Anda di halaman 1dari 6

Tugas1_07019

Secara khusus e-Government sering digambarkan atau dideskripsikan secara


cukup beragam oleh masing-masing individu atau komunitas. Hal tersebut
disebabkan oleh hal-hal berikut ini:
Sebagai konsep e-Government memiliki prinsip-prinsip dasar yang universal,
namun

karena setiap

negara memiliki

skenario

implementasi

atau

penerapannya yang berbeda, maka definisi dari ruang lingkup e-Governmentpun menjadi beraneka ragam.
Spektrum implementasi aplikasi e-Government sangatlah lebar mengingat
sedemikian banyaknya tugas dan tanggung jawab pemerintah sebuah negara
yang berfungsi untuk mengatur masyarakatnya melalui berbagai jenis
interaksi dan transaksi.
Pengertian dan penerapan e-Government di sebuah negara tidak dapat
dipisahkan dengan kondisi internal baik secara makro maupun mikro dari
negara yang bersangkutan, sehingga pemahamannya teramat sangat
ditentukan oleh sejarah, budaya, pendidikan, pandangan politik, kondisi
ekonomi, dari negara yang bersangkutan.
Visi, misi, dan strategi pembangunan sebuah negara yang sangat unik
mengakibatkan terjadinya beragam pendekatan dan skenario dalam proses
pengembangan bangsa sehingga berpengaruh terhadap penyusunan prioritas
pengembangan bangsa.
Berikut ini merupakan beberapa definisi e-Government menurut beberapa
sumber baik Lembaga dan Institusi Non-Pemerintah maupun dari pihak
pemerintahan:
1. Bank Dunia (World Bank) mendefinisikan e-Government sebagai berikut:
E-Government mengarahkan untuk penggunakan TI oleh semua agen
pemerintahaan (seperti WAN, internet, mobile computing) yang mempunyai
kemampuan untuk mengubah hubungan dengan masyarakat, bisnis, dan pihak
yang terkait dengan pemerintahan.

2. Sementara itu, vendor perangkat lunak terkemuka semacam SAP memiliki


definisi yang cukup unik, yaitu:
E-Government adalah sebuah perubahan yang global untuk mempromosikan
penggunaan internet oleh pihak pemerintah dan pihak yang terkait dengan
nya.
3. Janet Caldow, Direktur dari Institute for Electronic Government (IBM
Corporation) dari hasil kajiannya bersama Kennedy School of Government,
Universitas Harvard, memberikan sebuah definisi yang menarik, yaitu:
E-Government bukanlah sebuah perubahan fundamental yang berjangka
pendek pada pemerintahan dan kepemerintahan dan hal itu kita tidak dapat
menyaksikan pada permulaan era industrialisasi.
4. Definisi menarik dikemukakan pula oleh Jim Flyzik (US Department of
Treasury) ketika diwawancarai oleh Price Waterhouse Coopers, dimana yang
bersangkutan mendefinisikan:
E-Government adalah membawa pemerintahan kedalam dunia internet, dan
bekerja pada waktu internet.
5. Sementara Nevada, salah satu negara bagian di Amerika Serikat,
mendefinisikan e-Government sebagai:

Pelayanan

online

menghilangkan

hambatan

tradisional

untuk

memberikan kemudahan akses kepada masyarakat dan bisnis dalam


memakai layanan pemerintahan.

Operasional

pemerintahan

untuk

konstitusi

internal

dapat

disederhanakan permintaan operasinya untuk semua agen pemerintah


dan pegawainya.
6. Pemerintah Selendia Baru melihat e-Government sebagai sebuah fenomena
sebagai berikut:
E-Government adalah sebuah cara bagi pemerintahaan untuk menggunakan
sebuah teknologi baru untuk melayani masyarakat dengan memberikan
kemudahaan akses untuk pemerintah dalam hal pelayanan dan informasi dan

juga untuk menambah kualitas pelayanan serta memberikan peluang untuk


berpartisipasi dalam proses dan institusi demokrasi.
7. Italia mungkin termasuk salah satu negara yang paling lengkap dan detail
dalam mendefinisikan e-Government, yaitu:
Dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (Information and
Communicat-ion Technology -ICT) yang moderen pada pengadministrasian
kita, dapat dibandingkan menurut kelas aksi dibawah ini:
1. Desain komputerisasi untuk tambahan efisiensi operasional dengan
inividu tiap departemen dan divisi.
2. Pelayanan komputerisasi untuk masyarakat dan perusahaan, sering kali
mengimplementasi integrasi pelayanan pada departemen dan divisi yang
berbeda.
3. Ketetapan akses ICT untuk pengguna akhir dari layanan informasi
pemerintahan.
8. Ketika mempelajari penerapan e-Government di Asia Pasifik, Clay G.
Wescott

(Pejabat

Senior Asian

Development

Bank),

mencoba

mendefinisikannya sebagai berikut:


E-government adalah menggunakan teknologi informasi dan komunikasi
(ICT) untuk mempromosikan pemerintahan yang lebih effisien dan penekanan
biaya yang efektif, kemudahan fasilitas layanan pemerintah serta memberikan
akses informasi terhadap masyarakat umum, dan membuat pemerintahan
lebih bertanggung jawab kepada masyarakat.
Secara umum e-Government atau digital pemerintahan merupakan penggunaan
teknologi informasi oleh pemerintah untuk memberikan informasi dan pelayanan bagi
warganya, urusan bisnis serta hal-hal lain yang berkenaan dengan pemerinthan. EGovernment dapat diaplikasikan pada legislatif, yudikatif atau administrasi publik,
untuk meningkatkan efisiensi internal, menyampaikan pelayanan publik atau proses
kepemerintahan yang demokratis. Model penyampaian yang utama adalah
Government-to-Citizen atau Government-to-Customer (G2C), Government-toBusiness (G2B) serta Government-to-Government (G2G). Keuntungan atau manfaat

yang diharapkan dari pengimplementasian e-Government sendiri secara umum adalah


peningkatan efisiensi, kenyamanan serta aksesibilitas yang lebih baik dari pelayanan
public yang diselenggarakan oleh pemerintah atau institusi.
Manfaat e-Government
Secara jelas dua negara besar yang terdepan dalam mengimplementasikan
konsep e-Government, yaitu Amerika dan Inggris melalui Al Gore dan Tony Blair,
telah secara jelas dan terperinci menggambarkan manfaat yang diperoleh dengan
diterapkannya konsep e-Governmnet bagi suatu negara, antara lain:

Memperbaiki kualitas pelayanan pemerintah kepada para stakeholder-nya


(masyarakat, kalangan bisnis, dan industri) terutama dalam hal kinerja
efektivitas dan efisiensi di berbagai bidang kehidupan bernegara.

Meningkatkan transparansi, kontrol, dan akuntabilitas penyelenggaraan


pemerintahan dalam rangka penerapan konsep Good Corporate Governance.

Mengurangi secara signifikan total biaya administrasi, relasi, dan interaksi


yang dikeluarkan pemerintah maupun stakeholdernya untuk keperluan
aktivitas sehari-hari.

Memberikan peluang bagi pemerintah untuk mendapatkan sumber-sumber


pendapatan

baru

melalui

interaksinya

dengan

pihak-pihak

yang

berkepentingan.

Menciptakan suatu lingkungan masyarakat baru yang dapat secara cepat dan
tepat menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi sejalan dengan
berbagai perubahan global dan trend yang ada.

Memberdayakan masyarakat dan pihak-pihak lain sebagai mitra pemerintah


dalam proses pengambilan berbagai kebijakan publik secara merata dan
demokratis.
Dengan kata lain, negara-negara maju memandang bahwa implementasi e-

Government yang tepat akan secara signifikan memperbaiki kualitas kehidupan


masyarakat di suatu negara secara khusus, dan masyarakat dunia secara umum. Oleh
karena itu, implementasinya di suatu negara selain tidak dapat ditunda-tunda, harus

pula dilaksanakan secara serius, dibawah suatu kepemimpinan dan kerangka


pengembangan yang holistik, yang pada akhirnya akan memberikan/ mendatangkan
keunggulan kompetitif secara nasional.
Inisiatif E-Government di Indonesia
Sebetulnya inisiatif E-Government di Indonesia sudah dimulai sejak beberapa
waktu yang lalu. Dalam inisiatif Nusantara 21, Telematika, dan saat ini Telematika
versi dua (Tim Koordinasi Telematika Indonesia) topik E-Government sudah muncul.
Inisiatif implementasi E-Government di Indonesia antara lain:

Penayangan hasil pemilu 1999 secara on-line dan real time.

RI-Net. Sistem ini menyediakan email dan akses Internet kepada para pejabat.
Informasi lengkap dapat diperoleh di http://www.ri.go.id

Info RI. Penyedia informasi dari BIKN.

Penggunaan berbagai media komunikasi elektronik (Internet) di beberapa


pemerintah daerah.

Hambatan dalam Mengimplementasikan E-Government


Jika dilihat dari keteranan di atas, tentunya sangat diinginkan adanya EGovernment di Indonesia. Ada beberapa hal yang menjadi hambatan atau tantangan
dalam mengimplementasikan E-Government di Indonesia.
Kultur berbagi belum ada. Kultur berbagi (sharring) informasi dan
mempermudah urusan belum merasuk di Indonesia. Bahkan ada pameo yang
mengatakan: Apabila bisa dipersulit mengapa dipermudah?. Banyak oknum
yang menggunakan kesempatan dengan mepersulit mendapatkan informasi ini.
Kultur mendokumentasi belum lazim. Salah satu kesulitan besar yang kita
hadapi adalah kurangnya kebiasaan mendokumentasikan (apa saja). Padahal
kemampuan mendokumentasi ini menjadi bagian dari ISO 9000 dan juga
menjadi bagian dari standar software engineering.
Langkanya SDM yang handal. Teknologi informasi merupakan sebuah
bidang yang baru. Pemerintah umumnya jarang yang memiliki SDM yang
handal di bidang teknologi informasi. SDM yang handal ini biasanya ada di

lingkungan bisnis / industri. Kekurangan SDM ini menjadi salah satu


penghambat implementasi dari e-government. Sayang sekali kekurangan
kemampuan pemerintah ini sering dimanfaatkan oleh oknum bisnis dengan
menjual solusi yang salah dan mahal.
Infrastruktur yang belum memadai dan mahal. Infrastruktur telekomunikasi
Indonesia memang masih belum tersebar secara merata. Di berbagai daerah di
Indonesia masih belum tersedia saluran telepon, atau bahkan aliran listrik.
Kalaupun semua fasilitas ada, harganya masih relatif mahal. Pemerintah juga
belum menyiapkan pendanaan (budget) untuk keperluan ini.
Tempat akses yang terbatas. Sejalan dengan poin di atas, tempat akses
informasi jumlahnya juga masih terbatas. Di beberapa tempat di luar negeri,
pemerintah dan masyarakat bergotong royong untuk menciptakan access point
yang terjangkau, misalnya di perpustakaan umum (public library). Di Indonesia
hal ini dapat dilakukan di kantor pos, kantor pemerintahan, dan tempat-tempat
umum lainnya.
Hambatan-hambatan di atas sebetulnya tidak hanya dihadapi oleh Pemerintah
Indonesia (atau pemerintah daerah) saja. Di negara lain pun hal ini masih menjadi
masalah. Bahkan di Amerika Serikat pun yang menjadi pionir di dunia Internet
masalah E-Government pun merupakan hal yang baru bagi mereka. Namun mereka
tidak segan dan tidak takut untuk melakukan eksperimen. Sebagai contoh adalah
eksperimen yang dilakukan di California [2] dimana mereka masih mencoba meraba
implementasi E-Government yang pas untuk mereka.
E-government juga tidak hanya menjadi tanggung jawab dari pemerintah saja.
Masyarakat umum dapat membantu pemerintah dalam hal mengumpulkan data dan
mengorganisirnya (atau bahkan ikut serta dalam meng-online-kannya). Tenaga teknis
yang handal dapat membantu pemerintah setempat dalam setup server dan access
point di berbagai tempat.