Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH PLENO BLOK 27

Genetika Klinik dan Gizi Masyarakat


Manajemen Nutrisi pada Penderita Obesitas

Kelompok D6 :
Adatya Stevani Paulins Putuhena

10.2010.253

Richard Simak

10.2011.051

Threesia Yuliana Damayanti

10.2011.086

Stella Nathania

10.2011.206

Josephine

10.2011.283

Krisna Lalwani

10.2011.301

Karinna Pratiwi

10.2011.397

Predy J. Samosir

10.2011.405

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510
Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731

Pendahuluan
Kegemukan atau kelebihan berat badan yang biasa disebut dengan obesitas pada awalnya
diyakini sebagai suatu gaya hidup yang menandakan seseorang hidup berkecukupan. Namun,
sekarang obesitas telah menjadi masalah yang serius karena memicu timbulnya berbagai
komplikasi penyakit yang menyertainya. Masalah obesitas kini telah menjadi perhatian khusus
badan kesehatan dunia. Perhatian tidak hanya ditujukan kepada jumlah lemak yang ditimbun,
tetapi juga kepada lokasi penumbunan lemak tubuh. Pola penyebaran lemak tubuh pada pria dan
wanita cenderung berbeda. Wanita cenderung menimbun lemaknya di pinggul dan bokong,
sehingga memberikan gambaran seperti buah pir. Sedangkan pada pria biasanya lemak
menimbun di sekitar perut, sehingga memberikan gambaran seperti buah apel.1,2
Oleh karena sangat pentingnya masalah obesitas pada saat ini, maka makalah ini akan
membahas manajemen nutrisi pada penderita obesitas.

Isi
Skenario 8
Seorang perempuan berusia 41 tahun bekerja sebagai manajer di perusahaan swasta
datang berkonsultasi ke dokter spesialis gizi klinik untuk menurunkan berat badannya yang
dirasakan sangat mengganggu aktivitas dan penampilan sehari-harinya. Pada pemeriksaan fisik
diperoleh hasil tekanan darah 130/90 mmHg, tinggi badan 150 cm, berat badan 80 kg, Lpe 95
cm, Lpa 105 cm. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil Hb 12 g/dL, gula darah puasa
100 mg/dL, kolesterol 130 mg/dL, trigliserida 180 mg/dL, HDL 30 mg/dL, LDL 100 mg/dL.
Istilah Asing
Tidak ada.
Rumusan Masalah
Perempuan 41 tahun dengan tinggi badan 150 cm, berat badan 80 kg, Lpe 95 cm, dan Lpa
105 cm.

BBN

IMT

WHR
Tipe Obesitas
Sindrom Metabolik
Perempuan 41 tahun dengan TB 150 cm, BB 80 kg, Lpe 95 cm, dan
Penatalaksanaan Obesitas

Status Gizi

Kebutuhan kalori/ energi


Karbohidrat
Protein Lemak
Analisis Masalah

Hipotesis
Perempuan 41 tahun tersebut menderita obesitas II.

Pembahasan
Berat Badan Normal/ Ideal (BBN/ BBI)
Salah satu parameter untuk mengetahui keseimbangan energi seseorang adalah melalui
penentuan berat badan ideal dan indeks massa tubuh. Rumus Brocca adalah cara untuk
mengetahui berat badan ideal, yaitu sebagai berikut:2
Usia < 40 tahun, BBI = tinggi badan (cm) 100 10%
Usia 40 tahun, BBI = tinggi badan (cm) 100
Hasilnya, apabila berat badan kurang dari berat badan ideal maka status gizinya kurang.
Sedangkan jika berat badan lebih dari berat badan ideal maka status gizinya lebih.
Pada kasus di atas, pasien berusia 41 tahun memiliki tinggi badan 150 cm dan berat
badan 80 kg, maka berat badan ideal pasien tersebut seharusnya 50 kg. Sehingga status gizi
pasien adalah berlebih, karena berat badan badan pasien lebih dari berat badan ideal.
Indeks Massa Tubuh (IMT)/ Body Mass Index (BMI)
IMT dihitung dengan pembagian berat badan (kg) oleh tinggi badan (m) pangkat dua. Kini IMT
banyak digunakan di rumah sakit untuk mengukur status gizi pasien karena IMT dapat
memperkirakan ukuran lemak tubuh yang sekalipun hanya estimasi tetapi lebih akurat daripada
pengukuran berat badan saja. Di samping itu, pengukuran IMT lebih banyak dilakukan saat ini
karena orang yang kelebihan berat badan atau yang gemuk lebih berisiko untuk menderita
penyakit diabetes, penyakit jantung, stroke, hipertensi, osteoarthritis dan beberapa bentuk
penyakit kanker. Namun, The National Institute of Diabetes and Digestive and kidney Diseases
mengingkatkan bahwa orang yang berotot dan bertulang besar dapat memiliki IMT yang tinggi
tetapi tetap sehat. Begitu pula orang berusia lanjut, orang dengan massa otot yang rendah dan
pasien malnutrisi bisa memiliki IMT yang normal tetapi tidak tepat. Berikut ini adalah rumus
untuk menghitung IMT:1
Berat badan (kg)
Tinggi badan (m2)

Rasio Pinggang : Panggul/ Waist to Hip Ratio (WHR)


Rasio pi-pa diukur dengan mula-mula mengukur lingkar pinggang (perut) pada lingkaran terkecil
di atas panggul. Kemudian, lingkaran panggul diukur lewat tonjolan gluteus yang paling
maksimal. Hasil kedua pengukuran ini kemudian digambar pada nomogram dan letakkan hasil
pengukuran lingkaran pinggang pada skala di sebelah kiri, sementara hasil pengukuran lingkaran
panggul pada skala di sebelah kanan. Hubungkan kedua hasil pada skala tersebut dengan garis
lurus yang akan memotong garis AGR/ WHR (abdominal-gluteal ratio atau waist to hip ratio)
yang terletak di antara kedua skala. Rasio pi-pa (WHR) yang sebesar 1,0 atau kurang bagi lakilaki dan 0,8 atau kurang bagi wanita merupakan nilai normal.1
Pengukuran lingkar perut (waist circumference) kini menjadi metode paling populer
kedua (sesudah IMT) untuk menentukan status gizi. Cara pengukuran lingkaran perut ini dapat
dapat membedakan obesitas menjadi jenis abdominal (obesitas tipe android) dan perifer (obesitas
tipe ginoid). Pasien dengan obesitas abdominal yang merupakan faktor risiko untuk berbagai
penyakit metabolik, vaskuler dan degeneratif memiliki lingkaran perut yang lebih besar dari
normal. Untuk diagnosis obesitas abdominal, lingkaran perut bagi wanita Asia adalah 80 cm
dan bagi pria Asia adalah 90 cm.1,2

Gambar 1. Normogram untuk menentukan rasio pinggang-panggul.1

Status Gizi
Hasil pengukuran yang spesifik mengenai ukuran dan perubahan proporsi tubuh merupakan
indikator penting bagi status gizi. Pengukuran ini meliputi berat dan tinggi badan yang
digunakan untuk menghitung indeks massa tubuh pada pada orang dewasa dan sebagai indikator
tubuh kurus dan tubuh pendek pada anak. Lingkar lengan atas (LiLA) dapat menunjukkan gizi
kurang pada anak, rasio pinggang : panggul (waist to hip ratio/ WHR) merupakan indikator
adipositas sentral pada orang dewasa. Ketebalan lipatan kulit merupakan ukuran jaringan adipose
subkutan dan jika diukur pada tempat yang sesuai dapat digunakan untuk menghitung persentase
lemak tubuh.1,3
Hampir semua aspek dalam penelitian gizi berpotensi memiliki kelemahan. Beberapa
dapat dihilangkan dengan perencanaan dan desain studi secara teliti, dan jika memungkinkan
pengukuran dilakukan berulang kali. Dalam usaha mengaitkan pajanan dengan faktor penyebab
(atau pencegah), dan akibat kesehatan (atau penyakit), sifat multifaktorial dari keterkaitan
tersebut perlu diperhatikan untuk mencegah penarikan kesimpulan yang tidak tepat. Dalam
menilai asupan makanan individu, sering terjadi kompromi antara pengukuran yang akurat dan
pengukuran yang menggambarkan asupan makanan yang normal. Asupan nutrien (zat gizi)
dihitung menggunakan tabel komposisi makanan. Perkiraan ukuran porsi dan penyesuaian
terhadap jumlah makanan yang terbuang juga perlu dipertimbangkan.3
Tabel 1. Klasifikasi Indeks Massa Tubuh (Asia Pasifik).3
Klasifikasi
Berat badan kurang
Berat badan normal
Berat badan lebih
Pra-obes
Obesitas I
Obesitas II
Obesitas III

IMT (kg/m2)
< 18,5
18,5 24,9
25,0
25,0 29,9
30,0 34,9
35,0 39,9
40,0

Kebutuhan Kalori/ Energi


Kebutuhan kalori total ditentukan oleh basal metabolisme rate (BMR), aktivitas fisik, dan
specific dynamic action (SDA)/ efek termis makanan. Sebelum menentukan jumlah kebutuhan
kalori total, maka harus ditentukan BMR terlebih dahulu. Berikut adalah beberapa cara untuk
mengukur BMR, yaitu:2
1. Rumus Harris Benedict yang dikenal dengan rumus REE (Resting Energy Expenditure)
BMR (laki-laki)
= 66,4 + [13,7 x BB] + [5 x TB] - [6,8 x Umur]
BMR (perempuan) = 655 + [9,6 x BB] + [1,8 x TB] - [4,7 x Umur]
2. Metode faktorial
BMR (laki-laki)
= BBI (kg) x 1 kKal x 24 jam
BMR (perempuan) = BBI (kg) x 0,9 kKal x 24 jam
Langkah selanjutnya menentukan berat/ ringan jenis aktivitas yang dilakukan sehari-hari
oleh pasien. Berikut ini adalah penggolongan aktivitas:2
1.
2.
3.
4.
5.

Ringan sekali
Ringan
Sedang
Berat
Berat sekali

= 30 %
= 50 %
= 75 %
= 100 %
= 125 %

Contoh aktivitas yang termasuk dalam golongan ringan adalah pegawai kantor, ahli
hokum, dokter, guru. Aktivitas sedang adalah pekerja industri ringan, mahasiswa, pekerjaan
rumah tangga. Aktivitas berat adalah buruh kasar, penari balet, olahragawan.2
Langkah terakhir yaitu menghitung besarnya efek termis makanan yang diperkirakan
besarnya adalah 10% dari jumlah energi basal dan energi aktivitas. Maka rumus untuk
menghitung jumlah kebutuhan kalori total adalah:2
Total energi = energi basal (BMR) + energi aktivitas + SDA

Karbohidrat

Karbohdirat adalah sakarida yang tergabung dalam berbagai tingkat kompleksitas untuk
membentuk gula sederhana, serta unit yang lebih besar seperti oligosakarida dan polisakarida.
Fungsi utamanya adalah sebagai sumber energi dalam bentuk glukosa. Beberapa karbohidrat
tidak dapat dicerna (disebut non-glikemik) dan terdiri atas polisakarida nonpati yang merupakan
bagian dari serat makanan dan berperan dalam fungsi usus.4,5
Jika energi yang dibutuhkan sangat tinggi, sedangkan intake ataupun cadangan
karbohidrat berkurang, maka mekanisme tubuh adalah mengubah sumber-sumber nonkarbohidrat
seperti lemak menjadi glukosa. Kebutuhan tubuh terhadap karbohidrat sekitar 55-65% total
kalori/ hari. Satu gram karbohidrat menghasilkan 4 kalori.4,5
Lemak
Lemak meliputi beraneka ragam zat yang larut dalam lipid, sebagian besar merupakan
trigliserida atau triasilgliserol (TAG). Produk turunannya, seperti fosfolipid dan sterol (yang
paling terkenal adalah kolesterol) juga termasuk dalam kelompok ini. TAG dipecah untuk
menghasilkan energi dan menyusun cadangan energi utama bagi tubuh dalam jaringan adiposa.
Asam lemak spesifik yang terdapat dalam TAG penting bagi struktur dan fungsi membrane sel,
dan harus diperoleh dari diet. Asam lemak ini disebut asam lemak esensial.4,5
Fungsi lemak adalah sebagai sumber cadangan energi, komponen dari membrane sel,
insulator suhu tubuh, pelarut vitamin A, D, E, dan K. kebutuhan lemak oleh tubuh sekitar 2030% total kalori/ hari. Satu gram lemak menghasilkan 9 kalori.4
Protein
Protein terdiri atas berbagai rantai dari asam amino tunggal yang tergabung membentuk beraneka
ragam protein. Saat dicerna, masing-masing asam amino digunakan untuk sintesis asam amino
serta protein lainnya yang diperlukan oleh tubuh, dengan melibatkan cukup banyak daur ulang
dari komponen-komponen tersebut.4
Ada delapan asam amino esensial (untuk anak, ada lebih dari delapan) yang harus
diperoleh dari diet. Selain itu, beberapa asam amino mungkin menjadi esensial karena keadaan
(conditionally essential) dalam kondisi stres fisiologis tertentu. Jika aasam amino tidak
dibutuhkan lebih lanjut, barulah asam amino tersebut dipecah dan digunakan sebagai energy dan

bagian nitrogennya terekskresi sebagai urea. Konsumsi protein oleh tubuh kita sekitar 15-20%
total kalori/ hari. Satu gram protein menghasilkan 4 kalori.4,5
Tabel 2. Komposisi zat gizi makro.3
Zat gizi
Karbohidrat
Protein
Lemak total
Asam lemak jenuh (saturated)
Asam lemak monosaturated
Asam lemak polysaturated
Kolesterol
Serat

Komposisi (%)
55-65
15-20
20-30
8-10
15
10
< 300 mg/hari
20-30 g

Penatalaksanaan Obesitas
Penderita obesitas berat memerlukan terapi untuk memperbaiki prognosis, bentuk tubuh, dan
meminimalisasi gejala/ keluhan, terutama yang berasal dari masalah fisik. Penanganan pasien
obesitas diawali dengan penilaian derajat obesitas, distribusi berat badan, penentuan faktor
risiko, evaluasi kesiapan pasien, dan ketersediaan sumber/ peralatan untuk menurunkan berat
badan.3
Tabel 3. Petunjuk memilih pengobatan.3
Pengobatan
Pengobatan Gizi
Medis (PGM),
olahraga, perilaku
Farmako terapi
Bedah

25 26,9

27 29,9

Dengan

Dengan

komorbid

komorbid
Dengan

Kategori IMT
30 34,9

35 39,9

40

+
komorbid
Dengan ko morbid

Tujuan pengobatan penderita obesitas ialah mengembalikan fungsi normal proses


metabolik dan organ tubuh. Rasionalisasi tetapi bukan semata didasari oleh pengingkatan angka
kematian terkait-obesitas, tetapi telah terbukti pula bahwa penurunan berat badan terbukti

berhasil menurunkan tekanan darah pengidap obesitas, memperbaiki profil lipid, memperbaiki
toleransi glukosa dan kadar gula darah puasa.3
Secara umum, pengobatan obesitas terbagi atas modifikasi gaya hidup, pemberian obat,
dan intervensi bedah. Perubahan gaya hidup mencakup perubahan komposisi pangan, modifikasi
kegiatan fisik, dan pengobatan perilaku. Perubahan gaya hidup jelas sangat bermanfaat. Inti
pengobatan perilaku adalah perbaikan kebiasaan makan. Metode pengobatan perilaku ini
setidaknya mencakup 6 langkah, yaitu (1) pemantauan mandiri, (2) pengawasan rangsangan, (3)
penekanan pada perbaikan gizi, (4) restrukturisasi kognitif, (5) pembelajaran hubungan
antarpribadi, dan (6) pencegahan kemungkinan kambuh. Pasien juga diajarkan untuk tidak
terpengaruh iklan pemangkasan berat badan secara instan.3,4
Pemantauan mandiri meliputi pencatatan asupan makanan dan situasi ketika bersantap.
Pengawasan rangsangan berupa pembatasan diri untuk tidak kontak dengan lingkungan yang
memungkinkan makan berlebihan. Pasien dianjurkan agar semata-mata bersantap, tidak
digabung dengan kegiatan lain (misalnya sambil membaca koran atau menonton televisi).
Restrukturisasi kognitif merupakan upaya untuk menentukan serta mengubah pikiran dan sikap
negatif tentang pengaturan berat badan. Pembelajaran hubungan antar-pribadi diarahkan pada
pengembangan kemampuan pasien dalam menghadapi pemicu yang khas menimbulkan nafsu
makan berlebihan. Pencegahan kemungkinan kambuh, langkah yang terakhir ialah upaya
berkelanjutan yang dirancang untuk memantapkan keberlangsungan proses pengurangan berat
badan.4
Target penurunan berat badan, berpatokan pada BMI, sangat bergantung pada nilai BMI
ketika upaya pengurangan berat badan itu tengah dirancang. Jika BMI masih dibawah 30 dan
orang yang bersangkut5an dalam keadaan sehat serta berminat mengikuti program pengurangan
berat badan, target BMI boleh dipatok pada angka 20-27. Sementara itu, jika BMI 30 dan
obesitas telah berlangsung lama, target nilai BMI ditetapkan tidak lebih dari minus 2 dari BMI
semula.3

Pengobatan gizi medis (PGM)

Edukasi gizi dan kebiasaan makan yang baik untuk pengendalian berat badan pasien
obesitas merupakan inti strategi penanganan. Intervensi ini dimaksudkan untuk menormalkan
kadar lemak, menstabilkan kadar gula darah, menurunkan tekanan darah, serta mengurangi atau
memelihara berat badan. Pengobatan gizi medis untuk pasien obesitas yang didasarkan pada
pengurangan asupan kalori, setidaknya terbagi ke dalam empat pilihan, yaitu:3
1. Diet kalori sangat rendah (DKSR)
DKSR (< 800 kkal/hari) ditujukan bagi pasien dengan nilai BMI 30 tanpa faktor
komorbid dan atau faktor risiko lain atau pasien yang mempunyai BMI 27 dengan
faktor komorbid dan/ atau faktor risiko lain. Diet jenis ini diterapkan secara eksklusif
selama < 8 minggu yang kemudian dilanjutkan dengan diet kalori rendah (800-1200 kkal)
selama 24 minggu hingga 5 tahun.
2. Diet kalori rendah (DKR)
Diet ini (800-1200 kkal/hari) dianjurkan pada pasien obes denga nilai BMI 27
tanpa faktor kormobid dan/ atau faktor risiko lain atau pasien yang mempunyai BMI 25
dengan faktor komorbid dan/ atau faktor risiko lain. Dalam kurun waktu 6-12 bulan.
3. Diet kalori sedang dengan kandungan lemak rendah/ diet rendah lemak (DRL)
Jumlah kalori yang dipatok untuk DRL berkisar antara 1200-2300 kkal/hari.
Kontribusi lemak antara 20-30%.
4. Diet perorangan
Jumlah asupan energi yang dtakar berdasarkan kebutuhan gizi yang khas untuk
setiap pasien obesitas. Dalam hal ini, jumlah asupan energi per hari tentunya diupayakan
jangan kurang dari 1200 kkal. Dari sini, disusun daftar menu yang bergizi, beragam, serta
berimbang (B3), untuk selanjutnya diterjemahkan ke dalam daftar bahan penukar.

Olahraga
Olahraga bukan hanya berkhasiat menurunkan berat badan, tetapi juga meningkatkan kepekaan
insulin, terutama pada mereka yang terlahir dari rahim pengidap diabetes, di samping
meningkatkan ambilan oksigen, membugarkan sistem kardiorespirasi, serta menyegarkan
pikiran.5

Di awal pengobatan, pasien dimotivasi untuk menjalankan kegiatan fisik selama 30-45
menit sebanyak 3-5 hari seminggu. Bagi sebagian besar pasien obesitas, olahraga harus dimulai
perlahan-lahan denga penambahan intensitas secara bertahap. Pasien jangan dipaksa berolahraga,
melainkan sekadar dibujuk agar bersedia mengubah pola, sekaligus meragamkan, kegiatan fisik
(misalnya memarkir kendaraan beberapa ratus meter dari tempat tujuan, menggunakan tangga
ketimbang lift atau escalator dan menggunakan sapu konvensional ketimbang vacuum cleaner).
Seiring berjalannya waktu, terlebih jika pasien telat merasakan kenikmatan dan manfaat dari
berkurangnya berat badan, intensitas kegiatan dapat ditingkatkan.3,4
Upaya mempertahankan berat badan yang telah susut, setelah pasien menjalani PGM,
tidak akan berhasil tanpa disertai olehraga (atau sekadar melakukan kegiatan fisik). Sementara
itu, untuk memperoleh keberhasilan jangka panjang, gaya hidup harus pula diubah. Meskipun
tengah menjalani diet, nafsu makan pasien obesitas kadang kala tidak dapat dicegah. Jika
memang demikian, para pengidap obesitas hendaknya diajari cara membakar kalori makanan
yang sudah terlanjur mengonsumsi kue pie apel. Jika pasien menginginkan kalori yang
terkandung dalam kue itu tidak mengendap dalam tubuhnya, maka pasien harus berjalan kaki
selama 77 menit atau bersepeda 49 menit, atau berenang 36 menit, atau berlari 21 menit.
Demikian pula jika seseorang hendak menenggak, sebut saja segelas bir, dia harus memusnahkan
kalori yang terkandung dalam bir tersebut dengan berjalan kaki selama 22 menit.3

Farmako terapi
Karena obesitas merupakan suatu kondisi kronis, penggunaan obat jelas akan berlangsung lama.
Sama seperti obat antihipertensi, penghentian mendadak dapat mengakibatkan efek putus-obat
(withdrawal effect), yaitu berat badan dapat tiba-tiba melonjak. Oleh karena itu, National
Institute of Helath menganjurkan agar penggunaan farmako terapi diarahkan pada pasien
obesitas yang gagal diobati melalui perubahan gaya hidup. Upaya farmako terapi juga ditempuh
sebagai pendamping modifikasi gaya hidup jika pasien memenuhi kriteria BMI 30 tanpa
keadaan kormobid atau BMI 27 de ngan minimal satu keadaan komorbid dan/ atau faktor

risiko lain. Faktor risiko yang dimaksud ialah hipertensi, dislipidemia, penyakit jantung koroner,
diabetes mellitus tipe 2, serta sleep apnea.3
Obat penurun berat badan yang kini disetujui oleh Food and Drugs Administration
(FDA) terbagi dalam dua kelompok, yaitu obat penurun asupan pangan dan obat yang berfungsi
sebagai pengurang serapan zat gizi.3,6
1. Obat penurun asupan pangan
Obat penurun asupan pangan dikemas sebagai penekan nafsu makan. Kebanyakan obat
jenis ini bekerja dengan jalan meningkatkan ketersediaan neurotransmitter anoreksigenik
pada sistem saraf pusat (SSP). Contohnya ialah norepinefrin, serotonin, dopamine, atau
kombinasi ketiganya. Dengan menekan nafsu makan, kemungkinan terjadinya anoreksia
terbuka lebar.
2. Obat nonadrenergik
Obat-obat nonadrenergik yang tersedia saat ini, antara lain fentermin, dietlipropion,
fendimetrazin, dan benzofetamin. Amfetamin tidak lagi dianjurkan karena cenderung
dislahgunakan, begitu pula dua obat terakhir (fendimetrazin, dan benzofetamin). Obatobat golongan ini dianjurkan dan disetujui FDA hanya untuk penggunaan jangka pendek,
beberapa minggu saja (kurang dari 12 minggu). Beberapa penelitian memang
membuktikan bahwa obat-obat ini aman digunakan hingga 6 minggu atau lebih
(maksimal 3 bulan). Berat badan akan terkikis sebanyak 4,8 kg, jika digunakan dosis 10
mg, atau sebanyak 6,1 kg dengan takaran dosis 15 mg.
Efek samping obat golongan ini berupa insomnia, mulit ,kering, sembelit/
konstipasi, euforia, sakit kepala, palpitasi, serta hipertensi. Kontraindikasi relatif
penggunaan obat golongan ini meliputi penyakit jantung koroner, aritmia, gagal jantung
kongestif, dan stroke.
3. Obat serotonergik
Obat serotonergik bekerja dengan cara meningkatkan pengeluaran serotonin dan
menghambat ambilan-kembali (re-uptake), atau keduanya. Dua obat, fenfluramin
(Redux) dan dexflenfuramin (Pondimin), yang merangsang pengeluaran serotonin
sembari menghambat ambilan-kembali, telah ditarik dari peredaran karena keterkaitannya

dengan kelainan katup jantung dan hipertensi pulmonal. Kedua obat ini, masih dalam
penelitian memepunyai kemanfaatan yang serupa dengan obat-obat nonadrenergik.
Obat-obat serotonergik kini diindikasikan pada keadaan yang tidak terkait dengan
obesitas, seperti depresi dan obsesi-kompulsi. Beberapa penghambat ambilan-kembali
serotonin, seperti fluoksetin (Prozac), hanya dapat menurunkan berat selama 6 bulan
dengan dosis 60 mg. meskipun obat tetap diberikan, berat badan ternyata kembali seperti
semula dalam enam bulan berikutnya. Hal ini juga ditemukan pada penggunaan sertralin
(Zoloft), yang terbukti tidak memiliki kemanfaatan jangka panjang.
4. Obat campuran nonadrenergik-serotonergik
Sibutramin (Merida) salah satu penghambat ambilan-kembali norepinefrin dan serotonin,
juga telah disetujui FDA sebagai obat penurun dan pemelihara berat badan. Namun,
penggunaannya harus dipadukan dengan diet rendah kalori. Preparat ini diindikasikan
bagi pengidap dengan BMI 30 tanpa faktor komorbid atau dapat juga diberikan pada
mereka dengan BMI 27 dengan faktor risiko lain, semisal diabetes mellitus tipe 2 atau
hiperkolesterolemia. Penggunaan obat ini tidak dianjurkan pada anak/ remaja di bawah
18 tahun dan lansi di atas 65 tahun.
Efek samping sibutramin berupa peningkatan tekanan darah dan frekuensi nadi,
mulut kering, sakit kepala, insomnia, dan sembelit. Selain berat badan berkurang, faktor
risiko lain pun dapat diperbaiki. FDA tidak menganjurkan penggunaan preparat
sibutramine pada pasien dengan hipertensi tak-terkendali, penyakit jantung koroner, gagal
jantung kongestif, aritmia jantung, dan penyakit serebrovaskuler, hipertiroidisme,
hipertrofi prostat, feokromositoma, glaukoma sudut tertutup, wanita hamil dan menyusui,
mereka yang memiliki riwayat sebagai pecandu alkohol atau penyalahgunaan obat,
gangguan jiwa, serta stroke. Oleh sebab itu, pemantauan yang ketat harus diterapkan
selama pemberian obat.
Besaran dosis dipatok pada kisaran 10-15 mg/hari. Pemberian awal cukup 10 mg
sehari, yang ditingkatkan menjadi 15 mg jika penyusutan berat badan kurang dari 2 kg
setelah 4 minggu pemakaian. Apabila penurunan berat badan dengan dosis maksimal ini
tidak sampai 2 kg selama 4 minggu, obat tidak boleh digunakan lagi. Lama penggunaan

tidak boleh lebih dari 1 tahun. Obat harus dihentikan jika pengurangan berat setelah 3
bulan kirang dari 5% berat badan awal. Pengobatan boleh diperpanjang hingga lebih dari
6 bulan jika susutan berat badan lebih dari 10%. Berat badan pengidap obesitas yang
diberi obat ini selama 6 bulan, dipadukan dengan diet rendah kalori, terbukti berkurang
sebanyak 5-8%.
Berlainan dengan fenfluramin dan dexfenfluramine, sibutramin tidak mengimbas
pelepasan serotonin sehingga tidak menyebabkan gangguan katup jantung. Efek samping
yang tersering berupa konstipasi, anoreksia, mulut kering, dan insomnia. Efek samping
lain yang kadang-kadang terjadi adalah nausea, takikardia, palpitasi, hipertensi,
vasodilatasi, sakit kepala, parestesia, kecemasan, produksi keringat berlebihan, gangguan
pengecapan, dan pandangan kabur (jarang sekali terjadi).
5. Obat pengurang serapan zat gizi
Obat pengurang serapan zat gizi yang disetujui FDA hanyalah orlistat (Xenical) yang
merupakan penghambat lipase pankreas dan hati. Obat ini bekerja dengan jalan berikatan
dengan enzim lipase pada lumen saluran cerna guna mencegah hidrolisis lemak dari
makanan menjadi asam lemak bebas yang dapat diserap. Pasien yang mengonsumsi
orlistat sebanyak 120 mg akan mengeluarkan sekitar sepertiga (30%) lemak yang
tersantap sekitar 1 jam setelah makan.
Preparat ini diindikasikan bagi pendidap obesitas yang memiliki BMI 30 atau
BMI 28 dengan faktor risiko lain. Dosis mulai dari 120 mg, yang dianjurkan ditelan
sebelum, sewaktu, atau paling lama 1 jam setelah makan. Dosis boleh ditingkatkan
hingga 360 mg sehari dengan penggunaan maksimal 2 tahun. Jika makanan tidak
mengandung lemak, preparat ini sebaiknya tidak dikonsumsi. Perlu diingat bahwa
penggunaan preparat ini tidak dianjurkan pada anak-anak berusia luring dari 2 tahun,
bahkan dikontraindikasikan bagi wanita hamil dan menyusui, penyandang sindrom
malabsorpsi, serta pengidap kolestatis.
Efek samping orlistat berupa tinja cair berlemak, defekasi, flatus, nyeri perut dan
rectum, sakit kepala, ketidakteraturan haid, kecemasan, kelelahan ekstrem, dan hepatitis
(jarang sekali). Penggunaan orlistat bersamaan dengan pereduksian asupan lemak yang

akan mengakibatkan defisiensi vitamin larut-lemak. Oleh sebab itu, suplementasi vitamin
ADEK perlu dilakukan.
6. Suplemen/ preparat herbal
Kesulitan dalam menaati diet serta kemalasan melakukan olahraga yang disertai dengan
dampak negative (fisik maupun psikis) dari obesitas itu sendiri, menyebabkan banyak
pasien memilih jalan pintas dan beralih ke terapi herbal/ suplemen. Suplemen atau
preparat herbal, abik yang dijual bebas di took maupun yang disebar melalui bisnis MLM
(multilevel marketing) banyak diminati karena menawarkan penurunan berat badan tanpa
harus bersusah-payah mengatur diet dan memeras keringat untuk berolahraga.3
Efedra (Ephedra sinica) merupakan perangsang SSP. Jika dipadukan dengan
kafein, preparat ini mampu memangkas berat badan, tetapi gagal menyusutkan berat
badan jika diberikan sendiri-sendiri. Namun, paduan ini tidak dapat digunakan lama
karena berpotensi menimbulkan efek samping yang berbahaya.6
Kekurangan

kromium

berhubungan

dengan

keadaan

hiperglisemia,

hiperinsulinemia, hipertrigliseridemia, serta rendahnya kadar kolesterol HDL, karena


elemen kelumit ini berperan penting dalam pemekaan reseptor insulin. Namun, tidak ada
kajian yang membuktikan pengaruhnya sebagai pengikis berat badan.6
Guar gum, glucomannan, dan psyllium merupakan sumber serat yang larut dalam
air. Secara teoritis, serat ini akan menyerap banyak air dalam usus sehingga menimbulkan
efek rasa kenyang, di samping berperan dalam mengendalikan gula darah pasien DM dan
keadaan hiperlipidemia. Sayang sekali, efek rasa kenyang yang berlanjut sebagai penekan
nafsu makan tidak serta merta berdaya guna menurunkan berat badan. Sebagai penurun
berat badan, guar gum tidak terbukti lebih baik disbanding plasebo. Kemanfaatan
psyllium sudah terbukti dalam memperbaiki profil lemak dan gula darah secara bermakna
pada penyandang DM tipe 2, tetapi tidak tebrukti mampu menurunkan berat badan.3,6
Konjugat asam linoleat (conjugated linoleic acid, CLA) berkhasiat mereduksi
timbunan lemak pada tikus percobaan yang obesitas melalui peningkatan oksidasi dan
penurunan ambilan trigliserida dalam jaringan lemak. Sayangnya hasil penelitian ini tidak

dapat diekstrapolasi ke manusia karena tidak ada data penelitian yang mendukung
keberhasilan CLA dlaam penurunan berat badan.3
Penelitian Dullo et al membuktikan bahwa teh hijau mampu meningkatkan
oksidasi lemak dan termogenesis, tetapi tidak ada laporan tentang kemanfaatannya dalam
pengikisan berat badan. Meskipun tidak dapat mengurangi nilai BMI, licorice dapat
mengurangi lemak, preparat herbal ini terbukti pula membuahkan efek samping berupa
pseudo-aldosteronisme, hipertensi, dan hipokalemia.3
Chitosan diolah dari chitin yang terkandung pada kulit Crustacea (salah satu kelas
Arthropoda) merupakan polimer bermuatan listrik positif yang dianggap mampu
mencegah penyerapan lemak karena sel-sel lemak dalam saluran cerna bermuatan listrik
negatif. Pengaruh penurunan berat badan ini tidak bermakna ketimbang efek yang
ditimbulkan oleh plasebo. Peneliti lain bahkan tidak dapat membuktikan perbedaan
tersebut dan cenderung melaporkan hasil penelitian yang berseberangan. Preparat ini
sebaiknya tidak dimakan bersamaan dengan vitamin yang larut dalam lemak.3,6
Dua jenis preparat herbal, dandelion dan cascara, terbukti mampu menyusutkan
berat badan dengan cara mengeluarkan cairan tubuh. Dandelion berkhasiat diuretik,
sementara cascara bertindak sebagai pencahar. Keduanya menyebabkan efek samping
berupa dehidrasi dan ketidaknormalan elektrolit.6
Suplemen atau preparat herbal yang boleh direkomendasikan sebagai obat
seharusnya memenuhi tiga kriteria, yaitu quality (mutu), safety (keamanan), dan efficacy
(kemanfaatan). Jika ketiga criteria ini terpenuhi, sebuah suplemen boleh dikonsumsi
dengan melakukan pengawasan terhadap penggunanya (pasien). Jika tidak, suplemen
tersebut jangan digunakan.3
Tabel 4. Suplemen zat gizi.3
Efek
Meningkatkan keluaran energy
Mengatur metabolisme glukosa
Meningkatkan rasa kenyang
Meningkatkan oksidasi atau mengurangi

Jenis suplemen/ preparat herbal


Efedra, bitter orange, guarana, kafein
Kromium, ginseng
Guar gum, glucomannan, psyllium
L karnitin, asam hidroksisitrat, teh hijau,

sintesis lemak
Menyekat penyerapan lemak
Meningkatkan pengeluaran cairan
Mengubah mood
Tidak khas

licorice, piruvat, konjugat asam linoleat


Chitosan
Dandelion, cascara
St. Johns wort
Lamina, spirulina, guggul, cuka apel

Pembedahan
Tujuan pembedahan pada pasien obesitas ialah menginduksi pengurangan berat badan
dan mempertahankannya, melalui tindakan operasi secara aman, serta memperbaiki atau
melenyapkan berbagai kondisi komorbid. Dengan begitu, mutu kehidupan dapat ditingkatkan
dan usia pasien dapat diperpanjang.5
Tindakan bedah baru boleh dipertimbangkan jika BMI pasien 40 atau BMI 35 dengan
faktor komorbid dan/ atau faktor risiko lain. Intervensi bedah terbatas untuk pasien berusia antara
18 hingga 50 tahun. Keberhasilan tindakan operasi dalam memangkas berat badan, yang dinilai
pada tahun kelima, jauh melampaui (90%) kesuksesan pengobatan dengan obat (21%). Meski
demikian, tindakan bedah pada obesitas morbid sesungguhnya bukan pilihan utama, melainkan
sebagai pendamping bagi terapi diet. Pada prinsipnya, terapi bedah didasarkan pada dua hal,
yaitu rancangan malabsropsi pada usus halus dan restriksi pada lambung. Rancangan
malabsorpsi pada usus halus bertujuan memendekkan usus halus atau mengurangi kemampuan
mukosanya dalam menyerap zat gizi. Operasi restriktif pada lambung merupakan upaya
manipulatif melalui pembuatan kantong dan saluran keluar baru (neogastric pouch), dengan
begitu diharapkan asupan makanan akan berkurang.3-5
Tabel 5. Kriteria pemilihan pasien untuk pembedahan.3
Terpilih
- BMI 40 atau 35 dengan faktor komorbid
- Usia 16-65 tahun
- Risiko medis/ operatif diterima
- Gagal dengan terapi non-bedah
- Pasien stabil, termotivasi, berpengharapkan
-

realistik
Pasien paham prosedur operasi dan

kemungkinkan komplikasi
Sepakat untuk mengubah gaya hidup jangka

Tidak terpilih
- Riwayat pecandu alkohol yang
-

belum pulih
Riwayat skizofrenia, depresi

berat, pernah mencoba bunuh diri


Tidak dapat kerja sama
Risiko medis tidak dapat diterima
Lingkungan keluarga tidak
mendukung

panjang
Lingkungan sosial dan keluarga mendukung
Sepakat untuk dievaluasi jangka panjang

Sindrom Metabolik
Sindrom metabolik (sering juga disebut syndrome X atau insulin resistance syndrome)
merupakan istilah yang digunakan ketika seorang pengidap obesitas telah memiliki 3 dari 5
faktor risiko. Kelima faktor risiko ini dapat dilihat pada Tabel 5 Kriteria sindrom metabolik.3
Meskipun banyak faktor diyakini terlibat, penyebab sindrom metabolik belum
sepenuhnya terkuak. Fakotr-faktor yang terbukti berpengaruh pada resistensi insulin ini, meliputi
(1) faktor genetik, (2) penggunaan karbohidrat dan gula secara berlebihan, (3) penggunaan asam
lemak jenuh yang berlebihan, sementara asam lemak esensial terlalu sedikit, (4)
ketidakseimbangan antara kalsium dan magnesium, (5) penggunaan stimulant dan obat tertentu,
serta (6) stres.3
Bukti campur tangan komponen genetik diperoleh berdasarkan hasil kajian keluarga yang
menunjukkan bahwa komponen sindrom metabolik sangat meungkin dimiliki seorang pengidap
obesitas jika orang tuanya merupakan penyandang diabetes, hipertensi, atau keduanya.
Prevalensi kembar monozigot dalam menampakkan komponen sindrom ini lebih tinggi
ketimbang kembar dizigot.
Karbohidrat adalah penyumbang kelimpahan insulin, teruatam akibat penggunaan refined
sugar secara berlebihan dalam jangka panjang. Kelimpahan asam lemak jenuh, khususnya
ketakselarasan perbandingan antara asam-asam lemak bebas (omega 3 dna omega 6),
mengakibatkan ketidaknormalan membrane sel yang pada akhirnya menghambat masuknya
molekul glukosa ke dalam sel.
Magnesium ialah mineral yang banyak berperan dalam berbagai kegiatan metabolik,
seperti relaksasi otot dan saraf, pencernaan lemak, aktivitas normal kelenjar tiroid, penurunan
kadar kolesterol, dan lain-lain. Terkikisnya magnesium langsung memicu konstriksi pembuluh
darah, mengakibatkan peninggian tekanan darah serta perangsangan sistem saraf secara
berlebihan. Magnesium juga merupakan komponen penting dalam pembentukan insulin, di

samping insulin itu sendiri berperan aktif dalam proses ambilan (uptake) mineral ini ke dalam
sel. Resistensi insulin mengurangi penyerapan magnesium yang ikut memicu hiperaktivitas sel
yang pada gilirannya kelak akan menambah beban resistensi insulin. Kelebihan glukosa dalam
darah menyebabkan pertambahan ambilan kalsium ke dalam sel. Pertambahan ambilan kalsium
yang dibarengi pengurangan ambilan magnesium akan mengganggu keseimbangan kalsiummagnesium. Dampak dari dominasi ion kalsium ialah perangsangan sel secara berlebihan oleh
kalsium, mengakibatkan hipersentivitas sel.
Stimulan, seperti kopi, teh, minuman ringan, alkohol, dan rokok, mampu meningkatkan
kadar gula darah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Alkohol memang mengandung
gula sehingga konsumsi minuman ini akan cepat sekali meningkatkan kadar gula darah.
Kandungan gula dalam minuman ringan akan segera meningkatkan sekresi insulin. Kopi dan
rokok akan merangsang kelenjar adrenal untuk menyekresikan adrenalinyang selanjutnya tentu
saja meningkatkan tekanan darah.
Selain itu masih ada obat lai yang mampu memperberat aresistensi insulin. Preparat yang
dimaksud adalah NSAID (nonsteroid anti-inflamation drug), steroid, diuretik, dan -blocker.
NSAID mengacaukan keseimbangan prostaglandin dalam tubuh sehingga mengganggu
permeabilitas sel. Steroid mengganggu keseimbangan hormon-hormon alami tubuh dan membuat
orang menjadi agresif, si samping menggiatkan sistem saraf simpatis. -blocker meningkatkan
defisiensi magnesium yang telah ada karena obat ini akan meningkatkan ekskresi magnesium.
Sementara itu, diuretik memperparah keadaan karena perangainya, yaitu memicu ekskresi
banyak mineral, salah satunya ialah magnesium, ketidakseimbangan kalsium-magnesium
merupakan salah satu dampak yang selalu dicemaskan.
Respon tubuh terhadap stres juga berupa peningkatan tekanan darh dengan begitu cepat,
respons ini sesungguhnya mempunyai tujuan yang sangat alami, yaitu berupa fight atau flight.
Jika stres berlangsung kronis, tekanan darah yang telah tinggi itu pun akan terus bertahan tinggi
selama stres tersebut belum teratasi.
Peran obesitas sentral dalam menumbuhkan sindrom metabolik tercantum pada kriteria
yang dipatok oleh NCEP/ ATP III maupun WHO. Meskipun nilai BMI subjek belum terekam
pada kriteria obesitas, ketidaknormalan ukuran lingkar pinggang telah terbukti kaitannya dengan

risiko hipertensi, diabetes mellitus, dislipidemia, dan sindrom metabolik. Lokasi jaringan lemak
menjadi faktor penentu prekembangan resistensi insulin. Massa lemak intraperitoneal berkorelasi
paling kuat dengan resistensi insulin, kadar VLDL dan apolipoprotein B, serta produksi VLDL
oleh hati.3,6
Tabel 6. Kriteria sindrom metabolik.3
NCEP/ATP III

WHO

Tiga dari kriteria berikut

Disglisemia [DM tipe 2, gula darah puasa


terganggu, TGT (toleransi glukosa ternganggu),
atau resistensi insulin] + 2 kriteria berikut

Lingkar perut > 88 cm (perempuan) dan > BMI > 30 dan/ atau rasio pi-pa > 0,9 (laki102 cm (laki-laki)
Trigliserida 150 mg/dL
HDL <40 mg/dL (L), <50 mg/dL (P)
Tekanan darah 130/85 mmHg
Gula darah puasa 110 mg/dL

laki) dan > 0,85 (perempuan)


Trigliserida 150 mg/dL
HDL <35 mg/dL (L), <39 mg/dL (P)
Tekanan darah 140/90 mmHg
Mikroalbuminuria (ekskresi albumin urin
>20

ug/menit)

dan

rasio

albumin

/kreantinin 30 mg/g

Meskipun obesitas bukanlah penyebab resistensi insulin (obesitas hanyalah salah satu
kontributor bagi resistensi insulin), penanganan sindrom metabolik diarahkan pada penurunan
berat badan. Beberapa zat suplementer (vitamin dan mineral) terbukti berkhasiat memekakan
insulin, yaitu vitamin E, biotin, kalsium, kalium, kromium, magnesium, vanadium, dan seng. Di
samping itu, ada pula lemak tertentu yang dapat memperbaiki permeabilitas membran sel
terhadap insulin serta zat-zat gizi yang mengoptimalkan metabolisme glukoas, asam amino lain
yang masih terkait ialah glutathione dan L-arginin.3,6
Konsep penanganan sindrom metabolik adalah eliminasi faktor yang menyebabkan atau
melatarbelakangi sindrom ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian,
tahapan penanganan sindrom metabolik boleh diterjemahkan ke dalam lima tahap pereduksian
pengaruh resistensi insulin: (1) mengurangi asupan karbohidrat dan gula, (2) metabolic typing,
(3) mengembalikan keseimbangan asam lemak esensial, (4) mereduksi stress, dan (5) mulai
menggunakan suplemen.3

Pengurangan asupan gula berarti menyantap gula olahan (refined sugar), alkohol,
minuman ringan, stimulan, dan karbohidrat berindeks glikemis tinggi. Seluruh bahan berbasis
karbohidrat hendaknya diganti dengan sayur dan buah berindeks glikemik rendah.diet yang
mengandung 50-60% kalori dari karbohidrat merupakan anjuran baku bagi diabetes tipe 2 dan
pengidap sindrom metabolik.
Penyeimbangan asam lemak esensial terbukti meningkatkan asupan omega 3 secara
bermakna, sementara metabolic typing berguna untuk menakar kemampuan genetik diabetes
dalam memproses glukosa. Pemberian suplemen berguan untuk menggenapkan kekurangan
elemen kelumit utamanya, berperan dalam pemekaan insulin.
Dosis suplementasi kalsium ditakar sebanyak 600 mg/hari, kromium dibatasi sekitar 400800 ug/hari, magnesium ditetapkan sebesar 200-400 mg/hari, vanadium hanya 5 mg/hari, dan
seng cukup 30 mg/hari. Sementara itu, suplementasi asam eikosapentanoat (eicosapentanoic
acid, EPA) dianjurkan sebanyak 3-6 g/hari dalam dosis terbagi, konjugat asam linoleat sebesar 2
g tiga kali sehari yang diminum saat makan, asam lipoat 300-1200 mg/hari dalam dosis terbagi,
koenzim Q10 100 mg/hari, L-karnitin dan taurin masing-masing 500 mg 2 kali sehari. Vanadil
sulfat juga merupakan elemen kelumit yang terkait dengan pengaturan gula darah.

Penutup
Kesimpulan
Obesitas merupakan suatu kondisi medis berupa kelebihan lemak tubuh yang
terakumulasi sedemikian rupa sehingga menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan, yang
kemudian menurunkan harapan hidup dan meningkatkan masalah kesehatan. Status gizi
seseorang diklasifikasikan berdasarkan hasil perhitungan indeks massa tubuh (IMT) dan rasio
lingkar pinggang:panggul/ waist to hip ratio (WHR). Untuk mengetahui dan mengatur jumlah
kalori dari asupan makanan seseorang, dapat dihitung kebutuhan kalori/ energi per harinya.
Penatalaksanaan pasien obesitas dengan cara diet, olahraga, dan pengubahan perilaku. Namun,
apabila belum berhasil, dapat dilakukan tindakan farmako terapi dengan pemberian obat antiobesitas dan juga terapi pembedahan. Obesitas dapat mengakibatkan komplikasi yang disebut

dengan sindrom metabolik, yaitu kumpulan gangguan medis yang meningkatkan risiko terkena
penyakit kardiovaskuler dan diabetes melitus tipe 2.

Daftar Pustaka
1. Hartono A. Terapi gizi dan diet rumah sakit. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2006.h.93-7,1078,173-5.
2. Asmadi. Teknik prosedural konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta: Salemba
Medika; 2008.h.68-70,83-5.
3. Arisman. Obesitas, diabetes mellitus, & dislipidemia: konsep, teori, dan penanganan
aplikatif. Jakarta: EGC; 2010.h.1-42.
4. Barasi ME. At a glance ilmu gizi. Jakarta: Erlangga; 2007.h.26,106-10.
5. Davet P. At a glance medicine. Jakarta: Erlangga; 2004.h.54-5.
6. Arif A, Bahry B, Estuningtyas A, Muchtar HA, Setiawati A. Farmakologi dan terapi.
Edisi ke-5. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2012.h.139-60.