Anda di halaman 1dari 35

ABSTRAK

Analisis ini menggunakan analisa regresi berganda, regresi variabel


dummy, uji f, uji t, dan adjusted r squared untuk mengenalisa pengaruh
pengeluaran pemerintah (G) dan cadangan devisa (CDR) terhadap jumlah uang
beredar di Indonesia pada periode sebelum krisis (1990-1997) dan sesudah krisis
(1998-20110).
Terdapat perbedaan antara kondisi sebelum krisis dan ketika setelah krisis.
Jumlah uang beredar lebih tinggi ketika setelah krisis daripada sebelum krisis.
Pada periode sebelum krisis dapat disimpulkan bahwa cadangan devisa dan
pengeluaran pemerintah berpengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah uang
beredar. Hal yang serupa juga terjadi ketika setelah krisis yaitu periode (19982010). Variabel cadangan devisa dan pengeluaran pemerintah berpengaruh secara
signifikan dan positif terhadap jumlah uang beredar.
Kata Kunci: Jumlah Uang Beredar, Pengeluaran Pemerintah, cadangan devisa,
regresi berganda sederhana, variabel dummy, uji f, uji t, adjusted r squared.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar belakang
Uang adalah persediaan aset yang dapat dengan segera digunakan untuk

melakukan transaksi (mankiw, 2007). Setiap orang di belahan dunia pasti


membutuhkan uang sebagai instrument dalam pemenuhan kebutuhannya. Dalam
era yang semakin modern seperti saat ini, uang mengambil peranan penting dalam
perekonomian negara di seluruh belahan dunia. Hal ini terkait dengan fungsi uang
sebagai (i) penyimpan nilai; (ii) unit hitung; dan (iii) media pertukaran. Uang
membuat transaksi tidak langsung menjadi mungkin. Seorang pegawai
menggunakan gajihnya untuk membeli peralatan kantor; seorang ibu rumah
tangga menggunakan uang dari hasil pedapatan suaminya untuk membelanjakan
peralatan sekolah bagi anaknya; seorang pemodal menggunakan uangnya untuk
membelanjakan sebagian saham; dan lain-lain. Sehingga tidak dapat dibayangkan
ketika suatu perekonomian tanpa uang, misalnya barter. Sehingga kondisi yang
lebih tepat adalah kondisi double of confidence want, dimana di butuhkan dua
orang yang masing-masing memiliki barang yang diinginkan dengan waktu dan
tempat yang tepat untuk melakukan pertukaran. (mankiw, 2007). Tentu betapa
sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-sehari bila yang terjadi adalah hal yang
seperti itu, terlebih lagi di era modern yang serba kompleks seperti sekarang.
Dengan semakin kompleksnya perekonomian di era modern, motif
masyarakat dalam memegang uang kini pun telah semakin luas. Yang dulunya
masyarakat memegang uang hanya sebagai alat tukar untuk memenuhi
kebutuhannya semata (motif transaksi), kini telah semakin luas menjadi motif
berjaga-jaga, dan motif spekulasi. Alasan orang memegang uang iniliah yang
sebenarnya menjadi penyebab tinggi rendanya uang yang di pegang masyarakat.
Dalam arti yang sempit, uang yang diegang masyarakat ini disebut dengan jumlah
uang beredar.

Jumlah uang beredar dapat memperngaruhi perekonomian sebuah negara.


Sebab, jika jumlah uang beredar tinggi, efek tidak langsung yang dapat di hasilkan
adalah tingkat harga yang didapat masyarakat akan tinggi. Hal ini berdasar teori
kuantitas uang yang di kemukakan oleh irving fisher (MV=PT). dimana ketika
jumlah uang berdar (M) naik, maka akan berimplikasi pada naiknya output (T)
dan tingkat harga(P).Tentu masih banyak lagi pengaruh jumlah uang beredar jika
terjadi penurunan maupun peningkatan jumlah uang beredar. Namun hal
terpenting, muara dari tingi atau rendahnya jumlah uang beredar adalah dari
alasan orang dalam memegang uang. Maju tidaknya sebuah perekonomian salah
satunya adalah disebabkan karena pengaruh uang (disamping pengaruh Sumber
daya Alam dan sumber daya manusia yang dimiliki sebuah negara). Sehingga
penting bagi suatu negara dalam memiliki kebijakan jumlah uang yang beredar
dalam masyarakat. Peran ini biasanya di pegang oleh bank sentral suatu negara.
Di Amerika Serikat,yang memiliki kewenangan dalam mengatur jumlah uang
beredar adalah Federal Reserve. Di Indonesia sendiri, peran ini dipegang oleh
Bank Indonesia.
Banyak hal yang mempengaruhi jumlah uang beredar, seperti tingkat suku
bunga, inflasi, nilai tukar rupiah, pengeluaran pemerintah, cadangan devisa, dan
angka pengganda uang. Tetapi seiring perkembangan moneter yang semakin
cepat, sering kali menyebabkan hubungan antara jumlah uang beredar dan
pertumbuhan ekonomi maupun laju inflasi cenderung kurang stabil. Akibatnya
krisis moneter melanda negara-negara berkembang dan memporakporandakan
struktur perekonomiannya. Bahkan bagi Indonesia hal ini berlanjut pada krisis
ekonomi dan politik yang telah menyebabkan kerusakan yang cukup signifikan
terhadap sendi sendi perekonomian nasional. Krisis yang terjadi pada saat itu
memperlihatkan lemahnya system moneter negara-negara di asia tenggara seperti
Indonesia. Cadangan devisa yang mungkin turun tajam, tingkat inflasi yang
tinggi, lesunya pengeluaran pemerintah, dan lain sebagainya. Hal ini yang
tentunya mempengaruhi jumlah uang beredar di Indonesia pada waktu itu.
Pasca krisis ekonomi yang melanda, Indonesia lambat laun mulai
merangkak naik. Pertumbuhan ekonomi mulai berbenah, inflasi mulai terkontrol,

cadangan devisa yang cenderung meningkat dan mulai bergairahnya investasi.


Kondisi ini tentu menyebabkan pengaruh yang berbeda terhadap jumlah uang
beredar ketika sebelum dan sesudah krisis.
Dengan latar belakang tersebut, maka menarik untuk mengetahui besar
perbedaan yang disebabkan akibat faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah uang
beredar seperti cadangan devisa dan pengeluaran pemerintah sebelum maupun
setelah krisis terhadap jumlah uang beredar di Indonesia.
1.2.

Rumusan masalah.
Untuk menjawab perbedaan antara pengaruh faktor-faktor penyebab

jumlah uang beredar seperti cadangan devisa dan pengeluaran pemerintah


sebelum maupun sesudah krisis terhadapjumlah uang beredar, maka terdapat
beberapa pertanyaan:
a.

Bagaimana hasil analisis regresi yang menunjukkan hubungan antara

variabel independen terhadap variabel dependen?


b.

Bagaimanakah pengaruh variabel pengeluaran pemerintah terhadap

variabel jumlah uang beredar?


c.

Bagaimanakah pengaruh variabel cadangan devisa terhadap variabel

jumlah uang beredar?


d.

Bagaimana signifikasi pengaruh (parsial dan simulatan) ketiga variabel

independen tersebut terhadap variabel jumlah uang beredar ?


e.

Apakah data yang digunakan dalam penelitian lulus uji asumsi klasik

seperti uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinieritas, uji autokorelasi


dan uji linieritas?

1.3.

Tujuan Penelitian

a.

Mengetahui hasil analisis regresi yang menunjukkan hubungan antara

variabel independen terhadap variabel dependen.


b.

Mengetahui pengaruh variabel pengeluaran pemerintah terhadap variabel

jumlah uang yang beredar.


c.

Pengaruh variabel cadangan devisa terhadap variabel jumlah uang yang

beredar.
d.

Untuk mengujii tingkat signifikansi pengaruh secara parsial maupun

serentak ketiga variabel independen tersebut terhadap variabel jumlah uang


beredar.
e.

Mengetahui data yang digunakan dalam penelitian lulus uji asumsi klasik

seperti normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinieritas, uji autokorelasi


dan uji linieritas.
1.4.

Manfaat Penelitian
Memberikan kontribusi dan aplikasi ilmu pengetahuan kepada masyarakat

pada umumnya dan kepada mahasiswa Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan
Bisnis, Universitas Brawijaya terkait seberapa besar pengaruh pengeluaran
pemerintah(G) dan cadangan devisa terhadap Jumlah Uang beredar antar sebelum
krisis (1990-1997) dan sesudah krisis (1998-2011).
Bank adalah sebuah lembaga intermediasi keuangan umumnya didirikan
dengan kewenangan untuk menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan
menerbitkan promes atau yang dikenal sebagai banknote. Kata bank berasal dari
bahasa Italia banca berarti tempat penukaran uang. Sedangkan menurut undangundang perbankan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat
dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan
taraf hidup rakyat banyak. Bank sendiri seperti yang diketahui dibedakan menjadi
dua, yaitu bank sentral dan bank umum.

Bank umum sendiri adalah bank yang yang melaksanakan kegiatan usah
asecara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam
kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Bank umum sendiri
memiliki peranan yang strategis dalam menyelaraskan dan menyeimbagkan
unsur-unsur

pemerataan

pembangunan

dan

hasil-hasil

pembangunan,

pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional guna menunjang pelaksanaan


pembangunan nasional. Sedangkan bank sentral sendiri adalah bank yang
mengatur berbagai kegiatan yang berkaitan dengan dunia perbankan dan dunia
keuangan suatu negara. Bank sentral sendiri tidak seperti dengan bank umum
yang langsung menyimpan uang nasabahnya secara lagsung atau dengan kata lain
bank sentral tidak dapat diartikan sebagai bank seperti pada bank umum. Bank
sentral sendiri di Indonesia disebut dengan Bank Indonesia. Bank Indonesia
sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 23 Tahun 1999, yang telah diubah
dengan Undang-undang No.3 tahun 2004 adalah Bank Sentral Republik Indonesia
yang merupakan lembaga negara yang independen, bebas dari campur tangan
pemerintah dan/atau pihak-pihak lainnya, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas
diatur dalam undang-undang yang mengaturnya (Siamat,2005:38). Peran Bank
Indonesia sebagai Bank Sentral sangat berpengaruh besar dalam perekonomian
Indonesia yang berdampak pada kestabilan nilai rupiah Dalam kapasitasnya
sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu
mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini
mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa,
serta kestabilan terhadap mata uang negara lain. Dalam mencapai dan memelihara
kestabilan nilai mata uang, Bank Indonesia didukung oleh tiga pilar yaitu
menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga
kelancaran sitem pembayaran, dan mengatur dan mengawasi bank-bank umum.
Dalam tugasnya menetapkan kebijakan moneter, bank Indonesia memiliki
wewenang dalam mengeluarkan dan mengatur peredaran uang rupiah, yakni
mencabut, menarik dan memusnahkan uang serta menetapkan macam, harga, ciri
uang yang akan dikeluarkan, bahan yang digunakan, dan penentuan mulai
berlakunya sebagai alat pembayaran yang sah. Sebagai konsekuensi dari

ketentuan tersebut, maka Bank Indonesia harus menjamin ketersediaan uang di


masyarakat dalam jumlah yang cukup dan dengan kualitas yang memadai.
Disisi lain, pemerintah sebagai pemegang kekuasaan memiliki tugas dalam
menyejahterakan masyarakat yang dipimpinnya. Indonesia sebagai negara
berkembang, mempertinggi tingkat pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu ha;
uag mutlak dalam mengejar ketertinggalan ekonomi seperti halnya negara-negara
berkembang pada umumya.
Salah satu cara untuk meningkatkan aju pertumbuhan ekonomi adalah
dengan melakukan kebijkan fiscal dan moneter. Akan tetapi kebijakan kebijakan
tersebut sering kali menyebabkan hubngan antara jumlah uang beredar, tingkat
inflasi pengeluaran pemerintah, dan pertumbuhan ekonomi cenderung kurang
stabil. Bukti dari ketidakstabilan kebijakan-kebijakan pemerintah adalah
terjadinya krisis ekonomi di Asia Tenggara hingga pada akhirnya memberikan
dampak yang sangat besar terhadap krisis moneter Indonesia yang tidak hanya
berdampak pada krisis ekonomi saja, malainkan krisis politik yang juga melanda
negeri ini hingga puncaknya yaitu menyebebkan kerusakan di segala sendi
perekonomian pada saat itu.
Dari latar belakang Bank Indonesia yang memiliki tugas dalam
meneteapkan kebijakan moneter seperti contohnya jumlah uang beredar serta
kebijakan fiscal pemerintah seperti penetapan peneluaran pemerintah, saya tertarik
untuk melakukan analisis terkait pengaruh pengeluaran pemerintah dan cadangan
devisa terhadap jumlah uang beredar di Indonesia sebelum dan sesudah krisis
moneter.

KAJIAN PUSTAKA

2.1.

Landasan Teori

2.1.1. Jumlah Uang Beredar


Pengertian paling sempit atau biasa dikenal dengan istilah narrow money
adalah daya beli yang langsung bisa digunakan untuk pembayaran atau dapat
diperluas mencakup alat-alat pembayaran yang mendekati uang (deposito
berjangka dan tabungan). Narrow money yang biasanya disimbolkan dengan M1
terdiri dari uang tunai/kartal (currency) dan uang giral (Demand Deposit). Uang
kartal merupakan uang kertas dan uang logam yang ada di tangan masyarakat
umum, sedangkan uang giral atau deman deposit mencakup saldo rekening
koran/giro milik masyarakat umum yang disimpan di bank. Tidak termasuk dalam
pengertian uang giral ini adalah saldo rekening koran milik bank pada bank lain
atau pada Bank Sentral ataupun saldo rekening koran milik pemerintah pada bank
atau Bank Sentral. Dengan demikian, jumlah uang beredar pada suatu saat adalah
penjumlahan dari uang kartal dan uang giral
M1= Uang Kartal + Uang Giral (Demand Deposit)
Sedangkan pengertian uang dalam arti luas (Broad Money) adalah:
M2=M1 + deposit berjangka (TD)+deposit tabungan (SD)
Definisi uang beredar yang lebih luas lagi adalah M3 yang mencakup
semua TD dan SD, besar kecil, rupiah atau dollar milik penduduk pada bank atau
lembaga keuangan non bank (uang kuasi)
M3=M1+M2+Uang Kuasi
Menurut Ritonga (2003:74), pada dasarnya jumlah uang beredar (JUB)
ditentukan oleh besarnya permintaan uang (dari masyarakat) dan penawaran uang

(dari bank sentral). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi JUB dalam


masyarakat antara lain sebagai berikut:
1) pendapatan, adalah jumlah uang yang diterima oleh masyarakat dalam jangka
waktu tertentu; 2) tingkat suku bunga; 3) selera masyarakat; 4) harga barang; 5)
fasilitas kredit (cara pembayaran) dengan menggunakan kartu kredit atau cara
angsuran; 6) kekayaan yang dimiliki masyarakat, jumlah uang yang beredar dalam
masyarakat semakin besar apabila ragam (variasi) bentuk kekayaan sedikit..
2.1.2. Pengeluaran Pemerintah
Pengeluaran Pemerintah (goverment expenditure) adalah bagian dari
kebijakan fiskal (Sadono Sukirno, 2000), yaitu suatu tindakan pemerintah untuk
mengatur jalannya perekonomian dengan cara menentukan besarnya penerimaan
dan pengeluaran pemerintah setiap tahunnya, yang tercermin dalam dokumen
Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) untuk nasional dan Anggaran
Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk daerah atau regional. Tujuan dari
kebijakan fiskal ini adalah dalam rangka menstabilkan harga, tingkat output
maupun kesempatan kerja dan memacu atau mendorong pertumbuhan ekonomi.
Menurut Guritno (1999), Pengeluaran Pemerintah mencerminkan kebijakan
pemerintah. Apabila pemerintah telah menetapkan suatu kebijakan untuk membeli
barang dan jasa, pengeluaran pemerintah mencerminkan biaya yang harus
dikeluarkan oleh pemerintah untuk melaksanakan kebijakan tersebut.
Dasar teori pengeluaran pemerintah adalah sebagai berikut: Identitas
keseimbangan pendapatan nasional Y = C + I +G + X M merupakan sumber
legitimasi pandangan kaum Keynesian akan relevansi campur tangan pemerintah
dalam perekonomian. Kenaikan atau penurunan pengeluaran pemerintah akan
menaikkan atau menurunkan pendapatan nasional. Pemerintah pun perlu
menghindari agar peningkatan perannya dalam perekonomian tidak justru
melemahkan kegiatan pihak swasta.
Pengeluaran pemerintah baik pusat maupun daerah dibedakan menjadi dua
jenis yaitu:: 1)

pengeluaran rutin yang terdiri dari belanja pegawai, belanja

barang, belanja rutin daerah, bunga dan cicilan hutang, serta subsidi; 2)

pengeluaran pembangunan yaitu semua pengeluaran negara untuk membiayai


proyek pembangunan fisik maupun non-fisik.
Bila pengeluaran pemerintah naik maka jumlah uang beredar juga
seharusnya naik, karena pengeluaran pemerintah dibiayai dengan nilai rupiah. Bila
cadangan devisa naik maka jumlah uang beredar juga seharusnya naik, karena
cadangan devisa yang ada biasanya dibelanjakan untuk pengeluaran tahun itu juga
dan ditukarkan dengan uang rupiah. Sedangkan hubungannya dengan angka
pengganda uang yaitu naiknya angka pengganda uang berpengaruh terhadap
kenaikan jumlah uang beredar.
2.1.3. Cadangan Devisa
Pengertian cadangan devisa (Foreign Exchange Reserves) adalah
simpanan oleh bank sentral dan otoritas moneter. Simpanan ini merupakan
(aset/aktiva) bank sentral yang tersimpan dalam beberapa (mata uang cadangan)
(reserve currency) seperti dollar, euro, yen dan digunakan untuk menjamin
(kewajibannya) yaitu mata uang lokal yang diterbitkan dan cadangan berbagai
(bank) yang disimpan dalam bentuk mata uang asing melainkan dalam bentuk
surat-surat berharga ataupun logam mulia.
Dalam bukunya, Rachbini (2000) mendefenisikan devisa adalah alat
pembayaran luar negeri yang antara lain berupa emas, uang kertas asing dan
tagihan lainnya dalam valuta asing kepada pihak luar negeri. Menurut UU No. 23
Tahun 1999, yang dimaksud dengan cadangan devisa adalah cadangan devisa
negara yang dikuasai oleh Bank Indonesia yang tercatat pada sisi aktiva Bank
Indonesia yang antara lain berupa emas, uang kertas asing, dan tagihan lainnya
dalam valuta asing kepada pihak luar negeri yang dapat dipergunakan sebagai alat
pembayaran luar negeri.
Menurut Nosihin (1983), dikatakan bahwa penerimaan yang diterima
pemerintah dalam bentuk valuta asing yang kemudian ditukarkan dengan rupiah,
maka dalam proses pertukaran ini, akan meningkatkan cadangan aktiva Bank
Indonesia dan jumlah uang beredar bertambah dengan jumlah uang yang sama.
Jadi antara cadangan devisa dan jumlah uang beredar hubungannya cukup erat,

dimana jumlah cadangan devisa yang ditukarkan menambah jumlah uang beredar
dalam jumlah yang sama.
2.1.4. Variabel Dummy
Variabel

dummy

adalah

variabel

yang

digunakan

untuk

mengkuantitatifkan variabel yang bersifat kualitatif (misal: jenis kelamin, ras,


agama, perubahan kebijakan pemerintah, perbedaan situasi dan lain-lain). Variabel
dummy merupakan variabel yang bersifat kategorikal yang diduga mempunyai
pengaruh terhadap variabel yang bersifat kontinue. Variabel dummy sering juga
disebut variabel boneka, binary, kategorik atau dikotom. Variabel dummy hanya
mempunyai 2 (dua) nilai yaitu 1 dan nilai 0, serta diberi simbol D. Dummy
memiliki nilai 1 (D=1) untuk salah satu kategori dan nol (D=0) untuk kategori
yang lain.
D = 1 untuk suatu kategori (laki- laki, kulit putih, sarjana dan sebagainya).
D = 0 untuk kategori yang lain (perempuan, kulit berwarna, non-sarjana
dan

sebagainya).
Nilai 0 biasanya menunjukkan kelompok yang tidak mendapat sebuah

perlakuan dan 1 menunjukkan kelompok yang mendapat perlakuan. Dalam regresi


berganda, aplikasinya bisa berupa perbedaan jenis kelamin (1 = laki-laki, 0 =
perempuan), ras (1 = kulit putih, 0 = kulit berwarna), pendidikan (1 = sarjana, 0 =
non-sarjana).
Variabel dummy digunakan sebagai upaya untuk melihat bagaimana
klasifikasi-klasifikasi dalam sampel berpengaruh terhadap parameter pendugaan.
Variabel dummy juga mencoba membuat kuantifikasi dari variabel kualitatif. Kita
amati model berikut :
1.

Y = a + bX + c D1

(Model Dummy Intersep)

2.

Y = a + bX + c (D1X) (Model Dummy Slope)

3.

Y = a + bX + c (D1X) + d D1 (Kombinasi)

Tujuan menggunakan regresi berganda dummy adalah memprediksi


besarnya nilai variabel tergantung/dependent atas dasar satu atau lebih variabel
bebas/independent, di mana satu atau lebih variabel bebas yang digunakan bersifat
dummy. Variabel dummy adalah variabel yang digunakan untuk membuat
kategori data yang bersifat kualitatif (data kualitatif tidak memiliki satuan ukur),
agar data kualitatif dapat digunakan dalam analisa regresi maka harus lebih dahulu
di transformasikan ke dalam bentuk Kuantitatif. contoh data kualitatif misal jenis
kelamin adalah laki-laki dan perempuan, harus di transform ke dalam bentuk
Laki-laki = 1 ; Perempuan = 0. atau tingkat pendidikan misal SMA dan Sarjana,
maka diubah menjadi SMA = 0 ; Sarjana = 1, skala yang terdiri dari dua yakni 0
dan 1 disebut kode Binary, sedangkan persamaan model yang terdiri dari Variabel
Dependentnya Kuantitatif dan variabel Independentnya skala campuran : kualitatif
dan kuantitatif, maka persamaan tersebut disebut persamaan regresi berganda
Dummy. Dalam kegiatan penelitian, kadang variabel yang akan diukur bersifat
Kualitatif, sehingga muncul kendala dalam pengukuran, dengan adanya variabel
dummy tersebut, maka besaran atau nilai variabel yang bersifat Kualitatif tersebut
dapat di ukur dan diubah menjadi kuantitatif.

2.2.

Penelitian terdahulu
PENELITIAN TERDAHULU
Table Penelitian Terdahulu

3.

No.

Nama Peneliti
Hedgewis Esti R dan
Bellia Novianti
(2008)

Penelitian
ANALISIS PENGARUH
PENGELUARAN
PEMERINTAH,
CADANGAN DEVISA,
DAN ANGKA
PENGGANDA UANG
TERHADAP JUMLAH
UANG BEREDAR DI
INDONESIA

Variabel
Cadangan
devisa,
pengeluaran
pemerintah dan
angka
penganda uang

Model
Regresi
Berganda

Lily Prayitno dan


Heny Sandjaya

Faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap
jumlah uang beredar di
Indonesia Sebelum dan
Sesudah Krisis :
sebuah analisis
ekonometrika

Cadangan
devisa,
pengeluaran
pemerintah dan
angka
penganda uang

Regresi
berganda
dengan
metode log

Hipothesis
HIPOTESIS

Hasil
Pengeluaran pemerintah,
cadangan devisa, dan angka
pengganda uang secara
parsial mempunyai pengaruh
yang positif dan signifikan
terhadap jumlah uang
beredar (M2) untuk periode
tahun 2005-2008, yaitu
apabila pengeluaran
pemerintah, cadangan
devisa, dan angka
pengganda uang meningkat
maka jumlah uang beredar
akan meningkat dan
sebaliknya.
Dalam jangka pendek
sebelum krisis (tahun 1990
triwulan 1 sampai tahun
1997 triwulan 2) dapat
disimpulkan bahwa
pengeluaran pemerintah
secara signifikan
berpengaruh positif terhadap
jumlah uang beredar (M2);
cadangan devisa tidak
signifikan terhadap jumlah
uang beredar; sedangkan
angka pengganda uang
berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap jumlah
uang beredar. Dalam jangka
pendek sesudah krisis (tahun
1997 triwulan 3 sampai
tahun 1999 triwulan 4) dapat
disimpulkan bahwa
pengeluaran pemerintah
secara signifikan
berpengaruh positif terhadap
\ jumlah uang beredar
sedangkan dua variabel
lainnya, yaitu cadangan
devisa dan money multiplier
tidak signifikan.

Dalam melakukan analisis pengaruh cadangan devisa dan pengeluaran


pemerintah terhadap jumlah uang beredar sebelum dan sesudah krisis adalah,
diduga cadangan devisa dan pengeluaran pemerintah terhadap jumlah uang
beredar di Indonesia dalam arti luas (M2) pada waktu sebelum krisis dan sesudah
krisis terdapat hubungan yang positif dan signifikan.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1.

Objek Penelitian
Objek penelitian ini berfokus pada perubahan Jumlah uang beredar yang

dimana terjadinya perunahan jumlah uang beredar akibat adanya perubahan


cadangan devisa dan pengeluaran pemerintah. Dalam paper ini juga akan
membahas tentang asumsi bahwa krisis dapat pula mempengaruhi jumlsh usng
beredar. Oleh karena itu dalam paper kali ini kurs akan saya coba gunakan sebagai
dummy variabel. Atau dengan kata lain perubahan Jumlah uang beredar akibat
pengaruh dari jumlah cadangan devisa, pengeluaran pemerintah dan krisis
(dummy variabel).
3.2.

Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini variabel terikat (dependent variabel) yang digunakan

adalah Jumlah uang beredar (JUB), sedangkan variabel bebasnya (independent


variabel) adalah cadangan devisa (CDR) pengeluaran pemerintah (G), dan krisis
untuk dummy variabel (D1), bernilai 0 jika sebelum krisis ddan bernilai 1 jika
sesudah krisi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran
terperinci dari masing-masing variabel itu sendiri sehingga berguna untuk
mengetahui perubahan jumlah uang beredar.
3.3.

Metode Pengumpulan Data


Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan

data sekunder dengan rentan waktu dari tahun 1990-1998 untuk sebelum krisis
dan 1999-2011 untuk sesudah krisis. Sedangkan metode pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara mencari data yang
berhubungan dengan variabel penelitian secara urut sesuai dengan tahun
penelitian dan mendokumentasikannya, data-data tersebut dikumpulkan dari
berbagai sumber yaitu, Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI).
3.4.

Metode Analisa Data

1.

Uji Teori
Uji teori dalam penelitian ini dilihat dari fungsi Inflasi Keynes, yaitu :
JUB = f (CDR, G, D1)
keterangan :
JUB

= Jumlah Uang Beredar

CDR = Cadangan Devisa

2.

= Pengeluaran Pemerintah (Government Expenditure)

D1

= krisis (Dummy Variabel)

Uji t-Statistik
Uji t-Statistik (signifikansi parameter individual) digunakan untuk

mengetahui bagaimana pengaruh variabel bebas secara individual terhadap


variabel tidak bebas. Hipotesis yang digunakan adalah :
Ho : = 0, artinya variabel independent tidak berpengaruh nyata secara
statistik terhadap variabel dependent.
Ha : 0, artinya variabel independent berpengaruh nyata secara statistik
terhadap variabel dependent.
3.

Uji F-Statistik
Uji F-Statistik digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas

secara keseluruhan terhadap variabel dependent. Kesimpulan uji F dapat diperoleh


dengan membandingkan antara probability F-statistik dengan signifikansi = 1%.
Bila probability F-statistik > = 1% maka Ho

diterima, atau secara

bersama-sama variabel independent tidak berpengaruh nyata secara statistik


terhadap variabel dependent.

Bila probability F-statistik < = 1% maka Ha diterima, atau secara


bersama-sama variabel independent berpengaruh nyata dan signifikan terhadap
variabel dependent.
4.

Koefisien Determinasi (R2)


Determinasi R2 atau R-square digunakan untuk mengukur kemampuan

variabel independent untuk menjelaskan variabel dependent.


R 2=

el /(N K )
yl 2 (N 1)

Nilai R2 terletak antara 0 R2 1. Semakin mendekati 1 maka model yang


digunakan semakin baik.
5.

Uji Multikolinearitas / Uji Korelasi


Uji Multikolinearitas/Uji Korelasi digunakan untuk mengukur seberapa

besar hubungan keeratan antara variabel independent dengan independent,


independent dan Dependent. Batasan nilai koefisien korelasi pada tiap variabel
adalah sebesar 0.65 atau 65% agar tidak mengalami multikolinearitas.
6.

Uji Asumsi Klasik

a.

Uji Normalitas
Uji normalitas adalah uji untuk mengukur apakah data kita memiliki

distribusi normal sehingga dapat dipakai dalam statistik parametrik (statistic


inferensial). Pendugaan persamaan dengan menggunakan metode OLS harus
memenuhi sifat kenormalan, karena jika tidak normal dapat menyebabkan varians
infinitive (ragam tidak hingga atau ragam yang sangat besar). Hasil pendugaan
yang memiliki varians infinitif menyebabkan pendugaan dengan metode OLS
akan menghasilkan nilai dugaan yang not meaningful (tidak berarti).

Untuk mendeteksi residual berdistribusi normal atau tidak, dapat


dilakukan dengan cara melihat probability dari hasil equasi, jika probability < 1%
maka Ho
Ho

diterima, dan jika probability > 1% maka Ha

diterima.

: error term tidak terdistribusi normal

Ha : error term terdistribusi normal


b. Uji Autokorelasi
Penaksiran model regresi linier mengandung asumsi bahwa tidak terdapat
autokorelasi di antara residual tidak bebas dari suatu observasi ke observasi
lainnya. Biasanya masalah autokerelasi terjadi pada data time series. Hal ini
disebabkan karena eror pada data akan mempengaruhi eror pada data pada periode
berikutnya. Konsekuensi dari adanya autokorelasi pada model adalah bahwa
penaksir tidak efisien dan uji t serta uji F yang tidak valid walaupun hasil estimasi
tidak bias (Gujarati : 2003).
Untuk melihat ada dan tidaknya autokorelasi maka dapat dilihat dari nilai
probability dari uji autokorelasi. Jika nilai probability < 1% maka H o
diterima, dan jika nilai probability > 1% maka Ha

diterima.

Ho : ada korelasi serial (autokorelasi)


Ha : tidak terdapat korelasi serial (autokorelasi)
c.

Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas sering terjadi pada data cross section, karena data

tersebut menghimpun data yang mewakili berbagai ukuran. Uji heteroskedasitas


digunakan untuk melihat ada atau tidak terjadinya gangguan yang muncul dalam
fungsi regresi yang mempunyai varian yang tidak sama sehingga penaksir OLS
tidak efisien baik dalam sampel kecil maupun sampel besar (tapi masih tetap tidak
bias dan konsisten). Selain itu jika model mengalami atau terdapat
heteroskedasitas maka akan membuat varian tidak efisien / tidak minimum yang

artinya kecenderungan varian akan membesar yang akan membuat uji hipotesis
tidak valid atau tidak baik.
Untuk membuktikan tidak ada heteroskedastisitas maka perlu adanya uji
white heteroscedasticity, dan kemudian melihat probability dari equasi yang telah
dihasilkan. Jika nilai probability < 1% maka Ho
probability > 1% maka Ha

diterima, dan jika nilai

diterima.

Ho

: terdapat heteroskedastisitas

Ha

: tidak terdapat heteroskedastisitas

3.5 Hipotesa Penelitian


1. Hipotesa Parsial

Ho
: = 0, artinya variabel independent tidak berpengaruh nyata
secara statistik terhadap variabel dependent.

Ha
: 0, artinya variabel independent berpengaruh nyata secara
statistik terhadap variabel dependent.
2. Hipotesa Serentak

Ho
: = 0, artinya secara bersama-sama variabel independent tidak
berpengaruh nyata secara statistik terhadap variabel dependent.

Ha
: 0, artinya secara bersama-sama variabel independent

3.6.

berpengaruh nyata dan signifikan terhadap variabel dependent.


SUMBER DATA
Sumber data saya dapatkan di laporan tahunan Bank Indonesia. Yang

ditunjukkan sebagai berikut:


a. Sebelum krisis: (dalam milliard Rupiah)
TAHUN
JUB
1990
84630
1991
99059
1992 119055
1993 145599

CDR
8661
9868
11611
12352

G
49450
52128
60511
57833

1994
1995
1996
1997
1998

174512
223512
288631
355643
577381

13158
14674
19125
17430
23760

62607
65342
82221
109302
172670

b. Sesudah krisis (dalam milliard rupiah)


TAHUN
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011

JUB
646205
747072
844054
883903
955692
1033877
1202763
1382493
1649622
1895838
2141384
2469399
2877220

CDR
G
27050
44581
29390 221466.7
28020
341563
32040
322180
36296
376505
36320
427177
34724
509632
42586
667129
56920
757650
51639
985731
66105
937382
96207 1042117
110123 1294999

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
a.) SEBELUM KRISIS
Dependent Variable: Y
Method: Least Squares
Date: 09/30/15 Time: 17:03
Sample: 1990 1997
Included observations: 8
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

-167346.0

26086.19

-6.415118

0.0014

CDR
G

12.79191
2.710862

R-squared
0.975633
Adjusted R-squared 0.965886
S.E. of regression
17770.58
Sum squared resid 1.58E+09
Log likelihood
-87.75389
F-statistic
100.0965
Prob(F-statistic)
0.000093

3.453003
0.630482

3.704575
4.299665

Mean dependent var


S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat

0.0139
0.0077
186330.1
96213.02
22.68847
22.71826
22.48755
2.188976

Persamaan regresi
Dari hasil pengolahan diatas maka dapat diketahui persamaan regresinya

sebagai berikut,
JUB= -167346 + 12.79191 CDR + 2.710862 G
Persamaan diatas dapat diinterpretasikan bahwa apabila tidak ada
pengeluaran pemerintah dan negara tidak mempunyai cadangan devisa, maka
jumlah uang beredar akan sama dengan nilai konstanta yaitu menurun sebesar Rp
167346 milliar. Pengaruh antara pengeluaran pemerintah, cadangan devisa, dan
angka pengganda uang dengan jumlah uang beredar adalah positif, yaitu apabila
ketiga variabel tersebut meningkat maka jumlah uang beredar akan meningkat dan
sebaliknya apabila ketiga variabel mengalami penurunan, maka jumlah uang
beredar juga akan menurun. Penurunan dan pengurangannya yaitu jika pada
government expenditures naik atau turun sebesar satu milliar rupiah dengan
menganggap cadangan devisa negara konstan, maka jumlah uang beredar sebelum
krisis akan meningkat ataupun menurun sebesar Rp 12.79191 milliar. Begitu pula
sebaliknya jika Government Expenditure naik ataupun mengalami penurunan
sebesar satu milliar rupiah dengan menganggap variabel cadangan devisa konstan,
maka jumlah uang beredar sebelum krisis akan mengalami kenaikan atau
penurunan sebesar Rp 2.710862 Milliar
Hasil analisis Uji adjusted R-squared
Koefisien determinasi yang disesuaikan sebesar 0,965886 yang berarti
bahwa jumlah uang beredar (M2) dalam penelitian ini dipengaruhi oleh kedua
variabel bebas yang terdiri dari pengeluaran pemerintah (G) dan cadangan devisa
sebesar 96.65886 %, sedangkan sisanya 3.34114 % dipengaruhi oleh variabel
lain

Uji Koefisien Regresi Parsial (Uji t)


a. Koefisien regresi variabel CDR
Ho : secara parsial tidak ada pengaruh signifikan antara CDR dengan

jumlah uang beredar


Ha : secara parsial ada pengaruh signifikan antara CDR dengan jumlah
uang beredar
= 5%, (satu sisi), df = 5, t table = 2,015, dan t hitung 3.04574
Dari sini dapat dilihat bahwa t hitung lebih besar daripada t table, sehingga
di sini hipotesis Ho ditolak. Sehingga variabel CDR secara parsial memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap jumlah uang yang beredar sebeluum krisis.
b. Koefisien Regresi variable G
Ho : secara parsial tidak ada pengaruh signifikan antara G dengan jumlah
uang beredar
Ha : secara parsial ada pengaruh signifikan antara G dengan jumlah uang
beredar
= 5%, (satu sisi), df = 5, t table = 2,015, dan t hitung 4.299665
Dari sini dapat dilihat bahwa t hitung lebih besar daripada t table, sehingga
di sini hipotesis Ho ditolak. Sehingga variabel G secara parsial memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap jumlah uang yang beredar sebelum krisis.

Uji koefisien Regresi Serentak (Uji F)


Uji F digunakan untuk menguji koefisien regresi secara bersama-sama,

yaitu untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara bersama-sama


(serempak) terhadap variabel dependen. Dalam equasi tersebut Prob (F-statistic)
adalah sebesar 0.000093, atau 0.000093 < 0.05 yang artinya semua variabel bebas
secara simultan berpengaruh signifikan dalam perubahan jumlah uang beredar
sebelum krisis.
b.)

SESUDAH KRISIS
Dependent Variable: Y
Method: Least Squares
Date: 09/30/15 Time: 17:07
Sample: 1998 2010
Included observations: 13
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

C
CDR

136354.5
12.56610

47618.35
2.023007

2.863486
6.211594

0.0169
0.0001

1.117693

R-squared
0.989132
Adjusted R-squared 0.986959
S.E. of regression
68975.15
Sum squared resid 4.76E+10
Log likelihood
-161.5804
F-statistic
455.0743
Prob(F-statistic)
0.000000

4.1.

0.125857

8.880654

Mean dependent var


S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat

0.0000
1263822.
603991.8
25.32005
25.45043
25.29326
2.346475

Regresi

Setelah data diolah dalam Eviews hasil dari regresi diperoleh sebagai berikut :
Dependent Variable: JUB
Method: Least Squares
Date: 09/30/15 Time: 02:23
Sample: 1990 2011
Included observations: 22
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

C
CDR
G
D1

-35253.51
12.28319
1.096306
195676.8

26911.11
1.625420
0.117246
39141.97

-1.309998
7.556932
9.350446
4.999154

0.2067
0.0000
0.0000
0.0001

R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)

0.994530
0.993619
65461.63
7.71E+10
-272.9721
1090.947
0.000000

Mean dependent var


S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat

945342.9
819465.5
25.17928
25.37765
25.22601
1.176666

Dari data tersebut dapat menjelaskan tentang bagaimana hubungan antara


jumlah uang beredar, cadangan devisa, pengeluaran pemerintah, dan pengaruh
krisis (d1) yaitu 0 untuk sebelum krisis dan 1 untuk sesudah krisis. Untuk lebih
jelasnya berikut intepretasi dari hasil equasi di atas :
JUB = -35253.51 + 12,28319 CDR + 1.0963 G + 195676,8 D1
Besar pengaruh cadangan devisa adalah sebesar 12,28319. Sehingga jika
terjadi kenaikan 1 satuan dari CDR maka secara rata-rata akan menaikkan JUB
sebesar 12,28319 rupiah dengan menganggap variabel lain konstan (ceteris
paribus). Dan besar pengaruh pengeluaran pemerintah adalah sebesar 1.0963.

Sehingga jika terjadi kenaikan 1 satuan dari CDR secara rata-rata akan menaikkan
JUB sebesar 1.0963 dengan menganggap variabel lain konstan (ceteris paribus).
Sedangkan besar pengaruh kurs (dummy variabel) adalah sebesar 195676,8.
Dengan penjelasan besar pengaruh dibedakan menjadi dua, yaitu 1 = sesudah
krisis dan 0 = sebelum krisis, berikut intepretasi besar pengaruh dari kurs (dummy
variabel) :
JUB
D11
D10

= -35253.51 + 12,28319 CDR + 1.0963 G + 195676,8 D1


= -35253.51 + 12,28319 CDR + 1.0963 G + 195676,8 D1 (1)
= 160423.29 + 12,28319 CDR + 1.0963 G

= -35253.51 + 12,28319 CDR + 1.0963 G + 195676,8 D1

(0)
= -35253.51 + 12,28319 CDR + 1.0963 G
Sehingga besar pengaruh krisis dalam mempengaruhi perubahan jumlah
uang beredar ketika ketika sebelum krisis lebih rendah daripada ketka sesudah
krisis dengan menganggap variabel lain konstan (ceteris paribus). Besar selisih
antara nilai sebelum dan sesuda krisis adalah sebesar 195676,8. Dan jika semua
variabel independent yang ada didalam model sama dengan nol maka besar
jumlah uang beredar adalah sebesar 160423.29.
Sedangkan

R2

atau

R-square

digunakan

untuk

mengukur

kemampuan variabel independent untuk menjelaskan variabel dependent.

Adjusted R-square adalah nilai R2

yang telah disesuaikan. Nilai dari

adjusted R-square dapat menghindarkan peneliti dari R 2

palsu akibat

adanya penambahan variabel independent dalam model. Nilai adjusted R-square


dari hasil equasi diatas adalah sebesar 0.993619 atau sebesar 99.3%, artinya
kemampuan variabel independent dalam menjelaskan perubahan inflasi cukup
besar karena model yang digunakan memiliki daya untuk menjelaskan variabel
dependent (JUB) sebesar 99.3%, dan sisanya sebesar 0.7% perubahan JUB
dijelaskan oleh variabel lain diluar model.

Dari gambar grafik diatas dapat dilihat bahwa hasil prediksi dengan hasil
actual menunjukkan kondisi yang cenderung berdempetan. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa model ini dapat memprediksi dengan baik.
4.2.

Uji t-statistik
Uji t-statistik digunakan untuk mengetahui bagaimana pengaruh tiap

variabel independent (parsial) mempengaruhi variabel dependent.

Ho
: = 0, artinya variabel independent tidak berpengaruh nyata
secara statistik terhadap variabel dependent.
Ha : 0, artinya variabel independent berpengaruh nyata secara
statistik terhadap variabel dependent.

Hasil equasi diatas menunjukkan nilai probability dari tiap variabel


sebagai berikut :
Cadangan devisa
: 0.0000
Pengeluaran pemerintah
: 0.0000
krisis (Dummy Variabel)
: 0.0001
Hasil equasi tersebut menjelaskan bahwa signifikan cadangan devisa secara
statistik dalam mempengaruhi jumlah uang beredar, hal ini karena nilai
probability dari CDR adalah sebesar 0.0000, atau 0.0000 < 0.05 (

diterima).

Begitu pula pengeluaran pemerintah, hasil equasi menunjukkan bahwa


pengeluaran pemerintah signifikan secara statistik dalam mempengaruhi jumlah
uang beredar, ini karena nilai probability tingkat suku pengeluaran pemerintah
adalah sebesar 0.0000, atau 0.0000 < 0.05 (Ha

diterima). Sedangkan krisis

(dummy variabel) signifikan secara statistik dalam mempengaruhi perubahan


jumlah uang beredar, hal ini karena nilai probability dari krisis (dummy variabel)
sebesar 0.0001, atau 0.0001 < 0.05 (Ha
4.3.

diterima).

Uji F-statistik
Uji F digunakan untuk menguji seberapa besar variabel independent secara

bersama-sama mempengaruhi variabel dependent.

Ho
: = 0, artinya secara bersama-sama variabel independent tidak
berpengaruh nyata secara statistik terhadap variabel dependent.

Ha
: 0, artinya secara bersama-sama variabel independent
berpengaruh nyata dan signifikan terhadap variabel dependent.
Dari hasil equasi diatas diperoleh nilai probability dari F-statistik adalah
sebesar 0.0000, atau 0.0000 < 0.05 yang artinya adalah bahwa secara bersamasama variabel independent signifikan secara statistik dalam mempengaruhi inflasi
(Ha

4.4.

diterima).

Asumsi Klasik

4.4.1. Uji normalitas

Uji normalitas adalah uji untuk mengukur apakah data kita memiliki
distribusi normal sehingga dapat dipakai dalam statistik parametrik (statistic
inferensial).

Series: Residuals
Sample 1990 2011
Observations 22

7
6

Mean
Median
Maximum
Minimum
Std. Dev.
Skewness
Kurtosis

5
4
3
2

Jarque-Bera
Probability

-1.46e-10
-21887.31
141323.0
-63326.57
60605.69
1.225537
3.291850
5.585192
0.061262

0
-50000

50000

100000

150000

Ho : p-value > 5%, artinya data terdistribusi normal


Ha : p-value < 5%, artinya data tidak terdistribusi normal
Hasil uji normalitas diatas memiliki nilai probability sebesar 0.061 atau
0.061 > 0.05, artinya data terdistribusi normal (

diterima) dan data

terhindar dari masalah asumsi klasik Normalitas.


4.4.2. Heterokedastisitas
Uji heteroskedasitas digunakan untuk melihat ada atau tidak terjadinya
gangguan yang muncul dalam fungsi regresi yang mempunyai varian yang tidak
sama sehingga penaksir OLS tidak efisien baik dalam sampel kecil maupun
sampel besar (tapi masih tetap tidak bias dan konsisten). Selain itu jika model
mengalami atau terdapat heteroskedasitas maka akan membuat varian tidak efisien
/ tidak minimum yang artinya kecenderungan varian akan membesar yang akan
membuat uji hipotesis tidak valid atau tidak baik.
Heteroskedasticity Test: Breusch-Pagan-Godfrey
F-statistic
Obs*R-squared
Scaled explained SS

Test Equation:

0.101506
0.365996
0.280758

Prob. F(3,18)
Prob. Chi-Square(3)
Prob. Chi-Square(3)

0.9581
0.9472
0.9636

Dependent Variable: RESID^2


Method: Least Squares
Date: 09/30/15 Time: 04:20
Sample: 1990 2011
Included observations: 22
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

C
CDR
G
D1

2.54E+09
57841.43
-2328.969
-2.80E+08

2.39E+09
144486.6
10422.25
3.48E+09

1.061992
0.400324
-0.223461
-0.080423

0.3023
0.6936
0.8257
0.9368

R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)

0.016636
-0.147258
5.82E+09
6.09E+20
-523.6660
0.101506
0.958107

Mean dependent var


S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat

3.51E+09
5.43E+09
47.96963
48.16800
48.01636
1.953099

Ho : p-value > 5%, artinya data tidak terdapat heterokedastisitas


Ha : p-value < 5%, artinya data terdapat heterokedastisitas
Hasil uji heteroskedastisitas diatas memiliki nilai Obs*R-squared / p-value
chi-square sebesar 0.9472 atau 0.9472> 0.01. Artinya data yang digunakan dalam
model tidak terdapat heteroskedastisitas atau dengan kata lain bahwa varian
efisien / minimum yang artinya akan membuat uji hipotesis menjadi valid atau
baik (Ho

diterima).

4.4.3. Autokolerasi
Penaksiran model regresi linier mengandung asumsi bahwa tidak terdapat
autokorelasi di antara residual tidak bebas dari suatu observasi ke observasi
lainnya. Biasanya masalah autokerelasi terjadi pada data time series. Hal ini
disebabkan karena eror pada data akan mempengaruhi eror pada data pada periode
berikutnya. Konsekuensi dari adanya autokorelasi pada model adalah bahwa
penaksir tidak efisien dan uji t serta uji F yang tidak valid walaupun hasil estimasi
tidak bias.

Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:


F-statistic
Obs*R-squared

3.061257
6.088607

Prob. F(2,16)
Prob. Chi-Square(2)

0.0749
0.0476

Test Equation:
Dependent Variable: RESID
Method: Least Squares
Date: 09/30/15 Time: 03:59
Sample: 1990 2011
Included observations: 22
Presample missing value lagged residuals set to zero.
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

C
CDR
G
D1
RESID(-1)
RESID(-2)

15961.11
-1.407264
0.102912
-12439.77
0.630542
-0.264362

30468.18
1.948498
0.136802
37857.41
0.270583
0.272257

0.523862
-0.722230
0.752272
-0.328595
2.330312
-0.971000

0.6076
0.4806
0.4628
0.7467
0.0332
0.3460

R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)

0.276755
0.050741
59048.09
5.58E+10
-269.4080
1.224503
0.342753

Mean dependent var


S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat

-1.46E-10
60605.69
25.03709
25.33465
25.10719
2.002038

H0
: p-value chi-square > 5% tidak terdapat korelasi serial (autokorelasi)
Ha : p-valua chi-square < 5% terdapat korelasi serial (autokorelasi)
Hasil equasi diatas menunjukkan nilai dari p-value chi square adalah
sebesar 0.00476 atau 0.00476 < 0.05, artinya terdapat korelasi serial
(autokorelasi). Dengan kata lain bahwa penaksir tidak efisien dan uji t serta uji F
yang tidak valid walaupun hasil estimasi tidak bias (Ha diterima) dan data
memiliki masalah asumsi klasik Autokolerasi.

4.4.4. Linieritas
Ramsey RESET Test:
F-statistic
Log likelihood ratio

2.991241
3.565779

Prob. F(1,17)
Prob. Chi-Square(1)

0.1018
0.0590

Test Equation:
Dependent Variable: JUB
Method: Least Squares
Date: 09/30/15 Time: 04:40
Sample: 1990 2011
Included observations: 22
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

C
CDR
G
D1
FITTED^2
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)

-117310.5
17.58606
1.219459
130890.0
-7.55E-08
0.995349
0.994254
62115.96
6.56E+10
-271.1892
909.4724
0.000000

53880.39
3.432168
0.132090
52751.26
4.36E-08

-2.177240
5.123894
9.232023
2.481267
-1.729520

Mean dependent var


S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat

0.0438
0.0001
0.0000
0.0238
0.1018
945342.9
819465.5
25.10811
25.35607
25.16652
1.559792

Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah variable independen


memiliki pengaruh yang signifikan secara linier terhadap variable dependen.
Untuk melakukan uji linearitas, yang perlu dilihat adalah besaran dari F statistic
ketika dibandingkan dengan F table, atau dapat dilihat dalam probabilitas Fstatistic. Dalam penghitungan diatas, probabiliatas F statistic berada pada angka 0
yang mana lebih kecil daripada 0.05. Sehingga model ini lolos uji linearitas.
4.4.5

Multikolineritas.
CDR
G
JUB

CDR
1.000000
0.945407
0.974414

G
0.945407
1.000000
0.984287

JUB
0.974414
0.984287
1.000000

Untuk menguji multikolinearitas, setiap variable diregresikan dengan


menjadi variable dependen. Uji ini digunakan untuk melihat adanya kemungkinan
multikolinearitas antar variable. Hasil regresi dinyatakan lolos dari uji
multikolinearitas apabila tidak ada hasil yang melebihi 0.65. Melihat hasil diatas,
terdapat beberapa hasil multikolinearitas yang menunjukkan angka lebih dari
0.65, sehingga hasil regresi pada penelitian ini tidak lolos uji multikolinearitas.
Persamaan Regresi
Dari hasil pengolahan diatas maka dapat diketahui persamaan regresinya
sebagai berikut,
JUB= 136354 + 12.56610 CDR + 1.117693 G
Persamaan diatas dapat diinterpretasikan bahwa apabila tidak ada
pengeluaran pemerintah dan negara tidak mempunyai cadangan devisa, maka

jumlah uang beredar sesudah krisis akan sama dengan nilai konstanta yaitu
sebesar Rp 136354 milliar. Pengaruh antara pengeluaran pemerintah, cadangan
devisa, dan angka pengganda uang dengan jumlah uang beredar adalah positif,
yaitu apabila ketiga variabel tersebut meningkat maka jumlah uang beredar akan
meningkat dan sebaliknya apabila ketiga variabel mengalami penurunan, maka
jumlah uang beredar juga akan menurun. Penurunan dan pengurangannya yaitu
jika pada government expenditures naik atau turun sebesar satu milliar rupiah
dengan menganggap cadangan devisa negara konstan, maka jumlah uang beredar
sesudah krisis akan meningkat ataupun menurun sebesar Rp 12.56610 milliar.
Begitu pula sebaliknya jika Government Expenditure naik ataupun mengalami
penurunan sebesar satu milliar rupiah dengan menganggap variabel cadangan
devisa konstan, maka jumlah uang beredar akan mengalami kenaikan atau
penurunan sebesar Rp 1.117693 Milliar
Hasil analisis Uji adjusted R-squared
Koefisien determinasi yang disesuaikan sebesar 0,986959 yang berarti
bahwa jumlah uang beredar (M2) dalam penelitian ini dipengaruhi oleh kedua
variabel bebas yang terdiri dari pengeluaran pemerintah (G) dan cadangan devisa
sebesar 98.6959%, sedangkan sisanya 1.3041 % dipengaruhi oleh variabel atau
factor lain
Uji Koefisien Regresi Parsial (Uji t)
Koefisien regresi variabel CDR
Ho : secara parsial tidak ada pengaruh signifikan antara CDR dengan
jumlah uang beredar
Ha : secara parsial ada pengaruh signifikan antara CDR dengan jumlah
uang beredar
= 5%, (satu sisi), df = 10, t table =1.812, dan t hitung 6.211594
Dari sini dapat dilihat bahwa t hitung lebih besar daripada t table, sehingga
di sini hipotesis Ho ditolak. Sehingga variabel CDR secara parsial memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap jumlah uang yang beredar sesudah krisis.
Koefisien Regresi variable G
Ho : secara parsial tidak ada pengaruh signifikan antara G dengan jumlah
uang beredar
Ha : secara parsial ada pengaruh signifikan antara G dengan jumlah uang
beredar
= 5%, (satu sisi), df = 5, t table = 2.1812 dan t hitung 8.880654

Dari sini dapat dilihat bahwa t hitung lebih besar daripada t table, sehingga
di sini hipotesis Ho ditolak. Sehingga variabel G secara parsial memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap jumlah uang yang beredar sesudah krisis.
Koefisien Regresi variable G
Ho : secara parsial tidak ada pengaruh signifikan antara G dengan jumlah uang
beredar
Ha : secara parsial ada pengaruh signifikan antara G dengan jumlah uang
beredar
= 5%, (satu sisi), df = 5, t table = 2.1812 dan t hitung 8.880654
Dari sini dapat dilihat bahwa t hitung lebih besar daripada t table, sehingga
di sini hipotesis Ho ditolak. Sehingga variabel G secara parsial memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap jumlah uang yang beredar sesudah krisis.
Uji koefisien Regresi Serentak (Uji F)
Uji F digunakan untuk menguji koefisien regresi secara bersama-sama,
yaitu untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara bersama-sama
(serempak) terhadap variabel dependen. Dalam equasi tersebut Prob (F-statistic)
adalah sebesar 0.000093, atau 0.000000 < 0.05 yang artinya semua variabel bebas
secara simultan berpengaruh signifikan dalam perubahan jumlah uang beredar.
KESIMPULAN
Analisis ini menggunakan analisa regresi berganda sederhana untuk
mengenalisa pengaruh pengeluaran pemerintah (G) dan cadangan devisa (CDR)
terhadap jumlah uang beredar di Indonesia pada periode sebelum krisis (19901997) dan sesudah krisis (1998-2010).
Pada periode sebelum krisis dapat disimpulkan bahwa cadangan devisa
dan pengeluaran pemerintah berpengaruh poitif dan signifikan terhadap jumlah
uang beredar secara parsial maupun secara serempak melalui uji t dan uji F
dengan koefisien cadangan devisa sebesar 12.79191 dan pengeluaran pemerintah
sebesar 2.710862.
Hal yang serupa juga terjadi ketika setelah krisis yaitu periode (19982010). Variabel cadangan devisa dan pengeluaran pemerintah berpengaruh secara
signifikan dan positif terhadap jumlah uang beredar beredar secara parsial maupun
secara serempak melalui uji t dan uji F dengan koefisien cadangan devisa sebesar
12.56610 dan pengeluaran pemerintah sebesar 1.117693.

Namun hal yang membedakan pada saat sebelum krisis dengan yang
setelah krisis adalah terletak pada konstantanya. Yaitu ketika sebelum krisis
konstanta bernilai negaif, namun setelah krisis konstanta bernilai positf.
Pada penelitian sebelumnya telah di jelaskan bahwa pengaruh cadangan
devisa terhadap jumlah uang beredar adalah tidak signifikan, hal ini tentu berbeda
dengan hasil analisis yang saya lakukan, yaitu pengaruh cadangan devisa
berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah uang beredar.

BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan dengan menggunakan
software Eviews 6.1, kesimpulan yang dapat ditarik sebagai berikut:
a. Bagaimana hasil analisis regresi yang menunjukkan hubungan antara variabel
independen terhadap variabel dependen?
Hasil regresi menunjukkan persamaan sebagai berikut.
JUB
D11
D10

= -35253.51 + 12,28319 CDR + 1.0963 G + 195676,8 D1


= -35253.51 + 12,28319 CDR + 1.0963 G + 195676,8 D1 (1)
= 160423.29 + 12,28319 CDR + 1.0963 G

= -35253.51 + 12,28319 CDR + 1.0963 G + 195676,8 D1

(0)
= -35253.51 + 12,28319 CDR + 1.0963 G
b. Bagaimanakah pengaruh variabel pengeluaran pemerintah terhadap variabel
jumlah uang beredar?
Jumlah uang pengeluaran pemerintah berpengaruh secara nyata terhadap
jumlah uang beredar. Dampak nyata tersebut ditunjukkan dalam hubungan yang
postif, dimana kenaikan setiap kenaikan jumlah pengeluaran pemerintah sebesar 1
satuan,akan meningkatkan jumlah uang beredar secara rata-rata sebesar 1.0963
dengan menganggap variabel lain konstan Dan besar pengaruh.
c. Bagaimanakah pengaruh variabel cadangan devisa terhadap variabel jumlah uang
beredar?

Besar pengaruh cadangan devisa adalah sebesar 12,28319. Sehingga jika


terjadi kenaikan 1 satuan dari CDR maka secara rata-rata akan menaikkan JUB
sebesar 12,28319 rupiah dengan menganggap variabel lain konstan (ceteris
paribus).
d. Bagaimana signifikasi pengaruh (parsial dan simulatan) ketiga variabel
independen tersebut terhadap variabel jumlah uang beredar ?
Melalui uji secara parsial, ketiga variabel independen memiliki pengaruh
yang nyata terhadap jumlah uang beredar. Sedangkan secara uji serempak, ketiga
variabel independen memeiliki pengaruh secara serempak terhadap jumlah uang
beredar.
e. Apakah data yang digunakan dalam penelitian lulus uji asumsi klasik seperti uji
normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinieritas, uji autokorelasi dan uji
linieritas?

Uji normalitas
Data merupakan data yang terdistribusi normal

Uji autokorelasi
Data memiliki masalah autokorelasi

Uji Non-heterokedastisitas.
Data menujukkan homokedastisitas

Uji lineritas
Variabel independen memiliki pengaruh signifikan secara liner

Multikolinieritas
Variabel independen memiliki masalah multikolinieritas.
Sehingga dari kelima uji asumsi klasik, maka dapat disimpulkan model tersebut
tidak lolos uji asumsi klasik. Karena 2 dari 5 test mengalami masalah.
Sehingga dapat disimpulkan memperlihatkan bahwa jumlah uang beredar
sebelum krisis lebih rendah ketika sesudah krisis. Hal ini d buktikan dengan
melakukan uji parsial terhadap variabel dummy. Model ini sebenarnya dapat
digunakan dalam melakukan prediksi karena selisih antara hasil actual dan
prediksi yang tipis. Akan tetapi model tersebut tidak lolos uji asumsi klasik.

DAFTAR PUSTAKA
Bank Indonesia. 1990-2010. Laporan Tahunan Bank Indonesia, Tahun 1990-2010
Hedwigis
Esti,
dkk.
ANALISIS
PENGARUH
PENGELUARAN
PEMERINTAH,

CADANGAN

PENGGANDA

UANG

DEVISA,

TERHADAP

DAN

JUMLAH

ANGKA
UANG

BEREDAR DI INDONESIA
Lily Prayitno, dkk. 2002. Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Jumlah
Uang Beredar di Indonesia Sebelum dan Sesudah Krisis: Sebuah
Analisis Ekonometrika. Jurnal Manajemen & Kewirausahaan
Vol. 4 No. 1. Maret. Hal. 46-55.
Mankiw. 2007. Makroekonomi. Harvard University. Inggris
Badan Pusat Statistika (www.bps.go.id)