Anda di halaman 1dari 75

Brain and mind

M.Azhari
Mekanik – mekanik bangun, tidur dan aktifitas listrik dari otak.
1. Formasio reticularis ( reticular formasio )dan sistem aktifasi retikuler
( reticular aktivating system ) :
- bagian tengah ventral dari batang otak ditempati neuron –neuron
kecil ( sel – sel reticularis ) banyak sekali.
- sebagai pusat – pusat respirasi, jantung, vasomotor, dll.
- berperan dlm fasilitasi / inhibisi reflex regang .
- berhubungan dgn keadaan sadar, bangun dan tidur.
a. sistem aktifasi reticuler yg menaik ( SAR ) :
- polysinaps.
- menerima colaterals dr sistem specific ( sistem antero lateral, sis-
tim lemniscus, sistem audition,sistem vision, sistem olfaction, dan
sistem pengecapan ).
Akibatnya aktifitas sistem aktifasi reticuler tdk specifik.
b. Sistem aktifasi reticuler :  sebagian langsung menuju cerebral cortex
( tdk melalui thalamus ) secara diffus.
sebagian melalui thalamus ( kelompok nukleus medialis nonspesifik )
menuju cerebral cortex secara diffus.

c. Aktifitas sistem aktifasi reticuler berhubungan erat dgn aktifitas listrik


dari cerebral cortex. Ini bisa dilihat pada Gbr berikut.
2. Thalamus.
Thalamus terdiri dari : - epithalamus.
- thalamus dorsalis.
- thalamus ventralis.
Epithalamus mempunyai hubungan dgn sistem penciuman.
Thalamus ventralis blm diketahui hubungannya.
Thalamus dorsalis tediri dari :
I. Nukleus – nukleus proyeksi nonspecific, proyeksi diffus ke seluruh
neocortex.
1. nukleus mid line dan 2. nukleus intralaminaris, menerima ma –
sukan dari aktifasi retikuler, mengirim impuls – impuls yg bertang
gung jawab untuk “ diffuse secondary response “ dan “ pengaruh
waspada “ dari sistem aktifasi retikuler.
II. Nukleus – nukleus rilei sensori specifik
( Gbr.11.4 ).
3. Corpus geniculatum medialis ( medial geniculate body ) untuk pende
ngaran dan radiasi ke area 41 ( gyrus temporalis superior ).
4.Corpus geniculatum lateralis ( lateral geniculate body ) untuk penglihatan dan radiasi
ke area 17 ( fissura calcarina ).
5.Kelompok nukleus – nukleus ventro basal (nukleus ventralis postero
lateralis, nukleus ventralis posteromedialis ) untuk somestesia dan radiasi gyrus
postcentralis = area 3 – 1 – 2 = S I.

III. Nukleus – nukleus yg berhubungan dgn mekanisme kontrol efferen


( motorik ).
6. Kelompok nukleus – nukleus anterior dan ventral lateral, menerima
masukan dari ganglia basalis ( basal ganglia ) dan dari cerebellum
dan proyeksi ke area 6 dan 4 ( premotor dan motor area ).
Gbr.11.4.
Aspek medial dari
cerebrum.
Thalamus ( Thalamus
dorsalis ).
Nucleus – nucleus proyeksi nonspesifik, proyeksi secara diffus
ke –
seluruh neocortex.
1. nucleus midline.
2. nucleus intralaminaris.
1 & 2 menerima masukan dari sistem aktifasi retikuler.
impuls – im
puls yg bertanggung jawab untuk :
- “ diffuse secondary response “
- “ pengaruh waspada “ dari sistem aktifasi retikuler.
7. Kelompok nukleus – nukleus anterior.
menerima masukan dari corpus mammilari dan gyrus
cingulum.
Proyeksi ke gyrus cingulum ( sistem limbik ) untuk memori – memori –
Jangka pendek dan emosi.
IV. Kelompok nukleus – nukleus yg berhubungan dgn fungsi – fungsi
integrasi komplex. Dijumpai hubungan timbal balik antara thalamus
dan cerebral cortex :
8. Pulviner.
berhubungan secara dua arah dgn lobus parietalis, lobus tempo
ralis dan lobus occipitalis, associasi pendengaran, penglihatan,
somatik dan visceral.
9. kelompok nukleus – nukleus dorsal – lateral.
berhubungan secara dua arah dgn area associasi 5 – 7, 24 dan
18 – 19, fungsi bahasa.
Organisasi Neocortex.
 6 lapisan neuron – neuron ( I s/d VI ).
- axon memberikan collateral recurrent dan mengadakan sinaps pd
dendrit.
- serabut afferen yg diterima berasal dari thalamus ( kelompok nuk-
leus spesifik ) berakhir terutama pd lapisan IV. Afferen yg berasal-
dari nukleus nonspesifik thalamus berakhir pd lapisan I s/d IV.
ini bisa dilihat pada gbr. 11.2 dan gbr. 11.3 yg berikut ini.
Gbr 11.2.
Gbr 11.3.
4. Potensial – potensial yang timbul pada cerebral cortex (evoked cortical
potentials ).
Stimulasi receptor ( organ sensorik ) akan menimbulkan
potensial pd
area penerima primer ( primary receiving area ) di cerebral
cortex .
Hal ini dapat dilihat pada gbr 11.4. berikut.
Gbr.11.4.
Potensial – potensial yang dapat dicatat terdiri
dari:
a. Primary evoked potensial :
- elektroda pencatat pd lapisan II s/d VI yg dihubungkan
dengan
elektroda indifferen pd tempat lain.
- positive – negative potensial.
- masa laten 5 – 12 ms ( millisecond ).
- lokasi spesifik pada area penerima primer .
b. Diffuse secondary response.
- lokasi tidak spesifik.
- masa laten sama 20 – 80 ms.
- disebabkan aktifitas SAR ( sistem aktifasi retikuler )
5. Electroencephalogram
( EEG ).
- Elektroda pd permukaan kepala ( batok kepala tidak dibuka akan
memberikan electroencephalogram ( EEG ).kalau elektroda diatas
piamater ( batok kepala dibuka ) akan memberikan electrocortico-
gram.
- Pencatatan secara unipolar atau bipolar.

a) Manusia dewasa, istirahat/tidur terlentang, ngelamun, mata ditutup


(ruangannya tidak ada suara, nyaman = tdk ada stimulasi sensorik )
pencatatan EEG memberikan : “Ritme Alpha” :
- frekuensi gelombang 8-12 per second
- amplitudo 50 μV
- reguler
- lokasi : daerah parieto occipital
- kegiatan sinkron pada Gbr.11.5.
Gbr.11.5.
b) Alpha block.
JIka orang tadi membuka matanya (stimulasi sensorik
spesifik) maka
Ritme alfa akan digantikan oleh aktifitas voltase rendah,
tidak teratur
dan cepat disebut “Alpha block” (desinchronisasi)
Lihat Gbr. 11.6. yang berikut.
Gbr.11.6.
c) Mekhanisme terjadinya EEG.
Dipole berganti (shifting dipole) yang ditunjukkan pada
Gbr.11.8. yang berikut ini.
Gbr. 11.8.
d) Mekhanisme-mekhanisme sinkronisasi (Syncrhonizing
mechanisms)
- Satuan dendrite yang aktif mempengaruhi satuan dendrite yang di
dekatnya dan ini menghasilkan sinkronisasi.
- Letupan ritmis impuls-impuls dari Thalamus memberikan sinkronisasi. Jika nukleus
Thalamus distimulasi 8 kali/second maka
akan timbul respons 8 kali/second pada Cerebral cortex (ispilateral)
dan ini disebut “Recruting response”.
- Ritme alpha (sinkronisasi) juga dijumpai pada keadaan tidur.
EEG keadaan tidur dijumpai pada stimulasi :
* diencephalic sleep zone di Hypothalamus posterior berdekatan
dengan nukleus-nukleus Intralaminaris dan Anterior dari Thalamus.
Frequensi stimulasi 8 kali/second. Kalau stimulasi cepat akan
menimbulkan arousal (bangun).
* Medullary synchronizing
zone
* Basal forebrain sleep zone (preoptic area, diagonal band of
Broca = Sistem limbik).

e) Mekanisme-mekanisme desinchronisasi (desynchronizing mechanisms)


- Aktifasi Sistem Aktfasi Reticuler (SAR) akan memberikan EEG-
desinchronisasi (bangun)
- Kerusakan Sistem Aktifasi Reticuler (SAR) akan menimbulkan
koma (tidak sadar)
- Stimulasi SAR (Sistem Aktifasi Reticuler) menyebabkan bangun,
waspada (arousal, alert).
Aktivasi otak : - waspada.
- tidur.
- listrik otak.
Impuls dari berbagai sensorik  cortex cerebri.
 brain stem melalui colateral
reticular
actvating system persepsi.
lokalisasi.
 Sadar dan waspada  daya tangkap ( persepsi )
Formasio reticularis dan reticular activating system.
 genetis : sudah berusia tua.
 lokalisasi : midventralis : - medulla oblongata.
- mid brain.
RAS dan reticular component : sadar.
 tidur.
Dipengaruhi oleh :- pendengaran.
- penglihatan.
- penciuman.
Proyeksi  thalamus  cortex  aktivitas listrik otak.

Thalamus : - epithalamus  sistim penciuman.


- thalamus dorsalis  neocortex , limbic system.
- thalamus ventralis.
Thalamus menerima masukan dari RAS  proyeksi ke:
- Corpus geniculatm lat / med : pendengaran, penglihatan.
► perangsangan mesensefalon  aktivitas seluruh otak 
keadaan
waspada normal pd otak.
Kerusakan mesensefalon bisa disebabkan oleh: tumor.
perdarahan.
ensefalitis
letargika
 penyakit tidur koma tdk peka pd rangsangan normal.
Fungsi luhur  fungsi yang memungkinkan manusia hidup didunia penuh
dengan kebutuhan, bahaya, tantangan, kesenangan - learning
and memory, bahasa dll.
.

1.Metoda.
- PET ( positron emission tomography scanning )
- FMRI ( functional magnetig resonance imaging )
Kedua metoda / teknik ini dipergunakan untuk :
- menentukan aktivitas berbagai bagian otak pada manusia sehat dan sakit,
seperti :- bagaimana gambaran otak pd manusia yg sehat.
- bagaimana gambaran otak pd manusia yg sakit.
Dipergunakan untuk mempelajari : learning and memory.
 perception.
Hal ini bisa dilihat pd gbr.11.9 berikut.
GBR.11.9.
PET scans dari cerebral hemisfer sebelah kiri area – area aktivitas
neuron pd
berbagai keadaan, spt :
a) Melihat pd perkataan – perkataan  activitas area 17, 18 dan 19.
b) Mendengarkan perkataan activitas daerah perbatasan area
temporal –
dan cortex parietalis.
c) Mengucapkan perkataan activitas area Broca dan lobus frontalis
yg ber
dekatan.
d) Memikirkan perkataan activitas sebagian besar cortex,termasuk
seba-
gian besar lobus frontalis.
2. Belajar dan Ingatan ( Learning and memory ).
► Belajar :
pengalaman perilaku berobah, memperoleh informasi  perobahan peri-
laku.
► Ingatan ( memory ) :
retensi dan penyimpanan informasi belajar dan ingatan sangat –
dekat satu sama lain dan berkaitan.
Ingatan dibagi atas bentuk : explicit dan implicit.
a) Bentuk ingatan explicit ( declarative = recognition memory )
- consciousness disadari.
- untuk retensi diperlukan Hypocampus dan lobus temporalis bgn medial.
terdiri atas:
1. ingatan tentang kejadian ( episodic memory ).
2. ingatan tentang perkataan, peraturan dan bahasa ( semantic memory )
b. Bentuk ingatan Implicit.
- nondeclarative / reflexive.
- tidak memerlukan kesadaran.
- retensi / storage  tidak melibatkan hypocampus, terdiri atas :
1. keterampilan ( skills )
2. kebiasaan ( habits )
3. reflex bersyarat ( conditioned reflex )
Ingatan explicit diperlukan pd mulanya utk kegiatan belajar mengendarai
se -
peda dan dapat berobah menjadi ingatan implicit  kalau sudah mahir !
Ingatan explicit dan berbagai bentuk ingatan implicit akan mengalami :
 Penyimpanan informasi temporer, working = short term memory
ingatan
jangka pendek detikmenit.
 Periode processing di hypocampus atau tempat lain  ingatan bentuk
yg
lebih lama > 1 jam.
INGATAN JANGKA PANJANG ( LONG TERM MEMORY ):
- Bertahun – tahun.
- Seumur hidup.
Ingatan implicit
a) Belajar nonassociative = belajar tentang 1 stimulus ingatan.
- habituation:
1 stimulus netral diberikan  manusia respons ( apa itu ? )  orienting
reflex.
stimulus yang sama dibrikan berulang – ulang  manusia  respons la-
ma – lama akan hilang ( adaptasi ).
SENSITIZATION
Kebalikan dari habituation, 1stimulus responsberulang – ulang respons
bertambah hebat.
b) ASSOCIATIVE LEARNING  ingatan mahluk belajar tentang hu-
bungan satu stimulus dgn stimulus yg lain .
- classic conditioning  reflex bersyarat ( condition reflexes ) percobaan
yg dilakukan Ivan pavlov pd anjing dalam keadaan normal :
1. daging dimulut anjing  salivasi ( innate respons )  sifat yg di -
bawasejak lahir.

2. dibunyikan lonceng ( conditioned stimulus ) + diikuti daging dimulut


( unconditioned stimulus )  salivasi, dilakukan 2 – 3 x / hari  1 bln –
 hanya lonceng yg dibunyikan  salivasi ( complex unconditioned
reflexes )
Jika conditioned stimulus diberikan berulang tanpa unconditioned stimulus
 Salivasi tidak terjadi ( reflex bersyarat mati )extinction( internal inhibi –
tion ).
conditioned stimulus diberikan dan segera diikuti oleh pemukulan ( stimulus
external )  salivasi tdk terjadi ( external inhibition ).
conditioned stimulus diberikan segera diikuti unconditioned stimulus  ber
pasangan dari waktu ke waktu ( reinforcement )  reflex bersyarat ber –
tahan selamanya.
OPERANT CONDITIONING suatu bentuk conditioning dimana mahluk / binatang diajar
mengerjakan sesuatu ( operate on the environment ) untuk
mendapatkan hadiah atau menghindari hukuman.
Unconditioned stimuli  kejadian enak ( pleasant event) atau kejadian tdk enak
( unpleasant event ).
Respon motorik bersyarat untuk menghindari kejadian yg mengakibatkan
 Unpleasant event  conditioned avoidance reflexes.
3. Pemindahan antar hemisfer dari belajar dan ingatan ( intercortical transfer of
learning and memory )
a. Kucing dan monyet ( salah satu mata ditutup ) diajar memberikan respons
pada rangsang cahaya lalu ditest pada mata yg ditutup  respons yg sama
terjadi.

jika chiasma opticum dipotong hal diatas terjadi juga. jika chiasma opticum,
commisura anterior / posterior dan corpus callosum dipotong
( split brain animal )  tidak terjadi pemindahan belajar dan ingatan.
b. Hal serupa terjadi pada pada manusia.
4. Dasar molekuler dari ingatan ( molecular basic of memory ).
Perobahan didalam kekuatan hubungan – hubungan sinaptik tertentu
meliputi :
a. Sintesis protein.
b. Aktifasi gene.
hal ini terjadi pada perobahan “ Working memory “ ( short term memo-
ry ) ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang ( long term me-
mory ).
4.1. proses ingatan Implicit ( encoding )  melibatkan berbagai bagian SSP
 striatum ( ganglia basalis )
 cerebellum.
Pada binatang / Aplysia :  latihan menguasai respons motorik tertentu .
Akuisisi ( proses belajar / ingatan ).
- Jika dalam 5 menit sesudah sessi latihan, binatang dianestesi, electro shock,
hipothermia  tidak terjadi akuisisi.
- Jika dilakukan sesudah 4 jam sesudah sessi latihan respons akuisisi tidak
terganggu.
Habituasi dan sensitisasi memegang peranan. Mekanisme seperti ini juga ter-
Jadi pada manusia.
4.2. proses ingatan Eksplisit ( encoding explicit memory )  proses untuk -
ingatan jangka pendek ( short term memory ), melibatkan :
- lobus occipitalis.
- lobus parietalis.
- prefrontal cortex.
Proses eksplisit dihubungkan dgn :
- Hypocampus.
- entorhinal, perirhinal.
- parahypocampus dari lobus temporalis bagian medial.
Outputnya melalui subiculum dan entorhinal cortex  lingkaran
sinaps pada
berbagai area neocortex  ingatan jangka panjang.
5. Penyakit Alzheimer dan dementia senilis.  kehilangan progrersive dari
ingatan jangka pendek, diikuti oleh gangguan fungsi kognitive secara umum.
consciousness : adalah kesadaran akan diri sendiri dan sekitarnya.
terdapat 2 aspek :
a. Arousal  keadaan bangun.
b. cognition  semua aktivitas mental untuk mengetahui adanya sensasi
dan penyebabnya.
 fungsi cerebral cortex, terutama : prefrontalis cortex, area 5 – 7,
area 18, 19, dan 22 – 24.

DEMENTIA ☼
Gangguan fungsi Cognitive global yang tidak disertai gangguan derajat
kesadaran, tapi bersamaan dengan perubahan tabiat secara mendadak .


Jenis – jenis Demensia
Demensia reversibel  daya kognitif global dan fungsi luhur terganggu
 metabolisme dari neuron – neuron kedua hemisfer tertekan atau
dilumpuhkan oleh berbagai sebab, mis: hepatitis, ginjal kronis
( endogenic toxic ).

Apabila penyebabnya dihilangkan  demensia hilang, fungsi kognitif


dan fungsi luhur kembali seperti semula.

Demensia tak reversibel ( irreversibel )  disertai kerusakan


infrastruktur neuron – neuron kortikal  fungsi kortikal tidak akan
pulih dan demensia menetap.
Pada orang lanjut usia  dijumpai “ Dementia senilis “
Dementia = lupa , senilis = tua, 50 – 60 % penderita Alzheimer adalah Dementia senilis.

Patofisiologi
- atropi hypocampus dan entorhinal cortex.
- degenerasi neuron – neuron cholinergic di Nukleus basalis of Meinert basal
forebrain.
- penyebab degenerasi neuron – neuron pada penyakit Alzheimer :
a. berkaitan dengan gen tertentu ( β – amyloid, presenilin 1, presenilin 2 )

b. Apo – lipoprotein E.
6. Fungsi Neocortex.
I. ciri – ciri.
6.1. otak manusia mempunyai 3 area asosiasi yang besar.
a. Frontal area, didepan premotor cortex ( area 6 ).
b. Parieto temporo occipital, diantara area somesthesia, visual cortex
temporo posterior.
c. area asosiasi temporal  lobus temporalis ke sistim limbik.
6.2. Perbandingan berat otak/ berat badan  pada manusia lebih besar
dari gajah, whale dan dolhpin.
6.3. Lapisan sel – sel neuron ada 6 lapisan disertai :
‘’ recurrent collateral ‘’
‘’ afferents yang diterima ‘’
‘’ bentuk dendrites ‘’
berguna untuk fungsi bahasa ( fungsi neocortex selain learning &
memory ).
B. Spesialisasi complementer dari hemisphere.
Satu hemisphere berfungsi untuk bahasa , hemisphere yang lain
untuk
fungsi hubungan ‘’ spatio – temporal ‘’.
Fungsi bahasa :
- Mengerti perkataan yang diucapkan dan dituliskan.
- Mengucapkan / menuliskan ide secara lisan / tertulis terletak
pada salah satu Hemisphere
Hubungan bahasa dengan visuo – spatial.
- Hubungan spatio – temporal :
* identifikasi objek dari bentuk.
* mengenal tema – tema musik.
* mengenali wajah.
Lokasi : terletak pada hemisphere yang satu lagi ( hemisphere representasi ).

* Lesi pada hemisphere categori  gangguan bahasa


• Lesi pada hemisphere representasi  Astereognosis dan agonsis lainnya  ketidak
sanggupan mengenali benda dengan merabanya lobus parietalis –
( hemisfer representasi ).
• Lesi daerah” lobus parietalis inferior “  unilateral Inattention and neglect.
lupa memperhatikan separuh bagian badan ( mencukur muka separuh , pa-
kaian separuh , dll ).
C. Specialisasi komplementer dan handedness ( ketrampilan tangan )
91 % populasi terampil dengan tangan kanan, hemisfer kiri untuk bahasa
 hemisphere category.
LEFT HANDED MAN ( orang – orang kidal )  9% dari populasi.
70 % hemisfer kiri ( left handed individual ).
15 % hemisfer kanan ( left handed ) tdk jelas lateralisasinya.
D. Fisiologi bahasa.
BAHASA  BELAJAR / INTELIGENSIA  BUDAYA.

Area Wernicke ( area 22 )  pemahaman informasi, pendengaran dan peng –


lihatan. melalui fasciculus arcuatus  proyeksi ke area Broca ( area 44 ).
Area Broca ( 44 ) berfungsi dalam proses informasi yang diterima dari area
Wernicke.  pola vokalisasi terkoordinasi dan terperinci.  diproyeksian ke –
Insula dari cortex motorik  pergerakan lidah dan larynx  pembicaraan 
speech .

Daerah Cortex yang dominan dalam produksi bahasa ( verbal ) terletak dibagian
posterior girus frontalis inferior  gerakan bibir, lidah, pita suara  Pusat area Broca
Penglihatan dan pendengaran
mempengaruhi fungsi bahasa
Bagian – bagian yang bersangkutan
diproyeksikan pada seksi horizontal otak.
Kemungkinan proses yang terjadi jika seorang ( subject ) menyebut
nama
benda yang dilihatnya. proses awal dari lateral geniculated body.
Area 17  area penglihatan primer.
Area 18  area assosiasi penglihatan.
Area 39  area angular gyrus.
Area 22  area Wernicke.
Area 44  area Broca.
Area 4  motor cortex untuk wajah / muka ( ekspresi).

Gangguan bahasa ( language disorders )

Lesi hemisphere – category  aphasia dimana :


 tidak ada kerusakan / defect penglihatan.
 tidak ada kerusakan / defect pendengaran.
 tidak ada paralisis motorik.
Lesi daerah Parieto - oksipitalis
Agnosia  kerusakan area 18, 19  agnosia visual  benda yan dilihat tidak dikenal
dan tidak diketahui ( penderita tidak buta ).
Lesi daerah lobus temporalis yang berdominansi ( berpengaruh )
Agnosia auditorik  hilang kemampuan untuk mengenal apa yang didengar oleh
orang yang tidak tuli, tapi abstraksi dari apa yang didengar itu tidak
dikenal lagi.
Lesi area 5 dan 7
Astereognosis  hilangnya kemampuan untuk mengenal sesuatu dengan sensibilitas
taktil, tanpa melihat benda yang dipegang.
Lesi area 3, 1 dan 2
Gramagnosia  hilangnya kemampuan untuk mengenal apa yang sedang ditulis pada
permukaan tubuh seseorang.
Perilaku instinct dan emosi
PERILAKU INSTINCT DAN EMOSI

Perilaku Instinct :  makan / minum.


 sexual / reproduksi.
 proteksi.
Perilaku ini dibawa sejak lahir  Emosi adalah cara merasakan dan
bertindak.
Emosi mempunyai komponen mental :
a. Cognition  mengetahui adanya sensasi dan penyebabnya.
b. Affect  perasaan itu sendiri ( menyenangkan atau tidak ).
c. Conation  dorongan untuk bertindak.
Komponen fisik : - hypertention.
- heart rate / tachycardia.
- berkeringat.
Sistim limbik ( limbic ) dan hypothalamus  perilaku instinct dan
emosi
 berasal dari bahasa latin  limbus ( border ) ( Robert
carola ).

HISTOLOGI  bagian tertua dari korteks serebri.


 type primitive jaringan korteks :
- Allocortex.
- Yukstalocortex.

ANATOMY  dapat dilihat pada gambar berikut ini.


Anatomy dari sistim limbik
HUBUNGAN SYARAF AFFERENT DAN EFERENT.
a. Hippocampus
Fornix
Mamillari body / corpora
b. Mamillari body
Mamillo thalamic
Anterior thalamic nuclei tract

c. Anterior thalamic nuclei menyambung ke cortex cinguli.


d. Cortex cinguli menyambung ke hippocampus.
Hubungan diatas dikenal dengan" Papez circuit ".

e. Hubungan olfactory bulb dengan septum dan amygdala.


f. Hubungan amygdala dan hypothalamus.
Hubungan dua arah.
 Sisim limbik neocorte
 Emosi x
Aktifitas neocortex  experience
 Sistim limbik + hypothalamus batang otak  ekspresi
emosi
Emosi tidak bisa dihilangkan dengan kehendak walaupun
rangsangan yang
menimbulkannya sudah hilang  respons emosi berlama – lama di
polysinaps
 After discharge ( letupan ikutan ).

Fungsi sistim limbik.


 penciuman.
 Respon otonomik, misal  perubahan tekanan darah dan
respirasi.
 Perilaku makan / minum : lapar / haus  dorongan
mendapatkan makan
dan minum  peran Amygdaloiod.
Kerusakan pada amygdaloid  hyperfagia moderat  memakan
segala ma –
kanan
  ketidak
Perilaku sexual mampuan membedakan
 dorongan objek yang
copulasi  mencari akan
lawan dimakan (
jenis
kebutaan
( reflexes )
psikis
 Suatu). rangkaian reflex yang diintegrasikan di medullaspinalis
dan batang
otak bagian bawah  dikendalikan oleh sistim limbik dan
hypothalamus.

Pada mamalia tingkat tinggi dipengaruhi oleh faktor sosial dan


psikis 
Ensefalisasi  budaya / learning.
TAKUT ( FEAR ) DAN MARAH ( RAGE )
Pada binatang percobaan seperti monyet  bilateral temporal lobectomy 
sangat jinak ( docile ).
Pada jantan  hypersexualitas, karena sistim limbik terangkat.
Dijumpai visual agnosia  setiap benda yang didapat  oral exploration ( di –
pegang, gigit, kunyah ) dilakukan berulang – ulang, seperti tidak pernah dilihat.

Takut ( fear )  Hypothalamus + amygdala  lari ( proteksi ) avoidance re-


action.
Rage ( marah ) pada kucing  menggigit, mencakar dsb,  attack reaction.

Nuclei amygdaloid bekerja merekam memory yang mencetuskan rasa takut ke


amygdala tanpa melalui area kortek sensorik.
Jika cortex prefrontalis normal
?↯! pertimbangan apakah suatu
stimulus diexpresikan atau
diredam
Klinis.
Pada penyakit enchefalitis  merusak neuron – neuron di sistim limbik dan
hypothalamus  respon marah dan takut.

Pada nara pidana yang agresifitasnya tinggi  dibuat lesi amygdaloid


bilateral
 tenang dan dapat diatur, tapi tidak kehilangan daya ingat.

MOTIVASI : affect  menyenangkan. sensasi


 tidak menyenangkan.
Percobaan “ self stimulation “ ( tikus ) , didalam otak dijumpai :
a. sistim hadiah ( reward system ) stimulasi bagian tertentu 
perasaan
senang  stimulasi berulang – ulang.
b. sistim hukuman ( punishment system )  stimulasi bagian
tertentu  perasaan tidak menyenangkan  stimulasi
dihentikan ( avoidance ).

Hal ini bisa dilihat pada gambar berikutnya.


Anatomy sistim hadiah dan
hukuman
Stimulasi sistem hadiah ( reward system ).
Motivasi yang kuat untuk belajar melalui “ mazes “ ( suatu perangkat
berlorong )
pada binatang percobaan.
Pada ventral tegmental area dan nucleus acumbens neuron
dopaminergic
 reseptor dopaminergic post synaptic :
a. blokade reseptor oleh obat – obatan  ↓ self stimulation.
b. agonist dopamin  ↑ self stimulation.

Kimia otak ( brain chemical )


Fisiologis  fungsi organ.
perilaku.
psikis.
Jenis – jenis kimia otak .
- Dopamin.
- Serotonin.
- Norepineprin.
- Epineprin.
- Histamin.
- Asetilkolin.

Dopamin  mid brain / subtansia nigra  proyeksi striatum ganglia


basalis,
hypothalamus.
Fungsi :  tekanan darah.
 heart rate.
 vaso konstriksi / vasodilatasi.
Zat – zat yang mempengaruhi kerja dari dopamin.
 Kokain  stimulan CNS  high  direward system  tegmentum
ventral &
nucleus acumbens  reuptake dopamin di halangi  ↑ dopamin
di ekstra
seluler  euphoria.
 Kokain juga menghambat reuptake serotonin dan norepineprine 
↑ seroto
suddent
nin dan nor epineprin di ekstraseluler death ↑
 euphoria ! ↑.
Efek samping : tekanan darah ↓
heart rate ↓
hyposekresi bronchus
ZAT – ZAT ADIKTIV
Addiction  penggunaan suatu zat ( repeated compulsive used)  ketagihan
 akibat – akibat negatif.
Hal ini akan terjadi pada orang – orang yang mempergunakan obat – obatan atau
suatu zat, seperti :
- Morphine dan heroin ( opiates )
- Cocaine
- Amphetamine
- Alkohol
- Nicotine
- cafein
Sifat obat – obatan ini  ↑ jumlah dopamine yang bekerja pada D2 reseptor
didalam nucleus acumbens  stimulasi sistim hadiah  toleransi ( tolerance )
Toleransi ( tolerance )  perlu dosis obat pada penggunaan berikutnya  efek
yang sama ( high )  efek anak tangga  kepekaan dari c AMP dari berbagai
neuron – neuron, up regulation dan down regulation dari berbagai reseptor.

Up regulation  jika defisiensi ( sedikit )  hormon / neurotransmitter  maka


Reseptor – reseptor banyak.

Down regulation  jika zat neuro transmitter banyak maka reseptor – rseptor
 sedikit.
Jika segera obat – obatan dihentikan  withdrawal symptoms  pembebasan
bertambah dari : glutamate
norepineprine
Obat – obatan , perilaku dan transmisi sinaptik di SSP
Obat – obatan : - agen hallucinogenic  halusinasi.
- tranquilizers  mengurangi anxietas.
- anti depressant.
Obat diatas bekerja di SSP  perilaku berubah.
Sistem – sistem aminergic didalam otak ( badan sel )  axon yang
bercabang
cabang  proyeksi ke sebagian besar sistem syaraf terdiri dari :
1) Sistem serotonergic.
2) Sistem noradrenergic.
3) Sistem adrenergic.
4) Sistem histaminergic.
Selain itu dijumpai sistem dopaminergic ( badan sel di banyak lokasi )  pro

yeksi keberbagai daerah sistem syaraf.
1. Sistem serotonergic ( pada otak tikus )
St = striae terminalis.
D, M dan Cs = dorsal, medial dan central superior nucleus raphe.
• Neuron – neuron yang mengandung serotonin ( serotonergic neuron )
dijum – pai pada “ raphe nuclei “  dorsal medial dan sentral superior
raphe nuclei  batang otak.
Proyeksi  hypothalamus, sistem limbik, neocortex, spinal cord.

Obat – obatan yang menimbulkan halusinasi ( hallucinogenic agent ) :


- LSD  lysergic acid diethylamide.
- DMT  dimethyltryptamine.
- Ampetamine  ecstasy  3,4 methylene dioxymethamphetamine .
 Semua obat diatas meningkatkan efek serotonin  euforia.
 Kalau kadar serotonin menurun  depresi, curiga berlebihan 
insomnia.