Anda di halaman 1dari 17

Berdasarkan penyebabnya gerak tumbuhan secara umum ada 3, yaitu :

1.
Gerak Endonom (Autonom) : Gerak yang berasal dari dalam tumbuhan sendiri
atau gerak yang belum diketahui penyebabnya, contohnya gerak aliran sitoplasma
sel mengelilingi vakuola.
2.
Gerak Higroskopis : Gerak yang terjadi akibat adanya perubahan kadar air,
contonya :
a.
Gerak membuka menutupnya sporangium (kotak spora) tumbuhan paku oleh
annulus.
b.
Gerak membuka menutupnya sporangium (kotak spora) tumbuhan lumut oleh
gigi peristom.
c.
Pecahnya kulit buah jarak pagar (Jatropha curcas L.) karena berkurangnya
kadar airnya.
3.
Esionom : Gerak tumbuhan yang dipengaruhi stimulus (rangsang) dari luar.
Secara umum gerak esionom ada 3 macam, yaitu :
a.
Tropi / Tropisme : Gerak yang dipengaruhi arah datangnya rangsang.
Berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi :
1.

Fototropisme / Heliotropisme : gerak ujung tumbuhan menuju kea rah cahaya.

2.
Geotropisme : gerak ujung akar tumbuhan menuju ke bumi karena gaya
gravitasi bumi.
3.

Hidrotropisme : gerak ujung akar tumbuhan menuju ke air.

4.
Khemotropisme : gerak ujung akar tumbuhan menuju tanah yang banyak
mengndung pupuk.
5.
Tigmotropisme / Haptotropisme : gerak ujung batang atau sulur membelok
akibat persinggungan (tigmo) atau sentuhan (hapto).
b.
Nasti : gerak yang tidak dipengaruhi arah datangnya rangsang.Berdasarkan
penyebabnya dibagi menjadi :
1.
Seismonasti : gerak menutupnya daun putri malu (Mimosa pudica) karena
getaran.
2.
Niktinasti : gerak menutupnya daun tanaman asam (Tamarindus indica)
karena datangnya malam (gelap).
3.
Fotonasti : gerak mekarnya bunga pukul 4 (Mirabilis jalapa) setiap pukul 4 sore
(16.00).

4.
Thermonasti : gerak membuka menutupnya bunga tulip (Spathodea
campanulata)jika suhu dingin dan menutup jika suhu panas.
5.
Nasti Kompleks : gerak membuka dan menutupnya stomata daun karena
rangsang cahaya, suhu, zat kimia, air dan sebagainya.
c.
Taksis : gerak pindah tempat tumbuhan rendah menuju rangsang.
Berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi :
1.

Fototaksis : gerak Euglena viridis (Alga hijau) berpindah menuju ke arah sinar.

2.
Khemotaksis : gerak spermatozoid berpindah menuju ke ovum pada
tumbuhan lumut (Bryophyta) dan tumbuhan paku (Pterydophyta).
3.
Galvanotaksis : gerak Volvox globator (Alga hijau berkoloni) berpindah menuju
ke arah tempat yang bermuatan listrik.

Mahfud. 2013. Gerak pada tumbuhan.


http://mahfudyppi.blogspot.com/2013/02/gerak-tumbuhan.html. diakses pada
23/4/2013 pukul 10.29 WIB
Senin, 10 Oktober 2011
MAKALAH GERAK PADA TUMBUHAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Setiap makhluk hidup (organisme) mampu menerima dan menanggapi


rangsangan yang disebut iritabilitas. Salah satu bentuk tanggapan yang umum
dilakukan berupa gerak. Gerak adalah perubahan posisi tubuh atau perpindahan
yang meliputi seluruh atau sebagian dari tubuh sebagai respon yang diberikan
terhadap rangsangan dari lingkungan dan akibat adanya pertumbuhan.
Gerak merupakan salah satu ciri makhluk hidup yang bertujuan untuk
melaksanakan kegiatan hidupnya. Gerak yang terjadi pada tumbuhan berbeda
dengan gerak yang dilakukan oleh hewan dan manusia. Gerak pada tumbuhan
bersifat pasif, artinya tidak memerlukan adanya pindah tempat. Gerak dapat terjadi
karena adanya pengaruh rangsangan (stimulus).

Rangsangan yang mempengaruhi terjadinya suatu gerak pada tumbuhan


antara lain : cahaya, air, sentuhan, suhu, gravitasi dan zat kimia. Rangsangan
tersebut ada yang menentukan arah gerak tumbuhan dan ada pula yang tidak
menentukan arah gerak tumbuhan. Rangsangan yang menentukan arah gerak akan
menyebabkan tumbuhan bergerak menuju atau menjauhi sumber rangsangan.
Iritabilitas pada tumbuhan disebabkan karena adanya bagian dinding sel
yang tidak mengalami penebalan. Pada bagian ini terdapat suatu celah yang
disebut noktah yang menghubungkan sel satu dengan yang lain. Melalui noktah
terjadi hubungan antara sel satu dengan lainnya oleh penjuluran-penjuluran
protoplasma atau benang-benang plasma yang disebut plasmodesmata

1.2

Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

1.

Untuk memahami tentang gerak pada tumbuhan

2.

Untuk memahami tentang macam-macam gerak pada tumbuhan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Jenis-jenis Gerak pada Tumbuhan

Beberapa gerak yang dilakukan oleh tumbuhan, dihasilkan sebagai respon


tumbuhan terhadap sejumlah rangsangan dari luar atau dari lingkungannnya. Gerak
pada tumbuhan paling banyak berorientasi pada cahaya dan gravitasi.
Berdasarkan atas penyebab timbulnya gerak, dapat dibedakan antara gerak
tumbuh dan gerak turgor. Gerak tumbuh adalah gerak yang ditimbulkan oleh
adanya pertumbuhan, sehingga menimbulkan perubahan plastis atau irreversible.
Gerak turgor adalah gerak yang timbul karena terjadi perubahan turgor pada sel-sel
tertentu, dan sifatnya elastis atau reversible.
Berdasarkan arah rangsangannya, gerak pada tumbuhan dibedakan menjadi
dua, yaitu : gerak etionom dan gerak endonom (autonom). Gerak etionom
merupakan reaksi gerak tumbuhan yang disebabkan oleh adanya rangsangan dari

luar. Sedangkan gerak endonom (autonom) merupakan reaksi gerak tumbuhan


yang disebabkan oleh adanya rangsangan dari dalam atau dari tumbuhan itu
sendiri.
2.1.1

Gerak Etionom

Berdasarkan hubungan antara arah respon gerakan dengan asal


rangsangan, gerak etionom dapat dibedakan menjadi : gerak tropisme, gerak nasti
dan gerak taksis.
2.1.1.1 Gerak Tropisme
Tropisme adalah gerak bagian tumbuhan yang arah geraknya dipengaruhi
oleh arah datangnya rangsangan. Bagian yang bergerak itu misalnya cabang, daun,
kuncup bunga atau sulur.
Gerak tropisme dapat dibedakan menjadi tropisme positif apabila gerak itu
menuju sumber rangsangan dan tropisme negatif apabila gerak itu menjauhi
sumber rangsangan. Ditinjau dari macam sumber rangsangannya, tropisme dapat
dibedakan lagi menjadi fototropisme, geotropisme, hidrotropisme, kemotropisme,
tigmotropisme dan gravitoprisme.
2.1.1.1.1 Fototropisme
Fototropisme adalah gerak bagian tumbuhan karena rangsangan cahaya.
Gerak bagian tumbuhan yang menuju ke arah cahaya disebut fototropisme positif.
Misalnya gerak ujung batang tumbuhan membelok ke arah datangnya cahaya.
Telaah mengenai mekanisme fototropisme di mulai oleh percobaan yang
dilakukan oleh Charles Darwin dan putranya Francis. Percobaan dilakukan dengan
menghilangkan ujung pucuk batang, dan didapatkan hasil bahwa fototropisme tidak
terjadi disebabkan hilangnya pucuk tersebut. Begitu pula ketika ujung pucuk di
lapisi bahan yang tidak dapat ditembus cahaya. Namun, fototropisme tetap terjadi
ketika seluruh bagian tumbuhan dikuburkan ke dalam pasir hitam halus dan hanya
ujung pucuk yang berada di luar, yang menyebabkan membeloknya batang. Dari
percobaan ini dijelaskan bahwa, rangsangan (cahaya) terdeteksi pada suatu tempat
(ujung pucuk) dan responnya (pelengkungan) dilaksanakan di tempat lain (daerah
perpanjangan).
Mekanisme fototropisme dijelaskan dari percobaan yang dilakukan oleh Boysen dan
Jensen dan disempurnakan dengan penemuan auksin oleh F.W. Went. Auksin
memiliki peran penting dalam pembelokan batang ke arah cahaya. Auksin
merupakan kordinato kimiawi yang berperan dalam pertambahan sel dan
pertumbuhan. Auksin berada pada ujung pucuk, sehingga ketika cahaya berada di
atas tumbuhan, akan terjadi distribusi auksin dari pucuk ke daerah pemanjangan
secara vertikal. Namun ketika cahaya diberikan dari salah satu sisi batang,
menyebabkan distribusi auksin secara lateral (asimetrik) dari sisi yang

mendapatkan cahaya ke sisi yang gelap. Bagian tanaman yang tidak disinari
mendapatkan konsentrasi auksin yang lebih tinggi.
Hal ini menyebabkan sisi batang yang pada daerah gelap akan mengalami
pertumbuhan sel lebih cepat, sehingga batang seperti berbelok ke arah datangnya
cahaya. Bagian tanaman yang tidak disinari mendapatkan konsentrasi auksin yang
lebih tinggi.
Diperkirakan distribusi auksin yang asimetrik, disebabkan oleh gabungan tiga
mekanisme yang berbeda, yaitu:
Terjadinya perusakan auksin oleh cahaya (photodestruction) pada bagian koleoptil
yang terkena cahaya.
Meningkatnya sintesis auksin pada bagian koleoptil yang gelap
Adanya angkutan auksin secara lateral dari bagian yang terkena cahaya menuju ke
bagian yang gelap.
Cahaya yang paling efektif dalam merangsang fototropisme adalah cahaya
gelombang pendek, sedangkan cahaya merah tidak efektif. Di duga respon
fototropis ini ada kaitannya dengan karoten dan riboflavin, karena kombinasi
penyerapan spectrum oleh karoten dan riboflavin mirip dengan pola kerja spektrum
terhadap fototropisme.

Gambar gerak ujung batang menuju datangnya cahaya

Gambar gerak bunga matahari menuju matahari juga termasuk gerak fototropisme

2.1.1.1.2 Geotropisme
Geotropisme adalah gerak bagian tumbuhan karena pengaruh gravitasi
bumi. Jika arah geraknya menuju rangsang disebut geotropisme positif, misalnya
gerakan akar menuju tanah. Jika arah geraknya menjauhi rangsang disebut
geotropisme negatif, misalnya gerak tumbuh batang menjauhi tanah.
Akar selalu tumbuh ke arah bawah akibat rangsangan gaya tarik bumi (gaya
gravitasi). Gerak tumbuh akar ini merupakan contoh lain dari gerak tropisme. Gerak
yang disebabkan rangasangan gaya gravitasi disebut geotropisme. Karena gerak
akar diakibatkan oleh rangsangan gaya tarik bumi (gravitasi) dan arah gerak
menuju arah datangnya rangsangan, maka gerak tumbuh akar disebut geotropisme

positif. Sebaliknya gerak organ tumbuhan lain yang menjauhi pusat bumi disebut
geotropisme negatif.
Contoh lain dari geotropisme adalah gerak tumbuh pada bunga kacang. Pada waktu
bunga mekar, geraknya menjauhi pusat bumi, maka termasuk geotropisme negatif.
Tetapi setelah terjadi pembuahan, gerak bunga kemudian ke bawah menuju tanah
ke pusat bumi dan berkembang terus menjadi buah kacang tanah. Dengan
demikian, terjadi perubahan gerak tumbuh pada bunga kacang tanah. Sebelum
pembuahan adalah geotropisme negatif dan setelah pembuahan adalah
geotropisme positif. Pertumbuhan bunga ini dipengaruhi oleh peranan hormon
pertumbuhan.
Keadaan auxin dalam proses geotropisme ini, apabila suatu tanaman (celeoptile)
diletakan secara horizontal, maka akumulasi auxin akan berada di dagian bawah.
Hal ini menunjukan adanya transportasi auxin ke arah bawah sebagai akibat dari
pengaruh geotropisme. Untuk membuktikan pengaruh geotropisme terhadap
akumulasi auxin, telah dibuktikan oleh Dolk pd tahun 1936 (dalam Wareing dan
Phillips 1970). Dari hasil eksperimennya diperoleh petunjuk bahwa auxin yang
terkumpul di bagian bawah memperlihatkan lebih banyak disbanding dengan
bagian atas. Sel-sel tanaman terdiri dari berbagai komponen bahan cair dan bahan
padat. Dengan adanya gravitasi maka letak bahan yang bersifat cair akan berada di
atas. Sedangkan bahan yang bersifat padat berada di bagian bawah. Bahan-bahan
yang dipengaruhi gravitasi dinamakan statolith (misalnya pati) dan sel yang
terpengaruh oleh gravitasi dinamakan statocyste (termasuk statolith).

Gambar geotropisme positif dan negatif

2.1.1.1.3 Hidrotropisme
Hidrotropisme adalah gerak bagian tumbuhan karena rangsangan air. Jika
gerakan itu mendekati air maka disebut hidrotropisme positif. Misalnya, akar
tanaman tumbuh bergerak menuju tempat yang banyak airnya di tanah. Jika
tanaman tumbuh menjauhi air disebut hidrotropisme negatif. Misal gerak pucuk
batang tumbuhan yang tumbuh ke atas air.
Respon tumbuhan tanaman ditentukan oleh stimulus gradient atau
konsentrasi air (kelembaban). Kelembaban menyebabkan membeloknya akar ke
daerah yang mengandung air dengan konsentrasi yang lebih besar.
Pengamatan terkait hidrotropisme belum banyak berkembang, karena bagian
tumbuhan yang mendapat pengaruh adalah akar. Tetapi jika dibandingkan dengan
pengaruh gravitasi, pertumbuhan akar ke bawah lebih di mungkinkan karena
adanya rangsangan gravitasi di bandingkan rangsangan air.

2.1.1.1.4 Kemotropisme
Kemotropisme adalah gerak bagian tumbuhan karena rangsangan zat kimia.
Jika gerakannya mendekati zat kimia tertentu disebut kemotropisme posistif.
Misalnya gerak akar menuju zat di dalam tanah. Jika gerakannya menjauhi zat kimia
tertentu disebut kemotropisme negatif. Contohnya gerak akar menjauhi racun.
2.1.1.1.5 Tigmotropisme
Tigmotropisme adalah gerak bagian tumbuhan karena adanya rangsangan
sentuhan satu sisi atau persinggungan. Contoh : gerak membelit ujung batang atau
sulur dari cucurbitaceae dan,passiflora. Contoh tanaman yang bersulur adalah ercis,
anggur, markisa, semangka dan mentimun.
Sulur akan terus tumbuh memanjang mencari struktur pendukung untuk
mengokohkan tegaknya tanaman tersebut. Sulur sangat sensitif terhadap sentuhan.
Terjadinya kontak antara sulur dengan suatu benda akan merangsang sulur tersebut
tumbuh membengkok ke arah benda yang tersentuh tadi, disebabkan terjadi
perbedaan kecepatan pertumbuhan karena di duga sel-sel yang terkena kontak
sentuhan akan memproduksi ABA yang menghambat pertumbuhan sedangkan sisi
yang berlawana menghasilkan auksin sehingga pertumbuhannya menjadi lebih
cepat. Akibatnya sulur membelok dan meliliti sumber sentuhan. Respon sulur
sebagian melibatkan perubahan turgor. Di duga telah terjadi perubahan kandungan
ATP dan fosfat anorganik yang cepat akibat rangsangan sentuhan pada sulur.
2.1.1.1.6 Gravitoprisme
Gravitropisme merupakan gerak pertumbuhan ke arah atau menjauhi
tarikan gravitasi. Gravitropisme bersifat positif jika pertumbuhan mengarah ke
bawah dan bersifat negatif jika pertumbuhan mengarah ke atas. Bagian tumbuhan
yang dapat menerima rangsangan gravitasi adalah tudung akar dan pucuk batang.
Batang dan tangkai bunga biasanya bersifat gravitropik negatif, namun responnya
sangat beragam. Batang utama akan tumbuh 180o dari arah gravitasi sedangkan
cabang, tangkai daun, rimpang dan stolon biasanya lebih mendatar.
Berdasarkan arah pertumbuhan terhadap gravitasi, gravitropisme terbagi menjadi
orthogravitropisme (pertumbuhan tegak lurus ke atas ataupun ke bawah),
diagravitropisme (pertumbuhan mendatar), plagiogravitropisme (pertumbuhan
membentuk sudut tertentu). Sedangkan organ yang tidak mendapat pengaruh
gravitasi disebut agravitropik.
Rangsangan gravitasi diterima oleh sel melalui dua cara yaitu menerima perbedaan
tekanan pada sel sebagai akibat terjadinya distribusi partikel-partikel ringan dan
berat yang tidak merata di dalam sel. Kedua adalah timbulnya tekanan sebagai
akibat adanya fluktuasi perubahan status air dalam sel, akan menimbulkan tekanan
yang disebabkan kandungan sel.

Pengaruh gravitasi diterima oleh tudung akar maupun pucuk batang. Namun
penerimaan rangsangan gravitasi oleh ujung akar dan ujung batang tidak sama.
Suatu rangsangan gravitasi diterima oleh statolit. Sel yang mengandung statolit
disebut statosit. Statolit adalah badan-badan kecil dengan berat jenis tinggi, yang
mengendap ke dasar sel. Badan-badan yang mengendap pada sitoplasma meliputi
inti sel, diktiosom, mitokondria dan butir-butir pati (amiloplas). Di antara badanbadan sel menunjukkan bahwa amiloplas merupakan statolit di dalam sel yang
menerima rangsangan gravitasi, Beberapa bukti yang menguatkan pernyataan ini
adalah:
1. Adanya hubungan yang erat antara adanya amiloplas yang terendap dalam organ
dengan kemampuan organ untuk tanggap secara gravitropis.
2. Waktu yang diperlukan untuk respon gravitropik berhubungan erat dengan laju
pengendapan amiloplas
3. Jika akar atau koleoptil diberi giberelin dan kinetin pada suhu tinggi
menyebabkan amiloplas menghilang, demikian pula dengan respon terhadap
gravitasi.
4. Kepekaan gravitropik muncul kembali pada waktu yang bersamaan dengan
muncul kembali butir pati atau setelah tudung akar baru muncul.
Pada Percobaan F. Went dan N. Cholodny menjelaskan adanya pembelokan pucuk ke
arah atas di sebabkan distribusi auksin yang asimetris (tidak merata) pada tanaman
dalam posisi horizontal. Pengaruh gravitasi menyebabkan konsentrasi auksin bagian
bawah menjadi bertambah. Peningkatan kadar auksin akan merangsang
pertumbuhan lebih cepat, sehingga pucuk akan membelok ke atas. Begitupun pada
akar yang memiliki asam absisat (ABA) pada tudung akar. Akibat pengaruh gravitasi
menyebabkan akumulasi ABA lebih banyak pada bagian bawah, sehingga
meningkatkan penghambatan pertumbuhan. Akibatnya bagian sebelah atas yang
ABA lebih sedikit, akan tumbuh lebih cepat dan akar akan membelok ke bawah.
2.1.1.2 Gerak Nasti
Gerak nasti adalah gerak tumbuhan yang arahnya tidak dipengaruhi oleh
arah datangnya rangsangan, tetapi ditentukan oleh tumbuhan itu sendiri, misalnya
karena perubahan tekanan turgor.
2.1.1.2.1 Fotonasti
Fotonasti merupakan gerak nasti yang disebabkan oleh rangsangan cahaya.
Misalnya, gerakan mekarnya bunga pukul empat (Mirabilis jalapa) di sore hari.

Gambar bunga pukul empat (Mirabilis jalapa) di sore hari

2.1.1.2.2 Niktinasti
Niktinasti merupakan gerak nasti yang disebabkan oleh suasana gelap,
sehingga disebut juga gerak tidur. Misalnya, pada malam hari daun-daun tumbuhan
polong-polongan akan menutup dan akan membuka keesokan harinya ketika
matahari terbit.
A.W. Galston dan kawan-kawan mendeteksi adanya perpindahan ion kalium
dari bagian atas ke bagian bawah pulvinus dan sebaliknya. Perpindahan ion kalium
telah menyebabkan perubahan potensial osmotic yang besar pada sel-sel motor
yang mengakibatkan daun bergerak ke atas atau ke bawah. Diduga auksin terlibat
dalam kegiatan ini. IAA yang diproduksi pada siang hari terutama diangkut ke
bagian bawah petiol. Ion kalium akan bergerak ke arah di mana memiliki kandungan
IAA lebih tinggi, air masuk ke bagian bawah pulvinus dan daun bangun. Angkutan
auksin berkurang pada malam hari, terjadi reaksi sebaliknya. Auksin yang diberikan
ke bagian atas atau bagian bawah pulvinus akan menyebabkan tidur dan
bangunnya daun secara berturut-turut. Sejumlah sel di pulvinus yang
menggembung saat membuka disebut ekstensor, sedangkan sel yang mengerut
dinamakan fleksor. Gerak ini terjadi pada tumbuhan polong-polongan.

Gerak niktinasti atau gerak tidur

2.1.1.2.3 Tigmonasti atau Seismonasti


Tigmonasti merupakan gerak nasti yang disebabkan oleh rangsang
sentuhan atau getaran. Contoh gerak menutupnya daun putri malu (Mimosa pudica)
jika disentuh. Jika hanya satu anak daun dirangsang dengan sentuhan, rangsangan
itu diteruskan ke seluruh tubuh tumbuhan sehingga anak daun lain ikut mengatup.
. Tumbuhan ini memberikan respon sangat cepat yaitu sekitar 0,1 detik
setelah rangsangan diberikan, dan penyebaran reaksi terhadap rangsangan ini ke
bagian atas dan bawah tumbuhan berjalan antara 40-50 cm/detik. Jika ujung daun
putri malu disentuh maka akan terjadi aliran air yang menjauhi daerah sentuhan.
Adanya aliran air ini menyebabkan kadar air di daerah sentuhan berkurang,
sehingga tekanan turgornya mengecil. Akibatnya daun putri malu akan menutup

dan tampak seperti layu. Lamanya waktu menutup tergantung pada suhu dan keras
halusnya getaran.
Jika hanya satu anak daun dirangsang, rangsangan itu diteruskan ke seluruh
tumbuhan, sehingga anak daun lain ikut mengatup. Kegunaan respon ini diduga
bahwa pelipatan anak daun akan mengagetkan dan mengusir serangga sebelum
mereka sempat memakan daunnya. Pelipatan terjadi karena air diangkut keluar dari
sel motor pada pulvinus, kejadian yang berhubungan dengan keluarnya K+.
Penyebaran isyarat Mimosa telah bertahun-tahun diteliti, terbukti ada dua macam
mekanisme, elektris dan kimiawi. Potensial kerja disebabkan oleh aliran sejumlah
ion tertentu melintasi sel parenkima (yang dihubungkan oleh plasmodesmata) xilem
dan floem, dengan kecepatan sampai sekitar 2 cm s-1. Potensial kerja tidak akan
melewati pulvinus dari satu anak daun ke anak daun lainnya, kecuali bila respon
kimiawi juga terlibat sehingga hanya beberapa anak daun saja yang terlipat. Hal ini
disebabkan oleh suatu bahan yang bergerak melalui pembuluh xilem bersamaan
dengan aliran transpirasi. Bahan aktif ini dikenal sebagai turgorin.

Gambar daun putri malu (Mimosa pudica)

2.1.1.2.4 Termonasti
Termonasti merupakan gerak nasti yang disebabkan oleh rangsangan suhu,
seperti mekarnya bunga tulip. Bunga-bunga tersebut mekar jika mendadak
mengalami kenaikan suhu dan akan menutup kembali jika suhu turun.

Contoh gambar gerak termonasti, bunga mekar karena suhu naik

2.1.1.2.5 Haptonasti
Haptonasti merupakan gerak nasti yang disebabkan oleh sentuhan
serangga. Contohnya pada tumbuhan Dionaea (sejenis tumbuhan perangkap lalat).
Bila ada lalat yang menyentuh bagian dalam daun, daun akan segera menutup
sehingga lalat akan terperangkap di antara kedua belahan daun.
Cara kerja perangkap ini karena adanya nerve-like signal atau rambut
epidermis-sensori yang dapat menimbulkan potensial kerja pada perangkap.
Potensial kerja bergerak dari rambut itu ke jaringan daun bercuping rangkap dan
mengakibatkan cuping tersebut mengatup dengan cepat dalam waktu kira-kira
setengah detik. Tumbuhan tersebut memerangkap serangga, yang kemudian

dicerna oleh enzim yang dikeluarkan daun untuk menghasilkan nitrogen dan fosfat
bagi tumbuhan.
2.1.1.2.6 Nasti Kompleks
Merupakan gerak nasti yang disebabkan oleh beberapa faktor sekaligus,
seperti karbon dioksida, pH, suhu dan kadar kalsium. Contohnya : gerak membuka
dan menutupnya stomata pada daun.

2.1.1.3 Taksis
Taksis adalah gerak seluruh tubuh atau bagian dari tubuh tumbuhan yang
berpindah tempat dan arah perpindahannya dipengaruhi rangsangan. Gerakan yang
arahnya mendekati sumber rangsangan disebut taksis positif dan yang menjauhi
sumber rangsangan disebut taksis negatif. Umumnya terjadi pada tumbuhan tingkat
rendah.
2.1.1.3.1 Kemotaksis
Kemotaksis merupakan gerak taksis yang disebabkan oleh rangsangan zat
kimia. Contohnya : gerak gamet jantan berflagela (spermatozoid) yang dihasilkan
oleh anteridium lumut ke arah gamet betina (sel telur) di dalam arkegonium.
Spermatozoid bergerak karena tertarik oleh sukrosa atau asam malat. Pergerakan
ini terjadi karena adanya zat kimia pada sel gamet betina.
2.1.1.3.2 Fototaksis
Fototaksis merupakan gerak taksis yang disebabkan oleh rangsangan
berupa cahaya. Contohnya pada ganggang hijau yang langsung menuju cahaya
yang intensitasnya sedang. Tetapi bila intensitas cahaya meningkat, maka akan
tercapai batas tertentu dan ganggang hijau tiba-tiba akan berbalik arah dan
berenang menuju cahaya. Sehingga terjadi perubahan yang semula gerak fototaksis
positif menjadi fototaksis negatif.
2.2

Gerak Endonom

Gerak endonom adalah gerak yang belum/tidak diketahui sebabnya. Oleh


karena itu ada yang menduga kalau tumbuhan itu sendiri yang menggerakkannya.
Misalnya pada aliran plasma sel.
2.3
Molecular Approach To The Nyctinastic Movement of The Plant Controlled By
A Biological Clock
Ini merupakan sebuah jurnal mengenai Gerak Niktinastik yang diambil dari
Internatinal Journal of Molecular Sciences karya Minoru Ueda, Noboru Takada dan
Shosuke Yamamura yang berasal dari Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Keio,

Yokohama, Jepang. Jurnal ini menceritakan tentang Pendekatan Molekuler untuk


Gerakan Niktinastik Tanaman Dikendalikan oleh Jam Biologis. Tanaman yang diteliti
adalah tanaman polong-polongan.
Kebanyakan tanaman polong-polongan menutup daun mereka di malam hari
dan membuka di pagi hari. Faktor membuka dan menutupnya daun ini dipengaruhi
oleh ritme sirkadian. Ritme sirkadian biasanya dikendalikan oleh jam biologis.
Ritme sirkadian merupakan pola alami dari proses fisiologis dan prilaku
suatu organisme yang dihitung untuk periode 24 jam. Proses-proses ini meliputi
siklus tidur-bangun, suhu tubuh, tekanan darah dan pelepasan hormon. Kegiatan ini
dikendalikan oleh jam biologis. Ritme ini akan bertahan di bawah kondisi lingkungan
yang konstan. Jam biologis merupakan mekanisme yang ditemukan dalam
organisme hidup yang mengkoordinasikan waktu, fungsi fisiologis dan prilaku
dengan siklus siang-malam.
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa ada zat-zat kimia atau zat-zat bioaktif
gerakan niktinastik dan zat-zat ini berbeda tergantung pada tanamannya.
Kemunginan, zat-zat bioaktif ini tidak disimpan dalam tubuh tanaman, tetapi
dibutuhkan untuk metabolisme. Transformasi enzimatik selama metabolisme harus
dikontrol oleh jam biologis. Hasil penelitian menunjukkan teori kalau gerakan
niktinastik dikontrol oleh konsentrasi antara dua zat bioaktif pada saat daun
membuka dan menutup sesuai irama yang dimiliki jam biologis
Swastikasari. 2011. Makalah Gerak pada tumbuhan.
http://swastikasari.blogspot.com/2011/10/makalah-gerak-pada-tumbuhan.html.
diakses pada 23/4/2013 pukul 10.33 WIB
Gerak merupakan salah satu ciri yang dimiliki oleh makhluk hidup. Gerak
dapatberupa perpindahan tempat atau perubahan bentuk tubuh. Gerak terjadi
karenaadanya rangsangan, baik dari dalam maupun dari luar. Gerak pada
tumbuhan didugadisebabkan rangsangan yang diterima oleh plasmodesmata yang
menghubungkansitoplasma sel yang satu dengan sel lainnya, yang ditanggapi
dengan turgor sel pada jaringan dalam persendian daun (Burhan, 1997).

Gerak pada tumbuhan terjadi karena proses tumbuh atau karena rangsangandari
luar. Walaupun tidak memiliki alat indera, tumbuhan peka terhadap
lingkungansekitarnya. Tumbuhan member tanggapan terhadap rangsangan yang
berasal daricaahaya, gaya tarik bumi dan air. Adapula tumbuhan yang peka
terhadap sentuhandan zat kimia. Tanggapan tumbuhan terhadap rangsangan rangsangan tersebutdiatas disebut daya iritabilitas atau daya peka terhadap
rangsangan. Ada tiga macamgerak pada tumbuhan, yaitu gerak tropisme, gerak
nasti dan gerak taksis (Salisburydan Ross, 1995).

Suatu organisme mampu menerima rangsang yang disebut iritabilitas, dan


mampupula menanggapi rangsang tersebut. Salah satu bentuk tanggapan yang
umum adalahberupa gerak. Gerak berupa perubahan posisi tubuh atau perpindahan
yang meliputiseluruh atau sebagian dari tubuh. Jika pada hewan rangsang
disalurkan melalui saraf,maka pada tumbuhan rangsang disalurkan melalui benang
plasma (plasmodesmata)yang masuk ke dalam sel melalui dinding yang disebut
noktah (Prawinata, 1981).

Gerak taksis, pada beberapa jenis tumbuhan tingkat rendah ada yang
dapatmelakukan gerak berpindah tempat. Gerak ini disebut gerak taksis. Gerak
taksisadalah gerak seluruh bagian tubuh tumbuhan menuju atau menjauhi
rangsang. Gerak yang menuju ke arah datangnya rangsang disebut taksis positif,
sedangkan gerak yang menjauhi rangsang disebut taksis negatif. Gerak merupakan
suatu reaksi yangdipengaruhi oleh adanya rangsangan ataupun tidak baik dari
dalam maupun dari luar.(Dwijoseputro, 1985)
Burhan,W. dkk.1997.Buku Ajar Fisiologi Tumbuhan. Departemen Pendidikan
danKebudayaan Universitas Andalas: Padang.Campbell dan Reece. 2003.Biologi.
Erlangga. Jakarta.

Dwijoseputro, D. 1994.Dasar-Dasar Ilmu Tanaman. Gramedia. Jakarta.

Salisbury, F.B and Cleon.W. Ross.1995.Fisiologi Tumbuhan Jilid I . ITB. Bandung.

FOTOTROPISME
Diposkan oleh Dely Cira di 23.38
Label: Fisiologi Tumbuhan
ETIOLASI DAN FOTOTROPISME

A. Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan dan
perkembangan biji kacang hijau dan proses fototropisme serta etiolasi.

B. Landasan Teori
1. Hormon Tumbuhan
Hormon tumbuhan, atau pernah dikenal juga dengan fitohormon, adalah
sekumpulan senyawa organik bukan hara (nutrien), baik yang terbentuk secara
alami maupun dibuat oleh manusia, yang dalam kadar sangat kecil (di bawah satu
milimol per liter, bahkan dapat hanya satu mikromol per liter) mendorong,
menghambat, atau mengubah pertumbuhan perkembangan, dan pergerakan
(taksis) tumbuhan.
Penggunaan istilah "hormon" sendiri menggunakan analogi fungsi hormon pada
hewan. Namun demikian, berbeda dari hewan, hormon tumbuhan dapat bersifat
endogen, dihasilkan sendiri oleh individu yang bersangkutan, maupun eksogen,
diberikan dari luar sistem individu. Hormon eksogen dapat juga merupakan bahan
non-alami (sintetik, tidak dibuat dari ekstraksi tumbuhan). Oleh karena itu, untuk
mengakomodasi perbedaan ini dipakai pula istilah zat pengatur tumbuh (bahasa
Inggris: plant growth regulator/substances).

a. Pembentukan
Hormon tumbuhan merupakan bagian dari sistem pengaturan pertumbuhan dan
perkembangan tumbuhan. Kehadirannya di dalam sel pada kadar yang sangat
rendah menjadi prekursor ("pemicu") proses transkripsi RNA. Hormon tumbuhan
sendiri dirangsang pembentukannya melalui signal berupa aktivitas senyawasenyawa reseptor sebagai tanggapan atas perubahan lingkungan yang terjadi di
luar sel. Kehadiran reseptor akan mendorong reaksi pembentukan hormon tertentu.
Apabila konsentrasi suatu hormon di dalam sel telah mencapai tingkat tertentu,
atau mencapai suatu nisbah tertentu dengan hormon lainnya, sejumlah gen yang
semula tidak aktif akan mulai berekspresi.
Dari sudut pandang evolusi, hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses
adaptasi dan pertahanan diri tumbuh-tumbuhan untuk mempertahankan
kelangsungan hidup jenisnya.
Hormon tumbuhan tidak dihasilkan oleh suatu kelenjar sebagaimana pada hewan,
melainkan dibentuk oleh sel-sel yang terletak di titik-titik tertentu pada tumbuhan,
terutama titik tumbuh di bagian pucuk tunas maupun ujung akar. Selanjutnya,
hormon akan bekerja pada jaringan di sekitarnya atau, lebih umum, ditranslokasi ke

bagian tumbuhan yang lain untuk aktif bekerja di sana. Pergerakan hormon dapat
terjadi melalui pembuluh tapis, pembuluh kayu, maupun ruang-ruang antarsel.
Dalam menjalankan perannya, hormon dapat berperan secara tunggal maupun
dalam koordinasi dengan kelompok hormon lainnya[2]. Contoh koordinasi
antarhormon ditunjukkan oleh proses perkecambahan. Embrio biji tidak tumbuh
karena salah satunya dihambat oleh produksi ABA dalam jaringan embrio biji. Pada
saat biji berada pada kondisi yang sesuai bagi proses perkecambahan, giberelin
dihasilkan. Apabila nisbah giberelin:ABA tidak mencapai titik tertentu,
perkecambahan gagal. Apabila nisbah ini melebihi nilai tertentu, terjadi
perkecambahan. Apabila nisbah giberelin:ABA masih berada di sekitar ambang,
konsentrasi sitokinin menjadi penentu perkecambahan.

b. Kelompok Hormon
Terdapat ratusan hormon tumbuhan atau zat pengatur tumbuh (ZPT) yang dikenal
orang, baik yang endogen maupun yang eksogen. Pengelompokan dilakukan untuk
memudahkan identifikasi, dan didasarkan terutama berdasarkan perilaku fisiologi
yang sama, bukan kemiripan struktur kimia. Pada saat ini dikenal lima kelompok
utama hormon tumbuhan, yaituauksin (bahasa Inggris: auxins), sitokinin
(cytokinins), giberelin ( gibberellins , Gas ), asam absisat (abscisic acid, ABA), dan
etilena (etena, ETH). Selain itu, dikenal pula kelompok-kelompok lain yang berfungsi
sebagai hormon tumbuhan namun diketahui bekerja untuk beberapa kelompok
tumbuhan atau merupakan hormon sintetik, seperti brasinosteroid, asam jasmonat,
asam salisilat, dan poliamina. Beberapa senyawa sintetik berperan sebagai inhibitor
(penghambat perkembangan).
Ada 9 auksin indol, 14 sitokinin, 52 giberelin, tiga asam absisat, dan satu etilena
yang dihasilkan secara alami dan telah diekstraksi orang. ZPT sintetik ada yang
memiliki fungsi sama dengan ZPT alami, meskipun secara struktural berbeda.
Dalam praktik, seringkali ZPT sintetik (buatan manusia) lebih efektif atau lebih
murah bila diaplikasikan untuk kepentingan usaha tani daripada ekstraksi ZPT
alami.
Berdasar bioassay diagnostik, auksin, sitokinin, dan giberelin bersifat mendukung
pertumbuhan pada konsentrasi fisiologis (yaitu dalam jumlah sangat kecil). Etilena
berposisi sebagai pendukung dan penghambat (inhibitor). ABA adalah penghambat
pertumbuhan.
c. Manfaat
Pemahaman terhadap fitohormon pada masa kini telah membantu peningkatan
hasil pertanian dengan ditemukannya berbagai macam zat sintetik yang memiliki
pengaruh yang sama dengan fitohormon alami. Aplikasi zat pengatur tumbuh dalam

pertanian modern mencakup pengamanan hasil (seperti penggunaan cycocel untuk


meningkatkan ketahanan tanaman terhadap lingkungan yang kurang mendukung),
memperbesar ukuran dan meningkatkan kualitas produk (misalnya dalam teknologi
semangka tanpa biji), atau menyeragamkan waktu berbunga (misalnya dalam
aplikasi etilena untuk penyeragaman pembungaan tanaman buah musiman), untuk
menyebut beberapa contohnya.

2. Auksin
Auksin adalah zat hormon tumbuhan yang di temukan pada ujung batang, akar,
dan pembentukan bunga yang berfungsi untuk sebagai pengatur pembesaran sel
dan memicu pemanjangan sel di daerah belakang meristem ujung. Auksin berperan
penting dalam pertumbuhan tumbuhan. Peran auksin pertama kali ditemukan oleh
ilmuan Belanda bernama Fritz Went (1903-1990).

3. Fototropisme
Fototropisme adalah pergerakan pertumbuhan tanaman yang dipengaruhi oleh
rangsangan cahaya. Contoh dari fototropisme adalah pertumbuhan koleoptil rumput
menuju arah datangnya cahaya. Koleoptil merupakan daun pertama yang tumbuh
dari tanaman monokotil yang berfungsi sebagai pelindung lembaga yang baru
tumbuh. Beberapa hipotesismenyebutkan bahwa hal ini dapat disebabkan
kecepatan pemanjangan sel-sel pada sisi batang yang lebih gelap lebih cepat
dibandingkan dengan sel-sel pada sisi lebih terang karena adanya penyebaran
auksin yang tidak merata dari ujung tunas. Hipotesis lainnya menyatakan bahwa
ujung tunas merupakan fotoreseptor yang memicu respons pertumbuhan.
Fotoreseptor adalah molekul pigmen yang disebut kriptokrom dan sangat sensitif
terhadap cahaya biru. Namun, para ahli menyakini bahwa fototropisme tidak hanya
dipengaruhi olehfotoreseptor, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai macam hormon
dan jalur signaling.

Arah pertumbuhan kecambah menuju cahaya menunjukkan fototropisme

4. Etiolasi

Etiolasi adalah pertumbuhan tumbuhan yang sangat cepat di tempat gelap namun
kondisi tumbuhan lemah, batang tidak kokoh, daun kecil dan tumbuhan tampak
pucat. Gejala etiolasi terjadi karena ketiadaan cahaya matahari. Kloroplas yang
tidak terkena matahari disebut etioplas. Kadar etioplas yang terlalu banyak
menyebabkan tumbuhan menguning.
Banyak faktor alasan atau penyebab yang mempengaruhi perkembangan dan
pertumbuhan tumbuh-tumbuhan, tanaman, pohon, dll. Apabila faktor tersebut
kebutuhannya tidak terpenuhi maka tanaman tersebut bisa mengalami dormansi /
dorman yaitu berhenti melakukan aktifitas hidup. Faktor pengaruh tersebut yakni :
1. Faktor Suhu / Temperatur Lingkungan
Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan tumbuh kembang,
reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari tanaman. Suhu yang baik bagi
tumbuhan adalah antara 22 derajat celcius sampai dengan 37 derajad selsius.
Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal tersebut dapat
mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti
2. Faktor Kelembaban / Kelembapan Udara
Kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan
tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi tumbuhan di mana
tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta berkurangnya penguapan
yang akan berdampak pada pembentukan sel yang lebih cepat.
3. Faktor Cahaya Matahari
Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat melakukan
fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu tanaman kekurangan cahaya
matahari, maka tanaman itu bisa tampak pucat dan warna tanaman itu kekuningkuningan (etiolasi). Pada kecambah, justru sinar mentari dapat menghambat proses
pertumbuhan.
4. Faktor Hormon
Hormon pada tumbuhan juga memegang peranan penting dalam proses
perkembangan dan pertumbuhan seperti hormon auksin untuk membantu
perpanjangan sel, hormon giberelin untuk pemanjangan dan pembelahan sel,
hormon sitokinin untuk menggiatkan pembelahan sel dan hormon etilen untuk
mempercepat buah menjadi matang.
http://delycitra.blogspot.com/2011/05/etiolosi-dan-fototropisme.html