Anda di halaman 1dari 39

K O M P R ES I M ED U LA S P IN A LIS

Jessica Lawrence
11.2013.128

A N ATO M
I&
FU N G SI
M ED U LA
SP IN A LIS

A N ATO M I & FU N G SI M ED U LA SP IN A LIS

1. Saraf spinal
2. Ganglion radix
dorsalis
3. Radiks dorsalis
(sensori)
4. Radiks ventralis
(motorik)
5. Kanalis
sentralis
6. Grey matter
7. White matter

Traum a M edula Spinalis


Trauma medula spinalis adalah

trauma pada tulang belakang baik


secara langsung atau tidak langsung
yang menyebabkan lesi di medula
spinalis sehinga menyebabkan
kerusakan medula spinalis,
menimbulkan gangguan neurologis,
dan dapat menyebabkan kecacatan
menetap atau kematian.

Klasifi
kasi
Klasifikasi tingkat tinggi dan keparahan

trauma medulla spinalis ditegakkan pada


saat 72 jam sampai 7 hari setelah trauma.
a. Berdasarkan impairment scale:
Grade

Tipe

Gangguan Medula Spinalis ASIA/IMSOP

Komplit

Tidak ada fungsi motorik dan sensorik sampai S4-S5

Inkomplit Fungsi sensorik masih baik tapi motorik terganggu


sampai segement sakral S4-S5

Inkomplit Fungsi motorik terganggu di bawah level, tapi otototot motorik masih punya kekuatan <3

Inkomplit Fungsi motorik terganggu di bawah level, otot


motorik utama mempunyai kekuatan > 3

Normal

Fungsi motorik dan sensorik normal

Berdasarkan tipe dan lokasi trauma:


Complete spinal cord injury (Grade A)
Unilevel
Multilevel

Incomplete spinal cord injury (Grade B, C, D)


Cervico medullary syndrome
Central cord syndrome
Anterior cord syndrome
Posterior cord syndrome
Brown Sequard syndrome
Conus medullary syndrome

Complete Cauda Equina Injury (Grade A)


Incomplete Cauda Equina Injury (Grade B, C,

D)

M ekanism e
Trauma medula spinalis dapat menyebabkan komosio,

kontusio, laserasi, atau kompresi medula spinalis.


Medula spinalis dan radiks dapat rusak melalui 4
mekanisme berikut:
Kompresi oleh tulang, ligamen, herniasi diskus

intervertebralis, dan hematoma. Yang paling berat adalah


kerusakan akibat kompresi tulang dan kompresi oleh korpus
vertebra yang mengalami dislokasi ke posterior dan trauma
hiperekstensi.
Regangan jaringan berlebihan, biasanya terjadi pada
hiperfleksi. Toleransi medula spinalis terhadap regangan
akan menurun dengan bertambahnya usia.
Edema medula spinalis yang timbul segera setelah trauma
mengganggu aliran darah kapiler dan vena.
Gangguan sirkulasi atau sistem arteri spinalis anterior dan
posterior akibat kompresi tulang.

M ekanism e Kerusakan Prim er

Ada setidaknya 4 mekanisme


penyebab kerusakan primer:
gaya impact dan kompresi persisten,
gaya impact tanpa kompresi,
tarikan medula spinalis,
laserasi dan medula spinalis
terpotong akibat trauma.

M ekanism e Kerusakan
Sekunder
Kerusakan sekunder disebabkan,

antara lain oleh syok neurogenik,


proses vaskular, seperti perdarahan
dan iskemia, eksitotoksisitas, lesi
sekunder yang dimediasi kalsium,
gangguan elektrolit, kerusakan
karena proses imunologi, apoptosis,
gangguan pada mitokondria, dan
proses lain.

Penatalaksanaan
A (AIRWAY)
o Menjaga jalan nafas supaya tetap lapang,
B (BREATHING)
o Mengatasi gangguan pernafasan kalau perlu lakukan
intubasi endotrakheal (pada cedera medulla spinalis
servikal atas) dan pemasangan alat bantu nafas supaya
oksigenasi adekuat.
C (CIRCULATION)
o Memperhatikan tanda-tanda hipotensi, terjadi karena
pengaruh pada sistem saraf ortosimpatis. Harus dibedakan
antara:
o Syok Hipovolemik (hipotensi, takikardia, ekstremitas
dingin/ basah)
o Tindakan : Berikan cairan kristaloid (NaCl 0,9%/ Ringer
Laktat) kalau perlu dengan koloid (misal: Albumin)

o Syok Neurogenik (hipotensi, bradikardia,

ekstremitas hangat/ kering)


Pemberian cairan tidak akan menaikkan tensi
(awasi edema paru), maka harus diberikan obat
vasopressor:
Dopamine untuk menjaga MAP > 70
Bila perlu adrenalin 0,2 mg subkutan
Boleh diulangi 1 jam kemudian

Selanjutnya
o Pasang foley kateter untuk monitor hasil urine
dan cegah retensi urin.
o Pasang pipa nasogastrik (hati-hati pada cedera
servikal) dengan tujuan untuk :
Dekompresi lambung pada distensi
Kepentingan nutrisi enteral

o Jika terdapat fraktur atau dislokasi kolumna vertebralis


Servikal

: pasang kerah fiksasi leher, jangan dimanipulasi


dan disamping kiri-kanan leher diletakkan bantal.
Thorakal : lakukan fiksasi (torakolumbal brace)
Lumbal
: fiksasi dengan korset lumbal

o Pemberian Kortikosteriod
Bila diagnosis ditegakkan < 3 jam pasca-trauma

diberikan :
Methylprednisolon 30 mg/kgBB i.v bolus selama 15 menit,

ditunggu selama 45, selanjutnya diberikan infuse terus


menerus Methylprenisolon selama 23 jam dengan dosis 5,4
mg/ kgBB/jam

Bila 3-8 jam, sama seperti di atas, hanya infus

Methylprednisolon dilanjutkan untuk 47 jam.


Bila > 8 jam, tidak dianjurkan pemberian
Methylprednisolon

o Pemberian obat-obatan
Lanjutkan pemberian Methlprednisolon (mencegah proses

sekunder)
Anti-spasitas otot sesuai keadaan klinis
Analgetik
Mencegah dekubitus, kalau perlu pakai kasur khusus
Mencegah thrombosis vena dalam (DVT) dengan Stoking
kaki khusus atau fisioterapi. Kalau perlu dapat diberikan
anti-koagulant.
Mencegah proses sekunder dengan pemberian antioksidan
Stimulasi sel saraf dengan pemberian GM1-Ganglioside
Dimulai dalam waktu 72 jam sejak onset sampai dengan 18-32

hari

Terapi obat lain sesuai indikasi seperti antibiotic bila ada

infeksi
Memperbaiki sel saraf yang rusak dengan stem sel

o Operasi
Waktu Operasi
Waktu operasi antara 24 jam sampai dengan 3

minggu
Tindakan operatif awal (< 24 jam) lebih bermakna
menurunkan perburukan neurologis, komplikasi
dan keluaran skor motorik atu tahun pasca-trauma.

Indikasi Operatif
Ada fraktur, pecahan tulang menekan medulla

spinalis
Gambaran neurologis progresif memburuk
Fraktur, dislokasi yang labil
Terjadi herniasi diskus intervertebralis yang
menekan medulla spinalis.

Sindrom M edula Spinalis


Sindrom

Kausa Utama

Brown Sequard

Trauma tembus

Syndrome

Kompresi ekstrinsik

Gejala & Tanda Klinis


o Paresis UMN ipsilateral di
bawah lesi dan LMN setinggi lesi
o Gangguan eksteroseptif (nyeri &
suhu) kontralateral
o Gangguan propioseptif (raba &
tekan) ipsilateral

Sindrom Spinalis

Cedera yang

Anterior

menyebabkan HNP
pada T4-6

o Paresis LMN setinggi lesi, UMN


dibawah lesi
o Dapat disertai disosiasi
sensibilitas
o Gangguan eksteroseptif,
propioseptif normal
o Disfungsi spinkter

Sindrom

Kausa Utama

Sindrom Spinalis

Hematomielia

o Paresis lengan > tungkai

Sentral

Trauma spinalis

o Gangguan sensorik bervariasi

(fleksi-ekstensi)

Gejala & Tanda Klinis

(diestesia/ hiperestesia) di ujung


distal lengan
o Disosiasi sensibilitas
o Disfungsi miksi, defekasi dan
sensual

Sindrom Spinalis

Trauma

o Paresis ringan

Posterior

Infark A. Spinalis

o Gangguan eksteroseptif (nyeri/

Posterior

parastesia) pada punggung, leher


dan bokong
o Gangguan propioseptif bilateral

Sindrom

Kausa Utama

Sindrom

Trauma lower

konus

sacral cord

medullaris

Gejala & Tanda Klinis


o Gangguan motorik ringan, simetris,
tidak ada atropi
o Gangguan sensorik saddle anestesi,
muncul lebih awal, bilateral, ada
disosiasi sensibilitas
o Nyeri jarang, relative ringan
o Simetris, bilateral pada daerah
perineum dan paha, reflex Achilles (-),
reflex Patella (+)
o Disfungsi spincther terjadi dini dan
berat
o Refleks bulboavernosus dan anal (-)
o Gangguan ereksi dan ejakulasi

Sindrom

Kausa

Gejala & Tanda Klinis

Utama
Sindrome

Cedera akar

Cauda Equina

saraf
lumbosakral

o Gangguan motorik sedang sampai


berat, asimetris dan atrofi
o Gangguan sensibilitas saddle anestesi,
asimetris, timbul lebih lambat,
disosiasi sensibilitas (-)
o Nyeri menonjol hebat, timbul dini,
radikuler, asimetris
o Gangguan reflex bervariasi, gangguan
spincter timbul lambat, jarang berat,
reflex jarang terganggu, disgungsi
seksual jarang

Tum or m edula spinalis


Lesi Ekstradural
Lesi Intradural
Intradural Ekstramedular
Intradural Intramedular

LesiEkstradular
kompresi cepat akibat invasi tumor pada

medula spinalis, kolaps kolumna


vertebralis, atau perdarahan dari dalam
metastasis.
bersifat berat dan progresif.
Kelemahan spastik dan hilangnya
sensasi getar dan posisi sendi di bawah
tingkat lesi
disfungsi miksi dan defekasi; kompresi
bagian lateral medulla spinalis dapat
menyebabkan sindroma Brown Sequard.

Lesiintraduralekstram edular
paling sering timbul didaerah radix posterior .

awalnya nyeri radicular dan parastesia tumor


membesar menyebabkan kompresi pada radiks
posterior dan medulla spinalis,.
Tumor membesar paresis spastik yang berat

dan progresif pada ekstremitas bawah, dan


parestesia (terutama parestesia dingin) di kedua
tungkai, disertai oleh gangguan sensasi epikritik
dan proprioseptik awalnya ipsilateral dan

LesiIntraduralekstram edular
Jarang menimbulkan nyeri radicular, tetapi

menimbulkan nyeri atipikal (rasa seperti terbakar,


nyeri tumpul) dengan lokalisasi difus.
Defisit sensorik terdisosiasi dapat menjadi temuan
dini
Disfungsi miksi dan defekasi timbul pada awal
pertumbuhan tumor.
Atrofi otot akibat keterlibatan kornu anterior lebih
sering dibandingkan dengan tumor ekstramedular.
Spastisitas jarang terjadi seberat pada tumor
ekstramedular.
Gejala dan tanda lainnya adalah nyeri tumpul sesuai
dengan tinggi lesi, impotensi pada pria dan
gangguan sfingter.

(a,b) tumor ekstradural, (a) di dorsal

medulla spinalis, (b) di ventral medulla


spinalis (c) Tumor intradural
ekstrameduler (d) tumor intradural
intrameduler.

H erniasinukleus pulposus
yaitu keluarnya nukleus

pulposus dari discus


melalui robekan annulus
fibrosus hingga keluar
ke belakang/dorsal
menekan medulla
spinalis atau mengarah
ke dorsolateral
menekan radix spinalis
sehingga menimbulkan
gangguan.

Patofi
siologi
Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya
HNP :
1. Aliran darah ke discus berkurang
2. Beban berat
3. Ligamentum longitudinalis posterior
menyempit
Jika beban pada discus bertambah, annulus
fibrosus tidak kuat menahan nukleus
pulposus akan keluar, akan timbul rasa nyeri
oleh karena nukleus pulposus yang berada di
canalis vertebralis menekan radiks.

G ejala Klinis
Nyeri punggung bawah.
Nyeri daerah bokong.
Rasa kaku/ tertarik pada punggung bawah.
Nyeri yang menjalar atau seperti rasa

kesetrum dan dapat disertai baal, yang


dirasakan dari bokong menjalar ke daerah
paha, betis bahkan sampai kaki, tergantung
bagian saraf mana yang terjepit.
Rasa nyeri sering ditimbulkan setelah
melakukan aktifitas yang berlebihan, terutama
banyak membungkukkan badan atau banyak
berdiri dan berjalan.

Rasa nyeri juga sering diprovokasi karena

mengangkat barang yang berat, batuk, bersin


akibat bertambahnya tekanan intratekal.
Jika dibiarkan maka lama kelamaan akan
mengakibatkan kelemahan anggota badan
bawah/ tungkai bawah yang disertai dengan
mengecilnya otot-otot tungkai bawah dan
hilangnya refleks tendon patella (KPR) dan
achilles (APR).
Bila mengenai konus atau kauda ekuina dapat
terjadi gangguan defekasi, miksi dan fungsi
seksual. Keadaan ini merupakan kegawatan
neurologis yang memerlukan tindakan
pembedahan untuk mencegah kerusakan fungsi
permanen.

Penatalaksanaan
Terapi konservatif
Terapi operatif

TerapiKonservatif
Tujuan terapi konservatif adalah

mengurangi iritasi saraf, memperbaiki


kondisi fisik pasien dan melindungi
dan meningkatkan fungsi tulang
punggung secara keseluruhan.
Terapi konservatif meliputi:
Tirah baring
Tujuan tirah baring untuk mengurangi
nyeri mekanik dan tekanan intradiskal,
lama yang dianjurkan adalah 2-4 hari.

Medikamentosa
Analgetik dan NSAID
Pelemas otot: digunakan untuk

mengatasi spasme otot


Analgetik ajuvan: dipakai pada HNP
kronis.

Terapi Fisik
Diatermi/kompres panas/dingin
Korset lumbal
Latihan
Proper body mechanics

TerapiO peratif
Terapi bedah berguna untuk menghilangkan

penekanan dan iritasi saraf sehingga nyeri dan


gangguan fungsi akan hilang. Tindakan operatif
HNP harus berdasarkan alasan yang kuat yaitu
berupa:
Defisit neurologik memburuk.
Gangguan otonom (miksi, defekasi, seksual).
Paresis otot tungkai bawah.

Laminectomy: membuang keseluruhan lamina.


Discectomy: membuang sebagian aataupun

keseluruhan intervertebral dics.


Mikrodiskectomy.

Terim a Kasih ^ -^