Anda di halaman 1dari 14

A.

Definisi
Kanker ovarium adalah terjadinya pertumbuhan sel-sel tidak lazim (kanker) pada
satu atau dua bagian indung telur (Zulfi, 2014). Kanker ovarium adalah kanker atau
tumor ganas yang berasal dari ovarium dengan berbagai tipe histologi, yang dapat
mengenai semua umur (Rasjidi, 2010). Kanker ovarium terjadi ketika sel-sel pada
ovarium berubah dan tumbuh tidak terkendali (CDPH,2013). Kanker ovarium adalah
penyakit yang membuat frustasi bagi pasien dan pemberi perawatan kesehatan karena
awitannya yang tersembunyi dan tidak adanya gejala peringatan adalah penyebab
mengapa penyakit ini telah mencapai tahap lanjut ketika didiagnosa (Smeltzer, 2001).
Kanker ovarium termasuk keganasan nomor 2 terbesar dari keganasan alat
kandungan. Proses keganasan (kanker) bermula dari sel jaringan ikat ovarium termasuk
sel epitel permukaan sel bakal untuk telur dan jaringan ikat penunjang sel bakal telur.
Kanker atau tumor ganas akan menginvasi dan menghancurkan jaringan sekitarnya yang
masih sehat. Sel kanker juga bisa menyebar ke organ lain, membentuk tumor baru.
Kanker menyebar melalui aliran darah, atau aliran cairan limphe atau menyebar melalui
cairan tubuh lainnya seperti cairan rongga perut, rongga paru, dan rongga jantung (Yatim,
2008).
Kanker ovarium yang paling sering ditemui adalah jenis kanker ovarium epithelial
(65-70%). Kanker sel epitel ovarium biasanya terdeteksi setelah terjadi penyebaran
interperitoneal luas sehingga terlambat untuk dideteksi. Jenis kanker ini biasanya terjadi
pada wanita dengan usia diatas 50 tahun dan kejadiannya akan mulai terjadi pada saat
usia 45-49 tahun dan tingkat kejadiannya meningkat secara dramatis seiring dengan
pertambahan usia (Heffner & Schust, 2005).
B. Anatomi dan Fisiologi Ovarium
Indung telur (ovarium) adalah kelenjar-kelenjar kecil (2,5 x 4,5 cm) yang
mempunyai sekresi endokrin, artinya produknya, hormon-hormon kelamin wanita,
langsung ditampung di dalam peredaran darah. Oleh karena itu, tidak mempunyai saluran
keluar. Beberapa tumor ganas indung telur mengurangi kemampuan indung telur untuk
memproduksi hormon. Keadaan ini sebagai penanda tumor membantu dalam menentukan
diagnosis.
Ovarium memiliki ukuran yang bervariasi, umumnya pada masa reproduksi
memiliki panjang 2,5-5 cm, lebar 1,5-3 cm, dan tebal 0,5-1,5 cm. Pada seorang wanita

dewasa sebesar ibu jari tangan dan terletak di fossa ovaril Waldeyer. Ovarium difiksasi
oleh mesovarium menuju ligamentum latum, ligamentum utero ovarium dari insersi
sedikit bawah tuba menuju ovarium, dan ligamentum infundibulopelvikum (ligamentum
suspensorium ovarii) dari tuba menuju tulang pelvis. Permukaan ovarium licin dan
mengkilat pada wanita muda (gadis), semakin tua akan muncul benjol-benjol karena
ovulasinya. Pada wanita usia lanjut akan mengecil dan padat karena ovulasi sudah tidak
terjadi. Lapisan ovarium terdiri dari korteks jaringan ikat dan terdapat berbagai tingkat
maturasi primordial graaf folikel yang lapisan luarnya tertutup tunika albugenta dan
medulla ovarii yaitu jaringan longgar berlanjut dengan mesovarium yang mengandung
pembuluh darah, serat saraf, dan otot.
Sejak lahir, sel-sel telur ada di dalam indung telur sebagai sel benih wanita
dengan jumlah yang sangat besar. jumlahnya menurun pada saat pubertas menjadi
400.000 dan menurun sampai 34.000 pada perempuan dibawah umur 36 tahun. Sesudah
itu, tidak lagi diproduksi sel telur baru. Sel benih mematang dibawah pengaruh perubahan
hormone dan sesudah itu, masing-masing dilepaskan di saat ovulasi. Jadi, di dalam rahim
terdapat tiga jenis sel: sel epitel yang menutupi permukaan, berbagai sel yang
memproduksi hormone yang biasanya disebut sel stroma, dan sel telur yang belum
matang (sel benih). Semua jenis sel ini dapat membentuk tumor ganasnya sendiri.

C. Epidemiologi
Di Indonesia, kanker alat kandungan (ginekologi) merupakan salah satu penyebab
kematian utama diantara penyakit kandungan. Kanker ovarium menduduki urutan ketiga
sesudah kanker serviks dan kanker payudara. Kebanyakan pasien yang terkena kanker

ovarium berusia 55 tahun atau lebih (diatas usia 50 tahun) (Yatim, 2005). 1 dari 67
perempuan berpotensi menderita kanker ovarium sepanjang hidupnya. Kemungkinan
perempuan terkena kanker ovarium ini akan semakin meningkat seiring bertambahnya
usia. WHO melaporkan 192.000 kasus di seluruh dunia di tahun 2000, di mana 6000
kasus kanker ovarium dilaporkan dari Inggris (Zulfi, 2014). Data kanker ovarium di
Indonesia belum diketahui secara pasti, di Rumah Sakit Kanker Dharmais ditemukan
kira-kira 30 penderita setiap tahun (Nasdaldy, 2007).
D. Patologi
Ada dua puluh jenis kanker ovarium, kebanyakan adalah tumor epithelial. Tumor
ini dapat mempunyai berbagai bentuk; sering berkista di berbagai tempat. Kista-kista ini
mungkin besar dan mengandung cairan (sereus) atau lendir. Pertumbuhan dan
perluasannya untuk jangka panjang hanya terbatas sampai perut.
Ada tiga pola pertumbuhan: setempat, perluasan di atas selaput perut, dan
penyebaran limfogen. Biasanya tumor tumbuh bertaut dan menyusup ke dalam organorgan berbatasan, seperti rahim, usus, kandung kemih, dan ureter. Penyebaran difus, yaitu
penyebaran kedua di atas selaput abdomen yang melapisi semua organ abdomen dan
dinding rongga abdomen, dimulai tinggi di perut di sisi bawah dekat rongga badan di atas
dan di belakang hati dan di atas selaput abdomen (omentum). Akhirnya terjadi perluasan
sampai semua sudut dan lubang dari rongga perut. Biasanya, disini juga terjadi asites
(cairan bebas di rongga perut).
Selain itu, hampir selalu terjadi perluasan ke dalam kelenjar limfe regional yang
terletak di dalam dinding belakang rongga perut, pada pembuluh darah besar, di samping
dan di depan rangka ruas tulang belakang, mulai dari daerah di ginjal sampai di dalam
panggul kecil. Ovarium bagaikan pasangan dari testis di fase embrional, berasal dari
daerah ginjal, karena itulah, pembuluh limfe menuju ke ginjal dan penyebaran dari ginjal
di dalam dinding belakang meluas ke bawah. Penyebaran berjarak lewat pembuluh
darah jarang terjadi. Namun tetap mengkhawatirkan mengingat pertumbuhannya intensif,
invasive, dari bawah sampai ke atas di seluruh perut.
E. Patofisiologi
Meskipun

kanker

ovarium

menyebabkan

15-20%

kanker

saluran

reproduksiwanita, kanker ini menyebabkan lebih banyak kematian dibanding gabungan

tumor lainnya. Kanker ovarium biasanya tidak bergejala sampai dapat teraba atau
menyebar luas.
Kanker ovarium lebih sering terjadi pada wanita infertil atau yang pernah
mengalami abortus spontan berulang, terlambat hamil atau menderita kanker payudara.
Di Amerika Serikat, insidennya sebesar 6-7/100.000 dengan kejadian pada kulit hitam
dan putih hampir sebanding.
Kanker ovarium sering dihubungkan dengan wanita dengan angka melahirkan
yang rendah dan infertile/tidak subur. Hal ini berkaitan dengan proses ovulasi dalam
ovarium. Pada lapisan korteks, gamet mengalami perkembangan untuk menjadi matang
dan siap dilepaskan ke rahim dalam hal ini terjadi setiap bulannya. Teorinya, perubahan
epitel korteks secara terus menerus untuk mematangkan gamet dapat memicu terjadinya
mutasi spontan yang pada akhirnya menimbulkan kanker pada ovarium. Pada wanita
yang hamil proses ini terhenti untuk 9 bulan sehingga resiko kanker semakin turun.
F. Faktor Risiko
1. Faktor Genetik
Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara atau kanker
ovarium umumnya lebih beresiko. Pasien yang memiliki sejarah keluarga yang
menderita kanker akibat gen mutasi BRCA1 dan BRCA2 memiliki resiko sangat
tinggi menderita kanker ovarium dan diperkirakan mencapai 50-70% pasien kanker
ovarium.
2. Faktor usia
Kanker ovarium umumnya ditemukan pada usia di atas 40 tahun. Angka kejadian
akan meningkat semakin bertambahnya usia.
3. Paritas
Pada pasien dengan Nuliparitas, infertilitas, dan anovulasi.
4. Konsumsi makanan tinggi lemak, Perokok, alkohol, penggunaan bedak tabur pada
area perineal.
5. Faktor hormonal
Tingginya kadar progesterone saat hamil akan membantu menurunkan resiko tumor
ganas ovarium, sedangkan peningkatan kadar hormone gonadotropin akan
menigkatkan pertumbuhan tumor ovarium.
G. Manifestasi Klinis

Sering kali kanker ovarium tidak memperlihatkan gejala karena biasanya pasien
yang datang untuk berkonsultasi sudah pada stadium agak lanjut. Gejala yang dirasakan
biasanya sudah tidak khas, paling tidak hanya gejala penekanan tumor, yaitu:
1. Gangguan pencernaan (dyspepsia), bengkak anggota bawah, nafsu makan kurang
sekali, sakit punggung, dan perut gembung karena gas.
2. Pada tahap awal sebetulnya ditemukan suatu masa di bagian bawah perut yang padat
dan terikat dengan jaringan sekitar. Kadang-kadang karena tumor melintir, penderita
mengeluhkan rasa sakit yang sangat kuat.
H. Klasifikasi Kanker Ovarium
Klasifikasi kanker ovarium belum ada keseragamannya, namun tidak ada
perbedaan sifat fundamental. Menurut International Federation of Ginecologic and
Obstetrics (FIGO), kanker ovarium di bagi dalam 3 kelompok besar sesuai dengan
jaringan asal tumor dan kemudian masing-masing kelompok terdiri dari berbagai
spesifikasi sesuai dengan histopatologi:
1. Kanker Berasal dari Epitel Permukaan
1) Karsinoma Serosa
2) Karsinoma Musinosa
3) Karsinoma Endometroid
4) Karsinoma Sel Jernih ( Clear Cell Carcinoma )
5) Tumor Brenner
2. Kanker Berasal dari Sel Germinal Ovarium (Germ Cell )
T umor ini lebih banyak pada wanita umur di bawah 30 tahun. Di antaranya :
1) Disgerminoma
2) Tumor Sinus endodermal
3) Teratoma Immatur
3. Kanker Berasal dari Stroma Korda Seks Ovarium (Sex Cord Stromal)
Tumor yang berasal dari sex cord stromal adalah tumor yang tumbuh dari satu
jenis. Kira-kira 10% dari tumor ganas ovarium berasal dari kelompok ini. Pada
penderita tumor sel granulosa, umur muda atau pubertas terdapat keluhan perdarahan
pervagina, pertumbuhan seks sekunder antara lain payudara membesar dengan
kolostrum, pertumbuhan rambut pada ketiak dan pubis yang disebut pubertas prekoks.
1) Tumor Sel Granulosa-teka
2) Androblastoma
3) Ginandroblatoma
4) Fibroma
I. Laboratorium

Evaluasi perioperatif untuk kecurigaan kanker ovarium meliputi pemeriksaan


darah lengkap dan hitung jenis, kimia darah, urinalisis, sitologi serviks dan vagina,
pemeriksaan radiologi dada dan perut, pielografi intravena, barium enema dan mungkin
uji fungsi hati, profil koagulasi, pemeriksaan gastrointestinal serial. Akhirnya, antigen
tumor berupa Ca125 atau CEA dapat membantu dalam mengevaluasi keganasan.
J. Pemeriksaan Penunjang
1. USG Ginekologi
Ultrasonografi merupakan pemeriksaan penunjang dalam diagnosis suatu
tumor ganas atau jinak. Pada keganasan akan memberikan gambaran dengan septa
internal, padat, berpapil, dan dapat ditemukan adanya asites. Walaupun ada
pemeriksaan yang lebih canggih seperti CT-Scan, MRI, dan positron tomografi akan
memberikan gambaran yang lebih mengesankan, namun pada penelitian tidak
menunjukan tingkat sensitifitas dan spesifisitas yang lebih baik dari ultrasonografi.
2. CT-Scan (Computed Tomography Scanning) dan MRI (Magnetic Resonance
Imaging).
3. Laparoskopi
4. Parasentesis cairan asites
Pengambilan cairan asites dengan parasintesis tidak dianjurkan pada penderita
dengan asites yang disertai massa pelvis, karena dapat menyebabkan pecahnya
dinding kista akibat bagian yang diduga asites ternyata kista yang memenuhi rongga
perut. Pengeluaran cairan asites hanya dibenarkan apabila penderita mengeluh sesak
akibat desakan pada diafragma.
Bila terdapat cairan ascites yang tidak dapat diterangkan asalnya atau
sebabnya (misalnya akibat Cirrhosis hepatis), laparatomi eksploratif harus
dijalankan.
5. Tumor marker
Serum CA 125 saat ini merupakan petanda tumor yang paling sering
digunakan dalam penapisan kanker ovarium jenis epitel, walaupun sering disertai
keterbatasan. Perhatian telah pula diarahkan pada adanya petanda tumor untuk jenis
sel germinal, antara lain Alpha-fetoprotein (AFP), Lactic acid dehidrogenase (LDH),
human placental lactogen (hPL), plasental-like alkaline phosphatase (PLAP) dan
human chorionic gonadotrophin(hCG).
K. Stadium/derajat Karsinoma Ovarium

Stadium
I
IA
IB

Uraian
Terbatas hanya di dalam ovarium.
Jaringan tumor hanya pada sebelah ovarium.
Jaringan tumor hanya terbatas ada di kedua belah ovarium tetapi sel kanker
tidak terdapat di permukaan tumor dan kapsul tumor masih membungkus rapi

IC

(intake).
Sel kanker sudah terdapat di permukaan dan kapsul tumor seringnya sudah

II

robek.
Kanker sudah mengenai kedua ovarium dan alat-alat rongga panggul lainnya

IIA
IIB
IIC

sudah diekspansi sel kanker.


Ekspansi sel kanker ovarium baru terbatas di uterus dan ovarium.
Organ lain di rongga panggul sudah diekspansi sel kanker.
Seperti IIA dan IIB, sel kanker sudah terdapat dipermukaan. Kapsul tumor
sudah diekspansi sel kanker dan sudah terjadi penumpukan cairan di dalam

III

rongga perut (ascites).


Sel kanker sudah menyerang kedua ovarium. Sel ini sudah terdapat pada

IIIA

organ di luar rongga panggul serta pada kelenjar limphe.


Secara kasar, sel kanker masih berada di dalam rongga panggul dan belum
ada penyebaran di kelenjar getah bening. Tetapi secara mikroskopis, mungkin

IIIB

sel kanker sudah ditemukan di luar rongga panggul.


Sel kanker sudah menyebar di kedua pihak ovarium dan permukaan selaput
rongga perut (peritoneum) dengan ukuran tumor >2cm, tetapi kelenjar getah

IIIC

bening tetap belum di metastase kanker.


Penyebaran kanker ke selaput pembungkus perut (peritoneum) dengan
diameter tumor >2cm, dan sel kanker sudah menyebar ke kelenjar getah

IV

bening lipat paha dan di luar rongga perut (retroperitoneum).


Kedua ovarium sudah dimetastase kanker, juga alat-alat yang jauh dari
ovarium, seperti paru dan hati.

L. Penatalaksanaan
Secara garis besar, penatalaksanaan kanker ovarium terlihat pada bagan berikut ini:

1. Pengobatan dengan operasi


Pada umumnya dilakukan:
a. Histeroktomi total (mengangkat rahim dengan organ sekitarnya)
b. Salpingo ooporektomi (mengangkat kedua ovarium dan kedua saluran tuba
falopii)
c. Omentektomi (mengangkat lipatan selaput pembungkus perut yang memanjang
dari lambung kea lat-alat dalam perut).
Khusus untuk stadium IA, apabila perempuan yang bersangkutan masih
mengjarapkan fungsi reproduksi, maka operasi pengangkatan ovarium bisa dilakukan
hanya di sebelah yang terkena kanker (ooporektomi unilateral)
Prinsip pembedahan:
Pembedahan digunakan baik dalam diagnosis maupun penentuan stadium tumor.
Berdasarkan

pengalaman,

pembedahan

radikal

memberikan

kemungkinan

penyembuhan yang optimal dan tetap menjadi pilihan pada kanker ovarium. Reseksi

bedah pada sebagian kasus harus mencakup 1 cm daerah bebas kanker untuk
mencapai tujuan kontrol local.

2. Pengobatan dengan kemoterapi


Sebagai pengobatan adjuvant, bisa secara tunggal atau kombinasi. Pada stadium II,
diberikan kemoterapi kombinasi, sedangkan pada stadium III dan IV, diberikan
kemoterapi secara rutin.
Prinsip dasar kemoterapi:
Kemoterapi bekerja dengan cara:
a.Merusak DNA dari sel-sel yang membelah dengan cepat, yang dideteksi oleh
jalur p531Rb, sehingga memicu apoptosis
b.
Merusak apparatus spindle sel, mencegah kejadian pembelahan sel
c.Menghambat sintesis DNA
Kemoterapi dapat memberikan kesembuhan, baik secara tunggal maupun
dikombinasi dengan pembedahan seperti pada kanker ovarium. Terapi tersebut dapat
memperpanjang hidup namun tidak menyembuhkan. Beberapa jenis kemoterapi yang
tersedia adalah:
a. Antagonis folat, analog purin dan pirimidin: obat-obat ini (metotreksat, 5fluorourasil, dan hidroksiurea) menghambat sintesis DNA.
b. Obat pengalkilasi (alkylating agent) merusak DNA. Pada kanker ovarium yang
termasuk golongan ini adalah platina. Dapat terjadi resistensi obat.
c. Obat yang berinteraksi dengan topoisomerase I dan II mengadakan interkalasi
dengan DNA untai ganda dan membentuk kompleks dengan topoisomerase II
yang mudah membelah, yaitu enzim inti sel penting yang menyebabkan
pembelahan DNA untai ganda.
d. Taksan menghambat fungsi mikrotubulus dan mengganggu mitosis
Efek samping kemoterapi:
Kemoterapi menyebabkan mielosupresi sehingga menimbulkan resiko infeksi
(neutropenia) dan perdarahan (trombositopenia). Kerusakan membrane mukosa
menyebabkan nyeri pada mulut: diare dan stimulasi zona pemicu kemotaksis

menimbulkan mual dan muntah. Semua jaringan yang membelah dengan cepat,
seperti folikel rambut (alopesia) dan epitel saluran germinal (infertilitas), sangat
rentan terhadap efek kemoterapi dan efek lanjut seperti keganasan sekunder semakin
banyak ditemukan. Semua kemoterapi bersifat teratogenik. Beberapa obat
menyebabkan toksisitas yang spesifik terhadap organ, seperti ginjal (sisplatin) dan
saraf (vinkristin). Perawatan suportif dengan antagonis 5HT3, 5-hidroksitriptamin
(serotonin) dan steroid lebih mengatasi rasa mual. Beberapa protein manusia
rekombinan digunakan secara rutin sebagai terapi suportif pada keadaan
mielosupresi: granulocyte colony stimulating factor (G-CSF) mengurangi berat dan
lamanya neutropenia dan eritropoietin memperbaiki anemia yang disebabkan oleh
kemoterapi.
Evolusi kemoterapi pada kanker ovarium stadium lanjut selama lebih dari 30
tahun semakin bermanfaat. Kanker ovarium adalah satu tumor maligna solid pertama
yang menunjukkan respon terhadap kemoterapi. Efektifitas berbagai kemoterapi
telah ditunjukkan dalam bentuk angka respon (biasanya respon komplit atau parsial),
angka second-look negatif, dan median survival. Semua ukuran hasil akhir tersebut
adalah subyek error dan walaupun yang paling reliable adalah median progressionfree survival dan median overall survival.
Agen kemoterapi yang awalnya digunakan dalam terapi kanker ovarium
(1970-1990) sebgaian besar terdiri dari Alkylating agen Melphalan (yang juga
dikenal dengan Phenylalanine mustard, Alkeran, L-PAM dan L-sarcolysin),
Siklofosfamid. Klorambusil dan Tiotepa. Angka respon biasanya dilaporkan dalam
kisaran 20-60%, namun angka median survival untuk pasien dengan kanker ovarium
stadium lanjut biasanya berkisar antara 10-18 bulan, cukup rendah dibandingkan
dengan hasil uji klinis akhir-akhir ini. Antimetabolit, seperti 5-Fluorouracil dan
Metotrexat, banyak digunakan pada uji klinis, terutama dalam kombinasi dengan
agen Alkylating. Penggunaan sementara agen-agen tersebut pada kanker epitelial
ovarium sangat jarang.
Pada akhir 1970an dan 1980an ada perkenalan regimen kemoterapi
kombinasi, Hexa CAF-Hexamethylmelamine, Cyclophosphamide, Doxorubicin dan

5- Fluorouracil; dan CAP-Cyclophosphamide, Doxorubicin dan Cisplatin, yang


merupakan dua kombinasiyang paling sering digunakan. Pada awal 1980an, terapi
kombinasi adalah terapi standar untuk sebagian besar pasien. Pada tahun 1980an juga
terjadi perkenalan Cisplatin dan kemudian Carboplatin. Perkenalan senyawa
Platinum meningkatkan angka respon menjadi kisaran 50-80% dan peningkatan
median survival hingga 12-30 bulan pada sebagian besar studi. Kisaran yang luas ini
seringkali disebabkan oleh pemilihan pasien yaitu pasien yang mendapat debulking
suboptimal 30 bulan. Senyawa Platinum masih merupakan komponen integral dalam
terapi hingga kini.
Pada tahun 1990an terjadi perkenalan Paclitaxel, suatu agen yang awalnya
diekstraksi dari Taxus brevifolia. Paclitaxel, yang kini disintesis secara kimiawi
menunjukkan mekanisme kerja yang baru dengan memicu perakitan mikrotubular
dan menstabilkan pembentukan polimer tubulin, sehingga menghambat pembelahan
sel yang cepat dalam menyelesaikan proses mitosis. Respon terhadap agen tunggal
Paclitaxel inisial pada pasien-pasien dengan kanker ovarium refrakter berkisar 2535%. Perkembangan sementara obat-obatan kini berkisar pada formulasi berbagai
grup Taxane. Sebuah studi oleh SCOTROC menunjukkan substitusi Paclitaxel
dengan Docetaxel memberikan hasil operasi yang serupa, dan profil toksisitas yang
lebih unggul pada Docetaxel. Modifikasi Taxane lainnya masih dalam penelitian
lebih lanjut, contoh CT-2103 (Xyotax) dan Abraxane, yang memungkin memberikan
manfaat lebih atau toksisitas yang lebih rendah dibandingkan pendahulunya.
Lima hingga 10 tahun terakhir juga tetlah diperkenalkan agen aktif lain dalam
terapi kanker ovarium, yang paling terlihat adalah Topotecan, sebuah Topoisomerase
Iinhibitor; suatu bentuk pegylated liposomal encapsulated dari Doxorubicin (Doxil),
dan Gemcitabine, sebuah obat yang pertama kali diuji pada kankar pancreas. Ketiga
obat ini diuji dalam sebuah uji klinis oleh GOG 182/ICON-5. Beberapa fokus
terapeutik baru dalam uji klinis terakhir adalah menguji agen yang menargetkan pada
target molekular spesifik. Salah satu agen yang mendapat perhatian tersebut adalah
Bevacizumab.

Angka respon yang relatif rendah terhadap sebagian besar agen kemoterapi
tunggal menstimulasi penelitian untuk mencari kombinasi agen. Saat ini, kombinasi
yang berbasis Platinum telah terbukti menjadi obat kombinasi yang paling sukses.
Sebuah studi oleh GOG (GOG#47) membandingkan Doxorubicin (Adriamycin) dan
Cyclophosphamide (AC) dengan AC dan Cisplatin (CAP) yang mengindikasikan
kemajuan dengan kombinasi tiga regimen. Dengan AC ditemukan 26% respon
komplit, dan pada CAP ditemukan 51% respon komplit. Durasi respon berkisar
antara 9 bulan hingga 15 bulan, dan progression-free interval adalah 7 bulan hingga
13 bulan. Median survival dalam uji ini adalah 16 bulan hingga 19 bulan untuk CAP
pada semua pasien, namun tidak ada signifikansi statistical dalam hal survival pada
kedua kelompok. Bila pasien dengan penyakit yang dapat diukur dievaluasi secara
terpisah (227 dari 440 pasien yang dapat dinilai), statistik berbeda bermakna untuk
survival ditemukan pada kelompok CAP. Tidak ada signifikansi survival yang
ditemukan pada penyakit residual yang tidak dapat diukur. Studi ini menunjukkan
manfaat pada pasien kelompok Platinum yang memiliki penyakit residual yang dapat
diukur setelah menjalani operasi debulking yang suboptimal.
Studi lain pada saat itu menemukan bahwa agen Alkylating seefektif regimen
kombinasi (termasuk Platinum) yang terdiri dari hingga 4 obat. Pada studi lain oleh
GOG (GOG #52) terhadap pasien dengan kanker ovarium stadiumIII yang sudah
menjalani debulking optimal hingga ukuran penyakit residu 1 cm, CAP
dibandingkan dengan Cyclophosphamide dan Cisplatin. Progression-free interval dan
survival tidak banyak berbeda antara kedua kelompok. Sehingga kombinasi
Cyclophosphamide dan Cisplatin, menjadi kelompok standar untuk banyak uji klinis
pada akhir 1980an dan awal 1990an.
Ada empat studi yang dimasukkan dalam metaanalisis untuk menjawab
pertanyaan tentang peranan Doxorubicin dalam kanker ovarium. Dengan hanya
mempertimbangkan respon komplit patologi, studi ini menunjukkan suatu manfaat
kecil yang konstan pada CAP, dan lebih tinggi pada studi The North-West Oncology
Group (DACOVA). Dengan menyatukan data-data tersebut dalam metaanalisis,
sangat mungkin untuk mendeteksi suatu signifikansi statistik sebesar 6% pada

persentase respon komplit patologi dengan CAP. Dan metaanalisis ini menunjukkan
signifikansi survival sebesar 7% pada 6 tahun dengan CAP. Namun, karena dalam 3
uji intensitas dosis CAP lebih besar daripada Cyclophosphamide dan Cisplatin, maka
apakah hasil CAP yang lebih besar disebabkan oleh dosis yang lebih besar atau
karena Doxorubicin itu sendiri masih belum diketahui.
3. Pengobatan dengan radioterapi (penyinaran)
Dianjurkan untuk pengobatan kanker ovarium jenis disgerminoma serta stroma
goonad yang tidak memerlukan lagi fungsi reproduksi.
4. Pengobatan dengan imunoterapi
Pada dasarnya adalah kemampuan imunologi tubuh untuk menghancurkan sel
kanker. Pengobatan ini terdiri atas:
a. Imunoterapi spesifik, dilakukan dengan menyuntikkan sel kanker yang telah
dilemahkan.
b. Imunoterapi non-spesifik, dengan memberikan vaksinasi sejenis kuman
Corynebacteria-parvum dan vaksinasi BCG.

Manuaba, Ide Bagus Gde. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC.
Heffner, Linda J., Schust, Danny J. 2005. At a Glance Sistem Reproduksi. Edisi kedua. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Davey, Patrick. 2005. At a Glance Medicine. Jakarta: Erlangga.
Baughman, Diane C. 2000. Keperawatan Medikal Medah: Buku Saku untuk Brunner dan
Suddarth. Jakarta: EGC.
Yatim, Faisal. dr. 2005. Penyakit Kandungan. Myoma, kanker rahim/leher rahim dan indung
telur, kista, serta gangguan lainnya. Jakarta: Pustaka Populer Obor.
Jong, Wim de, Prof. dr. 2002. Kanker, apakah itu? Pengobatan, Harapan Hidup, dan Dukungan
Keluarga. Jakarta: Arcan.

California Department of Health Care Services & California Department of Public Health. 2013.
Cancer of the Ovaries. www.dhcs.ca.gov/services/
Zulfi, Winda. 2014. Karakteristik Penderita Kanker Ovarium yang Dirawat Inap di Rumah Sakit
Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2012. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Universitas Sumatera Utara.
Gondo, Harry Kurniawan. 2009. Terapi Terkini untuk Kanker Ovarium. Program Pendidik
Dokter Specialis (PPDS) 1 Obstetri & Ginekologi. Fakultas Kedokteran Udayana RS Sanglah.
Denpasar. Bali.