Anda di halaman 1dari 21

GASTRITIS

DM VINDA / DM DILLA
Preseptor : Dr. Alvarino, Sp.B, Sp.U

Pengertian

proses inflamasi pada lapisan mukosa


dan sub mukosa lambung akut atau
kronik.

Klasifikasi

Gastritis akut
sering dijumpai
Gastritis kronis adalah suatu peradangan bagian permukaan
mukosa lambung yang berkepanjangan yang disebabkan baik
oleh ulkus lambung jinak maupun ganas atau oleh bakteri
helicobacter pylori.
Gastritis kronik juga masih dikelompokkan lagi dalam 2 tipe
yaitu tipe A dan tipe B. Gastritis kronik tipe A jika mampu
menghasilkan imun sendiri. Tipe ini berhubungan dengan atropi
dari kelenjar lambung dan penurunan mukosa. Penurunan pada
sekresi gastrik mempengaruhi produksi antibodi. Anemia
pernisiosa berkembang pada proses ini.
Gastritis kronik tipe B lebih lazim. Tipe ini berhubungan dengan
infeksi helicobacter pylori yang menimbulkan ulkus pada dinding
lambung.

Penyebab

Obat analgetik anti inflamasi terutama


aspirin;
bahan kimia, misalnya lisol;
makanan yang pedas, panas maupun asam.
merokok;
alkohol;
stres fisis yang disebabkan oleh luka bakar,
sepsis, trauma, pembedahan, gagal
pernafasan, gagal ginjal,
kerusakan susunan saraf pusat; refluk usus
lambung.

Penyakit Mntrier merupakan jenis


gastritis yang penyebabnya tidak
diketahui. Dinding lambung menjadi
tebal, lipatannya melebar, kelenjarnya
membesar dan memiliki kista yang terisi
cairan. Sekitar 10% penderita penyakit
ini menderita kanker lambung. Gastritis
juga bisa terjadi jika seseorang menelan
bahan korosif atau menerima terapi
penyinaran kadar tinggi.

Patofisiologi

Gastritis akut dapat disebabkan oleh karena stres, zat kimia misalnya obatobatan dan alkohol, Pada para yang mengalami stres akan terjadi
perangsangan saraf simpatis NV (Nervus vagus) yang akan meningkatkan
produksi asam klorida (HCl) di dalam lambung. Adanya HCl yang berada di
dalam lambung akan menimbulkan rasa mual, muntah dan anoreksia.
Zat kimia maupun makanan yang merangsang akan menyebabkan sel epitel
kolumner, yang berfungsi untuk menghasilkan mukus, mengurangi
produksinya. Sedangkan mukus itu fungsinya untuk memproteksi mukosa
lambung agar tidak ikut tercerna. Respon mukosa lambung karena penurunan
sekresi mukus bervariasi diantaranya vasodilatasi sel mukosa gaster. Lapisan
mukosa gaster terdapat sel yang memproduksi HCl (terutama daerah fundus)
dan pembuluh darah.
Vasodilatasi mukosa gaster akan menyebabkan produksi HCl meningkat.
Anoreksia juga dapat menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri ini ditimbulkan oleh
karena kontak HCl dengan mukosa gaster. Respon mukosa lambung akibat
penurunan sekresi mukus dapat berupa eksfeliasi (pengelupasan). Eksfeliasi
sel mukosa gaster akan mengakibatkan erosi pada sel mukosa. Hilangnya sel
mukosa akibat erosi memicu timbulnya sindrom dyspepsia.

Tanda dan Gejala

Gangguan pencernaan (indigesti) dan rasa tidak nyaman di perut sebelah atas. Pada
gastritis karena stres akut, penyebabnya (misalnya penyakit berat, luka bakar atau
cedera) biasanya menutupi gejala-gejala lambung; tetapi perut sebelah atas terasa
tidak enak.
Pada sebagian besar kasus, gejalanya amat ringan bahkan asimptomatis. Keluhan
itu misalnya nyeri pada ulu hati yang biasanya ringan.
Gejala lainnya dari gastritis kronik adalah anoreksia, mual-muntah, diare, sakit
epigastrik dan demam.
Perdarahan saluran cerna yang tak terasa sakit dapat terjadi setelah penggunaan
aspirin.
Pada gastritis eosinofilik, nyeri perut dan muntah bisa disebabkan oleh penyempitan
atau penyumbatan ujung saluran lambung yang menuju ke usus dua belas jari.
Penyakit Mnire, gejala yang paling sering ditemukan adalah nyeri lambung.
Hilangnya nafsu makan, mual, muntah dan penurunan berat badan, lebih jarang
terjadi. Tidak pernah terjadi perdarahan lambung. Penimbunan cairan dan
pembengkakan jaringan (edema) bisa disebabkan karena hilangnya protein dari
lapisan lambung yang meradang. Protein yang hilang ini bercampur dengan isi
lambung dan dibuang dari tubuh.
Terapi penyinaran, terbentuk jaringan parut yang menyebabkan menyempitnya
saluran lambung yang menuju ke usus dua belas jari, sehingga terjadi nyeri perut
dan muntah. Penyinaran bisa merusak lapisan pelindung lambung, sehingga bakteri

Diet Pada Gastritis

Diet lambung. Prinsipnya bersifat ad libitum, yang artinya adalah


bahwa diet lambung dilaksanakan berdasarkan kehendak pasien.
Pasien dianjurkan:
Makan secara teratur, tidak terlalu kenyang dan tidak boleh berpuasa.
Cukup kalori dan protein (TKTP)
Kandungan lemak/minyak, khususnya yang jenuh harus dikurangi.
Makanan pada diet lambung :
Mudah dicernakan, mengandung serat makanan yang halus (soluble
dietary fiber).
Tidak boleh mengandung bahan yang merangsang, menimbulkan gas,
bersifat asam, mengandung minyak/ lemak secara berlebihan, dan
yang bersifat melekat.
Tidak boleh terlalu panas atau dingin.
Makanan yang berpotensi menyebabkan gastritis : garam, alkohol,
rokok, kafein yang dapat ditemukan dalam kopi, teh hitam, teh hijau,
beberapa minuman ringan (soft drinks), dan coklat.

Tatalaksana

menghindari faktor penyebab iritasi, pemberian antasid dan simptomatik lain, dan pada gastritis
atrofik dengan anemia pernisiosa diobati dengan B12 intramuskuler (hydroxycobalamin atau
cyanocobalamin).
Jika penyebabnya adalah infeksi oleh Helicobacter pylori, maka diberikan bismuth, antibiotik (misalnya
amoksisilin dan klaritromisin) dan obat anti-tukak (omeprazol).
Penderita gastritis karena stres akut banyak yang mengalami penyembuhan setelah penyebabnya
(penyakit berat, cedera atau perdarahan) berhasil diatasi. Tetapi sekitar 2% penderita gastritis karena
stres akut mengalami perdarahan yang sering berakibat fatal. Karena itu dilakukan pencegahan
dengan memberikan antasid (untuk menetralkan asam lambung) dan obat anti-ulkus yang kuat (untuk
mengurangi atau menghentikan pembentukan asam lambung). Perdarahan hebat karena gastritis
akibat stres akut bisa diatasi dengan menutup sumber perdarahan pada tindakan endoskopi. Jika
perdarahan berlanjut, mungkin seluruh lambung harus diangkat.
Eradikasi Helicobacter pylori merupakan cara pengobatan yang dianjurkan untuk gastritis kronis yang
ada hubungannya dengan infeksi oleh kuman tersebut. eradikasi dapat mengembalikan gambaran
histopatologi menjadi normal kembali. Eradikasi dapat dicapai dengan pemberian kombinasi
penghambat pompa proton dan antibiotik. Antibiotik dapat berupa tetrasiklin, metronidasol,
klaritromisin, dan amoksisilin. Kadang-kadang diperlukan lebih dari satu macam antibiotik untuk
mendapatkan hasil pengobatan yang baik.
Gastritis erosif kronis bisa diobati dengan antasid. Penderita sebaiknya menghindari obat tertentu
(misalnya aspirin atau obat anti peradangan non-steroid lainnya) dan makanan yang menyebabkan
iritasi lambung. Misoprostol mungkin bisa mengurangi resiko terbentuknya ulkus karena obat anti
peradangan non-steroid. Untuk meringankan penyumbatan di saluran keluar lambung pada gastritis
eosinofilik, bisa diberikan kortikosteroid atau dilakukan pembedahan.
Gastritis atrofik tidak dapat disembuhkan. Sebagian besar penderita harus mendapatkan suntikan
tambahan vitamin B12. Gastiritis karena penyakit Mntrier bisa disembuhkan dengan mengangkat
sebagian atau seluruh lambung. Sedangkan gastritis sel plasma bisa diobati dengan obat ulkus yang
menghalangi pelepasan asam lambung.

STATUS PASIEN
Identitas Pasien
Dina/ Perempuan/ 29 tahun
IRT Seberang Padang Utara

Sosial Ekonomi Status


Kawin, 1 anak
Status Ekonomi Keluarga: Mampu , suami bekerja sebagai pegawai
negeri
Kondisi Rumah
Rumah semi permanen, 3 kamar tidur, dan 2 kamar mandi.
Lantai rumah dari semen, berkeramik, ventilasi udara dan sirkulasi
udara kurang baik, pencahayaan kurang karena rumahnya tidak
menghadap matahari terbit, kamar pasien cukup lapang.
WC dalam rumah
Listrik ada

Sumber air : sumur gali, airnya jernih tidak berbau


dan tidak berasa.
Halaman rumah tidak terlalu luas, dan terlihat agak
gersang tanpa tanaman.
Bak mandi kelihatan bersih dan dikuras 1
x/seminggu.
Sampah di bakar, kadang-kadang di buang ke laut
kalau tidak sempat di bakar
Rumah dihuni oleh 3 orang yang terdiri dari pasien,
anaknya 3 orang dan menantunya 1 orang
Kesan : Hygiene dan sanitasi lingkungan cukup

Kondisi Lingkungan Keluarga


Pasien tinggal di lingkungan yang cukup padat
penduduk.
Warga di sekitar lingkungan pasien sangat ramah
dan hidup kekeluargaan di tempat ini cukup baik
Lingkungan sekitar cukup bersih walau tidak
tertata dengan rapi

Aspek Psikologis di keluarga


Hubungan dengan anggota keluarga baik
Faktor stress dalam keluarga tidak ada.

RPS
KU: sakit di ulu hati dan menjalar ke punggung.
Sakit di ulu hati dan menjalar ke punggung sejak 2 minggu
yang lalu dan meningkat sejak 4 hari ini. Sakit ini sering
muncul pada pasien, pasien mengatakan sering tidak selera
makan, makan hanya 1x dalam sehari, pasien juga mempunyai
anak yang baru berumur 1 tahun, sehingga pasien sering bangun
pada malam hari dan merasa kurang tidur.
Sakit ini berkurang jika setelah makan
Mual ada, dan muntah tidak ada
Kembung ada
Sering sendawa-sendawa ada
Kebiasaan makan pasien selalu memakan makanan yang pedaspedas, karena jika tidak pedas nafsu makan pasien hilang.
Riwayat meminum jamu-jamuan ( kunyit asam) ada sejak pasien
gadis
BAK jumlah dan warna biasa
BAB warna dan konsistensi biasa.

RPD:
Pasien telah menderita penyakit seperti ini sejak tahun
tahun 2006, dan telah pernah di rawat di RSUP
Dr.M.Djamil padang selama 20 hari karena sebelumnya
pasien demam, kemudian mual muntah dan sampai tidak
bisa bangun dari tidur. Saat di rawat ini pasien juga telah
di lakukan endoskopi dan hasilnya kata dokter pasien
menderita gastritis yang sudah lama. Dan pasien juga
telah menjalani rawat jalan selama 2 tahun, setelah itu
karena penyakitnya tidak kambuh-kambuh lagi pasien
malas untuk berobat dan putus obat sampai di sini.
Kakak pasien juga menderita penyakit seperti ini dan juga
dikatakan menderita gastritis.

Pemeriksaan Fisik

Status Generalis
KU : Sedang
Kes : CMC
Nadi : 88x/ menit
Nafas : 20x/menit
TD : 100/70 mmHg
Suhu : 37,4 0C
BB : 63 Kg
Mata : Konjungtiva anemis -, Sklera tidak ikterik
Kulit : Pucat -, sianosis -, ikterik THT : dbn
Leher : tidak ada pembesaran KGB
Dada
Paru
I : simetris kiri dan kanan
P : fremitus kiri sama dengan kanan
P : sonor
A : vesikuler, wheezing (-), ronkhi (-)

Jantung
I
P
P

A

Abdomen

: iktus tidak terlihat


: iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
:
Kiri : 1 jari medial LMCS RIC V
Kanan : LSD
Atas : RIC II
: bunyi jantung murni, irama teratur, bising (-)

I: Perut tidak tampak membuncit


P: Hati dan lien tidak teraba, NT (+) di epigastrium
P: Timpani
A: BU (+) N

Punggung
: Nyeri tekan dan nyeri ketok CVA tidak ada.
Alat kelamin
: Tidak diperiksa
Anggota gerak : Akral hangat, refilling kapiler baik, Rf +/+, Rp -/-

Laboratorium : tidak dilakukan


Pemeriksaan anjuran :
Pemeriksaan Hb, Ht, Leukosit dan trombosit
Endoskopi ulang

Diagnosis Kerja
Gastritis kronis

Diagnosis Banding :
Ulkus peptikum

Preventif
Hindari makan makanan yang mengandung gas seperti kol, lobak dan
nangka
Hindari makan makanan yang pedas-pedas
Makan secara teratur
Hindari stress
Istirahat yang cukup

Promotif
Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit ini akan kambuh jika pasien
stress,kurang istirahat (kecapekan) atau tidak patuh dengan nasehat
dokter
Menjelaskan komplikasi terburuk dari penyakit ini agar pasien patuh untuk
berobat

Kuratif
Istirahat dan
Diet yang ketat (makan secara teratur, tidak boleh terlalu kenyang
dan tidak boleh puasa)
Medikamentosa
Antasida tab 3 x 1 tab
Omeprazol tab 2x20 mg
Vitamin B complex 3x1 tab

Rehabilitatif
Jika nyerinya makin bertambah dan ada muntah darah segera dibawa
ke puskesmas atau ke Rumah sakit.
Pasien disarankan untuk control lagi ke poli penyakit dalam RSUP dr
M.Djamil Padang untuk melihat kembali apakah bertambah parah.

Terimakasih