Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Pendidikan telah menjadi sebuah keniscayaan bagi peningkatan kualitas
kehidupan baik secara individual maupun kolektif. Keyakinan akan urgensi pendidikan
telah mengantarkan peradaban manusia kepada pembentukan sistem pendidikan, yang
dipandang sebagai satu hal yang wajib ada dalam sistem kehidupan berbangsa dan
bernegara. Dengan penyesuaian terhadap keunikan setiap komunitas yang umumnya
terkait dengan nilai, ritual, teladan dan simbol (Hofstede 2001: 9). Setiap bangsa
mengembangkan sistem pendidikan yang dipandang unggul dan mampu menjadi sarana
yang ideal bagi pencapaian tujuan-tujuan pendidikan. Saat ini bisa kita lihat beragam
sistem pendidikan di dunia, yang seringkali dibangun berdasar prinsip pendidikan yang
persis sama, namun tetap kaya dengan perbedaan di berbagai tingkatan kebijakan dan
teknis pelaksanaan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong para penggiat
pendidikan untuk meninggalkan pola pandang sempit dalam mengembangkan sistem
pendidikan. Pendidikan tidak lagi dilihat melalui kaca mata kuda, dimana para
pengambil kebijakan di bidang pendidikan hanya terfokus pada sistem pendidikan
sendiri. Semakin berkembang kesadaran bahwa pola pandang egosentris hanya akan
menjadikan sistem pendidikan sebuah bangsa rentan terhadap resiko stagnasi pendidikan
yang akan menyebabkan perkembangan ke arah yang lebih baik menjadi terhambat
akibat tidak adanya upaya benchmarking dengan sistem pendidikan yang dikembangkan
pihak lain. Tanpa ada bandingan, kerap seseorang terjebak dalam pola pandang baik
sendiri.
Seiring dengan derasnya arus tukar informasi mengenai sistem pendidikan yang
beragam di berbagai kawasan, berkembang pula sebuah disiplin baru yang dipandang
mulai berperan nyata sejak 1960, yang disebut dengan comparative education (Syah Nur
2003:1). Tujuan dari comparative education utamanya adalah untuk mengetahui berbagai
macam perbedaan yang berimbas pada berbedanya sistem pendidikan di dunia, dengan
kata lain, bertujuan untuk mengetahui berbagai prinsip yang mendasari pengaturan
perkembangan sistem pendidikan nasional. Pada gilirannya upaya-upaya memahami

beragam sistem pendidikan di berbagai belahan dunia telah memberikan kontribusi yang
signifikan bagi perkembangan dan perbaikan pendidikan di banyak negara.
Tujuan dari kajian ini adalah mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan yang
dimiliki oleh sistem pendidikan di kedua negara. Mengkaji perbedaan tersebut
berdasarkan prinsip studi perbandingan dan pada gilirannya diharapkan mampu
memperoleh hasil-hasil kaji banding yang mampu memberikan kontribusi berupa saran
bagi upaya pengembangan sistem pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik.

1.2.

Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka masalah yang
dirumuskan adalah :
a Bagaimana sejarah perkembangan guru di Jerman ?
b Bagaimana sejarah perkembangan pendidikan di Jerman ?
c Apa filsafat dan tujuan pendidikan di Jerman ?
d Bagaimana persyaratan menjadi guru dan peningkatan karir guru di Jerman ?
e Bagaimana sistem penggajian guru di Jerman ?
f Bagaimana sistem pendidikan di Jerman ?
g Bagaimana perbandingan sistem Pendidikan di Jerman dan di Indonesia ?

1.3.

Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui perkembangan
sejarah guru dan sistem pendidikan yang ada di Jerman dan mengetahui perbedaan
antara sistem pendidikan yang ada di Jerman dengan sistem pendidikan yang ada di
Indonesia.

1.4.

Sistematika Penulisan.
Sistematika yang dibuat ini dimaksudkan untuk mempermudah pembahasan
dan penyusunan. Dalam makalah ini dibagi menjadi tiga bab yang terdiri dari :
BAB I. Pendahuluan. Bab ini meliputi latar belakang masalah, , perumusan masalah,
tujuan masalah, dan sampai terakhir pada sistematika penulisan.
BAB III. Pembahasan. Pada bab ini dibahas secara keseluruhan tentang masalah yang
akan dibahas.
BAB III. Penutup. Sebagai bab terakhir yang memuat kesimpulan dari pembahasan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah guru di Jerman


Pada saat kekaisaran Roma tidak kunjung berhasil untuk mendapatkan kontrol
politik atas sebagian bangsa Jerman, di saat bangsa Franka dan kepala dinasti
2

Merovingian berhasil memperluas daerah kekuasaannnya hingga Elba dan sebagian


besar wilayah yang kini menjadi wilayah Prancis, Low Country dan Jerman Barat. Di
sisi lain Gereja Roma mengerahkan segala daya dan upayanya untuk mendirikan
sekolah di pusat-pusat populasi utama Jerman dengan mengelola sekolah biara. Tidak
terlepas dari kepentingan pendidikan gereja itu sendiri maka pendidikan yang
dibangunnya hanya meliputi pendidikan pendeta dan pendidikan rakyat bisa tidak di
cakup.
Beriringan dengan

itu

maka sekolah-sekolah

latin kotapraja

mulai

bermunculan yang mendukung pada bidang studi Yunani dan Latin Klasik sehingga
memunculkan jenis khas sekolah yang dikenal sebagai Gymnasium yang nantinya
jenis sekolah ini akan menjadi standar ukuran sekolah menengah di Jerman samapai
sekarang.
Pada pergantian abad, sebuah komisi kerajaan dibentuk untuk melaporkan
perkembangan sekolah, dan alhasil mutu dari sekolah-sekolah yang tersedia memiliki
mutu yang sangat rendah dan jauh dari apa yang diharapkan. Maka strategi yang
diambil adalah guru diharuskan untuk mengerjakan suatu keterampilan agar
memperoleh biaya hidup. Oleh sebab itu para guru sering menggunakan toko atau
tempat kerja untuk melakukan kegiatan belajar mengajar serta mangawasi muridmuridnya dengan bekerja. Selain itu Oberschulkollegium (badan pengurus sekolah)
yang dirasa kurang efektif diganti dengan instansi nasional atau kementrian
pendidikan.
Komite pendidikan memusatkan kegiatan belajar mengajar pada jenjang
sekolah dasar dan menengah (Schulkollegnen). Dari komite ini muncul dua prosedur ,
yaitu :
1. Mempersyaratkan guru mendapatkan ijazah dari Schulkollegnen dengan
menetapkan program studi yang harus dipelajari oleh calon-calon guru di
universitas serta mempersiapkan dan melaksanakan ujian ijazah.
2. Mempersyaratkan ujian seragam untuk mengatur mengatur penerimaan ke
universitas dan dilaksanakan pada tingkat provinsi. Schulkollegnen juga
berperan untuk melakukan pelatihan atas guru sekolah dasar, tetapi
pemerintah pusat berperan aktif dan mengamban suatu tanggung jawab
keuangan termasuk biaya untuk mengatur seminar guru.
Pada tahun 1809 pemerintah mengirimkan beberapa tenaga pendidik negeri
melatih para guru yang berada diatas pendidikan swasta. Hasil dari pelatihan itu
merupakan guru institusi negeri yang di bawah kontrol kementrian. Kurikulum dan
3

program pelatihan dibakukan, langkah-langkah baru diambil untuk memastikan


bahwa institusi itu akan menghasilkan guru baru yang terlatih secara seragam menurut
metodologi sistematis yang diadopsi dari Pestalozzi. Semua guru ini selanjutnya
diwajibkan memiliki ijazah dan diperkenalkan sebuah ujian kualifikasi negara guna
mengevaluasi kecakapan akademik dan kecakapan pedagogik dan kurikulumnya
mencakup pendidikan umum dan studi pedagogik.
B. Sejarah Perkembangan Pendidikan di Jerman
Dalam membincangkan perkembangan pendidikan di Jerman ini ada beberapa
periode yang berpengaruh di dalamnya.
1. Republik Weimar
Konstitusi Weimar yang disahkan pada 1918, mendirikan sebuah federasi negara
bagian berbentuk republic, dan dalam hal ini pendidikan dijadikan sebagai kegiatan
kerjasama antara pemerintah federal, negara bagian, dan kotapraja yang berbagi
tanggung jawab dan kekuasaan. Saat itu diperkenalkan pendidikan dasar empat
tahun di Grundschulen untuk semua anak. Selain itu regulasi yang berhubungan
dengan hati nurani dan menjadikan pendidikan agama sebagai mata pelajaran
pilihan baik bagi guru maupun murid.
2. Periode Nazi
Pada 1933 Nazi mengambil alih kontrol atas Jerman dan menyapu bersih semua
prestasi yang dicapai Republik Weimar. Di bawah kendali Nazi, bentuk
pemerintahan terpusat pertama kali diperkenalkan dan satu-satunya dalam sejarah
Jerman. Pendidikan dijadikan tujuan nasional dan diperkenalkan sebuah sistem
sekolah terpadu yang di mulai dari taman kanak-kanak sampai unversitas. Sekolah
menengah dipilih sebagai sekolah pelatihan untuk para pemimpin orde baru ini dan
kurikulum dirombak sepenuhnya untuk memenuhi tujuan itu. Pendidikan Nazi
menekankan doktrin ras, supremasi Jerman dan keharusan untuk menghukum siapa
saja yang melakukan kejahatan yang dilakukan untuk menentang rakyat Jerman.
Selain itu bahasa Latin dan Yunani dibatasi , bahasa Inggris dijadikan bahasa asing
utama.
3. Setelah Perang Dunia II
Setelah Perang Dunia II, Jerman terbagi menjadi dua bagian yakni Jerman Barat
dan Jerman Timur. Pendidikan di Jerman Barat lebih mengacu pada pendidikan
terpadu, hal ini dibuktikan denga menculnya kembali Grundschulen empat tahun

wajib sekolah yang diikuti oleh semua anak. Dan banyaknya inovasi yang
dilakukan akhirnya empat tahun menjadi enam tahun wajib belajar.1

C. Filsafat dan Tujuan Pendidikan di Jerman


Berdasarkan sejarah, pendidikan di Jerman berasal dari dua sumber, gereja dan
negara. Pengumuman resmi mengenai wajib belajar pada beberapa daerah semenjak
akhir abad ke- 17 dapat dianggap sebagai penenda resmi bahwa masalah pendidikan
adalah tanggung jawab negara. Semenjak itu pengaruh gereja secara umum
berkurang. Maka masalah pendidikan mulai saat itu terletak terutama pada kekuatan
politik-para guru, orang tua, siswa/ mahasiswa sebagai kelompok yang langsung
terlibat untuk menentukan keadaan pendidikan, serta perubahan-perubahan dalam
sistem pendidikan dan mereka memandang pendidikan sebagai modal utama untuk
membangun ekonomi dan ideologi negara tersebut.2

D. Sistem Pendidikan Jerman


Pada mulanya, pendidikan di Jerman senantiasa dipengaruhi oleh dua lembaga besar,
yaitu negara dan agama, dalam hal ini gereja. Selain itu, negara bagian juga ikut mengklaim
wewenang untuk mengatur sistem pendidikan secara mandiri. Sejak dikumandangkannya
wajib belajar pada abad ke-17, masalah pendidikan lambat laun mulai beralih menjadi
kewajiban negara (Nur Syah 2001:156).
Undang-undang dasar menjamin hak setiap orang untuk secara bebas mengembangkan
kepribadiannya dan memilih sekolah, pendidikan kejuruan dan pekerjaan sesuai dengan
keinginan dan kemampuannya. Berdasarkan tata negara federal Jerman, kewenangan
1 Arif Rohman, Pendidikan Komparatif ; Menju ke Arah Perbandingan Antar Negara, (Yogyakarta :
Laksbang Mediatama, 2010), hal. 124.
2 Arif Sugianto, Membangun Pendidikan Negara,
http://www.uny_repository.ac.id/perbadinganpendidikanantarnegara.html . 2008.
Diakses pada tanggal 25 oktober pukul 21.15 wib.
5

pendidikan dibagi menjadi federasi dan negara bagian. Negara bagian terutama bertanggung
jawab untuk sekolah umum dan sekolah kejuruan serta taman kanak-kanak.
Struktur sistem pendidikan Jerman secara formal meliputi: pendidikan dasar (primary
education), pendidikan menengah (lower secondary education), dan pendidikan tinggi. Wajib
sekolah/belajar di Jerman berlaku sembilan atau sepuluh tahun, dengan normal anak masuk
sekolah pada usia enam tahun. Namun demikian, sebagian anak-anak Jerman ada yang
mengikuti pendidikan pra-sekolah (Kindergarten) secara sukarela pada usia 3-5 tahun3.
Adapun sistem pendidikan di Jerman dapat divisualisasikan sebagai berikut.

Struktur Sistem Pendidikan di Jerman


Kindergarten (Taman Kanak-Kanak) dimulai dari umur 3-6 Tahun. Pendidikan ini
dinamakan "Vorschulische Einrichtungen", yang berarti "Persiapan sebelum Pendidikan".
Konsep taman kanak-kanak di Jerman banyak ditiru oleh negara lain. Oleh sebab itulah,
tingkatan sekolah ini di beberapa negara tetap mengadopsi nama Jermannya Kindergarten.
Penyelenggara taman kanak-kanak paling banyak adalah gereja-gereja, organisasi sosial dan
komune, kadang-kadang juga perusahaan dan perkumpulan.

3 Siyatma, Perbandingan Sistem Pendidikan Di Beberapa Negara (Saudi Arabia, Germany, Finlandia,
Amerika Serikat, Australia dan Sudan),
https://www.academia.edu/7874306/Perbandingan_Sistem_Pendidikan_di_Beberapa_Negara_Saudi_
Arabia_Germany_Finlandia_Amerika_Australia_Sudan_, 2014, Diakses pada tanggal 22 Oktober
2015, pukul 20.00 WIB.
6

Setelah Kindergarten, dimulai pendidikan dasar (primary school) dengan lama


pendidikan umumnya 4 tahun (usia 6-9 tahun) kecuali ibu kota Negara (Berlin) melaksanakan
sistem 6 tahun, sementara beberapa negara bagian yang lain melaksanakan pengajaran
tambahan 2 tahun pada grade 5 dan 6 dalam suatu lembaga perantara yang memberikan
berbagai jenis pelajaran sebagai persiapan masuk ke program-program sekolah menengah.
Negara bagian lain menyediakan bentuk yang lain pula dengan memberikan pelajaranpelajaran khusus pada grade 5 dan 6, dan siswa dapat dengan mudah pindah dari sekolah satu
ke sekolah yang lainnya sesuai dengan program yang diinginkan. Sekolah menengah (lower
secondary

education)

di

Jerman

dapat

dibedakan

menjadi

jenis,

yaitu

Hauptschule/Restschule, Realschule/Mittelsvhule, Gymnasium dan Gesamtschule4.


Untuk memasuki Hauptschule, Realschule atau Gymnasium, seseorang harus melalui
"Orienterungsstufe" (Tahapan Orientasi). Di tahap ini diteliti bakat dan kemampuan dari
anak, dan tahap ini menentukan kemana tujuan seorang anak selanjutnya. Hauptschule dan
Realschule lebih ditekankan kepada anak yang ingin langsung kerja bila telah menyelesaikan
sekolah5. Hauptschule/Restschule merupakan jenis sekolah menengah yang memberikan
pengajaran yang diarahkan untuk memasuki pemagangan setelah siswa menerima sertifikat
tamat belajar. Program ini memberikan pelajaran khusus untuk mempersiapkan siswa
menghadapi kariernya di masa mendatang, dan juga mengajarkan bahasa asing (biasanya
bahasa Inggris). Program Hauptschule dikategorikan sebagai program yang paling ringan
tuntutan akademiknya di Jerman pada grade 7 sampai 9. Tentu saja setelah melalui
pendidikan di "Berufsfachschule" atau "Fachoberschule". Bagi yang ingin melanjutkan ke
Universitas, jalan tercepat adalah melalui Gymnasium. Jalan pendidikan lain juga dapat
mengikuti kuliah di universitas, tapi dengan melalui jalan yang panjang. Misal harus
melakukan praktek kerja dahulu selama sekian tahun.
Realschule merupakan program sekolah yang mempersiapkan siswa untuk memasuki
karier sebagai pegawai atau buruh kelas menengah. Program ini memiliki tuntutan akademik
yang lebih tinggi daripada haupschule. Semenjak tahun 1970-an, tamatan sekolah ini telah
menjadi persyaratan untuk memasuki program-program pemagangan. Sertifikat dari sekolah
ini juga menjadi kunci untuk memasuki berbagai jalur pendidikan yang lebih tinggi6.

4Ibid.,
5Op.Cit.,
7

Gymnasium, bertujuan untuk mempersiapkan siswa ke pendidikan tinggi, walaupun tidak


semua lulusannya melanjutkan ke perguruan tinggi. Pada grade 5 sampai 10, isi kurikulum
bervariasi sesuai dengan jenis sekolah yang dimasuki. Mulai grade 11, siswa dapat memilih
spesialisasi dalam susunan yang agak rumit. Setelah berhasil menyelesaikan ujian pada grade
13 siswa berhak memasuki perguruan tinggi7.
Gesamtschule merupakan sekolah yang menekankan program secara komprehensif bagi
semua anak dalam suatu bidang, dan anak-anak akan memperoleh sertifikat yang berbeda
sesuai dengan bidang yang dipilihnya. Namun karena terjadi banyak kontroversi pada
program sekolah jenis ini, maka tidak semua daerah yang membuka sekolah ini (hanya
dibuka di daerah yang beraliran sosial demokrat).
Sebelum memasuki kuliah, para pria di Jerman diwajibkan untuk memasuki "Wajib
Militer". Bila seseorang dengan alasan kesehatan tidak dapat mengikuti "Wajib Militer" maka
sebagai gantinya ia harus menjalani "Zivilliansdienst" atau lebih dikenal dengan Zivis. Zivis
ini bekerja di rumah sakit, badan sosial ataupun badan pendidikan dari pemerintah8.
Di Jerman dikenal ada dua jenis pendidikan tinggi utama: yaitu Fachhochschule dan
Universitt. Tidak ada persyaratan program tertentu untuk memasuki universitas, dan tidak
ada perbedaan yang jelas antara program sarjana dan program pascasarjana. Sertifikat
Pertama dapat diperoleh setelah 4 atau enam tahun pelajaran. Fachhochschule yang sering
disebut juga FH ini mirip semacam politeknik di Indonesia, yaitu lembaga pendidikan yang
menekankan pada bidang aplikasi. Studi di Fachhochschule tak dapat mencapai gelar doktor
dan pendidikan di sini ditujukan bagi mereka yang ingin terjun ke industri langsung. Jenis
pendidikan tinggi lainnya Pedagogische Hochschule adalah Musikhochschule (untuk bidang
musik), (untuk bidang pendidikan, mirip IKIP dahulu) dan Kunsthochschule (untuk bidang
seni). Sistem Universitt (Universitas) di Jerman, berbeda dengan di Indonesia, tidak ada
6 Siyatma, Perbandingan Sistem Pendidikan Di Beberapa Negara (Saudi Arabia, Germany, Finlandia,
Amerika Serikat, Australia dan Sudan),
https://www.academia.edu/7874306/Perbandingan_Sistem_Pendidikan_di_Beberapa_Negara_Saudi_
Arabia_Germany_Finlandia_Amerika_Australia_Sudan_, 2014, Diakses pada tanggal 22 Oktober
2015, pukul 20.00 WIB.
7 Ibid.,
8 Cecep Wahyu Hoerudin, dkk, Studi Pendidikan Mancanegara Jerman dan Indonesia,
http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_JERMAN/195906231987031SETIAWAN/Studi_Pend_Mancanegara_Ind-Jerman.pdf, 2009, Diakses pada tanggal 22 Oktober
2015, pukul 19.00 WIB.
8

"panduan" ketat per semesternya, dan urutan mata kuliah A, B, C, dst. Hal ini berarti bahwa
mahasiswa dituntut harus dapat menentukan sendiri, kuliah, latihan, seminar, ujian yang akan
diikutinya, dll. Hal ini secara langsung memberikan "kebebasan yang sangat besar", tapi bisa
juga menjerumuskan" mahasiswa ke kondisi kelewat santai (banyak beberapa mahasiswa
Indonesia yang terjebak ke situasi ini, dimana sudah 8 tahun tapi belum ujian apa-apa, karena
keasikan kerja atau kesibukan lainnya). Mahasiswa benar-benar dituntut untuk mandiri
menentukan apa yang ingin dia pelajari, ujian yang dia ikuti, dan apa yang dia lakukan dan
dia inginkan. Terkadang perkuliahan dilakukan dalam ruang auditorium besar (sampai 600
siswa), sehingga kesiapan "mental" mahasiswa untuk belajar mandiri perlu benar-benar
dipertimbangkan bila memilih kuliah di Universitas. Kuliah rata-rata dilakukan dalam bahasa
Jerman. Walau demikian di beberapa Universitas (seperti di Universitas Bielefeld, Universitas
Bremen, dll) ada juga beberapa kuliah yang dilakukan dalam bahasa Inggris9.
Model perkuliahan tersusun dari Vorlessung (perkuliahan), Seminar (semacam diskusi
dalam ukuran kecil atau dalam kelompok kecil), dan bung (latihan). Ujian dilakukan
langsung dengan Profesor yang bersangkutan. Rata-rata ujian bersifat lisan, walau ada juga
yang diberikan secara tulisan. Sistem ujiannya juga bervariasi ada yang diperbolehkan
mengulang (untuk mata kuliah yang tidak lulus), namun sering juga hanya sekali saja (boleh
mengulang namun tahun berikutnya. bukan semester berikutnya).
Sistem Fachhochschule (nama internasionalnya sekarang sering disebut sebagai
University of Applied Science) lebih diatur secara ketat mirip dengan sistem perkuliahan di
Indonesia, misal urutan perkuliahan, praktek, dan lain sebagainya. Berdasarkan dua lembaga
pendidikan tinggi tersebut, mana yang lebih baik dan cocok, ini bergantung dengan tujuan
sekolahnya. Fachchochschule rata-rata disukai oleh orang Jerman yang ingin langsung
bekerja di industri, sedangkan Universitas lebih disukai bagi mereka yang ingin berkarir di
bidang riset dan pengembangan, atau di bidang akademik.
E. Perbedaan Sistem Pendidikan Jerman dan Indonesia
Secara umum sistem pendidikan Jerman dan sistem pendidikan Indonesia tidak
mempunyai perbedaan yang signifikan. Sistem pendidikan dibangun di atas prinsip
pendidikan dan keilmuan yang relatif sama, namun dengan ideologi dan kekhasan budaya

9 Ibid.,
9

yang berbeda. Berikut adalah beberapa catatan sederhana mengenai kajian banding sistem
pendidikan di antara dua negara tersebut10.
No.
1

Permasalahan
Pendidikan
Pendanaan

Perbandingan
Jerman

Pembebasan biaya

Indonesia

Walaupun biaya SPP

pendidikan dilakukan

bebas, masyarakat masih

melalui kebijakan subsidi

mengeluhkan besarnya

silang. Kebijakan ini

biaya lain yang harus

terbukti ampuh

dibayarkan dalam

meningkatkan partisipasi

menempuh pendidikan

penduduk Jerman yang

dasar.

berimbas pada angka


human developtment
index yang

membanggakan.
Masalah pendanaan
pendidikan juga akan
berimbas langsung
terhadap ketersediaan
sarana dan prasarana
pendidikan. Salah satu
daya tarik pendidikan
Jerman adalah tersedianya
semua sarana yang
dibutuhkan untuk
melatihkan keterampilan,
praktek pendidikan, dan

pendukung keilmuan.
Sistem pendidikan Jerman

Di Indonesia, pembagian

Sistem

biasa kita lihat bahwa

alur dimulai sejak masuk

Pendidikan

sistem menyediakan

sekolah menengah atas,

Nasional

pilihan yang

dimana pendidikan

komperhensif bagi siswa,

terbagi menjadi dua jalur,

Metode dalam

10 Ibid.,
10

apakah mau menjadi

yaitu sekolah menengah

ilmuwan atau menjadi

kejuruan dan sekolah

seorang yang siap kerja


dengan keahlian khusus

menengah atas.
Tingkat SMP masih

setelah melalui

bersifat tahu sedikit dari

pendidikan. Semua siswa

banyak bidang.

melalui tes penentuan

Pendidikan juga masih

minat bakat terlebih

diwarnai oleh hal-hal

dahulu sebelum kemudian

yang bersifat trivial

memilih jalur sekolah

semacam kesibukan

yang akan diambil. Hasil

siswa SD menghafalkan

tes menjadi bahan

nama-nama menteri

pertimbangan bagi siswa

dalam kabinet yang

dan orang tuanya untuk

kadang akhir-akhir ini

menentukan pilihan.

pergantiannya lebih cepat

Kelemahan dari sistem

dibandingkan kecepatan

Jerman ini adalah beban

siswa SD menghafalkan

memilih yang sudah

nama seluruh menteri

diberikan sejak siswa

dalam satu kabinet.

lulus Grundstuffe,
sehingga di usia muda
mereka sudah harus tahu
arah pendidikannya mau
ke mana. Meskipun
begitu, sistem pendidikan
Jerman juga menyediakan
kemungkinan siswa yang

ingin mencoba keduanya.


Keuntungan lain dari
pembagian ini adalah
terfokusnya pengetahuan
atau keterampilan siswa
akan satu hal. Jadi siswa
mempunyai pengetahuan
11

yang mendalam di satu


atau beberapa bidang
3

Nilai Sikap

tertentu.
Nilai pertama yang

Pendidikan nilai di

mereka tanamkan adalah

Indonesia memang

kemauan yang kuat,

memiliki alokasi yang

kesiapan untuk bekerja

minim. Sebagai contoh,

keras dan keyakinan akan

selama 4 tahun kuliah di

urgensi pendidikan.

pendidikan tinggi di

Ketiga nilai ini masih

Indonesia, pembelajaran

menjadi tradisi yang

nilai umumnya hanya

mengakar kokoh dalam

selama 2 sks dalam satu

budaya pendidikan

semester. Menurut

Jerman, sehingga sulit

beberapa pengamat

kita menemukan

pendidikan, sistem

fenomena dosen atau

pendidikan di Indonesia

siswa yang terlambat

masih membuat

masuk kelas atau

pengdikotomian terhadap

kelompok mahasiswa

pendidikan nilai dan

yang berkerumun

pendidikan sekuler.

mengobrol di tangga

Pendidikan nilai umum

gedung-gedung

diajarkan di pesantren

perkuliahan. Sikap

misalnya, dan tidak

mandiri juga tercermin

terintegrasi dengan

dalam tata kurikulum

pendidikan di lembaga

yang terbuka, dan

non-keagamaan. Di

mempersilakan

lembaga pendidikan

sepenuhnya kepada

formal non-keagamaan

mahasiswa, mata kuliah

pun, penanaman sikap

mana yang akan

dinilai kurang. Siswa dan

dikontrak dan kapan.

guru lebih terfokus pada


nilai raport dan UN,
sehingga nilai menjadi
segala-galanya di
12

Manajemen
Pendidikan

kontribusi masyarakat

Indonesia.
Keterlibatan masyarakat

sudah menjadi budaya

dalam pendidikan masih

yang mengakar dalam

kurang. Hal ini didorong

dunia pendidikan.

oleh anggapan bahwa

Partisipasi aktif ini

pendidikan sepenuhnya

muncul dari keyakinan

adalah tanggung jawab

bahwa pendidikan

pemerintah dan bukan

merupakan hal yang

masyarakat. Hal ini

sangat urgen, sehingga

menjadi sulit mengingat

tidak mau mengambil

berbagai keterbatasan

resiko membahayakan

yang dimiliki pemerintah

kualitas pendidikan.

menghambat terwujudnya
sistem pendidikan yang
ideal dalam ranah konsep

Sistem

Sistem pendidikan Jerman

dan teknis.
Sistem pendidikan di

Barat adalah desentralisasi

Indonesia adalah sentralisasi,

sedangkan Jerman Timur

namun dalam

adalah sentralisasi.

penyelengaraannya satuan
dan kegiatan pendidikan
dilaksanakan secara

Jenjang

7
8

Wajib Belajar
Waktu yang

Pendidikan Dasar
Pendidikan Menengah
1. Hauptschule/Restschul
2. Realschule/Mittelsvhule
3. Gymnasium
4. Gesamtschule
Pendidikan Tinggi
1. Fachhochschule
2. Universitt
9 atau 10 tahun
13 tahun

desentralisasi.
SD
SMP
SMA
Perguruan Tinggi

12 tahun
12 ahun

Diperlukan
Sebelum Ke
Jenjang
13

Perguruan Tinggi
F. Persyaratan Menjadi Guru dan Peningkatan Karir Guru di Jerman
1 Pendidikan Guru
Pemerintah Jerman sangat memperhatikan kualifikasi guru. Menjadi guru di
Jerman mungkin sama sulitnya untuk menjadi dokter. Relevansi keahlian guru dengan
mata pelajaran yang diajarkan, kualitas pengajar dan kesejahteraan yang diperoleh
guru merupakan hal yang sangat diperhatikan dalam pengambilan kebijakan di Jerman.
11

Lembaga pendidikan keguruan di Jerman awalnya merupakan institusi yang berdiri


sendiri dan dinamakan Akademi Ilmu Keguruan atau Pdagogische Hochschule (PH)
yang

merupakan jenis pendidikan tinggi semacam Institut Keguruan dan Ilmu

Pendidikan (IKIP) di Indonesia yang bertujuan untuk menghasilkan guru-guru


terutama untuk tingkat Sekolah Dasar (Primary Education) dan Sekolah Menengah
(Secondary Education). Kini di Jerman hampir tidak ada perguruan tinggi ilmu
pendidikan yang berdiri sendiri, setidaknya terdapat 11 jenis pendidikan tinggi seperti
ini, Di beberapa negara bagian di Jerman seperti Bayern, Berlin, Bremen, Hamburg,
Hessen, Niedersachsen, Nordrhein-Westfalen dan Saarland pendidikan guru secara
khusus ini telah dihapuskan dan diubah menjadi universitas atau merupakan fakultas
tersendiri di dalam institusi universitas. Hanya beberapa universitas yang masih
diberikan kewenangan untuk memberikan Diplom bidang pendidikan (Diplom Pd)
dan Doktor der Erzeihungswissenschaften (Dr. Pd) atau Doktor der Philosophie (Dr.
Phil) terutama dalam bidang pendidikan dan metodologi pengajaran, diantaranya
adalah PH di Baden-Wurttemberg, Rheinland-Pfalz dan Schleswing-Holstein.
Tugas perguruan tinggi ilmu pendidikan (PTIP) atau Pdagogische Hochschule
(PH)

adalah mendidik guru untuk sekolah dasar, sekolah umum (Hauptschule),

sekolah menengah (Realschule) dan sekolah luar biasa (Sonderschule). Yang terakhir
tidak hanya untuk anak-anak yang memiliki cacat mental dan fisik, akan tetapi juga
yang mengalami kesulitan belajar. PH tidak mendidik guru untuk sekolah Gymnasium.
Beberapa perguruan tinggi ilmu pendidikan juga memberikan pendidikan bagi yang
ingin menjadi guru kejuruan. Disamping mata pelajaran yang akan diajarkan kelak,
mata kuliah di PH mencakup dasar-dasar pengetahuan ilmiah, ilmu pendidikan umum,
11Setiawan, Studi Pendidikan Mancanegara Indonesia dan Jerman, file.upi.edu/Direktori/FPBS/I
UR_PEND_BAHASA_JERMAN/195906231987031-SETIAWAN/Studi_Pend_Mancanegara_IndJerman.pdf , 2012, diunggah pada tanggal 25 Oktober 2015 pukul 07.11 WIB
14

ilmu pendidikan sekolah dan psikologi. Selain mata pelajaran pilihannya mahasiswa
diharuskan mengambil pelajaran keterampilan seperti musik, melukis dan sebagainya.
Persyaratan studi di perguruan tinggi adalah ujian akhir sekolah menengah atas
yakni Abitur (ujian akhir yang paling sulit di sekolah Jerman). Bagi mahasiswa yang
ingin menjadi guru seni rupa, seni musik atau olah-raga harus mengikuti ujian bakat.
Program studi ilmu pendidikan berbeda-beda di setiap negara bagian, ada program
ujian negara atau master. Abitur yang berasal dari bahasa Latin Abire berarti
meninggalkan adalah ujian akhir yang harus dilalui saat menyelesaikan sekolah
menengah. Selain di Jerman, beberapa negera seperti Finlandia dan Estonia juga
memberlakukan Abitur sebagai ujian akhir di sekolah. Abitur dilakukan pada tingkat
kelas 12 atau 13. Umumnya siswa di Jerman akan mendapatkan sertifikat The Zeugnis
der Allgemeinen Hochschulreife atau disebut juga Abiturzeugnis saat siswa lulus dalam
ujian akhir. Jika telah memiliki sertifikat ini, memungkinkan siswa untuk mendaftar di
universitas. Sertifikat ini biasanya diakui di negara-negara Uni Eropa, jadi bukan hal
yang tidak mungkin siswa yang melamar di universitas adalah dari negara-negara lain.
Jikapun tidak memiliki sertifikat tersebut, maka siswa harus mengikuti sekolah
kembali untuk mendapatkan ijazah kesetaraan. Berbeda dengan Indonesia yang
menerapkan ujian bersama masuk perguruan tinggi negeri. Siswa di sana boleh
melamar langsung ke universitas, dan universitas akan langsung memutuskan
berdasarkan nilai Abitur yang diraihnya. Kualitas pendidikan di Jerman yang hampir
rata diseluruh negara bagian, membuat hal tersebut mungkin untuk dilakukan. Bahkan
untuk menjamin kualitas pendidikan yang merata, setiap anak wajib masuk ke sekolah
terdekat. Jikapun siswa memilih untuk belajar di sekolah lain, maka harus ada
pengajuan permintaan khusus yang disertai dengan alasan-alasan mengapa memilih
sekolah tersebut. Guna mendukung kualitas pendidikan, pemerintah Jerman menjaga
kualitas pendidikan para calon guru di universitas agar guru yang dihasilkan memiliki
standar kualitas yang sama.12
Setelah diterima di universitas pendidikan yang dilamar oleh calon mahasiswa. Ia
boleh memilih dua sampai tiga subyek bidang studi yang diinginkan untuk mengajar di
masa depan. Selain mempelajari mata kuliah dari subyek yang dipilih, mahasiswa
pendidikan juga mendapatkan mata kuliah didaktik dan pedagogi. Bagi mahasiswa
yang memilih dua subyek bidang studi, harus menempuh pendidikan antara 4,5 tahun
12 Agustiar Syah Nur, Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara, (Bandung:Lubuk Agung, 2001),
hlm.98
15

sampai 5,5 tahun. Jika memilih tiga subyek bidang studi, maka harus menambah satu
tahun masa studi. Studi biasanya diakhiri dengan suatu ujian negara (Staatsexamen),
dimana mereka diharuskan membuat semacam tesis yang disebut Staatsexamen
Arbeit di universitas masing-masing. Ujian Negara Pertama tersebut mencakup tesis
akhir, serta ujian tertulis dan lisan dari teori subyek studi pendidikan dan didaktik
sehingga setelah itu akan mendapatkan gelar diplom. Selama masa studi, mereka juga
harus menyelesaikan tiga bulan kerja praktek di sekolah.13
Untuk semua jurusan ditetapkan empat hari praktek kerja (satu kali seminggu
dalam satu semester) dan dua blok praktek kerja, masing-masing selama empat
minggu pada saat libur semester. Banyak mahasiswa merasakan praktek kerja sebagai
kesempatan untuk melihat apakah mereka memilikijiwa guru dan mampu melakukan
tugas-tugas guru dengan baik. Menjelang akhir studi, selama 18 bulan mahasiswa PH
harus melakukan praktek kerja akhir di sekolah. Tahap ini adalah yang terakhir untuk
mempersiapkan diri sebelum memasuki dunia kerja sebagai guru.
Seseorang yang akan menjadi guru di Gymnasium dan sebagian guru-guru
spesialis untuk bidang keuangan akan dididik di tingkat Universitas (S1), dengan
tekanan utama bidang keahlian daripada bidang keguruan. Namun demikian. sejak
tahun 1960, telah mulai dicanangkan persyaratan kualifikasi yang sama untuk semua
guru, minimal telah di didik di Universitas. Untuk meningkatkan kemampuan guru
2

dalam menerapkan metode mengajar ditempuh melalui in-service training.14


Pelatihan Praktik
Setelah sebuah menyelesaikan studi akademis, para calon guru harus mencapai
fase pendidikan ke dua disebut Referendariat dan diakhiri dengan State Examination
Kedua, berlangsung 1,5 atau 2 tahun ketika mereka dibayar gaji kecil. Pada tahap ini,
mereka harus menghadiri dan memberikan pelajaran di sekolah di bawah instruksi
dari guru pembimbing dan para pemimpin pedagogik dan ilmu seminar pendidikan.
Selama fase ini para calon guru harus melewati beberapa ujian pelajaran dan pada
akhir ujian lisan berbatasan pedagogi dan metode pengajaran sesuai subjek mereka.
Selain itu, mereka harus menulis laporan tentang metode pengajaran dan pelajaran

13 Katarzyna Przegietka and Jzefina Turlo, School System and Teacher Training Germany,
www.helsinki.fi/luma/eutrain/outputs/teacher_education_germany.pdf , 2014, diunggah pada tanggal
25 Oktober 2015 pukul 8.45 WIB
14 Ali Muhtadi, Studi Komparatif Sistem Pendidikan di Jerman dan Korea Selatan,
https://www.academia.edu/5003768/STUDI_KOMPARATIF_SISTEM_PENDIDIKAN, 2008,
diakses pada tanggal 25 Oktober pukul 13.48 WIB
16

perencanaan dengan hormat dari praktek mereka sendiri. Adapun struktur pelatihan
guru yang diselenggarakan pelaksanaanya bervariasi dimasing-masing Lnder.
Masing-masing Lnder memiliki tanggung jawab berbeda untuk pendidikan guru.
Setelah lulus dari ujian kedua, baru kita benar-benar dinyatakan sebagai guru secara
resmi.15
Sulit dan lamanya menjadi guru di Jerman bukan tidak mungkin adalah semata
untuk menjaga kualitas dari pendidikan di Jerman itu sendiri. Seperti yang diketahui,
guru merupakan ujung tombak dari kualitas pendidikan suatu negara. Sehingga
kualitas yang dihasilkan bergantung pada kualitas guru itu sendiri. Umumnya semua
kebijakan dapat dilaksanakan dengan baik. Hal ini terjadi karena adanya kesadaran
yang tinggi di antara para penggiat pendidikan, rasa tanggung jawab yang dimiliki
3

semua elemen masyarakat dan pengawasan yang mapan.


Evaluasi, Sertifikasi
Seperti halnya dengan semua program studi di pendidikan tinggi, sertifikat tertentu
diperlukan untuk masuk ujian dan ujian menengah harus diambil dalam kursus
pelatihan guru. Perinciannya telah diatur oleh Peraturan studi dan ujian
(Studienordnung dan Prfungsordnungen). Pendidikan mengajar ditentukan dengan
ujian yang dikenal sebagai First State Examination pertama yang memberikan hak
kepada pemegangnya untuk dapat diterima dalam tahap Pelayanan Persiapan (State
Preparatory Service).
Preparatory Service diakhiri dengan State Examination Kedua setelah tahap kedua
dari proses pendidikan guru. Sertifikat tersebut akan berguana bagi calon guru untuk
bisa diterima Zweites Staatsexamen - adalah prasyarat untuk pekerjaan tetap dalam
karir mengajar, namun tidak menjamin posisi mengajar.
individual telah mencapai perencanaan atau tahap pengujian untuk pelaksanaan
struktur berturut-turut program studi dengan Bachelor dan gelar Master dalam
pelatihan guru tetap menjaga tanggung jawab negara untuk ujian akhir.

Pelatihan Guru pada Tingkat Bachelor dan Master


Dalam kesepakatan Maastrich 1992, semua negara Uni Eropa harus mengakui
kesamaan gelar dan keprofesian yang diberikan oleh Universitas maupun lembaga
profesi di negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Kesepakatan itu
diperbaharui melalui Kesepakatan Bologna tahun 1999, dimana semua negara Uni

15 Claudia Unseld, Perguruan Tinggi Ilmu Pendidikan di Jerman, http://www.dw.com/id/perguruantinggi-ilmu-pendidikan-di-jerman/a-17082530, 2013, diakses pada tanggal 24 Oktober 2015 pukul
01.03 WIB
17

Eropa sepakat menyesuaikan sistem pendidikan antar negara-negara dikawasan Uni


Eropa. Salah satu isi dari Kesepakatan Bologna 1999 tersebut adalah semua negara
Uni Eropa akan mengkonversi sistem pendidikan tingginya menjadi tiga jenjang
Bachelor-Master-Doktor. Bachelor merupakan gelar kesarjanaan pertama yang
diberikan oleh Universitas, dimana pemilik gelar tersebut diyakini telah siap
memasuki dunia kerja dengan masa studi 3-4 tahun. Sedangkan Master adalah
program pendidikan lanjutan setelah Bachelor dengan masa studi selama 2 tahun. Saat
ini di hampir semua universitas di Jerman memiliki jenjang Bachelor-Master.
Saat ini, remodulisasi terdiri atas studi universitas serta layanan persiapan yang
dikurangi menjadi 12 bulan karena pengkreditan praktek pelatihan pedagogik. Periode
praktek pelatihan diintegrasikan ke dalam program studi, sedangkan durasi waktu
yang disediakan untuk pelatihan akademik akan tetap tidak berubah. Hal ini
dimungkinkan dengan cara struktur berturut-turut dan modular studi: kursus studi
Bachelor tiga tahun di dua bidang subyek tertentu yang relevan dan dalam ilmu
pendidikan. Mahasiswa menerima pelatihan untuk jenis tertentu dari sekolah dan
pelatihan independen umum dari jenis tertentu di sekolah. Bagi siswa yang telah
berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjana, program studi Master ditawarkan dengan
isi yang terkait dengan jenis tertentu dari sekolah. Durasiya adalah 1 tahun untuk karir
mengajar di Grundschule, Hauptschule dan Realschule, 1,5 tahun untuk karir
mengajar di Sonderschulen dan 2 tahun untuk karir mengajar di Gymnasium dan di
sekolah-sekolah kejuruan. 16
G. Sistem Penggajian Guru di Jerman
Guru diberi gaji layaknya peserta pelatihan pada saat Referendariat atau fase ujian
kedua praktek mengajar di sekolah setelah 2 tahun pertama dibimbin oleh senior. Setelah
lulus dari ujian kedua, baru benar-benar dinyatakan sebagai guru secara resmi dan
mendapatkan gaji sesuai dengan yang ditetapkan pemerntah untuk guru-guru di Jerman.
Guru di Jerman dapat mengharapkan untuk mendapat upah hidup nyaman. Sementara
tempat tinggal tidak tersedia untuk semua pekerjaan karir, guru akan menerima bantuan
dan sumber daya yang membantu untuk menemukan akomodasi.17
Laporan survei yang dibuat oleh Varkey Gems Foundation mengenai rerata gaji guru
per tahun di sejumlah negara, seperti dikutip dari Huffington Post, menunjukkan bahwa
16 Katarzyna Przegietka and Jzefina Turlo, Op.Cit.
176 Administrator, T eaching in Germany, https://www.teachaway.com/teaching-in-germany , 2015,
diakses pada tanggal 25 Oktober pukul 06.57WIB
18

Negara Jerman berada pada urutan ke tiga gaji guru yang paling tertinggi, yaitu rerata
guru digaji sebesar USD 42.254 atau senilai Rp471 juta per tahun. Sementara Indonesia
brada pada urutan ke -30, yakni sebesar USD 2.830/tahun atau senilai Rp. 34,4 juta per
tahun.18
Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari sistem pendidikan di Jerman. Upaya untuk
memberikan kualitas pendidikan yang merata di seluruh negara bagian melalui
pemerataan kualitas, fasilitas, dan sistem di masing-masing sekolah perlu juga menjadi
perhatian pendidikan di Indonesia. Melalui pendidikan yang merata di wilayah-wilayah
Indonesia tentu akan memberikan peningkatan kualitas pendidikan manusianya sendiri
yang berdampak bagi kualitas hidup masyarakatnya. Konsistensi Jerman untuk menjaga
kualitas pendidikannya dengan cara memberikan perhatian tinggi mulai dari sistem
pendidikan dasar dan menengah. Sehingga perhatian besar Jerman terhadap kualitas
pendidikannya akan berdampak bagi kualitas sumber daya manusia yang akan dihasilkan.

BAB III
PENUTUP
1

Kesimpulan.
Berdasarkan uraian uraian yang telah dibahas maka dapat disimpulkan bahwa:
1

Secara historis pendidikan di Jerman berawal dari gereja yang memunculkan jenis
khas sekolah yang dikenal sebagai Gymnasium yang nantinya jenis sekolah ini akan

menjadi standar ukuran sekolah menengah di Jerman.


Sejarah Perkembangan Pendidikan di Jerman terbagi menjadi beberapa periode antara

lain Periode Republik Weimar, Periode Nazi. Dan Periode Setelah Perang Dunia II
Sistem pendidikan di Jerman memandang pendidikan sebagai modal utama untuk
membangun ekonomi dan ideologi negara tersebut.

18 B.Galgoczi, Comparative Study Of Tachers Pay in Europe, download.ei ie.org/Docs/WebDepot/


TeachersPay2008Report.pdf , 2008, diunggah pada tanggal 24 Oktober pukul 00.15 WIB
19

Sistem Pendidikan di Jerman yang menonjol adalah Berufsschulle (Duales System)


dimana menggabungkan sistem Pendidikan antara dunia kerja dengan sekolah.
Struktur sistem pendidikannya dimulai dari Kindergarten, Grundschulle, Gymnasium,
Realschule, Hauptschule, Sondernschule atau langsung ke Gesamptschule. Tingkatan

di atasnya adalah jalur Akademik (Universitas) dan Jalur spesialis (Berufsschulle).


Di Jerman, jenjang pendidikan Pra Perguruan Tinggi itu hanya ada 2 macam, yaitu
pendidikan dasar (Grundschule) dan pendidikan lanjutan (Gymnasium, Realschule,
atau Berufschulle). Kalau di Indonesia, pendidikan Pra Perguruan Tinggi ada 3
macam, yaitu SD-SMP-SMA. Dari sisi waktu juga berbeda, di Indonesia memerlukan
waktu 12 tahun (normal) sebelum ke jenjang Perguruan Tinggi, sedangkan di Jerman

butuh waktu 13 tahun.


Persyaratan studi di perguruan tinggi adalah ujian akhir sekolah menengah atas yakni
Abitur yang harus dilalui saat menyelesaikan sekolah menengah. Lembaga pendidikan
keguruan di Jerman awalnya merupakan institusi yang berdiri sendiri dan dinamakan
Akademi Ilmu Keguruan atau Pdagogische Hochschule (PH) yang merupakan jenis
pendidikan tinggi semacam Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) di
Indonesia

Studi biasanya diakhiri dengan suatu ujian negara (Staatsexamen), dimana mereka
diharuskan membuat semacam tesis di universitas masing-masing. Setelah sebuah
menyelesaikan studi akademis, para calon guru harus mencapai fase pendidikan ke
dua disebut Referendariat dan diakhiri dengan State Examination Kedua, berlangsung
1,5 atau 2 tahun ketika mereka dibayar gaji kecil

Negara Jerman berada pada urutan ke tiga gaji guru yang paling tertinggi, yaitu rerata
guru digaji sebesar USD 42.254 atau senilai Rp471 juta per tahun. Sementara
Indonesia brada pada urutan ke -30, yakni sebesar USD 2.830/tahun atau senilai Rp.

34,4 juta per tahun


Konsistensi Jerman untuk menjaga kualitas pendidikannya dengan cara memberikan
perhatian tinggi mulai dari sistem pendidikan dasar dan menengah. Sehingga
perhatian besar Jerman terhadap kualitas pendidikannya akan berdampak bagi kualitas
sumber daya manusia yang akan dihasilkan.

20

21