Anda di halaman 1dari 5

BERDIRINYA SUATU NEGARA

A. Pengertian Negara
Negara adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang kekuasaannya baik
politik, militer, ekonomi, sosial maupun budayanya diatur oleh pemerintahan yang
berada di wilayah tersebut. Negara juga merupakan suatu wilayah yang memiliki
suatu sistem atau aturan yang berlaku bagi semua individu di wilayah tersebut, dan
berdiri secara independent.
B. Teori terbentuknya Negara
a) Teori hukum alam. Pemikiran pada masa plato dan aristoteles kondisi alam
tumbuhnya manusia berkembangnya
b) Teori ketuhanan (islam + Kristen) segala sesuatu adalah ciptaan tuhan.
c) Teori perjanjian. Manusia menghadapi kondisi alam dan timbullah kekerasan.
Manusia akan musnah bila ia tidak mengubah cara-caranya. Manusia pun bersatu
utk mengatasi tantangan dan menggunakan persatuan dlm gerak tunggal utk
kebutuhan bersama. Proses terbentuknya Negara di zaman modern. Proses
tersebut dapat berupa penaklukan, peleburan, pemisahan diri, dan pendudukan
atas Negara atau wilayah yg blm ada pemerintahan sebelumnya.
C. Unsur-Unsur Negara
Sebagai sebuah organisasi, negara memiliki unsur-unsur yang tidak dimiliki
oleh organisasi apapun yang ada di dalam masyarakat. Secara umum, unsur negara
ada yang bersifat konstitutif dan ada pula yang bersifat deklaratif. Unsur konstitutif
maksudnya unsur yang mutlak atau harus ada di dalam suatu negara. Sedangkan
unsur deklaratif hanya menerangkan adanya negara.
Adapun unsur-unsur negara yang bersifat konstitutif adalah harus ada rakyat,
wilayah tertentu, dan pemertintahan yang berdaulat. Ketiga unsur tersebut bersifat
konstitutif karena merupakan syarat mutlak bagi terbentuknya negara. Apabila salah
satu unsur tersebut tidak ada atau tidak lengkap, maka tidak bisa disebut sebagai
negara.

Di samping itu, terdapat pula unsur deklaratif, yakni harus ada pengakuan dari
negara lain. Unsur deklaratif ini sangatlah penting karena pengakuan dari negara lain
merupakan sebagai wujud kepercayaan negara lain untuk mengadakan hubungan,
baik hubungan bilateral maupun multilateral.
1.

Rakyat
Rakyat adalah semua orang yang menjadi penghuni suatu negara. Tanpa

rakyat, mustahil negara akan terbentuk. Leacock mengatakan bahwa, Negara tidak
akan berdiri tanpa adanya sekelompok orang yang mendiami bumi ini.. Hal ini
menimbulkan pertanyaan, berapakah jumlah penduduk untuk membentuk sebuah
negara? Plato mengatakan bahwa untuk membentuk sebuah negara, wilayah tersebut
membutuhkan 5040 penduduk. Pendapat ini tentu saja tidak berlaku di zaman modern
ini, lihat saja populasi negara India, Amerika Serikat, Cina, Rusia, dimana negara
tersebut memiliki ratusan juta penduduk. Rakyat terdiri dari penduduk dan bukan
penduduk. Penduduk adalah semua orang yang bertujuan menetap dalam wilayah
suatu negara tertentu. Mereka yang ada dalam wilayah suatu negara tetapi tidak
bertujuan menetap, tidak dapat disebut penduduk. Misalnya, orang yang berkunjung
untuk wisata. Penduduk suatu negara dapat dibedakan menjadi warga negara dan
bukan warga negara. Warga negara adalah mereka yang menurut hukum menjadi
warga dari suatu negara, sedangkan yang tidak termasuk warga negara adalah orang
asing atau disebut juga warna negara asing (WNA).
2.

Wilayah
Wilayah merupakan unsur kedua, karena dengan adanya wilayah yang didiami

oleh manusia, maka negara akan terbentuk. Jika wilayah tersebut tidak ditempati
secara permanen oleh manusia, maka mustahil untuk membentuk suatu negara.
Bangsa Yahudi misalnya, dimana mereka tidak mendiami suatu tempat secara
permanen. Alhasil mereka tidak memiliki tanah yang jelas untuk didiami, tapi dengan
kepintaran PBB, diberikanlah Israel sebagai negara bagian agar mereka merasa
memiliki tanah.
Wilayah adalah batas wilayah di mana kekuasaan negara itu berlaku. Wilayah
suatu negara meliputi sebagai berikut:

a) Wilayah daratan, yakni meliputi seluruh wilayah aratan dengan batas-batas


tertentu dengan negara lain.
b) Wilayah lautan, yakni meliputi seluruh perairan wilayah laut dengan batas-batas
yang ditentukan menurut hukum internasional.
Batas-natas wilayah laut adalah sebagai berikut:
i. Batas laut teritorial, ialah garis khayal yang berjarak 12 mil laut dari garis dasar
ke arah laut lepas. Jika ada dua negara atau lebih menguasai suatu lautan,
sedangkan lebar lautan itu kurang dari 24 mil laut, maka garis teritorial di tarik
sama jauh dari garis masing-masing negara tersebut. Laut yang terletak antara
garis dengan garis batas teritorial disebut laut teritorial. Laut yang terletak di
sebelah dalam garis dasar disebut laut internal.
ii. Batas zona bersebelahan, ditentukan sejauh 12 mil laut di luar batas laut
teritorial, atau 24 mil laut jika diukur dari garis lurus yang ditarik dari pantai
titik terluar.
iii. Batas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) adalah laut yang diukur dari garis lurus
yang ditarik dari pantai titik terluar sejauh 200 mil laut. Di dalam wilayah ini,
negara yang bersangkutan memiliki hak untuk mengelola dan memanfaatkan
kekayaan yang ada di dalamnya. Namun, wilayah ini bebas untuk dilayari oleh
kapal-kapal asing yang sekedar lewat saja.
iv. Batas landas benua adalah wilayah lautan suatu negara yang batasnya lebih dari
200 mil laut. Jika ada dua negara atau lebih menguasai lautan di atas landasan
kontinen, maka batas negara tersebut ditarik sama jauh dari garis dasar masingmasing negara. Dalam wilayah laut ini negara yang bersangkutan dapat
mengelola dan memanfaatkan wilayah laut tetapi wajib membagi keuntungan
dengan masyarakat internasional.
c. Wilayah udara atau dirgantara, yakni meliputi wilayah di atas daratan dan
lautan negara yang bersangkutan.
3. Pemerintahan yang Berdaulat
Pemerintahan yang berdaulat adalah pemerintah yang mempunyai kekuasaan
baik ke dalam maupun ke luar untuk menjalankan tugas dan wewenangnya mengatur

ekonomi, sosial, dan politik suatu negara atau bagian-bagiannya sesuai dengan sistem
yang telah ditetapkan.
Pemerintah sangat diperlukan dalam berdirinya suatu negara, tidak mungkin
jika negara muncul tanpa kemudian diikuti oleh berdirinya pemerintah.
4.

Pengakuan dari Negara Lain


Pengakuan dari negara lain terhadap suatu negara yang baru berdiri bukanlah

merupakan suatu faktor mutlak atau unsur pembentuk negara baru, namun lebih
merupakan menerangkan atau menyatakan telah lahirnya suatu negara baru. Kita
ambil contoh, Negara Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 baru diakui
oleh Belanda pada tahun 27 Desember 1949.
Pengakuan dari negara lain merupakan modal dasar bagi suatu negara yang
bersangkutan untuk diakui sebagai negara yang merdeka dan mandiri. Pengakuan
suatu negara dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pengakuan secara de facto
dan pengakuan secara de jure.
a.

Pengakuan Secara de Facto


Pengakuan secara defacto adalah pengakuan tentang kenyataan adanya suatu

negara yang dapat mengadakan hubungan dengan negara lain yang mengakuinya.
Pengakuan de facto diberikan kalau suatu negara baru sudah memenuhi unsur
konstitutif. Pengakuan de facto menurut sifatnya dapat dibagi menjadi dua, yatiu:

Pengakuan de facto yang bersifat tetap. Artinya, pengakuan dari negara lain
terhadap suatu negara hanya menimbulkan hubungan di lapangan perdagangan

dan ekonomi (konsul). Sedangkan untuk tingkat duta belum dapat dilaksanakan.
Pengakuan de facto bersifat sementara. Artinya, pengakuan yang diberikan oleh
negara lain dengan tidak melihat jauh pada hari ke depan, apakah negara itu akan
mati atau akan jalan terus. Apabila negara baru tersebut jatuh atau hancur, maka
negara lain akan menarik kembali pengakuannya.

b.

Pengakuan Secara de Jure

Pengakuan secara de jure adalah pengakuan secara resmi berdasarkan hukum


oleh negara lain dengan segala konsekuensinya. Menurut sifatnya, pengakuan secara
de jure dapat dibedakan sebagai berikut:

Pengakuan de jure bersifat tetap. Artinya, pengakuan dari negara lain berlaku
untuk selama-lamanya setelah melihat kenyataan bahwa negara baru dalam

beberapa waktu lamanya menunjukkan pemerintahan yang stabil.


Pengakuan de jure bersifat penuh. Artinya terjadi hubungan antara negara yang
mengakui dan diakui, yang meliputi hubungan dagang, ekonomi dan diplomatik.
Dalam kenyataannya, setiap negara mempunyai pandangan yang berbeda

mengenai pengakuan de facto dan de jure. Misalnya, negara Indonesia tetap


memandang pengakuan dari negara lain hanya merupakan unsur deklaratif. Oleh
sebab itu, meskipun Negara Republik Indonesia belum ada yang mengakui pada saat
lahirnya, Indonesia tetap berdiri sebagai negara baru dengan hak dan martabat yang
sama dengan negara lain. Negara Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945
dan baru diakui oleh negara lain beberapa tahun kemudian (Mesir tahun 1947,
Belanda tahun 1949, PBB tahun 1950).