Anda di halaman 1dari 23

PENYAKITCROHNDISEASE

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit-penyakit inflamatorik kolon atau penyakitpenyakit radang usus besar
( Inflammatory Bowel Diseases) dapat dibagi dalam dua golongan :
1. Penyakit radang kolon karena infeksi
2. Penyakit radang kolon karena non-infeksi.

Penyakit infeksi disebabkan karena kuman Shigella, ameba dan sebagainya.


Yang akan dibahas sekarang adalah penyakit radang kolonyang non-infeksi atau tidak jelas
disebabkan karena infeksi.Walaupun kasus ini tidak begitu sering dijumpai diIndonesia dibandingkan
dengan negara-negara Barat, akantetapi justru karena hal ini, maka penyakit tersebut seringkurang
mendapat perhatian oleh dokter di Indonesia, sehingga diagnosa menjadi salah dan pengobatan tidak
diberikan dengan tepat.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian dari Penyakit Crohn ?
2. Apa Etioligi dari Penyakit Crohn ?
3. Bagaimana Patofisiologis dari Crohn ?
4. Bagaiman Patogenesis dari Penyakit Crohn ?
5. Apa saja Tanda dan Gejala yang muncul dari Penyakit Crohn ?
6. Apa saja Komplikasi dari Penyakit Crohn ?
7. Apa saja Diagnosa yang mungkin muncul pada Penyakit Crohn ?
8. Bagaimana Prognosis Penyakit Crohn ?
9. Bagaimana Pengobatan Penyakit Crohn ?

C. Rumusan Masalah

Penulis hanya membahas tentang : pengertian Penyakit Crohn, etiologi, patogenesis, tanda dan
gejala, komplikasi, diagnosa, prognosis dan pengobatanya.

D. Tujuan
1. Tujuan Umum :
Untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Promosi Kesehatan
2. Tujuan Khusus :
a.

agar bisa mengerti dan memahami tentang Penyakit Crohn.

b. agar dapat mengetahui penyebab dan patogenesis Penyakit Crohn.


c.

Agar bisa mengetahui tanda dan gejala serta penatalaksanaannya

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Penyakit Crohn
Penyakit Crohn (Enteritis Regionalis, Ileitis Granulomatosa, Ileokolitis) adalah peradangan
menahun pada dinding usus. Enteritis regional, ileokolitis, atau Penyakit Crohn merupakan suatu penyakit
peradangan granulomatosa kronik pada saluran cerna yang sering terjadi berulang.
Penyakit ini mengenai seluruh ketebalan dinding usus. Kebanyakan terjadi pada bagian terendah
dari usus halus (ileum) dan usus besar, namun dapat terjadi pada bagian manapun dari saluran
pencernaan, mulai dari mulut sampai anus, dan bahkan kulit sekitar anus.
B. Etiologi
Etiologi Penyakit Crohn tidak diketahui. Penelitian memusatkan perhatian pada tiga
kemungkinan penyebabnya, yaitu :
1. Kelainan fungsi sistem pertahanan tubuh.
2. Infeksi.
3. Makanan.
Walaupun tidak ditemukan adanya autoantibodi, enteritis regional diduga merupakan reaksi
hipersensitivitas atau mungkin disebabkan oleh agen infektif yang belum diketahui. Teori-teori ini
dikemukakan karena adanya lesi-lesi granulomatosa yang mirip dengan lesi-lesi yang dtemukan pada
jamur dan tuberkulosis paru. Terdapat beberapa persamaan yang menrik antara enteritis regional dan
kolitis ulseratif. Keduanya adalah penyakit radang, walaupun lesinya berbeda. Kedua penyakit ini
mempunyai manifestasi di luar saluran cerna yaitu uveitis, artritis dan lesi-lesi kulit yang identik.
C. Patofisiologi
Enteritis regional umumnya terjadi pada remaja atau dewasa muda, tetapi dapat terjadi kapan saja
selam hidup. Keadaan ini sering terihat pada populasi 50-80 tahun. Meskipun ini dapat terjadi dimanasaja
disepanjang saluran gastrointestinal, area paling umum yang serin terkena adalah ilium distal dan kolon.

Enteritis regional adalah inflamasi kronis dan subkutan yang meluas keseluruh lapisan dimding usus
dari mukosa usus, ini disebut juga transmural. Pembentukan fistula, fisura, dan abses terjadi sesuai
luasnya inflamasi kedalaman peritonium, lesi (ulkus) tidak pada kontak terus menerus, granuloma terjadi
pada setengah kasus. Pada kasus lanjut mukosa usus mempunyai penampilan Coblestone. Dengan
berlanjutnya penyakit, dinding usus menebal dan menjadi tibrotit, dan lumen usus menyempit.
D. Patogenesis
Ileum terminal terserang pada sekitar 80% kasus enteritis regional. Pada sekitar 35% kasus lesilesi terjadi pada kolon. Esofagus dan lambung lebih jarang terserang. Dalam beberapa hal terjadi lesi
melompat yaitu bagian usus yang sakit dipisahkan oleh daerah-daerah usus normal sepanjang beberapa
inci atau kaki. Lesi diduga mulai pada kelenjar limfe dekat usus halus yang akhirnya menyumbat aliran
saluran limfe. Selubung submukosa usus jelas menebal akibat hiperplasia jaringan limfoid dan
limfedema. Dengan berlanjutnya proses patogenik, segmen usus yang terserang menebal sedemikian rupa
sehingga kaku seperti slang kebun, lumen usus menyempit, sehingga hanya sedikit dilewati barium,
menimbulkan string sign yang terlihat pada radiogram. Seluruh dinding usus terserang. Mukosa
seringkali meradang dan bertukak disertai eksudat yang putih abu-abu.
E. Tanda Dan Gejala
Para penderita mengeluh mengenai sakit perut yang berulang-ulang, sering mendapat serangan
diare, atau sebaliknya susah buang air besar, kadang-kadang panas, nafsu makan berkurang dan
penurunan berat badan.
Perdarahan per anum sering disebabkan radang pada kolon. Pada pemeriksaan fisik ditemukan
benjolan atau rasa penuh pada perut bagian bawah, lebih sering di sisi kanan. Komplikasi yang sering
terjadi dari peradangan ini adalah penyumbatan usus, saluran penghubung yang abnormal (fistula) dan
kantong berisi nanah (abses).
Bila Penyakit Crohn menyebabkan timbulnya gejala-gejala saluran pencernaan, penderita juga
bisa mengalami :
1. peradangan sendi (artritis).
2. peradangan bagian putih mata (episkleritis).
3. luka terbuka di mulut (stomatitis aftosa).
4. nodul kulit yang meradang pada tangan dan kaki (eritema nodosum).
5. luka biru-merah di kulit yang bernanah (pioderma gangrenosum).

Jika Penyakit Crohn tidak menyebabkan timbulnya gejala-gejala saluran pencernaan, penderita
masih bisa mengalami :
1. peradangan pada tulang belakang (spondilitis ankilosa).
2. peradangan pada sendi panggul (sakroiliitis).
3. peradangan di dalam mata (uveitis) .
4. peradangan pada saluran empedu (kolangitis sklerosis primer).
Pada anak-anak, gejala-gejala saluran pencernaan seperti sakit perut dan diare sering bukan
merupakan gejala utama dan bisa tidak muncul sama sekali. Gejala utamanya mungkin berupa
peradangan sendi, demam, anemia atau pertumbuhan yang lambat. Pola umum dari Penyakit Crohn,
Gejala-gejala Penyakit Crohn pada setiap penderitanya berbeda, tetapi ada 4 pola yang umum terjadi,
yaitu :
1. Peradangan : nyeri dan nyeri tekan di perut bawah sebelah kanan.
2. Penyumbatan usus akut yang berulang, yang menyebabkan kejang dan nyeri hebat di dinding usus,
pembengkakan perut, sembelit dan muntah-muntah
3. Peradangan dan penyumbatan usus parsial menahun, yang menyebabkan kurang gizi dan
kelemahan menahun
4. Pembentukan saluran abnormal (fistula) dan kantung infeksi berisi nanah (abses), yang sering
menyebabkan demam, adanya massa dalam perut yang terasa nyeri dan penurunan berat badan.

F. Komplikasi
Pada kasus yang menahun, timbul striktura yang menyebabkan obstruksi, fistel-fistel antara usus
dan usus kecil atau antara usus dan kandung kemih atau fistel antara usus dan kulit. Di sekitar anus
terdapat fistel-fistel, fisur-fisur dan abses-abses. Perdarahan yang banyak atau perforasi jarang
terjadi. Begitupula jarang terjadi dilatasi akut. Karsinoma kolon dulu diduga tidak begitu sering akan
tetapi sekarang kasus. Karsinoma lebih sering ditemukan pada kolitis Crohn. Kadang-kadang timbul
hiperoxaluria dan batu oxalat. Proses radang dapat menjalar ke ureter yang menyebabkan pyelonefritis
yang berulang, stenosis pada ureter dan hidronefrosis.
G. Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya kram perut yang terasa nyeri dan diare berulang,
terutama pada penderita yang juga memiliki peradangan pada sendi, mata dan kulit. Tidak ada

pemeriksaan khusus untuk mendeteksi Penyakit Crohn, namun pemeriksaan darah bisa menunjukan
adanya :
1. anemia.
2. peningkatan abnormal dari jumlah sel darah putih.
3. kadar albumin yang rendah
4. tanda-tanda peradangan lainnya.
Barium enema bisa menunjukkan gambaran yang khas untuk Penyakit Crohn pada usus besar.
Jika masih belum pasti, bisa dilakukan pemeriksaan kolonoskopi (pemeriksaan usus besar) dan biopsi
untuk memperkuat diagnosis. CT scan bisa memperlihatkan perubahan di dinding usus dan menemukan
adanya abses, namun tidak digunakan secara rutin sebagai pemeriksaan diagnostik awal.
H. Prognosis
Beberapa penderita sembuh total setelah suatu serangan yang mengenai usus halus. Tetapi
Penyakit Crohn biasanya muncul lagi dengan selang waktu tidak teratur sepanjang hidup penderita.
Kekambuhan ini bisa bersifat ringan atau berat, bisa sebentar atau lama.
Mengapa gejalanya datang dan pergi dan apa yang memicu episode baru atau yang menentukan
keganasannya tidak diketahui. Peradangan cenderung berulang pada daerah usus yang sama, namun bisa
menyebar pada daerah lain setelah daerah yang pernah terkena diangkat melalui pembedahan. Penyakit
Crohn biasanya tidak berakibat fatal. Tetapi beberapa penderita meninggal karena kanker saluran
pencernaan yang timbul pada Penyakit Crohn yang menahun.
I.

Pengobatan
Pada dasarnya pengobatan medis-konservatif dengan diit dan obat-obat lebih baik daripada

pembedahan.
Diit :
Makanan sebaiknya lunak, tidak merangsang, rendah lemak dan tinggi serat. Dahulu dianjurkan
rendah serat, akan tetapi kemudian ternyata bahwa tinggi serat lebih baik. Rendah serat hanya diberikan
bila ada steatorea atau ada striktura.
Obat-obat :
Kortikosteroid baik pada penyakit yang aktif. Dosis sama dengan kolitis ulserosa.
Salazopyrin juga baik untuk penyakit yang aktif akan tetapi kurang memuaskan untuk pengobatan
"maintenance".
Azathioprine dapat dicoba pada mereka yang tidak menunjukkan perbaikan atau kambuhlagi dengan
obat-obat lain.

Metronidazole dapat memberikan hasil yang baik bila adasepsis. Laporan-laporan yang terakhir
menyebutkan hasil yang memuaskan pada kasus dengan fistula. Fistula tersebut menutup setelah
pengobatan dengan metronidazole. Dahulu,adanya fistel merupakan indikasi untuk operasi akan
tetapisekarang metronidazole merupakan alternatif yang lebih baik.
Pembedahan :
Indikasi untuk pembedahan adalah :
1. kelainan-kelainan perianal
2. obstruksi.
3. bila ada perdarahan yang banyak.
4. adanya keganasan.
5. bila pengobatan dengan obat-obat dan diit tidak memberikan hasil yang baik.
Pada pembedahan selalu dikerjakan suatu end-to-end anastomosis dan reseksi harus dibatasi pada
bagian yang perlu diangkat saja. Tindakan bypass harus dihindari karena sering menimbulkan residif dan
disertai dengan timbulnya banyak kuman-kuman dan malabsorpsi. Tiap tindakan pembedahan harus
dilindungi oleh kortikosteroid.

PENATALAKSANAAN
1.8.1. Terapi Medikamentosa
Penatalaksanaan medikamentosa Crohns disease dapat dibagi menjadi terapi terhadap
kekambuhan akut dan terapi pemeliharaan. Dalam terapi terhadap kekambuhan akut, pemicupemicu seperti infeksi yang mendasari, fistula, perforasi, dan proses patologi lainnya harus
dihilangkan terlebih dahulu sebelum dilakukannya terapi glukokortikoid intravena.
Obat-obatan yang digunakan dalam terapi terapi Crohns disease mencakup antibiotika,
aminosalisilat, kortikosteroid, dan imunomodulator.
Sebagai terapi utama pada kondisi akut, hidrokortison atau metilprednisolon intravena
sering digunakan sebagai tambahan terhadap metronidazole dan pengistirahatan usus.
Penggunaan terapi steroid terbatas untuk mencapai respons yang cepat dalam waktu singkat
karena pada penggunaan jangka lama mempunyai berbagai efek samping, seperti osteonekrosis,
myopati, osteoporosis, dan gangguan pertumbuhan. Dapat pula digunakan inhibitor imunitas
yang diperantarai sel yaitu cyclosporine secara intravena jika pasien menunjukkan respons yang
buruk terhadap terapi kortikosteroid.

Tujuan dari terapi kronis adalah menghilangkan inflamasi usus. Aminosalisilat


merupakan terapi pilihan karena aktivitas antiinflamasinya. Berbagai obat telah digunakan, yang
masing-masing mempunyai target lokasi yang berbeda pada usus. Sulfasalazine dan balsalazide
terutama dilepaskan di colon. Dipentum dan Asacol terutama dilepaskan di ileum distal dan
colon. Pentasa dapat dilepaskan di duodenum hingga colon bagian distal, sementara Rowasa
secara spesifik digunakan untuk rectum dan colon bagian distal.
Methotrexate, azathioprine, dan 6-mercaptopurine adalah modulator sistem imun nonsteroid yang dapat ditoleransi dengan baik. Azathioprine, yang secara non-enzymatis dikonversi
di dalam tubuh menjadi 6-mercaptopurine, selanjutnya dimetabolisme menjadi asam
thioinosinic, yang merupakan zat inhibitor sintesa purin. Efek samping dari azathioprine and 6mercaptopurine jarang terjadi dibandingkan dengan steroid.
Methotrexate, efektif untuk pasien-pasien yang tidak memberikan respons terhadap
azathioprine dan 6-mercaptopurine. Efek samping utamanya mencakup leukopenia, nyeri pada
saluran cerna, dan pneumonitis hipersensitivitas.
Terapi yang baru adalah Infliximab, Etanercept dan CDP571 yang merupakan anti TNF, yang semakin luas dipergunakan dan menunjukkan hasil yang menjanjikan, dengan adanya
peningkatan tingkat remisi hingga 48% setelah 4 minggu terapi dan dengan penutupan fistula
secara sempurna pada 55% pasien setelah 80 hari pemberian infliximab. Obat-obat lain seperti
mycophenolate telah dikembangkan untuk menghambat sintesa nukleotida guanin dan oleh
karena itu menghambat limfosit B dan T.
1.8.2. Terapi Bedah
Antara 70 80% pasien dengan Crohns disease membutuhkan terapi bedah. Indikasi
terapi bedah pada Crohns disease mencakup kegagalan terapi medikamentosa dan/atau
timbulnya komplikasi, seperti obstruksi saluran cerna, perforasi usus dengan pembentukan fistula
atau abses, perforasi bebas, perdarahan saluran cerna, komplikasi-komplikasi urologis, kanker,
dan penyakit-penyakit perianal. Terapi bedah pada pasien dengan Crohns disease harus
ditujukan kepada komplikasinya, hanya segmen usus yang terlibat dalam komplikasi saja yang
direseksi dan tidak boleh lebih luas, untuk menghindari terjadinya short bowel syndrome.
Anak-anak penderita Crohns disease dengan gejala-gejala sistemik seperti gangguan
tumbuh-kembang, akan mendapatkan keuntungan dengan menjalani terapi bedah reseksi usus.
Meskipun komplikasi ekstraintestinal Crohns disease bukan merupakan indikasi utama terapi
bedah, namun sering mengalami perbaikan setelah reseksi usus.

Reseksi segmental usus yang terbukti terlibat penyakit yang diikuti dengan anastomosis
merupakan prosedur pilihan dalam terapi bedah Crohns disease. Alternatif prosedur lain dari
reseksi segmental dari lesi-lesi yang mengobstruksi adalah stricturoplasty. Teknik ini
memungkinkan ditinggalkannya daerah permukaan usus dan terutama cocok untuk pasien
dengan penyakit yang menyebar luas dan telah mengalami striktura fibrotik yang mungkin telah
pernah menjalani operasi sebelumnya dan dalam risiko timbulnya short bowel syndrome. Namun
teknik stricturoplasty mempunyai risiko kekambuhan yang cukup tinggi. Prosedurprosedur bypass usus

kadang-kadang

perlu

dilakukan

jika

telah

terjadi

abses-abses

intramesenterial atau jika usus yang sakit telah bersatu membentuk massa inflamasi yang padat,
yang tidak memungkinkan dilakukannya mobilisasi usus. Prosedur bypass (gastrojejunostomy)
juga digunakan jika telah terjadi striktura duodenum, dimana prosedur stricturoplasty maupun
reseksi segmental sulit dilakukan. Sejak tahun 1990-an, telah dilakukan prosedur operasi
laparoskopik terhadap pasien-pasien dengan Crohns disease, namun hasilnya masih belum
memuaskan dan teknik operasinya sulit.

1.9. KOMPLIKASI
Manifestasi ekstraintestinal Crohns disease mencakup aptosa oral, ulkus, eritema
nodosum, osteomalacia dan anemia sebagai akibat dari malabsorpsi kronis; osteonekrosis
sebagai akibat terapi steroid kronis: pembentukkan batu empedu sebagai akibat keterlibatan
ileus yang menyebabkan gangguan reabsorpsi garam empedu; batu oksalat ginjal sebagai akibat
dari penyakit colon; pancreatitis sebagai akibat dari terapi sulfasalazine, mesalamine,
azathioprine atau 6-mercaptopurine; pertumbuhan bakteri yang berlebihan rebagai akibat reseksi
bedah; dan manifestasi-manifestasi lainnya seperti amyloidosis, komplikasi tromboembolik,
penyakit hepatobiliaris, dan kolangitis sklerosis primer.
1.9.1. Abses
Abses terbentuk pada sekitar 15 20% pasien dengan Crohns disease sebagai akibat
dari pembentukkan saluran sinus atau sebagai komplikasi pembedahan. Abses dapat ditemukan
di mesenterium, cavum peritoneal, atau retroperitoneum, atau di lokasi ekstraperitoneal. Lokasi
tersering abses retroperitoneal adalah fossa ischiorectal, ruang presacral, dan regio iliopsoas.
Ileum terminal merupakan lokasi tersering sumber abses. Abses merupakan salah satu penyebab
utama kematian pada Crohns disease.

1.9.2. Obstruksi
Obstruksi terjadi pada 20 30% pasien dengan Crohns disease. Pada awal perjalanan
penyakit, terlihat adanya obstruksi yang reversibel dan hilang timbul pada saat setelah makan,
yang disebabkan oleh edema dan spasme usus. Setelah beberapa tahun, inflamasi yang menetap
ini akan secara bertahap memburuk hingga terjadi penyepitan dan striktur lumen akibat
fibrostenotik.
1.9.3. Fistula
Pembentukkan fistula merupakan komplikasi yang sering dari Crohns disease pada
colon. Komplikasi fistula yang disertai abses atau penyakit berat paling sulit ditangani. Hal ini
terjadi pada pasien dengan Crohns disease. Peranan terapi medikamentosa hanyalah untuk
mengontrol obstruksi, inflamasi, atau proses-proses supuratif sebelum dilakukannya terapi
definitif, yaitu pembedahan. Perlu dilakukan operasi untuk meng-evakuasi abses dan, jika tidak
ada kontraindikasi berupa sepsis, dilanjutkan dengan reseksi usus yang sakit. Fistula dapat
berakibat perforasi usus spontan pada 1 2% pasien.
1.9.4. Keganasan
Keganasan saluran cerna merupakan penyebab utama kematian pada Crohns disease.
Adenocarcinoma biasanya timbul pada daerah-daerah dimana terjadi penyakit kronis.
Sayangnya, sebagian besar kanker yang berhubungan dengan Crohns disease tidak terdeteksi
hingga tahap lanjut dan mempunyai prognosis yang buruk. Selain keganasan saluran cerna,
keganasan ekstraintestinal (misalnya, squamous cell carcinoma pada pasien dengan penyakit
kronis di daerah perianal, vulva atau rectal) dan limfoma Hodgkin atau non-Hodgkin juga
terbukti lebih sering terjadi pada pasien-pasien dengan Crohns disease.

BAB III
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT CROHN
A. Pengkajian
1. Pengkajian subjektif

a.

Riwayat kesehatan : untuk mengidentifikasi awitan, durasi, dan karakteristik nyeri abdomen; diare,

tenesmus, mual, anoreksia, penurunan BB.


b. Riwayat keluarga
c.

Pola diet : Alkohol, kavein, dan nikotin.

d. Pola eliminasi : karakter, frekuensi, dan adanya darah, pus, lemak, atau mukus.
e.

Alergi : intoleransi usus atau laktose.

2. Pengkajian obektif
a.

Auskultasi abdomen : bising usus dan karakteristiknya.

b. Palpasi abdomen : distensi, nyeri tekan, atau nyeri.


c.

Inspeksi kulit : adanya saluran fistula atau gejala dehidrasi.

d. Perdarahan rektal adalah tanda dominan.


B. Diagnosa Keperawatan
1. Diare b/d proses inflamasi
2. Nyeri b/d peningkatan peristaltik dan inflamasi
3. Kurang volume cairan dan elektrolit b/d anoreksi, mual, dan diare
4. Perubahan nutris kurang dari kebutuhan tubuh b/d pembatasan diet, mual, dan malabsorbesi
5. Intoleransi aktivitas b/d keletihan
6. Ansietas b/d rencana pembedahan
7. Koping individu tidak efektif b/d episode diare berulang
8. Risiko kerusakan integritas kulit b/d malnutrisi dan diare
9. Kurang pengetahuan mengenai proses dan penatalaksanaan penyakit

C. Perencanaan dan Implementasi


1. Tujuan :

a.

Eliminasi usus normal

b. Hilangnya nyeri abdomen dan kram


c.

Mencegah kekurangan volume cairan

d. Mempertahankan nutrisi dan berat badan optimal


e.

Menghindari keletihan

f.

Penurunan ansietas dan koping efektif

g. Mencegah kerusakan kulit


h. Mendapatkan pengetahuan dan pemhaman tentang proses penyakit dan program terapiutik
i.

Tidak adanya komplikasi


2. Intervensi keperwatan

a.
b.
c.

Mempertahankan pola eliminasi normal


Menghilangkan nyeri
Mempertahankan pemasukan cairan

d. Tindakan nutrisional
e.

Meningkatkan istirahat

f.

Mengurangi ansietas

g. Tindakan koping
h. Mencegah kerusakan kulit
i.

Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan dirumah

j.

Memantau dan mengatasi komplikasi potensial

D. Evaluasi
Hasil yang diharapkan
1. Melaporkan penurunan dalam frekuensi feses diare
2. Sedikit mengalami nyeri

3. Mempertahankan keseimbangan volume cairan


4. Mendapatkan nutrisi optimal-mentoleransi pemberian makan sedikit dan sering tanpa diare
5. Menghindari episode keletihan
6. Sedikit mengalami ansietas
7. Menghadapi diagnosa dengan baik
8. Mempertahankan integritas kulit
9. Memporoleh pemahaman tentang proses penyakit
10. Tidak mengalami komplikasi

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyakit Crohn (Enteritis Regionalis, Ileitis Granulomatosa, Ileokolitis) adalah peradangan
menahun pada dinding usus. Etiologi Penyakit Crohn tidak diketahui. Penelitian memusatkan perhatian
pada tiga kemungkinan penyebabnya, yaitu :
1. Kelainan fungsi sistem pertahanan tubuh.
2. Infeksi.
3. Makanan.
Penyakit Crohn dapat terjadi dimanasaja disepanjang saluran gastrointestinal, area paling umum
yang serin terkena adalah ileum distal dan kolon.
Gejala-gejala Penyakit Crohn pada setiap penderitanya berbeda, tetapi ada 4 pola yang umum
terjadi, yaitu :
1. Peradangan : nyeri dan nyeri tekan di perut bawah sebelah kanan.
2. Penyumbatan usus akut yang berulang, yang menyebabkan kejang dan nyeri hebat di dinding
usus, pembengkakan perut, sembelit dan muntah-muntah.
3. Peradangan dan penyumbatan usus parsial menahun, yang menyebabkan kurang gizi dan
kelemahan menahun.
4. Pembentukan saluran abnormal (fistula) dan kantung infeksi berisi nanah (abses), yang sering
menyebabkan demam, adanya massa dalam perut yang terasa nyeri dan penurunan berat badan.
Komplikasi pada kasus yang menahun, timbul striktura yang menyebabkan obstruksi, fistel-fistel
antara usus dan usus kecil atau antara usus dan kandung kemih atau fistel antara usus dan
kulit. Pengkajian dan diagnosis yang tepat akan mempermudah pengobatan.
B. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis berharap
kritik dan saran yang membangun untuk pembuatan makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Apotik online dan media informasi obat - penyakit :: m e d i c a s t o r e . c o m
Smeltzer, Suzanne C. 2001. BUKU AJAR Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth Vol.
2.Jakarta : EGC
Johnson,Marion dan Maridean mass.2004.Nursing Outcome Clasification.USA.Mosby year book
Mc Loskey,Joanne C dan Gloria M.Bulechec.2004.Nursing Intervention Clasification.USA.Mosby year
book
Meteor.2008. Asuransi PT prudential.www.meteorincome.com/asuransiprudential.php 88k. 19 februari
2008
Santoso, Budi.2006.Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Prima Medikal. Jakarta
Smeljer, Susani C.2001.Keperawatan Medikal Bedah ;Jakarta.EGC

BAB I
DASAR TEORI
Pengertian
Crohns disease merupakan bagian dari Inflammatory bowel disease. Inflammatory bowel disease
(IBD) adalah sejenis penyakit idiopatik, disebabkan oleh imunasi badan terhadap usus sendiri.Inflamasi ini
adalah kronic dan dihasilkan daripada ketidaksesuaian dan keaktifan imunasi mucosa yang berpanjangan
disebabkan oleh kehadiran flora lumen yang biasa.
Penyakit Crohn: (Crohn's disease) merupakan kelainan peradangan menahun yang berbentuk
granulomatosa. Klaim dapat diajukan apabila memenuhi kedua kriteria di bawah ini sekaligus :
a. penyakit Crohn yang diderita sudah menimbulkan pembentukan fistula (hubungan antara saluran cerna
dengan rongga perut), atau penyumbatan intestinal (saluran cerna), atau perforasi (pembentukan lubang)
intestinal
b. Terdapat laporan histopatologik (irisan jaringan yang diperiksa secara mikroskopik) yang
mengkonfirmasikan adanya penyakit Crohn.
Crohn's Disease Kebanyakkannya berlaku di Eropa Barat dan Amerika Serikat dan tidak biasa
dijumpai di Asia dan Amerika Selatan dengan mayoritasnya orang putih dan keberangkalian tertinggi adalah
orang Jewish. Kedua-dua lelaki dan perempuan mempunyai peluang untuk mendapat penyakit ini dengan
mayoritas berlaku pada kalangan orang muda. Ia berlaku dalam satu keluarga disebabkan oleh perkongsian
persekitaran tempat tinggal.
Tanda-tanda Crohn's Disease
a. Demam
b. Cirit-birit
c. Sakit pada bahagian kanan bawah perut sama dengan appendicitis
d. Anemia
e. Berat badan berkurangan
f. Mass yang besar di bagian abdomen.
Etiologi dan Patogenensis
Faktor-faktor yang menyebabkan berlakunya penyakit Crohn's Disease adalah tidak jelas. Keduaduanya dipercayai disebabkan oleh autoimmune antibodi terhadap intestinal epithelial sel sendiri.
Dianostik
Crohns disease ditentukan berdasarkan:
a. Berdasarkan combinasi pertemuan dalam aspek klinikal, radiografic, dan patologik.
b. Pada fase aktif : ESR( erythrocyte sedimentation rate ) dan pengiraan bilangan sel darah putih meningkat.
c. Mendapatkan mucosal biopsi dan diperhatikan bawah microscop
d. Kewujudan crypt atrophy, distorsi seni bina crypt, perningkatan bilangan lymphocyte dan plasma sel di
dalam lamina propria.
Alat diagnostic paling menentuksn untuk enteristik regional adalah pemeriksaan barium dari saluran
gastrointentinal atas yang menunjukan tanda garis klasik pada sinar-X dari ilium terminalis, menunjukan

kontriksi usus. Enema barium juga dapat menunjukan adanya ulserasi dan cobblestone serta adanya fisura
dan fistula. Pemindaian CT dapat menunjukan adanya penebalan dinding usus dan fistula saluran.
Pemerikasaan protoksigmoidoskopi dilakukan di awal, untuk menentukan apakah area regtosigmoid
terinflamasi. Pemeriksaan feses juga dilakukan dan mungkin positif untuk darah samar dan stearotea
(kelebihan lemak dalam feses)
Hitung darah lengkap dilakukan untuk mengkaji hematokrit dan kadar nemoglobin (yang biasa
menurun) serta hitung sel darah putih (yang mungkin meningkat). Laju sedimentasi biasanya akan meningkat.
Kadar albumin dan protein mungkin menurun, menunjukan mal nutrisi.
Prognosis
Pesakit IBD (Crohns disease) mempunyai risiko yang tinggi untuk mendapat colorectal cancer tetapi
biasanya ia boleh ditangkap lebih awal sebelum berlakunya melalui surveillance bagi colon dengan
colonscopy.Maka, pesakit biasanya akan hidup lama,bermaksud prognosisnya bagus.

PENATALAKSANAAN
Tindakan medis untuk Cohrn dituuan untuk mengurangi inflamasi, menekan respon imun dan
mengistirahatkan usus yang sakit, sehingga penyembuhan dapat terjadi.
Masukan diet dan cairan. Cairan oral, diet rendah residu tinggi protein tinngi kalori, dan terapi
sulemen vitamin dan pengganti besi diberikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Ketidak seimbangan cairan
dan elektrolit yang dihubungkan dengan dehidrasi akibat diare diatasi dengan terapi intravenasesuai kebutuhan.
Adanyamakanan yang mengeksaserbasi diare harus dihindari. Susu dapat menimbulkan diare pada individu
yang intoleran pada lactose. Selain itu, makanan dingin dan merokok juga harus dihindari, karena keduanya
dapat meningkatkan motilitas usus. Nutrisi parenteral total dapat diberikan.
Terapi obat. Obat-obatan sedative dan anti diare/anti peristaltic digunakan untuk mengurangi peristaltic
sampai minimum untuk mengistirahatkan usus yang terinflamasi. Terapi ini dilanjutkan sampai frekuensu
defeksi dan konstitensi feses pasien mendekati normal. Sulfonamide seperti sulfasalazin (azulfidine) atau
sulfisoxazol (gantrisin) biasanya efektif untuk menangani inflamasi ringan atau sedang. Antibiotic digunakan
untuk infeksi sekunder, terutama untuk komplikasi purulen seperti abses, perforasi, dan peritonitis. Azulfidin
membantu dalam mencegah kekambuhan.
Aminosalisilate topical dan oral terbaru (misal: mesalamin,[asacol], olsalazin [dipentum] telah terbukti
sangat efektif dalam pengobatan. Preparat imunosupresif juga digunakan; preparat ini membantu untuk
mencegah kekambuhan dan memungkinkan pasien untuk menerima kortikosteroid dosis rendah dan untuk
periode waktu lebih pendek.
Psikoterapi.ditunjukan untuk menentukan factor yang menyebabkan stress pada pasien, kemampuan
menghadapi faktor-faktor ini, dam upaya untuk mengatasi konflik sehingga mereka dapat berkabung karena
kondisi mereka.
Komplikasi. Komplikasi Cohrn mencakup obstruksi usus atau pembentukan striktur, penyakit perianal,
ketidak seimbangan cairan dan elektrolit, dan pembentukan fistula serta abses. Fistula adalh hubungan
abnormal antara 2 struktur tibuh, baik internal (antara 2 struktur) atau eksternal (antara struktur internal dan
permukaan luas dari tubuh. Jenis fistula usus halus yang paling umum yang diakibatkan oleh anteristis
Selain disebut diatas ada beberapa komplikasi lain, yaitu :

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Halangan pada laluan usus


Pembentukan fistula di antara usus dengan organ bersebelahan
Kegagalan meresap nutrient dari usus
Infeksi persaluran air kencing
Najis dibuang melalui virginal
Kegagalan meresap vit B12
Megaloblastic anemia
Kegagalan meresap lemak
Arthiritis
Uveitis
Kanser colon ( lebih kurang keberangkalian dibandingkan dengan Ulcerative Colitis )

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN Tn. H
DENGAN MASALAH CHORN DISEASE
A. PENGKAJIAN
Tanggal pengkajian
Jam
Dx

: ..
: ..
: ..

1. BIODATA
a. IDENTITAS KLIEN
Nama
: Tn. H
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Alamat
Suku Bangsa
Pekerjaan
Pendidikan
b. PENANGGUNG JAWAB
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Alamat
Suku Bangsa
Pekerjaan
Pendidikan
Hubungan dengan pasien
2. RIWAYAT KEPERAWATAN
a. Keluhan Utama :
Terdapat nyeri pada abdomen
b. Riwayat penyakit sekarang :
Mual, demam, anemia, berat badan berkurang.
c. Riwayat kesehatan Dahulu :
Pasien sebelumnya tidak pernah mengidap penyakit yang berhubungan dengan pencernaan
d. Riwayat Kesehatan Lingkungan :
Pasien mengatakan dilingkungan tempat tinggalnya bersih
3. POLA FUNGSI KESEHATAN

a. Pola persepsi kesehatan


Apabila pasien sakit biasanya menceritakan kepada istrinya dan pasien biasanya berobat
kepuskesmas
b. Pola aktifitas latihan
AKTIFITAS
0
1
2
3
4
Mandi
Berpakaian
Eliminasi
Mobilitas ditempat tidur
Pindah
Ambulansi
Makan
.
0 = mandiri
1 = menggunakan alat bantu
2 = dibantu orang lain
3 = menggunakan alat & dibantu orang lain
4 = tergantung total
c. Pola istirahat tidur
Pasien tidak dapat tidur dengan nyenyak karena terkadang terdapat nyeri pada abdomen
d. Pola nutrisi metabolic
Mengalami penurunan intake nutrisi
e. Pola eliminasi
Mengalami eliminasi usus tidak normal
f. Pola koknitif perceptual
Saat pengkajian pesien dalam keadaan sadar, dapat bicara dengan jelas dan lancer, pendengaran
masih bagus, wajah tampak ekspresi datar
g. Pola konsep diri
Pasien terlihat cemas atas penyakit yang dideritanya
h. Pola koping
Bila pasien mempunyai masalah, pertama kali pasien menceritakan pada istri
i. Pola seksual reproduksi
Pola seksual tidak terganggu
j. Pola peran hubungan
Pasien memiliki hubungan yang baik dengan keluarga maupun dengan masyarakat
k. Pola nilai kepercayaan
Pasien beragama islam, pasien taat menjalankan sholat 5 waktu

4. PEMERIKSAAN FISIK
a. Tanda-tanda vital
- TD
: normal
- Nadi : normal
- Suhu : normal
- RR
: normal
b. Keadaan umum
Kesadaran pasien komposmentis, penampilan pasien tampak bersih
c. Kepala
Inspeksi : bentuk muka simetris, kulit kepala bersih, tidak ada lesi, rambut warna
hitam,rambut kuat
Palpasi : kulit kepala tidak ada massa
d. Mata
Bentuk bola mat normal, kelopak mata normal, konjungtiva normal, sclera putih, kornea bening,
pupil isokor
e. Telinga
Inspeksi : daun telinga simetris, tidak ada serumen, membrane timpani utuh
Palpasi : kartilago elastic, tidak ada nyeri tekan
f. Hidung
Inspeksi : bagian luar dan dalam hidung simetris, tidak ada perdarahan
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
g. Mulut
Inspeksi : gigi tampak bersih, mulut agak berbau
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
h. Leher
Inspeksi : bentuk leher simetris
Palpasi : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
i.

Abdomen
Inspeksi : kontur permukaan rata, bentuk simetris
Palpasi : terdapat nyeri tekan
Auskultasi : peristaltic usus >35x/meniit

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Data focus
Data obyektif :
- Pasien sering memegangi perutnya
- Tubuh pasien tampak kurus
- Mual
- Pasien tidak banyak bergerak
- Bibir pasien terlihat kering

Pasien terlihat lemah dan letih


Posisi untuk mengurangi nyeri

2. Analisa data
No Symptom
1
Do :
pasien sering memegangi
perut
Posisi untuk mengurangi
nyeri
2
Do :
Pasien tampak lemas
Bibir pasien telihat kering
3
Do :
Tubuh pasien tmpak kurus
mual
4
Do :
Pasien
tidak
banyak
bergerak
Pasien tampak lemah dan
letih
5
Do :
Bibir pasien tampak kering
Pasien tampak lemas

Problem
Nyeri akut

Etiologi
Peningkatan
peristaltic
dan
inflamiasi

Diare

Proses inflamasi

Kurang
keb.tubuh

dari Pembatasan diet,


mual, dan mal
absorbsi
Intoleransi aktivitas keletihan

Kurang
volume Anoreksia, mual
cairan&elektrolit
dan diare

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN PRIORITAS MASALAH


1. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan peristaltic dan proses inflamasi ditandai
dengan pasien sering memegang perut, posisi untuk mengurangi nyeri
2. Diare berhubungan dengan proses inflamasi ditandai dengan pasien tampak lemas
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ditandai dengan pembatasan diet, mual, dan
malabsorbsi
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan ditandai dengan pasien tidak banyak
bergerak, pasien tamp