Anda di halaman 1dari 24

Pengaruh Suhu Panas Terhadap Kesehatan Kerja

Melda Erivhani
102012081/C2
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat 11510
Telp: (021) 5694-2061, Fax: 021-5631731
E-mail: melda.erivhani@gmail.com
Pendahuluan
Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) merupakan suatu upaya untuk menekan atau
mengurangi resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja terhadap pekerja yang berkaitan
dengan alat kerja, bahan dan proses pengolahan, tempat kerja dan lingkungannya serta
cara-cara melakukan pekerjaannya. K3 baik sekarang maupun di masa mendatang
merupakan sarana menciptakan situasi kerja yang aman, nyaman dan sehat, ramah
lingkungan sehingga mendorong effisiensi dan produktivitas yang pada gilirannya dapat
meningkatkan kesejahteraan semua pihak, bagi pekerja maupun pengusaha.1,2
Salah satu masalah utama dalam bidang kesehatan kerja adalah gangguan kesehatan
akibat lingkungan kerja. Lingkungan kerja dalam hal ini adalah beban tambahan pada
proses bekerja lingkungan kerja. Lingkungan kerja yang manusiawi dan lestari akan
menjadi pendorong bagi kegairahan dan efisiensi kerja sedangkan lingkungan kerja yang
melebihi toleransi kemampuan manusia tidak saja merugikan produktivitas kerjanya
tetapi juga menjadi penyebab terjadinya penyakit atau kecelakaan kerja.1,2
Suhu yang nyaman bagi pekerja sekitar 20-270C dan dalam situasi humiditas
berkisar 35-60%. Apabila temperatur dan humiditas lebih tinggi, orang akan merasa tidak
nyaman. Situasi ini tidak menimbulkan kerugian selama tubuh dapat beradaptasi dengan
panas yang terjadi. Lingkungan yang sangat panas dapat mengganggu mekanisme
penyesuaian tubuh dan berlanjut kepada kondisi serius dan bahkan fatal.1,2

Isi
Anamnesis
Anamnesis terdiri atas beberapa kelompok data penting:
1.

Identitas pasien
1

Nama, tempat/tanggal lahir, usia, jenis kelamin, alamat, pekerjaannya, dll.


Didapatkan di kasus, pasien adalah seorang laki-laki berusia 45 tahun. Beliau
2.

adalah seorang buruh di pabrik gelas.


Riwayat penyakit sekarang
Keluhan utama pasien dan segala keluhan yang berkaitan dengan penyakit
yang dialaminya sekarang. Didapatkan bahwa pasien tersebut mengeluh nyeri saat
buang air kecil sejak tadi pagi. Keluhan sebenarnya sudah 2 minggu dirasakan dan
sudah berobat. Setelah berobat, keluhan hilang. Karena beliau bekerja di pabrik
gelas dengan suhu tinggi, ditanyakan seputar pekerjaannya. Didapatkan bahwa ia
sudah 5 tahun bekerja dan 2 bulan terakhir ada peningkatan produksi karena
banyaknya pesanan. Ia bekerja memasukkan bahan material ke dalam tungku

3.

pemanasan. Tidak ada demam dan nyeri pada pinggang.


Riwayat penyakit dahulu
Kronologi penyakit, ada tidaknya riwayat sakit dahulu yang pernah di
derita yang berhubungan dengan penyakit sekarang.
4. Riwayat penyakit keluarga dan pribadi, lingkungan, sosial-ekonomi-budaya.
Ditanyakan riwayat penyakit yang pernah diderita di keluarga. Terutama
yang berhubungan dengan batu saluran kemih. Pada riwayat pribadi dan sosial
ekonomi, harus ditanyakan mengenai kebiasaan makan dan minumnya, serta
kebiasaan merokoknya. Didapatkan bahwa pasien merokok setengah bungkus per
hari. Setelah makan, pasien terbiasa minum teh.

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa : berat badan, suhu tubuh, frekuensi denyut
jantung dan pernapasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tanda-tanda utama
dehidrasi : kesadaran, rasa haus, dan turgor kulit abdomen serta tanda-tanda tambahan
lainnya, seperti : ubun-ubun besar cekung atau tidak , mata cekung atau tidak, ada atau
tidaknya air mata, bibir, mukosa mulut dan lidah kering atau basah. Pemeriksaan
ekstremitas perlu karena perfusi dan capilarry refill dapat menentukan derajat dehidrasi
yang terjadi.3
Pemeriksaan pada abdomen:
1. Regio CVA:
Inspeksi: apakah terdapat oedem, hematom, benjolan.
Palpasi: lakukan pemeriksaan ballotement apakah ginjal teraba,
terdapat nyeri tekan/ tidak, apakah ada massa.
Perkusi: adakah nyeri ketuk.3
2. Regio suprapubic (genitalia eksterna):
Inspeksi: apakah terdapat tanda radang, hematom, jejas.
2

Palpasi: adakah nyeri tekan, bagaimana suhu dengan jaringan sekitar.3

Dari pemeriksaan fisik, ditemukan lidah kering dan tidak coated. Dada, perut,
ekstremitas dalam batas normal.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan meliputi pemeriksaan darah rutin,
pemeriksaan urin rutin (urinalisis), pemeriksaan urin 24 jam, analisis batu, kultur urin,
dan pemeriksaan radiologik seperti foto polos abdomen, IVP, atau USG. Pemeriksaan
penunjang dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis banding dan menegakkan
diagnosis.3
Pemeriksaan darah rutin dilakukan untuk melihat ada tidaknya tanda-tanda infeksi
dan inflamasi karena batu ginjal seringkali menyebabkan infeksi. Adanya leukositosis
menunjukkan adanya infeksi.3
Pada urinalisis, apabila terdapat batu ginjal ditemukan gross hematuria (90%) atau
hematuria mikroskopik. Ketidakadaan mikrohematuria juga tidak menyingkirkan batu
ginjal. pH urin merupakan petunjuk yang berharga untuk menduga kemungkinan batu
penyebab. pH urin normal postprandial adalah 5.9. Jika pH urin menetap < 4,8 memberi
kesan adanya batu asam urat atau batu sistein, yang keduanya terlihat radiolusen pada
foto polos abdomen. Sebaliknya, jika pH > 7.2 memberikan kesan adanya batu struvit
yang akan terlihat radioopak pada foto polos. Pada kasus, ditemukan kristaluria +2.3
Pemeriksaan urin 24 jam diindikasikan untuk diagnosis faktor yang berkontribusi
pada pembentukan batu, yaitu untuk mengetahui apakah ada hiperkalsiuria, peningkatan
ekskresi oksalat, penurunan ekskresi sitrat.3
Diagnosis Klinis : Dehidrasi Ringan
OSHA (Occupational Safety & Health Administration) menyatakan pekerjaan
yang menyangkut temperatur udara yang tinggi, radiasi sumber panas, kelembaban yang
tinggi, kontak fisik langsung dengan objek panas, atau aktifitas fisik yang berat
memiliki potensi tinggi dalam menimbulkan heat stress pada pekerja yang terlibat
dalam kegiatan kerja tersebut, seperti pada pekerjaan pengecoran besi, pengecoran
logam lain, pembakaran batu bata dan pabrik keramik, pabrik gelas atau kaca, pabrik
3

pengolahan bahan karet, perlengkapan listrik (terutama ruang ketel uap), dapur
(bakeries), pabrik gula, dapur komersil, binatu, pengalengan makanan, pabrik kimia,
pertambangan, peleburan, dan terowongan uap.4
Apabila temperature udara terlampau panas akibat radiasi dan konveksi yang jauh
lebih besar daripada kemampuan tubuh untuk menyesuaikan diri melalui sistem
penguapannya menyebabkan temperatur tubuh menjadi naik melebihi tingginya
temperatur udara. Pengeluaran keringat tubuh yang berlebih akan mempengaruhi
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, jika jumlah cairan dan elektrolit yang masuk
tidak cukup, produksi urin akan menurun dan kepekatan urin akan meningkat sehingga
mendorong terbentuknya batu ginjal dan batu di saluran kemih. Penelitian Borghi
(1994) pada pekerja pabrik gelas yang terpapar panas dengan suhu 29 310 WBGT
( Wet Bulb Globe Temperature) di lingkungan kerja selama lebih dari 5 tahun
menemukan batu asam urat di saluran kemih pada sekitar 38,8% pekerja yang mengeluh
pegal atau nyeri di daerah pinggang dan rasa panas atau sakit pada saat buang air kecil. 5
Batu atau kristal di saluran kemih akan menimbukan beberapa masalah selain rasa
nyeri, bila berlangsung lama serta tidak ditangani seksama dapat menjadi salah satu
penyebab gangguan fungsi ginjal. Akibatnya akan merugikan pekerja, perusahaan
secara keseluruhan, produktivitas kerja menurun dan biaya kesehatan pekerja
meningkat.4

Diagnosis Banding
1.

Nefrolithiasis : batu ginjal merupakan keadaan tidak normal didalam ginjal dan
mengandung komponen kristal serta matriks organik. Lokasi batu ginjal dijumpai khas
di kaliks atau pelvis dan bila akan keluar dapat terhenti di ureter atau di kandung kemih.
Batu ginjal sebagian besar mengandung batu kalsium. Faktor yang merupakan
predisposisi dan yang utama adalah ISK (Infeksi Saluran Kemih). Gejala utama batu
ginjal yang akut adalah kolik ginjal atau nyeri kolik. Batu di ginjal itu sendiri mungkin
asimptomatik kecuali apabila batu tersebut menyebabkan obstruksi atau timbul infeksi.
Lokasi nyeri bergantung pada lokasi batu. Apabila batu ada didalam pelvis ginjal,
penyebab nyerinya adalah hidronefrosis dan nyeri ini tidak tajam, tetap, dan dirasakan
di area sudut kostovertebrae.6
4

2.

Infeksi saluran kemih (ISK) adalah istilah umum yang dipakai untuk menyatakan
adanya invasi atau masuknya mikroorganisme pada saluran kemih atau dapat juga
disebut suatu infeksi yang terjadi ketika bakteri masuk ke uretra yang terbuka dan
berpindah ke saluran kemih atau bladder. Infeksi ini biasanya terjadi di saluran kemih
bagian bawah, namun jika tidak segera diobati maka akan terus naik ke bagian atas dan
terjadi di ginjal. Gejala klinis ISK tidak khas bahkan pada sebagian pasien ada yang
tanpa gejala. Gejala ISK ini tidak mudah untuk dihilangkan. Gejala yang biasanya
timbul misalnya pada bagian bawah (prostatitis, sistitis,urethritis) yaitu rasa sakit atau
panas di uretra atau saluran kemih sewaktu kencing dengan air kemih sedikit-sedikit dan
tidak jarang berdarah serta rasa tidak enak di daerah suprapubik. Sedangkan pada ISK
bagian atas (pielonefritis) gejalanya seperti mengigil, demam, mual, muntah, sakit
kepala, malaise atau rasa tidak enak, atau nyeri pinggang.Pielonefritis merupakan
infeksi piala pada ginjal, tubulus dan jaringan interstisial dari salah satu atau kedua
ginjal. Bakteri mencapai kandung kemih melalui uretra dan naik ke ginjal. Pielonefritis
sering sebagai akibat dari refluks ureterivesikal, dimana katup uretevesikal yang tidak
kompeten meynyebabkan urine mengalir balik (refluks) ke dalam ureter. Obstruksi
traktus urinarius ( yang meningkatkan kerentanan ginjal terhadap infeksi), tumor
kandung kemih, striktur, hiperplasia prostatik benigna, dan batu urinarius merupakan
penyebab yang lain. Pielonefritis dapat akut dan kronis.6

Diagnosis Okupasi : Penyakit yang diperberat oleh pekerjaan


PAK (Penyakit Akibat Kerja) adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang
spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan yang pada umumnya terdiri dari 1
agen penyebab yang sudah diakui. Penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan (work
related disease) adalah penyakit yang mempunyai beberapa agen penyebab dimana
faktor pada pekerjaan memegang peranan bersama dengan faktor risiko lainnya dalam
berkembangnya penyakit yang mempunyai etiologi yang kompleks.7
Penyakit yang diperberat oleh pekerjaan atau lingkungan kerja, tidak termasuk
PAK, namun yang bersangkutan memperoleh Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK).
PAK, penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja yang dalam

Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 disebut penyakit yang timbul karena
hubungan kerja.7,8
Ada 2 elemen pokok dalam mengidentifikasi penyakit akibat kerja :

Adanya hubungan antar pajanan yang spesifik dengan penyakit


Adanya fakta bahwa frekuensi kejadian penyakit pada populasi pekerja
lebih tinggi daripada masyarakat umum.

Selain itu penyakit-penyakit tersebut dapat dicegah dengan melakukan tindakantindakan preventif di tempat kerja. Sebagai bahan pertimbangan dalam menganalisis
dan menetapkan apakah PAK (Occupational Disease) atau penyakit akibat hubungan
kerja (Work Related Disease) diperlukan data pendukung antara lain:7
1) Data hasil pemeriksaan kesehatan awal (sebelum tenaga kerja di pekerjakan di
perusahaan yang bersangkutan)
2) Data hasil pemeriksaan kesehatan berkala (pemeriksaan yang di lakukan secara
periodik selama tenaga kerja bekerja di perusahaan yang bersangkutan)
3) Data hasil pemeriksaan khusus (pemeriksaan dokter yang merawat tenaga
kerjatentang riwayat penyakit yang dideritanya)
4) Data hasil pengujian lingkungan kerja oleh Pusat Keselamatan dan Kesehatan
Kerja beserta balai-balainya, atau lembaga-lembaga lain yang ditunjuk oleh
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
5) Data hasil pemeriksaan kesehatan tenaga kerja secara umum di bagian tersebut
6) Riwayat pekerjaan tenaga kerja
7) Riwayat kesehatan tenaga kerja
8) Data medis/rekam medis tenaga kerja
9) Analisis hasil pemeriksaan lapangan oleh Pengawas Ketenagakerjaan
10) Pertimbangan medis dokter penasehat
Tujuh langkah diagnosis penyakit akibat kerja.
1. Diagnosis klinis

lakukanlah sesuai prosedur medis yang berlaku

bila perlu lakukan: pemeriksaan penunjang /tambahan, rujukan


informasi ke spesialis lain

2.

Pajanan yang dialami

Pajanan saat ini dan pajanan sebelumnya

Beberapa pajanan -> 1 penyakit atau sebaliknya

Lakukan anamnesis:
o deskripsi pekerjaan secara kronologis
o periode waktu kerja masing-masing
o apa yang diproduksi
o bahan yang digunakan
o

cara bekerja

3. Apa ada hubungan pajanan dengan penyakit

Lakukan identifikasi pajanan

Evidence based: pajanan-penyakit

Bila tidak ada: pengalaman -> penelitian awal

4. Jumlah pajanan cukup?

Perlu mengetahui patofisiologi penyakit & bukti epidemiologis

Dapat dengan pengamatan kualitatif -> cara kerja, proses kerja

Bagaimana lingkungan kerja

Masa kerja

Pemakaian alat pelindung sesuai/tepat?

5. Faktor individu berperan

Berapa besar berperan?

Riwayat atopi/alergi

Riwayat penyakit dalam keluarga

Hiegene perorangan

6. Faktor lain di luar pekerjaan

Pajanan lain yang dapat menyebabkan penyakit -> Bukan faktor


pekerjaan

Rokok, pajanan di rumah, hobi

7. Menentukan diagnosis PAK

Kaji semua langkah-langkah

Bukti + referensi -> PAK?

Ada hubungan sebab akibat pajanan-penyakit & faktor pekerjaan


faktor yang dianggap paling bermakna terhadap terjadinya
penyakit
-> penyakit akibat kerja,penyakit bukan akibat kerja, penyakit yang
berhubungan dengan pekerjaan/ yang diperberat oleh pekerjaan,
atau masih dibutuhkannya informasi lebih lanjut.

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENYAKIT


YANG TIMBUL KARENA HUBUNGAN KERJA.8
Pasal 1
Penyakit yang timbul karena hubungan kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh
pekerjaan atau lingkungan kerja.
Pasal 2
Setiap tenaga kerja yang menderita penyakit yang timbul karena hubungan kerja berhak
mendapat jaminan Kecelakaan Kerja baik pada saat masih dalam hubungan kerja
maupun setelah hubungan kerja berakhir.
Pasal 3
(1) Hak atas Jaminan Kecelakaan Kerja bagi tenaga kerja yang hubungan kerjanya telah
berakhir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 diberikan, apabila menurut hasil
diagnosis dokter yang merawat penyakit tersebut diakibatkan oleh pekerjaan selama
tenaga kerja yang bersangkutan masih dalam hubungan kerja.
(2) Hak jaminan kecelakaan kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan,
apabila penyakit tersebut timbul dalam waktu paling lama 3 (tiga) tahun terhitung sejak
hubungan kerja tersebut berakhir.
Pasal 4
Penyakit yang timbul karena hubungan kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1,
sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan Presiden ini.
Pasal 5
Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
PENYAKIT YANG TIMBUL KARENA HUBUNGAN KERJA 7
1. Pnemokoniosis yang disebabkan debu mineral pembentuk jaringan parut (silicosis,
antrakosilikosis, asbestosis) dan silikotuberkolosis yang silikosisnya merupakan faktor
utama penyebab cacat atau kematian.
2. Penyakit paru dan saluran pernapasan (bronkhopulmoner) yang disebabkan oleh debu
logam keras.
3. Penyakit paru dan saluran pernapasan (bronkhopulmoner) yang disebabkan oleh debu
kapas, vlas, henep dan sisal (bissinosis).

4. Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi dan zat perangsang
yang dikenal yang berada dalam proses pekerjaan.
5. Alveolitis allergika yang disebabkan oleh faktor dari luar sebagai akibat penghirupan
debu organik.
6. Penyakit yang disebabkan oleh berilium atau persenyawaannya yang beracun.
7. Penyakit yang disebabkan oleh kadmium atau persenyawaannya yang beracun.
8. Penyakit yang disebabkan fosfor atau persenyawaannya yang beracun.
9. Penyakit yang disebabkan oleh krom atau persenyawaannya yang beracun.
10. Penyakit yang disebabkan oleh mangan atau persenyawaan-nya yang beracun.
11. Penyakit yang disebabkan oleh arsen atau persenyawaan-nya yang beracun.
12. Penyakit yang disebabkan oleh raksa atau persenyawaan-nya yang beracun.
13. Penyakit yang disebabkan oleh timbal atau persenyawaan-nya yang beracun.
14. Penyakit yang disebabkan oleh fluor atau persenyawaan-nya yang beracun.
15. Penyakit yang disebabkan oleh karbon disulfida. beracun.
16. Penyakit yang disebabkan oleh derivat halogen dari persenyawaan hidrokarbon
alifatik atau aromatik yang beracun.
17. Penyakit yang disebabkan oleh benzena atau homolognya yang beracun.
18. Penyakit yang disebabkan oleh derivat nitro dan amina dari benzena atau
homolognya yang beracun.
19. Penyakit yang disebabkan oleh nitrogliserin atau ester asam nitrat lainnya.
20. Penyakit yang disebabkan oleh alkohol, glikol atau keton.
21. Penyakit yang disebabkan oleh gas atau uap penyebab asfiksia atau keracunan
seperti karbon monoksida, hidrogensianida, hidrogen sulfida, atau derivatnya yang
beracun, amoniak seng, braso dan nikel.
22. Kelainan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan.
23. Penyakit yang disebabkan oleh getaran mekanik (kelainan-kelainan otot, urat, tulang
persendian, pembuluh darah tepi atau syaraf tepi.
24. Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang berkenaan lebih.
25. Penyakit yang disebabkan oleh radiasi elektro magnetik dan radiasi yang mengion.
26. Penyakit kulit (dermatosis) yang disebabkan oleh penyebab fisik, kimiawi atau
biologik.

10

27. Kanker kulit epitelioma primer yang disebabkan oleh ter, pic, bitumen, minyak
mineral, antrasena atau persenyawaan, produk atau residu dari zat tersebut.
28. Kanker paru atau mesotelioma yang disebabkan oleh asbes.
29. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit yang
didapat dalam suatu pekerjaan yangmemiliki risiko kontaminasi khusus.
30. Penyakit yang disebabkan oleh suhu tinggi atau rendah atau radiasi atau
kelembaban udara tinggi.
31. Penyakit yang disebabkan bahan kimia lainnya termasuk bahan obat
Pada kasus yang dibahas, didapatkan bahwa laki-laki yang bekerja di pabrik gelas
tersebut termasuk bekerja pada suhu yang sangat panas dan kurang mengonsumsi cairan
sehingga timbul keluhan nyeri BAK yang berhubungan dengan hipersaturasi dari urin.
Dikarenakan laki-laki tersebut sudah mengalami gejala itu 2 minggu lalu dan sudah
hilang keluhannya setelah berobat, tetapi karena bekerja lebih ekstra, timbullah lagi
gejala tersebut. Oleh sebab itu dikatakan bahwa penyakit yang dialaminya diperberat
akibat pekerjaannya.
Etiologi
Sesuai UU nomor 1 tahun 1970 tentang ditetapkannya persyaratan keselamatan dan
kesehatan kerja, salah satu sumber bahaya yang ditemukan di tempat kerja adalah
bahaya kondisi fisik berupa iklim kerja panas, hal yang diperjelas dengan keluarnya
Kepmenaker No 51 tahun 1999 tentang NAB faktor fisika di tempat kerja, tertera dalam
pasal 1, dimana NAB iklim kerja bagi pekerja yang bekerja selama 6 jam sehari dan
istirahat 2 jam dengan beban kerja sedang adalah ISBB sebesar 28,00 C.9
NAB (Nilai Ambang Batas) adalah standar faktor tempat kerja yang dapat diterima
tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan dalam pekerjaan
sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Biasanya
ahli hygiene industry menggunakan parameter yang disebut Wet Bulb Globe
Thermometer (WBGT) atau Indeks Suhu Bola Basah (ISBB), yaitu penggabungan
parameter suhu udara kering, suhu basah bola dan suhu radiasi.9
Heat Stress
Tekanan panas atau heat stress adalah batasan kemampuan penerimaan panas
yang dterima pekerja dari kontribusi metabolisme tubuh akibat melakukan pekerjaan
dan factor lingkungan, seperti temperatur udara, kelembaban, sirkulasi udara dan radiasi
panas serta pakaian yang digunakan. Keadaan heat stress ringan maupun sedang dapat
11

menyebabkan rasa tidak nyman dan berakibat buruk pada penampilan kerja dan
keselamatan. Pada saat heat stress mendekati batas toleransi tubuh, resiko terjadinya
kellainan kesehatan menyangkut panas akan meningkat. 10
Faktor yang Mempengaruhi Tekanan Panas (Heat Stress)
Faktor yang mempengaruhi tekanan panas antara lain :
a. Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah suatu proses adaptasi fisiologis yang ditandai dengan
adanya pengeluaran keringat yang meningkat, penurunan denyut nadi dan suhu
tubuh akibat pembentukan keringat.10
Aklimatisasi terhadap suhu tinggi merupakan hasil penyesuaian diri
seseorang terhadap lingkungannya. Aklimatisasi terhadap panas ditandai dengan
penurunan suhu tubuh dan pengeluaran garam dari dalam tubuh. Proses
aklimatisasi ditujukan kepada suatu pekerjaan dan suhu tinggi untuk beberapa
waktu. Mengingat pembentukan keringat bergantung pada kenaikan suhu dalam
tubuh. Aklimatisasi panas biasanya tercapai setelah dua minggu. Dengan bekerja
pada suhu tinggi saja belum bias menghasilkan aklimatisasi yang sempurna.10
b. Masa Kerja
Masa kerja menunjukan lama paparan di tempat kerja. Semakin lama bekerja
di suatu tempat maka semakin besar pula kemungkinan terpapar lingkungan kerja
baik fisika, kimia, biologi, dan sebagainya. Masa kerja menentukan lama paparan
seseorang terhadap faktor risiko yaitu tekanan panas. Maka semakin lama masa
kerja seseorang kemungkinan besar orang tersebut telah mengalami aklimatisasi
terhadap iklim kerja (ISBB).10
c. Umur
Faktor penting terkait umur yang memengaruhi terjadinya keluhan kesehatan
adalah penurunan fungsi jantung dan efisiensi pengeluaran keringat. Pekerja
dengan usia di atas 40 tahun kelenjar keringat mempunyai respon yang lebih
lambat terhadap beban panas metabolik dan lingkungan dari pada pekerja muda.
Pada kondisi dimana radiasi panas di tempat kerja tinggi maka akan menyerap
panas lebih banyak karena pembuluh darah mereka yang terdapat di dekat kulit
sehingga kulit akan terpapar panas dan menyerap panas lebih banyak dari pada
pekerja usia muda. Pekerja yang berusia diatas 40 tahun mempunyai penurunan
kemampuan untuk mengembalikan suhu tubuh pada suhu normal. 10

12

d. Jenis kelamin
Secara umum wanita hanya mempunyai kekuatan fisik 2/3 dari kemampuan
fisik atau kekuatan otot laki-laki disamping itu, seorang wanita lebih tahan
terhadap suhu dingin daripada suhu panas. Hal tersebut disebabkan karena tubuh
seorang wanita mempunyai jaringan dengan daya konduksi yang lebih tinggi
terhadap panas bila dibandingkan dengan laki-laki. Akibatnya pekerja wanita akan
memberikan lebih banyak reaksi perifer bila bekerja pada cuaca panas. Komposisi
air tubuh antara laki-laki dan perempuan berbeda berdasarkan usia, laki-laki usia
18-40 tahun memiliki komposisi air tubuh 61% dari kilogram berat badan
sedangkan wanita memiliki komposisi air tubuh 51% dari kilogram berat badan.
Pada usia 40-60 tahun memiliki komposisi air tubuh 55% dari kilogram berat
badan dan wanita 47% dari kilogram berat badan. 11
e. Ukuran tubuh
Adanya perbedaan ukuran tubuh akan mempengaruhi reaksi fisologis tubuh
terhadap panas. Laki-laki dengan ukuran tubuh yang lebih kecil dapat mengalami
tekanan panas yang lebih besar karena mereka mempunyai kapasitas kerja
maksimal yang lebih kecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja yang
berat badannya kurang dari 50 kg selain mempunyai maximal oxygen intake yang
rendah tetapi juga kurang toleran terhadap panas daripada mereka yag mempunyai
berat badan rata-rata. Proporsional tubuh berbanding lurus dengan kebutuhan
cairan. Selain proporsi ukuran tubuh, komposisi dalam tubuh pun ikut
mempengaruhi jumlah total cairan dalam tubuh. Lemak (lipid) sebagai jaringan
yang tidak bisa menyatu dengan air akan memiliki kandungan air yang minimal.
Maka kebutuhan asupan air minum juga berbeda, responden dengan kategori
gemuk lebih banyak membutuhan asupan air minum dibandingkan dengan
responden yang berkategori normal.10,11
f. Asupan Cairan
Pekerja yang bekerja di lingkungan panas sebaiknya mengkonsumsi air
minum sebanyak 1 gelas setiap 20-30 menit. Pekerja yang minum pada saat haus
saja tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. Kebiasaan minum air yang
baik dapat mencegah terjadinya dehidrasi tubuh setelah terpapar panas dalam
kurun waktu tertentu. Kebiasaan minum air yang tidak dilakukan dalam kurun
waktu yang sering tetap memungkinkan terjadinya dehidrasi, meskipun jumlahnya

13

cukup. Secara fisiologis, manusia sudah dibekali dengan respon untuk


memasukkan cairan kedalam tubuh. Respon haus merupakan reflex yang secara
otomatis menjadi perintah kepada tubuh memasukkan cairan. Dalam penelitian ini
tidak dilakukan analisis yang mendalam mengenai hubungan konsumsi cairan
dengan status hidrasi.12
g.

Jenis Air Minum


Minuman yang baik ialah air mineral kemasan. Sebenarnya minuman kopi,

teh, soda, jus, dan sebagainya mengandung agen dehidrasi. Meminum air
sebaiknya jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit paling tidak 8 gelas per
harinya karena setiap fungsi tubuh diatur dan tergantung pada air. Air harus
tersedia untuk membawa elemen penting yaitu oksigen, hormone, dan zat kimia
pembawa pesan keseluruh tubuh.12
Epidemiologi
Penelitian yang dilakukan oleh Andrey Livchak (2005) yang berjudul The Effect
of Supply Air Systems on Kitchen Thermal Environment diperoleh hasil bahwa
faktor suhu berpengaruh terhadap produktivitas. Jika suhu pada ruangan meningkat
o
5,5 C di atas tingkatan nyaman akan menyebabkan penurunan produktivitas sebesar
30%. Suhu tubuh manusia tidak hanya didapat dari metabolisme tetapi juga dipengaruhi
oleh panas lingkungan. Makin tinggi panas lingkungan, semakin besar pula
pengaruhnya terhadap suhu tubuh.
Air merupakan salah satu zat gizi dan kekurangan air merupakan kekurangan gizi,
penelitian The Indonesian Regional Hydration Study (THIRST) 2009 yang dilakukan di
beberapa kota di Indonesia menunjukan bahwa ternyata 46,1% subjek mengalami
dehidrasi ringan. Beberapa kota yang dilakukan penelitian didapatkan angka dehidrasi
pada daerah Jakarta dan Jawa Barat 40,9%, Jawa Timur 48,3%, dan Sulawesi Selatan
49,9% setengah dari subjek yang dilakukan pengukuran merupakan orang dewasa dan
remaja yang mengetahui kebutuhan air minum sekitar dua liter.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Soemarko (2002) menyebutkan bahwa salah
satu factor yang mempengaruhi kenyamanan lingkungan kerja adalah suhu lingkungan
kerja. Jika suhu terlalu tinggi , yang disebut dengan lingkungan kerja panas, selain
mengganggu kenyamanan juga mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit
tubuh. Jika jumlah cairan dan elektrolit tidak cukup produksi urin akan menurun dan

14

kepekatan urin meningkat (hipersaturasi/supersaturasi). Keadaan ini bila berlangsung


cukup lama dapat mendorong terbentuknya antara lain kristal dan batu asam urat di
saluran kemih. Diperoleh prevalensi Kristal asam urat pada peneltian ini sebesar 45.2%.
Hal diatas sejalan dengan penelitian yang dilakukan Borghi et al yang memeriksa
prevalensi terjadinya batu ginjal (stone disease) dan factor risiko terjadinya batu saluran
kemih pada pekerja pabrik pembuatan kaca bersuhu 29-31 0C WBGT, diperoleh hasil
prevalensi nefrolitiasis sebesar 8.5%. Sedangkan pada control yang bekerja pada suhu
normal sebesar 2.4%. Terjadi insidens yang tinggi (38.8%) berupa jenis batu asam urat
pada pekerja yang terpapar keadaan heat stress. Dari studi ini dapat dipastikan bahwa
dehidrasi kronis mempresentasi factor risiko keadaan lithogenic, terutama terhadap batu
jenis asam urat, dan perlunya minum yang cukup pada pekerja di lingkungan panas.5,13
Patofisiologi
Dehidrasi disebut pula dengan ketidakseimbangan hiperosmolar. Dehidrasi terjadi
akibat kehilangan cairan yang tidak diimbangi dengan kehilangan elektrolit dalam
jumlah proporsional, terutama natrium. Kehilangan cairan menyebabkan peningkatan
kadar natrium, peningkatan osmolalitas, serta dehidrasi intraseluler. Pranata (2013)
menyatakan, air merupakan substansi yang diperlukan oleh tubuh manusia, sehingga
jumlah komponen ini harus terpenuhi dengan baik. Kehilangan komponen air sering
diakibatkan oleh karena asupan air yang tidak adekuat atau pengeluaran (output) yang
berlebihan, misalnya keringat, panas, dan diare. Upaya untuk mencegah terjadinya
dehidrasi dapat dilakukan dengan banyak minum air yang diberi garam dengan jumlah
yang kurang lebih sama dengan jumlah air dan garam yang hilang. 14
Dehidrasi menyebabkan depresi Adrenosin Tri Phospat (ATP) dan Phospocreatin
yang menyebabkan kelelahan otot sehingga dapat menurunkan produktivitas kerja.
Dehidrasi yang berkepanjangan dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal. Ginjal
merupakan organ yang berperan besar dalam proses regulasi cairan tubuh.
Paparan panas merupakan salah satu factor dominan yang mengganggu proses
bekerja. Panas akan menimbulkan gangguan kesehatan pada pekerja terutama akibat
pengeluaran cairan yang berlebihan hal ini mengakibatkan gangguan saluran kemih
berupa kristal urin. Kristal urin terjadi karena adanya pemekatan urin sehingga urin
menjadi jenuh dan membentuk sedimen urin. Sedimen yang banyak dan menetap yang
terjadi pada urin akan mengakibatkan agregasi (penggumpalan) kristal dan kemudian
menjadi batu pada urin. 14

15

Kristalisasi urin dapat terjadi pada pekerja yang terpapar pada suhu 29-310C
WBGT. Suhu lingkungan kerja yang panas akan menyebabkan usaha mendinginkan
tubuh dengan jalan mengeluarkan keringat dan meningkatkan penguapan melalui paruparu juga ikut meningkat. Pengeluaran cairan yang relatif banyak akan mempengaruhi
kesimbangan cairan di dalam tubuh sehingga cairan tubuh berkurang disusul dengan
pemekatan urin sehingga akan terjadi keadaan supersaturasi urin. Keadaan ini akan
mempengaruhi ion-ion di dalam urin sehingga mempermudah kristalisasi urin. Selain
itu, dehidrasi juga dapat mempengaruhi berat badan seseorang akibat keringat dan urin
yang keluar selama beraktifitas.14
Manifestasi Klinis
Tabel 1. Penentuan derajat dehidrasi menurut MMWR 2003.6

Sumber : UKK-Gastroenterologi-Hepatologi IDAI . Buku ajar gastroenterologihepatologi. Ed ke-3. Jakarta : Badan penerbit IDAI;2012.h.102-3
Kelainan atau gangguan yang tampak secara klinis akibat tekanan panas,
dibagi menjadi empat kategori dasar yaitu: malaria rubra, heat cramps, hheat
exxhasustion, heat stroke, dan supersaturasi urin dan kristalisasi urin.
a. Millaria Rubra
Millaria rubra sering dijumpai di kalangan militer atau pekerja fisik
lainnya yang tinggal di daerah iklim panas. Tampak adanya bintik papulovesikal,

16

kemerahan pada kulit yang terasa nyeri bila kepanasan. Hal ini terjadi sebagai
akibat sumbatan kelenjar keringat dan terjadi retensi keringat disertai reaksi
peradangan.15
Kelainan ini dapat mengganggu tidur sehingga efisiensi fisiologis menurun
dan meningkatkan kelelahan kumulatif. Keadaan ini merupakan faktor
predisposisi untuk terjadinya faktor yang lebih serius. Adanya kelainan kulit
menyebabkan proses berkeringat dan evaporasi terhambat, sehingga proses
pendinginan tubuh terganggu.15
b. Heat cramps (kejang panas)
Heat cramps dapat terjadi sebagai kelainan tersendiri atau bersama dengan
kelelahan panas (heat exhaustion). Kejang otot timbul secara mendadak, terjadi
setempat atau menyeluruh, terutama otot ekstremitas dan abdomen. Penyebab
utamanya karena defisiensi garam. Kejang otot yang berat dalam udara panas
menyebabkan keringat diproduksi banyak. Bersama dengan keluarnya keringat
maka tubuh juga kehilangan elektrolit.15
c. Heat Exhaustion (kelelahan panas)
Kelelahan panas timbul sebagai akibat kolaps sirkulasi darah perifer
karena dehidrasi dan defisiensi garam. Dalam usaha menurunkan panas, aliran
darah perifer bertambah, sehingga produksi keringat bertambah. Penimbunan
darah di perifer menyebabkan darah yang dipompa dari jantung ke organ lainnya
tidak mencukupi sehingga timbul gangguan. Kelelahan panas dapat terjadi pada
keadaan dehidrasi atau defisiensi garam tanpa dehidrasi. Kelainan ini dapat
dipercepat pada orang yang kurang minum, berkeringat banyak, mutah, diare atau
penyebab lain yang mengakibatkan pengeluaran cairan tubuh yang berlebihan.15
d. Heat stroke ( sengatan panas)
Heat stroke adalah suatu kkeadaan darurat medik dengan angka kematian
yang tinggi. Pada kelelahan panas, mekanisme pengatur suhu bekerja berlebihan
tetapi masih berfungsi, sedangkan pada heat stroke ini mekanisme pengatur suhu
tidak berfungsi disertai dengan terhambatnya proses evaporasi secara total.
Tekanan panas yang berlebihan merupakan beban tambahan yang harus
diperhatikan dan diperhiungkan. Beban tambahan berupa paparan panas dapat
menyebabkan beban fisiologis seperti kerja jantung menjadi bertambah.
Tekanan panas yang berlebih juga dapat mengakibatkan perubahan
fungsional pada organ yang bersesuaian pada tubuh manusia serta dapat rasa letih

17

dan kantuk, mengurangi kestabilan dan meningkatkatnya jumlah angka kesalahan


kerja sehingga dapat menurunkan efisiensi kerja.15
Penatalaksanaan

Analgetik : untuk menghilangkan nyeri saat BAK, seperti asam mefenamat dan

asetaminofen.
Secara sederhana prinsip penatalaksanaan dehidrasi adalah mengganti cairan
yang

hilang

dan

mengembalikan

keseimbangan

elektrolit,

sehingga

keseimbangan hemodinamik kembali tercapai. Dehidrasi derajat ringan-sedang


dapat diatasi dengan efektif melalui pemberian cairan ORS (oral rehydration
solution) untuk mengembalikan volume intravaskuler dan mengoreksi asidosis.
Selama terjadi gastroenteritis, mukosa usus tetap mempertahankan kemampuan
absorbsinya. Kandungan natrium dan sodium dalam proporsi tepat dapat secara
pasif dihantarkan melalui cairan dari lumen usus ke dalam sirkulasi. Jenis ORS
yang diterima sebagai cairan rehidrasi adalah dengan kandungan glukosa 2-3
g/dL, natrium 45-90 mEq/L, basa 30 mEq/L, kalium 20-25 mEq/L, dan
osmolalitas 200-310 mOsm/L. Banyak cairan tidak cocok digunakan sebagai
cairan pengganti, misalnya jus apel, susu, air jahe, dan air kaldu ayam karena
mengandung glukosa terlalu tinggi dan atau rendah natrium. Defisit cairan
harus segera dikoreksi dalam 4 jam dan ORS harus diberikan dalam jumlah
sedikit tetapi sering,untuk meminimalkan distensi lambung dan refleks
muntah.16
Pencegahan dan Pengendalian Panas.
Pencegahan Panas.
Pencegahan terhadap gangguan panas meliputi: air minum, garam, makanan,
istirahat, tidur dan pakaian.
a. Air minum
Merupakan unsur pendingin tubuh yang pentingdalam lingkungan panas.
Air diperlukan untuk mencegah terjadinya dehidrasi akibat berkeringat dan
pengeluaran urin.
b. Garam (NaCl)
Pada pengeluaran keringat yang banyak, perlu menambah pemberian
garam, akan tetapi tidak boleh berlebihan karena dapat menimbulkan haus dan
mual.

18

c. Makanan
Sesudah makan, sebagian besar darah mengalir ke daerah usus untuk
menyerap hasil pencernaan.
d. Istirahat
Cara ini bermanfaat untuk menghindari terjadinya efek kelehan komulatif.
e. Tidur
Menghindari efek kelelahan setelah aktivitas fisik yang berat yang
dilakukan pada lingkungan kerja yang panas, tubuh memerlukan istirahat yang
cukup dan tidur sekitar 7 jam sehari.
f. Pakaian
Pakaian melindungi permukaan tubuh terhadap radiasi sinar matahari dan
sebagai penghambat terjadinya konveksi antara kulit dengan aliran udara. Untuk
mendapatkan efek yang menguntungkan, baju yang dipakai harus cukup longgar
terutama bagian leher, ujung lengan dan ujung celana.
Pengendalian Panas
Pengendalian terhadap tekanan panas meliputi ssebagai berikut:
a. Isolasi terhadap sumber panas
Isolasi terhadap benda yang panas akan mencegah keluarnya panas ke
lingkungan. Ini dapat dilakukan misalnya dengan membalut pipa yang panas,
menutupi tangki yang berisi cairan panas sehingga mengurangi aliran panas yang
timbul. Cara ini meruapakan cara yang praktis dalam membatasi pemaparan
seseorang terhadap panas dan merupakan cara pengendalian yang dianjurkan bila
tempat kerja terdapat sumber panas yang sangat tinggi.
b. Tirai radiasi
Tirai radiasi terbuat dari lempengan alumunium, baja anti karat atau dari
bahan metal yang permukannya mengkilap.
c. Ventilasi setempat
Ventilasi ini bertujuan untuk mengendalikan panas konveksi yaitu dengan
menghisap udara panas.
d. Pendinginan local
Pendinginan lokal dilakukan dengan cara mengalirkan udara sejuk ke
sekitar pekerja dengan tujuan menggantikan udara yang panas dengan udara yang
sejuk dan dialirkan dengan kecepatan tinggi.
e. Ventilasi umum

19

Cara ini paling sering digunakan untuk

mengendalikan suhu dan

kelembaban udara yang tinggi tetapi tidak dapat digunakan untuk mengurangi
paparan panas karena radiasi yang tinggi.
f. Pengaturan lama kerja
Pengaturan lama bekerja digunakan untuk menghindari terjadinya
gangguan kesegatan akibat terpapar suhu udara yang tinggi, lamanya kerja dan
istirahat harus disesuaikan dengan tingkat tekaan panas yang dihadapi oleh
pekerja.
Pengaturan waktu kerja
Waktu kerja
Kerja terus menerus

Waktu istirahat

(8jam/hari)
75%
25%
50%
50%
25%
75%
Sumber: Kepmenaker 51/1999 pasal 2

ISBB0C
Beban Kerja
ringan
Sedang

Berat

30,0

26,7

25,0

30,6
31,4
32,2

28,0
29,4
31,1

25,9
27,9
30,0

Tata Cara Pengajuan Klaim PAK /Kecelakaan Kerja :9


1. Pengusaha wajib mengisi & mengirim laporan tahap pertama tidak lebih dari
2x24 jam sejak menerima diagnosis dari dokter yang merawat yang menyatakan
bahwa tenaga kerja menderita PAK (kecelakaan) dengan mengisi bentuk KK2
formulir Jamsostek 3
2. Pengusaha wajib mengirim laporan tahap II (kedua) dalam jangka waktu tidak
lebih dari 2x24 jam sejak menerima surat keterangan dokter yg menerangkan
bahwa STMB (Sementara Tidak Mampu Bekerja) telah berakhir, cacat total untuk
selamanya dan meninggal dunia dg mengisi bentuk KK3 formulir Jamsostek 3a

Formulir 3 b kecelakaan
Formulir 3 c penyakit akibat kerja

3. Laporan tahap kedua ini berfungsi sebagai pengajuan pembayaran jaminan


(klaim) penyakit akibat kerja dengan melampirkan bukti : foto kopi kartu peserta,
surat keterangan dokter (bentuk KK4 formulir Jamsostek 3c), kuitansi biaya
pengangkutan dan pengobatan, dokumen lain yg diperlukan. Apabila data

20

lengkap, PT. Jamsostek menetapkan pembayaran kepada peserta paling lama 1


bulan sejak dipenuhi persyaratan teknis dan administrasi
4. Apabila terjadi perbedaan pendapat mengenai penyakit akibat kerja dan
besarnya prosentase cacat, maka pihak yg tidak menerima penetapan Badan
Penyelenggara

dapat

meminta

penetapan

kepada

pegawai

pengawas

ketenagakerjaan setempat
5. Pegawai pengawas ketenagakerjaan meminta pertimbangan medis kepada
dokter penasehat tingkat propinsi dan berdasarkan pertimbangan medis tersebut,
pegawai pengawas ketenagakerjaan membuat penetapan dan memerintahkan
perusahaan atau badan penyelenggara melaksanakan penetapan tersebut
6. Apabila penetapan pegawai pengawas ketenagakerjaan tdak diterima salah satu
pihak maka pihak yg tidak menerima dapat meminta Penetapan Menteri dan
Menteri dapat meminta pertimbangan medis kepada dokter Penasehat Pusat
7. Berdasarkan pertimbangan medis dari dokter penasehat, Menteri
menetapkan

dan

memerintahkan

perusahaan

atau

badan

penyelenggara

melaksanakan penetapan tersebut.


Kesimpulan
Bapak usia 45 tahun tersebut mengalami dehidrasi ringan. Sebelumnya
keluhan BAK nya sudah membaik , tetapi timbul lagi. Salah satu faktor
penyebabnya adalah terjadinya peningkatan produksi pada pabriknya.

Pabrik

tempatnya bekerja bersuhu tinggi dan asupan cairan yang dikonsumsi tidak
memadai sehingga menyebabkan timbulnya lagi keluhan nyeri BAK nya.
Berdasarkan patofisiologi sudah jelas dikatakan bahwa dehidrasi menimbulkan
hipersaturasi pada urin, sehingga keluhan yang dialaminya berkaitan dengan
pekerjaan, terutama lingkungan pekerjaannya. Oleh sebab itu, diagnosis
okupasinya ialah penyakit yang diperberat oleh pekerjaan. Pasien disarankan
untuk minum air putih yang cukup minimal 8 gelas atau 2 liter per hari dan
sebaiknya mengonsumsi air minum sebanyak 1 gelas setiap 20-30 menit. agar
terhindar dari efek buruk iklim kerja panas dan juga bagi pekerja di sarankan

21

membawa persediaan air minum sehingga dapat diminum sewaktu-waktu saat


kerja.

Daftar Pustaka:
1. Fauziah, Agussalim Nur. 2013. Hubungan Suhu Lingkungan Kerja (Heat
Stress) dengan Faktor-Faktor Terbentuknya Kristal Asam Urat Urin pada
Pekerja Pabrik PT. Maruki Internasional Indonesia [Skripsi]. Makassar:
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah.
2. Canadian Centre of Occupational Health and Safety. Hot EnvironmentHealth Effect, Ontario. September 21th. Diakses : 14 Oktober 2015.
3. UKK-Gastroenterologi-Hepatologi IDAI . Buku ajar gastroenterologihepatologi. Ed ke-3. Jakarta : Badan penerbit IDAI;2012.h.87-116,125.
4.

Abidin Z., Suharyo W. 2009. Studi Literatur tentang Lingkungan Kerja


Fisik Perkantoran. Makalah pada Seminar Nasional V SDM Teknologi
Nuklir. 5 November. Yogyakarta ISSN 1978-0176.

5. Borghi L, et al. Urine Volume : Stone Risk and Preventive Measure,


Journal Nephron, 81 (suppl 1), 31-37, 1999, diakses : 14 Oktober 2015
6. Worcester, Elaine M, Coe, Frederick L. Nephrolithiasis. Dalam : Lerma
EV, Berns JS, Nisenson AR. Current Diagnosis & Treatment Nephrology

22

& Hypertension. Edisi internasional. USA : The Mcgraw-Hills Companies,


2009; p 833-6
7. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Tranmigrasi Republik Indonesia
Nomor 609 tahun 2012 Tentang Pedoman Penyelesaian Kasus Kecelakaan
Kerja dan Penyakit Akibat Kerja, 2012. Jakarta : Menteri Tenaga Kerja
dan Transmigrasi Republik Indonesia
8. Presiden Republik Indonesia. Keputusan Presiden No. 22 Tahun 1993
Tentang : Penyakit Yang Timbul Karena Hubungan Kerja, Jakarta :
Presiden Republik Indonesia.
9. Peraturan Menteri Tenaga

Kerja

dan

Transmigrasi

Nomor

PER.13/MEN/X/2011 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan


Faktor Kimia di Tempat Kerja. 2011. Jakarta: Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Republik Indonesia
10. Siswantara P dan Ika SP. 2006. Perbedaan Efek Fisiologis pada Pekerja
Sebelum dan Sesudah Bekerja di Lingkungan Kerja Panas. Jurnal
Kesehatan Lingkungan. Vol.2 No.2. Januari 2006:163-172
11. Pranata, Andi Eka. 2013. Manajemen Cairan dan Elektrolit. Yogyakarta :
Haikhi
12. Indra M.,Furqaan N.,Andi W. 2014. Determinan Keluhan Akibat Tekanan
Panas pada Pekerja Bagian Dapur Rumah Sakit di Kota Makassar.
Alamat http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/10692. di akses
tanggal 14 oktober 2015.
13. Soemarko, Dewi S. 2002. Pengaruh Lingkungan Kerja Panas terhadap
Kristalisasi Asam Urat Urin pada Pekerja di Binatu, Dapur Utama dan
Restoran Hotel X, Jakarta. Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta: MedRep
Grup PT. Kalbe Farma
14. Modric J. Dehydration types: Pathophysiology, lab test and values.
eHealthstar

[Internet].

2013

July

31.

Available

from:

http://www.ehealthstar.com/dehydration/types-pathophysiology.
15. Atmaja AK. 2012. Hubungan Antara Iklim Kerja Panas dengan Tingkat
Dehidrasi pada Tenaga Kerja di Unit Kantin PT. Indo Acidatama, Tbk,
Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar.[Skripsi Ilmiah]. Surakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret.

23

16. Huang LH, Anchala KR, Ellsbury DL, George CS. Dehydration [Internet].
2014

Sept

25.

Available

.com/article/906999

24

from:

http://emedicine.medscape