Anda di halaman 1dari 8

Insight Yohanes 13

Ada beberapa hal yang menarik yang dapat kita pelajari dlm Yohanes 13 ini.
Dalam pasal ini di bahas ttg Yesus membasuh kaki para murid2nya. Di zaman
Yesus jalan-jalan cenderung berdebu sehingga kaki akan menjadi kotor ketika
melakukan perjalanan. Kaki tersebut biasanya akan dibasuh di rumah supaya
kaki tersebut bersih dari kotoran. Pembasuhan kaki biasanya dilakukan oleh
hamba/ pembantu, tetapi jika tidak ada maka pembasuhan dilakukan oleh orang
yang paling muda, bisa anak atau isteri. Tetapi pembasuhan kaki juga
merupakan simbol dari hospitality, yakni suatu sikap penerimaan/ pelayanan
terhadap tamu. Jikalau seorang musafir yang melakukan perjalanan jauh
menumpang atau bertamu di rumah seseorang maka pihak tuan rumah akan
melayani tamu mereka dengan membasuh kaki tamu-tamu tersebut, meskipun
tidak harus sang tuan rumah yang melakukannya, tetapi pembasuhan dilakukan
pihak tuan rumah.
Jadi hal pertama yang dapat kita pelajari adalah tindakan pembasuhan kaki
yang dilakukan Yesus melambangkangkan tindakan kasih Yesus yang mau
menjadi hamba bagi murid-murid-Nya. Peristiwa Yesus membasuh kaki muridmuridNya melambangkan kerendahan hati Yesus. Tuhan Yesus mengajarkan kita
untuk memiliki kerendahan hati untuk melayani sesama. Karena pada umumnya
kita sulit untuk rendah hati. Kita ingin dilihat, diperhitungkan dan bahkan ingin
dilayani.
Yang kedua adalah sebelum membasuh kaki murid-murid, YESUS menanggalkan
jubah-NYA. Apa arti menanggalkan jubah? Jubah merupakan atribut atau tingkat
sosial seseorang. Pada zaman dahulu, seorang pengemis memiliki atributnya
sendiri, yakni jubah khas pengemis yang digunakannya. Orang buta pun memiliki
jubah tersendiri. Itu sebabnya ketika YESUS hendak membasuh kaki muridmurid, IA menanggalkan jubah-NYA. Artinya, YESUS menanggalkan atribut keIllahian-NYA. IA merendahkan Diri, dengan mengambil rupa seorang hamba.
Yang dapat kita pelajari adalah terkadang kita sulit menanggalkan jubat/atribut
yang sudah melekat kepada kita. Kita cenderung ingin memamerkannya, ntah
itu atribut jabatan, pendidikan, dan lainnya. Namun kita belajar bahwa Tuhan
ingin kita menanggalkan atribut kita dan mulai melayani sesama kita.
Yang ketiga adalah setelah itu YESUS menuangkan air ke dalam sebuah basi
(baskom) dan mulai melakukan pekerjaan utamanya yakni membasuh kaki yang
bermakna penyucian atau pengampunan dosa yang diberikan kepada kita.
Penyucian (pembasuhan kaki) yang dilakukan YESUS berbeda dengan penyaliban
yang dialami oleh YESUS. Penyaliban YESUS berkaitan dengan pengampunan
dosa manusia secara keseluruhan, yaitu ketika seseorang mengakui YESUS
sebagai TUHAN dan Juruselamat di dalam hidupnya. Sedangkan penyucian yang
digambarkan melalui pembasuhan kaki berbicara tentang penyucian yang
dilakukan YESUS bagi orang yang telah beriman.

Sekalipun seseorang telah menjadi orang percaya dan telah menerima


pengampunan dosa melalui salib KRISTUS, pada kenyataannya dia masih dapat
berbuat dosa karena memang tidak ada manusia yang sempurna; suatu saat dia
masih dapat berbuat dosa. Atas dasar kesadaran seperti ini, kita harus selalu
meminta kepada TUHAN agar IA membasuh seluruh jalan kehidupan kita.

Yang keempat, hal penting dari tindakan YESUS dalam hal membasuh kaki muridmurid adalah YESUS yang mengambil inisiatif untuk melakukannya. Seharusnya
murid2Nya yang berinisiatif membasuk kaki gurunya dan bukan sebaliknya.
YESUS justru mengambil inisiatif untuk menyucikan murid-murid di tengahtengah ketiadaan kesadaran dari murid-murid tentang "kaki" mereka yang kotor.
Tuhan Yesus mengajarkan bahwa tindakan melayani berawal dari inisiatif kita,
bukan karena disuruh atau karena diperintah, bukan dengan paksaan namun
dengan kerelaan.
Kelima, Ia mengatakan bahwa murid2 harus mengikuti teladan Yesus dengan
saling membasuh kaki, yang artinya saling melayani dan mengasihi satu dengan
yang lain. Hal ini juga dipertegas Yesus di ayat dengan mengatakan

Ada hal penting dari tindakan YESUS dalam hal membasuh kaki murid-murid:
YESUS yang mengambil inisiatif untuk melakukannya. Padahal seharusnya
manusia yang berbuat dosa yang berinisiatif memohon pengampunan. YESUS
justru mengambil inisiatif untuk menyucikan murid-murid di tengah-tengah
ketiadaan kesadaran dari murid-murid tentang "kaki" mereka yang kotor. Berarti
YESUS sudah menyiapkan pengampunan bagi kita, sehingga kapan pun kita
memintanya, IA akan memberikannya. Itu sebabnya setiap awal bulan kita
melakukan Perjamuan Kudus, tujuannya adalah untuk mengingatkan kita bahwa
pengampunan itu telah IA berikan bagi kita. Selain itu juga mengingatkan kita
bahwa sepanjang perjalanan hidup kita, ketika "kaki" kita menginjak sesuatu
yang kotor, IA juga tetap memberikan pengampunan tersebut. Tujuannya adalah
agar kita menerima kembali kebahagiaan dari DIA.

YOHANES 13 : 6 - 7
6 Maka sampailah IA kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-NYA: "TUHAN,
ENGKAU hendak membasuh kakiku?" 7 Jawab YESUS kepadanya: "Apa yang KUperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak."

Ketika YESUS sampai kepada Petrus, ia memunculkan suatu pertanyaan kepada


YESUS. Dari hal ini ada pelajaran positif yang dapat kita ambil yakni Petrus
memiliki sifat selalu ingin belajar. Bahkan ia juga ingin mengetahui arti tindakan
yang dilakukan YESUS itu.

Seharusnya sebagai orang yang percaya, kita memiliki sikap seperti Petrus yang
selalu ingin belajar Firman TUHAN. Sikap kurang mau belajar lebih dalam tentang
Firman terkadang menjadi kendala sehingga kita tidak menerima kebahagiaan.
Tidak seorang pun dari kedua belas murid itu yang mengerti tindakan YESUS
membasuh kaki mereka. Tetapi, hanya Petrus yang mau bertanya.

Aplikasinya dalam hidup kita adalah jika ada Firman TUHAN yang tidak kita
mengerti, tanyakan kepada TUHAN tentang maksud dari Firman itu. Dengan
demikian kita mengetahui artinya dan setelah itu melakukannya.

Jawaban yang diberikan YESUS: "Apa yang KU-perbuat, engkau tidak tahu
sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak." Mengapa Petrus belum
mengerti? Sebab saat itu ia belum menyangkal YESUS; ia belum mengerti bahwa
ia membutuhkan penyucian dari dosanya itu.

YOHANES 13 : 8 - 10
8 Kata Petrus kepada-NYA: "ENGKAU tidak akan membasuh kakiku sampai
selama-lamanya." Jawab YESUS: "Jikalau AKU tidak membasuh engkau, engkau
tidak mendapat bagian dalam AKU." 9 Kata Simon Petrus kepada-NYA: "TUHAN,
jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!" 10 Kata YESUS
kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain
membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih,
hanya tidak semua."

Dalam ayat di atas, YESUS menekankan bahwa pengampunan atau penyucian


dosa benar-benar mutlak diperlukan oleh semua orang percaya. Sebab jika tidak
menerima pengampunan dosa, kita tidak akan mendapat bagian di dalam
YESUS. Kehidupan kekristenan kita akan sia-sia. Jadi sepanjang jalan kehidupan
ini, ketika kita melakukan dosa, kita harus mau datang dan minta pengampunan
dosa dari TUHAN. YESUS memang sudah menyediakan pengampunan bagi setiap
orang percaya, namun jika kita tidak mau datang kepada-NYA dan minta
pengampunan dari YESUS, pengampunan yang telah disediakan itu tidak akan
kita terima. Jadi kunci untuk memperoleh kebahagiaan dan agar kebahagiaan itu
tidak hilang, mohonlah pengampunan dosa dari TUHAN.

Dari reaksi yang diberikan Petrus agar YESUS membasuh tubuhnya, ada
pelajaran lain yang dapat kita ambil, yakni YESUS menjelaskan perbedaan antara
baptisan dengan pengampunan dosa. Sebab itu YESUS berkata: "Barangsiapa
telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya..." Hal
ini harus kita mengerti dengan sungguh-sungguh. Sebab banyak anak TUHAN
yang konseling, mengatakan bahwa dahulu ia telah dibaptis selam, namun
beberapa waktu selanjutnya ia mulai meninggalkan TUHAN. Sekarang ia kembali
kepada jalan TUHAN. Ia menemui saya dan bertanya, apakah perlu dilakukan
baptis ulang. Untuk menjawab pertanyaannya ini saya bacakan perkataan YESUS
dalam Yohanes 13:10 ini. Yang diperlukan olehnya adalah pembasuhan kaki
(penyucian dari dosa) dan bukan mandi (baptisan). Caranya adalah melakukan
pemberesan dosa di hadapan ALLAH dan mohon pengampunannya, bukan
dengan cara baptis ulang. Sebab baptisan cukup satu kali seumur hidup, tetapi
pembasuhan harus dilakukan terus menerus selama kita masih menjalani hidup
di dalam dunia ini.

YOHANES 13 : 11
11 Sebab IA tahu, siapa yang akan menyerahkan DIA. Karena itu IA berkata:
"Tidak semua kamu bersih."

Kaki kedua belas murid dibasuh oleh YESUS, termasuk kaki Yudas Iskariot yang
pada akhirnya menghianati YESUS dengan jalan menjual DIA. Selain Yudas
Iskariot, Petrus juga menyangkal YESUS. Ketika Petrus meminta pengampunan,
ia mendapatkan pengampunan. Bagaimana dengan Yudas Iskariot? Apakah ia
juga memiliki hak yang sama dengan Petrus, hak untuk diampuni? Sudah tentu
Yudas Iskariot juga memiliki hak yang sama dengan Petrus. Namun, ketika Yudas
sadar bahwa ia telah berdosa, Yudas tidak mau datang kepada TUHAN untuk
memohon pengampunan. Yudas tidak memperoleh pengampunan bukan karena
TUHAN tidak menyediakan pengampunan baginya, tetapi karena Yudas sendiri
yang tidak mau datang kepada-NYA.

Dari sikap yang diambil Yudas Iskariot, kita belajar bahwa jika hingga saat ini kita
masih belum mengalami kebahagiaan, itu bukan karena TUHAN tidak
menyediakannya bagi kita. Itu karena kita sendiri yang belum mau datang
kepada-NYA untuk merendahkan diri dan meminta pengampunan dari TUHAN.

Karena Petrus mau mengambil kesempatan untuk menerima pengampunan yang


disediakan oleh YESUS, rasul yang pertama kali dijumpai pasca kebangkitan-NYA
adalah Petrus. Sebab itu, baiklah kita menjadi seperti Petrus yang selalu ingin
belajar Firman dan mau mengambil kesempatan untuk menerima pengampunan
yang disediakan oleh TUHAN.

1 YOHANES 1 : 8 - 9
8 Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri
dan kebenaran tidak ada di dalam kita. 9 Jika kita mengaku dosa kita, maka IA
adalah setia dan adil, sehingga IA akan mengampuni segala dosa kita dan
menyucikan kita dari segala kejahatan.

Tidak ada seorang manusia pun yang sama sekali tidak melakukan dosa,
termasuk hamba TUHAN. Ayat di atas mengatakan, "Jika berkata kita tidak
berdosa, sesungguhnya kita sedang menipu diri kita sendiri..." Sebaliknya, jika
kita mengaku dosa, mau menerima tawaran YESUS untuk membasuh kaki kita,
maka YESUS menyucikan kita dari segala dosa. Petrus tidak hanya menerima
ritual pembasuhan kaki saja, tetapi ia berinisiatif untuk bertanya kepada YESUS
tentang arti semua tindakan YESUS. Hal inilah yang menyebabkan Petrus
menerima pembasuhan secara seutuhnya. Sedangkan Yudas Iskariot hanya
mengikuti ritual pembasuhan saja, tanpa memahami lebih dalam tentang makna
yang terkandung dalam pembasuhan kaki yang dilakukan YESUS. Ia tidak
memohon pengampunan dari YESUS, sehingga di dalam keputusasaannya ia
mati gantung diri. Sedangkan Petrus datang memohon pengampunan. Yang ia
terima bukan hanya pengampunan saja, tetapi juga pemulihan dari TUHAN.

YOHANES 13 : 12 - 14
12 Sesudah IA membasuh kaki mereka, IA mengenakan pakaian-NYA dan
kembali ke tempat-NYA. Lalu IA berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa
yang telah KU-perbuat kepadamu? 13 Kamu menyebut AKU Guru dan TUHAN,
dan katamu itu tepat, sebab memang AKU-lah Guru dan TUHAN. 14 Jadi jikalau
AKU membasuh kakimu, AKU yang adalah TUHAN dan Gurumu, maka kamu pun
wajib saling membasuh kakimu.

Rangkaian tindakan YESUS: menanggalkan jubah, mengikat kain lenan di


pinggang-NYA, menuang air, lalu mulai membasuh kaki mereka mengajarkan
tentang kerendahan hati. Apabila mereka tidak mengerti tentang prinsip
kerendahan hati yang diajarkan YESUS itu, mereka tidak akan mungkin dapat
masuk pada tahap berikutnya, yakni saling membasuh kaki sesamanya. Tahap ini
merupakan suatu keharusan bagi seluruh anak TUHAN untuk melakukannya. Jika
YESUS membasuh kaki kita, apakah kita juga perlu membasuh kaki YESUS? Tentu
tidak, sebab IA tidak pernah melakukan dosa dan tidak pernah bersalah terhadap
kita. Tetapi antar sesama manusia, kita perlu saling membasuh karena masingmasing seringkali berbuat salah antara yang satu dengan yang lain.

Salah satu penyebab kita tidak menerima berkat dan kebahagiaan dari ALLAH
adalah kita tidak mau saling merendahkan hati, tidak mau saling "membasuh
kaki" atau tidak mau mengampuni kesalahan sesama. Dan konsep yang
diajarkan oleh TUHAN adalah agar kita mau mengampuni terlebih dahulu
sekalipun orang yang bersalah kepada kita belum meminta maaf kepada kita.
Prinsip saling mengampuni yang satu ini memang cukup sulit untuk dilakukan.
Sebab kecenderungan kita adalah menunggu orang yang bersalah datang
kepada kita untuk meminta maaf. Selama orang itu belum minta maaf maka
maaf tidak akan diberikan. Bahkan kadang kala kita bersikap seperti ini,
sekalipun ada orang yang sudah minta maaf kepada kita dengan sungguhsungguh, kita terlalu kikir memberikan maaf. Kita berpikir, "Biar tahu rasa! Sebab
saya belum puas 'memberi pelajaran' terhadap kamu!"

TUHAN YESUS telah memberikan pengampunan terlebih dahulu bagi kita,


bahkan telah menyediakan pengampunan sebelum kita meminta kepada-NYA.
Sehingga kapan pun kita datang meminta ampun kepada-NYA, pengampunan itu
diberikan-NYA kepada kita. Itu sebabnya kita pun harus melakukan hal yang
sama kepada sesama kita manusia. Terlepas orang yang kita maafkan itu
menyadari kesalahannya dan apakah mau minta maaf atau tidak, itu urusannya
dengan TUHAN. Memberi maaf kepada orang yang bersalah kepada kita sebelum
orang itu meminta maaf memang sangatlah sulit. Hal ini lebih sulit dibandingkan
meminta maaf, sebab memang kita menyadari kita telah berbuat salah. Banyak

orang yang tidak dapat tidur dengan nyenyak, salah satu penyebabnya adalah ia
tidak mau memaafkan atau tidak mau memaafkan sebelum orang yang bersalah
meminta maaf, sehingga menyimpan dendam di dalam hatinya. Marilah kita ikuti
teladan YESUS sehingga ketika orang yang bersalah kepada kita meminta
ampun, kita dapat berkata, "Aku sudah memaafkanmu." Dengan mau melakukan
kewajiban kita sebagai anak-anak TUHAN yang telah menerima pengampunan,
kita pasti akan menerima berkat besar dari TUHAN.

KOLOSE 3 : 13 - 14
13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan
yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama
seperti TUHAN telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. 14
Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang
mempersatukan dan menyempurnakan.

Terhadap sesama, kita harus sabar satu dengan yang lain. Sekalipun pada
kenyataannya kesabaran itu telah mencapai ambang batas, yang harus tetap
kita perbuat adalah memberikan maaf terhadap orang yang telah menyakiti kita
sekalipun orang itu belum mengakui kesalahannya dan belum meminta maaf
kepada kita. Nasehat yang diutarakan rasul Paulus adalah agar kita mengampuni
orang yang menaruh dendam terhadap kita. Orang yang mendendam terhadap
kita adalah orang yang belum mengakui kesalahannya kepada kita apalagi
meminta maaf. Perintah ini merupakan perintah yang wajib kita lakukan sebagai
anak-anak ALLAH. Memang hal ini cukup sulit. Tetapi sebagai sebuah kewajiban,
kita harus mau melakukannya.

Ketika saya belum menjadi seorang Pendeta (baru berstatus sebagai anak
Pendeta), saya terheran-heran melihat apa yang dilakukan oleh Papa (Pdt. Dr.
Benny Santoso) terhadap hamba-hamba TUHAN. Beberapa hamba TUHAN yang
datang kepada Papa dengan tujuan untuk meminta sumbangan guna
membangun gereja. Tetapi di belakang Papa, hamba TUHAN yang sama telah
menyebarkan berita yang kurang baik tentang Papa. Bahkan Papa pun
mengetahui hal tersebut. Tetapi ketika hamba TUHAN itu kembali mendatangi
Papa, kembali meminta bantuan, beliau tetap memberikan bantuan dana bagi
mereka. Padahal, Papa sendiri belum memiliki gedung Gereja. Pada saat itu saya
merasa aneh dengan apa yang telah Papa perbuat. Tetapi sekarang saya
mengerti bahwa apa yang dilakukan oleh Papa adalah untuk melakukan apa
yang menjadi kewajibannya sebagai hamba ALLAH dalam hal melaksanakan
Firman TUHAN. Keteladanan yang Papa berikan itu mendorong saya untuk
melakukan hal yang sama. Sehingga berkat-berkat yang telah TUHAN sediakan
dapat saya raih secara sempurna.

YOHANES 13 : 15 - 16
15 sebab AKU telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga
berbuat sama seperti yang telah KU-perbuat kepadamu. 16 AKU berkata
kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada
tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.

Perkataan YESUS memang terlihat sederhana, tetapi jika kita perhatikan lebih
teliti, ada suatu pengertian yang sangat dalam. YESUS telah memberikan
teladan kepada kita, murid-murid-NYA. Kemudian IA berkata: "Sesungguhnya
seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya..." Jadi, jika kita tidak
mau melakukan seperti apa yang dilakukan oleh YESUS, berarti kita telah merasa
lebih tinggi dari YESUS. Alkitab mencatat, pribadi yang ingin melebihi ALLAH
adalah setan. Oleh karena ia mau melebihi TUHAN, ia tidak mau melakukan
perintah TUHAN. Jadi jika kita tidak mau melakukan seperti