Anda di halaman 1dari 8

Sumber: http://dongengceritarakyat.

com/

Cerita Anak Bergambar Kehamilan Inkelu


(Cerita Rakyat Maluku)
Inkelu adalah gadis yang sangat cantik. Ia dan kakak laki-lakinya Tameru, merupakan anak
pasangan bangsawan dari Desa Adodo.

Cerita Anak Bergambar

Desa Adodo terletak di Pulau Fordata, Provinsi Maluku. Menurut kebiasaan turun-temurun di desa
itu, seorang gadis tidak boleh keluar rumah sampai ia dewasa.
Inkelu pun demikian, orangtuanya menjaganya dengan ketat. Banyak pemuda yang penasaran ingin
melihat wajah cantiknya, namun belum pernah ada yang berhasil melihat Inkelu
Hari ini Inkelu merayakan ulang tahunnya yang ke-15. Ia merasa sudah dewasa. Ia ingin sekali
melihat dunia luar. Jadi, ketika ayahnya mengucapkan selamat ulang tahun, Inkelu memohon,
"Ayah, aku ingin sekali melihat dunia luar. Bukankah aku sudah cukup besar? Tak usah jauh-jauh,
aku hanya ingin berjalan-jalan di pantai."

Ibunya memotong ucapan Inkelu, "Tidak Nak, tunggulah sampai usiamu 17 tahun. Kau belum cukup
dewasa."
Ayahnya diam mendengar perkataan istri dan anaknya. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia
mengizinkan Inkelu melangkah keluar rumah. Dengan syarat, ia harus ditemani pelayan.
"Terima kasih, Ayah. Jangan khawatir, aku bisa menjaga diri dengan balk," jawab Inkelu dengan
senang.
Keesokan harinya, Inkelu menghirup udara luar bersama beberapa pelayannya. Mereka membawa
beberapa keranjang bambu.
"Aku akan menangkap kepiting dan kerang, Ayah," kata Inkelu riang. Ayah dan ibu Inkelu hanya
tersenyum dan berdoa agar hal buruk tidak menimpa putrinya.
Inkelu sangat gembira. Seumur-umur, baru kali ini ia melihat pantai. Ia berlari ke sana-kemari,
menangkap kerang dan kepiting sebagai oleh-oleh untuk orangtuanya. Lama kelamaan, Inkelu
merasa bosan. Ia ingin berjalan ke arah barat untuk melihat-lihat apakah ada benda lain yang bisa ia
pungut.
Ia berkata pada pelayannya, "Aku akan berjalan ke arah barat. Kalian pergi saja ke arah timur.
Jangan ikuti aku, aku ingin sendirian. Nanti kita bertemu lagi di tempat ini."
Para pelayan saling memandang. Mereka khawatir Inkelu tersesat, namun Inkelu berusaha
meyakinkan mereka bahwa ia akan baik-baik saja.
Inkelu menyusuri pantai ke arah barat. Sambil berjalan, ia memunguti kulit-kulit kerang. Tak terasa,
ia sudah berjalan jauh, sampai ia merasa lelah. Inkelu mencari tempat untuk beristirahat.
"Ah, itu dia. Batu datar itu sepertinya nyaman untuk diduduki," gumamnya ketika melihat sebongkah
batu datar yang terletak hampir di tengah laut.

Cerita Anak Bergambar Kehamilan Inkelu

Inkelu membaringkan diri di batu itu. Saat kantuk mulai menyerang, tiba-tiba ia dikejutkan oleh
kehadiran seorang pria tampan. Inkelu menjadi salah tingkah, selain ayah dan kakaknya, ia tak
pernah bicara dengan pria mana pun.
Inkelu dan pria itu berkenalan. Meskipun sangat singkat, perkenalan itu cukup berkesan bagi Inkelu.
Ketika Inkelu ingin berbincang lebih jauh dengan pria itu, tiba-tiba saja pria itu menghilang. Inkelu
benar-benar bingung.
Hari sudah menjelang sore ketika Inkelu berkumpul dengan para pelayannya. Saat ia kembali, ayah
dan ibunya senang melihat Inkelu kembali dengan selamat. Namun ada yang aneh. Inkelu
mendadak menjadi pendiam, dan semakin lama perutnya semakin membesar. Inkelu hamil!
Seluruh desa gempar. Siapa yang menghamili Inkelu? Meski sudah didesak oleh banyak orang,
Inkelu tak pernah mengaku siapa ayah bayi yang dikandungnya.
Sembilan bulan berlalu, Inkelu pun melahirkan. Sekali lagi penduduk Desa Adodo gempar. Bayi yang
dilahirkan Inkelu bukanlah bayi manusia, melainkan seekor anak hiu berwarna putih. Sekarang,
tahulah orangtua Inkelu dan penduduk desa Iainnya siapa ayah bayi itu.
"Pemuda itu adalah makhluk gaib jelmaan ikan hiu. Kau telah dipilihnya menjadi ibu dari anaknya,"
kata salah seorang tetua desa.

Oleh penduduk desa, bayi hiu itu dibawa ke tempat di mana Inkelu bertemu dengan pemuda gaib
itu. Ketika dilepaskan, bayi hiu itu langsung berenang dengan cepat, sungguh ajaib. Inkelu dan
orangtuanya merasa sangat lega. Meskipun harus berpisah dengan anaknya, Inkelu tak keberatan.
Baginya, yang penting bayi hiu itu bisa kembali ke kehidupannya di pantai.
Pada malam harinya, Tameru, kakak Inkelu bermimpi. Ia bermimpi bayi hiu itu mendatanginya dan
berkata, "Paman Tameru, datanglah ke sini pada hari ulang tahunku. Bawalah sepiring nasi putih
dan sebutir kuning telur rebus. Taburkan nasi itu di tempat ini sambil memanggilku. Oh iya, Paman
harus datang sendiri. Jangan bawa wanita, apalagi wanita hamil."
Tameru terbangun dengan diliputi perasaan bingung. Tapi ia bertekad untuk melaksanakan
permintaaan keponakannya itu.
Setahun kemudian, Tameru pergi ke pantai untuk melaksanakan janjinya. Di dekat batu datar itu ia
menaburkan nasi sambil berseru memanggil keponakannya. Malam harinya, Tameru bermimpi lagi.
Dalam mimpinya bayi hiu itu sudah besar. Ikan hiu itu mengucapkan terima kasih karena Tameru
telah mengabulkan permintaannya.

Pesan moral dari Cerita Anak Bergambar Kehamilan Inkelu (Cerita Rakyat Maluku) untukmu
adalah Sebagai anak yang baik, kita harus mendengarkan nasihat orangtua. Mereka tahu apa
yang terbaik bagi anak-anaknya.

Kumpulan Dongeng Indonesia Pendek Dari


Papua Terpopuler
Buaya Sakti Cerita Rakyat Papua

Kumpulan Dongeng Indonesia Pendek Dari Papua

Aduh ... aduh ... perutku. Sepertinya bayiku sudah mau keluar," rintih seorang perempuan kepada
suaminya.
Towjatuwa, suaminya adalah pria gang baik hati. Karena cemas melihat kondisi istrinya yang
kesakitan itu, Towjatuwa menggendong istrinya ke rumah tetangga yang biasa membantu orang
melahirkan.
"Istrimu tak bisa melahirkan normal. Aku harus mengeluarkan bayinya lewat perut. Untuk itu, aku
membutuhkan sesuatu yang tajam. Kau tahu Sungai Tami? Pergilah ke sana, di situ ada batu tajam
yang bisa kugunakan untuk membantu istrimu," kata tetangganya.
Towjatuwa semakin kalut. Ia tak tahan membayangkan perut istrinya diiris oleh batu tajam. Ia
kasihan pada istrinya, tapi apa boleh buat? Mungkin itulah jalan satu-satunya.
Suasana Sungai Tami sepi sekali. Towjatuwa mulai mencari batu tajam tersebut. Ketika tengah sibuk
mencari, tiba-tiba ia mendengar suara aneh di belakangnya. Bulu kuduk Towjatuwa langsung berdiri.
"Suara apa itu, ya?" bisiknya.
Sedikit gemetar, ia menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya ia ketika melihatseekor buaya yang
sangat besar sedang memandangi dirinya. Towjatuwa nyaris pingsan karena ketakutan. "Aduh, jika
aku mati dimakan buaya ini, bagaimana nasib istriku?" pikirnya dengan kalut. Dia teringat dengan
istrinya yang saat sedang akan melahirkan

Buaya besar itu berjalan mendekati Towjatuwa. Langkahnya pelan tapi pasti. Rupa buaya itu benarbenar mengerikan. Giginya terlihat runcing dan badan sebesar kerbau.

Kumpulan Dongeng Indonesia

Tanpa pikir panjang, Towjatuwa segera mengambil langkah seribu. Namun saat ia hendak melarikan
diri, buaya tersebut menyapanya. Suaranya ramah dan bersahabat, tidak seperti wajahnya yang
menyeramkan.
Towjatuwa tertegun, "Kau bisa bicara? Apakah kau sejenis buaya sakti?" tanyanya.
Buaya itu tersenyum dan menjawab, "Jangan takut padaku. Namaku Watuwe, kau boleh saja
menganggapku buaya sakti. Sebenarnya aku hanya ingin tahu, apa yang kau cari di sungai ini?"
Towjatuwa menghela napas. Entah kenapa rasa takut yang tadi menyelimutinya hilang, bahkan
kemudian ia menceritakan keadaan istrinya serta perkataan tetangganya.
"Aku harus menemukan batu tajam itu," katanya pada Watuwe.
Watuwe mendengarkan cerita Towjatuwa dengan saksama.
"Pulanglah. Kau tak usah mencemaskan istrimu. Aku akan menolongnya saat melahirkan,"
jawabnya.
Mendengar perkataan Watuwe si buaya ajaib Towjatuwa menjadi sangat lega. Ia yakin, Watuwe si
buaya sakti pasti menolongnya. Ia pun pulang dengan hati tenang.

Sesampainya di rumah, Towjatuwa menceritakan kejadian tersebut pada istrinya.


Sambil terus memegangi perutnya, istrinya menjawab, "Mungkin buaya itu dikirim Tuhan untuk
menolong kita."
Towjatuwa mengangguk, "Ya, ia berjanji akan menolongmu. Kau tak memerlukan batu tajam itu
lagi." Towjatuwa menjaga istrinya dengan baik. Ia menghibur istrinya jika merasa kesakitan.

Kumpulan Dongeng Indonesia Pendek

Akhirnya saat melahirkan pun tiba. Malam itu istri Towjatuwa sudah tak tahan lagi. Perutnya benarbenar mulas. Ia harus melahirkan saat itu juga! Towjatuwa kebingungan, ia tak tahu harus berbuat
apa. Tapi itu tak berlangsung lama karena Watuwe tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Buaya sakti, tolonglah istriku. Ia sudah tak tahan lagi," mohon Towjatuwa.
Dengan kesaktiannya, Watuwe membantu proses kelahiran anak Towjatuwa. Semuanya berjalan
dengan lancar. Towjatuwa dan istrinya dikaruniai seorang bayi laki-laki yang sehat.
Towjatuwa bahagia sekali. Ia memeluk istrinya dan menggendong bayinya dengan mesra. Tak lupa
ia berterima kasih pada Watuwe.
"Apakah kau sudah punya nama untuk bayimu?" tanya Watuwe pada Towjatuwa.
"Menurutku ia akan menjadi seorang pemburu yang andal," kata Watuwe lagi.
"Benarkah?" tango Towjatuwa dengan girang. Wajahnya terlihat berseri-seri.

"Aku akan menamainya Narrowa. Apakah kau setuju, istriku?" tanya Towjatuwa sambil menoleh
pada istrinya. Dengan tersenyum, istrinya mengangguk setuju.
Sebelum pulang Watuwe berpesan pada Towjatuwa, "Seperti yang sudah kubilang, kelak anakmu
akan menjadi pemburu andal. Namun ingat, jangan sekali-kali mengizinkan ia membunuh atau
memakan daging buaya. Aku sudah membantumu dan aku harap kau juga membantuku untuk
melestarikan keturunanku."
Towjatuwa mengangguk mantap. Towjatuwa dan anak-cucunya memenuhi janji tersebut. Bahkan
mereka menyelamatkan buaya-buaya yang ada di Sungai Tami dari ancaman para pemburu.

Pesan moral dari Kumpulan Dongeng Indonesia Pendek untukmu adalah Berusahalah untuk
membalas orang yang telah berbuat baik padamu. Jika memang belum mampu membalasnya,
ingatlah selalu kebaikannya itu. Jangan pernah melupakannya.