Anda di halaman 1dari 6

Fungsi Endofit

Fungi endofit merupakan jamur yang terdapat pada sistem jaringan tanaman
yang tidak menyebabkan gejala penyakit pada tanaman inang. Fungi endofit
dapat menghasilkan senyawa antibakteri yang berpotensi sebagai agen
pengendali hayati. Fungi endofit menghabiskan sebagian bahkan seluruh siklus
hidup koloninya di dalam maupun di luar sel jaringan hidup tanaman inangnya.
Fungi endofit dapat ditemui pada sistem jaringan tumbuhan seperti daun,
ranting atau akar. Fungi endofit diketahui dapat merangsang pertumbuhan
tanaman dan meningkatkan ketahanan inang terhadap jamur patogen. Asosiasi
beberapa fungi endofit dengan tumbuhan inang mampu melindungi tumbuhan
inangnya dari beberapa patogen virulen, baik bakteri maupun jamur
Jamur endofit menghasilkan alkaloid dan mikotoksin sehingga memungkinkan
digunakan untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit. Jamur
endofit membentuk kait di sekitar hifa patogen sebelum penetrasi, atau kadangkadang masuk langsung. Mekanisme kerja senyawa antimikroba dalam melawan
mikroorganisme patogen dengan cara merusak dinding sel, mengganggu
metabolisme sel mikroba, menghambat sintesis sel mikoba, mengganggu
permeabilitas membran sel mikroba, menghambat sintesis protein dan asam
nukleat sel mikroba.
Penggunaan mikroba antagonis seperti fungi endofit dapat dilakukan untuk
pengendalian penyakit yang efektif dan ramah lingkungan. Peranan endofit
sebagai agensia hayati mulai banyak diteliti sejak diketahui adanya fenomena
mengenai kemampuan tanaman dalam menghadapi stres biotiok maupun abiotik
terkait dengan keberadaan endofit di dalam jaringannya

Referensi untuk Spons

Beberapa penelitian didapatkan bahwa spons menghasilkan beragam metabolit


sekunder yang memiliki potensi menghasilkan senyawa bioaktif. Metabolit
sekunder dianggap produk buangan dari tiap biota yang merupakan sisa proses
metabolisme (Rachmat, 2007).
Menurut Muniarsih dan Rachmaniar (1999) spons merupakan salah satu
komponen biota penyusun terumbu karang yang mempunyai kandungan
beberapa senyawa dengan persentase bioaktifnya lebih besar dibanding dengan
senyawasenyawa yang dihasilkan oleh tumbuhan darat. Spons menghasilkan
senyawa metabolit sekunder yang tinggi serta memiliki kemampuan untuk
mensintesis bermacam-macam komponen organik seperti polyketida, alkaloid,
peptida dan terpene (Sjorgen, 2006). Komponen organik tersebut dapat
digunakan sebagai bahan baku obat-obatan.
spons menempati peringkat terbesar dengan 193 senyawa yang terkandung
didalamnya. Jumlah struktur senyawa yang telah didapatkan dari spons laut
sampai bulan Mei 1998 adalah 3500 jenis senyawa yang diambil dari 475 jenis
dari dua kelas yaitu Calcarea dan Demospongiae (Soest dan Braekman, 1999).
Kandungan metabolit sekunder dalam spons jenis tertentu ada yang lebih kuat
daripada di dalam jenis lainnya yang ditandai dengan warna yang timbul pada uji
kualitatif. Jika dilihat dari kandungan metabolit sekunder seperti kandungan
alkaloid, terpenoid dan steroid maka spons dari Indonesia memiliki potensi yang
tinggi untuk menghasilkan senyawa bioaktif. Sejumlah terpenoid memiliki sifat
antikanker (Aoki et al., 2001), sedangkan steroid dan alkaloid memiliki khasiat
lebih luas tergantung substituennya

Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain spons Petrosia alfiani, larutan
metanol teknis, kloroform p.a., etil asetat p.a dan teknis, n-heksana p.a dan teknis, aseton p.a,
silika gel 60 (7733), silika gel 60 (7734), silika gel 60 (7730), plat KLT, KLT preparatif, pasir
kuarsa, biakan murni E. coli, biakan murni S. aureus, medium NA (nutrient Agar), DMSO
(dimetil sulfoksida), Chloramphenicol, dan kapas
Ekstraksi
Sampel yang telah dikeringkan kemudian digerus dan ditimbang bobot
keringnya sebanyak 4 kg. Sampel kering kemudian dimaserasi dengan menggunakan metanol
selama 1 24 jam. Maserasi diulangi dengan volume metanol yang sama beberapa kali.
Hasil maserasi kemudian ditampung untuk diuapkan menggunakan rotary evaporator.
Ekstrak metanol hasil penguapan dipartisi dengan kloroform dan selanjutnya diuapkan lagi
dengan menggunakan evaporator. Hasil penguapan ekstrak dari fraksi kloroform lalu
dianalisis dengan kromatografi lapis tipis (KLT) dan diuji bioaktivitasnya sebagai antibakteri
dan antikanker.

Referensi untuk Alga

Kemampuan alga untuk memproduksi metabolit sekunder terhalogenasi yang bersifat


sebagai senyawa bioaktif dimungkinkan terjadi, karena kondisi lingkungan hidup alga yang
ekstrem seperti salinitas yang tinggi atau akan digunakan untuk mempertahankan diri dari
ancaman predator. Dalam dekade terakhir ini, berbagai variasi struktur senyawa bioaktif
yang sangat unik dari isolat alga merah telah berhasil diisolasi. Namun pemanfaatan sumber
bahan bioaktif dari alga belum banyak dilakukan. Berdasarkan proses biosintesisnya, alga
laut kaya akan senyawa turunan dari oksidasi asam lemak yang disebut oxylipin. Melalui
senyawa ini berbagai jenis senyawa metabolit sekunder diproduksi.
a. Alga hijau, merah & coklat adalah sbr potensial senyawa bioaktif penting (1)
industri farmasi (antitumor, antikanker, anibakteri & reversal agent; (2) industri
agrokimia (fungisida & herbisida).
b. Potensi alga memproduksi metabolit sekunder terhalogenasi (senyawa
bioaktif) sangat besar, krn kondisi lingk. hidup alga yg ekstrem.
c. Berdasarkan proses biosintesisnya, alga laut kaya akan senyawa turunan dari
oksidasi asam lemak (oxylipin).
d. Melalui senyawa ini berbagai jenis senyawa metabolit sekunder diproduksi.

Salah satu potensi biota laut perairan Indonesia adalah alga makro
atau dikenal dalam perdagangan sebagal rumput laut (seaweed). Alga
makro laut ini tidak mempunyai akar, batang dan daun sejati yang
kemudian disebut dengan thallus, karenanya secara taksonomi
dikelompokkan ke dalam Divisio Thallophyta. Empat kelas cukup besar
dalam divisio ini adalah Chlorophyta (alga hijau), Phaeophyta (alga
coklat),Rhodophyta (alga
merah),
dan Cyanophyta (alga
biru-hijau)
(Tarsoen, 2001).

struktur phlorotannin

Ditinjau secara biologi, alga merupakan kelompok tumbuhan yang


berklorofil yang terdiri dari satu atau banyak sel dan berbentuk koloni.
Alga mengandung bahan-bahan organik seperti polisakarida, hormon,
vitamin, mineral dan juga senyawa bioaktif. Sejauh ini, pemanfaatan alga
sebagai komoditi perdagangan atau bahan baku industri masih relatif kecil
jika dibandingkan dengan keanekaragaman jenis alga yang ada di
Indonesia. Padahal komponen kimiawi yang terdapat dalam alga sangat
bermanfaat bagi bahan baku industri makanan, kosmetik, farmasi dan
lain-lain. Kandungan bahan-bahan organik yang terdapat dalam alga
merupakan sumber mineral dan vitamin untuk agar-agar, salad rumput
laut maupun agarose. Agarose merupakan jenis agar yang digunakan
dalam percobaan dan penelitian dibidang bioteknologi dan mikrobiologi.
Potensi alga sebagai sumber makanan (terutama rumput laut), di
Indonesia telah dimanfaatkan secara komersial dan secara intensif telah
dibudidayakan terutama dengan teknik polikultur (kombinasi ikan dan
rumput laut) (Eri, 2007).
Alga hijau, alga merah ataupun alga coklat merupakan sumber
potensial senyawa bioaktif yang sangat bermanfaat bagi pengembangan
industri farmasi seperti sebagai anti bakteri, anti tumor, anti kanker atau
sebagai reversal agent. Selain itu, dalam industri agrokimia juga dapat
dimanfaatkan untuk antifeedant, fungisida dan herbisida. Kemampuan
alga untuk memproduksi metabolit sekunder terhalogenasi yang bersifat
sebagai senyawa bioaktif dimungkinkan terjadi, karena kondisi lingkungan
hidup alga yang ekstrem seperti salinitas yang tinggi atau akan digunakan
untuk mempertahankan diri dari ancaman predator. Namun pemanfaatan
sumber bahan bioaktif dari alga belum banyak dilakukan. Berdasarkan
proses biosintesisnya, alga laut kaya akan senyawa turunan dari oksidasi
asam lemak yang disebut oxylipin. Melalui senyawa ini berbagai jenis
senyawa metabolit sekunder diproduksi (Eri, 2007).
Polifenol merupakan salah satu senyawa metabolit sekunder yang
terdapat pada tanaman air (Waterman and Mole, 1994). Salah satu
anggota polifenol yang banyak terdapat dalam tanaman dan akhir-akhir
ini banyak diteliti adalah senyawa tanin. Berdasarkan strukturnya, tanin
dibedakan menjadi tiga, yaitu hydrolysable tannins, Flavonoid-based
condensed tannins, dan phlorotannins (Karban and Baldwin, 1997).
Phlorotanin merupakan polifenol yang hanya terdapat dalam alga cokelat
dan berpotensi memiliki sifat antioksidan. Hal ini karena pada senyawa
polifenol, kapasitas antioksidan dipengaruhi oleh adanya cincin fenol yang
berfungsi untuk menangkap elektron dan mencegah peroksi, superoksidaanion, dan radikal hidroksil. Phlorotanin dari alga cokelat mempunyai
hingga delapan cincin fenol yang saling berhubungan (Hemat, 2007).
Senyawa phlorotanin merupakan hasil polimerisasi dari monomer
phloroglucinol (1,3,5-trihidroksibenzena) (Ragan dan Glombitza, 1986).
Sampai saat ini, belum ada metode khusus untuk mengisolasi
senyawa tanin dari tanaman (Hagerman, 1988). Pada penelitian ini, isolasi
senyawa phlorotanin dari alga cokelat menggunakan metode ekstraksi
dengan pelarut aseton. Penggunaan pelarut aseton dalam ekstraksi

bertujuan untuk meningkatkan hasil ekstraksi karena aseton dapat


menghambat interaksi antara tanin dengan protein selama ekstraksi
(Hagerman, 1988) bahkan dapat memecah ikatan hidrogen antara tanin
dan protein (Porter, 1989).
Secara umum, metode untuk analisa phlorotanin menggunakan
metode coulorimetric yang bertujuan untuk mengetahui kandungan
fenolat total (Amsler dan Fairhead, 2006). Kandungan fenolat total dalam
alga cokelat diukur menggunakan larutan phloroglucinol sebagia standar
karena diketahui bahwa phloroglucinol tidak mengandung senyawa
fenolat selain phlorotanin (Stern et al., 1996b). Konsep dasar pengukuran
adalah untuk mengukur konsentrasi total kelompok hidroksil fenolik yang
ada dalam ekstrak alga cokelat (Waterman dan Mole, 1994).
Referensi untuk mangrove
Menurut data dari menteri kehutanan tahun 2013, luas hutan mangrove di
Indonesia sekitar 3,7 juta hektar yang merupakan terluas di Asia bahkan di
dunia. Namun NASA (2010) juga mengeluarkan informasi tentang luas mangrove
dan sebarannya. menurutnya luas mangrove di indoensia telah berkurang 35%
antara tahun 1980-2000 dimana luas mangrove pada tahun 1980 itu mencapai
4,2 juta ha dan pada tahun 2000 berkurang menjadi 2 juta ha.

Metode penelitian
Ada tiga tahap untuk mendapatkan isolat jamur endofit, yaitu
1) mengisolasinya dari organ tumbuhan sehat,
2) memurnikannya dan
3) mengidentifikasinya.
Isolasi jamur endofit
Jamur endofit diisolasi dari tumbuhan mangrove menggunakan teknik
direct planting yang dikemukakan oleh Nakagiri et al. (2005). Organ
tumbuhan sehat seperti akar, daun dan ranting terlebih dahulu dicuci
dengan air kran hingga bersih kemudian dipotong 1 cm x 1 cm. Potongan
dari masing-masing organ tumbuhan ditempatkan secara terpisah di
dalam botol jam dan disterilisasi dengan alkohol 70% selama 1 menit dan
pemutih (mengandung 5,3% natrium hipoklorit) selama 2 menit. Potongan
bagian tumbuhan kemudian dibilas dengan air yang telah disterilisasi
sebanyak 3 kali dan dimasukkan ke dalam tissue tebal steril selama 3-4
jam (sampai kering). Isolasi jamur endofit dilakukan dengan teknik direct
planting, yaitu dengan meletakkan bagian tumbuhan yang sudah kering
(5-6 potongan) di atas permukaan agar 2% medium yang telah
ditambahkan kloramfenikol (200 mg / 1 liter medium). Seluruh medium
yang telah diinokulasi kemudian diinkubasi pada suhu ruang (27-28oC).
Morfologi koloni yang penampilan, warna dan ukurannya sama dianggap
isolat yang sama; dan setiap koloni representatif dipisahkan menjadi
isolat-isolat tersendiri.
Pemurnian jamur endofit

Pemurnian jamur pembentuk spora dilakukan denga ncara isolasi spora


tunggal (Gandjar et al. 1992), sedangkan
untuk jamur tidak membentuk spora dilakukan dengan cara
menumbuhkan jamur pada medium PDA; dan dengan bantuan mikroskop
stereo, hifa tunggal dari jamurditransfer ke medium PDA (Nakagiri et al.
2005).
Identifikasi jamur endofit
Buku identifikasi dari Domsch et al. (1980) danNakagiri et al. (2005)
digunakan sebagai acuan untuk mengidentifikasi jamur endofit secara
morfologi meliputi pengamatan makroskopis dan mikroskopis.