Anda di halaman 1dari 20

DEFISIT ANGGARAN DAN HUTANG LUAR NEGERI

INDONESIA DALAM PERSPEKTIF EKONOMI


POLITIK

Disusun oleh :

Imanina Eka D.

Diajukan untuk memenuhi Tugas UAS


Mata Kuliah Ekonomi Politik dan Kelembagaan

MAGISTER ILMU EKONOMI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2015

1|Page

A. Defisit Anggaran dan Utang Luar Negeri


Pertumbuhan dan pembangunan ekonomi merupakan salah satu tujuan
utama bagi negara sedang berkembang seperti Indonesia dalam rangka
peningkatan kesejahteraan, kemakmuran, serta kualitas sumberdaya termasuk
sumberdaya manusia dan lingkungan hidup. Dalam pertumbuhan ekonomi,
diperlukan kebijakan yang kondusif agar tercapai peningkatan pertumbuhan
ekonomi setiap tahun sesuai dengan yang sudah ditargetkan. Salah satu senjata
pemerintah dalam mewujudkan kelangsungan pembangunan bangsa adalah
porsi dan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belajan Negara (APBN) yang sehat.
Dalam penyusunan anggaran kita mengenal adanya Surplus anggaran
dan defisit anggaran, yang di Amerika dikenal dengan on & off budget. Surplus
anggaran

adalah

kelebihan

penerimaan

pemerintah,

pajak

dari

total

pengeluarannya termasuk untuk belanja barang dan jasa dan transfer payment.
Sebaliknya, defisit anggaran ialah kondisi penerimaan pemerintah lebih besar
daripada pengeluarannya.
Defisit sendiri muncul bukan tanpa sebab. Adapun beberapa sebab
terjadinya defisit anggaran (Barro, 1989; Pamuji, 2008):
1. Mempercepat pertumbuhan ekonomi
Ekspansi dalam pembangunan perlu adanya dukungan investasi dan
dana yang besar. Jika suatu negara tidak memiliki kecukupan dana untuk
melakukan ekspansi tersebut, maka anggaran nasional yang defisit akan
dibiayai dengan pinjaman luar negeri. Hal serupa juga diungkapkan oleh
Domar (1950) dalam Maltritz dan Molchanov (2014) bahwa sering terjadi
untuk mengembangan suatu negara memerlukan utang luar negeri.
2. Pemerataan pendapatan masyarakat
Pengeluaran

ekstra

juga

diperlukan

dalam

rangka

menunjang

pemerataan

di seluruh wilayah, sehingga pemerintah mengeluarkan

biaya yang besar untuk pemerataan pendapatan tersebut


3. Melemahnya nilai tukar
Apabila

suatu

negara

melakukan

pinjaman

luar

negeri,

maka

permasalahan gejolak nilai tukar akan rentan dihadapi karena pinjaman


luar negeri dihitung berdasarkan valuta asing.
4. Pengeluaran akibat krisis ekonomi

2|Page

Krisis ekonomi menimbulkan kelesuan dalam aktivitas ekonomi, sehingga


pengangguran bertambah dan penerimaan negara melalui pajak
menurun. Dalam hal ini negara berkewajiban mengeluarkan dana ekstra
untuk program-program kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat
5. Realisasi yang menyimpang dari rencana
Ketika

realisasi

penerimaan

negara

tidak

sesuai

dengan

yang

direncanakan, maka negara harus menutup kekurangan agar kinerja


pembangunan dapat dicapai sesuai dengan rencana semula.
6. Pengeluaran karena inflasi
Ketika terjadi inflasi dalam suatu negara, maka harga-harga mengalami
peningkatan yang selanjutnya biaya program pembangunan juga akan
meningkat, sedangkan anggaran tetap sama. Sehingga, negara perlu
mengeluarkan dana untuk menambah standar harga tersebut.

Lebih lanjut, kekurangan antara kebutuhan anggaran dan pengumpulan


pendapatan yang khususnya diperoleh melalui pajak dalam negeri tersebut
memunculkan pilihan bagi suatu negara untuk mengandalkan bantuan asing
(Hisali dan Ssentamu, 2013). Berbeda kasus untuk Jepang. Secara tradisional,
peningkatan defisit anggaran atau utang pemerintah dikatakan untuk menaikkan
suku bunga.Sehingga dalam studi kasus Ketika jepang mengalami defisit
anggaran pada tahun 2008 silam menyebabkan peningkatan sekitar 2-3 % di
hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB), yang pada akhirnya menekan nyata
PDB sebesar 0,39-0,63 persen pada tahun 2008 (Kameda, 2014).
Terkait besaran jumlah dana bantuan, Cordella dan Missale (2013)
dalam paper-nya menyatakan bahwa dalam desain bantuan resmi, kebijakan
bantuan yang optimal tergantung pada karakteristik penerima dan kemurahan
hati dari pendonor. Dilihat dari kecenderungannya, donor cenderung memberikan
lebih

banyak

bantuan

untuk

negara-negara

miskin

dengan

prospek

pertumbuhan. Beberapa penelitian terbaru menggunakan strategi identifikasi


yang sangat berbeda telah menghasilkan bukti bahwa bantuan memiliki efek
kecil tapi positif dan signifikan terhadap pertumbuhan(Clemens et al.,2012;
Bruckner, 2011; Frot dan Perrotta, 2012; Dang, et al., 2013). Namun,bantuan
akan lebih rendah bila defisit anggaran dan stok utang publik yang tinggi(Putaran
dan Odedokun, 2004; Boschini dan Olofsgard, 2007; Dang, et al., 2013).

3|Page

Anggaran bantuan berkembang perlahan-lahan. kemurahan hati donor juga


meningkat dengan meningkatnya pendapatan per kapita (Fuchs,et al., 2014).
Meskipun konsep kebijakan defisit anggaran dalam suatu negara kerap
digunakan dan memiliki alasan tersendiri, namun berbagai kritik dan pernyataan
kontra terkait konsep defisit anggaran banyak bermunculan. Cordella dan
Missale (2013) menyatakan bahwa tidak ada hutang pemerintah yang peduli
terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Tak hanya itu, literatur ekonomi
makro berpendapat bahwa mendapatkan utang akan menyebabkan lebih banyak
uang yang beredar sehingga menyebabkan tingkat inflasi yang lebih tinggi.
Namun, diketahui bahwa dalam lingkungan resesi pelaku ekonomi cenderung
untuk memegang uang tunai daripada mengalokasikannya untuk konsumsi.
Sebagai contoh, selama krisis keuangan global tahun 2008, bank swasta di
Eropa menumpuk likuiditas tanpa menggunakan ekspansi kredit atau penciptaan
uang (Neaime, 2015). Akan tetapi, di lain pihak, ada pula pendapat yang
menyatakan bahwa hubungan utang - pertumbuhan negatif bisa bergantung
pada negara faktor-faktor tertentu, seperti kualitas kebijakan dan lembaga (Imbs
dan Ranciere, 2005; Cordella dan Missale, 2013).
Selanjutnya,berbicara mengenai resiko gagal bayar yang sangat
mungkin dialami oleh negara manapun yang melakukan kegiatan utang. Terkait
hal tersebut, Maltritz dan Molchanov (2014) dalam paper-nya menyebutkan
bahwa hanya dua variabel yang di kedua sampel sangat mungkin mempengaruhi
risiko default, pertumbuhan PDB dan jumlah utang terhadap PDB, kita
menemukan perbedaan yang cukup besar dalam mereka efek pada spread.
Untuk negara-negara maju, faktor penentu lanjut yang paling penting adalah :
Inflasi, keterbukaan, tingkat pertumbuhan impor dan kebebasan perdagangan.
Untuk sampel negara-negara berkembang, pengaruh tambahan berasal dari
sejarah standar baru-baru ini, debt service ratio, dan rasio cadangan mata uang
asing untuk impor.

B. Efisiensi dan Penyehatan Fiskal


Banyak negara telah mendapatkan pengalaman dengan program
konsolidasi fiskal dalam dua atau tiga dekade terakhir. Analisis pengaruh dari
konsolidasi fiskal juga telah besar dalam agenda banyak peneliti sejak karyakarya Giavazzi and Pagano (1990) dan Alesina dan Perotti (1995). Sebagian
besar peneliti ini telah mencoba untuk menjelaskan probabilitas keberhasilan

4|Page

dalam utang atau pengurangan defisit (e.g.Afonso and Jalles, 2012; Alesina and
Ardagna, 1998; Ardagna, 2004; Guichard et al., 2007; Larch and Turrini, 2011;
McDermott and Wescott, 1996; Schaltegger and Feld, 2009; Tagkalakis, 2009;
Heylen, et al., 2013). Angelopoulos et al (2008 ) dan Heylen, et al (2013)
memberikan bukti pertumbuhan bahwa hubungan antara ukuran sektor publik
dan pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada efisiensi sektor publik .
Fiscal episodes (konsolidasi dan stimulus) adalah hasil dari upaya
pemerintah untuk mengubah posisi anggaran pemerintah: konsolidasi fiskal atau
stabilisasi bertujuan mengadopsi diskresioner kebijakan fiskal yang memotong
defisit anggaran, sementara stimulus fiskal yang terdiri dari kebijakan kebebasan
fiskal yang meningkatkan defisit anggaran. Dorongan fiskal adalah perubahan
kebijaksanaan dalam posisi anggaran dan dapat diukur sebagai perbedaan
antara posisi anggaran yang sebenarnya dan apa yang akan ada dalam siklus
tersebut ( Alesina & Perotti, 1995; Gnangnon, 2013). Konsolidasi fiskal
mengurangi upaya bantuan, apa pun variabel bantuan dipertimbangkan, dengan
efek negatif kadang-kadangberkurang dari waktu ke waktu. Efek dari konsolidasi
fiskal pada pasokan bantuan tergantung juga pada kelompok negara yang
dipertimbangkan (Gnangnon, 2013.
Pada dasarnya, program kebijakan fiskal yang ketat mungkin memiliki
efek

negatif

(Keynesian)

pada permintaan

dan

pertumbuhan

ekonomi,

setidaknya dalam jangka pendek. Akan tetapi Heylen, et al (2013) berpendapat


bahwa jika karakteristik program konsolidasi terjadi dengan baik, maka
penyesuaian fiskal juga dapat membawa efek yang menguntungkan. Tak hanya
itu, Pentingnya komposisi program konsolidasi telah ditekankan khususnya oleh
Alesina dan Perotti (1995, 1996) dalam Heylen, et al (2013). Mereka memandang
bahwa program yang terutama bergantung pada pemotongan konsumsi
pemerintah (terutama memotong dalam pembayaran gaji) dan pemotongan
transfer sosial memiliki probabilitas keberhasilan yang tinggi, yaitu probabilitas
tinggi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan mengurangi rasio utang.
hipotesis baru menekankan peran efisiensi sektor publik. Ia mengatakan bahwa
pemotongan gaji dapat berkontribusi untuk pengurangan utang jika efisiensi
sektor publik rendah, tetapi itu tidak akan memberikan kontribusi ketika efisiensi
sektor publik yang tinggi. Dalam kasus terakhir, perampingan sektor publik
mungkin memiliki efek negatif pada produktivitas secara keseluruhan dan
pertumbuhan . Efek negatif tersebut dapat merusak daya saing, dan menurunkan

5|Page

harga aset dan pendapatan permanen agen-agen swasta, Investasi dan


konsumsi maka akan jatuh (Heylen, et al.,2013). Gnangnon (2013) menyebutkan
bahwa ada kemungkinan bahwa selama ekonsolidasi fiskal, maka belanja
pemerintah kemungkinan akan dibatasi, bantuan pembangunan yang diberikan
oleh negara-negara OECD DAC (Development

Assistance Committee) yang

merupakan kategori pengeluaran pemerintah juga akan berkurang.


Heylen, et al (2013) dari hasil penelitiannya menemukan bahwa
pemotongan pengeluaran tetap dan kenaikan pajak permanen kontribusi yang
signifikan terhadap utang pengurangan jangka panjang. Komposisi yang tepat
dari pemotongan belanja sangat penting. Hasil dalam tulisannya lebih memilih
pemotongan

subsidi

dan

(kondisional)

pembayaran

gaji

sektor

publik.

Pemotongan gaji memberikan kontribusi pada pengurangan rasio utang, tapi


hanya jika efisiensi sektor publik dalam administrasi rendah. Efektivitas yang
diberikan konsolidasi program untuk mengurangi rasio utang ketika pemerintah
lebih efisien. Pemerintah yang efisien berhasil memotong pengeluaran secara
signifikan lebih dari pemerintah lain.

C. Ekonomi Politik dalam Utang Luar Negeri


Adanya defisit APBN mengundang adanya transaksiutang luar negeri
antar negara guna membiayai kekurangan anggaran negara tersebut. Dalam
kegiatan pinjam-meminjam uang tersebut juga tak hanya berbicara terkait
ekonomi dan nominal uang saja, melainkan di dalam transaksi tersebut juga
kental dengan unsur politik. Hisali dan Ssentamu (2013) menulis bahwa Bantuan
luar negeri juga dapat berdampak pada penerimaan pajak dalam negeri melalui
perubahan jangka pendek untuk aspek-aspek tertentu dari pajak dasar seperti
impor dan gaji. Ada juga efek sekunder dari bantuan luar negeri terhadap
pendapatan pajak yang bekerja melalui aspek donor persyaratan seperti
privatisasi dan reformasi kebijakan perdagangan. Efek dari privatisasi tergantung
pada Kondisi pra - privatisasi perusahaan yang terkena dampak. Bagaimanapun
ada risiko kehilangan pendapatan jika perusahaan publik yang menguntungkan
yang diprivatisasi.
Peningkatan arus masuk donor bantuan dan bahkan didorong di
beberapa kalangan untuk membantu meningkatkan kecepatan di mana beberapa
target sosial dapat dicapai (Brownbridge dan Mutebile, 2007; Hisali dan
Ssentamu, 2013). Pandangan ini menyatakan bahwa arus masuk donor dapat

6|Page

memiliki banyak konsekuensi yang merugikan bagi perekonomian termasuk


menempatkan tekanan pada negeri tingkat harga (inflasi) dan apresiasi mata
uang domestik dan utang yang berkelanjutan. Ini pada gilirannya dapat menyakiti
daya saing ekspor dan menahan peran sektor swasta dalam kegiatan ekonomi
(Hisali dan Ssentamu, 2013).
Lebih lanjut, pendekatan baru-baru ini secara eksplisit mengakui bahwa
bantuan dapat mempengaruhi arus pendapatan dan struktur pajak. Kontribusi
utama literatur tentang pengaruh bantuan tentang pajak dan tata kelola institusi
domestik termasuk dari Moore (2007), Knack (2008), dan and Besley Persson
(2009a), Hisali dan Ssentamu (2013). Aliran bantuan diperkirakan memiliki
Dampak yang sama (Carter, 2010; Hisali dan Ssentamu, 2013). Knack (2008);
Hisali dan Ssentamu (2013) menunjukkan bahwa peningkatan aliran bantuan
memperlambat pengembangan kualitas yang baik dari lembaga kebijakan pajak
dan administrasi.
Dalampemberian pinjaman atau utang luar negeri, peran utama
dikaitkan dengan lembaga-lembaga internasional seperti IMF untuk penyediaan
likuiditas ke negara-negara yang mengalami tekanan keuangan sementara
karena masalah koordinasi. Sepintas , paket fiskal yang ketat yang diminta oleh
IMF mungkin terlihat seperti campur tangan internasional yang tidak semestinya
di negara-negara berdaulat (Goncalves dan Guimares, 2014).
Secara teori disebutkan bahwa IMF dapat mempengaruhi hasil ekonomi
dengan uangnya. Kondisi kebijakan tersebut tergabung dalam satu paket
pemberian kredit melalui saran kebijakan. Efek keseluruhan dari IMF pada
pertumbuhan ekonomi bergantung pada efek bersih dari saluran tersebut. Bukti
telah

ditunjukkan

dalam

litertaur

empiris

berdasarkan

pada

statistik

pengembangan OECD bahwa sedikit negara maju (seperti: Belanda, Norwegia,


swedia, dan denmark) yang menegakkan target ODA internasional 0,7 % dari
GNI. Mengapa negara OECD tidak memenuhi komitmen mereka dalam hal
pasokan bantuan? Halitu terjadi karena faktor politik, geostrategis atau alasan
ekonomi politik internasional. Selain itu juga dapat mencari alasan ekonomi lain,
terutama alasan fiskal. Literatur empiris ini mengenai isu-isu bantuan
pembangunan telah menetapkan bahwa karakteristik negara penerima seperti
tingkat pendapatan, populasi, sistem politik, dan pola suara/voting PBB
mempengaruhi arus masuk bantuan (Gnangnon, 2013).

7|Page

Selanjutnya terkait hubungan defisit dan utang luar negeri, Faini ( 2006)
dalam Gnangnon (2013) menunjukkan temuan bukti bahwa defisit anggaran
yang lebih tinggi dan saham utang publik yang lebih tinggi akan mengurangi
bantuan. sedangkan Round and Odedokun ( 2004) dan Boschini dan Olofsgrd (
2007; Gnangnon, 2013) tidak menemukan hubungan yang signifikan antara
defisit dan pemberian bantuan. kita dapat menyimpulkan dari literatur empiris
bahwa faktor-faktor penentu fiskal pasokan bantuan bertentangan satu sama lain
sehingga cukup bahwa tidak ada bukti signifikan pada hubungan antara
kebijakan fiskal dan aliran bantuan. Hal tersebut diperkuat oleh Hisali dan
Ssentamu (2013) yang menulis bahwa secara intuitif, beban hutang yang sangat
besar yang timbul dari peningkatan bantuan dapat 'memaksa' negara penerima
untuk menemukan jalan meningkatkan total penerimaan pajak dalam rangka
untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk membayar kembali pinjaman.

D. Sejarah Perkembangan Struktur Anggaran dan Utang Indonesia


Struktur anggaran suatu negara dapat berbentuk defisit, surplusmaupun
berimbang sesuai dengan kebijakan fiskal yang dijalankan oleh negara yang
bersangkutan. Anggaran berimbang pernah digunakan dalamsistem keuangan
indonesia sebelum masa reformasi dan menimbulkan kerancuan kapasitas fiskal
indonesia padawaktu itu. Sebagai pengganti dari anggaran berimbang tersebut,
pemerintah menggunakan anggaran defisit. Defisit merupakan kondisi dimana
jumlah belanja negara lebih besar daripada penerimaannya. Hal ini diatasi
melalui pembiayaan. Pengertian pembiayaan menurut UU No. 17 Thn 2003
tentang keuangan negara adalahsetiap penerimaan yang perlu dibayar kembali
dan/atau pengeluaran yangakan diterima kembali, baik pada tahun-tahun
anggaran berikutnya. Jika konteksnya adalah defisit maka pembiayaan yang
dimaksud adalah dengan menggunakan instrumen utang.
Pada masa pemerintahan orde lama, Presiden Soekarno adalah sosok
pemimpin yang sebenarnya anti utang. Salah satu bapak pendiri bangsa ini
pernah memberikan satu pernyataan terkenal yaitu Go To Hell with Your Aid
yang menyikapi campur tangan IMF pada peristiwa konfrontasi Indonesia dengan
Malaysia pada 1956. Dari pernyataan tersebut, Soekarno dapat dikategorikan
sebagai pemimpin yang tegas dan berani mengambil sikap untuk menolak
intervensi asing. Namun, pada akhir pemerintahan Soekarno, negara ini ternyata
dibebani oleh utang. Seperti dikutip dari harian Republika (17/4/2006), jumlah

8|Page

utang Indonesia pada masa pemerintahan Soekarno sebesar US$6,3 miliar,


terdiri dari US$4 miliar adalah warisan utang Hindia Belanda dan US$2,3 miliar
adalah utang baru. Utang warisan Hindia Belanda disepakati dibayar dengan
tenor 35 tahun sejak 1968 yang jatuh tempo pada 2003 lalu, sementara utang
baru pemerintahan Soekarno memiliki tenor 30 tahun sejak 1970 yang jatuh
tempo pada 1999.
Pada masa Orde Baru, utang didefinisikan menjadi penerimaan negara.
Berarti pemerintah saat itu membiayai program-program pemerintah melalui
instrumen pendapatan yang salah satunya adalah utang. Jika dilihat dari struktur
anggaran pemerintah, maka utang dimasukkan ke dalam porsi penerimaan
selain pajak. Orde Baru diklaim berutang sebesar Rp1.500 triliun yang jika
dirata-ratakan selama 32 tahun pemerintahannya maka utang negara bertambah
sekitar Rp46,88 triliun tiap tahun. Sampai 1998, dari total utang luar negeri
sebesar US$171,8 miliar, hanya sekitar 73% yang dapat disalurkan ke dalam
bentuk proyek dan program, sedangkan sisanya (27%) menjadi pinjaman yang
idle dan tidak efektif. Alhasil, di masa Orde Baru, utang negara tidak dapat
dimanfaatkan secara maksimal.
Masa pemerintahan B. J. Habibie merupakan pemerintahan transisi dari
Orde Baru menuju era Reformasi. Habibie hanya memerintah kurang lebih
setahun, 1998 - 1999. Pada 1998 terjadi krisis moneter yang menghempaskan
perekonomian Indonesia dan pada saat yang bersamaan juga terjadi reformasi
politik. Kedua hal ini mengakibatkan rating kredit Indonesia oleh S&P terjun
bebas dari BBB hingga terpuruk ke tingkat CCC. Artinya, iklim bisnis yang ada
tidak

kondusif

dan

cenderung

berbahaya

bagi

investasi.

Pada

masa

pemerintahan Habibie, utang luar negeri Indonesia sebesar US$178,4 miliar


dengan yang terserap ke dalam pembangunan sebesar 70%, dan sisanya idle.
Pada masa Gus Dur, rating kredit Indonesia mengalami fluktuasi, dari peringkat
CCC turun menjadi DDD lalu naik kembali ke CCC. Salah satu penyebab
utamanya adalah imbas dari krisis moneter pada 1998 yang masih terbawa
hingga pemerintahannya. Saat itu utang pemerintah mencapai Rp. 1.234,28
triliun yang menggerogoti 89% PDB Indonesia. Porsi yang cukup membahayakan
bagi negara berkembang seperti Indonesia. Selain porsi utang yang besar pada
PDB, terjadi pula peningkatan porsi bunga utang terhadap pendapatan dan
belanja negara. Rasio bunga utang terhadap pendapatan pada 2001 meningkat

9|Page

sekitar 4,6%, dari 24,4% menjadi 29%, sedangkan terhadap belanja meningkat
sebanyak 2,9% menjadi 25,5% pada tahun yang sama.
Masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri hanya berlangsung
selama tiga tahun (2001 - 2004). Namun, pada masa pemerintahan presiden
wanita Indonesia pertama ini banyak terjadi kasus-kasus yang kontroversial
mengenai penjualan aset negara dan BUMN. Tahun 2001 utang Indonesia
sebesar Rp1.273,18 triliun turun menjadi Rp1.225,15 triliun pada 2002, atau
turun sekitar Rp48,3 triliun. Namun, pada tahun-tahun berikutnya utang
Indonesia terus meningkat sehingga pada 2004, total utang Indonesia menjadi
Rp1.299,5 triliun. Rata-rata peningkatan utang pada tiga tahun pemerintahan
Megawati adalah sekitar Rp25 triliun tiap tahunnya. Namun, terdapat hal positif
lain yang terjadi pada masa pemerintahan Megawati, yaitu naiknya tingkat
penyerapan pinjaman luar negeri Indonesia.
Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (20042009)& (2009-2014) pada pemerintahan sebelumnya sebesar Rp. 1.299,5 triliun,
jumlah utang pada masa pemerintahan SBY justru terus bertambah hingga
menjadi Rp 1.700 triliun per Maret 2009. Dengan kata lain, rata-rata terjadi
peningkatan utang sebesar Rp. 80 triliun setiap tahunnya atau hampir setara
dengan 8% PDB tahun 2009. Utang pemerintah sebesar Rp 1.700 triliun itu
terdiri dari Rp 968 triliun utang dalam negeri (57%) dan Rp 732 triliun utang luar
negeri (43%). Pinjaman luar negeri digunakan untuk membiayai programprogram dan proyek-proyek pemerintah yang berkaitan dengan kemanusiaan,
kemiskinan, lingkungan, dan infrastruktur.

E. Data Perekonomian dan Anggaran Indonesia


Pemerintah dan DPR telah menyepakati Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) 2015 berupa pendapatan sebesar Rp1.793,6 triliun,
belanja sebesar Rp2.039,5 triliun, dan defisit anggaran mencapai

Rp245,9

triliun atau 2,21 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Asumsi
makro ekonomi yang ditetapkan dalam APBN Tahun 2015 dapat dilihat
pada Gambar 1 berikut ini.

10 | P a g e

Gambar 1. Asumsi Dasar Ekonomi Makro Tahun 2015

Sumber: Kementrian Keuangan, 2015

Selanjutnya, pendapatan negara dalam APBN Tahun 2015 sebesar


Rp1.793,5 triliun terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp1.380 triliun,
penerimaan

negara

bukan

pajak sebesar

Rp410,3

triliun

serta

hibah

sebesar Rp3,2 triliun. Sementara itu, belanja negara sebesar Rp2.039,5


triliun terdiri
transfer

ke

dari belanja pemerintah pusat Rp1.392,4 triliun dan dana


daerah

serta

dana

desa sebesar

Rp647,1

triliun.

Belanja

pemerintah pusat terdiri atas belanja Kementerian/Lembaga Rp647,3 triliun


dan belanja non Kementerian/ Lembaga Rp745,1 triliun

11 | P a g e

Gambar 2. Postur APBN, 2014-2015


(Miliar Rupiah)

Sumber: Kementrian Keuangan, 2015

12 | P a g e

Sayangnya dalam APBN 2015 ini pagu subsidi energi sebesar


Rp344,7 triliun (17 persen dari total anggaran) lebih besar dari APBN
Tahun 2014 dengan nilai sebesar Rp282,1 triliun. Dalam APBN-P 2014
besaran subsidi energi meningkat menjadi sebesar Rp392,1 triliun akibat
pelemahan nilai tukar rupiah dan konsumsi BBM bersubsidi meningkat.
Sementara

pada APBN Tahun 2015 dana infrastruktur mengecil hanya

sebesar Rp196 triliun dibandingkan pada APBN Tahun 2014 yang sebesar
Rp206,6 triliun. Selain itu, terdapat pula beban subsidi BBM 2014 senilai
Rp45 triliun yang harus dibayarkan pada tahun 2015. Artinya bahwa APBN
Tahun

2015

masih

sedikit memberikan stimulus terhadap pertumbuhan

ekonomi nasional.

Gambar 3. Belanja Pemerintah Pusat 2014-2015


(Miliar Rupiah)

Bila dibandingkan dengan negara Malaysia dan Thailand, Indonesia


masih jauh tertinggal dalam anggaran untuk fungsi ekonomi.

Malaysia

dan

Thailand sudah di atas 20 persen dari total anggaran belanja, sementara di


Indonesia masih berkisar 8-9 persen. Anggaran untuk fungsi ekonomi ini
tercermin

dari

belanja

adanya pengembangan

modal,

salah satunya untuk infrastruktur. Dengan

infrastruktur

diharapkan biaya

logistik

menurun

sebesar 23,6 persen dari PDB. Berikut ini merupakan anggaran infrastruktur
Indonesia 2009-2014.

13 | P a g e

Gambar 4. Anggaran Infrastruktur Tahun 2009-2014

Sumber: Kementrian keuangan, 2015


Dalam APBN tahun 2015, pembayaran bunga utang merupakan bagian
dari Program Pengelolaan Utang Negara dari sisi belanja Pemerintah Pusat
yang dialokasikan mencapai Rp151.968,3 miliar, yang terdiri dari dua bagian,
yaitu: (1) pembayaran bunga utang dalam negeri sebesar Rp137.941,8 miliar,
dan (2) pembayaran bunga utang luar negeri sebesar Rp14.026,5 miliar. Jumlah
tersebut sudah termasuk di dalamnya kebutuhan pembayaran belanja terkait
dengan Banking Commission yang diperkirakan sebesar Rp200,0 juta. Alokasi
belanja pembayaran bunga utang pada tahun 20142015 dapat dilihat pada
tabelberikut ini:

14 | P a g e

Tabel 5. Alokasi Program Pengelolaan Utang Negara dalam Rangka


Pembayaran Bunga Utang 2014-2015
(Miliar Rupiah)

Peningkatan pembayaran bunga utang dalam APBN tahun 2015


seiring dengan peningkatan outstanding utang merupakan konsekuensi yang
sulit bagi pemerintah, akan tetapi Pemerintah berupaya untuk tetap konsisten
dalam menjaga dan menurunkan imbal hasil (yield) penerbitan SBN melalui
langkah-langkah, antara lain:
1) efisiensi dalam pengelolaan utang
2) meningkatkan likuiditas pasar SBN dalam negeri
3) meningkatkan kepercayaan pasar melalui pengelolaan fiskal yang
kredibel dan pengelolaan utang yang prudent
4) mengoptimalkan pilihan tenor penerbitan dan pilihan instrumen yang
tepat sehingga dapat mengurangi realisasi diskon yang harus dibayarkan
oleh Pemerintah.
Dalam rangka pembiayaan anggaran melalui utang, strategi pemerintah
diarahkan dalam rangka pencapaian tiga sasaran utama, yaitu: (1) penurunan
rasio utang terhadap PDB; (2) penggunaan utang secara selektif; dan (3)
optimalisasi pemanfaatan utang. Dalam grafik laporan kementrian keuangan,
rasio utang pemerintah terhadap PDB menunjukkan sempat mengalami kenaikan
pada tahun 2003, namun setelahnya berangsur mengalami penurunan. Rasio
utang yang makin mengecil terhadap PDB bukanlah karena utangnya yang
mengecil, melainkan karena PDB-nya yang makin membesar. Berkenaan
15 | P a g e

dengan

upaya penurunan rasio utang terhadap PDB, berikut ini merupakan

grafik terkait rasio utang pemerintah terhadap PDB.

Gambar 6. Rasio Utang Pemerintah Terhadap PDB, 2010-2018


(Miliar, Persen)

Sumber: Kementrian Keuangan, 2015


Dalam

perkembangannya,

realisasi defisit anggaran dalam periode

2010-2014 selalu lebih rendah dari defisit yang ditetapkan dalam APBNP. Dalam
periode tersebut, beberapa faktor yang menjadi penyebab dari kondisi defisit
antara lain adalah realisasi pendapatan negara lebih besar dari target yang
ditetapkan, sedangkan realisasi belanja negara lebih rendah bila dibandingkan
dengan alokasi anggaran, atau realisasi pendapatan negara dan realisasi belanja
negara lebih rendah dari target/alokasi yang ditetapkan, namun persentase
realisasi pendapatan negara lebih tinggi dibandingkan dengan persentase
realisasi belanja negara (Kementrian Keuangan, 2015). Berikut ini merupakan
grafik perkembangan defisit anggaran Indonesia 2010-2014.

16 | P a g e

Gambar 7. Perkembangan Defisit Anggaran, 2010-2014


(Persen)

Sumber: Kementrian Keuangan,2015

F. Penutup
Barisan angka yang tercantum dalam APBN 2015 ini masih berada jauh
dari kata efisien. Terbukti dari belanja terbesar dalam RAPBN 2015 adalah
subsidi energi yang subsidi energi sebesar Rp344,7 triliun (17 persen dari
total anggaran) lebih besar dari APBN Tahun 2014 dengan nilai sebesar
Rp282,1

triliun. Dalam

APBN-P

2014

besaran

subsidi energi meningkat

menjadi sebesar Rp392,1 triliun akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan
konsumsi BBM bersubsidi meningkat. Hal tersebut tentu dapat mengganggu
sustainabilitas fiskal.
Di sisi lain, pada APBN Tahun 2015 dana infrastruktur mengecil hanya
sebesar Rp196 triliun dibandingkan pada APBN Tahun 2014 yang sebesar
Rp206,6

triliun. Kebutuhan anggaran infrastruktur tersebut diperlukan untuk

pembenahan infrastruktur perhubungan yang mendukung keterhubungan antar


wilayah yang berguna untuk memperlancar aktivitas ekonomi masyarakat.
Berbicara terkait anggaran yang sehat akan menuju pada efisiensi. Untuk
menjawab

17 | P a g e

tantangan

efisiensi

anggaran

dalam

APBN

Indonesia

saat

ini,pemerintah perlu memaksimalakan APBN dari sisi penerimaan maupun


pengeluarannya/belanjanya.
Pada sisi penerimaan, perpajakan masih menjadi penyumbang terbesar
dalam penerimaan dalam negeri dari 2007 hingga APBN 2015. Sebagian besar
penerimaan perpajakan masih didominasi penerimaan Pajak Penghasilan (PPh)
dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Sehingga, hal yang perlu diperhatikan dari
sisi penerimaan ialah: (1) peningkatan penegakkan hukum untuk wajib pajak (2)
efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan migas untuk meminimalisasi impor (3)
Peningkatan penerimaan SDA non-migas melalui optimalisasi mekanisme
pengawasan produksi mineral dan batubara, kehutanan, perikanan, serta isu
kelestarian lingkungan hidup.
Selanjutnya pada sisi belanja, untuk mendorong peran APBN sebagai
stimulus pembangunan, pemerintah saat ini perlu menitikberatkan prioritas
kebijakan dalam belanja negara. Prioritas kebijakan tersebut diarahkan untuk
meningkatkan efisiensi, mengurangi berbagai jenis belanja yang kurang
produktif, menghilangkan sumber-sumber kebocoran anggaran yang masih ada,
memperlancar

penyerapan

anggaran,

meningkatkan

tingkat

kemudahan

berusaha (ease of doing business), dan meningkatkan anggaran infrastruktur


yang mempunyai daya dorong kuat terhadap pertumbuhan ekonomi (listrik, jalan,
pelabuhan, tol laut), serta pengembangan infrastruktur pada semua koridor
ekonomi.
Efisiensianggaran sangat diperlukan agar Indonesia tidak bergantung
pada

utang

asing.

Dalam

melakukan

pembangunan

Indonesia

perlu

memaksimalkan potensi penerimaannya dan memaksimalkan penyerapan


belanjanya untuk pemberdayaan dan pembangunan bagi masyarakat. Semakin
besar utang negara, maka tingkat ketergantungan negara pada juga akan
semakin besar. Oleh sebab itu, untuk menguranginya, secara perlahan Indonesia
perlu meminimalisasi utang-utang tersebut melalui efisiensi anggaran.

18 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
Kameda, Keigo. 2014. Budget Deficits, Government Debt, And Long-Term
Interest Rates In Japan. J.Japanese Int Economies, Vo.32, pp 105124. Elsevier.
Maltritz, Dominik dan Molchanov, Alexander. 2014. Country credit risk
determinants with model uncertainty. International review of Eonomics
and Finance, Vol.29, pp 224-234. Elseiver.
Fuchs, Andreas., Dheher, Axel., Nunnenkamp, Peter. 2014. Determinants of
Donor Generosity: A Survey of the Aid Budget Literature. World
Development, Vol. 56, pp.172199. Elsevier.
Hisali, Eria dan Ssentamu, John Ddumba. 2013. Foreign aid and tax revenue in
Uganda. Economic Modelling, Vol.30, pp 356-365. Elsevier.
Heylen, Freddy., Hoebeeck, Annelies., Busye, Tim. 2013. Government Efficiency,
Institutions, And The Effects Offiscal Consolidation On Public Debt.
European Journal of Political Economy, Vol.31, pp 40-59. Elsevier.
Dreher, Axel. 2006. IMF and Economic Growth: The Effects of Programs, Loans,
and Compliance with Conditionality. World Development, Vol. 34, No.
5, pp. 769788, 2006. Elsevier.
Dang, Hai-Anh., Knack, Stephen., Rogers, f.Halsey. 2013. International aid
andfinancial crises in donor countries. European Journal of Political
Economy, Vol.32, pp.232-250. Elsevier.

19 | P a g e

Goncalves, Carlos Eduardo dan Guimaraes, Bernardo. 2014. Sovereign Default


Risk And Commitment Forfiscal Adjustment. Journal of International
Economics. Elsevier.
Neaime, Simon.2015. Sustainability of budget deficits and public debts in
selected
European Union countries. The Journal of Economic Asymmetries, Vol.12, pp.121. Elsevier.
Gnangnon, Sena Kimm. 2013. The consequences of fiscal episodes in OECD
DAC

countries

for

aid

supply. The

Quarterly

Review

of

Economics and Finance , Vol.53, pp.302-313. Elsevier.


Cordella, Tito dan Missale, Alessandro. 2013. To give or to forgive? Aid versus
debt Relief. Journal of International Money and Finance, Vol.37,
pp.504-528. Elsevier.
Kementrian Keuangan. 2015. Nota Keuangan dan Anggaran belanja Pendapatan
dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2015. Jakarta: Kementrian
Keuangan.

20 | P a g e