Anda di halaman 1dari 7

DRY EYE

Definisi
Dry eye terjadi ketika fungsi atau volume air mata tidak adekuat yang menghasilkan
ketidakseimbangan tear film dan penyakit di permukaan mata.
Fisiologi
Tear film terdiri atas 3 lapisan:
a. Lipid yang disekresi oleh kelenjar meibomi
b. Aqueous yang disekresi oleh kelenjar lakrimal
c. Mucous yang disekresi oleh sel goblet pada konjungtiva
Tear film secara mekanis di distribusi ke permukaan bola mata melalui mekanisme
berkedip. 3 faktor yang dibutuhkan :

Normalnya reflex berkedip


Terdapat kontak antara permukaan luar mata dan kelopak mata
Normalnya epitel kornea

Lapisan Lipid

Komposisi :
Lapisan lipid paling luar dibentuk dari fase polar yang terdiri dari fosfolipid yang
melekat pada aqueous-musin dan fase non polar yang terdiri dari waxes,

kolesterol ester dan trigliserid.


Polar lipid terikat pada lipocalin di dalam lapisan aqueous. Ini merupakan protein
kecil yang memiliki kemampuan untuk mengikat molekul hidrofobik dan juga

dapat berperan dalam viskositas air mata.


Pergerakan kelopak mata selama berkedip penting untuk mengeluarkan lipid dari
kelenjar. Ketebalan dari lapisan dapat ditingkatkan dengan berkedip secara paksa

dan diturunkan dengan berkedip yang jarang.


Fungsi :
Untuk mencegah evaporasi dari aqueous layer dan menjaga ketebalan tear film.
Untuk berperan sebagai surfaktan yang memungkinkan penyebaran dari tear film.
Jika defisiensi, sebagai hasilnya adalah evaporative dry eye.

Lapisan aqueous

Sekresi
Kelenjar lakrimal utama memproduksi sekitar 95% dari komponen aqueous dari
air mata dan kelenjar lakrimal tambahan, Krause dan Wolfring memproduksi

sisanya.
Komposisi
Air, elektrolit, musin yang larut dan protein.
Growth factor berasal dari kelenjar lakrimal, produksinya meningkat apabila ada

cedera.
Pro-inflammatory interleukin cytokines yang terakumulasi selama tidur ketika

produksi air mata berkurang.


Fungsi
Untuk menyediakan oksigen pada epitel kornea
Aktifitas antibakteri karena adanya protein seperti IgA, lisozim, laktoferin.
Untuk membersihkan debris dan rangsangan berbahaya dan memfasilitasi
transport leukosit setelah cedera.

Lapisan mucus

Komposisi
Musin merupakan high molecular weight glikoprotein yang dapat menjadi

transmembran atau tipe sekretori.


Sekretory mucin diklasifikasikan sebagai bentuk gel dan soluble. Ini diproduksi

oleh sel goblet konjungtiva tetapi dapat juga karena kelenjar lakrimal.
Sel epitel superfisial kornea dan konjungtiva memproduksi musin transmembran

yang membentuk glikokaliks (extracelluler coating).


Pewarnaan penyakit epitel dengan Rose Bengal mengindikasikan transmembran

dan lapisan mukus gel


Fungsi :
Untuk menyediakan pembasahan dengan merubah epitel kornea dari hidrofobik

ke permukaan hidrofilik.
Lubrikasi
Defisiensi pada lapisan mukus dapat karena baik defisiensi aqueous dan
evaporasi. Kehilangan sel goblet terjadi dengan konjungtivitis sikatriks, defisiensi
vitamin A, trauma kimia, dan toksi dari obat-obatan.

Regulasi komponen tear film

Hormonal
o Androgen adalah hormon utama yang bertanggung jawab untuk
meregulasi produksi lipid.
o Reseptor estrogen dan progesteron pada konjungtiva dan kelenjar lakrimal
penting pada fungsi normal jaringan ini.
Saraf melalui serar-serat berdekatan dengan kelenjar lakrimal dan sel goblet

yang menstimulasi sekresi aqueous dan mukus.


Mekanisme penyakit
empat mekanisme inti yang bertanggung jawab pada gejala dry eye adalah
instabilitas air mata, hiperosmolaritas air mata, inflamasi dan kerusakan permukaan
mata. Inflamasi pada konjungtiva dan kelenjar tambahan serta permukaan mata terdapat
pada 80% pasien dengan keratokonjungtivits sika dan dapat merupakan penyebab dan
konsekuensi dari dry eye.
Klasifikasi
Berdasarkan 2007 International Dry Eye Workshop (DEWS) :

Defisiensi aqueous
o Sjogren syndrome dry eye
o Non Sjogren syndrome dry eye
Defisiensi lakrimal : primer (dry eye yang berhubungan dengan usia,
congenital alacrima) atau sekunder ( inflamasi dan infiltrasi neoplasma pada

kelenjar lakrimal, Aids, ablasi pada kelenjar atau saraf lakrimal).


Obstruksi pada duktus kelenjar lakrimal (trakoma, pemfigoid sikatriks, trauma

kimia, sindrom Steven Johnson).


Refleks hiposekresi : sensory (penggunaan lensa kontak, diabetes, keratitis
neutropik) atau motor block (kerusakan saraf kranial tujuh, obat-obatan

sistemik).
Evaporasi
o Intrinsik
Defisiensi pada kelenjar meibom (blefaritis posterior).
Gangguan pada bagian kelopak (proptosis, facial nerve palsy, retraksi pada
kelopak)
o Ekstrinsik

Defisiensi vitamin A
Obat-obatan topical
Penggunaan lensa kontak
Penyakit pada permukaan bola mata seperti konjungtivitis alergi
Efek dari faktor lingkungan
o Faktor internal
Usia
Status hormon
o Faktor eksternal
Eksaserbasi dari faktor evaporasi dengan kelembapan yang rendah.

Manifestasi klinis

Sensasi kering
terbakar
penglihatan kabur sementara
kemerahan
krusta pada kelopak mata

Gejala pada KCS merupakan eksaserbasi dari paparan hingga kondisi yang meningkatkan
evaporasi air mata (Air conditioning, angin).
Tanda

Posterior (seborhoik) blefaritis dengan disfungi kelenjar meibom


Konjungtiva
o Merah
o Keratinisasi
o Pewarnaan dengan fluorescein dan rose bengal.
Tear film
o Pada mata normal, saat tear film mengalami gangguan, lapisan musin menjadi
terkontaminasi dengan lapisan lipid tetapi akan disingkirkan.
o Pada dry eye, lipid yang terkontaminasi dengan musin akan terakumulasi pada

tear film sebagai partikel dan debris yang dapat berpindah setiap berkedip.
Kornea
o Erosi epitel pungtata yang di warna baik dengan fluorescein.
o Filamen terdiri dari mukus dan debris seperti sel epitel dan menempel pada
permukaan kornea. Di warna baik dengan rose bengal
o Plak mukus dapat terjadi pada dry eye berat. Terdiri dari semi transparan, putih
hingga abu, terkadang lesi yang meninggi dengan ukuran bervariasi.

Komplikasi
o Dapat mengancam penglihatan dan termasuk kerusakan epitel, melting, perforasi
dan keratitis bakteri.

Pemeriksaan

Tear film break-up time


o Akan abnormal pada defisiensi aqueous tear dan gangguan pada kelenjar
meibom.
o Diukur dengan cara :
Fluorescein 2% atau strip fluorescein dengan saline yang di tempelkan pada

fornix bawah.
Pasien di minta untuk berkedip beberapa kali.
Tear film diperiksa dengan menggunakan slit lamp dengan broad beam
menggunakan filter cobalt blue. Setelah itu akan terlihat titik-titik hitam atau

garis yang mengindikasikan area yang kering.


BUT adalah interval antara kedipan terakhir dan munculnya dry spot yang

terdistribusi random. BUT <10 detik perlu di curigai.


jika dry spot selalu di tempat yang sama mengindikasikan abnormalnya

permukaan lokal kornea dibanding tidak seimbangnya tear film


Tes Schirmer
o Berguna untuk mengukur produksi aqueous tear. Tes ini mengukur jumlah kertas
filter (no.41 whatman) yang basah, dengan lebar 5mm dan panjang 35 mm. Tes
ini dapat dilakukan dengan atau tanpa anestesi topikal.
o Tes ini dilakukan dengan cara:
Jika menggunakan anestesi topikal, kelebihannya harus di singkirkan dari

fornix inferior dengan kertas filter.


Kertas filter dilipat sekitar 5mm dari salah satu ujung dan diselipkan pada

kelopak bawah, jangan sampai terkena kornea atau bulu mata.


Pasien di minta untuk menutup mata secara pelan.
Setelah 5 menit, kertas filter di ambil dan diukur.
Bagian yang basah < 10 mm setelah 5 menit tanpa anestesi atau <6 mm

dengan anestesi menunjukkan abnormal.


Hasil dapat bervariasi dan tes schrimer tunggal sebaiknya tidak digunakan
sebagai kriteria tunngal untuk mendiagnosis dry eye, tetapi hasil abnormal

berulang sangat membantu dalam menegakkan diagnosis.


Pewarnaan pada permukaan bola mata

o Fluorescein : pada epitel kornea dan konjungtiva


o Rose bengal : merupakan pewarnaan yang memiliki afinitas untuk sel epitel yang
lemah atau mati yang telah kehilangan lapisan mukus. Filamen kornea dan plak
dapat ditemukan dengan jelas dan dengan menggunakan filter red-free dspst
membantu visualisasi. 1% solution dari bengal rose atau strip yang telah
dilembabkan dapat digunakan. Untuk mencegah iritasi harus menggunakan dosis
yang kecil kemudian diikuti dengan penggunaan anestesi topikal dan sisanya
disingkirkan dengan saline.
o Lissamine green : mirip seperti rose bengal tetapi iritasinya lebih ringan.
o Pattern dari pewarnaan yang dapat membantu diagnosis :
Pewarnaan interpalpebral pada kornea dan konjungtiva sering pada defisiensi

aqueous tear.
Superior konjungtiva

keratoconjunctivitis.
Kornea inferior dan konjungtiva stain sering pada pasien dengan blefaritis.

stain

dapat

mengindikasikan

superior

limbic

Tatalaksana
Strategi :

Level 1
o edukasi dan modifikasi lingkungan/diet. Misal dengan meningkatkan kelembapan,
selalu berkedip ketika membaca, nonton TV atau menggunakan komputer.
o review pengobatan sistemik
o artificial tear substitutes termasuk gel dan salep.
Obat tetes dan gel
Derivat selulosa (misal metilselulosa) untuk kasus yang ringan
Polyvinyl alcohol, untuk kestabilan tear film berguna pada defisiensi

musin, sodium hyaluronate, povidone, propylene glycol, polysorbate dll.


Salep terdiri dari minyak mineral petrolatum dapat digunakan sebelum tidur
untuk mendukung penggunaan tetes mata atau gel pada siang hari.
Penggunaan pada siang hari dapat menggangu penglihatan. Praktisi kesehatan

tidak meresepkan ini untuk penggunaan jangka panjang.


Eyelid spray terdiri dari agen yang mengandung liposome yang dapat

menstabilkan tear film dan mengurangi evaporasi.


Artificial tears inserts

Agen mukolitik seperti tetes mata acetylcysteine 5% pada pasien yang

terdapat filamen kornea dan plak mukus.


o terapi non farmakologi pada kelopak mata seperti kompres air hangat dan

pembersihan kelopak mata untuk blefaritis.


Level 2
o Non- preserved tear subtitutes
o Agen anti inflamasi
Steroid topikal
Suplemen
Tetrasiklin oral
Siklosporin topikal
o Tertrasiklin untuk meimomianitis
o Punctal plugs
o Pilocarpine, cevilemine dan rebamipide
Level 3
o Serum tetes mata
o Lensa kontak
o Oklusi pungtum secara permanen
Level 4
o Agen anti inflamasi sistemik
o Operasi

Sumber :
Kansky, Jack J. 2011. Dry eye. Kansky Ophtalmology 7th edition : A Sytemic Approach.
Australia: Elsevier, 120.