Anda di halaman 1dari 23

Eirene Megahwati Paembonan

102012082
TUGAS BLOK 29
1. GLAUKOMA AKUT
Glaukoma akut merupakan presentasi klinis dari glaukoma sudut tertutup. Kondisi ini
merupakan keadaan gawat darurat.
Etiologi
Glaukoma sudut tertutup akut ditandai dengan tekanan intraokular (TIO) yang
meningkat secara mendadak, dan terjadi pada usia lebih dari 40 tahun dengan sudut bilik mata
sempit. Cairan mata (aqueous humor) yang berada di belakang iris tidak dapat mengalir
melalui pupil sehingga mendorong iris ke depan, mencegah keluarnya cairan mata melalui
sudut bilik mata (mekanisme blokade pupil).
Klasifikasi
Secara umum glaukoma sudut tertutup dapat dibagi menjadi:
Tersangka sudut tertutup: pada pemeriksaan gonioskopi terlihat kontak iridotrabekular
pada 3 kuadran atau lebih. Tekanan intraokular, lapang pandang, dan diskus optik
normal.
Sudut tertutup primer: pada pemeriksaan gonioskopi terlihat kontak iridotrabekular pada
3 kuadran atau lebih dengan peningkatan TIO dan/ sinekia posterior-anterior, diskus
optik dan lapang pandang normal.
Glaukoma sudut tertutup primer: pada pemeriksaan gonioskopi terlihat kontak
iridotrabekular pada 3 kuadran atau lebih, peningkatan TIO dengan neuropati optik dan
gangguan lapang pandang.
Pemeriksaan Mata
Pemeriksaan fisik mata lengkap
Pemeriksaan segmen anterior
o Palpebra: baik posisi, kulit, bulu mata, lacrimal/eversi punctum.
o Konjungtiva: tarsal dan bulbi.
o Kornea (jernih, edem, sikatriks, foreign body)
o Pupil: ukuran, bentuk, erosi, laserasi,arcus senilis(isokor)
o Refleks cahaya: langsung dan tidak langsung.
o Camera oculi anterior: dangkal atau dalam.
o Lensa: shadow test

Pemeriksaan visus
Pemeriksaan visus jarak jauh: meminta pasien duduk pada jarak 5 atau 6 meter
dari Snellen chart, lalu meminta pasien untuk menutup sebelah mata dengan telapak
tangan, pemeriksaan dimulai dari sebelah kanan, meminta pasien untuk melihat ke
depan tanpa melirik, meminta pasien menyebutkan angka/huruf/symbol yang ditunjuk
dari yang besar sampai yang terkecil, menyebutkan hasil pemeriksaan: normal (6/6
atau 20/20), bila visus pasien tidak normal maka dilakukan pinhole untuk melihat

adanya perbaikan visus (kelainan pada media refraksi atau tidak (kelainan organik)),
menyebutkan hasil pemeriksaan dengan pinhole.
Pemeriksaan visus jarak jauh buruk. Pasien tidak dapat melihat Snellen chart
(visus 6/60) atau tidak dapat melihat huruf terbesar diSnellen chart, maka minta pasien
untuk duduk pada jarak 5 atau 6 meter dari Snellen chart, kemudian meminta pasien
untuk menutup sebelah mata dengan telapak tangan, pemeriksaan dimulai dari mata
kanan, minta pasien untuk melihat ke depan tanpa melihat.
o Finger counting test: meminta pasien menyebutkan jari yang ditunjuk pemeriksa
dengan latar belakang putih (kertas, baju) dengan jarak 1 meter kemudian mundur 25 meter. Catat hasil pemeriksaan 1/60-5/60)
o Hand movement test: jika pasien tidak dapat melihat finger counting pada jarak 1
meter, periksalah hand movement dengan melambaikan tangan ke kiri ke kanan atau
ke atas ke bawah dengan jarak 1 meter. Catat hasil pemeriksaan (visus 1/300).
o Light projection test: apabila tidak dapat melihat lambaian tangan, periksalah dengan
memberikan sinar lampu (senter/penlight) dari superior, inferior, nasal dan temporal.
Pasien diminta untuk menyebutkan arah sinar tersebut. Hasil pemeriksaan visus 1/~.
Biasanya pada glaukoma akut: didapatkan penurunan tajam penglihatan mendadak (biasanya
visus <6/60).

Pemeriksaan segmen posterior (funduskopi)


Pemeriksaan dilakukan di ruangan gelap, aturlah oftalmoskop sehingga ada
dalam posisi normal angka 0, sesuaikan ukuran lensa oftalmoskop kurang lebih sama
dengan keadaan refraksi pasien (kalau diketahui), peganglah oftalmoskop dengan cara
menggenggam bagian pegangannya, sedangkan jari telunjuk berada panel pengatur
ukuran lensa, pemeriksaan memegang oftalmoskop dengan tangan kanan, dan melihat
melalui oftalmoskop dengan mata kanan demikian sebaliknya, pasien duduk tenang,
pandangan difiksasi pada 1 titik jauh, tempatkan oftalmoskop mulai jarak 15-30 cm di
depan mata penderita. Cahaya oftalmoskop diarahkan ke dalam pupil pasien sambil
pemeriksa terus mendekat ke arah pasien.
Penilaian pada refleks fundus: positif kanan dan kiri (biasanya dimulai selalu
dari mata kanan, kecuali bila di mata kanan tidak ditemukan refleks funduskopi.
Apabila ditemukan salah satu refleks lebih buruk, maka pemeriksaan funduskopi
dimulai dari mata yang refleks fundusnya lebih baik.
Nilai vitreus (jernih/tidak), papil (warna, bentuk, batas jelas/tidak), C/D ratio,
ratio arteri dengan vena, macula lutea, retina (eksudat, perdarahan, ablation). Laporkan
hasil pemeriksaan, dan ulangi pada mata kontralateral.

Pemeriksaan gerak bola mata


Pemeriksa berdiri 33 cm di depan pasien, cek pergerakan bola mata ke 8 arah,
laporkan hasilnya dan ditulis dalam bagan seperti mata angin.

Pemeriksaan tekanan bola mata


Pemeriksaan tekanan bola mata dilakukan dengan alat yang dinamakan
tonometer. Pemeriksaan tekanan yang dilakukan dengan tonometer pada bola mata
dinamakan tonometri. Tonometri Schiotz merupakan alat yang praktis sederhana.
Pengukuran tekanan bola mata dinilai secara tidak langsung yaitu dengan teknik
melihat daya tekan alat pada kornea karena itu dinamakan juga tonometri indentasi
Schiotz. Dengan tonometri Schiotz dilakukan indentasi (penekanan) terhadap
permukaan kornea. Bila suatu beban tertentu memberikan kecekungan pada kornea

maka akan terlihat perubahan pada skala Schiotz. Makin rendah tekanan bola mata
makin mudah bola mata ditekan, yang pada skala akan terlihat angka skala yang lebih
besar. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Angka skala yang ditunjuk dapat dilihat
nilainya di dalam tabel untuk mengetahui keasaman tekanan dalam mmHg,
Transformasi pembacaan skala tonometer ke dalam tabel akan menunjukkan tekanan
bola mata dalam mmHg. Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien ditidurkan dengan
posisi horizontal dan mata ditetesi dengan obat anestesi topical atau pantokain 0,5%.
Tonometer Schiotz kemudian diletakkan di atas permukaan kornea, sedang mata yang
lainnya berfiksasi pada satu titik di langit-langit kamar periksa.
Selain itu juga dapat dilakukan dengan tonometri digital. Tonometri digital
dilakukan dengan pasien diminta menutup mata dan melihat ke bawah. Pemeriksa
meraba rasakan/palpasi bagian sklera atas dengan benar, pemeriksa
membandingkannya dengan penekanan skleranya sendiri. Peningkatan TIO, terkadang
50 mmHg.

Pemeriksaan gonioskopi: mata kontralateral menunjukkan sudut bilik mata depan


dangkal.

Terdapat faktor pencetus: menonton televisi di ruang gelap, membaca, midriatikum, stress
emosional, dan terkadang obat sistemik agonis parasimpatik atau simpatik dan topiramat.
Jika pasien berusia >/=40 tahun sebaiknya juga diperiksa visus jarak dekat dengan meminta
pasien untuk menutup sebelah mata dengan telapak tangan. Pemeriksaan dimulai dari mata
kanan, pasien diminta untuk membaca tulisan pada Jaeger Chart dengan jarak 33 cm,
pemeriksa menilai hasil pembacaan pasien.
Diagnosis Banding
Iritis akut: mengakibatkan fotofobia yang lebih nyata, tanpa peningkatan TIO, disertai
kornea yang tidak edem.
Konjungtivitis akut: nyeri tidak ada atau minimal, terjadi bilateral, terdapat sekret, dari
mata dan konjungtiva yang meradang. TIO normal, refleks pupil normal, dan kornea
jernih.
Tata laksana
Tata laksana awal:
Pasien diposisikan pada posisi supinasi untuk membiarkan lensa tertarik oleh gravitasi
menuju posterior.
Berikan asetazolamid 500 mg IV apabila TIO 50 mmHg atau oral (bukan kerja
lambat) apabila TIO < 50 mmHg. Apabila diberikan IV, dapat ditambahkan dosis oral
500 mg.
Alternarif obat hiperosmolar lain: mannitol 20 % 1-2 g/kgBB, gliserol oral 50% 1-1,5
g/kgBB (kontraindikasi: Diabetes Mellitus), atau isosorbid oral 1,5-2,5 g/kgBB.
Berikan apraclonidine 1%, timolol 0,5%, prednisolon 1%, deksametason 0,1% pada
mata yang mengalami serangan.
Pilokarpin 2-4% satu tetes diberikan pada mata yang mengalami srangan, diulangi
setelah setengah jam dan satu tetes pilokarpin 1% sebagai profilaksis pada mata
kontralateral.
Analgetik dan antiemetik

Tata laksana lanjutan


Pilokarpin 2% 4 kali/hari pada mata yang mengalami serangan dan 1% 4 kali/hari pada
mata kontralateral.
Steroid topikal (prednisolone 1% atau deksametason 0,1%) 4 kali/hari apabila mata
mengalami peradangan akut.
Timolol 0,5% 2 kali/hari, apraclonidine 1% 3 kali/hari, dan/atau asetazolamid 250 mg 4
kali/hari mungkin dibutuhkan sesuai respons terapi.
Setelah terapi berhasil, kornea jernih kembali, bilik mata depan tenang, dan TIO normal,
iridotomi bilateral dapat dikerjakan oleh dokter spesialis mata. Manajemen selanjutnya
termasuk observasi, terapi untuk peningkatan TIO yang dapat dipertahankan, iridoplasti atau
pilokarpin jangka panjang dosis rentah. Pertimbangkan operasi katarak dan trabekulektomi.
2. ULKUS KORNEA
Ulkus kornea didefinisikan sebagai diskontinuitas jaringan kornea akibat terjadinya defek
epitel.
Klasifikasi
Berdasarkan lokasinya, ulkus kornea dapat dibagi menjadi:
Sentral
Ulkus kornea sentral hampir selalu diakibatkan oleh infeksi. Lokasi lesi terletak di
sentral, jauh dari limbus yang kaya akan pembuluh darah. Sikatriks yang terbentuk
akibat ulkus kornea merupakan salah satu penyebab utama kebutaan dan penurunan
penglihatan di berbagai belahan dunia.
Marginal
Etiologi
Ulkus kornea dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus atau jamur.
Riwayat klinis
Mata merah berair, dan nyeri hebat
Sensasi benda asing
Terdapat sekret
Kelopak mata bengkak
Nyeri apabila melihat cahaya terang
Terdapat infiltrate tergantung dari kedalaman lesi dan etiologi keratitis
Gejala spesifik dapat menunjukkan etiologi dari agen spesifik
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik mata, dan pemeriksaan
penunjang. Pemeriksaan fisik mata dan pemeriksaan penunjang yang dapat membantu
diagnosis adalah:
Pemeriksaan tajam penglihatan dengan menggunakan snellen chart dan pinhole. Bisa
menurun sesuai dengan lokasi ulkus dan perjalanan penyakit.
Pemeriksaan TIO dengan tonometri non kontak atau dengan palpasi. Tonometri kontak
merupakan kontraindikasi pada keadaan ini.
Pemeriksaan slit lamp untuk melihat adanya hipopion, infiltrat, dan segmen anterior.
Pemeriksaan sensibilitas kornea, fluorosens, dan tes fistula
Penilaian tingkat keparahan ulkus; apakah sudah melewati 1/3 stroma anterior, nilai
tanda-tanda endoftalmitis, nilai kemungkinan kejadian perforasi.

Pemeriksaan oftalmoskop untuk menilai bagian posterior mata.


Pemeriksaan gram, mikroskopis langsung dengan bantuan KOH 10%, dan biakan
dengan specimen kerokan kornea.

Diagnosis Banding
Streptococcus pneumonia

Bakteri

Jamur

Virus

Ulkus berwarna kelabu,


berbatas
tegas,
dan
menyebar menuju sentral.
Ulkus pada lesi awal
memberikan
gambaran
sembuh sementara batas
yang lain menunjukkan lesi
aktif. Sering ditemukan
hipopion.
Pseudomonas aeruginosa
Lesi awal berwarna kelabu
atau kekuningan, disertai
nyeri hebat. Lesi menyebar
ke segala arah. Lesi tumbuh
cepat
karena
enzim
proteolitik patogen, dan
dapat
mengakibatkan
perforasi kornea serta infeksi
intaokular berat. Eksudat
berwarna hijau kebiruan.
Staphylococcus aureus, Staphylococcus Seringkali ditemukan pada
epidermidis, dan Streptococcus alfa- mata dengan terapi steroid
hemolitik
topikal.
Ulkus
bersifat
superfisial.
Ulkus
indolen
dengan
infiltrat kelabu dan batas
ireguler, memiliki lesi satelit,
ulserasi superfisial, dan
peradangan bola mata yang
nyata.
Herpes Simpleks
Seringkali unilateral, diawali
dengan iritasi, fotofobia, dan
mata berair, Terkadang tidak
terasa
nyeri.
Ulkus
membentuk lesi dendritic
meluas dengan batas yang
seperti bulu disertai sensasi
kornea yang menurun. Ulkus
perifer dapat ditemui di
kornea.
Varicella zoster
Lesi
amorfik
dengan

Acanthamoeba

pseudodendrit
linear,
opasitas stroma dan infiltrasi
selular ringan. Penyakit
stroma dapat mengakibatkan
nekrosis dan vaskularisasi.
Gejala awalnya adalah nyeri
di luar proporsi dari temuan
klinis, mata merah, dan
fotofobia. Ciri khasnya
adalah ulkus indolen, cincin
stroma,
dan
infiltrat
perineural.

Endoftalmitis
Endoftalmitis merupakan peradangan berat dalam bola mata, akibat infeksi setelah
tauma atau bedah, atau endogen akibat sepsis.2 Berbentuk peradangan supuratif intraokular
yang melibatkan segmen anterior dan posterior mata. Sering dihubungkan dengan infeksi
bakteri atau jamur.
Enndoftalmitis adalah penurunan tajam penglihatan, mata merah, floaters, fotofobia,
dan nyeri. Endoftalmitis karena jamur: biasanya masa inkubasi lambat kadang-kadang sampai
14 hari setelah infeksi dengan gejala mata merah dan sakit.
Peradangan yang disebabkan oleh bakteri akan memberikan gambaran klinis rasa sakit
yang sangat, kelopak merah, dan bengkak, kelopak sukar dibuka, konjungtiva hemolitik dan
merah, kornea keruh, bilik mata depan keruh, kadang-kadang disertai hipopion.
Pada kasus pasca operasi, problem yang serius adalah kehilangan penglihatan yang
permanen.Gejala biasanya tidak terlalu menonjol, tergantung dari kapan terjadinya infeksi,
dini (6minggu atau kurang) atau lanjut (bulan atau tahunan) setelah operasi. Gejala pada
stadium dini adalah penurunan penglihatan yang dramatis padamata yang terlibat, sakit pada
mata setelah operasi, mata merah danpembengkakan kelopak.Gejala pada stadium lanjut
biasnya lebih berat pada stadium dini. Seperti:penglihatan buram, penurunan sensitivitas
terhadap cahaya (fotofobia) dan sakityang berat pada mata.
Gejala pada endophthalmitis yang disebabkan trauma tembus biasanya lebih
berattermasuk penurunan visus yang cepat, sakit mata yang lebih hebat, mata merah
danpembengkakan kelopak.
Pada saat infeksi menyebar melalui aliran darah dan masuk ke dalam mata, gejalanyaakan
timbulperlahan-lahan/ bertahap dan lebih ringan. Sebagai contoh, pasien mungkintidak akan
mengeluhpenglihatannya turun setelah 5 minggu, biasanya akan terlihatfloaters berwarna
hitam, semi transparan yang akan mengganggu penglihatan.
Panoftalmitis
Panoftalmitis merupakan peradangan seluruh bola mata termasuk sclera dan kapsul
tenon sehigga bola mata merupakan rongga abses. Infeksi ke dalam bola mata dapat melalui
peredaran darah (endogen) atau perforasi bola mata (eksogen), dan akibat tukak kornea
perforasi.
Gejala: kemunduran tajam penghlihatan, disertai rasa sakit, mata menonjol, edem
kelopak, konjungtiva kemotik, kornea keruh, bilik mata dengan hipopion, dan refleks putih di
dalam fundus.

Uveitis
Uveitis dibagi menjadi anterior dan posterior. Uveitis anterior adalah peradangan
mengenai iris dan jaringan badan siliar (iridosiklitis) biasanya unilateral dengan onset akut.
Penyebab uveitis anterior akut dibedakan dalam bentuk nongranulomatosa dan
granulomatosa akut-kronis.
Nongranulomatosa akut memiliki gejala: ada rasa nyeri, fotofobia, penglihatan buram
keratik presipitat kecil, pupil mengecil, sering terjadi kekambuhan.
Granulomatosa akut: tidak nyeri, fotofobia ringan, buram, keratik presipitat besar
(mutton fat) benjolan Koeppe (penimbunan sel pada tepi pupil atau benjolan Busacca
(penimbunan sel pada permukaan iris.
Uveitis terjadi mendadak atau akut berupa mata merah, dan sakit, Ataupun datan
perlahan dengan mata merah dan sakit ringan dengan penglihatan turun perlahan-lahan.
Uveitis anterior akut memiliki gejala: mata sakit, merah, fotofobia, penglihatan turun ringan
dengan mata berair.
Uveitis posterior/koroiditis memiliki gejala: penglihatan buram terutama bila
mengenai daerah sentral makula, bintik terbang (floater), vitreous keruh, mata jarang menjadi
merah, tidak sakit, tidak fotofobia, infiltrat dalam retina dan koroid, edem papil, perdarahan
papil, perdarahan retina, dan vascular sheathing.
Tata laksana
Tata laksana terbaik sesuai dengan etiologinya. Terapi pertama kali berdasarkan pada hasil
pemeriksaan gram dan KOH 10%. Hasil kultur digunakan sebagai dasar terapi selanjutnya.
Terapi antibiotik lokal:
Terapi empirik: fluorokuinolon (0,3%).
Kokus gram positif: cefuroksim (0,3%), vankomisin (5%).
Batang gram negatif: gentamisin (1,5%), fluorokuinolon (0,3%), atau seftazidim (5%).
Kokus gram negatif: fluorokuinolon (0,3%), seftriakson (5%).
Mycobacterium: amikasin (2%), klaritromisin (1%), atau trimetroprim-sulfametoksazol
(1,6%;8%).
Terapi antifungi lokal:
Candida: amfoterisin B 0,15%, natamisin 5%, atau fluconazole 2%.
Kapang: natamisin 5%, amfoterisin B 0,15%, atau miconazole 1%.
Terapi antiviral lokal:
Herpes simpleks: salep asiklovir 3%.
Varicella zoster: asiklovir oral 800 mg/hari selama 7-10 hari.
Ulkus Kornea Marginalis
Kondisi ini diakibatkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap eksotoksin stafilokokus
dan protein dinding sel disertai dengan endapan kompleks imun kornea perifer. Kondisi ini
seringkali tidak berbahaya namun sangat nyeri.

Diagnosis
Pemeriksaan fisik:
Pemeriksaan tajam penglihatan dengan Snellen chart dan pinhole.
Pemeriksaan TIO dengan cara non-kontak.
Pemeriksaan dengan slit lamp.
Pemeriksaan sensibilitas kornea dan fluorosens.
Pemeriksaan Penunjang
Perlu dicari kelainan kulit, kardiovaskular, dan sistem pernapasan.
Pemeriksaan laboratorium: darah perifer lengkap, hitung jenis, tes fungsi hati, uji fungsi
ginjal, uji ANA, anti dsDNA, faktor rheumatoid.
Diagnosis ulkus kornea marginalis harus ditegakkan lebih dahulu sebelum dimulai
terapi kortikosteroid topikal.
Diagnosis banding penyakit ini adalah keratitis herpes simpleks, peripheral ulceratif
keratitis (PUK), dan ulkus Mooren. PUK seringkali berhubungan dengan penyakit sistemik
lainnya. Herpes simpleks mengakibatkan ulkus indolen, sementara ulkus marginalis tidak.
3. ENDOFTALMITIS
Endoftalmitis merupakan peradangan berat dalam bola mata, akibat infeksi setelah
tauma atau bedah, atau endogen akibat sepsis.2 Berbentuk peradangan supuratif intraokular
yang melibatkan segmen anterior dan posterior mata. Sering dihubungkan dengan infeksi
bakteri atau jamur.
Penyebab endoftalmitis supuratif adalah kuman dan jamur yang masuk bersama trauma
tembus (eksogen) atau sistemik melalui peredaran darah (endogen).
Etiologi
Berdasarkan etiologinya, endoftalmitis terbagi menjadi pasca operasi, pasca trauma,
dan endogen. Pasca operasi dibagi menjadi akut (dalam 6 minggu pasca operasi), dan kronis
(di atas 6 minggu pasca operasi).
Endoftalmitis akut pasca operasi: Staphylococcus aureus koagulase negatif,
Streptococcus sp., dan bakteri gram negatif.
Endoftalmitis kronis pasca operasi: Propionibacterium aknes, Staphylococcus
koagulase negatif dan jamur.
Endoftalmitis endogen: bakteri gram: Streptococcus sp., Staphylococcus aureus, dan
Bacillus sp. Bakteri gram negatif: Neisseria meningitidis.
Gejala klinis
Gejala endoftalmitis adalah penurunan tajam penglihatan, mata merah, floaters,
fotofobia, dan nyeri.
Endoftalmitis karena jamur: biasanya masa inkubasi lambat kadang-kadang sampai 14
hari setelah infeksi dengan gejala mata merah dan sakit.
Peradangan yang disebabkan oleh bakteri akan memberikan gambaran klinis rasa sakit
yang sangat, kelopak merah, dan bengkak, kelopak sukar dibuka, konjungtiva hemolitik dan
merah, kornea keruh, bilik mata depan keruh, kadang-kadang disertai hipopion.
Pada kasus pasca operasi, problem yang serius adalah kehilangan penglihatan yang
permanen.Gejala biasanya tidak terlalu menonjol, tergantung dari kapan terjadinya infeksi,
dini (6minggu atau kurang) atau lanjut (bulan atau tahunan) setelah operasi. Gejala pada
stadium dini adalah penurunan penglihatan yang dramatis padamata yang terlibat, sakit pada

mata setelah operasi, mata merah danpembengkakan kelopak.Gejala pada stadium lanjut
biasanya lebih berat pada stadium dini. Seperti:penglihatan buram, penurunan sensitivitas
terhadap cahaya (fotofobia) dan sakityang berat pada mata.
Gejala pada endoftalmitis yang disebabkan trauma tembus biasanya lebih
berattermasuk penurunan visus yang cepat, sakit mata yang lebih hebat, mata merah
danpembengkakan kelopak.
Pada saat infeksi menyebar melalui aliran darah dan masuk ke dalam mata,
gejalanyaakan timbulperlahan-lahan/bertahap dan lebih ringan. Sebagai contoh, pasien
mungkintidak akan mengeluhpenglihatannya turun setelah 5 minggu, biasanya akan
terlihatfloaters berwarna hitam, semi transparan yang akan mengganggu penglihatan.
Pada pemeriksaan mata
Pemeriksaan segmen anterior: ditemukan pembengkakan dan spasme kelopak mata,
konjungtiva hiperemis (injeksi konjungtiva dan silier), khemosis, dan edem kornea, bilik mata
depan: sel (+), flare (+), fibrin dan hipopion. Pada segmen posterior dapat ditemukan: tanda
dini berupa Roths spot (bercak bulat, putih pada retina yang dikelilingiperdarahan), papilitis,
vitreal mass dan debris, vitreitis.
Diagnosis
Anamnesis
Riwayat operasi, dan trauma sebelumnya serta sistemik yang mendasari.
Pemeriksaan fisik mata
Pemeriksaan segmen anterior dan posterior.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan yang penting adalah biakan kuman dari vitreus dan/atau aqueous humor untuk
mencari etiologi infeksi dan sebagai panduan tata laksana antimikroba yang tepat.
Diagnosis banding
Ulkus kornealihat keterangan sebelumnya.
Panoftalmitislihat keterangan sebelumnya.
Uveitislihat keterangan sebelumnya.
Tata laksana
Endoftalmitis akibat pasca operasi
Pars plana vitrektomi atau aspirasi vitreous mungkin akan dianjurkan
olehophthalmogolistyang diikuti dengan injeksi antibiotik intravitreal (misalnya
:vankomisin, amikasin,ceftazidine).
Dipertimbangkan antibotik sistemik atau steroid intravitreal.
Pasien dengan endoftalmitis pasca operasimungkin tidak dianjurkan untukdirawat di
rumah sakit. Tetapi keputusan tersebut sangat tergantung dariophthalmologist.
Endoftalmitis akibat trauma
Sarankan pasien untuk dirawat di rumah sakit
Tangani ruptur bola mata (bila ada).
Antibiotik sistemik termasuk vankomisin, aminoglikosida atau cefalosporingenerasi ke3, pertimbangkan klindamisin bila ditemukan Bacillus spasies.
Antibotik topikal.
Antibiotik intravitreal mungkin diperlukan.
Pertimbangkan pars plana vitrektomi.

Imunisasi tetanus bila sebelumnya belum pernah diimunisasi.


Siklopegik mungkin diperlukan.

Endoftalmitis akibat bakteri endogen


Sarankan pasien untuk dirawat di rumah sakit.
Antibiotik spektrum luas intravena termasuk vankomisin, aminoglikosida,
atausefalosporin generasi ke-3. pertimbangkan penggunaan clindamycin secara
intravena jika ditemukan infeksi Bacillus spesies.
Antibiotik periokular.
Antibiotik intravitreal.
Siklopegik (misalnya: atropin).
Steroid topikal mungkin dapat diberikan. Atau pemberian steroid injeksilangsung ke
mata untuk mengurangi inflamasi dan mempercepat penyembuhan.

Vitrektomi mungkin diperlukan pada organisme yang virulen, atau pada infeksi yang
parah.

4. TRAUMA TEMBUS BOLA MATA


Trauma tembus menyebabkan gangguan pada lapisan mata terluar tanpa menganggu
kontinuitas anatomi keseluruhan mata, tidak sampai terjadi prolapsus dari isi bola mata.
Namun demikian trauma ini menjadi hal yang sangat serius dan mengancam fungsi
penglihatan yang memakan waktu serta biaya yang mahal danprognosis kebanyakan kasus
adalah buruk.
Trauma dapat mengakibatkan robekan pada konjungtiva saja. Bila robekan konjungtiva
ini atau tidak melebihi 1 cm, maka tidak perlu dilakukan penjahitan. Bila robekan konjungtiva
lebih dari 1 cm diperlukan penjahitan untuk mencegah terjadinya granuloma. Pada setiap
robekan konjungtiva perlu diperhatikan terdapatnya robekan sklera bersama-sama dengan
robekan konjungtiva tersebut.
Bila trauma disebabkan oleh benda tajam atau benda asing masuk ke dalam bola mata
maka akan terlihat tanda-tanda klinis bola mata tembus.
Tanda klinis bola mata tembus:
Tajam penglihatan yang menurun.
Tekanan bola mata rendah.
Pada pemeriksaan fisik mata segmen anterior bilik mata dangkal, letak dan bentuk pupil
berubah, terlihat adanya ruptur pada kornea atau sklera.
Terdapat jaringan yang prolapse seperti cairan mata, iris, lensa, badan kaca atau retina.
Konjungtiva kemotis.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan segmen anterior, posterior.
Pemeriksan visus
Pemeriksaan tekanan bola mata
Diagnosis

Untuk mendiagnosis suatu trauma tembus pada mata dapatdilakukan tahapan sebagai
berikut, dimulai dari anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan umum mata: sesegera mungkin, pemeriksa dapat menentukan akuisi
visual, yang menjadi prediktor reliabel untuk visual akhir pada mata yang mengalami trauma
dan melakukan pemeriksaan pada pupil untuk mendeteksi adanya defek pada pupil
aferen.Pemeriksaan akuisi visual dan pupil dilakukan pada kedua mata. Secara khusus akuisi
visual awal (kurang dari 20/200), adanya hifema, serta pupil dan uvea yang abnormal adalah
indikator dari trauma tembus pada mata yang harus sesegera mungkin mendapat penanganan
dan respon yang cepat oleh tenaga medis.
Pemeriksaan penunjang
CT scan, Plain-film x-rays ,CBC, differential, platelets ,electrolytes, blood urea
nitrogen, creatinine, test for HIV estetue, hepatitis, MRI (especially in cases of suspected
organic foreign objects in the eye or orbit; this should never be used if a metallic foreign
object is suspected), prothrombin time, partial thromboplastin time, bleeding time.
Diagnosis Banding
Trauma pada bola mata menurut Birmingham Eye Trauma Terminology (BETT)
Terminologi
Definisi
Deskripsi
Dinding bola mata
Sklera dan kornea
Tidak didapatkan luka full
Trauma tertutup bola mata
thickness dari dinding bola
mata
Didapatkan
luka
full
Trauma terbuka bola mata
thickness dari dinding bola
mata
Tidak terdapat luka dinding
Kontusio
bola mata
Luka partial thickness dari
Laserasi lamellar
dinding bola mata
Luka full thickness dari Akibat peningkatan TIO yang
dinding bola mata akibat cepat mengakibatkan dinding
Ruptur
benda
tumpul
yang bola mata rupture pada titikukurannya besar
titik terlemah
Luka full thickness dari bola Luka
diakibatkan
oleh
mata yang disebabkan benda mekanisme
outside
in
Laserasi
tajam
mechanism
sering
ditemukan prolaps jaringan
Didapatkan luka masuk
Jika didapatkan lebih dari
satu luka, masing-masing
Penetrating injury
disebabkan oleh benda yang
berbeda
Didapatkan luka masuk dan Kedua luka ditimbulkan oleh
Perforating injury
luka keluar
sebab yang sama

Tata laksana
Bila terlihat salah satu tanda di atas atau dicurigai adanya perforasi bola mata maka
secepatnya diberikan antibiotik topikal dan mata ditutup segera dikirim ke dokter mata untuk
dilakukan pembedahan.
Pada pasien dengan dengan luka tembus bola mata selamanya diberikan antibiotika
sistemik atau intravena dan pasien dipuasakan untuk tindakan pembedahan. Pasien juga
diberikan anti tetanus profilaksis, analgetika, dan kalau perlu penenang. Sebelum dirujuk mata
tidak diberi salep, karena salep dapat masuk ke dalam mata. Pasien tidak boleh diberi steroid
lokal, dan beban yang diberikan pada mata tidak menekan bola mata.
Pada setiap terlihat kemungkinan trauma perforasi sebaiknya dipastikan apakah ada
benda asing yang masuk ke dalam mata dengan membuat foto.
5. TRAUMA KIMIA (ASAM DAN BASA)
Trauma yang diakibatkan oleh bahan kimia dapat menyebabkan kelainan pada mata.
Terutama bahan kimia yang berbahaya yang biasa terdapat pada kehidupan sehari-hari.
Pengaruh bahan kimia sangat bergantung pada pH, kecepatan dan jumlah bahan kimia yang
mengenai mata.
Trauma basa biasanya disebabkan oleh cairan pembersih rumah, KOH, magnesium
hidroksida, dan kapur. Sedangkan trauma asam biasanya disebabkan karena sulfur,
hydrofluoric acetic (CH3COOH), krom (Cr2O3),dan HCl. Terdapat derajat klasifikasi trauma
kimia mata:
Derajat 1: defek epitel kornea tanpa iskemi limbus
Derajat 2: defek epitel kornea dengan kekeruhan trauma dan iskemik kurang dari 1/3 limbus.
Derajat 3: defek epitel kornea total dan kekeruhan stroma dan iskemi yang melibatkan 1/3-1/2
limbus.
Derajat 4: kekeruhan kornea total iskemi 1/2 limbus.
Bahan basa menyebabkan kerusakan kolagen dan terjadi proses saponifikasi atau
persabunan yang disertai dengan hidrasi. Bahan basa dapat menembus kornea, bilik mata
depan dalam waktu 7 detik dan sampai pada jaringan retina. Pada trauma basa akan terjadi
penghancuran kolagen kornea. Bahan kimia alkali bersifat koagulasi sel.Basa terdisosiasi
menjadi ion hidroksil dan kation di permukaan bola mata. Ion hidroksil membuat reaksi
saponifikasi pada membran sel asam lemak, sedangkan kation berinteraksi dengan kolagen
stroma dan glikosaminoglikan. Jaringan yang rusak ini menstimulasi respon inflamasi, yang
merangsang
pelepasan
enzim
proteolitik,
sehingga
memperberat
kerusakan
jaringan.Terbentuknya kolagenase akan menambah kerusakan kolagen kornea.Hidrasi kolagen
menyebabkan distorsi dan pemendekan fibril sehingga terjadi perubahan pada jalinan
trabekulum yang selanjutnya dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraokular.Mediator
inflamasi yang dikeluarkan pada proses ini merangsang pelepasanprostaglandin yang juga
dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraokular. Trauma akibat bahan kimia basa akan
memberikan akibat yang sangat gawat pada mata.
Sedangkan pada bahan asam langsung terjadi pengendapan dan penggumpalan protein
permukaan yang sangat mempengaruhi prognosis. Biasanya akan terjadi kerusakan hanya
pada bagian superfisial saja. Prosesnya adalah asam akan terdisosiasi menjadi ion-ion
Hidrogen dan anion di kornea. Molekul hidrogen merusak permukaan bola mata dengan
merubah pH, sedangkan anion menyebabkan denaturasi, presipitasi dan koagulasi protein
pada epitel-epitel kornea yang terpajan.Presipitasi dan koagulasi permukaan bola mata

disebut nekrosis koagulatif.Koagulasi protein mencegah terjadinya penetrasi asam lebih


dalam,sehingga bila konsentrasi tidak tinggi tidak akan bersifat destruktif seperti trauma
alkali.

Diagnosis dan gejala klinis


Diagnosis trauma kimia pada mata lebih sering didasarkan pada anamnesis
dibandingkan atas dasar tanda dan gejala. Pasien biasanya mengeluhkan nyeri dengan derajat
yang bervariasi, fotofobia, penurunan penglihatan serta adanya halo di sekitar
cahaya.Umumnya pasien datang dengan keluhan adanya riwayat terpajan cairan atau gas
kimia pada mata. Keluhan pasien biasanya nyeri setelah terpajan, rasa mengganjal di mata,
pandangan kabur, fotofobia, mata merah dan rasa terbakar.Jenis bahan sebaiknya digali,
misalnya dengan menunjukkan botol bahan kimia, hal ini dapat membantu menentukan jenis
bahan kimia yang mengenai mata.Waktu dan durasi dari pajanan, gejala yang timbul segera
setelah pajanan, serta penatalaksanaan yang telah diberikan di tempat kejadian juga
merupakan anamnesis yang dapat membantu dalam diagnosis.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang cermat harus ditunda setelah dilakukan irigasi yang banyak
pada mata yang terkena dan pH mata telah netral. Setelah dilakukan irigasi, dilakukan
pemeriksaan dengan seksama terutama melihat kejernihan dan integritas kornea, iskemia
limbus dan tekanan intraokular. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan pemberian anestesi
topikal. Tanda-tanda yang dapat ditemui pada pemeriksaan fisik dan oftalmologi adalah :

Defek epitel kornea, dapat ringan berupa keratitis pungtata sampai kerusakan seluruh
epitel. Kerusakan semua epitel kornea dapat tidak meng-uptake fluoresin secepat abrasi
kornea sehingga dapat tidak teridentifikasi.

Kekeruhan kornea yang dapat bervariasi dari kornea jernih sampai opasifikasi total
sehingga menutupi gambaran bilik mata depan.

Perforasi kornea. Sangat


penyembuhannya tidak baik.

Reaksi inflamasi bilik mata depan, dalam bentuk flare dan cells. Temuan ini biasa
terjadi pada trauma basa dan berhubungan dengan penetrasi yang lebih dalam.

jarang

terjadi,

biasa

pada

trauma

berat

yang

Peningkatan tekanan intraokular


Kerusakan/jaringan parut pada adneksa. Pada kelopak mata hal ini menyebabkan
kesulitan menutup mata sehingga meng-exspose permukaan bola yang telah terkena
trauma.

Inflamasi konjungtiva.

Iskemia perilimbus

Penurunan tajam penglihatan.Terjadi karena kerusakan epitel, kekeruhan kornea,


banyaknya air mata.

Tata laksana
Penatalaksanaan awal adalah irigasi secepatnya dengan air mengalir atau cairan
isotonik (normal saline atau ringer laktat) dianjurkan selama 15-30 menit sebelumnya,
kemudian diberikan anestesi topikal. Dilakukan pengecekan pH berulang sampai pH
mencapai 7,3-7,7. Perlu dilakukan eversi palpebra dan irigasi bagian forniks untuk
membersihkan benda asing dan jaringan nekrotik.
Pemberian steroid topikal, anti glaukoma dan sikoplegik diindikasikan untuk 2 minggu
pertama namun setelahnya steroid harus dihindari karena dapat menghambat reepitelisasi.
Terapi medikamentosa pada trauma kimia
Obat
Dosis
Kortikosteroid topikal
Tiap 1-4 jam
Sodium
askorbat Tiap 2-4 jam
topical
Sodium sitrat 10% Tiap 2-4 jam
topikal
Tetrasiklin topikal
4x sehari
Sodium askorbat 2 g
2x sehari P.OS
Doksisiklin 100 mg
2x sehari P.OS
Terapi glaukoma
Jika diperlukan
sikloplegik
Jika diperlukan

6. HIFEMA
Hifema atau darah di dalam bilik mata depan dapat terjadi akibat trauma tumpul yang
merobek pembuluh darah iris atau badan siliar.
Klasifikasi
Klasifikasi hifema dibedakan berdasarkan kepada onset perdarahannya, darah yang terlihat,
serta pengisian darah pada bilik mata depan. Berdasarkan onset perdarahan,
hifemadiklasifikasikan menjadi:
o Hifema primer terjadi langsung sampai 2 hari setelah trauma pada mata.
o Hifema sekunder terjadi 2-5 hari setelah trauma pada mata.
Sementara itu, berdasarkan darah yang terlihat, hifema diklasifikasikan menjadi :
o Makrohifema, perdarahan terlihat dengan mata telanjang.
o Mikrohifema, perdarahan terlihat apabila menggunakan mikroskop.
Dan apabila dibagi berdasarkan pemenuhan darah di bilik mata depan, hifema dibagi menjadi:
o Grade 1, darah mengisi kurang dari 1/3 bilik mata depan, insidensi kasusnya 58%.
o Grade 2, darah mengisi 1/3 bilik mata depan, dengan insidensi kasus 20%.
o Grade 3, darah mengisi kurang dari seluruh bilik mata depan, insidensi kasusnya
14%.

o Grade 4, darah mengisi seluruh bilik mata depan, dikenal dengan total
hyphema,blackball atau 8-ball hyphema, insidensi kasusnya 8%.
Gejala klinis: pasien akan mengeluh sakit disertai epifora dan blefarospasme.
Ketajaman penglihatan pasien akan sangat menurun. Bila pasien duduk hifema akan terlihat
terkumpul di bagian bawah bilik mata depan dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik
mata depan. Kadang-kadang terlihat iridoplegia dan iridodialisis.
Gejala penyerta lain yang dapat muncul pada hifema adalah kemunculan perdarahan
sekunder. Perdarahan sekunder mungkin disebabkan oleh lisis dan retraksi bekuan dan fibrin,
yang berfungsi sebagai penyumbat pembuluh darah yang mengalami ruptur di awal trauma.
Perdarahan sekunder ini dapatmemicu oleh peningkatan TIO dan pewarnaan kornea.
Perdarahan sekunder terjadi pada 25% dari seluruh pasien hifema, dengan insiden terjadinya
perdarahan sekunder yang lebih tinggi pada hifema grade 3 dan 4.
Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan oftamologis
Pemeriksaan oftamologis dilakukan secara menyeluruh, meliputi pemeriksaan visus,
lapang pandang, gerakan bola mata, mata bagian anterior dan posterior,serta TIO.
Pemeriksaan dengan gonioskopi tidak dianjurkan karena meningkatkan risiko perdarahan
ulang. Pemeriksaan pada mata bagian anterior diharapkan bisa memberikan assesment
mengenai grading hifema.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang dilakukan lebih untuk menemukan etiologi atau
menyingkirkan diagnosis banding. Yang akan dinilai meliputi kondisi mata bagian posterior,
adneksamata, dan orbita. Pemeriksaan yang umum dilakukan berupa ultrasonografi (USG)
mata atau CT-scan untuk melihat adanya tumor intraokuler. Dapat juga dilakukan angiografi
pada iris untuk melihat adanya neovaskularisasi meskipun sangat jarang dilakukan.
Pemeriksaan laboratorium jarang dilakukan, kecuali pemeriksaan darah untuk melihat
adanyasickle cell disease.
Tata laksana
Hifema biasanya akan mengalami penyerapan secara spontan. Umumnya hal ini
terjadi setelah 5-7 hari dari awal trauma. Oleh karena itu, tatalaksana hifema pada awal lebih
menitikberatkan kepada elevasikepala,monitoring peningkatan TIO serta adanyaperdarahan
sekunder. Dibawah akan dijelaskan secara lebih lanjut mengenai hal tersebut.
Terapi Medikamentosa
o Pasien dengan hifema yang tampak mengisi lebih dari 5% bilik mata depan
sebaiknya diistirahatkan. Pemberian steroid tetes harus segera dimulai. Aspirin dan
antiinflamasi nonsteroid harus dihindari. Dilatasi pupil dapat meningkatkan risiko
perdarahan kembali sehingga mungkin ditunda sampai hifema reda dengan
penyerapan spontan. Oleh karena itu, pemeriksaan dini untuk mencari kerusakan
segmen posterior mungkin memerlukan pemeriksaan ultrasonografi. Mata sebaiknya
diperiksa secara berkala untuk mencari adanya perdarahan sekunder, glaukoma, atau
bercak darah di kornea akibat pigmen besi. Perdarahan ulang terjadi pada 16-20%

o
o

o
o

kasus dalam 2-3 hari. Komplikasi ini memiliki risiko tinggi menimbulkan glaukoma
dan pewarnaan kornea.
Kortikosteroid topikal untuk mengurangi inflamasi dan mencegah iritis/iridosiklitis.
Agen antifibrinolitik seperti asam aminokaproat topikal dan/atau oral serta asam
traneksamat oral untuk mengurangi risiko perdarahan ulang. Dosis untuk asam
aminokaproat adalah 100 mg/kgBB setiap 4 jam, maksimal 30 gram/hari selama 5
hari. Dosis untuk asam traneksamat adalah 25 mg/kgBB, 3 kali sehari selama 6 hari.
Kontraindikasi pada gangguan clotting intravaskuler dan kehamilan.
Tissueplasminogen activator untuk fibrinolisis clotting yang stagnan. Dosis tPA
adalah 10 mikrogram, diberikan injeksi intracamera.
Terapi antiglaukoma jika dibutuhkan, seperti dengan pemberian asetazolamid atau
beta-blocker seperti timolol. Tatalaksana glaukoma meliputi terapi topikal dengan
penyekat- (mis, timolol 0,25% 2 kali sehari), analog prostaglandin (mis, latanoprost
0,005% malam hari), dorzolamide 2% dua atau tiga kali sehari, atau apraclonidine
0,5% tiga kali sehari. Terapi oral dengan acetazolamide 250 mg per oral empat kali
sehari, dan obat hiperosmotik (manitol, gliserol, dan sorbitol) dapat pula digunakan
bila terapi topikal tidak efektif. Bedah drainase glaukoma mungkin diperlukan pada
kasus-kasus yang sangat berat.

Terapi non medikamentosa


Selain dari elevasi kepala 30-45ountuk membantu proses penyerapan darah,
sesungguhnya secara umumbed rest, rawat inap, dan patching tidak perlu dilakukan. Namun
jika hifema terjadi pada pasien yang tidak kooperatif, pada penderita sickle cell disease, atau
terjadi perdarahan ulang, terapi-terapi nonmedikamentosa di atas perlu dilakukan untuk
mencegah terjadinya komplikasi berikut.Monitoring TIO, pewarnaan kornea, dan perdarahan
sekunder perlu dilakukan secara berkala untuk mengetahui kemunculan komplikasi dan
pemberian penatalaksanaan sesuai.
Tatalaksana operatif
Indikasi untuk melakukan operasi pada pasien hifema adalah:
o Absorpsi darah secara spontan terlalu lambat.
o Terdapat kelainan penggumpalan darah yang dapat menjadi resiko
perdarahansekunder, seperti hemoglobinopati atau sickle cell disease.
o Peningkatan TIO tidak bisa diatasi dengan obat-obatan (>35 mmHg selama 7
hariatau>50 mmHg selama 5 hari) dan adanya kemungkinan corneal blood staining.
7. KORPUS ALIENUM KONJUNGTIVA DAN KORNEA
Corpus alienum adalah benda asing. Merupakan salah satu penyebab cedera mata yang
paling sering mengenai sklera, kornea dan konjungtiva. Apabila korpus alienum masuk ke
dlm bola mata maka biasanya terjadi reaksi infeksi yg hebat serta timbul kerusakan dari isi
bola mata dan iridosiklitis. Beratnya kerusakan pada organ di dalam bola mata tergantung dari
besarnya corpus alienum, kecepatan masuknya, ada /tidaknya proses infeksi dan jenis
bendanya sendiri.
Etiologi

Trauma mata dapat terjadi secara mekanik dan nonmekanik. Mekanik meliputi: trauma
benda tumpul dan tajam serta trauma oleh benda asing seperti kelilipan pasir, tanah. Non
mekanik: trauma bahan kimia, trauma termik, trauma radiasi.
Tanda dan gejala
o mendadak merasa tidak enak ketika mengedipkan mata.
o ekskoriasi kornea terjadi bila benda asing menggesek kornea oleh kedipan bola mata.
o lakrimasi hebat.
o benda asing dapat bersarang di konjungtiva.
o nyeri.
o sensasi benda asing.
o mata merah dan mata berair banyak.
o mata terasa pedih, seperti kering, seperti ada pasir dan ketajaman mata biasanya
menurun.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan umum
pemeriksaan subyektif: pemeriksaan ketajaman penglihatan.
pemeriksaan obyektif: saat penderita di inspeksi dapat diketahui adanya kelainan disekitar
mata seperti adanya perdarahan sekitar mata, periksa keadaan kelopak mata kornea, bilik mata
depan, pupil, lensa, gerakan bola mata. Pemeriksaan segmen anterior dilakukan dengan slit
lamp dan oftalmoskop.
Dalam pemeriksaan oftalmologi, ditemukan visus normal atau menurun, adanya injeksi
konjungtiva atau injeksi silar, terdapat benda asing pada bola mata, tes fluorescein (+).
Pemeriksaan khusus
Bila terdapat perforasi, maka dilakukan pemeriksaan X-ray orbita.
Diagnosis banding
Trauma mata akibat radiasi sinar ultraviolet
Sinar ultra violet biasanya memberikan kerusakan terbatas pada kornea sehingga
kerusakan pada lensa dan retina tidak akan nyata terlihat. Kerusakan ini akan segera baik
kembali setelah beberapa waktu, dan tidak akan memberikan gangguan tajam penglihatan
yang menetap. Gejala: pasien yang telah terkena sinar sinar ultra violet akan memberikan
keluhan 4-10 jam setelah trauma. Terdapat rasa sangat sakit pada mata, mata seperti kelilipan
atau kemasukan pasir, fotofobia, blefarospasme, dan konjungtiva kemotik.
Trauma mata akibat sinar infrared
Akibat sinar infrared dapat terjadi pada saat menatap gerhana matahari dan pada saat
bekerja di pemanggangan. Kerusakan ini dapat terjadi akibat terkonsentrasinya sinar infrared.
Kaca yang mencair seperti yang ditemukan di tempat pemanggangan akan mengeluarkan
sinar infrared. Bila seseorang berada pada jarak 1 kaki selama 1 menit di depan kaca yang
mencair dan pupilnya melebar maka suhu lensa akan naik sebanyak 9 derajat celcius. Iris
yang mengabsorpsi sinar infrared akan panas sehingga berakibat pada kapsul lensa di
dekatnya. Absorpsi sinar infrared oleh lensa akan mengakibatkan katarak pada lensa.
Gejala: Seseorang yang sering terpejan dengan sinar ini dapat terkena keratitis
superfisial, katarak kortikal anterior posterior dan koagulasi pada koroid. Biasanya terjadi
penurunan tajam penglihatan, penglihatan kabur dan mata terasa panas.

Trauma mata akibat sinar ionisasi dan sinar X


Gambaran klinis: sinar ionisasi dan sinar X dapat mengakibatkan kerusakan pada
kornea yang dapat bersifat permanen. Katarak akibat pemecahan sel epitel yang tidak normal
dan rusaknya retina dengan gambarandilatasi kapiler, perdarahan, mikroaneuris mata dan
eksudat. Atrofi sel goblet pada konjungtiva juga dapat terjadi dan mengganggu fungsi air
mata.
Trauma mata akibat bahan kimia (asam-basa) lihat keterangan sebelumnya.
Tata laksana
Bila lokasi corpus alienum berada di palpebra dan konjungtiva, kornea maka dengan
mudah dapat dilepaskan setelah pemberian anastesi lokal. Untuk mengeluarkannya,
diperlukan kapas lidi atau jarum suntik tumpul atau tajam. Arah pengambilan, dari tengah ke
tepi. Bila benda bersifat magnetik, maka dapat dikeluarkan dengan magnet portable.
Kemudian diberi antibiotik lokal, siklopegik, dan mata dibebat dengan kassa steril dan
diperban.
Pecahan besi yang terletak di iris, dapat dikeluarkan dengan dibuat insisi di limbus,
melalui insisi tersebut ujung dari magnet dimasukkan untuk menarik benda asing, bila tidak
berhasil dapat dilakukan iridektomi dari iris yang mengandung benda asing tersebut.
Pecahan besi yang terletak di dalam bilik mata depan dapat dikeluarkan dengan
magnet sama seperti pada iris. Bila letaknya di lensa juga dapat ditarik dengan magnet,
sesudah insisi pada limbus kornea, jika tidak berhasil dapat dilakukan pengeluaran lensa
dengan ekstraksi linier untuk usia muda dan ekstraksi ekstrakapsuler atau intrakapsuler untuk
usia yang tua.
Bila letak corpus alienum berada di dalam badan kaca dapat dikeluarkan dengan giant
magnet setelah insisi dari sklera. Bila tidak berhasil, dapat dilakukan dengan operasi
vitrektomi.

8. TRAUMA RADIASI SINAR LAS (TRAUMA MATA AKIBAT SINAR ULTRA


VIOLET)
Sinar ultra violet merupakansinar gelombang pendek yang tidak terlihat
mempunyai panjang gelombang antara 350-295 nm. Sinar ultra violet banyak terdapat
pada saat bekerja las, dan menatap sinar matahari atau pantulan sinar matahari di atas
salju. Sinar ultra violet akan segera merusak epitel kornea.
Sinar ultra violet biasanya memberikan kerusakan terbatas pada kornea sehingga
kerusakan pada lensa dan retina tidak akan nyata terlihat. Kerusakan ini akan segera
baik kembali setelah beberapa waktu, dan tidak akan memberikan gangguan tajam
penglihatan yang menetap.
Gejala: pasien yang telah terkena sinar sinar ultra violet akan memberikan
keluhan 4-10 jam setelah trauma. Terdapat rasa sangat sakit pada mata, mata seperti
kelilipan atau kemasukan pasir, fotofobia, blefarospasme, dan konjungtiva kemotik.
Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik segmen anterior: kornea akan menunjukkan infiltrate
pada permukaannya, yang kadang-kadang disertai dengan kornea keruh dan uji

fluorosein positif. Keratitis terutama terdapat pada fisura palpebra. Pupil akan terlihat
miosis. Pada pemeriksaan ketajaman penglihatan: tajam penglihatan terganggu.
Diagnosis banding
Trauma mata akibat benda asing (corpus alienum) lihat keterangan
sebelumnya.
Trauma mata akibat sinar infrared lihat keterangan sebelumnya.
Trauma mata akibat sinar ionisasi dan sinar X lihat keterangan sebelumnya.
Trauma mata akibat bahan kimia (asam-basa) lihat keterangan sebelumnya.
Tata laksana
Pengobatan yang diberikan adalah sikloplegia, antibiotika lokal, analgetika dan
mata ditutup selama 2 3 hari. Biasanya sembuh setelah 48 jam.2

9. ABLATIO RETINA
Ablatio retina (retinal detachment) merupakan keadaan terpisahnya bagian
sensoris retina (fotoreseptor) dan lapisan jaringan dalam dari retinal pigmen epitelium
(RPE).
Klasifikasi
Secara umum terdapat 3 jenis ablatio retina, yaitu:
o Rhegmatogen: terjadi sekunder akibat adanya robekan pada retina sensoris, yang
memungkinkan cairan yang berasal dari vitreous mencapai rongga subretina.
o Traksional: terjadi karena adanya kontraksi membrane vitreoretina atau tarikan tanpa
adanya robekan retina sebelumnya.
o Eksudatif: terjadi karena adanya cairan subretina yang berasal dari pembuluh darah
retina neurosensoris, koroid, atau keduanya.
Diagnosis untuk ablatio retina rhegmatogen
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik serta penunjang.
Anamnesis
o Fotopsia: merupakan sensasi subjektif seperti melihat kilatan cahaya. Biasanya
berlangsung singkat pada lapang pandang temporal, terlihat terutama saat gelap, dan
setelah pergerakan mata. Hal ini menggambarkan proses traksi dari tempat adhesi
vitreoretina.
o Floaters: sensasi subjektif seperti melihat objek berterbangan berwarna gelap yang
terjadi di vitreous.
o Defek lapang pandang: dideskripsikan sebagian lapang pandang seperti tertutup tirai
gelap.
Pemeriksaan fisik
o Pemeriksaan funduskopi akan terlihat retina yang terangkat berwarna pucat dengan
pembuluh darah di atasnya dan terlihat robekan retina berwarna merah. Terlihat juga

o
o
o
o
o
o

kadang-kadang pigmen dalam badan kaca, pupil terlihat adanya defek aferen pupil
akibat penglihatan menurun.
Tekanan bola mata rendah dan dapat meninggi bila telah terjadi neovaskular
glaukoma pada ablasi yang telah lama.
Relative afferent pupillary defect muncul pada mata dengan ablasio retina ekstensif.
Tekanan intraokular < 5 mmHg dibandingakan dengan mata yang tidak mengalami
ablatio.
Iritis ringan sering kali ditemukan.
Gambaran tobacco dust terdiri atas sel pigmen yang terlihat pada vitreous anterior.
Kelainan pada retina sesuai dengan lamanya ablatio retina yang terjadi. Ablatio retina
baru ditandai dengan ablatio retina memiliki konfigurasi konveks dan tampilan yang
sedikit opak karena edem retina, cairan subretina dapat meluas sampai ora serata.
Sedangkan ablatio retina lama ditandai dengan kekeruhan vitreous, retina yang pucat
dan didapatkan proliferative vitreoretinopathy (PVR), garis demarkasi subretina yang
diakibatkan oleh proliferasi dari sel pigmen retina pada sambungan retina.

Pemeriksaan penunjang
Pada mata dengan media yang keruh, diagnosis ablatio retina dapat ditegakkan
dengan menggunakan ultrasonografi.
Tata laksana
Tata laksana adalah dengan pembedahan. Pada kasus retinal break yang ringan,
dimana cairan subretina terbatas di sekitar break, dapat dilakukan fotokoagulasi laser.
Sebelum dilakukan pembedahan pasien disarankan untuk tirah baring dengan satu
bantal untuk mencegah penyebaran cairan subretina menuju makula. Terapi bedah yang
dapat dipilih adalah:
o Pneumatic retinopexy: gas SF6 atau C3F8 diinjeksikan menuju vitreous untuk
mengembalikan posisi retina.
o Scleral bucking: terapi ini bertujuan untuk menempelkan kembali retina yang
terlepas dengan menempatkan explant pada daerah yang mengalami robekan.
Komplikasi termasuk gangguan retraksi, diplopia, ekstruksi eksplan, dan
kemungkinan terjadinya retinopati proliferatif.
o Vitrektomi pars plana: terapi ini memungkinkan untuk melepaskan traksi
vitreoretina.
Ablatio Retina Eksudatif
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Anamnesis
o Penglihatan menurun seperti tertutup tirai
o Floaters dapat muncul karena adanya vitreitis, namun tidak umum.
Pemeriksaan fisik
Penurunan tajam penglihatan.
Pada pemeriksaan retina akan memunculkan gambar:

o Proliferasi ablatio yang konveks dengan permukaan yang licin.


o Gambaran shifting fluid sesuai dengan gaya gravitasi. Pada keadaan berdiri
tegak,cairan subretina berada pada retina inferior, namun pada saat berada pada
posisi supinasi dapat meluas ke superior.
o Apabila ablatio didasari oleh tumor koroid, maka dapat terlihat penyebab yang
mendasarinya.
Pemeriksaan penunjang
o USG mata: diindikasikan apabila media mengalain kekeruhan.
o Pemeriksaan darah untuk uveitis dapat menentukan penyebab yang mendasarinya.
o Fluorosein angiography dapat membantu menentukan sumber cairan subretina.
Tata laksana
Tata laksana terutama ditujukan pada penyakit yang mendasari timbulnya keadaan ini. Terapi
dengan laser, krioterapi, atau steroid intravitreous dapat digunakan pada keadaan tertentu.
Ablatio retina traksional
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Anamnesis
o Mata tenang dengan penglihatan menurun, seringkali berjalan lambat.
o Bisa terdapat fotopsia atau floaters.
Pemeriksaan fisik
Penurunan tajam penglihatan
Pada pemeriksaan funduskopi dapat ditemukan:
o Konfigurasi konkaf dari ablatio retina.
o Tidak ditemukannya fenomena shifting fluid seperti kasus eksdatif.
o Elevasi retina yang paling tinggi terjadi pada tempat traksi vitreoretina.
o Apabila terdapat robekan, maka akan muncul gambaran khas ablatio retina
rhegmatogen dan penyakit akan memiliki progresivitas yang lebih cepat.
Pemeriksaan penunjang
Ultrasonografi dilakukan pada media yang keruh.
Tata laksana
Vitrektomi pars plana untuk membuang jaringan yang mengakibatkan traksi. Injeksi heavy
fluid mungkin dibutuhkan untuk meratakan retina. Tampak ada gas, cairan silikon, atau scleral
buckling dapat dibutuhkan.
Diagnosa banding
Oklusi vena retina
Oklusi retina merupakan kondisi vena retina, baik sentral atau cabang mengalami
sumbatan. Faktor predisposisi utama dari keadaan ini adalah arteriosklerosis atau
arterosklerosis. Hal tersebut dikarenakan baik vena maupun arteri berbagi selubung adventisia
yang sama sehingga perubahan pada arteri sentral dapat mengakibatkan kompresi pada venavena kecil (mengakibatkan oklusi vena cabang atau branch retinal vein occlusion (BRVO)

atau kompresa vena besar (mengakibatkan oklusi vena sentralis atau central retinal vein
occlusion (CRVO)). Oklusi vena akan akan mengakibatkan peningkatan tekanan vena dan
kapiler, yang berujung pada stagnansi aliran darah dan dapat mengakibatkan hipoksia pada
bagian retina yang drainasenya bergantung pada vena tersebut.
Manifestasi klinis
Anamnesis
o Mata tidak merah
o Penglihatan bisa normal dengan visus (6/6) hingga menurun mendadak sampai dengan
menghitung jari.
o Pada CRVO defek lapang pandang umumnya sentral, sementara pada BRVO dapat tidak
disertai gangguan lapang pandang.
o TIdak nyeri
o Sering kali hanya melibatkan satu mata.
Pemeriksaan fisik
Pada BRVO tajam penglihatan 6/6 sampai hanya menghitung jari, tergantung dari
keterlibatan makula, sedangkan pada CRVO berkisar dari 6/60 hingga hanya dapat
melihat gerakan lambaian tangan. Pada CRVO biasanya mengeluh adanya penurunan
penglihatan sentral maupun perifer mendadak yang dapat memburuk sampai hanya
tinggal persepsi cahaya. Pada CRVO juga terdapat penciutan lapang pandangan atau
suatu skotoma sentral dan defek ireguler. Dengan angiografi fluorosein dapat ditentukan
beberapa hal seperti letak penyumbatan, penyumbatan total atau sebagian, dan ada
tidaknya neovaskularisasi.
Relative afferent papillary defect (RAPD) tampak nyata pada kasus-kasus iskemik pada
CRVO.
Funduskopi pada BRVO hasil temuan:
o Vena yang mengalami oklusi akan berdilatasi dan berkelok-kelok.
o Seringkali oklusi terjadi pada tempat persilangan arteri vena.
o Perdarahan flame-shape, edem retina, cotton wool spot dan/atau dengan edem
makula.
o Dapat terjadi neovaskularisasi retina dalam 6-12 bulan.
Funduskopi pada CRVO dapat ditemukan:
o Tampak vena yang mengalami dilatasi dan berkelok-kelok, perdarahan dot/blot,
tampak pada seluruh kuadran dan paling banyak di perifer. Cotton wool spots, edem
makula dan edem diskus optic juga umum. Papil edem dengan pulsasi vena
menghilang karena penyumbatan biasanya terletak pada lamina kribosa. Terdapat
papil merah dan edem.
Oklusi arteri retina
Oklusi arteri retina merupakan keadaan terjadi hambatan atau sumbatan aliran darah
sehingga mengakibatkan iskemia retina.
Etiologi
Secara umum etiologinya adalah aterosklerosis dan emboli karotis. Aterosklerosis
pada oklusi arteri retina terjadi pada daerah setinggi lamina kribosa. Emboli arteri karotis
paling sering berasal dari bifurkasio arteri karotis, diikuti oleh arkus aorta, dan temoat
lainnya. Emboli yang terjadi berupa kolesterol, kalsifikasi, atau kompleks platelet-fibrin.

Penyebab lain yang tidak umum termasuk giant cell arteritis, emboli jantung, periarteritis,
kelainan trombofilik, dan hemoglobinopati bulan sabit.
Retinopati serosa sentral
Retinopati serosa sentral adalah keadaan lepasnya retina dari lapis pigmen epitel di
daerah makula akibat masuknya cairan melalui membran Bruch dan pigmen epitel yang
inkompeten.
Retinopati serosa sentral dapat bersifat residif. Biasanya ditemui pada penderita lakilaki berusia antara 20-50 tahun, perempuan hamil, dan pada usia diatas 60 tahun.
Akibat tertimbunnya cairan dibawah malula akan terdapat gangguan fungsi makula
sehingga visus turun disertai metamorffopsia, hipermetropia dengan skotoma relatif dan
sensitif (kelainan pada uji Amsler kisi-kisi). Penglihatan biasanya diantara 20/20-20/80.
Dengan uji amsler terdapat penyimpangan garis lurus disertai dengan skotoma. Berkurangnya
fungsi makula terlihat dengan penurunan kemampuan melihat warna. Pada funduskopi terlihat
terangkatnya retina dapat sangat kecil dan dapat seluas diameter papil. Lepasnya retina dari
epitel pigmen akibat masuknya cairan subretina ini dapat dilihat dengan pemeriksaan
angiografi fluoresein. Biasanya retinopati serosa sentral akan menyembuh setelah kira-kira 8
minggu dengan tidak terdapatnya lagi kebocoran. Pada keadaan ini cairan subretina akan
diserap kembali dan retina akan melekat kembali pada epitel pigmen tanpa gejala sisa
subjektif yang menyolok.
Neuritis retrobulbar
Neuritis retrobulbar adalah radang saraf optik dibelakang bola mata. Biasanya berjalan
akut yang mengenai satu atau kedua mata. Neuritis retrobulbar dapat disebabkan sklerosis
mutltipel, penyakit mielin, saraf, anemia pernisiosa, diabetes mellitus, dan intoksikasi.
Gejala: bola mata bila digerakkan akan terasa berat di bagian belakang bola mata.
Rasa sakit akan bertambah bila bola mata ditekan yang disertai dengan sakit kepala.
Pemeriksaan fisik: pada neuritis retrobulbar memiliki gejala seperti neuritis akan tetapi
dengan gambaran fundus yang sama sekali normal. Gambaran fundus pasien normal dan
diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan lapang pandangan dan turunnya tajam penglihatan
yang berat. Walaupun pada permulaan tidak terlihat kelainan fundus, lama kelamaan akan
terlihat kekaburan batas papil saraf optik dan degenerasi saraf optik akibat degenerasi serabut
saraf, disertai atrofi desenden akan terlihat papil pucat dengan batas yang tegas.