Anda di halaman 1dari 8

Berpikir Kritis serta Religious World View dalam

Keterbatasan Sarana Kesehatan di Pulau Tujuh


Ellen Sintia
102012028 / D3
Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No 6, Jakarta 11510
ellensintia@yahoo.com

Pendahuluan
Kebutuhan akan dokter keluarga sangat diperlukan di daerah terpencil, dikarenakan
jauhnya sarana kesehatan yang dimiliki serta mahalnya sarana transportasi yang dapat
dimanfaatkan untuk menuju lokasi kesehatan. Itulah yang menjadi salah satu keadaan dari
Pulau Tujuh, Kepulauan Riau yang sangat memprihatinkan. Waktu yang ditempuh dari Pulau
Tujuh menuju lokasi kesehatan sekitar 7-8 jam perjalanan dan hal tersebut bukan waktu yang
singkat . Hal ini pun menjadi salah satu penyebab dari banyaknya pasien-pasien gawat
darurat yang tidak mendapatkan penanganan dengan segera karena keterbatasan sarana
penunjang kesehatan yang dimiliki pulau tersebut. Salah satu alasan yang tak kalah
pentingnya adalah masalah finansial yang dialami oleh penduduk Pulau Tujuh. Biaya yang
tak murah untuk transportasi menuju lokasi kesehatan ditambah pula biaya yang harus
dikeluarkan mereka nanti untuk menjaga pasien. Sebagai mahasiswa kedokteran kita dituntut
untuk dapat berpikir kritis mengenai masalah yang terjadi pada Pulau Tujuh tersebut, serta
bagaimana kita dapat memberika solusi pada permasalahan tersebut.

Pembahasan
Berpikir Kritis
Kata kritis berasal dari bahasa Yunani yang berarti hakim dan diserap oleh bahasa
Latin. Kamus Oxford menerjemahkannya sebagai sensor atau pencarian kesalahan.
Berpikir kritis menurut disiplin ilmu yang memastikan bahwa manusia menggunakan
pemikiran terbaik yang dimilikinya dalam kondisi dan situasi apapun. Tujuannya dalah
mengetahui dasar dari tiap permasalahan. Manusia harus mendapatkan informasai terbaik
unutk membuat pilihan terbaik, dari banyaknya pilihan kemungkinan yang dapat diambil
dalam tiap permasalahan. 1,2
Berpikir kritis adalah cara berpikir reflektif yang masuk akal atau berdasarkan nalar
yang difokuskan untuk menentukan apa yang harus diyakini dan dilakukan. Indikator
Berpikir Kritis menurut Wade adalah kegiatan merumuskan pertanyaan, membatasi
permasalahan, menguji data-data, menganalisis berbagai pendapat dan bias, menghindari
pertimbangan

yang

sangat

emosional,

menghindari

pernyederhanaan

berlebihan,

mempertimbangkan berbagai interprestasi, dan mentoleransi ambiguitas. Sedangkan menurut


Bayer indikator berpikir kritis dibagi menjadi enam yaitu: (a) watak (dispositions) : seseorang
yang mempunyai keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis, sangat terbuka,
menghargai sebuah kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap
kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang berbeda, dan akan berubah
sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik. (b) kriteria (criteria) : dalam
berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau patokan. Untuk sampai ke arah sana
maka harus menemukan sesuatu untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah
argumen dapat disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan mempunyai kriteria
yang berbeda. Apabila kita akan menerapkan standarisasi maka haruslah berdasarkan kepada
relevansi, keakuratan fakta-fakta, berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas
dari logika yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang matang. (c) argumen
(argument) : argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh data-data.
Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenalan, penilaian, dan menyusun
argumen. (d) pertimbangan atau pemikiran (reasoning) : yaitu kemampuan untuk merangkum
kesimpulan dari satu atau beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji
hubungan antara beberapa pernyataan atau data. (e) sudut pandang (point of view): sudut
pandang adalah cara memandang atau menafsirkan dunia ini, yang akan menentukan
konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan kritis akan memandang sebuah fenomena

dari berbagai sudut pandang yang berbeda. (f) prosedur penerapan kriteria (procedures for
applying criteria) : prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural.
Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan permasalahan, menentukan keputusan yang
akan diambil, dan mengidentifikasi perkiraan-perkiraan.3,4
Berpikir kritis adalah cara berpikir reflektif yang masuk akal atau berdasarkan nalar
yang difokuskan untuk menentukan apa yang harus diyakini dan dilakukan, dengan indikator
yang di buat Ennis (1) memberikan penjelasan sederhana, yang berisi: memfokuskan
pertanyaan, menganalisis pertanyaan dan bertanya, serta menjawab pertanyaan tentang suatu
penjelasan atau pernyataan, (2) memberikan penjelasan sederhana, yang berisi: memfokuskan
pertanyaan, menganalisis pertanyaan dan bertanya, serta menjawab pertanyaan tentang suatu
penjelasan atau pernyataan, (3) memberikan penjelasan sederhana, yang berisi: memfokuskan
pertanyaan, menganalisis pertanyaan dan bertanya, serta menjawab pertanyaan tentang suatu
penjelasan atau pernyataan, (4) membangun keterampilan dasar, yang terdiri atas
mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak dan mengamati serta
mempertimbangkan suatu laporan hasil observasi, (5) menyimpulkan, yang terdiri atas
kegiatan

mendeduksi

atau

mempertimbangkan

hasil

deduksi,

meninduksi

atau

mempertimbangkan hasil induksi, dan membuat serta menentukan nilai pertimbangan. (6)
memberikan penjelasan lanjut, yang terdiri atas mengidentifikasi istilah-istilah dan definisi
pertimbangan dan juga dimensi, serta mengidentifikasi asumsi. (6) Mengatur strategi dan
teknik, yang terdiri atas menentukan tindakan dan berinteraksi dengan orang lain.3,5
Tahapan-tahapan berpikir kritis diawali dengan menggali permasalahan, membuat
argumen (alasan, asumsi dan penarikan kesimpulan) , serta pengambilan keputusan.
Menggali permasalahan
Dimulai dengan menentukan akar permasalahan yang diidentifikasi. Memecahkan
persoalan terkadang hanyalah hal sederhana untuk menghapus akar penyebabnya. Agar suatu
masalah dapat memicu munculnya ide-ide inovatif, langkah awalnya adalah memahami
permasalahan, dalam memahami permasalahan kita dapat mengembangkan pedoman standar
5W + 1H yang menjadi pendekatan baru yang naratif. 5W + 1H adalah singkatan dari who
(siapa), what (apa), where (dimana), when (kapan), why (mengapa), dan how (bagaimana).
Pada narasi, menurut Clark dalam satu esai Nieman Reports, who berubah menjadi karakter,
what menjadi plot atau alur, where setting, when menjadi kronologi, why menjadi motif, dan
how menjadi narasi.6
What, hasil riset bertujuan untuk mengetahui, misalnya apa atau apa saja yang menjadi
penyebab atas terjadinya hal-hal yang dipermasalahkan. Who,when, where, why. Maksud riset

adalah untuk mendeskripsikan atau memaparkan siapa, kapan, di mana dan mengapa terjadi
hal-hal yang dipermasalahkan.
How, maksud riset ini adalah untuk membuktikan atau mencari tahu lebih lanjut atas
deskripsi aatu paparan konsep 5w di atas, bagaimana cara mengatasi masalah tersebut,
bagaimana merancang agar masalah tidak timbul lagi, dan seterusnya.6
Membuat argumen
Diawali dengan membuat asumsi, asumsi merupakan sebuah keyakinan atas
kebenaran yang ada dalam suatu permasalahan. Biasanya seorang pemikir kritis tidak akan
membuat sebuah asumsi karena asumsi tidak berdasarkan fakta, tetapi berdasarkan keyakinan
yang ada pada si pembaca. Asumsi pun tidak didukung dengan bukti-bukti yang kuat,
sehingga asumsi menjadi sebuah keputusan yang sangat lemah dan tak dapat dipertanggung
jawabkan.
Alasan yang dibuat harus relevan dengan permasalahan yang ada. Tak bisa alasan
dibuang sembarangan dan tidak sesuai dengann permasalahan yang ada. Alasan menjadi salah
satu penyebab dari permasalahan yang kita anggap tepat dan kuat mengapa permasalahan itu
dapat terjadi. Alasan dapat bersifat faktual. Dalam kasus yang didapat dari kelompok kami,
alasan yang diperoleh adalah masyarakat Pulau Tujuh Kepulauan Riau yang kurang mampu.
Dan alasan juga bisa berupa penjelasan atas suatu kejadian, menegaskan sebuah ide umum,
atau mengambil bentuk-bentuk yang lain. Tugas pemikir kritis adalah mengidentifikasi alasan
dan bertanya apakah alasan-alasan yang dikemukakan masuk akal sesuai dengan konteksnya.
alasan yang bagus didasarkan pada informasi yang dapat dipercaya dan relevan dengan
kesimpulan yang ditarik sesudahnya.
Penarikan kesimpulan sendiri membutuhkan keterampilan dalam menyimpulkan.
Keterampilan

menyimpulkan

pengertian/pengetahuan

ialah

(kebenaran)

kegiatan
yang

akal

pikiran

dimilikinya,

dapat

manusia
beranjak

berdasarkan
mencapai

pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang baru yang lain . Berdasarkan pendapat tersebut


dapat dipahami bahwa keterampilan ini menuntut pembaca untuk mampu menguraikan dan
memahami berbagai aspek secara bertahap agar sampai kepada suatu formula baru yaitu
sebuah simpulan. Proses pemikiran manusia itu sendiri, dapat menempuh dua cara yaitu :
deduksi dan induksi. Jadi, kesimpulan merupakan sebuah proses berpikir yang
memberdayakan pengetahuannya sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah pemikiran
atau pengetahuan yang baru.1,3
Pengambilan keputusan

Pengambilan keputusan , keputusan sendiri merupakan satu pilihan dari dua atau lebih
tindakan. Hal ini dapat merupakan keputusan untuk melakukan sesuatu, apakah harus
dikerjakan atau kadang-kadang tidak melakukan sesuatu dan dibiarkan berjalan seperti
sebelumnya. Pengambilan suatu keputusan merupakan jawaban atas pertanyaan tentang
kemungkinan perjalanan atau perkembangan suatu kegiatan, suatu jawaban yang dapat
dinyatakan denga sederhana sebagai: ya, tidak, lebih banyak, tidak sama sekali.
Mereka yang berusaha untuk memecahkan masalah biasanya telah menentukan hasil
yang diinginkan dari awal. Sebaliknya, mereka yang mengambil keputusan sering kali sangat
sulit untuk memilih satu hasil tertentu. Sebagai seorang pemecah masalah, kita harus punya
alasan mengapa lebih menyukai satu alternative tertentu. Keputusan yang dilandasi
pengetahuan baru bisa dibuat jika orang sudah mempelajari alternative-alternatifnya.
Pemikir kritis secara sistematis menangani sekumpulan pertanyaan yang membantu
mereka membuat keputusan, memecahkan masalah, atau meneliti isu-isu sosial yang rumit.
Berdiskusi untuk memecahkan masalah, membuat keputusan, dan menyelesaikan isu,
melibatkan pertimbangan moral dan pertimbangan praktis. Ketika isu-isu masalah moral
muncul, pemikir kritis merasa harus menggunakan sistem khusus untuk mendapatkan
kesimpulan yang masuk akal.3
Religious world view
World view atau pandangan dunia secara sederhana diartikan sebagai kerangka yang
kita buat untuk melihat dunia dan berbagai kejadian yang menyertainya. Pandangan dunia
inilah yang kemudian menjadi dasar dari ideologi yang dianut oleh setiap individu dan
golongan. Perbedaan pada ideologi yang dianut oleh setiap manusia disebabkan perbedaan
dalam hal menyusun kerangka pandangan dunia Pandangan dunia, adalah bentuk dari sebuah
kesimpulan, penafsiran, dan hasil kajian yang ada pada seseorang berkenaan dengan Tuhan,
alam semesta, manusia, dan sejarah. Karakteristik world view antara lain:
World view memiliki tujuan yang holistik: mencoba melihat setiap area kehidupan
dan pemikiran dalam suatu cara yang integratif.
World view merupakan pendekatan yang bersifat perspektif: melihat hal-hal dari titik
pandang yang sudah diadopsi sebelumnya yang sekarang menyediakan kerangka
integratif. World view lebih mendasar daripada presuposisi. Dalam istilah James W.
Sire, world view adalah basic presuppositions.
World view memiliki proses eksplorasi: mengarahkan hubungan antara satu area
dengan area yang lain ke suatu perspektif yang terpadu.

World view bersifat pluralistik: perspektif dasar dapat diartikulasikan dalam beberapa
cara yang berbeda.
World view memiliki tindakan sebagai hasilnya: apa yang dipikirkan dan dinilai
membimbing apa yang akan dilakukan.
Setiap orang pasti memiliki world view terlepas dari (1) orang tersebut menyadari atau
tidak bahwa ia memilikinya; (2) orang tersebut memahami pengertian world view atau tidak;
(3) world view tersebut benar atau tidak; (3) world view tersebut terintegrasi atau tidak.
Presuposisi-presuposisi dalam sistem worldview biasanya bersifat interdependensi.
Pendeknya, tidak ada satu area kehidupan pun yang tidak bersentuhan dengan world view,
meskipun implikasi tersebut kadangkala sangat jauh. Contoh: perdebatan tentang aborsi
sangat ditentukan oleh perspektif seseorang tentang Allah sebagai pencipta dan nilai
manusia.7
Landasan utama setiap agama adalah suatu pandangan dunia, dan setiap pandangan
dunia mengarah ke agama. Penting bagi kita untuk mengarahkan kehidupan kita terhadap
sesuatu yang benar-benar penting dalam hakikat terdalam dari segala hal. Masing-masing
orientasi religious ini memiliki visi tersendiri tentang realitas yang terpenting itu. Kendati
demikian, keinginan pokoknya tetap sama, ingin agar selalu selaras dengan yang paling
penting dalam hakikat segala hal, yaitu yang kekal dan yang paling kuat. Paling kuat
kadang-kadang kita tafsirkan sebagai mahauasa. Akan tetapi, yang paling kuat tidak harus
berarti mahakuasa seperti yang kita tafsirkan; kekuatan yang dimaksud berarti kekuatan
dasar, bukan merupakan hasil turunan, dan yang paling efektif.
Religious world view diabgi emnjadi 3 hal penting yaitu: orientasi hidup : apakah
manusia lebih memandang sebuah permasalahan melalui akalnya ataupun Allahnya,
kemandirian : membuat seseorang semakin kuat dan dapat mengatasi permasalahan dalam
kehidupannya, dan cara membangun komunitas sehat : bagaimana cara membuat masyarakat
ikut serta dalam penbangunan komunitas sehat.

Kesimpulan
Dari kasus keterbatasan pelayanan kesehatan di Pulau Tujuh Kepulauan Riau
penyelesaian masalah dapat dimulai dengan cara berpikir kritis, yaitu membuat asumsi bahwa

pelayanan kesehatan yang kurang dapat terjadi karena kekurang mampuan warga dalam
bidang ekonomi mereka. Jika ekonomi warga mencukupi pastinya mereka tidak perlu
mengkhawatirkan biaya pengobatan yang terbilang mahal di pulau tesebut. Selain itu
mungkin juga kelalaian pemerintah yang tidak menyediakan puskesmas atau pun
mengundang dokter untuk mengobati para pasien kurang mampu yang berada di pulau
tersebut. Bisa juga masalah ini dipecahkan apabila pemerintah menyediakan sarana
transportasi laut khusus bagi warga Pulau Tujuh untuk berobat. Kesimpulan yang didapat dari
kasus tersebut adalah masyarakat yang tidak mampu berobat karena biaya transportasi yang
mahal.
Dari pandangan dunia kita akan mengutamakan kesehatan banyak orang yang lebih
penting dari segala hal-hal penting lainnya. Sebab pandangan dunia mengkaitkan hubungan
dengan religiuslitas yang mengutamakan perbuatan baik terhadap sesama sesuai dengan
kehendak Allah.

Daftar Pustaka
1. Bono ED. Revolusi Berpikir. London: Penguin Books; 1993.h.204
2. Paul RW, Elder L. Becoming a critic of your thinking. In: Critical thinking: Tools for
taking charge of your professional and personal life. New Jersey: Financial Times
Prentice Hall ; 2002.h.7
3. Achmad A. Memahami

berpikir

kritis.

25

Juli

2007.

Diunduh

dari

:http://siswa.univpancasila.ac.id, 31 Oktober 2012.


4. Beyer BK. Critical thinking. Phi Delta Kappa: Educational Foundation ; 1995.h.33
5. Ennis RH. Critical thinking. New Jersey: Financial Times Prentice Hall ; 1996.h.406
6. Wibowo W. cara cerdas menulis artikel ilmiah. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara;
2011
7. Griffin DR. Tuhan & agama dalam dunia postmodern. Yogyakarta: Penerbit Kanisius;
2005. h. 31-2.
8. Kazhim M. Belajar Menjadi Sufi. Jakarta: Lentera Basritama; 2002. h. 25.