuasan
Pelanggan, Rineka Cipta,
Jakarta
Wijono. 2004. Paradigma Sehat 2010.
Airlangga University Press,
Surabaya.

3. Peneliti Selanjutnya
Diharapkan dapat melakukan
penelitian
secara
berkesinambungan
dan
dapat
meneliti kembali hal-hal yang dapat
memberikan
pelayanan
yang
maksimal sehingga masyarakat
dapat memberikan Persepsi yang
baik pula terhadapa pelayanan
petugas di Puskesmas Singgani
Kota
Palu
Provinsi
Sulawesi
Tengah.
DAFTAR PUSTAKA
Azwar,A.2000.pengantar Administrasi
Kesehatan; Edisi Ketiga. Rineka
Cipta; Jakarta
Depkes RI (A), 2006, Pedoman
Perencanaan Tingkat
5
74

Promotif, Vol.5 No.1, Okt 2015 Hal 62-75

Artikel VIII

--------. 2004. Tentang Kepuasan Pasien.


Airlangga University Press,
Surabaya.

756