Anda di halaman 1dari 16

OBAT

Menurut Undang-Undang Kesehatan No. 23 tahun 1992, definisi obat adalah bahan atau
panduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem
fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan,
pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.
Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan
diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan kontrasepsi
(Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2005).
A. Penggolongan Obat Menurut Permenkes No.917 Tahun 1993
Penggolongan obat menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 917/Menkes/Per/X /1993
yang kini telah diperbaiki dengan Permenkes RI Nomor 949/Menkes/Per/ VI/2000 penggolongan
obat dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan ketepatan penggunaan serta pengamanan
distribusi. Penggolongan obat ini terdiri atas :
a. Obat Bebas
Peratuan daerah Tingkat II tangerang yakni Perda Nomor 12 Tahun 1994 tentang izin
Pedagang Eceran Obat memuat pengertian obat bebas adalah obat yang dapat dijual bebas
kepada umum tanpa resep dokter, tidak termasuk dalam daftar narkotika, psikotropika, obat
keras, obat bebas terbatas dan sudah terdaftar di Depkes RI. Di buku ISO ada tanda atau
tulisan B.
Penandaan obat bebas diatur berdasarkan SK Menkes RI Nomor 2380/A/SK/VI/1983
tentang tanda khusus untuk untuk obat bebas dan untuk obat bebas terbatas. Tanda khusus
untuk obat bebas yaitu bulatan berwarna hijau dengan garis tepi warna hitam, seperti terlihat
pada gambar berikut :

Gambar 1. Penandaan Obat Bebas

Contoh Obat Bebas :


Nama Obat
Aspirin Bayer
Bodrex Forte
Biogesic
Becombion Syrup
Calcidol
Calapol
Degirol
Durol
Dumin
Enzyplex
Feroglobin
Iberet Folic-500
Kamulvit B12
Microlax
Mulax
Neosanmag
Neo Kaolana

Nama Obat
New Diatabs
Oskadon
Panadol
Pamol
Paracetamol Hexpharm
Poldan Mig
Promag
Panadol Actifast
Pyridol
Pyrex
Pyrexin
Plantacid
Polysilane
Polysilane for Children
ObiminAF
Neurodex

Nama Obat
Sangobion
San-B-Plex
Redoxon Double Action
Vicee 500
Vitacimin
Vitalong C
Xon-ce
Tonikum Bayer
Vitamin B Complex
Vitamin B12
Vitamin B6
CDR Fortos
Decolgen
Bisolvon Kids
Paramex
Calcifar
Neurovit E

b. Obat Bebas Terbatas


Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI yang menetapkan obat-obatan ke dalam daftar
obat W (Waarschuwing) memberikan pengertian obat bebas terbatas adalah obat keras
yang dapat diserahkan kepada pemakainya tanpa resep dokter, bila penyerahannya memenuhi
persyaratan sebagai berikut :
1.
2.

Obat tersebut hanya boleh dijual dalam bungkusan asli dari pabriknya atau pembuatnya.
Pada penyerahannya oleh pembuat atau penjual harus mencantumkan tanda peringatan.
Di buku ISO ditandai dengan tulisan T. Tanda peringatan tersebut berwarna

hitam,berukuran panjang 5 cm, lebar 2 cm dan memuat pemberitahuan berwarna putih


sebagai berikut :

Gambar 2. Peringatan Obat Bebas Terbatas


Penandaannya diatur berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI No.2380/A/SK/VI/83
tanda khusus untuk obat bebas terbatas berupa lingkaran berwarna biru dengan garis tepi
berwarna hitam, seperti pada gambar berikut:

Gambar 3. Penandaan Obat Bebas Terbatas


Sebagai contoh peringatannya :
P No. I : awas obat keras, bacalah aturan pemakaiannya.
Contoh :Dulcolax tablet, Acetaminofen = >600 mg/tab atau >40 mg/ml (kep Menkes
no.66227/73), SG tablet.
P No. 2 : awas obat keras, hanya untuk kumur , jangan ditelan
Contoh : Gargarisma khan, Betadin gargarisma
P NO. 3 : awas obat keras hanya untuk bagian luar badan
Contoh :Anthistamin pemakain luar ( misal dalam bentuk cream, caladin, caladril),
Lasonil, Liquor burowl.
P No. 4 : awas obat keras hanya untuk dibakar
Contoh : Dalam bentuk rokok dan sebuk untuk penyakit asma yang mengandung
scopolamin.

P No.5 ; awas obat keras tidak boleh ditelan


Contoh : Dulcolax Suppos, Amonia 10 % ke bawah
P No. 6 : awas obat keras wasir jangan ditelan:
Contoh : Varemoid
Contoh Obat Bebas Terbatas :
Nama Obat
Acidrine
Anacetine
Askamex
Albucid
Andonex
Anadex
Albothyl
Bisolvon
Benacol
Paratusin
Fludexin
Combantrin
Decolsin
Dexanta
Decotan
Diabion
Dulcolax

Nama Obat
Evion
Enerbol
Encephabol
Theobrom
Fungiderm
Gestamag
Gunacold
Hemamin Forte
Inza
Ikadryl
Laktobion
Lesifit
Lacto-B
Lotremin
Magasida
Canesten
Oskadryl

Nama Obat
Procold
SupraFlu
Termorex
Kalpanax
Daktarin
Antiza
Insto
Romilar
Saridon
Oskadon
Resochin
Efisol
Laxamex
Mixagrip
Longatin
Smecta

c. Obat Keras
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI yang menetapkan/memasukkan obat-obatan
kedalam daftar obat keras, memberikan pengertian obat keras adalah obat-obat yang
ditetapkan sebagai berikut :
1. Semua obat yang pada bungkus luarnya oleh si pembuat disebutkan bahwa obat itu hanya
boleh diserahkan dengan resep dokter.
2. Semua obat yang dibungkus sedemikian rupa yang nyata-nyata untuk dipergunakan
secara parenteral.
3. Semua obat baru, terkecuali apabila oleh Departemen Kesehatan telah dinyatakan secara
tertulis bahwa obat baru itu tidak membahayakan kesehatan manusia.

Contoh : Andrenalinum, Antibiotika, Antihistaminika, dan lain-lain


Adapun penandaannya diatur berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI No.
02396/A/SK/VIII/1986 tentang tanda khusus Obat Keras daftar G (Gevarrlijk) adalah
Lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi berwarna hitam dengan huruf K yang
menyentuh garis tepi, dan di penandaanya harus dicantum kalimat Harus dengan Resep
Dokter. seperti yang terlihat pada gambar berikut:

Gambar 4. Penandaan Obat Keras


Contoh obat keras yaitu :
Nama obat
Norvask
Noperten
Methergin
Migardis
KSR
Kaflam
Lasix
Letonal
Lipitor
Irgapan
Intifen
Irvask
Incidal OD
Isoprinosine
Imodium
Felden D
Aspar K
Adona Forte

Nama obat
Angioten
Adalat
Actus
Bricasma
Digoxin
Dexacap
Daonil
Damaben
Gabexa
Glucovance
Glucophage
Pronocy
Xenical
Viagra

Nama obat
Zumafib
Flagyl Forte
Kalmicetin
Vomitas
Sanpicillin
Supertetra
Cefpan
Ciproxin
Cloracef
Ceradolan
Crovox 250
Cefat Capsule
Climaden
Spiraden
Kalmoxillin
Oxaflox
Zithromax
Tarivid

d. Obat Wajib Apotek


Obat wajib apotek adalah obat keras yang dapat diserahkan oleh apoteker di apotek tanpa
resep dokter. Menurut keputusan menteri kesehatan RI Nomor 347/Menkes/SK/VIII/1990

yang telah diperbaharui Mentri Kesehatan Nomor 924/Menkes/Per/X/1993 dikeluarkan


dengan pertimbangan sebagai berikut :
1. Pertimbangan utama untuk obat wajib apotek ini sama dengan pertimbangan obat yang
diserahkan tanpa resep dokter, yaitu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam
menolong dirinya sendiri guna mengatasi masalah kesehatan, dengan meningkatkan
pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional.
2. Pertimbangan yang kedua untuk meningkatkatkan peran apoteker di apotek dalam
pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi serta pelayanan obat kepada masyarakat.
3. Pertimbangan ketiga untuk peningkatan penyediaan obat yang dibutuhkan untuk
pengobatan sendiri. Obat yang termasuk kedalam obat wajib apotek misalnya : obat
saluran cerna (antasida), ranitidine, clindamicin cream dan lain-lain.
Berdasarkan keputusan Menkes No. 347/ menkes/SK/VII/1990 tentang obat wajib
Apotek (OWA 1) No. I, dan

keputusan Menkes : 924/93 (OWA 2) maka menurut cara

memperolehnya, obat keras terbagi 2:


a.Harus dengan resep dokter ( G1)
Untuk semua injeksi
Antibiotika dan virus
Obat-obat jantung
Obat-obat psikotropika.
b. Disarankan oleh apoteker di apotek

pil kb

analgetik-antipiretik ( antalgin, asam mefenamat)

antihistamin dan obat asma

Psikotropika Kombinasi

Obat Keras tertentu

Menurut UU No. 49/1949 pasal 3 ayat 2, Apoteker hanya dapat menjual obat keras kepada:
1. pasien dengan resep dokter untuk obat yang bukan OWA
2. apoteker
3. dokter/dokter gigi
4. dokter hewan

Yang berhak memiliki serta menyimpan obat daftar G dalam jumlah yang patut disangka
bahwa obat tersebut tidak akan digunakan sendiri adalah:
1. PBF (pedagang besar farmasi)
2. APA (apoteker pengelola apotik)
3. Dokter yang berizin (dr,drg)
4. Dokter hewan (dalam batas haknya)
OWA merupakan obat keras yang dapat diberikan oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA)
kepada pasien. Walaupun APA boleh memberikan obat keras, namun ada persayaratan yang
harus dilakukan dalam penyerahan OWA.
1. Apoteker wajib melakukan pencatatan yang benar mengenai data pasien (nama, alamat,
umur) serta penyakit yang diderita.
2. Apoteker wajib memenuhi ketentuan jenis dan jumlah yang boleh diberikan kepada
pasien. Contohnya hanya jenis oksitetrasiklin salep saja yang termasuk OWA, dan hanya
boleh diberikan 1 tube.
3. Apoteker wajib memberikan informasi obat secara benar mencakup: indikasi, kontraindikasi, cara pemakaian, cara penyimpanan dan efek samping obat yang mungkin timbul
serta tindakan yang disarankan bila efek tidak dikehendaki tersebut timbul.
Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat
diserahkan:
1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah usia 2
tahun dan orang tua di atas 65 tahun.
2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada kelanjutan
penyakit.
3. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh
tenaga kesehatan.

4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia.


5. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan
untuk pengobatan sendiri.

Contoh Obat Wajib apotik :


Nama Obat
Aldazide
Excluton
Ekstrak beladon
Inpepsa
Allorir
Avil
Gastrozepin
Dudencer
Papaverin
Damaben
Vomitrol
Mediamer
Dulcolax
Astifen
Pehatifen
Bintasma
Bricasma

Nama Obat
Adone Forte
Diflucan
Dextamine
Lysagor
Feldene-Gel
Hypofil
Salbuven
Ventolin
Berodual
Enflagen
Mucocil
Mucopront
Mucosil
Mefentan
Epexol
Opistan
Glaphen

Nama Obat
Histapan
Interhistin
Benohist
Polaramin
Zentel
Cendocykline
Cendomycetin
Genticid
Erymed
Cindala
Cortril
Cendomycos
Benoson
Nerisona
Denomix
Baycuten-n

e. Obat Golongan Narkotika


Pengertian narkotika menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang narkotika
adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun
semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa
nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan yang dibedakan kedalam golongan I, II dan III.
Contoh :

Tanaman Papaver Somniferum


Tanaman Koka
Tanaman ganja
Heroina
Morfina
Ovium
Kodeina
Obat narkotika ditandai dengan lingkaran warna putih ada palang merah di tengah-

tengahnya dan termasuk daftar O (Opiat). Untuk memperolehnya harus dengan resep dokter
dan apotik wajib melaporkan jumlah dan macamnya. Peresepan tidak boleh diulang dan ada
tanda tangan dokter penulis resep. Di buku ISO ditandai dengan N.

Gambar 5. Penandaan Obat Narkotika


UU Narkotika No. 9 thn 1976 yang terdiri atas 10 bab 55 pasal diganti dengan UU no. 22
tahun 1997 tentang Narkotika dengan 15 BAB 104 pasal.
Menurut pasal (2) Bab I , Narkotika digolongkan menjadi:
a. Narkotika golongan I- kokain, heroin
b. Narkotika golongan II= Metadon, morfina, opium, petidin, tebain
c. Narkotika golongan III- kodein.
d.
Contoh obat narkotika yaitu :
1. Pulv. Opii
2. Pulv. Doveri tablet 100 mg
3. Coditam
4. Codipront sirup
5. Codein 20 mg
6. Codipront Kapsul
7. Nalorfin
8. Naltrekson
9. Pentazosin
10. Diamorfin
11. Petidin injeksi
12. Buprenorfin
13. Nalbufin
14. Dihidrokodein
15. Dekstropropoksifen

f. Obat Psikotropika
Pengertian psikotropika menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang
psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika yang
berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan
perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku. Contoh :

Lisergida
Amphetamin
Codein
Diazepam
Nitrazepam
Fenobarbital
Untuk Psikotropika penandaan yang dipergunakan sama dengan penandaan untuk obat

keras, hal ini karena sebelum diundangkannya UU RI No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika,
maka obat-obat psikotropika termasuk obat keras, hanya saja karena efeknya dapat
mengakibatkan sindroma ketergantungan sehingga dulu disebut Obat Keras Tertentu.
Sehingga untuk Psikotropika penandaannya : lingkaran bulat berwarna merah, dengan huruf
K berwarna hitam yang menyentuh garis tepi yang berwarna hitam.

Tanda Obat Psikotropik


Menurut Undang-undang RI no. 5 tahun 1997 tentang PSIKOTROPIKA yang terdiri atas
16 bab 74 pasal, tertanggal 11 maret 1997, PSIKOTROPIKA adalah zat atau obat baik
alamiah maupun bukan narkotik yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada
susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Dalam pasal 2 ayat(2), Penggolongan psikotropika yaitu:
1. Psikotropika golongan I : yaitu psikotropika yang tidak digunakan untuk tujuan
pengobatan dengan potensi ketergantungan yang sangat kuat
2. Psikotropika golongan II : yaitu psikotropika yang berkhasiat terapi tetapi dapat
menimbulkan ketergantungan.

3. Psikotropika golongan III : yaitu psikotropika dengan efek ketergantungannya sedang


dari kelompok hipnotik sedatif.
4. Psikotropika golongan IV : yaitu psikotropika yang efek ketergantungannya ringan.

Berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang pemberantasan peredaran


narkotika dan psikotropika, tahun 1988 tersebut maka psikotropika dapat digolongkan
sebagai berikut : (didahului dengan nama International dan nama kimia diletakkan dalam
tanda kurung)
1. Psikotropika golongan I
Nama
Broloamfetamine atau DOB

Nama
MDMA Parahexyl

Nama

Cathinone

PMA

Rolicyclidine - PHP,PCPY

DET

Psilocine, psilotsin

STP, DOM

DMA

Psilocybine Mescaline

Tenamfetamine - MDA

DMHP

Methcathinone

Tenocyclidine - TCP

DMT

4-methylaminorex

Tetrahydrocannabinol

DOET Eticyclidine - PCE

MMDA

TMA

Etrytamine

N-ethyl MDA

Lysergide - LSD, LSD-25

N-hydroxy MDA

2. Psikotropika golongan II
Nama
Amphetamine

Nama
Methaqualone

Dexamphetamine

Methylphenidate

Fenetylline

Phencyclidine - PCP

Levamphetamine

Phenmetrazine

Levomethampheta-mine

Secobarbital

Mecloqualone

Dronabinol

Methamphetamine

tetrahydro-cannabinol

Methamphetamineracemate

Zipeprol

atau

delta-9-

3. Psikotropika golongan III


Nama
Amobarbital

Nama
Cyclobarbital

Buprenorphine

Flunitrazepam

Butalbital

Glutethimide Pentazocine

Cathine / norpseudo-ephedrine

Pentobarbital

4. Psikotropika golongan IV
Nama
Allobarbital

Clobazam

Nama

Alprazolam

Clonazepam

Amfepramone

Clorazepate

Aminorex

Clotiazepam

Barbital

Cloxazolam

Benzfetamine

Delorazepam

Bromazepam

Diazepam

Butobarbital

Estazolam

Brotizolam

Ethchlorvynol

Camazepam

Ethinamate

Chlordiazepoxide

B. Penggolongan obat berdasarkan mekanisme kerja obat


Obat digolongkan menjadi lima jenis :
1. Obat yang bekeja terhadap penyebab penyakit, misalnya penyakit karena bakteri atau
mikroba, contoh: antibiotik.
2. Obat yang bekerja mencegah keaadan patologis dari penyakit, contoh: serum, vaksin.
3. Obat yang menghilangkan gejala penyakit = simptomatik, missal gejala penyakit nyeri,
contoh: analgetik, antipiretik.
4. Obat yang bekerja untuk mengganti atau menambah fungsi-fungsi zat yang kurang,
contoh: vitamin, hormon.
5. Pemberian placebo, adalah pemberian sediaan obat yang tanpa zat berkhasiat

6. untuk orang-orang yang sakit secara psikis, contoh: aqua proinjection


7. Selain itu, obat dapat dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya misalkan
antihipertensi, cardiaca, diuretic, hipnotik, sedative dan lain-lain (Chaerunisaa, dkk,
2009).
C. Penggolongan obat berdasarkan tempat atau lokasi pemakaian
Obat dibagi dua golongan:
1. Obat Dalam, misalnya obat-obat peroral. Contoh: antibiotik, acetaminophen
2. Obat Topikal, untuk pemakaian luar badan. Contoh sulfur, antibiotik (Anief, 1994).

D. Penggolongan obat berdasarkan cara pemakaian


1. Oral, obat yang diberikan atau dimasukkan melalui mulut, Contoh: serbuk, kapsul, tablet
sirup.
2. Parektal, obat yang diberikan atau dimasukkan melalui rectal. Contoh supositoria,
laksatif.
3. Sublingual, dari bawah lidah, kemudian melalui selaput lendirdan masuk ke pembuluh
darah, efeknya lebih cepat. Untuk penderita tekanan darah tinggi, Contoh: tablet hisap,
hormone.
4. Parenteral, obat suntik melaui kulit masuk ke darah. Ada yang diberikan secara intravena,
subkutan, intramuscular, intrakardial.
5. Langsung ke organ, contoh intrakardial.
6. Melalui selaput perut, intraperitoneal (Anief, 1994).
E. Penggolongan obat berdasarkan efek yang ditimbulkan
1. Sistemik: masuk ke dalam system peredaran darah, diberikan secara oral

2. Lokal : pada tempat-tempat tertentu yang diinginkan, misalnya pada kulit, telinga, mata
(Anief, 1994).
F. Penggolongan obat berdasarkan penamaanya
Menurut Widodo (2004), penamaan dibagi menjadi tiga, yaitu :
1. Nama Kimia, yaitu nama asli senyawa kimia obat.
2. Nama Generik (unbranded name), yaitu nama yang lebih mudah yang disepakati sebagai
nama obat dari suatu nama kimia.
3. Nama Dagang atau Merek, yaitu nama yang diberikan oleh masing-masing produsen
obat. Obat bermerek disebut juga dengan obat paten.
G. Penggolongan obat berdasarkan asal obat dan cara pembuatannya
1. Alamiah : obat obat yang berasal dari alam (tumbuhan, hewan dan mineral)
-

tumbuhan : jamur (antibiotik), kina (kinin), digitalis (glikosida jantung) dll


hewan : plasenta, otak menghasilkan serum rabies, kolagen.
mineral : vaselin, parafin, talkum/silikat, dll

2. Sintetik : merupakan cara pembuatan obat dengan melakukan reaksi-reaksi kimia,


contohnya minyak gandapura dihasilkan dengan mereaksikan metanol dan asam salisilat.
H. Penggolongan obat berdasarkan daya kerja atau terapi
1. farmakodinamik
obat obat yang bekerja mempengaruhi fisilogis tubuh, contoh hormon dan vitamin
2. kemoterapi
obat obatan yang bekerja secara kimia untuk membasmi parasit/bibit penyakit,
mempunyai daya kerja kombinasi.
I. Penggolongan obat berdasarkan bentuk sediaan
1. Padat, meliputi ekstrak, serbuk, pil, tablet, suppositoria, kapsul, dan ovula.

2. Cair, meliputi sirup, larutan, suspensi, linimen, lotion, dan infus.


3. Semi padat, meliputi salep, krim, gel, dan pasta.
4. Gas, yaitu aerososl, oksigen, dan inhaler

J. Penggolongan obat berdasarkan intrnasional


a. Obat Paten
Obat paten adalah obat yang mempunyai hak paten dan diberikan kepada industri farmasi
pada obat baru yang ditemukannya berdasarkan riset. Obat yang telah diberi hak paten
tersebut tidak boleh diproduksi dan dipasarkan dengan nama generik oleh industri
farmasi lain tanpa izin pemilik hak paten selama masih dalam masa hak paten.
b. Obat Generik
Obat generik adalah obat yang telah habis masa patennya, sehingga dapat diproduksi oleh
semua perusahaan farmasi tanpa perlu membayar royalti. Ada dua jenis obat generik,
yaitu obat generik bermerek dagang dan obat generik berlogo yang dipasarkan dengan
merek kandungan zat aktifnya.

K. Penggolongan Obat Berdasarkan Kelas Terapi


Penggolongan berdasarkan kelas terapi umumnya digunakan dalam buku-buku seperti DOEN,
formularium (daftar obat yang digunakan Rumah Sakit), dan panduan terapi.
Contoh kelas terapi :

a.
b.
c.
d.

Analgetik, antipiretik, antiinflamasi non steroid


Anestetik
Antialergi
Antidotum dan obat lain untuk keracunan

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.

http://id.sribd.com/doc/167359834/Penggolongan-Obat-Menurut-Permenkes-No
Permenkes No.917 Tahun 1993

http://id.scribd.com/doc/109371076/Penggolongan-Obat
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/129/jtptunimus-gdl-deniandrea-6401-3-babii.pdf
5. http://www.academia.edu/7005738/PENGGOLONGAN_OBAT

6. Chaerunisaa, Y.A.

Surahman, E. dan Soeryati, S. 2009. Farmasetika Dasar,


Konsep Teoritis Dan Aplikasi Pembuatan Obat. Widya Padjadjaran. Bandung.
7. Anief, M. (1994). Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

8.