Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH HUKUM EKONOMI ISLAM

PEGADAIAN SYARIAH DAN KARAKTERISTIKNYA

KETUA :
1.

ARIZA HASNA 11010112140379 082225357305 (hasnaariza@gmail.com)

ANGGOTA:
2.
3.
4.
5.

RIFKI KHRISNA M. 11010112140388 082227171884 (rifki.krisna01@gmail.com)


FAJAR IKHWAN N. 11010112140437 (iwangvoli@yahoo.com)
RAHMAWATI 11010112140461 087875006693 (maw_rahmawati@yahoo.com)
NAUVAL ARBI W. 11010112140513 081228047048 (nauvalwibowo@gmail.com)

KELOMPOK I
KELAS A
Dosen Pengampu : Rofah Setyowati, SH, MH, PhD

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah membimbing kami menyelesaikan
makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan dan petunjuk-Nya,
kami tidak akan menyelesaikan makalah ini dengan penuh kelancaran.

Makalah ini kami susun agar pembaca dapat memahami tentang Pegadaian
Syariah. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen serta teman- teman
yang telah banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah yang sederhana ini dapat memberi wawasan dan pemahaman
yang luas kepada pembaca.
Kami menyadari makalah ini masih banyak memiliki kekurangan,
sehingga kami masih mengharap kritik dan saran dari para pembaca.
Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

Semarang, 21 Maret 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... ii
Daftar Isi ... iii

BAB I PENDAHULUAN .. 1
1.1

Latar Belakang ...

1.2

1
Rumusan Masalah ..

1.3

2
Tujuan Penulisan ....

1.4

2
Metode Penulisan
3

BAB II PEMBAHASAN ...4


BAB III PENUTUP ...12
3.1 Simpulan ...12
3.2 Saran ..... 12
Daftar Pustaka........ iv

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Lembaga Keuangan Islam atau yang lebih popular disebut Lembaga Keuangan
Syari'ah adalah sebuah lembaga keuangan yang prinsip operasinya berdasarkan
pada prinsip-prinsip syari'ah Islamiah. Dalam operasionalnya lembaga keuangan
Islam harus menghindar dari riba, gharar dan maisir.
Tujuan utama mendirikan lembaga keuangan Islam adalah untuk menunaikan
perintah Allah dalam bidang ekonomi dan muamalah serta membebaskan
masyarakat Islam dari kegiatan-kegiatan yang dilarang oleh agama Islam. Untuk
melaksanakan tugas ini serta menyelesaikan masalah yang memerangkap umat
Islam hari ini , bukanlah hanya menjadi tugas seseorang atau sebuah lembaga,
tetapi merupakan tugas dan kewajiban setiap muslim. Menerapkan prinsip-prinsip
Islam dalam berekonomi dan bermasyarakat sangat diperlukan untuk mengobati
penyakit dalam dunia ekonomi dan sosial yang dihadapi oleh masyarakat.
The Mit Ghamr Bank Mesir merupakan lembaga keuangan Islam modern
pertama yang didirikan pada tahun 1963. Perkembangan dan kemajuan Mit
Ghamr menyadarkan para ekonom dan ilmuan muslim, ternyata sistem Islam
dapat membawa kemajuan. Tetapi dalam waktu yang bersamaan keberhasilan itu
mengundang kecemburuan dan kedengkian orang-orang yang tidak suka dengan
sistem Islam, sehingga akhirnya Mit Ghamr ditutup. Kelahiran Mit Ghamr
kemudian diikuti oleh pendirian bank-bank Islam di berbagai negara, baik di
negara Islam ( mayoritas Islam ) termasuk Indonesia maupun negara non-muslim.
Dasar pemikiran dikembangkannya lembaga keuangan Islam di Indonesia
adalah untuk memberikan pelayanan kepada sebagian masyarakat Indonesia yang
tidak dapat dilayani oleh lembaga keuangan yang sudah ada di Indonesia, karena
bank-bank tersebut menjalankan sistem bunga. Sebagian masyarakat Indonesia
yang mayoritas muslim, meyakini bahwa aktivitas lembaga keuangan yang
menjalankan praktek bunga tidak sesuai dengan prinsip Syari'ah Islamiyah,
sehingga keikutsertaan mereka dalam sektor keuangan tidak optimal. Dengan
dikembangkannya lembaga keuangan yang dijalankan dengan prinsip-prinsip
Syari'ah diharapkan seluruh potensi ekonomi masyarakat Indonesia yang belum
dioptimalkan dapat dioptimalkan.
Gadai syariah adalah produk jasa berupa pemberian pinjaman menggunakan
sistem gadai dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip syariat Islam, yaitu antara
lain tidak menentukan tarif jasa dari besarnya uang pinjaman.
Perusahaan Umum Pegadaian adalah satu-satunya badan usaha di Indonesia
yang secara resmi mempunyai izin untuk melaksanakan kegiatan lembaga
keuangan berupa pembiayaan dalam bentuk penyaluran dana ke masyarakat atas
dasar hukum gadai seperti dimaksud dalm Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
pasal 1150 di atas. Tugas pokoknya adalah memberikan pinjaman kepada
masyarakat atas dasar hukum gadai agar masyarakat tidak dirugikan oleh kegiatan

lembaga keuangan informal yang cenderung memanfaatkan kebutuhan dana


mendesak dari masyarakat.
Dasar Syariah Dalam Pegadaian Syariah Sebagaimana halnya instritusi yang
berlabel syariah, maka landasan konsep pegadaian Syariah juga mengacu kepada
syariah Islam yang bersumber dari Al Quran dan Hadist Nabi SAW.
Ide pembentukan Pegadaian Syariah selain karena tuntutan idealisme juga
dikarenakan keberhasilan terlembaganya bank dan asuransi syariah. Setelah
terbentuknya Bank, BMT, BPR, Asuransi Syariah. Maka, Pegadaian Syariah
mendapat perhatian oleh beberapa praktisi dan akademisi untuk dibentuk dibawah
suatu lembaga sendiri. Keberadaan Pegadaian Syariah atau Rahn lebih dikenal
sebagai bagian produk yang ditawarkan oleh Bank Syariah, dimana Bank
menawarkan kepada masyarakat bentuk penjaminan barang guna mendapatkan
pembiayaan. Mengingat adanya peluang dalam mengimplementasikan
Rahn/Gadai Syariah, maka Perum Pegadaian bekerja sama dengan Lembaga
Keuangan Syariah melaksanakan Rahn yang bagi Pegadaian dapat dipandang
sebagai pengembangan produk, sedang bagi, sedang bagi Lembaga Keuangan
Syariah dapat berfungsi sebagai kepanjangan tangan dalam pengelolaan produk
Rahn.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Apa pengertian gadai syariah dan pegadaian syariah?
1.2.2 Apa saja syarat gadai syariah?
1.2.3 Apa saja yang menjadi hak dan kewajiban penerima dan pemberi gadai
syariah?
1.2.4 Apa saja aspek-aspek pendirian pegadaian syariah?
1.2.5 Bagaimana operasionalisasi pegadaian syariah?
1.2.6 Apa jasa dan produk pegadaian syariah?
1.2.7 Bagaimana perbedaan dan persamaan pegadaian syariah dengan
pegadaian konvensional?
1.3 TUJUAN PENULISAN
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Ekonomi
Islam serta mengetahui dan memahami mengenai:
1.3.1 Pengertian gadai syariah dan pegadaian syariah
1.3.2 Syarat gadai syariah
1.3.3 Hak dan kewajiban penerima dan pemberi gadai syariah
1.3.4 Aspek-aspek pendirian pegadaian syariah
1.3.5 Operasionalisasi pegadaian syariah
1.3.6 Jasa dan produk pegadaian syariah
1.3.7 Perbedaan dan persamaan pegadaian syariah dengan pegadaian
konvensional
1.4 METODE PENULISAN
Dalam penyelesaian penyusunan makalah ini kami menggunakan
studikepustakaan, yaitu dengan literatur buku-buku yang berhubungan

dengan Lembaga Keuangan Bukan Bank serta mengambil beberapa referensi dari
internet.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Gadai Syariah
Dalam istilah bahasa Arab, gadai diistilahkan dengan rahn dan juga dapat
dinamai al-habsu (Pasaribu,1996). Secara etimologis, arti rahn adalah tetap dan
lama, sedangkan al-hasbu berarti penahanan terhadap suatu barang dengan hak
sehingga dapat dijadikan sebagai pembayaran dari barang tersebut (Syafii, 2000).
Sedangkan menurut Sabiq (1987), rahn adalah menjadikan barang yang

mempunyai nilai harta menurut pandangan syara sebagai jaminan hutang, hingga
orang yang bersangkutan boleh mengambil hutang atau ia bisa mengambil
sebagian (manfaat) barang itu. Pengertian ini didasarkan pada praktek bahwa
apabila sesesorang ingin berhutang kepada orang lain, ia menjadikan barang
miliknya baik berupa barang tak bergerak atau berupa barang bergerak berada
dalam penguasaan pemberi pinjaman sampai penerima pinjaman melunasi
hutangnya.
Adapun pengertian dalam referensi lain bahwasannya gadai atau rahn adalah
merupakan perjanjian utang piutang antara dua atau lebih mengenai persoalan
benda dan menahan sesuatu barang sebagai jaminan utang yang mempunyai nilai
harta menurut pandangan syara sebagai jaminan atau ia bisa mengambil sebagian
manfaat barang itu.[1]
Dari beberapa pengertian rahn tersebut, dapat disimpulkan bahwa rahn
merupakan suatu akad utang piutang dengan menjadikan barang yang mempunyai
nilai harta menurut pandangan syara sebagai jaminan, hingga orang yang
bersangkutan boleh mengambil utang.
Gadai secara hukumnya dibolehkan asalkan tidak terkandung unsur-unsur
ribawi. Bahkan beberapa kali tercatat Rasulullah SAW mengadaikan harta
bendanya.Rasulullah pernah ditanya tentang seseorang menggadaikan
kambingnya, bolehkah kambingnya diperah. Nabi mengizinkan, sekadar untuk
menutup biaya pemeliharaan. Artinya, Rasullullah mengizinkan kita mengambil
keuntungan dari barang yang digadaikan untuk menutup biaya pemeliharaan.
Biaya pemeliharaan itulah yang kemudian dijadikan dasar ijtihad para pakar
keuangan syariah, sehingga gadai atau rahn ini menjadi produk keuangan syariah
yang cukup menjanjikan.
Namun pegadaian yang sering kita saksikan di negeri kita ini banyak yang
melanggar aturan syariah. Sehingga hukumnya haram. Sebab prakteknya justru
sekedar pembungaan uang atau hutang yang nyata-nyata diharamkan di dalam
semua agama samawi.
Misalnya seseorang menggadaikan mobilnya dan mendapatkan uang pinjaman
sebesar 50 juta. Uang pinjaman ini adalah hutang yang harus dibayarkan pokok
dan bunganya. Dan selama pokok pinjaman itu belum dikembalikan, bunganya
tetap terus berkembang. Boleh jadi ke depannya jumlah hutangnya sudah
membengkak menjadi 100 juta. Beda gadai ini dengan pinjaman uang biasa
adalah pada masalah jaminan, di mana dengan digadaikannya mobil itu, pihak
yang memberi pinjaman akan lebih mudah mengeluarkan uang pinjaman. Sebab
harga mobil itu sudah pasti lebih mahal dari jumlah pinjaman yang diberikan.
1

Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah : deskripsi dan ilustrasi (Yogyakarta :
Ekonisia,2008)

Dalam gadai secara syariah, tidak ada pembungaan uang pinjaman, melainkan
biaya penitipan barang. Ketika seseorang menggadaikan mobilnya, maka dia
berkewajiban untuk membayar biaya penitipan mobil itu. Dan biaya seperti itu
wajar terjadi. Bukankah ketika kita memarkir mobil di sebuah mal, kita
diwajibkan untuk membayar ongkos parkir untuk tiap jamnya? Maka ketika
seseorang menggadaikan mobil, dia pun pada hakikatnya harus membayar biaya
penitipan mobil itu. Biaya penitipan itulah yang jadi keuntungan bagi pihak yang
memberi pinjaman hutang.
Dalam perkembangannya, gadai yang sesuai syariah ternyata memilki potensi
pasar yang besar sehingga di negaranegara dengan mayoritas penduduk muslim,
seperti di Timur Tengah dan Malaysia, pegadaian syariah telah berkembang pesat.
Bahkan di negeri kita pun sekarang sudah mulai banyak pegadian yang
menggunakan sistem syariah, atau dikenal dengan nama Pegadaian Syariah.
Pegadaian syariah adalah pegadaian yang dalam menjalankan operasionalnya
berpegang kepada prinsip-prinsip syariah. Payung gadai syariah dalam hal
pemenuhan prinsip-prinsip syariah berpegang pada fatwa DSN-MUI No.
25/DSN-MUI/III/2002 tanggal 26 Juni 2002 yang menyatakan bahwa pinjaman
dengan menggadaikan barang sebagai jaminan utang dalam bentuk rahn
diperbolehkan. Sedangkan dalam aspek kelembagaan tetap menginduk kepada
Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1990 tanggal 10 April 1990.[2]
2.2 Syarat Gadai Syariah
1. Rahin dan Muntahin
a. Cakap bertindak hukum, menurut jumhur ulama adalah orang-orang yang
telah baligh dan berakal. Oleh karena itu, tidak sah rungguhan anak kecil
dan orang gila. Menurut, ulama Hanafiyah, kedua belah pihak yang
berakad tidak disyaratkan baligh, tetapi cukup berakal. Oleh sebab itu,
menurut mereka, anak kecil yang mumayyiz boleh melakukan akad rahn,
dengan syarat mendapatkan persetujuan dari walinya.
b. Layak untuk melakukan transaksi pemilikan. Setiap orang yang sah
melakukan jual beli, juga sah untuk melakukan gadai karena gadai seperti
jual beli merupakan pengelolaan harta.
2. Sighat (ijab-kabul)
a. Sighat tidak boleh terikat dengan syarat tertentu dan juga dengan wktuwaktu pada masa depan.
b. Rahn mempunyai sisi pelepasan barang dan pemberian utang, seperti
halnya akad jual beli. Oleh karena itu, tidak boleh diikat dengan syarat
tertentu atau dengan suatu waktu pada masa depan.
3. Marhun bih (utang)
a. Merupakan hak yang wajib diberikan/diserahkan kepada pemiliknya.
2

Andri Soemitra,Bank dan Lembaga Keuangan Syariah (Jakarta, Prenada Media Group, 2009),hlm.400.

b. Memungkinkan pemanfaatannya. Apabila sesuatu yang menjadi utang


tidak bisa dimanfaatkan, tidak sah hukumnya.
c. Dapat dikuantifikasikan atau dapat dihitung jumlahnya. Apabila tidak
dapat diukur atau tidak dapat dikuantifikasikan, tidak sah.
d. Utang boleh dilunasi dengan anggunan itu.
4. Marhun (barang yang digadaikan)
Aturan pokok dalam mahzab Maliki tentang barang yang digadaikan bahwa
gadai dapat dilakukan pada semua jenis harga dan semua jenis jual beli, kecuali
pada jual beli mata uang (sharf) dan pokok modal salam yang berkaitan dengan
tanggungan. Karena pada sharf diisyaratkan tunai (yaitu kedua belah pihak saling
menerima), tidak boleh terjadi akad gadai, begitu pula pada harta modal gadai
salam.
Menurut ulama Syafiiyah, gadai dapat dikatakan sah dengan dipenuhinya tiga
syarat. Pertama, harus berupa barang karena utangg tidak bisa digadaikan. Kedua,
penetapan kepemilikian penggadai atas barang yang digadaikan tidak terhalang.
Ketiga, barang yang digadaikan bisa dijual saat sudah lewat masa pelunasan utang
gadai.
Secara umum, barang gadai harus memenuhi beberapa syarat, antara lain:
1. Harus diperjualbelikan,
2. Harus berupa harta yang bernilai,
3. Marhun harus bisa dimanfaatkan secara syariah,
4. Harus diketahui keadaan fisiknya sehingga piutang tidak sah untuk digadaikan
harus berupa barang yang diterima secara langsung,)
5. Harus memilkik rahin (peminjaman atau penggadai), setidaknya harus seizin
pemiliknya.
Disamping syarat-syarat diatas, para ulama sepakat menyatakan bahwa rahn
baru dianggap sempurna apabila barang yang di rahn kan secara hukum sudah
berada ditangan pemberi utang, dan utang yang dibutuhkan telah diterima
peminjam uang. Syarat terakhir (kesempurnaan rahn) oleh para ulama disebut
qabdh al-marhun (barang jaminan dikuasai secara hukum oleh pemberi
utang/kreditur).
2.3 Hak Dan Kewajiban Penerima Dan Pemberi Gadai Syariah
Penerima Gadai (Murtahin)
1) Hak Penerima Gadai
a. Apabila rahin tidak dapat memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo,
murtahin berhak untuk menjual marhun
b. Untuk menjaga keselamatan marhun, pemegang gadai berhak
mendapatkan penggantian biaya yang dikeluarkan
c. Pemegang gadai berhak menahan barang gadai dari rahin, selama
pinjaman belum dilunasin
2) Kewajiban Penerima Gadai
a. Apabila terjadi sesuatu (hilang ataupun cacat) terhadap marhun akibat dari
kelalaian, maka marhun harus bertanggung jawab

b. Tidak boleh menggunakan marhun untuk kepentingan pribadi


c. Sebelum diadakan pelelengan marhun, harus ada pemberitahuan kepada
rahin
Pemberi Gadai (Rahin)
1) Hak Pemberi Gadai
a. Setelah pelunasan pinjaman, rahin berhak atas barang gadai yang
diserahkan kepada murtahin
b. Apabila terjadi kerusakan atau hilangnya barang gadai akibat kelalaian
murtahin, rahin menuntut ganti rugi ataas marhun
c. Setelah dikurangi biaya pinjaman dan biaya-biaya lainnya, rahin berhak
menerima sisa hasil penjualan marhun
d. Apabila diketahui terdapat penyalahgunaan marhun oleh murtahin, maka
rahin berhak untuk meminta marhunnya kembali
2) Kewajiban Pemberi Gadai
a. melunasi penjaman yang telah diterima serta biaya-biaya yang ada dalam
kurun waktu yang telah ditentukan
b. apabila dalam jangka waktu yang telah ditentukan rahin tidak dapat
melunasi pinjamannya, maka harus merelakan penjualan atas marhun
pemiliknya
2.4 Aspek-Aspek Pendirian Pegadaian Syariah
Dalam mewujudkan sebuah pegadaian yang ideal dibutuhkan beberapa aspek
pegadaian. Adapun aspek-aspek pendirian pegadaian syariah tersebut antara lain :
1.

Aspek Legalitas

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 10 Tahun 1990 tentang berdirinya


lembaga gadai yang berubah dari bentuk perusahaan jawatan menjadi perusahaan
umum pegadaian pasal 3 ayat (1a). Menyebutkan bahwa perum pegadaian adalah
badan usaha tunggal yang diberi wewenang untuk menyalurkan uang pinjaman
atas dasar hukum gadai. Kemudian misi dari perum pegadaian disebutkan dalam
pasal 5 ayat 2b, yaitu pencegahan praktek ijon, riba, pinjaman tidak wajar lainnya.
2.

Aspek Permodalan

Modal yang dibutuhkan cukup besar, karena selain untuk dipinjamkan ke


nasabah juga untuk investasi untuk penyimpanan barang gadai. Permodalan
diperoleh dengan sistim bagi hasil seperti pengumpulan dana dari beberapa orang
(musyarakah) atau dengan mencari sumber dana (shahibul maal), seperti bank
atau perorangan untuk mengelola perusahaan gadai syariah (mudharabah)
3.

Aspek Sumber Daya Manusia

SDM pegadaian syariah harus memahami filosofi gadai dan sistem


operasionalisasi gadai syariah. SDM selain mampu menangani masalah taksiran
barang gadai, penentuan instrumen pembagian rugi laba atau jual beli, menangani
masalah-masalah yang dihadapi nasabah yang berhubungan penggunaan uang
gadai, juga berperan aktif dalam siar Islam dimana pegadaian itu berada.
4.

Aspek Kelembagaan

Sifat kelembagaan mempengaruhi keefektifan sebuah perusahaan gadai dapat


bertahan. Sebagai lembaga yang relatif belum banyak dikenal masyarakat,
pegadaian syariah perlu mensosialisasikan posisinya sebagai lembaga yang
berbeda dengan gadai konvensional. Hal ini guna memperteguh guna
keberadaannya sebagai lembaga yang terdiri untuk memberikan kemashlahatan
bagi masyarakat.
5.

Aspek Sistem dan Prosedur

Sistem dan prosedur gadai syariah harus sesuai dengan prinsip-prinsip syariah
dimana keberadaannya menekankan akan pentingnya gadai syariah. Oleh karena
itu gadai syariah merupakan representasi dari suatu masyarakat dimana gadai itu
berada, maka sistem dan prosedural gadai syariah berlaku fleksibel asals sesuai
dengan prinsip gadai syariah.
6.

Aspek Pengawasan

Yaitu harus diawasi dengan Dewan Pengawas Syariah agar operasionalisasi


gadai syariah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.
2.5 Operasionalisasi Pegadaian Syariah
Dengan memahami konsep lembaga gadai syariah maka sebenarnya lembaga
gadai syariah untuk hubungan antar pribadi sudah operasional. Setiap orang bisa
melakukan perjanjian hutang piutang dengan gadai secara syariah. Pada dasarnya
konsep hutang piutang secara syariah dilakukan dalam bentuk al-qardhul hassan,
dimana pada bentuk ini tujuan utamanya adalah memenuhi kewajiban moral
sebagai jaminan sosial.
Implementasi operasi pegadaian syariah hampir sama dengan pegadaian
konvensional. Seperti halnya pegadaian konvensional, pegadaian syariah juga
menyalurkan uang pinjaman dengan jaminan barang bergerak. Prosedur untuk
memperoleh gadai syariah sangat sederhana yaitu, masyarakat harus menunjukkan
bukti identitas diri dan barang bergerak seperti jaminan, lalu uang pinjaman dapat
diperoleh dalam waktu yang tidak relatif lama. Begitupun untuk melunasi

pinjaman, nasabah cukup dengan menyerahkan sejumlah uang dan surat bukti
rahn saja dengan waktu proses yang sangat singkat.
Jenis barang yang digadaikan
1. Perhiasan
2. Alat alat rumah tangga
3. Kendaraan, dan benda bergerak lainnya.
Biaya-biaya
a. Biaya administrasi pinjaman
Untuk transaksi pinjaman ditetapkan sebesar Rp 50,- untuk setiap
kelipatan pinjaman Rp 5.000,- biaya ini hanya dikenakan 1 kali diawal
akad
b. Jasa simpanan
Besarnya tarif ditentukan oleh:
1. Nilai taksiran barang
2. Jangka waktu ditetapkan 90 hari
3. Perhitungan simpanan setiap kelipatan 5 hari. Berlaku pembulatan ke
atas (1-4 hari dengan 5 hari)
c. Ketentuan Barang
1. Perhiasan sebesar Rp 90,- per 10 hari. Total biaya dilakukan
pembulatan Rp 100 terdekat (0-50 dianggap 0; > 51- 100 dibulatkan
Rp 100,-)
2. Barang elektronok alat rumah tangga biayanya sebesar Rp 95,- per 10
hari
3. Kendaraan bermotor biayanya sebesar Rp 100,- Per 10 hari
Sistem cicilan atau perpanjangan
Nasabah (rahin) dapat melakukan cicilan dengan jangka waktu 4 bulan. Jika
belum dapat melunasi dalam waktu tersebut, maka rahin dapat mengajukan
permohonan serta menyelesaikan biayanya. Lamanya waktu perpanjangan adalah
kurang lebih 4 bulan. Jika nasabah masih belum dapat mengembalikan pinjmanya,
maka marhun tidak dapat diambil.
2.6 Persamaan dan Perbedaan Pegadaian Syariah dengan Pegadaian
Konvensional
a. Perbedaan
Pegadaian Syariah
Pegadaian Konvensional
1. Biaya administrasi berdasarkan 1. Biaya
administrasi
berupa
barang
prosentase yang didasarkan pada
golongan barang
2. Jasa
simpanan
berdasarkan 2. Sewa modal berdasarkan uang
simpanan
pinjaman

3. Tidak ada istilah bunga


4. 1 hari dihitung 5 hari
5. Bila pinjaman tidak dilunasi, barang
jaminan akan dijual kepada
masyarakat
6. Uang pinjaman 90 % dari taksiran

3. Ada istilah bunga


4. 1 hari dihitung 15 hari
5. Bila pinjaman tidak dilunasi, barang
jaminan dilelang kepada masyarakat

6. Uang pinjaman untuk golongan A


92% sedangkan untuk golongan
BCD 88-86%
7. Jasa simpanan dihitung dengan 7. Sewa modal dihitung dengan
konstanta X taksiran
prosentase X uang pinjaman
8. Maksimal jangka waktu 3 bulan
8. Maksimal jangka waktu 4 bulan
9. Kelebihan uang hasil dari penjualan 9. Kelebihan uang hasil lelang tidak
barang tidak diambil oleh nasabah,
diambil oleh nasabah, tetapi menjadi
diserahkan kepada lembaga ZIS
milik pegadaian

b. Persamaan
1. Hak gadai atas pinjaman uang
2. adanya jaminan sebagai jaminan hutang
3. tidak boleh mengambil manfaat barang uang digadaikan
4. biaya barang yang digadaikan ditanggung oleh para pemberi gadai
5. apabila batas waktu pinjaman uang habis,barang yang digadaikan boleh
dijual atau dilelang

BAB III
PENUTUP
3.1 SIMPULAN
Gadai dalam Arab disebut dengan rahn yang artinya merupakan suatu akad
utang piutang dengan menjadikan barang yang mempunyai nilai harta menurut
pandangan syara sebagai jaminan, hingga orang yang bersangkutan boleh
mengambil utang.
Secara umum, barang gadai harus memenuhi beberapa syarat, antara lain:
1. Harus diperjualbelikan,
2. Harus berupa harta yang bernilai,
3. Marhun harus bisa dimanfaatkan secara syariah,
4. Harus diketahui keadaan fisiknya sehingga piutang tidak sah untuk
digadaikan harus berupa barang yang diterima secara langsung,)
5. Harus memilkik rahin (peminjaman atau penggadai), setidaknya harus
seizin pemiliknya.
Dengan memahami konsep lembaga gadai syariah maka sebenarnya lembaga
gadai syariah untuk hubungan antar pribadi sudah operasional. Setiap orang bisa
melakukan perjanjian hutang piutang dengan gadai secara syariah. Pada dasarnya
konsep hutang piutang secara syariah dilakukan dalam bentuk al-qardhul hassan,
dimana pada bentuk ini tujuan utamanya adalah memenuhi kewajiban moral
sebagai jaminan sosial.

3.2 SARAN
Seharusnya kita sebagai seorang muslim harus sudah memulai melepaskan
diri dari segala macam belenggu riba. Salah satunya yaitu bila kita ingin
menggadaikan suatu barang hendaknya digadaikan di pegadaian syariah.
Lembaga pegadaian syariah lebih memberikan keuntungan yang tidak akan
menyulitkan dikemudian hari, serta konsep-konsep yang ada didalamnya pun
berdasarkan syariah yang sudah pasti lebih baik dibandingkan dengan lembaga
pegadaian konvensional.

DAFTAR PUSTAKA

Soemitra Andri, 2009. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, Jakarta :


Kencana Prenada Media Group.
Sudarsono, Heri. 2008. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah: deskriptif dan
ilustrasi. Yogyakarta: Ekonisia.
http://www.eramuslim.com/ekonomi/hukum-gadai-dalamsyariah.htm#.VQ_2C45c4YE
http://pegadaianislam.blogspot.com/

Anda mungkin juga menyukai