Anda di halaman 1dari 6

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

PADA TN. A DENGAN HIPERTENSI DESA. BABAKAN RT. 02 RW. 05 KEC.


RANGKASBITUNG
A. PENGKAJIAN ( Senin, 21 September 2015 )
I.
Data Umum
1. Kepala keluarga ( KK ) : TN. A
2. Alamat dan telepon

: Desa Babakan Rt. 02 Rw. 05 Kec. Rangkasbitung

3. Pekerjaan KK

: Petani

4. Pendidikan KK

: SMP
Status Imunisasi

N
o

Jeni
s

Nama

Hub.
Kel.
KK

Umu
r Dg.

Pendidika
n

BCG

Polio
1

Tn. A

Suami

50

SMP

Ny. M

Istri

47

SMP

An. D

Anak

18

SMA

An. R

Anak

13

SMP

5. Komposisi keluarga

6. Tipe keluarga

7. Suku bangsa

: Indonseia

8. Agama

: Islam

DPT
2

Hepatiti
s

3 4 1 2 3 1 2 3

9. Status social ekonomi keluarga :

10. Aktivitas social ekonomi keluarga :


11.

Status Sosial Ekonomi Keluarga


Tn. A bekerja sebagai petani dengan penghasilan Rp.2.000.000 perbulan yang
diterima dan pengeluaran Tn. A setiap bulan. Dari pendapatan tersebut keluarga
Tn. A menggunakannya untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

12.

Aktivitas Rekreasi Keluarga.


Aktivitas rekreasi yang biasa dilakukan keluarga Tn. A adalah hanya
mendengarkan musik dan sesekali menonton TV di rumah bersama keluarga.

II. RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA.


1. Tahapan Perkembangan Keluarga Saat Ini.
Saat ini keluarga Tn. A berada pada tahap keluarga mulai melepas anaknya sebagai
orang dewasa. Hal ini didukung data masih ada anak Tn. A yang belum menikah
yaitu An. M, An J, An. F.
2. Tugas Tahapan Perkembangan Yang Belum Terpenuhi.
Tugas tahapan perkembangan yang belum terpenuhi adalah membantu anak untuk
mandiri sebagai keluarga baru di masyarakat.
3. Riwayat Keluarga Inti.
Keluarga Tn. A saat ini dalam keadaan sehat, hanya Ny. N yang menderita tekanan
darah tinggi. Ny. N mengeluh pegel-pegel dan linu-linu pada persendian. Ny. N

Campak

sering mengalami kepala terasa pusing dan berat secara tiba-tiba, Satu bulan yang
lalu tidak bisa bangun dari tempat tidur.
4. Riwayat Keluarga Sebelumnya.
Dari keluarga Tn. A tidak yang mengalami penyakit keturunan, Ny. N ada riwayat
penyakit keturunan. Hubungan antara keluarga dari pihak Tn. A dan Ny. N baik, tidak
ada konflik.
III.

Data Lingkungan.
1. Karakteristik Rumah.
Keluarga Tn. A didesa simpang babeko, dengan luas tanah 110 m2. Rumah
milik sendiri, bangunan permanen, tembok belum disemen, lantai plester, ada 3
kamar tidur, ruang tamu, dapur, kamar mandi. Kondisi dalam rumah agak kotor
dan tidak teratur. Semua ruang terdapat jendela yang dibuka kadang-kadang saja.
Sumber mata air menggunakan sumur arthritis yang mengalir pada jam-jam
tertentu. Septic tank berada di samping rumah, jarak dengan sumber air lebih dari
10 m. Kondisi air jernih, tidak berbau, tidak berasa. Keluarga Tn. A memiliki
gentong sebagai penampung air untuk keperluan memasak. Sampah ditampung di
tempat sampah di samping rumah, yang akan dibakar jika sudah kering. Terdapat
fasilitas pembuangan limbah rumah tangga berupa selokan yang dialirkan ke
sungai. Keluarga Tn. A mengetahui jika ada lingkungan yang kotor seperti sampah
yang berserakan, air yang menggenang itu semua dapat menimbulkan penyakit.
Dalam keluarga Tn. A kebiasaan membersihkan rumah setiap hari berupa
menyapu lantai.
Denah Rumah :
Keterangan :
1. Pintu depan
2. Kamar tidur 1
3. Ruang tamu
4. Kamar tidur 2
5. Sumur
6. Wc
7. Kamar mandi
8. Meja makan
9. Dapur
10.Kamar tidur 3
11.Pintu belakang
2. Karakteristik Tetangga dan Komunitasnya.
Lingkungan tetangga cukup ramah, keluarga Tn. A tinggal berdekatan dengan
tetangganya. Hubungan dengan tetangga cukup baik. Kebanyakan tetangga bermata
pencaharian sebagai Petrawat.
3. Mobilitas Geografis Keluarga.
Tn. A bersama keluarga menempati rumahnya sudah 8 tahun. Letak rumah tepat di
dekat jalan raya kampung, alat transportasi umum yang ada yaitu angkutan umum
dan ojek. Sedang untuk mobilitas, keluarga menggunakan sepeda Motor. Jarak rumah
ke puskesmas 7 km.

4. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi Dengan Masyarakat.


Keluarga Tn. A biasa berkumpul pada sore hari, sepulang kerja. Di lingkungan rumah
ada kegiatan rutin seperti pengajian ibu-ibu, pertemuan RT , kamling, posyandu dan
kebersihan lingkungan. Kadang-kadang Tn. A ikut pertemuan RT. Ny. N tidak pernah
ikut kegiatan karena takut jika berjalan jauh nanti jatuh. Keamanan lingkungan
terjaga, hubungan antar tetangga baik. Tn. A, Ny. N An. M, dan Ny. Sn menyadari

pentingnya posyandu lansia untuk memantau kesehatan. Tetapi kendalanya jarak


posyandu yang jauh, sehingga enggan untuk datang.
5. Sistem Pendukung Keluarga.
Keluarga Tn. A tidak memiliki fasilitas jaminan kesehatan (askes gakin) yang dapat
digunakan untuk pengobatan dan perawatan di fasilitas kesehatan yang ada.
IV.Struktur Keluarga.
1. Pola Komunikasi Keluarga.
Komunikasi yang digunakan dalam keluarga Tn. A yaitu komunikasi terbuka, jika
ada masalah maka akan dirembuk bersama. Jika pagi tidak ada yang di rumah karena
ada kesibukan tersendiri, Jika sore hari setelah keluarga kumpul semua anggota
keluarga juga biasa bercengkeramah di ruang tamu.
2. Struktur Kekuatan Keluarga.
Tn. A sebagai kepala keluarga berperan sebagai pengambil keputusan, meskipun
tetap lewat musyawarah keluarga.
3. Struktur Peran.
Tn. A berperan sebagai kepala keluarga masih aktif bekerja mencari nafkah untuk
menghidupi keluarganya. Ny. N berperan sebagai ibu istri, An.M sebagai anak
bungsu yang masih tinggal dengan kedua orang tuanya. Ny. Sn adalah kakak Ny. S
4. Nilai dan Norma Budaya
Dalam keluarga Tn. A menekankan etika dan sopan santun dalam bergaul dengan
orang lain, saling menghormati dan menghargai, serta berani karena benar.
V. Fungsi Keluarga.
1. Fungsi Afektif.
Keluarga Tn. A termasuk keluarga yang harmonis, interaksi dalam keluarga terjalin
baik. Antar anggota keluarga saling memperhatikan, menghormati, dan menyayangi
sehingga tidak ada istilah pilih kasih.
2. Fungsi Sosialisasi.
Dalam keluarga Tn. A biasa ditanamkan kedisiplinan. Hubungan dengan tetangga
baik, Tn. A juga anggota keluarga yang lain selalu berusaha melakukan sosialisasi
dengan lingkungan jika ada waktu senggang.
3. Fungsi Perawatan Kesehatan.
a. Mengenal masalah kesehatan.
Keluarga Tn. A mengetahui kalau Ny. N menderita tekanan darah tinggi. Keluarga
hanya tahu makanan yang harus dihindari oleh Ny. N yaitu makan yang asin-asin dan
daging. Ny. N jarang mengontrolkan kesehatannya dengan alasan tidak memiliki
cukup uang. Ny. N juga tidak rutin minum obat pengontrol tekanan darah tinggi.
b. Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan.
Jika dalam keluarga ada yang sakit biasanya dibelikan obat di warung dan makan
obat herbal, tetapi jika dirasa sakitnya berat dan tidak sembuh dengan obat warung
dan obat herbal maka akan dibawa ke Puskesmas atau poliklinik 24 jam terdekat.
c. Kemampuan merawat anggota keluarga yang sakit.
Dalam keluarga belum ada yang memperingatkan Ny. N untuk memeriksa
keadaannya Karena Ny. N ada riwayat hipertensi maka Tn. A sudah berusaha untuk
Ny. N Semua anggota keluarga juga sangat memperhatikan kondisi Ny. N.
d. Kemampuan keluarga memelihara/memodifikasi lingkungan rumah yang sehat.
Kondisi rumah tidak rapi, agak kotor, dan penataan ruangan kurang serasi. Keluarga
kurang tahu bahaya akibat lingkungan yang tidak teratur bagi anggota keluarga yang
sudah lanjut usia.
e. Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas/pelayanan kesehatan di masyarakat.

Tn. A mengatakan kebiasaan keluarga akan berobat ke Puskesmas atau pelayanan


kesehatan lain jika dirasa sakitnya berat dan tidak sembuh dengan obat yang dibeli di
warung dan obat herbal. Tn. A dan Ny. N tidak memiliki kartu JPS atau Askes Gakin.
4. Fungsi Reproduksi.
Saat ini Ny. N sudah mengalami penyakit hipertensi. An. M belum menikah, kedua
orang tua berharap An.M segera mendapatkan pendamping hidup.
5. Fungsi Ekonomi
Semua pendapatan yang ada digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari. Dari
makan, listrik, air, dan hal-hal yang tidak terduga. Dengan pendapatan yang paspasan tersebut keluarga tidak dapat menabung.
VI.
Stress Dan Koping Individu.
1. Stressor Jangka Pendek dan jangka panjang.
Bagi keluarga Tn. A saat ini yang masih menjadi pikiran adalah anaknya, An. M yang
belum menikah dalam usia 20 tahun. Tn. A maupun Ny. N ingin agar anaknya segera
menikah.
2. Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Stressor.
Terkadang Tn.A maupun Ny. N sedih jika memikirkan An. M yang belum menikah.
3. Strategi Koping Konstruktif Yang Digunakan.
Kedua orang tuanya hanya bisa pasrah dan berharap An. M segera menemukan
jodohnya.
4. Strategi Adaptasi Fungsional.
Di keluarga Tn. A tidak ada yang bersifat kekerasan di dalam membina rumah
tangganya.
VII.
Pemeriksaan Kesehatan Tiap Individu Anggota Keluarga.
Pemeriksaan Fisik Hanya Dilakukan Pada Ny. N.
1. Kondisi umum:
Kesadaran komposmentis, KU baik, T 150/120 mmHg, N
96 x/mnt, Rr 18 x/mnt, S 36 oC.
2. Kepala :
Kulit kepala bersih, beruban, rambut tidak mudah dicabut.
3. Mata :
Mata kiri sudah tidak bias melihat, mata kanan masih bisa melihat,
konjungtiva merah muda, pupil isokor.
4. Hidung
:
Septum di tengah, tidak ada discharge, penciuman normal.
5. Telinga:
Kedua telinga simetris, masih bias mendengar dengan jelas, kotor,
tampak serumen.
6. Leher :
Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid juga vena jugularis.
7. Dada :
Bentuk simetris, suara napas vesikuler, tidak ada suara napas
tambahan, BJ I II murni, tidak terdengar gallop, perkusi sonor.
8. Perut :
Simetris, kenyal, tidak ada bekas luka, peristaltik terdengar normal,
tidak kembung, tidak teraba massa.
9. Genitalia
:
Tidak ada keluhan, normal-normal saja.
10 Anus :
Tidak ada hemoroid, tidak ada keluhan.
11 Extremitas
:
Reflek hamer positif, reflek babinski negatif, tampak
deformitas pada kedua kaki, klien tampak susah berjalan.
12 Kulit : Warna sawo matang, turgor kurang (keriput), kering.
VIII.
Harapan Keluarga.
Tn. A berharap di dalam kelurganya dalam keadaan sehat.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA.
1. Analisa Dan Sintesis Data.
NO
DATA PROBLEM ETIOLOGI
1 DS :
Ny. N memiliki riwayat hipertensi.
Tn. A mengatakan Ny. N tidak rutin minum obat pengontrol tekanan darah tinggi.

Tn. A mengatakan kebiasaan keluarga akan berobat ke pelayanan kesehatan jika


dirasa sakitnya berat dan tidak sembuh dengan obat warung dan obat herbal.
DO :
T 150/120 mmHg, N 96 x/mnt.
Risiko tinggi terhadap ketidak patuhan.
Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah pengobat an yang diperlukan pada
hipertensi.
2 DS :
Ny. N tidak pernah kontrol & minum obat.
Ny. N ke Puskesmas hanya jika sakitnya dirasa berat.
Ny. N sering memikirkan anaknya (An. M) yang belum menikah.
DO :
Keluarga hanya tahu pantangan orang hipertensi adalah makan makanan yang
asin-asin dan daging.
Pemeliharaan kesehatan Ny. N tentang diet dan gaya hidup tidak efektif.
Ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarganya yg men derita
hipertensi.
3. DS :
Ny. N memiliki riwayat hipertensi lama.
Ny. N mengeluh pegel-pegel dan linu-linu pada persendian.
Ny. N mengatakan sering kepalanya tiba-tiba pusing dan terasa berat.
Ny. N satu bulan yang lalu tidak bisa bangun dari tempat tidurnya.
DO :
T 150/200 mmHg, N 96 x/mnt.
Kondisi rumah agak kotor, tidak teratur tidak rapi, penataan ruangan < serasi.
Risiko tinggi cidera pd Ny. N.
Ketidakmampuan keluarga memodifi kasi
lingkungan.
2. Perumusan Diagnosis Keperawatan.
NoDiagnosis Keperawatan
1. Pemeliharaan kesehatan Ny. N tentang diet dan gaya hidup tidak efektif
berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga
yang menderita hipertensi.
2. Risiko tinggi terhadap ketidakpatuhan berhubungan dengan ketidakmampuan
keluarga mengenal masalah pengobatan yang diperlukan pada hipertensi.
3. Risiko tinggi cidera pd Ny. N berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga
memodifikasi lingkungan.
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
PADA KELUARGA TN. A DENGAN HIPERTENSI
DI DESA NYIUR GADING RT 01 RW 00 SIMPANG BABEKO KECAMATAN
BATHIN II BABEKO.
DI SUSUSN OLEH :
NAMA : GUSTI YAWATI
NIM : 101009314401058
AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO
MUARA BUNGO
TAHUN AJARAN 2012/2013
IMPLEMENTASI
NoImplementasi Evaluasi
1.
2.

3.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

1.
bina ham dengan keluarga
kaji pengetahuan keluarga tentang pengetahuan hipertensi
beri reinforcement positif atas jawaban keluarga
diskusikan pengertian hipertensi dengan keluarga
beri kesemapatan keluarga bertanya
minta keluarga menyebutkan kembali
jawab pertanyaan keluarga

1.
2.
3.
4.
5.

kaji pengethauan keluarga tentang penyebab hipertensi


beri reinforcement positif atas jawaban keluarga
diskusikan penyebab hipertensi
motivasi keluarga untuk mengulang kembali
beri reinforcement positif atas keberhasilan keluarga

1.
2.
3.
4.
5.

Diskusikan tanda dan gejala hipertensi dengan keluarga


kesempatan keluarga bertanya
Jawab pertanyaan keluarga
Motivasi keluarga untuk mengulang kembali
Beri reinforcement positif atas keberhasilan keluarga

S:
Ny. N memiliki riwayat hipertensi.
Tn. A mengatakan Ny. N sudah rutin minum obat pengontrol tekanan darah tinggi.
Tn. A mengatakan kebiasaan keluarga akan berobat ke pelayanan kesehatan jika
dirasa sakitnya berat dan tidak sembuh dengan obat warung dan obat herbal.
O:
TD 150/120 mmHg,
N 96 x/mnt.
A : sudah rutin minum obat pengontrol tekanan darah tinggi.
P : lanjutkan intervensi
S:
Ny. N tidak pernah kontrol & minum obat.
Ny. N ke Puskesmas hanya jika
sakitnya dirasa berat.
Ny. N sering memikirkan anaknya (An. M) yang belum menikah.
O:
Keluarga hanya tahu pantangan orang hipertensi adalah makan makanan yang asinasin dan daging.
A:
Ny. N sering memikirkan anaknya (An. M) yang belum menikah.
P : intervensi di lanjutkan.
S:
Ny. N memiliki riwayat hipertensi lama.
Ny. N mengeluh pegel-pegel dan linu-linu pada persendian.
Ny. N mengatakan sering kepalanya tiba-tiba pusing dan terasa berat.
Ny. N satu bulan yang lalu tidak bisa bangun dari tempat tidurnya.
O:
T 150/200 mmHg, N 96 x/mnt.
Kondisi rumah agak kotor, tidak teratur tidak rapi, penataan ruangan < serasi.
A:
Ny. N satu bulan yang lalu tidak bisa bangun dari tempat tidurnya.
P : intervensi di lanjutkan.

Anda mungkin juga menyukai