Anda di halaman 1dari 9

Rhinosinusitis Maksilaris Akut

Pendahuluan
Tulang tengkorak memiliki sejumlah ruang berisi udara yang disebut sinus. Ruang
ini membantu mengurangi berat tengkorak dan memberikan perlindungan daerah tengk
orak dan membantu dalam resonansi suara. Terdapat empat pasang sinus, yang diken
al sebagai sinus paranasalis, yaitu sinus frontalis di daerah dahi, sinus maksil
aris di belakang tulang pipi, sinus etmoidalis diantara kedua mata dan sinus sph
enoidalis di belakang bola mata.1,2
Sinus yang dalam keadaan fisiologis adalah steril, apabila klirens sekretnya ber
kurang atau tersumbat, akan menimbulkan lingkungan yang baik untuk perkembangan
organisme patogen. Apabila terjadi infeksi karena virus, bakteri ataupun jamur p
ada sinus yang berisi sekret ini, maka terjadilah sinusitis. Sinusitis juga dapa
t disebabkan oleh rinitis akut, infeksi faring (faringitis, adenoiditis, tonsili
tis), infeksi gigi rahang atas (M1, M2, M3, serta P1 dan P2), berenang dan menye
lam, trauma, serta barotrauma.
Sinusitis adalah penyakit yang benyak ditemukan di seluruh dunia, terutama di te
mpat dengan polusi udara tinggi. Iklim yang lembab, dingin, dengan konsentrasi p
ollen yang tinggi terkait dengan prevalensi yang lebih tinggi. Sinusitis maksila
ris adalah sinusitis dengan insiden yang terbesar. Virus adalah penyebab sinusit
is akut yang paling umum ditemukan. Namun, sinusitis bakterial adalah diagnosis
terbanyak kelima pada pasien dengan pemberian antibiotik.
Berdasarkan fakta tersebut diatas, sinusitis adalah penyakit yang penting untuk
diketahui oleh seorang praktisi kesehatan. Dan sinusitis yang paling banyak dite
mukan adalah sinusitis maksilaris. Oleh karena itu makalah ini dibuat agar diagn
osis, dan penanganan sinusitis maksilaris bisa dimengerti dengan lebih baik.
________________________________________
Jodie Josephine Jonazh, NIM: 102011186, Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wa
cana, Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta 11510, jodiejonazh@hotmail.com.
Diagnosis Kerja
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan p
enunjang.
1.
Anamnesis
Keluhan utama sinusitis maksilaris akut adalah hidung tersumbat disertai nyeri a
tau rasa tekanan pada pipi unilateral atau bilateral yang bertambah ketika menun
duk. Kadang-kadang pasien datang dengan keluhan ingus yang purulen, yang seringk
ali turun ke tenggorok (post nasal drip) dan keluhan sistemik seperti demam sert
a lesu. Keluhan lain adalah sakit kepala yang kadang-kadang disertai nyeri alih
ke gigi dan telinga, hiposmia atau anosmia, halitosis, dan batuk atau sesak akib
at post nasal drip1.
Keluhan pada sinusitis maksimalis kronis tidak khas, sehingga sulit didiagnosis.
Keluhan khas nyeri pada pipi tidak ditemukan. Pasien mungkin datang dengan kelu
han sakit kepala kronik, batuk kronik, gangguan tenggorokan, gangguan telinga, h
iposmia dan mudah lelah1,3.
2.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang mengarahkan diagnosis sinusitis maksilaris adalah:
a.
Nyeri pada palpasi dan perkusi regio maksila yang terkena, biasanya unil
ateral pada sinusitis dentogen, dan bilateral pada sinusitis rinogen
b.
Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior, ditemukan adanya pus mukopurulen d
i meatus medius. Dapat pula ditemukan mukosa edema dan hiperemis pada sinusitis
maksilaris akut
c.
Dapat ditemukan post nasal drip pada pemeriksaan rhinoskopi posterior
d.
Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram dan
gelap1,4.
3.
Pemeriksaan penunjang
a.
Pemeriksaan penunjang yang penting dan relatif murah adalah foto polos s
inus posisi Waters, PA dan lateral, yang terlihat adalah adanya perselubungan si
nus, penebalan mukosa, dan batas udara-cairan (air fluid level)

b.
CT scan juga dapat digunakan untuk pemeriksaan, dan akan menghasilkan ga
mbaran sinusitis yang lebih jelas, namun jarang dilakukan secara rutin karena ma
hal1
c.
Pemeriksaan mikrobiologi sekret dan tes resistensi dapat dilakukan denga
n mengambil sekret dari meatus medius/ superior, yang paling baik sekret diambil
dari pungsi sinus maksilaris1.
A
B
Gambar 1. Pemeriksaan radiologi pada sinusitis maksilaris, A. Foto radiologi sin
us lateral : ditermukan air fluid level, B. Foto sinus posisi Water : terdapat p
enebalan pada mukosa sinus maksilaris dextra

Gambar 2. CT Scan memperlihatkan penebalan mukosa sinus.


Diagnosis Banding
Sinusitis ethmoidalis
Penyebab sinusitis ethmoidalis sama halnya dengan penyebab infeksi sinus-sinus y
ang lain. Infeksi atau peradangan sinus umumnya terjadi sebagai lanjutan infeksi
hidung, Sinusitis ethmoid dapat terjadi bila terdapat gangguan pengaliran udara
dari dan ke rongga sinus serta adanya gangguan pengeluaran cairan mukus. Adanya
peradangan yang terus-menerus menyebabkan terjadinya pembengkakan pada ostia se
hingga lubang drainase ini menjadi buntu dan mengganggu aliran udara sinus serta
pengeluaran cairan mukus. Penyebab terjadinya obstruksi ostia ini antara lain:
1. Infeksi virus
Sinusitis ethmoidals bisa terjadi setelah suatu infeksi virus pada aluran pernaf
asan bagian atas. Sehinga virus yang menyerang sinus biasanya sama dengan virus
yang menyerang hidung dan nasofaring sebelumnya karena mukosa sinus berjalan kon
tinue dengan mukosa hidung.
2. Infeksi bakteri
Didalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal
tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococus pneumonia, Haemophilus influen
za). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat aki
bat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri sebelumnya tidak berbahaya ak
an berkembang biak dan menyusup ke dalam snus sehingga terjadi infeksi sinus. Ed
ema dan hilangnya fungsi silia normal pada infeksi virus menciptakan suatu lingk
ungan yang ideal untuk perkembangan infeksi bakteri.
3. Infeksi Jamur
Aspergillus merupakan jamur yang dapat menyebabkan sinusitis ethmoidalis pada pe
nderita gangguan sistem kekebalan.
4. Peradangan menahun pada saluran hidung
Peradangan menahun pada saluran hidung yang diakibatkan reaksi alergi ataupun no
n alergi mengakibatkan obstruksi ostium akibat edema mukosa dan hipersekresi dal
am rongga sinus sehingga menutup hubungan antara sinus dan hidung.
Terjadinya sinusitis ethmodalis juga dipengaruhi oleh berbagai macam faktor pred
isposisi yang antara lain:
1. Obstruksi mekanik, seperti deviasi septum, hipertrofi konka media, benda asin
g di hidung, polip serta tumor di dalam rongga hidung.
2. Infeksi pada sinusitis sering dijumpai pada keluarga yang tinggal di lingkung
an yang kurang sehat seperti adanya polusi udara termasuk asap tembakau
3. Daya tahan tubuh yang rendah, defisiensi nutrisi, kelelahan tubuh.
4. Penyakit sistemik kronis, hipogammaglobulin akan menyebabkan daya tahan tubuh
rendah sehingga mudah terjadi infeksi didaerah sinus.

5. Pengaruh udara. Umumnya infeksi sinusitis ethmoidalis pada daerah dengan ikli
m yang dingin. Udara dingin akan mempengaruhi kerja silia menjadi lebih lambat,
demikian juga pada udara yang kering akan mengakibatkan perubahan di mukosa sehi
ngga sering terjadi sinusitis ethmoidalis.
Patofisiologi yang penting dan paling jelas yang menyebabkan sinusitis ethmoidal
is adalah edema mukosa didalam dan disekeliling ostium akibat terinfeksi virus,
bakteri atau disebabkan karena peradangan yang terus menerus. Bila terjadi edema
di kompleks osteo meatal, mukosa yang letaknya berhadapan akan saling bertemu,
sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan. Maka terja
di gangguan drainase dan ventilasi didalam sinus, sehingga silia menjadi kurang
aktif dan lendir yang diproduksi mukosa sinus menjadi lebih kental dan merupakan
media yang lebih baik untuk tumbuhnya bakteri patogen. Pada awal penyakit didap
ati peningkatan tekanan intrasinus yang transient, kemudian dengan berlanjutnya
penyakit yang diikuti tekanan negatif intrasinus sehingga menyebabkan hipoksia d
alam sinus, bakteri kemudian dapat masuk memasuki ostium sinus dan menyebabkan r
etensi dari sekret, fungsi silia akan rusak. Juga terdapat perubahan viskositas
dari sekret nasal, yang memberikan medium yang ideal bagi perkembangan bakteri a
naerob yang selanjutnya dapat menyebabkan perubahan jaringan menjadi hipertrofi,
polipoid atau pembentukan polip kista.
Mukosa dan kelenjar akan mengalami kerusakan jika terinfeksi virus dan bakteri,
serta terpapar oleh polusi udara dan bahan kimia, yang akan menyebabkan produksi
kelenjar menjadi tidak normal sehingga akan mengakibatkan gangguan sistem mukos
ilia, yaitu gangguan drainase dan ventilasi pada sinus maksilaris.
Alergi juga dapat menyebabkan timbulnya infeksi karena terjadi oedem mukosa dan
hipersekresi. Mukosa sinus maksilaris yang membengkak dapat menyumbat ostium sin
us dan mengganggu drainase, menyebabkan infeksi lebih lanjut, yang selanjutnya m
enghancurkan epitel permukaan dan siklus seterusnya berulang.
Sinusitis ethmoidalis pada dasarnya bersifat rinogenik. Pada sinusitis ethmoidal
is kronis, sumber infeksi berulang cenderung berupa suatu daerah stenotik, biasa
nya infundibulum ethmoidalis dan resessus frontalis. Karena inflamasi menyebabka
n saling menempelnya mukosa yang berhadapan dalam ruangan yang sempit ini, akiba
tnya terjadi gangguan transpor mukosilier dan mempertinggi pertumbuhan bakteri d
an virus. Infeksi kemudian menyebar ke sinus yang berdekatan
Diagnosis sinusitis ethmoidalis kronis eksaserbasi akut ditegakkan berdasarkan a
namnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari anamesis akan didapa
tkan gejala dari sinusitis ethmoidalis akut dan sinusitis ethmoidalis kronis yan
g timbul secara bersamaan, yang terdiri dari :
? Sinusitis Ethmoidalis akut
Dari anamesa yang didapat biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan ata
s (terutama pada anak kecil), berupa pilek dan batuk yang lama lebih dari 7 hari
. Gejala subyektif terbagi atas:
a. Gejala sistemik, yaitu demam dan rasa lesu.
b. Gejala lokal, yaitu hidung tersumbat, ingus kental yang kadang berbau dan men
galir ke nasofaring (post nasal drip), halitosis, sakit kepala yang lebih berat
pada pagi hari, nyeri di daerah pangkal hidung dan kantus media, kadang-kadang n
yeri pada bola mata atau belakangnya terutama bila mata digerakkan.
? Sinusitis Ethmoidalis kronis
Gejala subyektif yang akan didapatkan bervariasi dari yang ringan hingga berat,
seperti:
a. Gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret di hidung serta sekret paska nasa
l (post nasal drip) dan berbau. Sekret ini yang memicu terjadinya batuk kronis.
b. Gejala faring, yaitu rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorok.
c. Gejala telinga, berupa pendengaran terganggu oleh karena tersumbatnya tuba eu
stachius.
d. Adanya nyeri / sakit kepala. Biasanya terasa pada pagi hari dan akan berkuran
g atau hilang setelah siang hari. Kemungkinan penyebabnya karena pada malam hari
terjadi penimbunan ingus dalam rongga hidung dan sinus serta adanya stasis vena
.
e. Gejala mata, oleh karena penjalaran infeksi melalui duktus naso-lakrimalis

f. Gejala saluran nafas berupa batuk dan kadang-kadang terdapat komplikasi di pa


ru, berupa bronkhitis atau bronkiektasis atau asma bronkial, sehingga terjadi pe
nyakit sinobronkhitis.
g. Gejala saluran cerna, oleh karena mukopus yang tertelan dapat menyebabkan gas
troenteritis, sering terjadi pada anak.
h. Anosmia / hiposmia.
Selama eksaserbasi akut, gejala-gejala mirip dengan sinusitis ethmoidalis akut :
namun, diluar massa itu, gejala berupa suatu perasaan penuh pada wajah dan hidu
ng dan hipersekresi yang seringkali mukopurulen. Kadang kadang terdapat nyeri ke
pala, namun gejala ini seringkali tidak tepat dianggap sebagai gejala penyakit s
inus ethmoidalis. Hidung biasanya tersumbat dan tentunya ada gejala-gejal faktor
predisposisi, seperti rinitis alergi yang menetap dan keluhan-keluhan yang meno
njol.
Pemeriksaan Fisik (Gejala Obyekif)
Pada pemeriksaan fisik akan didapatkan gejala obyektif dari sinusitis ethmoidali
s akut dan sinusitis ethmoidalis kronis, yaitu:
a. Rinoskopi anterior
Pada pemeriksaan Rinoskopi anterior akan didapatkan mukosa yang edema dan hipere
mis, terlihat sekret mukopus pada meatus media. Pada sinusitis ethmoiditis kroni
s eksasserbasi akut dapat terlihat suatu kronisitas misalnya terlihat hipertrofi
konka, konka polipoid ataupun poliposis hidung.
b. Rinoskopi posterior
Pada pemerikasaan Rinoskopi posterior, tampak sekret yang purulen di nasofaring
dan dapat turun ke tenggorokan.
c. Pada pemeriksaan transiluminasi (diafanoskopi)
Dilakukan di kamar gelap memakai sumber cahaya penlight berfokus jelas yang dima
sukkan ke dalam mulut dan bibir dikatupkan. Arah sumber cahaya menghadap ke atas
. Pada sinus normal tampak gambaran terang pada daerah glabella. Pada sinusitis
ethmoidalis akan tampak kesuraman.
Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan radiologik
Dengan X-foto sinus paranasal posisi Cad well.
b. Pemeriksaan mikrobiologik
Biasanya pada sinusitis etmoiditis kronis eksaserbasi akut menunjukkam infeksi c
ampuran oleh bermacam-macam mikroba, yaitu bakteri aerob (S.aureus, S.viridans,
H.influenza) dan bakteri anaerob (Peptostreptokokus dan Fusobakterium).
c. CT-Scan
Gambaran sinus paranasal dan kompleks osteo meatal tampak jelas. Pemeriksaan ini
dilakukan jika dicurigai sudah terdapat komplikasi.
d. Sinuskopi
Dilakukan untuk mengevaluasi keadaan Kompleks Osteo Meatal.
Sinusitis frontalis
Sinusitis frontalis adalah peradangan pada sinus frontal yang terjadi di bawah 4
minggu. Sinusitis frontalis akut hampir selalu bersama-sama dengan infeksi sinu
s etmoidalis anterior. Sinus frontal berkembang dari sel-sel etmoidalis anterior
, dan duktus nasalis frontalis yang berlekuk-lekuk berjalan amat dekat dengan se
l-sel ini. Maka, faktor resiko atau faktor predisposisi terjadinya sinusitis fro
ntal adalah sama dengan faktor-faktor untuk infeksi sinus lainnya.
Sinusitis frontalis akut dapat disebabkan oleh:
masuknya air ke dalam sinus saat berenang atau menyelam
biasanya didahului dengan adanya infeksi virus pada saluran nafas bagian atas ya
ng diikuti dengan invasi bakteri
trauma eksternal pada sinus seperti fraktur atau luka penetrasi
edema meatus media, sekunder terhadap infeksi sinus maksila atau etmoid yang ips
ilateral.

Gejala klinis pada sinusitis frontal akut adalah:


Nyeri kepala frontal. Nyeri kepala ini biasanya berat dan terlokalisasi pada dae
rah sinus yang terkena. Biasanya pada daerah dahi atau seluruh kepala. Nyeri kep
ala ini mempunyai karakteristik periodik dimana timbul pada saat bangun tidur, m
emberat dan mencapai puncak nyeri pada siang hari dan perlahan-lahan mereda hing
ga menjelang malam. Nyeri kepala ini disebut dengan: office headache karena hany
a muncul sewaktu jam orang bekerja di kantor.
Tenderness.Tekanan pada bagian atas sinus frontal, di atas canthus media, menyeb
abkan timbulnya nyeri. Ini juga dapat timbul dengan mengetuk dinding anterior si
nus frontal pada regio supraorbita bagian medial.
Bengkak atau edema pada kelopak mata bagian atas
Nasal discharge
Diagnosis sinusitis frontalis akut dibuat berdasarkan anamnesis sesuai dengan ge
jala yang telah dikeluhkan pasien, pemeriksaan rinoskopi, dan dengan X-ray. Pada
pemeriksaan X-ray, akan tampak daerah opak atau gambaran fluid level pada sinus
yang terkena. X-ray dengan posisi Water s dan foto lateral harus dilakukan.
Sinusitis sphenoidalis
Sinus sphenoidalis adalah unik oleh karena tidak dibentuk dari kantong rongga hi
dung. Sinus ini dibentuk di dalam kapsul rongga hidung dari hidung janin. Tidak
berkembang hingga usia 3 tahun usia 7 tahun pneumatisasi telah mencapai sela tur
cica. Usia 18 tahun, sinus sudah mencapai ukuran penuh.
Sinusitis Sphenoidalis ada salah satu kasus yang paling jarang terjadi. Karena
letak sinus sphenoidalis di belakang atas cavum nasi, ostiumnya bermuara pada me
atus nasi superior, maka setiap ada peradangan pada sinus sphenoidalis, tanpa ba
ntuan foto rontgen, sulit untuk menegakkan diagnosa sinusitis sphenoidalis.
Pada sinusitis sfenodalis rasa nyeri terlokalisasi di Vertex, oksipital, belakan
g bola mata, daerah mastoid, sakit kepala, lendir di nasofaring.
Diagnosa didapatkan dari anamnesis yang cermat, pemeriksaan rinoskopi anterior d
an posterior, pemeriksaan radiologic (Foccipito-Mental atau posisi Waters, Foto
kepala posisi Occipito-frontal atau posisi Caldwell, foto waters, foto kepala p
osisi lateral,foto kepala posisi Rhese, foto kepala posisi Towne), pungsi sinus
maksilaris, rinoskopi sinus maksilaris, pemeriksaan histopatologi, nasoendoskopi
dan CT scan.
Etiologi
Penyebab infeksius dari sinusitis adalah: 1)Bakteri : Streptococcus pneumoniae,
Haemophillus influenza, Streptococcus group A, Staphylococcus aureus, Neisseria,
Klebsiella, Basil gram -, Pseudomonas; 2) Virus : Rhinovirus, influenza virus,
parainfluenza virus; 3) Bakteri anaerob: fusobakteria; 4) Jamur 8.
Sinusitis akut dapat disebabkan oleh 1) Rinitis akut; 2) Faringitis; 3) Adenoidi
tis; 4) Tonsilitis akut; 5) Dentogen. Infeksi dari gigi rahang atas seperti M1,
M2, M3, P1 & P2; 6) Berenang; 7) Menyelam; 8) Trauma. Menyebabkan perdarahan muk
osa sinus paranasal; 9) Barotrauma. Menyebabkan nekrosis mukosa sinus paranasal8
.
Infeksi kronis pada sinusitis kronis disebabkan 1) Gangguan drainase. Gangguan d
rainase dapat disebabkan obstruksi mekanik dan kerusakan silia; 2) Perubahan muk
osa. Perubahan mukosa dapat disebabkan alergi, defisiensi imunologik, dan kerusa
kan silia; 3) Pengobatan. Pengobatan infeksi akut yang tidak sempurna. Sebalikny
a, kerusakan silia dapat disebabkan oleh gangguan drainase, perubahan mukosa, da
n polusi bahan kimia9.
Patofisiologi
Mekanisme patofisiologi ini berhubungan dengan 3 faktor, yaitu patensi ostia, fu
ngsi silia, dan kualitas sekresi hidung. Perubahan salah satu dari faktor ini ak
an merubah sistem fisiologis dan menyebabkan sinusitis.
1.
Patensi ostia yang berkurang ? pengaliran mukus atau drainage akan menja
di kurang adekuat ? hipoksia ? disfungsi silia dan perubahan produksi mukus ? me

rusak mekanisme dari klirens atau bersihan mukus ? akumulasi cairan di dalam sin
us ? media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Patensi ostia berkurang pada ede
ma, polip hidung, inflamasi, tumor, trauma, jaringan parut, dan variasi anatomi
(misalnya concha bullosa, deviasi septum), dan instrumen atau alat pada nasal se
perti pipa nasogastrik.
2.
Kerusakan fungsi silia ? akumulasi cairan dan bakteri di dalam sinus. Ge
rakan silia yang tidak efektif dapat disebabkan oleh pergerakan silia yang lamba
t, hilangnya koordinasi pergerakan silia, atau hilangnya sel silia dari epitel h
idung. Lambatnya pergerakan silia dapat diakibatkan oleh virus, bakteri, air din
gin, sitokin atau mediator inflamasi lainnya. Terganggunya gerakan silia dapat d
isebabkan oleh kelainan kongenital seperti pada diskinesia silia primer pada Sin
drom Kartagener. Sel silia dapat hilang sebagai hasil dari injuri epitel hidung
karena iritasi saluran pernapasan, polutan, tindakan bedah, penyakit kronis, vir
us, atau bakteri.
3.
Silia memerlukan medium cairan untuk bergerak dan berfungsi secara norma
l. Lingkungan normal silia dibentuk oleh lapisan mukus ganda (lapisan tipis peri
siliaris yang memungkinkan pergerakan silia dan lapisan gel atau serous yang teb
al sebagai tempat melekatnya ujung silia). Lapisan mukus terdiri dari mukoglikop
rotein, imunoglobulin, dan sel inflamasi. Sekret hidung dihasilkan oleh sel gobl
et dan sel kolumna siliata dari sel epitel hidung dan oleh mukus submukosa. Peru
bahan komposisi mukus ? menurunkan elastisitas atau meningkatkan viskositas ? me
rubah efektivitas dalam membersihkan bagian dalam hidung dan mukosa intrasinus.
Perubahan komposisi mukus akan merubah pergerakan silia. Produksi mukus yang ber
lebihan (seperti yang diakibatkan oleh polusi udara, alergen, iritasi atau infek
si) akan mempengaruhi sistem klirens mukosiliaris.
Gambar 3. Perubahan silia pada sinusitis
Gejala Klinis
Gejala subyektif terdiri dari gejala sistemik dan gejala lokal. Gejala sistemik
ialah demam dan rasa lesu. Gejala lokal pada hidung terdapat ingus kental yang k
adang-kadang berbau dan dirasakan mengalir ke nasofaring. Dirasakan hidung tersu
mbat, rasa nyeri didaerah infraorbita dan kadang-kadang menyebar ke alveolus, se
hingga terasa nyeri di gigi. Nyeri alih dirasakan di dahi dan di depan telinga.
Penciuman terganggu dan ada perasaan penuh dipipi waktu membungkuk ke depan. Ter
dapat perasaan sakit kepala waktu bangun tidur dan dapat menghilang hanya bila p
eningkatan sumbatan hidung sewaktu berbaring sudah ditiadakan.5,6
Gejala obyektif, pada pemeriksaan sinusitis maksila akut akan tampak pembengkaka
n di pipi dan kelopak mata bawah. Pada rinoskopi anterior tampak mukosa konka hi
peremis dan edema. Pada sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis etmoi
d anterior tampak mukopus atau nanah di meatus medius. Pada rinoskopi posterior
tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip).5,6
Penatalaksanaan
Pengobatan sinusitis kronis lebih bersifat paliatif daripada kuratif.5 Pengobata
n paliatif yang dapat diberikan pada penderita dengan sinusitis kronis dibagi me
njadi:
A.
Pengobatan konservatif
Pengobatan konservatif yang adekuat merupakan pilihan terapi untuk sinusitis mak
silaris subakut dan kronis. Antibiotik diberikan sesuai dengan kultur dan uji se
nsitivitas. Antibiotik harus dilanjutkan sekurang-kurangnya 10 hari. Drainase di
perbaiki dengan dekongestan lokal dan sistemik. Selain itu juga dapt dibantu den
gan diatermi gelombang pendek selama 10 hari, pungsi dan irigasi sinus. Irigasi
dan pencucian sinus ini dilakukan 2 kali dalam seminggu. Bila setelah 5 atau 6 k
ali tidak ada perbaikan dan klinis masih tetap banyak sekret purulen berarti muk
osa sinus sudah tidak dapat kembali normal, maka perlu dilakukan operasi radikal
.
B.
Pengobatan radikal
Pengobatan ini dilakukan bila pengobatan koservatif gagal. Terapi radikal dilaku
kan dengan mengangkat mukosa yang patologik dan membuat drenase dari sinus yang

terkena. Untuk sinus maksila dilakukan operasi Caldwell-Luc. Pembedahan ini dila
ksanakan dengan anestesi umum atau lokal. Jika dengan anestesi lokal, analgesi i
ntranasal dicapai dengan menempatkan tampon kapas yang dibasahi kokain 4% atau t
etrakain 2% dengan efedrin 1% diatas dan dibawah konka media. Prokain atau lidok
ain 2% dengan tambahan ephineprin disuntika di fosa kanina. Suntikan dilanjutkan
ke superior untuk saraf intraorbital. Incisi horizontal dibuat di sulkus ginggi
vobukal, tepat diatas akar gigi. Incisi dilakukan di superior gigi taring dan mo
lar kedua. Incisi menembus mukosa dan periosteum. Periosteum diatas fosa kanina
dielevasi sampai kanalis infraorbitalis, tempat saraf orbita diidentifikasi dan
secara hati-hati dilindungi.

Gambar 4. prosedur Caldwell Luc


Pada dinding depan sinus dibuat fenestra, dengan pahat, osteatom atau alat bor.
Lubang diperlebar dengan cunam pemotong tulang kerison, sampai jari kelingking d
apat masuk. Isi antrum dapat dilihat dengan jelas. Dinding nasoantral meatus inf
erior selanjutnya ditembus dengan trokar atau hemostat bengkok. Antrostomi intra
nasal ini dapat diperlebar dengan cunam kerison dan cunam yang dapat memotong tu
lang kearah depan. Lubang nasoantral ini sekurang-kurangnya 1,5 cm dan yang dipo
tong adalah mukosa intra nasal, mukosa sinus dan dinding tulang. Telah diakui se
cara luas bahwa berbagai jendela nasoantral tidak diperlukan. Setelah antrum dii
nspeksi dengan teliti agar tidak ada tampon yang tertinggal, incisi ginggivobuka
l ditutup dengan benang plain cat gut 00. biasanya tidak diperlukan pemasangan t
ampon intranasal atau intra sinus. Jika terjadi perdarahan yang mengganggu, kate
ter balon yang dapat ditiup dimasukan kedalam antrum melalui lubang nasoantral.
Kateter dapat diangkat pada akhir hari ke-1 atau ke 2. kompres es di pipi selama
24 jam pasca bedah penting untuk mencegah edema, hematoma dan perasaan tidak ny
aman.
C.
Pembedahan tidak radikal
Akhir-akhir ini dikembangkan metode operasi sinus paranasal dengan menggunakan e
ndoskop yang disebut Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BESF). Prinsipnya adalah
membuka dan membersihkan daerah kompleks ostio-meatal yang menjadi sumber penyum
batan dan infeksi, sehingga ventilasi dan drenase sinus dapat lancar kembali mel
alui ostium alami. Dengan demikian mukosa sinus akan kembali normal.6,7
Komplikasi
Komplikasi sinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya antibiotika.1
Komplikasi biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronis deng
an eksaserbasi akut.1 Komplikasi yang dapat terjadi adalah:
Komplikasi Orbita
Komplikasi ini dapat terjadi karena letak sinus paranasal yang berdekata
n dengan mata (orbita). Sinusitis etmoidalis merupakan penyebab komplikasi orbit
a yang tersering kemudian sinusitis maksilaris dan frontalis. Terdapat lima tah
apan terjadinya komplikasi orbita ini.
a.
Peradangan atau reaksi edema yang ringan
b.
Selulitis orbita. Edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif me
nginvasi isi orbita namun pus belum terbentuk
c.
Abses subperiosteal. Pus terkumpul di antara periorbita dan dinding tula
ng orbita menyebabkan proptosis dan kemosis

d.
Abses periorbita. Pada tahap ini, pus telah menembus periosteum dan berc
ampur dengan isi orbita
e.
Trombosis sinus kavernosus. Komplikasi ini merupakan akibat penyebaran b
akteri melalui saluran vena ke dalam sinus kavernosus di mana selanjutnya terben
tuk suatu tromboflebitis septic.

Gambar 5. Komplikasi penyakit sinus pada orbita


Komplikasi Intrakranial
Komplikasi ini dapat berupa meningitis, abses epidural, abses subdural, abses ot
ak.

Gambar 7. Sistem vena sebagai jalur perluasan komplikasi ke intrakranial


Kelainan Paru
Adanya kelainan sinus paranasal disertai dengan kelaian paru ini disebut
sinobronkitis. Sinusitis dapat menyebabkan bronchitis kronis dan bronkiektasis.
Selain itu juga dapat timbul asma bronkhial.
Prognosis
Prognosis sinusitis maksilaris sangat tergantung kepada tindakan pengobatan yang
dilakukan dan komplikasi penyakitnya. Jika, drainase sinus membaik dengan terap
i antibiotik atau terapi operatif maka pasien mempunyai prognosis yang baik
Kesimpulan
Sinus adalah ruang berisi udara yang membantu mengurangi berat tengkorak, fungsi
proteksi, dan resonansi suara. Terdapat empat pasang sinus yaitu sinus fontalis
, sinus maksilaris, sinus ethmoidalis dan sinus sphenoidalis. Sinusitis maksilar
is adalah peradangan mukosa sinus maksilaris yang dapat disebabkan oleh bakteri
(aerob atau anaerob, virus, dan jamur). Mekanisme patofisiologi sinusitis maksil
aris dipengaruhi oleh patensi osia, gangguan fungsi silia, dan sekresi hidung. F
aktor tersebut akan merubah sistem fisiologis dan menyebabkan sinusitis. Penegak
an diagnosis sinusitis adalah berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan peme
riksaan penunjang. Terapi sinusitis maksilaris adalah dengan pemberian antibioti
k untuk eradikasi bakteri, terapi simptomatis seperti pseudoefedrin dan analgesi
k, serta dengan menghilangkan penyebab sinusitis. Tindakan yang dapat diperlukan
adalah bilas sinus dan terapi bedah jika pengobatan tidak adekuat. Komplikasi s
inusitis relatif jarang terjadi, komplikasi yang dapat terjadi adalah kelainan i
ntracranial, osteomielitis dan abses subperiostal dan kelainan paru.

Daftar Pustaka
1.
Mangunkusumo, Endang dan Nusjirwan Rifki. Sinusitis. In: Soepardi EA, Is
kandar N (eds). Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher.
5th Ed. Jakarta: Gaya Baru; 2001.pp.120-124.
2.
Hilger, Peter A. Penyakit pada Hidung. In: Adams GL, Boies LR. Higler PA
, editor. Buku ajar penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: EGC; 2003.p.200.
3.
Brook, I. 2012. Chronic Sinusitis. Diakses dari : http://emedicine.medsc
ape.com/article/232791-overview. Diakses tanggal 15 Maret 2014.
4.
Adam, G. L. 2005 Boies: Buku Ajar Ilmu Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: E
GC.
5.
Nizar W. Anatomi Endoskopik Hidung-Sinus Paranasalis dan Patifisiologi S
inusitis. Kumpulan Naskah Lengkap Pelatihan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional Ju
ni 2000.p 8-9
6.
Pracy R, Siegler Y. Sinusitis Akut dan Sinusitis Kronis. Editor Roezin F
, Soejak S. Pelajaran Ringkas THT . Cetakan 4. Jakarta: Gramedia; 1993.p 81-9
7.
Ballenger, J.J. Infeksi Sinus Paranasal dalam Penyakit Telinga, Hidung
dan Tenggorokan Jilid 1 Edisi 13, halaman 232-245, Binarupa Aksara, Jakarta: 200
3