Anda di halaman 1dari 83

Jessica Lawrence

11.2013.128
Pembimbing: dr Hardhi Pranata, SpS, MARS
RS Bhakti Yudha, Depok

Nama
Umur
Jenis kelamin
Status perkawinan
Alamat
Pancoran Mas
No CM
Dirawat di ruang
Tanggal masuk RS
Tanggal keluar RS

: Tn.K
: 70 Tahun 7 bulan 11 hari
: Laki-laki
: Sudah menikah
: Jl. Caringin RT/ RW 06/04 No.24
:
:
:
:

324110
Cattelya B kamar 131
14 September 2015
16 September 2015

Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis,
pada tanggal 14 September 2015 pukul 08.00
WIB.

Keluhan utama:
Tubuh sebelah kanan tiba-tiba lemas sejak 5
jam SMRS.

Pasien datang ke Rumah Sakit Bhakti Yudha dengan keluhan


tubuh lemas sejak 5 jam SMRS. Pasien datang dalam keadaan
sadar, membuka mata spontan, namun pasien tidak dapat
berbicara dan tidak mengerti pembicaraan orang lain.
Sebelumnya, pasien dapat beraktivitas dengan biasa, pasien
sholat subuh lalu terjatuh setelah itu pingsan. Keluarga pasien
menemukan pasien setelah pasien terjatuh dan pingsan. Pasien
lalu sadar dan setelah sadar tubuh sebelah kanan pasien lemas,
pasien tidak bisa berbicara, dan tidak mengerti apa yang orang
lain bicarakan. Keluhan nyeri kepala tidak ada sebelumnya,
berbicara pelo juga tidak ada sebelumnya, pasien juga tidak
ada muntah.

Berdasarkan anamnesis dengan keluarga, keluarga


mengaku pasien memiliki riwayat tekanan darah
tinggi dan pasien sulit untuk minum obat darah tinggi
secara teratur. Pasien juga memiliki riwayat penyakit
jantung. Pasien tidak ada mengkonsumsi alkohol,
merokok, dan mengkonsumsi obat-obatan tertentu
dalam jangka waktu panjang.

Keadaan umum
: Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos Mentis
GCS
: E4MV-afasia global
TD
: 180/100 mmHg
Nadi
: 72 kali/menit
Pernafasan
: 16 kali/menit
Suhu
: 36,7C

Kepala
Mata

: Normosefali, simetris
: Konjungtiva tidak anemis, Sklera anikterik
Pupil isokor, diameter 3mm
Bola mata simetris kanan dan kiri,
RCL+/+ RCTL +/+
Tenggorokan
: Tidak hiperemis, T1-T1
Leher
: Simetris, KGB (-)
Dada
: Simetris, deformitas (-)
Paru
: vesikuler, wheezing (-/-) , ronkhi (-/-)
Jantung
: BJ I-II murni regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen :Datar, supel, BU normal, NTE (-), hepar-lien normal
Kelamin
: Tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas
: Akral hangat (+/+), edema (-/-)

Kepala
Bentuk
Nyeri tekan
Simetris
Pulsasi

:
:
:
:

Leher
Sikap
Pergerakan
Kaku Kuduk

: Simetris
: Bebas
: (-)

Normocephali
(-)
(+)
(-)

N. I (olfaktorius)
Kanan

Kiri

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Kanan

Kiri

Tajam penglihatan

Tidak dapat dilakukan

Tidak dapat dilakukan

Pengenalan warna

Tidak dapat dilakukan

Tidak dapat dilakukan

Lapang pandang

Tidak dapat dilakukan

Tidak dapat dilakukan

Fundus okuli

Tidak dapat dilakukan

Tidak dapat dilakukan

Penciuman

N. II (optikus)

N. III (okulomotorius)
Kelopak mata
Gerakan mata:

Kanan

Kiri

Terbuka

Terbuka

Superior

Tidak dapatdilakukan

Tidak dapat dilakukan

Inferior

Tidak dapatdilakukan

Tidak dapat dilakukan

Medial

Tidak dapatdilakukan

Tidak dapat dilakukan

Endoftalmus

Tidak ada

Tidak ada

Eksoftalmus

Tidak ada

Tidak ada

Diameter Pupil

3 mm

3 mm

Bentuk

Bulat

Bulat

Sentral

Sentral

(+)

(+)

(+)

(+)

Posisi
Refleks cahaya
langsung
Refleks cahaya tidak
langsung

Kanan

Kiri

Pergerakan mata

tidak dapat

tidak dapat

(kebawah keluar)

dilakukan

dilakukan

(-)

(-)

Melihat ganda

Membuka mulut

Tidak dapat dilakukan

Mengunyah

Tidak dapat dilakukan

Menggigit

Tidak dapat dilakukan

Refleks kornea

(+) mengedip

Sensibilitas

Tidak dilakukan

Kanan

Kiri

Pergerakan mata

Tidak dapat

Tidak dapat

(ke lateral)

dilakukan

dilakukan

Diplopia

Tidak dapat

Tidak dapat

dilakukan

dilakukan

Mengerutkan dahi

Tidak dapat dilakukan

Tidak dapat dilakukan

Kerutan kulit dahi

Tidak dapat dilakukan

Tidak dapat dilakukan

Menutup mata

Tidak dapat dilakukan

Tidak dapat dilakukan

Lipatan nasolabial

Tidak dapat dilakukan

Tidak dapat dilakukan

Sudut mulut

Tidak dapat dilakukan

Tidak dapat dilakukan

Menggembungkan pipi

Tidak dapat dilakukan

Tidak dapat dilakukan

Memperlihatkan gigi

Tidak dapat dilakukan

Tidak dapat dilakukan

Bersiul

Tidak dapat dilakukan

Tidak dapat dilakukan

Perasaan lidah bagian 2/3

Tidak dapat dilakukan

Tidak dapat dilakukan

depan

Mendengar suara

Tidak dapat

Tidak dapat

berbisik

dilakukan

dilakukan

Test Rinne

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Test Weber

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Test Shwabach

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Faring

Tidak dilakukan

Daya mengecap 1/3 belakang

Tidak dilakukan

Refleks muntah

Tidak dilakukan

Sensibilitas

Tidak dilakukan

Arkus faring

Tidak dilakukan

Menelan

Tidak ada kelainan

Bicara

Tidak dapat berbicara

Nadi

Tidak dilakukan

Mengangkat bahu
Memalingkan kepala
Trofi otot bahu

Tidak dilakukan
Tidak ada kelainan
Eutrofi

Pergerakan lidah

Tidak dapat dilakukan

Julur lidah

Tidak dapat dilakukan

Tremor

Tidak dapat dilakukan

Kaku kuduk
Laseque
Kernig
Brudzinski I
Brudzinski II

:
:
:
:
:

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Motorik

Pergerakan
Kekuatan
Tonus
Atrofi

Kanan
(-)
1
hipertonus
(-)

Kiri
(+)
4
normotonus
(-)

Sensorik

Refleks
Kanan
Biceps
Triceps

Kanan

Kiri

Taktil

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Nyeri

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Termi

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Diskriminasi

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Kiri

23

Motorik
Kanan

Kiri

Pergerakan

(-)

(+)

Kekuatan

Tonus

hipertonus

normotonus

Atrofi

Sensibilitas
Kanan

Kiri

Taktil

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Nyeri

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Termi

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Diskriminasi

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Refleks
Patella
Achilles
Babinski
Chaddock
Schaffer
Oppenheim
Gordon

Kanan

Kiri

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Cara berjalan
Test Romberg
Disdiadokokinesia
Ataksia
Rebound phenomenon
Dismetria
Nistagmus test

: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan

Gerakan-gerakan Abnormal
Tremor
: (-)
Miokloni : (-)
Khorea
: (-)
Alat Vegetatif
Miksi
: Retensio Urine (-)
Defekasi
: Tidak diperiksa

Perkiraan Siriraj score:


(2,5xkesadaran) + (2xsakit kepala) + (2xmuntah) + (0,1xdiastole) (3xaterom) 12
( 2,5 x 0) + (2 x 0) + ( 2 x 0) + (0,1 x 100) (3 x 1) 12 =
- 1( < 1) iskemik

15 September 2015

Hasil Pemeriksaan

Hasil

Hematologi
Hemoglobin

13.0 gr/dl

Leukosit

9.900/mm3

Hematokrit
Trombosit

37.6%
190.000/mm3

Kimia Darah
Glukosa puasa

111 mg/dl

Glukosa 2 jam PP

156 mg/dl

Kolestrol

145 mg/dl

Trigliserida

131 mg/dl

HDL-Kolestrol

28 mg/dl

Belum dilakukan

Anamnesis
Pasien laki-laki berusia 70 tahun datang ke Rumah Sakit Bhakti Yudha
dengan keluhan tubuh lemas sejak 5 jam SMRS. Pasien datang dalam
keadaan sadar, membuka mata spontan, namun pasien tidak dapat
berbicara dan tidak mengerti pembicaraan orang lain. Sebelumnya,
pasien dapat beraktivitas dengan biasa, pasien sholat subuh lalu
terjatuh setelah itu pingsan. Keluarga pasien menemukan pasien
setelah pasien terjatuh dan pingsan. Pasien lalu sadar dan setelah
sadar tubuh sebelah kanan pasien lemas, pasien tidak bisa berbicara,
dan tidak mengerti apa yang orang lain bicarakan.
Berdasarkan anamnesis dengan keluarga, keluarga mengaku pasien
memiliki riwayat tekanan darah tinggi dan pasien sulit untuk minum
obat darah tinggi secara teratur. Pasien juga memiliki riwayat
penyakit jantung.

Pemeriksaan

Fisik
Keadaan umum tampak sakit sedang,
kesadaran compos mentis, E3VM-afasia global,
tekanan darah 180/100 mmHg, nadi 72x/menit,
suhu 36,7 C dan pernapasan 16x/menit. Pada
status neurologis, nervus cranialis N.VII tidak
dapat dilakukan karena pasien tidak dapat
mengikuti perintah. Pemeriksaan motorik
ditemukan hemiparesis dextra.

Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium glukosa puasa 111
mg/dl, glukosa 2 jam PP 156 mg/dl.

Klinis
Topis

:Hemiparesis dextra
:Korteks serebri lobus frontotemporal
Etiologi:Vaskular
Patologik
:Infark

Non-Medika Mentosa
Bed rest
Fisioterapi

Medika Mentosa

IVFD RL/12 jam


Inj Citicoline 2 x 250 mg
Clopidogrel tab 1 x 75 mg.
Thromboaspilet 1 x 80 mg.

Ad Vitam
Ad Fungtionam
Ad Sanationam

: Dubia ad bonam
: Dubia ad malam
: Dubia ad malam

15 September 2015
Subjektif:
Pasien masih lemas, dan masih tidak bisa diajak berbicara. Tadi
malam pasien sempat tersedak.
Objektif:
TD : 180/90 mmHg
N
: 80 x/m
RR : 24 x/m
S
: 36,4oC

Kekuatan Motorik :
Kesan hemiparese
dextra
Refleks Fisiologis :
-+ ++
--Refleks patologi:
Kaku kuduk : negatif

Nervus Kranialis:
N III, IV, VI: gerak bola
mata (+)
N V: Refleks kornea (+)

Assessment:
Stroke Iskemik+afasia global+gangguan menelan
Plan:
IVFD RL/12 jam
Inj Citicoline 2 x 250 mg
Clopidogrel tab 1 x 75 mg
Thromboaspilet 1 x 80 mg.
Saran speech terapi di ppk III

TINJAUAN PUSTAKA

Hemisfer Serebri
Lobus

frontalis fungsi luhur, kognitif, pusat bicara motorik

Lobus

temporalis pusat bicara sensorik

Lobus

parietalis pusat sensorik tubuh

Lobus

occipitalis pusat penglihatan

Diensefalon

Mesensefalon

Pons

Medulla Oblongata

Gejala

Stroke hemoragik

Stroke non
hemoragik

Onset atau awitan

Mendadak

Mendadak

Saat onset

Sedang aktif

Istirahat

Peringatan

Nyeri kepala

+++

+/-

Kejang

Muntah

KLINIS

PERDARAHAN

EMBOLI

TROMBOSIS

Rendah

Sedikit

Sedikit

Hemi

Plegi

Parese

Parese

Kaku kuduk

Glasgow Coma
Scale

Deviation
conjugree
Gangguan N. III, IV,
VI

CT Scan

Stroke Infark:
hipodens
Stroke hemoragik:
hiperdens

MRI

Adanya hambatan atau sumbatan pada pembuluh otak


tertentu sehingga daerah otak yang diperdarahi oleh
pembuluh darah tersebut tidak mendapatkan pasokan energi
dan oksigen.
Jaringan sel-sel otak mati dan tidak berfungsi lagi

Trombus
Sumbatan pembuluh darah besar di otak gumpalan/plak yang
terbentur akibat aterosklerotik (pengerasan arteri)
menyumbat daerah di otak daerah otak yang seharusnya
mendapat pasokan oksigen dan nutrisi kekurangan oksigen
(iskemia) dan mati (infark)

Emboli
gumpalan darah/bekuan darah yang berasal dari jantung,
terbawa arus darah sampai otak menyumbat pembuluh darah
di otak

Letak Lesi &


Gejala

A. Serebri Posterior
Hemianopsia homonim
kontralateral dari sisi lesi
Hemiparesis kontralateral
Hilang rasa sakit, suhu,
sensorik propioseptif
kontralateral

Hemiparese/hemiplegi, dilakukan pemeriksaan dengan


memerintah pasien mengangkat kedua tangan dan tungkai
Mulut mencong (parese saraf fasialis atau nervus kranial VII)
Bicara pelo/disartria (gangguan nervus kranial XII)
Gangguan menelan/ disfagia (nervus kranial IX dan X)
Hemihipestesi atau kehilangan rasa peka tubuh sesisi
Gangguan defekasi dan miksi
Gangguan bicara
Gangguan mengontrol emosi
Gangguan daya ingat.

Evaluasi cepat dan diagnosis


Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan neurologik dan skala stroke
Studi diagnostik stroke akut meliputi CT scan tanpa kontras,
KGD, elektrolit darah, tes fungsi ginjal, EKG, penanda iskemik
jantung, darah rutin, PT/INR, aPTT, dan saturasi oksigen.

Terapi umum
Stabilisasi jalan nafas dan pernafasan
Observasi

status neurologis, nadi, tekanan darah, suhu


tubuh, dan saturasi oksigen
Perbaikan jalan nafas dengan pemasangan pipa
orofaring/ETT, bila > dua minggu dianjurkan trakeostomi
Pada pasien hipoksia saturasi O2 < 92%, diberi suplai
oksigen
Pasien stroke iskemik akut yang non hipoksia tidak perlu
terapi O2

Stabilisasi Hemodinamik
Berikan cairan kristaloid atau koloid intravena (hindari
cairan hipotonik)
Optimalisasi tekanan darah
Bila tekanan darah sistolik < 120 mmHg dan cairan
sudah mencukupi, dapat diberikan obat-obat
vasopressor titrasi dengan target TD sistolik 140 mmHg
Pemantauan jantung harus dilakukan selama 24 jam
pertama.

Pengendalian TIK
Elevasi kepala 20-30
Hindari penekanan vena jugulare
Hindari pemberian cairan glukosa atau cairan hipotonik
Hindari hipertermia
Jaga normovolemia
Osmoterapi atas indikasi: manitol 0,25-0,50 gr/kgBB,
selama > 20 menit, diulangi setiap 4-6 jam, kalau perlu
diberikan furosemide dengan dosis inisial 1 mg/kgBB IV.

Pengobatan hipertensi pada stroke akut


Pengobatan hiper/hipoglikemia
Trombolisis pada stroke akut
Antikoagulan
Antiplatelet Klopidrogel
Citicoline 2x1000 mg 3 hari iv lanjut dengan 2x1000 mg 3
minggu PO.
Pemberian Neuroprotektan.

Pasien stroke iskemik akut, tekanan darah diturunkan 15 %


(sistolik maupun diastolik) dalam 24 jam pertama setelah
awitan apabila tekanan darah sistolik (TDS) > 220 mmHg
atau tekanan diastolik > 120 mmHg.

Pada pasien stroke iskemik akut, akan diberi terapi


trombolitik (rtPA), supaya tekanan darah diturunkan
sehingga TDS < 185 mmHg dan TDD < 110 mmHg.
Selanjutnya tekanan darah harus dipantau sehingga TDS <
180 mmHg dan TDD < 105 mmHg selama 24 jam setelah
pemberian rtPA.

TDS >180 mmHg /MAP > 130 mmHg tanpa disertai gejala
dan tanda peningkatan tekanan intrakranial tekanan
darah diturunkan secara hati-hati dengan menggunakan
obat antihipertensi intravena kontinu.

TDS >180 mmHg/MAP > 130 mmHg tanpa disertai gejala


dan tanda peningkatan tekanan intrakranial tekanan
darah diturunkan secara hati-hati obat antihipertensi
intravena kontinu atau intermiten pemantauan
tekanan darah setiap 15 menit hingga MAP < 110 mmHg
atau tekanan darah 160/90 mmHg.

Afasia adalah gangguan berbahasa akibat gangguan


serebrovaskuler hemisfer dominan, trauma kepala, atau
proses penyakit.
Terdapat beberapa tipe afasia, biasanya digolongkan
sesuai lokasi lesi

Afasia global ialah bentuk afasia yang paling berat.


Afasia global disebabkan oleh lesi luas yang merusak sebagian
besar atau semua daerah bahasa.
Penyebab lesi yang paling sering ialah oklusi arteri karotis
interna atau arteri serebri media pada pangkalnya.
Kemungkinan pulih ialah buruk.
Afasia global hampir selalu disertai hemiparese atau
hemiplegia yang menyebabkan invaliditas khronis yang parah.

Bentuk afasia ini sering kita lihat di klinik dan


ditandai oleh bicara yang tidak lancar, dan
disartria, serta tampak melakukan upaya bila
berbicara.
Ciri klinik afasia Broca:
bicara

tidak lancar
tampak sulit memulai bicara
kalimatnya pendek (5 kata atau kurang per kalimat)
pengulangan (repetisi) buruk
kemampuan menamai buruk

Kesalahan

parafasia
Pemahaman lumayan (namun mengalami
kesulitan memahami kalimat
yang sintaktis kompleks)
Gramatika bahasa kurang, tidak kompleks
Irama kalimat dan irama bicara terganggu.

Pada kelainan ini pemahaman bahasa terganggu.


Pengulangan (repetisi) terganggu berat. Menamai
{naming) umumnya parafasik. Membaca dan menulis
juga terganggu berat.
Gambaran klinik afasia Wernicke:
Keluaran

afasik yang lancar


Panjang kalimat normal
Artikulasi baik
Prosodi baik

Anomia

(tidak dapat menamai)


Parafasia fonemik dan semantik
Komprehensi auditif dan membaca buruk
Repetisi terganggu
Menulis lancar tapi isinya "kosong".

Afasia transkortikal ditandai oleh repetisi bahasa lisan


yang baik (terpelihara), namun fungsi bahasa lainnya
terganggu.
Ada pasien yang mengalami kesulitan dalam memproduksi
bahasa, namun komprehensinya lumayan.
Ada pula pasien yang produksi bahasanya lancar, namun
komprehensinya buruk. Pasien dengan afasia motorik
transkortikal mampu mengulang (repetisi), memahami
dan membaca, namun dalam bicara -spontan terbatas,
seperti pasien dengan afasia Broca.

Gambaran klinik afasia sensorik transkortikal:


Keluaran (output) lancar (fluent)
Pemahaman buruk
Repetisi baik
Ekholalia
Komprehensi auditif dan membaca terganggu
Defisit motorik dan sensorik jarang dijumpai
Didapatkan defisit lapangan pandang di sebelah
kanan.

Gambaran klinik afasia motorik transkortikal:


Keluaran tidak lancar (non fluent)
Pemahaman (komprehensi) baik
Repetisi baik
Inisiasi output lambat
Ungkapan-ungkapan singkat
Parafasia semantik
Ekholalia

Gambaran klinik afasia transkortikal


campuran:
Tidak lancar (nonfluent)
Komprehensi buruk
Repetisi baik
Ekholalia mencolok

Penyebab yang paling sering dari afasia


transkortikal ialah:
Anoksia sekunder terhadap sirkulasi darah yang
menurun, seperti yang
dijumpai pada henti-jantung (cardiac arrest).
Oklusi atau stenosis berat arteri karotis.
Anoksia oleh keracunan karbon monoksida.
Demensia.

Ada pasien afasia yang defek berbahasanya


berupa kesulitan dalam menemukan kata dan
tidak mampu menamai benda yang dihadapkan
kepadanya.
Gambaran klinik alasia anomik:
Keluaran

lancar
Komprehensi baik
Repetisi baik
Gangguan (defisit) dalam menemukan kata.

Bentuk
Afasia

Komprehen
si
membaca

Repetisi

Menamai

Relatif
Terganggu
terpelihara

Terganggu

Bervariasi

Terganggu

Frontal
Inferior
posterior

Reseptif
Lancar
(Wermicke)

Terganggu

Terganggu

Terganggu

Terganggu

Terganggu

Temporal
Superior
Posterior
(Area
Wernicke)

Global

Tak lancar

Terganggu

Terganggu

Terganggu

Terganggu

Terganggu

Fronto
temporal

Konduksi

Lancar

Relatif
Terganggu
terpelihara

Terganggu

Bervariasi

Terganggu

Fasikulus
arkualtus,
girus
supramargi
nal

Ekspresi
(Broca)

Ekspresi

Komprehen
si verbal

Tak lancar

Menulis

Lesi

Bentuk
Afasia
Nominal

Ekspre Komprehe
si
nsi verbal

Repetisi

Kompreh
Menamai
ensi
membaca

Menulis

Lesi

Lancar Relatif
Terpelihara Terganggu Bervariasi Bervariasi Girus
terpelihara
angular,
temporal
superior
posterior

Transkorti Tak
kal motor lancar

Relatif
Terpelihara Terganggu Bervariasi Terganggu Peri
terpelihara
sylvian
anterior

Transkorti Lancar Terganggu


kal
sensorik

Terpelihara Terganggu Terganggu Terganggu Perisylvia


nPosterior

Bina wicara (speech therapy) pada afasia didasarkan pada:


Dimulai seawal mungkin
Program terapi yang dibuat oieh terapis sangat individual dan
tergantung dari latar belakang pendidikan, status sosial dan
kebiasaan pasien.
Memberikan stimulasi supaya pasien metnberikan tanggapan
verbal. Stimuli dapat berupa verbal, tulisan atau pun taktil.
Materi yang teiah dikuasai pasien perlu diulangulang(repetisi).
Penyertaan keluarga dalam terapi sangat mutlak.

Pada

kasus ini didapatkan adanya gejala tubuh sebelah kanan lemas,


pasien tidak dapat berbicara dan mengerti kalimat orang lain. Dapat
disimpulkan bahwa letak lesi berada pada korteks cerebri lobus
fronto-temporal yang menyebabkan pasien mengalami gangguan
pada kemampuan berbahasa dan gnagguan motorik.
Pengaturan

motorik anggota gerak dipersarafi oleh jaras


kortikospinalis lateralis (traktus piramidalis). Pada pemeriksaan
motorik, terdapat hemiparersis dextra. Pada pemeriksaan refleks
fisiologis, terdapat refleks yang hiporefleks pada ekstremitas kanan,
sedangkan untuk refleks patologis tidak ada.

Defisit neurologis pada pasien ini disebabkan infark serebri


karena berdasarkan klinis pasien kesadaran tidak menurun,
tidak ada nyeri kepala, tidak ada muntah, serta hasil Siriraj
Skor (-5) mendukung ke arah stroke non hemoragik.

Untuk faktor resiko pasien, didapatkan pasien pria, berusia


70 tahun, memiliki riwayat hipertensi, riwayat kencing
manis, dan riwayat penyakit jantung. Kejadian stroke pada
pria lebih banyak dibandingkan dengan wanita, usia pasien
juga terbilang merupakan faktor resiko yang ada pada pasien
stroke.

Penatalaksanaan dapat dilakukan berbeda-beda sesuai


dengan kebutuhannya. Pada pasien dengan stroke iskemik
akut, dilakukan penurunan tekanan darah dengan
menghitunga MAP (< 130) setelah itu pasien harus bed rest,
sedangkan bagi pasien yang nilai MAP-nya > 130, maka
melakukan penurunan tekanan darah secara perlahan.

Untuk motorik, pasien dapat di fisioterapi dua kali selama


sehari, dan untuk kemampuan berbahasa pasien dirujuk ke
PPK III untuk mendapatkan terapi bicara.