Anda di halaman 1dari 8

Pendahuluan

Tulang tengkorak memiliki sejumlah ruang berisi udara yang disebut sinus. Ruang
ini membantu mengurangi berat tengkorak dan memberikan perlindungan daerah teng
korak dan membantu dalam resonansi suara. Terdapat empat pasang sinus, yang dike
nal sebagai sinus paranasalis, yaitu sinus frontalis di daerah dahi, sinus maksi
laris di belakang tulang pipi, sinus etmoidalis diantara kedua mata dan sinus sp
henoidalis di belakang bola mata. Sampai saat ini sinus paranasal merupakan sala
h satu organ tubuh pada manusia yang sulit dideskripsikan karena bentuknya berva
riasi pada tiap individu. Terdapat membran yang melapisi sinus tersebut yang me
nsekresikan mukus, yang mana akan mengalir ke rongga hidung melalui sebuah salur
an kecil pada setiap sinus tersebut. Sinus yang sehat tidak mengandung bakteri
yang belum steril.
Sinus maksila mulai berkembang pada usia tiga bulan kehamilan, yang merupakan ba
gian dari ektoderm. Ukurannya pada saat lahir 7x4x4 mm, namun setelah lahir samp
ai dewasa sinus maksila mengalami pertumbuhan kearah vertikal sepanjang 2mm dan
kearah anteroposterior sepanjang 3mm. Pertumbuhan cepat sinus maksila terjadi pa
da usia 3 tahun pertama dan mengalami perlambatan sampai usia 7 tahun. Pertumbuh
an cepat kedua terjadi pada usia 7-12 tahun, kemudian tumbuh lambat sampai dewas
a. Pada usia 12 tahun dasar sinus maksila sejajar dengan dasar hidung kemudian d
asar sinus semakin ke inferior mendekati alveolus saat erupsi gigi permanen.
Anamnesis
Keluhan utama penyakit atau kelainan di hidung adalah sumbatan hidung, secret di
hidung dan tenggorok, bersin, rasa nyeri di daerah muka dan kepala, serta perda
rahan dari hidung dan gangguan penghidu. Sumbatan hidung dapat terjadi oleh bebe
rapa factor. Oleh karena itu perlu anamnesis yang telitiapakah sumbatan ini terj
adi di satu hidung atau kedua lubang hidung, serta apakah terjadi terus menerus
atau hilang timbul. Adakah sebelumnya riwayat kontak dengan bahan allergen seper
ti debu, tepung sari, bulu binatang, ataupun trauma hidung. Adakah pemakaian oba
t obatan dekongestan dalam jangka waktu panjang, apakah merokok atau minum-minum
an beralkohol. Apakah mulut dan tenggorok terasa kering. Sekret di hidung pada s
atu atau kedua sisi pada lubang hidung, bagaimana konsistensi secret tersebut (e
ncer, beningseperti air, kental, nanah). Kapan secret biasanya keluar. Bila terk
ena infeksi biasanya secret yang keluar bilateral, jernih sampai purulent. Bila
terkena alergi biasanya secret keluar dalam bentuk bening dan banyak. Bila secre
t yang keluar dari hidung berwarna kuning kehijauan biasanya berasal dari sinus
hidung dan jika bercampur darah hati-hati terhadap tumor di hidung. Pada anak-an
ak bila secret keluar hanya dari satu lubang hidung dan berbau kemungkinan terda
pat benda asing di hidung.. Sekret dari hidung yang turun ke tenggorokan disebut
post nasal drip kemungkinan berasal dari sinus paranasal.1
Bersin berulang merupakan keluhan pasien alergi hidung. Perlu ditanyakan apakah
bersin ini timbul akibat menghirup sesuatu yang diikuti keluar secret yang encer
dan rasa gatal di hidung, tenggorok, mata, dan telinga.1
Rasa nyeri di daerah muka dan kepala yang ada hubungannya dengan keluhan dui hid
ung. Nyeri di daerah dahi, pangkal hidung, pipi, dan tengah kepala dapat merupak
an tanda-tanda infeksi sinus. Rasa nyeri atau berat ini dapat timbul bila menund
ukkan kepala dan dapat berlangsung selama beberapa jam maupun hari.1
Perdarahan dari hidung yang disebut epistaksis dapat berasal dari bagian anterio
r rongga hidung atau dari bagian posterior rongga hidung. Perdarahan dapat beras
al dari satu atau kedua lubang hidung. Sudah berapa kali dan apakah mudah dihent
ikan dengan cara memncet hidung saja. Adakah riwayat trauma pada hidung sebelumn
ya dan menderita penyakit kelainan darah, hipertensi dan pemakaian obat-obatan a
nti koagulan.1
Gangguan penghidu dapat berupa hilangnya penciuman atau berkurangnya. Perlu dita
nyakan apakah sebelumnya ada riwayat infeksi hidung, infeksi sinus, trauma kepal
a dan keluhan ini sudah berapa lama.1
Pemeriksaan Fisik
Bentuk luar hidung diperhatikan apakah ada deviasi atau depresi tulang hidung. A
dakah pembengkakan di daerah hidung dan sinus paranasal. Dengan jari dapat dipal
pasi adanya krepitasi tulang hidung pada fraktur os nasal atau rasa nyeri tekan
pada peradangan hidung dan sinus paranasal.1 Nyeri tekan pada pipi dan nyeri ket

ok pada gigi menunjukkan adanya sinusitis maksilaris, sedangkan nyeri tekan pada
bagian medial atap orbita menunjukkan adanya sinusitis frontalis, dan nyeri tek
an pada daerah kantus medius menunjukkan adanya sinusitis etmoidales.2 Memeriksa
rongga hidung bagian dalam dari depan disebut rinoskopi anterior. Diperlukan sp
eculum hidung. Pada anak dan bayi kadang tidak diperlukan. Otoskop dapat dipergu
nakan untuk melihat bagian dalam hidung terutama untuk mencaribenda asing. Specu
lum dimasukkan ke dalam lubang hidung dengan hati-hati dan dibuka setelah specul
um berada di dalam dan waktu mengeluarkannya jangan ditutup dahulu di dalam, sup
aya bulu hidung tidak terjepit. Vestibulum hidung, septum terutama bagian anteri
or, konka inferior, konka media, konka superior serta meatus sinus paranasal dan
keadaan mukosa rongga hidung harus diperhatikan. Terkadang rongga hidung sempit
karena adanya edema mukosa. Pada keadaan seperti ini untuk melihat jelas perlu
dimasukkan tampon kapas adrenalin pantokain beberapa menit untuk mengurangi edem
a mukosa dan menciutkan konka, sehingga rongga hidung lebih lapang.1
Pemeriksaan belakang hidung dilakukan pemeriksaan rinoskopi posterior sekaligus
untuk melihat keadaan nasofaring. Untuk melakukan pemeriksaan rinoskopi posterio
r diperlukan spatula lidah dan kaca nasofaring yang telah dihangatkan dengan api
lampu spiritus untuk mencegah udara pernapasan mengembun pada kaca. Sebelum kac
a ini dimasukkan, suhu kaca dites terlebih dahulu dengan menempelkan di kulit be
lakang tangan kiri pasien. Pasien diminta membuka mulut supaya uvula terangkat k
e atas dan kaca nasofaring yang menghadap ke atas dimasukkan melalui mulut, ke b
awah uvula dan sampai nasofaring. Setelah kaca berada pada nasofaring pasien dim
inta bernapas biasa melalui hidung, uvula akan turun kembali dan rongga nasofari
ng terbuka. Mula-mula diperhatikan bagian belakang septum dan koana. Kemudian ka
ca diputar ke lateral sedikit untuk melihat konka superior, konka media, dan kon
ka inferior serta meatus superior dan media. Kaca diputar lebih ke lateral lagi
sehingga dapat diidentifikasi torus tubarius, muara tuba Eustachius dan fosa Ros
senmuler, kemudian kaca diputar ke sisi lainnya. Daerah nasofaring lebih jelas t
erlihat bila pemeriksaan dilakukan menggunakan nasofaringoskop.1
Udara melalui kedua lubang hidung kurang lebih sama dan untuk mengujinya dapat d
ilakukan dengan cara meletakkan spatula lidah dari metal di depan kedua lubang h
idung.1
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan sinus paranasal dengan inspeksi, palpasi, dan perkusi daerah sinus p
aransal serta pemeriksaan rinoskopi anterior dan posterior saja, diagnosis sinus
itis sulit ditegakkan. Pemeriksaan transiluminasi mempunyai manfaat yang sangat
terbatas dan tidak dapat menggantikan pemeriksaan radiologik. Pada pemeriksaan t
ransiluminasi sinus maksila dan sinus frontal, dipakai lampu khusus sebagai sumb
er cahaya dan pemeriksaan dilakukan dengan ruangan yang gelap. Transiluminasi si
nus maksila dilakukan dengan memasukkan sumber cahaya ke rongga mulut dan bibir
dikatupkan agar sumber cahaya tidak tampak lagi. Setelah beberapa menit tampak d
aerah infra orbita terang seperti bulan sabit. Bila pada pemeriksaan translumina
si tampak gelap didaerah infraorbita, mungkin berarti antrum terisi oleh pus ata
u mukosa antrum menebal atau terdapat neoplasma di dalam antrum. Bila terdapat k
ista yang besar didalam sinus maksila, akan tampak terang pada pemeriksaan trans
luminasi. Untuk pemeriksaan sinus frontal, lampu diletakkan di daerah bawah sinu
s frontal dekat kantus medius dan di daerah sinus frontal tampak cahaya terang.1
Pemeriksaan sinus maksila dilakukan dengan posisi Water, gambaran radiologik sin
usitis maksilaris mula-mula berupa penebalan mukosa, selanjutnya diikuti opasifi
kasi sinus lengkap akibat mukosa yang membengkak hebat, atau akibat akumulasi ca
iran yang memenuhi sinus. Akhirnya terbentuk gambaran air-fluid level yang khas
akibat akumulasi pus yang dapat dilihat pada foto tegak sinus maksilaris. Oleh k
arena itu radiogram sinus harus dibuat dalam posisi telentang dan posisi tegak,
yaitu dua posisi yang paling menguntungkan untuk mendeteksi sinus maksilaris. Pe
meriksaan sinus frontalis dan etmoid dengan posisi postero anterior dan sinus sf
enoid dengan posisi lateral.1

Untuk menilai kompleks osteomeatal dilakukan pemeriksaan dengan CT Scan. CT scan


merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena mampu menilai anatomi hidung
dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secara keseluruhan dan perlua
sannya. Namun karena pemeriksaan ini mahal, maka hanya dikerjakan untuk sinusiti
s kronik yang tidak membaik dengan pengobatan atau pre-operasi sebagai panduan o
perator saat melakukan operasi sinus.1

Dengan menggunakan endoskopi 00 dan 300 spesialis THT dapat melihat lebih mudah,
kelainan di daerah nasofaring dan dinding lateral hidung. Endoskop dimasukkan m
elalui lubang yang dibuat di meatus inferior atau fossa kanina. Dengan endoskop
dapat dilihat kondisi sinus yang sebenarnya, selanjutnya dapat dilakukan irifasi
sinus untuk terapi.1
Diagnosis Kerja
Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus maksila
bervolume 6-8 ml. Sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai u
kuran maksimal, yaitu 15 ml saat dewasa. Sinus maksila berbentuk piramid. Dindin
g anterior sinus ialah permukaan fasial os maksila yang disebut fossa kanina, di
nding posteriornya adalah permukaan infra-temporal maksila, dinding medialnya ia
lah dinding lateral rongga hidung, dinding superiornya ialah dasar orbita dan di
nding inferiornya ialah processus alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksila b
erada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunari
s melalui infundibulum etmoid. Dari segi klinis yang penting diperhatikan dari a
natomi sinus maksilaris adalah dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar
gigi rahang atas, yaitu permolar (P1 dan P2), molar (M1, M2 dan M3), dan caninu
s (C), bahkan akar-akar gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus, sehingga in
feksi gigi geligi mudah naik ke atas menyebabkan sinusitis. Sinusitis maksila da
pat menimbulkan komplikasi orbita. Ostium sinus maksila terletk lebih tinggi dar
i dasar sinus, sehingga drainase hanya tergantung dari gerak silia.1

Drainase harus melalui infundibulum yang sempit. Infundibulum yaitu bagi


an dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat radang atau alergi pada da
erah ini dapat menghalangi drainase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan s
inusitis.1
Sinus maksilaris akut sering terjadi setelah rhinitis alergi/infeksi virus pada
saluran pernapasan bagian atas. Alergi hidung yang kronis, adanya benda asing, d
an deviasi septinasi dianggap sebagai predisposisi yang paling umum. Pasien yang
terserang umumnya mengeluh mengenai demam, lemas, sakit kepala samar-samar, ras
a bengkak pada wajah, dan sakit pada gigi-gigi posterior atas. Perubahan posisi
dapat mengurangi atau menambah rasa sakit atau tidak enak. Membungkukkan kepala
akan memperhebat rasa sakit, sedangkan mendongakkan kepala akan mengurangi rasa
sakit dan melancarkan drainase unilateral. Terdapat nyeri palpasi dan tekan pada
sinus serta gigi-gigi yang berkaitan dengannya. Pemeriksaan rontgen mulanya mem
perlihatkan penebalan mukosa sinus, yang sering digantikan dengan opasifikasi ka
rena meningkatnya pembengkakan mukosa atau adanya timbunan cairan di dalam sinus
, atau keduanya. Proyeksi Waters tegak digunakan untuk melihat ketinggian udara
atau cairan yang disebabkan keberadaan eksudat nanah di dalam sinus.3
Diagnosis Banding
Sinus ethmoidales, penyebab sinusitis ethmoidalis sama halnya dengan penyebab in
feksi sinus-sinus yang lain. Infeksi atau peradangan sinus umumnya terjadi sebag
ai lanjutan infeksi hidung, Sinusitis ethmoid dapat terjadi bila terdapat ganggu
an pengaliran udara dari dan ke rongga sinus serta adanya gangguan pengeluaran c
airan mukus. Adanya peradangan yang terus-menerus menyebabkan terjadinya pembeng
kakan pada ostia sehingga lubang drainase ini menjadi buntu dan mengganggu alira
n udara sinus serta pengeluaran cairan mukus. Penyebab terjadinya obstruksi osti
a ini antara lain karena infeksi virus, sinusitis ethmoidals bisa terjadi setela
h suatu infeksi virus pada aluran pernafasan bagian atas. Sehinga virus yang men
yerang sinus biasanya sama dengan virus yang menyerang hidung dan nasofaring seb
elumnya karena mukosa sinus berjalan kontinue dengan mukosa hidung. Infeksi bakt
eri, di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan n
ormal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococus pneumonia, Haemophilus i
nfluenza). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumb
at akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri sebelumnya tidak berbah
aya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam snus sehingga terjadi infeksi sin
us. Edema dan hilangnya fungsi silia normal pada infeksi virus menciptakan suatu
lingkungan yang ideal untuk perkembangan infeksi bakteri. Infeksi jamur, asperg
illus merupakan jamur yang dapat menyebabkan sinusitis ethmoidalis pada penderit
a gangguan sistem kekebalan. Peradangan menahun pada saluran hidung yang diakiba
tkan reaksi alergi ataupun non alergi mengakibatkan obstruksi ostium akibat edem
a mukosa dan hipersekresi dalam rongga sinus sehingga menutup hubungan antara si
nus dan hidung.1, 4
Dari anamesa yang didapat biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan ata
s (terutama pada anak kecil), berupa pilek dan batuk yang lama lebih dari 7 hari
. Gejala subyektif terbagi atas gejala sistemik, yaitu demam dan rasa lesu serta
gejala lokal, yaitu hidung tersumbat, ingus kental yang kadang berbau dan menga
lir ke nasofaring (post nasal drip), halitosis, sakit kepala yang lebih berat pa
da pagi hari, nyeri di daerah pangkal hidung dan kantus media, kadang-kadang nye
ri pada bola mata atau belakangnya terutama bila mata digerakkan.1, 4
Sinusitis frontalis adalah peradangan pada sinus frontal yang terjadi di bawah 4
minggu. Sinusitis frontalis akut hampir selalu bersama-sama dengan infeksi sinu
s etmoidalis anterior. Sinus frontal berkembang dari sel-sel etmoidalis anterior
, dan duktus nasalis frontalis yang berlekuk-lekuk berjalan amat dekat dengan se
l-sel ini. Maka, faktor resiko atau faktor predisposisi terjadinya sinusitis fro
ntal adalah sama dengan faktor-faktor untuk infeksi sinus lainnya.1, 4
Sinusitis frontalis akut dapat disebabkan oleh masuknya air ke dalam sinus saat
berenang atau menyelam, biasanya didahului dengan adanya infeksi virus pada salu
ran nafas bagian atas yang diikuti dengan invasi bakteri, trauma eksternal pada
sinus seperti fraktur atau luka penetrasi, edema meatus media, sekunder terhadap
infeksi sinus maksila atau etmoid yang ipsilateral.1, 4

Gejala klinis pada sinusitis frontal akut adalah nyeri kepala frontal. Nyeri kep
ala ini biasanya berat dan terlokalisasi pada daerah sinus yang terkena. Biasany
a pada daerah dahi atau seluruh kepala. Nyeri kepala ini mempunyai karakteristik
periodik dimana timbul pada saat bangun tidur, memberat dan mencapai puncak nye
ri pada siang hari dan perlahan-lahan mereda hingga menjelang malam. Nyeri kepal
a ini disebut dengan: office headache karena hanya muncul sewaktu jam orang beke
rja di kantor. Tekanan pada bagian atas sinus frontal, di atas canthus media, me
nyebabkan timbulnya nyeri. Ini juga dapat timbul dengan mengetuk dinding anterio
r sinus frontal pada regio supraorbita bagian medial. Bengkak atau edema pada ke
lopak mata bagian atas. Diagnosis sinusitis frontalis akut dibuat berdasarkan an
amnesis sesuai dengan gejala yang telah dikeluhkan pasien, pemeriksaan rinoskopi
, dan dengan X-ray. Pada pemeriksaan X-ray, akan tampak daerah opak atau gambara
n fluid level pada sinus yang terkena. X-ray dengan posisi Water s dan foto latera
l harus dilakukan.1, 4
Sinus sphenoidalis unik oleh karena tidak dibentuk dari kantong rongga hidung. S
inus ini dibentuk di dalam kapsul rongga hidung dari hidung janin. Tidak berkemb
ang hingga usia 3 tahun usia 7 tahun pneumatisasi telah mencapai sela turcica. U
sia 18 tahun, sinus sudah mencapai ukuran penuh.1, 4
Sinusitis Sphenoidalis merupakan kasus yang paling jarang terjadi. Karena letak
sinus sphenoidalis di belakang atas cavum nasi, ostiumnya bermuara pada meatus
nasi superior, maka setiap ada peradangan pada sinus sphenoidalis, tanpa bantuan
foto rontgen, sulit untuk menegakkan diagnosa sinusitis sphenoidalis.1, 4
Pada sinusitis sfenodalis rasa nyeri terlokalisasi di vertex, oksipital, belakan
g bola mata, daerah mastoid, sakit kepala, lendir di nasofaring. 1, 4
Diagnosa didapatkan dari anamnesis yang cermat, pemeriksaan rinoskopi anterior d
an posterior, pemeriksaan radiologic (Foccipito-Mental atau posisi Waters, Foto
kepala posisi Occipito-frontal atau posisi Caldwell, foto waters, foto kepala p
osisi lateral,foto kepala posisi Rhese, foto kepala posisi Towne), pungsi sinus
maksilaris, rinoskopi sinus maksilaris, pemeriksaan histopatologi, nasoendoskopi
dan CT scan. 1, 4
Etiologi
Penyebab sinusitis akut ialah rinitis akut, infeksi faring, seprti faringitis, a
denoiditis, tonsilitis akut, infeksi gigi rahang atas M1, M2, M3 serta P1 dan P2
(dentogen), berenang dan menyelam, trauma dapat menyebabkan perdarahan mukosa s
inus paranasal, barotrauma dapat menyebabkan nekrosis mukosa.1, 5
Sinusitis maksilaris dengan asal geligi. Bentuk penyakit geligi-maksilaris yang
khusus bertanggung jawab pada 10% kasus sinusitis yang terjadi setelah gangguan
pada gigi. Penyebab tersering adalah ekstraksi gigi molar, biasanya molar pertam
a, dimana sepotong kecil tulang di antara akar gigi molar dan sinus maksilaris i
kut terangkat. Kejadian sinusitis umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis seh
ingga sinusitis sering juga disebut dengan rhinosinusitis. Rinosinusitis adalah
penyakit inflamasi yang sering ditemukan dan mungkin akan terus meningkat preval
ensinya. Rinosinusitis dapat mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang berat. 1
, 5

Gambar 2. a. Fistula oroantral b. Sinusitis maksilaris


Epidemiologi
Sinusitis adalah penyakit yang benyak ditemukan di seluruh dunia, terutama di te
mpat dengan polusi udara tinggi. Iklim yang lembab, dingin, dengan konsentrasi p
ollen yang tinggi terkait dengan prevalensi yang lebih tinggi dari sinusitis. Si
nusitis maksilaris adalah sinusitis dengan insiden yang terbesar. Data dari DEPK
ES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus berada pada urutan
ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita rawat
jalan di rumah sakit. Di Amerika Serikat, lebih dari 30 juta orang menderita si
nusitis. Virus adalah penyebab sinusitis akut yang paling umum ditemukan. Namun,

sinusitis bakterial adalah diagnosis terbanyak kelima pada pasien dengan pember
ian antibiotik. Lima milyar dolar dihabiskan setiap tahunnya untuk pengobatan me
dis sinusitis, dan 60 milyar lainnya dihabiskan untuk pengobatan operatif sinusi
tis di Amerika Serikat. 1, 5
Patofisiologi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya klire
ns mukosiliar (mucociliary clearance) di dalam komplek ostio-meatal (KOM). Mukus
juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai meka
nisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan. Organ
-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa yan
g berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium
tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif di dalam rongga sinus yang menyeba
bkan terjadinya transudasi, mula-mula serous. Kondisi ini bisa dianggap sebagai
rinosinusitis non-bakterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengo
batan.1
Bila kondisi ini menetap, sekret yang terkumpul dalam sinus merupakan media baik
untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Sekret menjadi purulen. Keadaan ini d
isebut sebagai rinosinusitis akut bakterial dan memerlukan terapi antibiotik. Ji
ka terapi tidak berhasil (misalnya karena ada faktor predisposisi), inflamasi be
rlanjut, terjadi hipoksia dan bakteri anaerob berkembang. Mukosa makin membengk
ak dan ini merupakan rantai siklus yang terus berputar sampai akhirnya perubahan
mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kis
ta. Pada keadaan ini mungkin diperlukan tindakan operasi.1

Manifestasi Klinis
Gejala subyektif terdiri dari gejala sistemik dan gejala lokal. Gejala sistemik
ialah demam dan rasa lesu. Gejala lokal pada hidung terdapat ingus kental yang k
adang-kadang berbau dan dirasakan mengalir ke nasofaring. Dirasakan hidung tersu
mbat, rasa nyeri didaerah infraorbita dan kadang-kadang menyebar ke alveolus, se
hingga terasa nyeri di gigi. Nyeri alih dirasakan di dahi dan di depan telinga.
Penciuman terganggu dan ada perasaan penuh dipipi waktu membungkuk ke depan. Ter
dapat perasaan sakit kepala waktu bangun tidur dan dapat menghilang hanya bila p
eningkatan sumbatan hidung sewaktu berbaring sudah ditiadakan. 1, 5
Gejala obyektif, pada pemeriksaan sinusitis maksila akut akan tampak pembengkaka
n di pipi dan kelopak mata bawah. Pada rinoskopi anterior tampak mukosa konka hi
peremis dan edema. Pada sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis etmoi
d anterior tampak mukopus atau nanah di meatus medius. Pada rinoskopi posterior
tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip). 1, 5
Penatalaksanaan
Pengobatan sinusitis kronis lebih bersifat paliatif daripada kuratif. Pengobatan
paliatif yang dapat diberikan pada penderita dengan sinusitis kronis dibagi men
jadi:
A.
Pengobatan konservatif
Pengobatan konservatif yang adekuat merupakan pilihan terapi untuk sinusitis mak
silaris subakut dan kronis. Antibiotik (amoksisilin, ampisilin, eritromisin plus
sulfonamid, dengan alternatif lain berupa amoksisilin/klavulanat, sefaklor, sef
uroksim, trimetoprim plus sulfonamide) diberikan sesuai dengan kultur dan uji se
nsitivitas. Antibiotik harus dilanjutkan sekurang-kurangnya 10 hari. Drainase di
perbaiki dengan dekongestan (pseudoefedrin dan tetes hidung poten seperti fenile
frin atau oksimetazolin) lokal dan sistemik. Kompres hangat pada wajah dan analg
etik seperti aspirin dan asetaminofen berguna untuk meringankan gejala. Selain i
tu juga dapt dibantu dengan diatermi gelombang pendek selama 10 hari, pungsi dan
irigasi sinus. Irigasi dan pencucian sinus ini dilakukan 2 kali dalam seminggu.

Bila setelah 5 atau 6 kali tidak ada perbaikan dan klinis masih tetap banyak se
kret purulen berarti mukosa sinus sudah tidak dapat kembali normal, maka perlu d
ilakukan operasi radikal.3
B.
Pengobatan radikal
Pengobatan ini dilakukan bila pengobatan koservatif gagal. Terapi radikal dilaku
kan dengan mengangkat mukosa yang patologik dan membuat drenase dari sinus yang
terkena. Untuk sinus maksila dilakukan operasi Caldwell-Luc. Pembedahan ini dila
ksanakan dengan anestesi umum atau lokal. Jika dengan anestesi lokal, analgesi i
ntranasal dicapai dengan menempatkan tampon kapas yang dibasahi kokain 4% atau t
etrakain 2% dengan efedrin 1% di atas dan di bawah konka media. Prokain atau lid
okain 2% dengan tambahan ephineprin disuntikan di fosa kanina. Suntikan dilanjut
kan ke superior untuk saraf intraorbital. Incisi horizontal dibuat di sulkus gin
ggivobukal, tepat diatas akar gigi. Incisi dilakukan di superior gigi taring dan
molar kedua. Incisi menembus mukosa dan periosteum. Periosteum diatas fosa kani
na dielevasi sampai kanalis infraorbitalis, tempat saraf orbita diidentifikasi d
an secara hati-hati dilindungi.3, 6

Gambar 4. Prosedur Caldwell Luc


Pada dinding depan sinus dibuat fenestra, dengan pahat, osteatom atau alat bor.
Lubang diperlebar dengan cunam pemotong tulang kerison, sampai jari kelingking d
apat masuk. Isi antrum dapat dilihat dengan jelas. Dinding nasoantral meatus inf
erior selanjutnya ditembus dengan trokar atau hemostat bengkok. Antrostomi intra
nasal ini dapat diperlebar dengan cunam kerison dan cunam yang dapat memotong tu
lang kearah depan. Lubang nasoantral ini sekurang-kurangnya 1,5 cm dan yang dipo
tong adalah mukosa intra nasal, mukosa sinus dan dinding tulang. Telah diakui se
cara luas bahwa berbagai jendela nasoantral tidak diperlukan. Setelah antrum dii
nspeksi dengan teliti agar tidak ada tampon yang tertinggal, incisi ginggivobuka
l ditutup dengan benang plain cat gut 00. biasanya tidak diperlukan pemasangan t
ampon intranasal atau intra sinus. Jika terjadi perdarahan yang mengganggu, kate
ter balon yang dapat ditiup dimasukan kedalam antrum melalui lubang nasoantral.
Kateter dapat diangkat pada akhir hari ke-1 atau ke 2. kompres es di pipi selama
24 jam pasca bedah penting untuk mencegah edema, hematoma dan perasaan tidak ny
aman.3, 6
C.
Pembedahan tidak radikal
Akhir-akhir ini dikembangkan metode operasi sinus paranasal dengan menggunakan e
ndoskop yang disebut Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BESF). Prinsipnya adalah
membuka dan membersihkan daerah kompleks ostio-meatal yang menjadi sumber penyum
batan dan infeksi, sehingga ventilasi dan drenase sinus dapat lancar kembali mel
alui ostium alami. Dengan demikian mukosa sinus akan kembali normal.3, 6
Komplikasi
Komplikasi sinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya antibiotika.
Komplikasi biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronis denga
n eksaserbasi akut. Komplikasi yang dapat terjadi komplikasi orbita, komplikasi
ini dapat terjadi karena letak sinus paranasal yang berdekatan dengan mata (orbi
ta). Sinusitis etmoidalis merupakan penyebab komplikasi orbita yang tersering k
emudian sinusitis maksilaris dan frontalis. Terdapat 5 tahapan terjadinya kompli
kasi orbita yaitu peradangan atau reaksi edema yang ringan, selulitis orbita ede
ma bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi isi orbita namun pus
belum terbentuk. Abses subperiosteal, pus terkumpul di antara periorbita dan di
nding tulang orbita menyebabkan proptosis dan kemosis. Abses periorbita, pada ta

hap ini, pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi orbita. Trombosi
s sinus kavernosus, komplikasi ini merupakan akibat penyebaran bakteri melalui s
aluran vena ke dalam sinus kavernosus di mana selanjutnya terbentuk suatu trombo
flebitis septic.1

Gambar 5. Komplikasi penyakit sinus pada orbita


Komplikasi Intrakranial
Komplikasi ini dapat berupa meningitis, abses epidural, abses subdural, abses ot
ak.1

Gambar 6. Sistem vena sebagai jalur perluasan komplikasi ke intrakranial


Prognosis
Prognosis sinusitis maksilaris sangat tergantung kepada tindakan pengobatan yang
dilakukan dan komplikasi penyakitnya. Jika, drainase sinus membaik dengan terap
i antibiotik atau terapi operatif maka pasien mempunyai prognosis yang baik.
Kesimpulan
Daftar Pustaka
1.
Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku ajar ilmu keseh
atan telinga hidung tenggorok kepala leher. Ed. 7. Jakarta: Badan Penerbit Fakul
tas Kedokteran Indonesia, 2012. h. 3-4, 122, 127-128.
2.
Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, K Marcellus S, Setiati S. Ilmu penyakit
dalam UI. Ed. 5, jilid 3. Jakarta: Interna publishing, 2009. h.42-3.
3.
Pederson GW. Buku ajar praktis bedah mulut. Ed 1. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 1996. h. 265-9.
4.
Hilger, Peter A. Penyakit pada Hidung. In: Adams GL, Boies LR. Higler PA
, editor. Buku ajar penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: EGC; 2003.h.200.
5.
wordpress.com/tag/maksilaris/akut
6.
Nizar W. Anatomi Endoskopik Hidung-Sinus Paranasalis dan Patifisiologi S
inusitis. Kumpulan Naskah Lengkap Pelatihan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional Ju
ni 2000.p 8-9.