Anda di halaman 1dari 36

AKUNTANSI TRANSAKSI ISTISHNA

Oleh :

Dewi Pithaloka

080810301060

Rio Wahyu Pranata

080810301063

Muhammad Alwi

080810301075

Astrid Maharani

080810301088

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS JEMBER
2011

1. Konsep dasar transaksi istishna


Menurut jumhur ulama fuqaha, bai alistishna merupakan suatu jenis khusus dari
bai assalam. Biasanya jenis ini dibidang manufaktur. Dengan demikian ketentuan
istishna mengikuti ketentuan dan aturan bai assalam. Produk istishna menyerupai
produk salam, namun dalam istishna pembayarannya dapat dilakukan oleh bank dalam
beberapakali pembayaran.
Menurut pernyataan standar akuntansi keuangan no.104, Istishna' adalah akad
jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan
persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli, mustashni') dan penjual
(pembuat, shani').
Istishna' paralel adalah suatu bentuk akad istishna' antara pemesan (pembeli,
mustashni') dengan penjual (pembuat, shani'), kemudian untuk memenuhi kewajibannya
kepada mustashni', penjual memerlukan pihak lain sebagai shani'.
Berdasarkan akad istishna', pembeli menugaskan penjual untuk menyediakan
barang pesanan (mashnu') sesuai spesifikasi yang disyaratkan untuk diserahkan kepada
pembeli, dengan cara pembayaran dimuka atau tangguh.
Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati oleh pembeli dan penjual di
awal akad. Ketentuan harga barang pesanan tidak dapat berubah selama jangka waktu
akad.
Barang pesanan harus memenuhi kriteria:
a) memerlukan proses pembuatan setelah akad disepakati;
b) sesuai dengan spesifikasi pemesan (customized) bukan produk massal; dan
c) harus diketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi jenis, spesifikasi
teknis, kualitas, dan kuantitasnya.

Barang pesanan harus sesuai dengan karakteristik yang telah disepakati antara
pembeli dan penjual. Jika barang pesanan yang dikirimkan salah atau cacat maka penjual
harus bertanggung jawab atas kelalaiannya.
Entitas dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam suatu transaksi
istishna'. Jika entitas bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain
(produsen atau kontraktor) untuk membuat barang pesanan juga dengan cara istishna'
maka hal ini disebut istishna' paralel.
istishna' paralel dapat dilakukan dengan syarat akad pertama, antara entitas dan
pembeli akhir, tidak bergantung (mu'allaq) dari akad kedua, antara entitas dan pihak lain
Pada dasarnya istishna' tidak dapat dibatalkan, kecuali memenuhi kondisi:
a) kedua belah pihak setuju untuk menghentikannya; atau
b) akad batal demi hukum karena timbul kondisi hukum yang dapat menghalangi
pelaksanaan atau penyelesaian akad.
Pembeli mempunyai hak untuk memperoleh jaminan dari penjual atas:
a) jumlah yang telah dibayarkan; dan
b) penyerahan barang pesanan sesuai dengan spesifikasi dan tepat waktu.

1. Akuntansi untuk penjual


Akuntansi transaksi istishna dari sudut pandang penjual antara lain sebagai berikut :

Penyatuan dan Segmentasi Akad


1) Bila suatu akad istishna mencakup sejumlah aset pengakuan dari setiap aset
diperlakukan sebagai suatu akad yang terpisah jika:
a. Proposal terpisah telah diajukan untuk setiap asset
b. Setiap aset telah dinegosiasikan secara terpisah dimana penjual dan pembeli
dapat menerima atau menolak bagian akad yang berhubungan dengan
masing-masing aset tersebut, dan
c. Biaya dan pendapatan masing-masing aset dapat diidentifikasikan
2) Suatu kelompok akad istishna, dengan satu atau beberapa pembeli harus
diperlakukan sebagai satu akad istishna jika:
a. Kelompok akad tersebut dinegosiasikan sebagai satu paket
b. Akad tersebut berhubungan erat sekali,sebetulnya akad tersebut merupakan
bagian dari akad tunggal dengan suatu margin keuntungan dan
c. Akad tersebut dilakukan secara serentak atau secara berkesinambungan
3) Jika ada pemesanan aset tambahan dengan akad istishna terpisah, tambahan aset
tersebut diperlakukan sebagai akad yang terpisah jika :
a. Aset tambahan berbeda secara signifikan dengan aset dalam akad istishna
awal dalam desain,teknologi atau fungsi ; atau
b. Harga aset tambahan dinegosiasikan tanpa terkait harga akad istishna awal

Pendapatan istishna dan istishna paralel


1) Pendapatan

istishna

diakui

dengan

menggunakan

metode

presentase

penyelesaian atau metode akad selesai. Akad dikatakan selesai jika proses
pembuatan barang pesanan selesai dan diserahkan kepada pembeli
2) Jika metode persentase penyelesaian digunakan, maka :

a. Bagian nilai akad yang sebanding dengan pekerjaan yang telah diselesaikan
dalam periode tersebut diakui sebagai pendapatan istishna pada periode yang
bersangkutan
b. Bagian margin keuntungan istishna yang diakui selama periode pelaporan
ditambahkan pada aset istishna dalam penyelesaian; dan
c. Pada akhir periode harga pokok istishna diakui sebesar biaya istishna yang
telah dikeluarkan sampai dengan periode tersebut.
3) Jika estimasi persentase penyelesaian akad dan biaya untuk penyelesaiannya
tidak dengan ditentukan secara rasional pada akhir periode laporan keuangan
maka digunakan metode akad selesai dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Tidak ada pendapatan istishna yang diakui sampai dengan pekerjaan tersebut
selesai;
b. Tidak ada harga pokok istishna yang diakui sampai dengan pekerjaan
tersebut selesai;
c. Tidak ada bagian keuntungan yang diakui dalam istishna dalam penyelesaian
sampai dengan pekerjaan tersebut selesai; dan
d. Pengakuan pendapatan istishna, harga pokok istishna, dan keuntungan
dilakukan hanya pada akhir penyelesaian pekerjaan.

Istishna dengan Pembayaran Penuh


1) Jika menggunakan metode persentase penyelesaian dan proses pelunasan
dilakukan dalam periode lebih dari satu tahun dari penyerahan barang pesanan,
maka pengakuan pendapatan dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
a. Margin keuntungan pendapatan barang pesanan yang dihitung apabila
istishna dilakukan secara tunai diakui sesuai persentase penyelesaian; dan
b. Selisih antara nilai akad dengan nilai tunai pada saat penyerahan diakui
selama periode pelunasan secara proporsional sesuai dengan jumlah
pembayaran. Proporsional yang dimaksud sesuai dengan paragraf 24-25
PSAK 102 : Akuntansi Murabahah

Meskipun istishna dilakukan dengan pembayaran tangguh, penjual harus


menentukan nilai tukar istishna pada saat penyerahan barang pesanan sebagai
dasar untuk mengakui margin keuntungan terkait dengan proses pembuatan
barang pesanan. Margin ini menunjukkan nilai tambah yang dihasilkan pada
proses pembuatan barang pesanan. Sedangkan yang dimaksud dengan nilai
akad dalam istishna dengan pembayaran langsung adalah harga yang disepakati
antara penjual dan pembeli akhir. Hubungan antara biaya perolehan, nilai tunai,
dan nilai akad diuraikan dalam contoh sebagai berikut:
Biaya perolehan (biaya produksi)

Rp 1.000

Margin keuntungan pembuatan barang pesanan

Rp

Nilai tunai pada saat penyerahan barang pesanan

Rp 1.200

Nilai akad untuk pembayaran secara angsuran selama tiga tahun

Rp 1.600

Selisih nilai akad dan nilai tunai yang diakui selama tiga tahun

Rp

200

400

2) Jika menggunakan metode akad selesai dan proses pelunasan dilakukan dalam
periode lebih dari satu tahun dari penyerahan barang pesanan maka pengakuan
pendapatan dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
a. Margin keuntungan pembuatan barang pesanan yang dihitung apabila
istishna dilakukan secara tunai, diakui pada saat penyerahan barang pesanan
b. Selisih antara nilai akad dan nilai tunai pada saat penyerahan diakui selama
periode pelunasan secara proporsional sesuai dengan jumlah pembayaran
3) Tagihan setiap termin kepada pembeli diakui sebagai piutang istishna dan
termin istishna (istishna billing) pada pos lawannya.
Penagihan termin yang dilakukan oleh penjual dalam transaksi istishna
dilakukan sesuai dengan kesepakatan dalam akad dan tidak selalu sesuai dengan
persentase penyelesaian pembuatan barang pesanan.

Biaya Perolehan Istishna


1) Biaya perolehan istishna terdiri dari:

a. Biaya langsung yaitu bahan baku dan tenaga kerja langsung untuk membuat
barang pesanan
b. Biaya tidak langsung adalah biaya overhead, termasuk biaya akad dan praakad
Biaya pra-akad diakui sebagai beban tangguhan dan diperhitungkan sebagai
biaya istishna jika akad disepakati. Namun jika akad tidak disepakati, maka
biaya tersebut dibebankan pada periode berjalan.
2) Biaya perolehan istishna yang terjadi selama periode laporan keuangan, diakui
sebagai aset istishna dalam penyelesaian pada saat terjadinya.
Beban umum dan administrasi, beban penjualan, serta biaya riset dan
pengembangan tidak termasuk dalam biaya istishna

Biaya Perolehan Istishna Paralel


1) Biaya istishna paralel terdiri dari:
a. Biaya perolehan barang pesanan sebesar tagihan produsen atau kontraktor
kepada entitas;
b. Biaya tidak langsung adalah biaya overhead, termasuk biaya akad dan praakad
c. Semua biaya akibat produsen atau kontraktor tidak dapat memenuhi
kewajibannya, jika ada
2) Biaya perolehan istishna paralel diakui sebagai aset istishna dalam penyelesaian
pada saat diterimanya tagihan dari produsen atau kontraktor sebesar jumlah
tagihan.

Penyelesaian Awal
Jika pembeli melakukan pembayaran sebelum tanggal jatuh tempo dan penjual
memberikan potongan, maka potongan tersebut sebagai pengurang pendapatan
istishna.

Pengurangan pendapatan istishna akibat penyelesaian awal piutang istishna dapat


diperlakukan sebagai :
a) Potongan secara langsung dan dikurangkan dari piutang istishna pada saat
pembayaran; atau
b) Penggantian (reimbursed) kepada pembeli sebesar jumlah keuntungan yang
dihapuskan tersebut setelah menerima pembayaran piutang istishna secara
keseluruhan

Perubahan Pesanan dan Tagihan Tambahan


Pengaturan pengakuan dan pengukuran atas pendapatan dan biaya istishna akibat
perubahan pesanan dan tagihan tambahan adalah sebagai berikut :
a) Nilai dan biaya akibat perubahan pesanan yang disepakati oleh penjual dan
pembeli ditambahkan kepada pendapatan istishna dan biaya istishna;
b) Jika kondisi pengenaan setiap tagihan tambahan yang dipersyaratkan
dipenuhi, maka jumlah biaya setiap tagihan tambahan yang diakibatkan
oleh setiap tagihan akan menambah biaya istishna; sehingga pendapatan
istishna akan berkurang sebesar jumlah penambahan biaya akibat klaim
tambahan
c) Perlakuan akuntansi (a) dan (b) juga berlaku pada istishna paralel, akan
tetapi biaya perubahan pesanan dan tagihan tambahan ditentukan oleh
produsen atau kontraktor dan disetujui penjual berdasarkan akad istishna
paralel.

Pengakuan Taksiran Rugi


Jika besar kemungkinan terjadi bahwa total biaya perolehan istishna akan melebihi
pendapatan istishna, taksiran kerugian harus segera diakui.
Jumlah kerugian semacam itu ditentukan tanpa memperhatikan:
a) Apakah pekerjaan istishna telah dilakukan atau belum;
b) Tahap penyelesaian pembuatan barang pesanan; atau

c) Jumlah laba yang diharapkan dari akad yang tidak diperlakukan sebagai
suatu akad tunggal sesuai paragraf.

2. Akuntansi Pembeli
Akuntansi transaksi istishna dari sudut pandang pembeli antara lain sebagai berikut:
a) Pembeli mengakui aset istishna dalam penyelesaian sebesar jumlah termin yang
ditagih oleh penjual dan sekaligus mengakui hutang istishna kepada penjual.
b) Aset istishna yang diperoleh melalui transaksi istishna dengan pembayaran
tangguh lebih dari satu tahun diakui sebesar biaya perolehan tunai. Selisih antara
harga beli yang disepakati dalam akad istishna tangguh dan biaya perolehan tunai
diakui sebagai beban istishna tangguhan.
c) Beban istishna tangguhan diamortisasi secara proporsional sesuai dengan porsi
pelunasan hutang istishna.
d) Jika barang pesanan terlambat diserahkan karena kelalaian atau kesalahan pejual
dan mengakibatkan kerugian pembeli, maka kerugian itu dikurangkan dari garansi
penyelesaian proyek yang telah diserahkan penjual. Jika kerugian tersebut
melebihi garansi penyelesaian proyek, maka selisihnya akan diakui sebagai
piutang jatuh tempo kepada penjual dan jika diperlukan dibentuk penyisihan
kerugian piutang.
e) Jika pembeli menolak menerima barang pesanan karena tidak sesuai dengan
spesifikasi dan tidak memperoleh kembali seluruh jumlah uang yang telah
dibayarkan kepada penjual, maka jumlah yang belum diperoleh kembali diakui
sebagai piutang jatuh tempo kepada penjual dan jika diperlukan dibentuk
pentisihan kerugian piutang.
f) Jika pembeli menerima barang pesanan yang tidak sesuai dengan spesifikasi, maka
barang pesanan tersebut diukur dengan nilai yang lebih rendah antara nilai wajar
dan biaya perolehan. Selisih yang terjadi diakui sebagai kerugian pada periode
berjalan

g) Dalam istishna paralel, jika pembeli menolak menerima barang pesanan karena
tidak sesuai dengan spesifikasi yang disepakati, maka barang pesanan diukur
dengan nilai yang lebih rendah antara nilai wajar dan harga pokok istishna. Selisih
yang terjadi diakui sebagai kerugian pada periode berjalan.
D. Penyajian
1) Penjual menyajikan dalam laporan keuangan halal sebagai berikut:
a. Piutang istishna yang berasal dari transaksi istishna sebesar jumlah yang
belum dilunasi oleh pembeli akhir
b. Termin istishna yang berasal dari transaksi istishna sebesar jumlah tagihan
termin penjual kepada pembeli akhir
2) Pembeli menyajikan dalam laporan keuangan halal sebagai berikut :
a. Hutang istishna sebesar tagihan dari produsen atau kontraktor yang belum
dilunasi
b. Aset istishna dalam penyelesaian sebesar:
i. Persentase penyelesaian dari nilai kontrak penjualan kepada
pembeli akhir, jika istishna paralel; atau
ii. Kapitalisasi biaya perolehan, jika istishna.
E. Pengungkapan
1) Penjual mengungkapkan transaksi istishna dalam laporan keuangan, tetapi tidak
terbatas, pada:
a. Metode akuntansi yang digunakan dalam pengukuran pendapatan dan
keuntungan kontrak istishna;
b. Metode yang digunakan dalam penentuan persentase penyelesaian kontrak
yang sedang berjalan;
c. Rincian piutang istishna berdasarkan jumlah, jangka waktu, jenis mata
uang, dan kualitas piutang;
d. Pengungkapan yang diperlukan sesuai Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan Nomor 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

4. Pedoman Pencatatan dan Pelaporan Akuntansi Transaksi Istishna


Transaksi istishna yang dijelaskan dalam bagian ini merupakan transaksi istishna
dalam konteks praktik perbankan syariah. Menurut Tim Pengembangan Perbankan
Syariah IBI (2001 : 119) bahwa rukun istishna adalah :
1. Pihak yang berakad
a. Pembuat/produsen
b. Pemesan/pembeli
2. Obyek yang diakadkan
a. Barang/proyek yang dipesan
b. Kesepakatan harga jual
3. Sigot
a. Serah (ijab)
b. Terima (qabul)

Perlakuan akuntansi istishna


Bank sebagai Produsen/Penjual
1. Biaya istishna terdiri dari:
a. Biaya langsung, terutama biaya untuk menghasilkan barang pesanan; sari
b. Biaya tidak langsung yang berhubungan dengan akad (termasuk biaya praakad) yang dialokasikan secara objektif;
2. Beban umum dari administrasi, beban penjualan, serta biaya riset dari
pengembangan tidak termasuk dalam biaya istishna.
3. Biaya pra-akad diakui sebagai biaya ditangguhkan dari diperhitungkan sebagai
biaya istishna jika akad ditandatangani, tetapi jika akad tidak ditandatangani,
maka biaya tersebut dibebankan pada periode berjalan; dari

10

4. Biaya istishna yang terjadi selama periode laporan keuangan, diakui sebagai
aktiva istishna dalam penyelesaian pada saat terjadinya.
Pengakuan dari pengukuran biaya istishna paralel adalah sebagai berikut:
a. Biaya istishna paralel terdiri dari :
a)

Biaya perolehan barang pesanan sebesar tagihan sub-kontraktor

kepada bank
b)

Biaya tidak langsung yang berhubungan dengan akad (termasuk

biaya pra-akad) yang dialokasikan secara obyektif ; dan


c)

Semua biaya akibat sub-kontraktor tidak dapat memenuhi

kewajibannya, jika ada;


b. Biaya istishna paralel diakui sebagai aktiva istishna dalam penyelesaian
pada saat diterimanya tagihan dari sub-kontraktor sebesar jumlah tagihan.
5. Tagihan setiap termin dari bank kepada pembeli akhir diakui sebagai piutang
istishna dari sebagai termin istishna (istishna billing) pada pos lawannya.
6. Pendapatan istishna adalah total harga yang disepakati dalam akad antara bank
dari pembeli akhir; termasuk margin keuntungan. Margin keuntungan adalah
selisih antara pendapatan istishna dari harga pokok istishna. Pendapatan istishna
diakui dengan menggunakan metode persentase penyelesaian atau metode akad
selesai.
7. Jika metode persentase penyelesaian digunakan, maka:
a. Bagian nilai akad yang sebanding dengan pekerjaan yang telah diselesaikan
dalam periode tersebut diakui sebagai pendapatan istishna pada periode
yang bersangkutan;
b. Bagian margin keuntungan istishna yang diakui selama periode pelaporan
ditambahkan kepada aktiva istishna dalam penyelesaian; dari
c. Pada akhir periode harga pokok istishna diakui sebesar biaya istishna yang
telah dikeluarkan sampai dengan periode tesebut.

11

8. Jika estimasi persentase penyelesaian akad dari biaya untuk penyelesaian tidak
dapat ditentukan secara rasional pada akhir periode laporan keuangan, maka
digunakan metode akad selesai dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Tidak ada pendapatan istishna yang diakui sampai dengan pekerjaan
tersebut selesai;
b. Tidak ada harga pokok istishna yang diakui sampai dengan pekerjaan
tersebut selesai;
c. Tidak ada bagian keuntungan yang diakui dalam istishna dalam
penyelesaian sampai dengan pekerjaan tersebut selesai; dari
d. Pengakuan pendapatan istishna, harga pokok istishna, dari keuntungan
dilakukan hanya pada akhir penyelesaian pekerjaan.
9. Jika pembeli akhir melakukan pembayaran sebelum tanggal jatuh tempo dari
bank memberikan potongan, maka bank menghapus sebagian keuntungannya
sebagai akibat penyelesaian awal tersebut.
10. Penghapusan sebagian keuntungan akibat penyelesaian awal piutang istishna
dapat diperlakukan sebagai:
a. Potongan secara langsung dan dikurangkan dari piutang istishna pada saat
pembayaran; atau
b. Penggantian (reimbursed) kepada pembeli sebesar jumlah keuntungan yang
dihapuskan tersebut setelah menerima pembayaran piutang istishna secara
keseluruhan.

Bank sebagai Pembeli


1. Bank mengakui aktiva istishna dalam penyelesaian sebesar jumlah termin yang
ditagih oleh penjual dari sekaligus mengakui hutang istishna kepada penjual.
2. Apabila barang pesanan terlambat diserahkan karena kelalaian atau kesalahan
penjual dan mengakibatkan kerugian bank,maka kerugian itu dikurangkan dari
garansi penyelesaian proyek yang telah diserahkan penjual. Apabila kerugian

12

tersebut melebihi garansi penyelesaian proyek, maka selisihnya akan diakui


sebagai piutang jatuh tempo kepada sub-kontraktor.
3. Jika bank menerima barang pesanan yang tidak sesuai dengan spesifikasi, maka
barang pesanan tersebut diukur dengan nilai yang lebih rendah antara nilai
wajar dari biaya perolehan. Selisih yang terjadi diakui sebagai kerugian pada
periode berjalan.
4. Dalam istishna paralel, jika pembeli menolak menerima barang pesanan karena
tidak sesuai dengan spesifikasi yang disepakati, maka barang pesanan diukur
dengan nilai yang lebih rendah antara nilai wajar dari harga pokok istishna.
Selisih yang terjadi diakui sebagai kerugian pada periode berjalan.
5. Jika

secara

substansi

terdapat

transaksi

bank

syariah

yang

mengadakan/membeli barang pesanan dengan cara istishna dan menjual dengan


cara murabahah sehingga menimbulkan tenggang waktu yang lama (lebih dari 1
tahun) antara waktu penyelesaian barang pesanan yang dikonstruksi dan waktu
pelunasan tagihan bank dari pembeli akhir maka pengakuan pendapatannya
mengikuti ketentuan transaksi murabahah.

JURNAL STANDAR
a. Istishna Biasa-Akuntansi Penjual
a. Saat pengeluaran biaya sebelum akad
(Dr) Beban Istishna yang ditangguhkan

XX

(Cr) Kas

XX

b. Jika akad tidak ditandatangani


(Dr) Beban pra-akad
(Cr) Beban Istishna yang ditangguhkan

XX
XX

13

c. Saat pengeluaran biaya istishna setelah akad ditandatangani


(Dr) Aktiva Istishna dalam penyelesaian XX
(Dr) Beban Istishna yang ditangguhkan

XX

(Cr) Kas

XX

d. Pada saat penagihan kepada pembeli


(Dr) Piutang Istishna

XX

(Cr) Termin Istishna

XX

e. Pada saat penerimaan pembayaran dari pembeli


(Dr) Kas

XX

(Cr) Piutang Istishna

XX

f. Pengakuan keuntungan pada akhir periode dengan menggunakan metode


persentase
(Dr) Beban pendapatan Istishna

XX

(Dr) Aktiva Istishna dalam penyelesaian

XX

(Cr) Pendapatan Istishna

XX

(sesuai porsi penyelesaian)

g. Pengakuan kerugian pada akhir periode dengan menggunakan metode


persentase
(Dr) Beban pendapatan Istishna
(Cr) Aktiva Istishna dalam penyelesaian

XX
XX

14

(Cr) Pendapatan Istishna

XX

(sesuai porsi penyelesaian)

h. Pengakuan keuntungan/kerugian pada akhir periode dengan menggunakan


metode akad selesai.
Maka,tidak ada jurnal, karena metode ini mengakui pendapatan istishna
hanya pada akhir masa kontrak.

i. Pengakuan keuntungan pada akhir masa kontrak dengan menggunakan


metode persentase.
(Dr) Beban pendapatan Istishna

XX

(Dr) Aktiva Istishna dalam penyelesaian

XX

(Cr) Pendapatan Istishna

XX

(sesuai porsi penyelesaian)

j. Pengakuan kerugian pada akhir masa kontrak dengan menggunakan


metode persentase.
(Dr) Kerugian Istishna

XX

(sebesar selisih antara pendapatan dan


beban Istishna)
(Cr) Aktiva Istishna dalam penyelesaian

XX

k. Pengakuan keuntungan pada akhir masa kontrak dengan menggunakan


metode akad selesai.

15

(Dr) Beban pendapatan Istishna

XX

(Dr) Aktiva Istishna dalam penyelesaian

XX

(Cr) Pendapatan Istishna

XX

l. Pengakuan kerugian pada akhir masa kontrak dengan menggunakan


metode akad selesai.
(Dr) Kerugian Istishna

XX

(sebesar selisih antara pendapatan dan


beban Istishna)
(Cr) Aktiva Istishna dalam penyelesaian

XX

m. Pada saat barang pesanan selesai diproduksi.


(Dr) Persediaan Istishna

XX

(Cr) Aktiva Istishna dalam penyelesaian

XX

n. Pada saat penjual menyerahkan barang pesanan kepada pembeli


(Dr) Termin Istishna

XX

(Cr) Persediaan Istishna

XX

o. Pemberian potongan kepada pembeli

a)

Potongan secara langsung

(Dr) Pendapatan Istishna


(Cr) Piutang Istishna

XX
XX

16

b)

Potongan tidak langsung (reimbursed)

(Dr) Beban potongan (muqasah)


(Cr) Kas

XX
XX

(dibayar setelah pembeli melunasi


piutangnya)

17

2. Akuntansi Pembeli
a. Saat pembeli menerima garansi penyelesaian proyek
Kas
xx
Titipan uang garansi
xx
b. Pembeli menerima tagihan dari penjual
Aktiva istishna dalam penyelesaian
xx
Hutang istishna
xx
c. Pembeli membayar tagihan dari kontraktor
Hutang istishna
xx
Kas
xx
d. Pembeli menerima aktiva istishna
Persediaan
xx
Aktiva istishna dalam penyelesaian
xx
e. Pembeli menolak aktiva istishna dari sub-kontraktor akibat salah spesifikasi
Piutang kontraktor
xx
(sebesar uang yang belum kembali)
Kas
xx
(sebesar uang yang telah kembali)
Aktiva istishna dalam penyelesaian
xx
f. Pembeli menerima aktiva istishna meski salah spesifikasi
Persediaan
xx
(sebesar nilai istishna yang salah spesifikasi)
Kerugian aktiva istishna
xx
(sebesar penurunan nilai karena salah spesifikasi)
Aktiva istishna dalam penyelesaian
xx
g. Bila kontraktor terlambat mengirim barang pesanan sehingga pembeli merugi
1) Uang garansi < kerugian
Titipan uang garansi
xx
Piutang kepada kontraktor
xx
Pendapatan ganti rugi istishna
xx
2) Uang garansi > kerugian
Titipan uang garansi
xx
Hutang kepada kontraktor
xx
Pendapatan ganti rugi istishna
xx
3. Akuntansi bagi LKS sebagai Penjual & Pembeli (Istishna Paralel)
a. Saat pengeluaran biaya sebelum akad
Beban istishna yang ditangguhkan
xx
Kas
xx
b. Bila akad tidak ditandatangani
Beban pra-akad
xx
Beban istishna yang ditangguhkan
xx
c. Saat LKS menerima garansi penyelesaian proyek
Kas
xx
18

d.
e.
f.
g.
h.

i.

j.

k.
l.
m.

Titipan uang garansi


xx
LKS menerima tagihan dari kontraktor
Aktiva istishna dalam penyelesaian
xx
Hutang istishna (kontraktor)
xx
LKS memberi tagihan kepada pembeli
Piutang istishna (al-mustashni)
xx
Termin istishna
xx
LKS membayar tagihan dari kontraktor
Hutang istishna
xx
Kas
xx
LKS menerima aktiva istishna dari kontraktor
Persediaan
xx
Aktiva istishna dalam penyelesaian
xx
LKS menolak aktiva istishna dari sub-kontraktor akibat salah spesifikasi
Piutang kontraktor
xx
(sebesar uang yang belum kembali)
Kas
xx
(sebesar uang yang telah kembali)
Aktiva istishna dalam penyelesaian
xx
LKS menerima aktiva istishna meski salah spesifikasi
Persediaan
xx
(sebesar nilai istishna yang salah spesifikasi)
Kerugian aktiva istishna
xx
(sebesar penurunan nilai akibat salah spesifikasi)
Aktiva istishna dalam penyelesaian
xx
Bila kontraktor terlambat mengirim barang pesanan sehingga LKS merugi
1) Uang garansi < kerugian
Titipan uang garansi
xx
Piutang kepada kontraktor
xx
Pendapatan ganti rugi istishna
xx
2) Uang garansi > kerugian
Titipan uang garansi
xx
Hutang kepada kontraktor
xx
Pendapatan ganti rugi istishna
xx
LKS menerima pembayaran dari pembeli
Kas
xx
Piutang istishna
xx
Pembeli menolak barang pesanan (nilai perolehan < nilai wajar)
Kerugian aktiva istishna
xx
Aktiva istishna dalam penyelesaian
xx
Bila aktiva istishna yang dipesan LKS kepada sub-kontraktor tidak sesuai
dengan spesifikasi yang ditentukan (LKS telah menerima aktiva) oleh

19

pemesan akhir dan bank harus mengeluarkan biaya tambahan untuk


memenuhi spesifikasi
1) Saat pengeluaran biaya pemenuhan spesifikasi
Aktiva istishna dalam penyelesaian
xx
Aktiva istishna dalam penyelesaian
xx
2) Saat penyelesaian proses pemenuhan spesifikasi
Persediaan
xx
Aktiva istishna dalam penyelesaian
xx
n. Pengakuan keuntungan pada akhir periode menggunakan metode persentase
Beban pendapatan istishna
xx
Aktiva istishna dalam penyelesaian
xx
Pendapatan istishna
xx
Catatan: istishna paralel tidak diperbolehkan menggunakan metode akad
selesai.
o. Pengakuan kerugian pada akhir periode menggunakan metode persentase
Beban pendapatan istishna
xx
Aktiva istishna dalam penyelesaian
xx
Pendapatan istishna
xx
(sesuai porsi penyelesaian)
Catatan: istishna paralel tidak diperbolehkan menggunakan metode akad
selesai.
p. Pengakuan keuntungan pada akhir masa kontrak menggunakan metode
persentase
Beban pendapatan istishna
xx
Aktiva istishna dalam penyelesaian
xx
Pendapatan istishna
xx
(sesuai porsi penyelesaian)
Catatan: istishna paralel tidak diperbolehkan menggunakan metode akad
selesai.
q. Pengakuan kerugian pada akhir masa kontrak menggunakan metode
persentase
Beban pendapatan istishna
xx
Aktiva istishna dalam penyelesaian
xx
Pendapatan istishna
xx
(sesuai porsi penyelesaian)
Catatan: istishna paralel tidak diperbolehkan menggunakan metode akad
selesai.
5. Aplikasi Akuntansi Transaksi Istishna
1. Perlakuan akuntansi istishna dengan cara pembayaran di muka

20

Guna memulihkan kondisi masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah pasca


musibah gempa bumi yang mengguncang tahun 2006, salah satu LSM lokal yang
berbentuk lembaga zakat bernama Dompet Dhuafa Republika berencana
membangun beberapa rumah bagi warga korban gempa di wilayah Kabupaten
Bantul dengan memilih salah satu lembaga keuangan syariah di Yogyakarta yaitu
BPRS Rizki Ilahi untuk mengkoordinir pembangunan rumah-rumah tersebut.
Rencananya akan dibangun sejumlah 500 rumah dengan Tipe 21 dengan harga
yang disepakati Rp 20.000.000,- per unit. Inilah perlakuan akuntansinya sesuai
dengan alur transaksi istishna paralel oleh BPRS Rizki Ilahi:
10 Januari 2008: BPRS Rizki Ilahi menerima dana dari DD Republika
sebesar Rp 10.000.000.000,- sebagai pembayaran keseluruhan pesanan 500

unit rumah
Kas/Bank Indonesia
Rp 10.000.000.000,Hutang istishna
Rp 10.000.000.000,10 Februari 2008: BPRS Rizki Ilahi menyerahkan dana kepada CV. Griya

Estetika sebesar Rp 9.500.000.000,- sebagai pemesanan 500 unit rumah


Aktiva istishna dalam penyelesaian
Rp 9.500.000.000,Kas/Bank Indonesia
Rp 9.500.000.000,1 November 2008: BPRS Rizki Ilahi menerima 300 unit rumah yang dipesan
dari CV. Griya Estetika sehingga nilai persediaan yang diterima adalah Rp

5.700.000.000,- (300 x Rp 19.000.000,- per unit)


Persediaan istishna
Rp 5.700.000.000,Aktiva istishna dalam penyelesaian
Rp 5.700.000.000,11 November 2008: BPRS Rizki Ilahi menyerahkan 300 unit rumah kepada
DD Republika sehingga nilai jual yang diserahkan adalah Rp 6.000.000.000,-

(300 x Rp 20.000.000,- per unit)


Hutang istishna
Rp 6.000.000.000,Persediaan
Rp 5.700.000.000,Pendapatan bersih istishna
Rp 300.000.000,1 Desember 2008: BPRS Rizki Ilahi menerima 200 unit rumah yang dipesan
dari CV. Griya Estetika sehingga nilai persediaan yang diterima adalah Rp
3.800.000.000,- (200 x Rp 19.000.000,- per unit)
Persediaan istishna
Rp 3.800.000.000,Aktiva istishna dalam penyelesaian
Rp 3.800.000.000,-

21

21 Desember 2008: BPRS Rizki Ilahi menyerahkan 200 unit rumah kepada
DD Republika sehingga nilai jual yang diserahkan adalah Rp 4.000.000.000,-

(200 x Rp 20.000.000,-)
Hutang istishna
Rp 4.000.000.000,Persediaan
Rp 3.800.000.000,Pendapatan bersih istishna
Rp 200.000.000,Bila DD Republika menolak menerima rumah-rumah yang dipesan karena
tidak sesuai spesifikasi yang disepakati, maka rumah sebagai barang pesanan
diukur dengan nilai yang lebih rendah antara nilai wajar dari harga pokok
istishna. Selisih yang terjadi diakui sebagai kerugian pada periode berjalan.
Misalnya penurunan nilai (nilai perolehan < nilai wajar) disebabkan

kesalahan spesifikasi sebesar Rp 500.000.000,Kerugian aktiva istishna


Rp 500.000.000,Aktiva istishna dalam penyelesaian
Rp 500.000.000,Jika aktiva istishna yang dipesan BPRS Rizki Ilahi kepada sub-kontraktor
CV. Griya Estetika tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan (BPRS
telah menerima aktiva) oleh pemesan akhir dan BPRS harus mengeluarkan
biaya tambahan untuk memenuhi spesifikasi
a. Saat pengeluaran biaya pemenuhan spesifikasi (misal Rp 100.000.000,-)
Aktiva istishna dalam penyelesaian
Rp 100.000.000,Kas
Rp 100.000.000,b. Saat penyelesaian proses pemenuhan spesifikasi
Persediaan istishna
Rp 100.000.000,Aktiva istishna dalam penyelesaian
Rp 100.000.000,-

PSAK 104 tentang Akuntansi Istishna membahas tentang akuntansi istishna


dan istishna paralel dari sudut pandang LKS sebagai penjual dan pembeli. Dalam hal
mengenai proses/alur tagihan (billing) istishna adalah sub-kontraktor akan melakukan
penagihan atas barang pesanan kepada LKS dan selanjutnya LKS melakukan penagihan
kepada pemesan atau pembeli akhir.
Sedangkan pada PSAK 104 tentang Akuntansi Istishna bagian pengakuan
dan pengukuran akuntansi untuk penjual menjelaskan bahwa biaya perolehan istishna
terdiri dari biaya langsung dan tidak langsung. Biaya langsung terdiri dari bahan baku
22

dan tenaga kerja langsung untuk membuat barang pesanan. Biaya tidak langsung terdiri
dari biaya overhead, termasuk biaya akad dan pra-akad. Biaya pra-akad diakui sebagai
beban tangguhan dan diperhitungkan sebagai biaya istishna jika akad disepakati. Tetapi
bila akad tidak disepakati, maka biaya tersebut dibebankan di periode berjalan. Biaya
perolehan istishna yang terjadi selama periode laporan keuangan, diakui sebagai aset
istishna dalam penyelesaian pada saat terjadinya. Beban umum dan administrasi, beban
penjualan, serta biaya riset dan pengembangan tidak termasuk dalam biaya istishna.
Biaya perolehan istishna paralel terdiri dari biaya perolehan barang pesanan
sebesar tagihan produsen atau kontraktor kepada entitas; biaya tidak langsung adalah
biaya overhead, termasuk biaya akad dan pra-akad; dan semua biaya akibat produsen
atau kontraktor tidak dapat memenuhi kewajibannya, bila ada. Biaya perolehan istishna
paralel diakui sebagai aset istishna dalam penyelesaian pada saat diterimanya tagihan
dari produsen atau kontraktor sebesar jumlah tagihan.

23

2. Metode Pengakuan Pendapatan atas Keuntungan Transaksi Istishna


A. Metode Presentase Penyelesaian

Bagian nilai akad yang sebanding dengan pekerjaan yang telah diselesaikan
dalam periode tersebut diakui sebagai pendapatan istishna pada periode yang
bersangkutan;

Bagian margin keuntungan istishna yang diakui selama periode pelaporan


ditambahkan kepada aset istishna palam penyelesaian;

Pada akhir periode harga pokok istishnadiakui sebesar biaya istishna yang
telah dikeluarkan sampai dengan periode tersebut.

Dengan menggunakan kasus UJKS TIJARAH yang melakukan pesanan


pembangunan SDIT Anak Soleh.
Tahun pertama penyelesaian: Harga jual

Rp. 750.000.000,-

Harga Pokok Rp. 300.000.000,Keuntungan

Rp. 450.000.000,-

Sesuai informasi diatas maka tahun pertama mengeluarkan biaya Rp.


200.000.000,-

dan

tahun

kedua

Rp.

100.000.000,-,

dengan

begitu

perhitungannya sebagai berikut:


Tahun ke-1
Persentase Penyelesaian

200/300

Tahun ke-2
x

100% 100/300

100%

=66,66%
Pencatatan Penerimaan Harga ke 750 x 66,66% =500jt

=33,33%
750 x 33,33% =250jt

Pembeli Akhir
Pendapatan Istishna yang diakui 450 x 66,66% =300jt

450 x 33,33% =

(Margin/Keuntungan istishna)

150jt

Atas perhitungan diatas maka jurnal yang dibuat oleh UJKS TIJARAH adalah
sebagai berikut:
Harga Pokok Istishna
Aktiva
Istishna

Tahun ke-1
Rp. 200.000.000,dalam Rp. 300.000.000,-

Tahun ke-2
Rp. 100.000.000,Rp. 150.000.000,-

24

Penyelesaian
Nilai Kontrak Istishna

Rp. 500.000.000,-

Rp. 250.000.000,-

Pada saat UJKAS TIJARAH menerima gedung yang selsesai dibangun,


jurnalnya sebagai berikut:
Persediaan

Rp. 300.000.000,-

Aktiva Istishna dalam penyelesaian

Rp.

300.000.000,Pada saat penyelesaian akad dan penyerahan barang dari UJKS TIJARAH
kepada SDTI Anak Sholeh sebagai pembeli akhir, jurnal yang dibuat adalah:
Termin Istishna

Rp. 300.000.000,-

Persediaan

Rp. 300.000.000,-

B. Metode Akad Selesai

Tidak ada pendapatan istishna yang diakui sampai dengan pekerjaan tersebut
selesai;

Tidak ada harga pokok istishna yang diakui sampai dengan pekerjaan
tersebut selesai;

Tidak ada bagian keuntungan yang diakui dalam istishna ndalam


penyelesaian sampai dengan pekerjaan tersebut selesai;

Pengakuan pendapatan istishna, harga poko istishna, dan keuntungan


dilakukan hanya pada akhir penyelesaian pekerjaan.

Jika menggunakan kasus UJKS TIJARAH maka metode akad selesai bisa
digunakan untuk melakukanperhitungan sebagai berikut:
1. Pada tahun pertama tidak terdapat perhitungan pendapatan
2. Pada tahun kedua terdapat pengakuan biaya dan pendapatan pada saat
selsainya akad yang ditandai dengan penyelesaian barang pesanan. Jurnal
yang dibuat UJKS TIJARAH adalah:
Harga Pokok Istishna
Aktiva Istishna Dalam Penyelesaian

Rp. 300.000.000,Rp. 450.000.000,-

25

Nilai Kontrak Istishna

Rp.

750.000.000,3. Perlakuan akuntansi transaksi Istishna paralel dengan cara pembayaran


tangguh diatur dalam PSAK 104 yaitu biaya perolehan istishna paralel terdiri
dari: (a) biaya perolehan barang pesanan sebesar tagihan produsen/kontraktor
kepada entitas, (b) biaya tidak langsung adalah biaya overhead, termasuk
biaya akad dan pra-akad, (c) semua biaya akibat produsen/ kontraktor tidak
dapat memenuhi kewajibannya, jika ada. Biaya perolehan istishna paralel
diakui sebagai aset istishna dalam penyelesaian pada saat diterimanya
tagihan dari produsen/ kontraktor sebesar jumlah tagihan.
Contoh:
Trnsaksi istishna paralel antara UJKAS TIJARAH, SDIT Anak Sholeh dan
CV. Bangun Indonesia.
Akad Istishna

Akad Istishna paralel

(Nilai Rp 750 jt)


Tahun I
Tahun II

(Nilai Rp 300jt)
Tahun I
Tahun II
200 jt
100jt

a.Termin UJKS kepada CV.


BI
b.Termin

UJKS

kepada 500jt

250jt

SDTIAS
c.Realisasi pembayaran ke

150jt

sub kontraktor
d.Realisasi
penerimaan 450jt

150jt

300jt

tagihan dari SDTIAS


Atas perhitungan diatas maka jurnal yang yang dibuat UJKS TIJARAH
adalah sebagai berikut:
a.
Aktiva

istishna

penyelesaian
Hutang Istishna

Tahun I
dalam Rp. 200.000.000,-

Tahun II
Rp. 100.000.000,-

Rp. 200.000.000,-

Rp. 100.000.000,-

26

b.
Piutang Istishna
Termin Istishna

Tahun I
Rp. 500.000.000,Rp. 500.000.000,-

Tahun II
Rp. 250.000.000,Rp. 250.000.000,-

c.
Kas

Tahun I
Rp. 450.000.000,Rp. 450.000.000,-

Tahun II
Rp. 300.000.000,Rp. 300.000.000,-

d.
Hutang Istishna
Kas

Tahun I
Rp. 150.000.000,Rp. 150.000.000,-

Tahun II
Rp. 150.000.000,Rp. 150.000.000,-

e. Persediaan

Rp. 300.000.000,-

Piutang Istishna

Aktiva Istishna dlm

Rp. 300.000.000,-

pnylsaian
f. Tagihan Termin istishna
Rp. 750.000.000,Persediaan
Pendapatan Bersih

Rp. 300.000.000,Rp. 450.000.000,-

Istishna
Ilustrasi 3. Perlakuan Akuntansi Istishna dengan Cara Pembayaran Setelah Penyerahan
Barang.
PT. Mitra Sarana Sejahtera berencana membangun perumahan bagi PNS Guru di
Magelang. PNS dan Guru yang terdaftar sebagai pembeli adalah 500 orang. Mereka
tidak memiliki dana tunai untuk membeli rumah bertipe 45. PT. MSS

segera

mengajukan penawaran kepada Bank Syariah KARISMA untuk memfasilitasi


pembiayaan para PNS dan Guru tersebut.
Luas Tanah

: 100 m2

Luas Bangunan

: 45 m2

Spesifikasi Kayu

: Kayu Kalimantan

Spesifikasi Tembok

: Batu Bata Plester

Lantai

: Keramik Ornamen (40 x 40 cm)

27

Jumlah Kamar Tidur

: 2 buah

Kamar mandi

: 1 buah

Listrik

: 900 watt

Air

: Sumur (10 meter)

Genting

: Asbes

Harga/unit

: Rp. 156.000.000,-

Jumlah Rumah

: 500 unit

Jangka Waktu Penyerahan: 24 bulan (Target Desember 2009)


Pembayaran Nasabah

: Secara cicilan dengan pemotongan gaji selama 60

Rincian angsuran

: Pokok

bulan
Rp. 2.000.000,-

Margin istishna Rp.


Harga Jual

600.000,-

Rp. 2.600.000,-

Dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebut, Bank Syariah KARISMA


melakukan pemesanan kepada PT.MSS sebagai kontraktor untuk melaksanakan
pembangunan perumahan di Komplek AKMIL CAWANG sejumlah 500 unit.
Spesifikasi Rumah

: Sesuai pesanan pembeli akhir (PNS dan Guru)

Jumlah Rumah

: 500 unit

Harga/unit

: Rp. 120.000.000,-

Total Nilai Kontrak

: Rp. 60.000.000.000,-

Jangka Waktu Penyerahan : 18 bulan (Januari 2008 s/d Juni 2009)


Pembayaran

: Termin I sebesar Rp. 30.000.000.000,Termin IIsebesarRp. 20.000.000.000,Termin III

sebesar Rp. 10.000.000.000,-

Informasi tambahan:
1. Pada bulan ke-12 (Desember 2008), PT. MSS berhasil menyelesaikan 350
unit rumah yang dipesan Bank dan segera diserahkan ke pada Bank 150

28

rumah berikutnya yang direncanakan akan diterima bulan ke-18 (Juni


2009).
2. Pada waktu yang sama rumah tersebut segera diserahkan kepada para
pembeli (PNS dan Guru) sesuai nomor antrian pembelian rumah (1 350).
Perlakuan Akuntansi Pembeli (Bank Syariah Karisma sebagai pembeli)
1. Tanggal

Januari

2008

ditandatangani

kesepakatan

transaksi

Istishnaanata Bank dengan PT. MSS sebanyak 500 rumah. Atas


kesepakatan tersebut, tanggal 10 Januari 2008 PT. MSS mengirimkan
tagihan pada Bank dan dilakukan pembayaran Termin I sebesar RP.
300.000.000.000,Aktiva

Istishna

dalam Rp.

Penyelesaian
Rekening PT. MSS

30.000.000.000,Rp.

30.000.000.000,2. Tanggal 30 Juni 2008 Bank menerima tagihan dan dilakukan pembayaran
Termin II kepada PT. MSS sebesar Rp. 20.000.000.000,Aktiva

Istishna

dalam Rp.

Penyelesaian
Rekening PT. MSS

20.000.000.000,Rp.

20.000.000.000,3. Tanggal 21 Desember 2008 PT MSS menyerahkan 350 unit rumah yang
sudah siap pakai kepada Bank dengan nilai persediaan (350 x
120.000.000 = Rp. 42.000.000.000,-).
Persediaan/Aktiva istishna

Rp.
30.000.000.000,-

Aktiva Istishna dalam

Rp.

Penyelesaian
30.000.000.000,4. Tanggal 28 Desember Bank menyerahkan 350 unit rumah kepada PNS
dan Guru bernomor urut 1 350.

29

Piutang istishna

Rp.
54.600.000.000,-

Persediaan/Aktiva istishna

Rp.

Margin istishna Tangguhan

42.000.000.000,Rp.

12.600.000.000,5. Tanggal 22 Februari 2009 Bank menerima tagihan dan dilakukan


pembayaran termin III kepada PT. MSS sebesar Rp. 10.000.000.000,Aktiva

Istishna

dalam Rp.

Penyelesaian
Rekening PT. MSS

10.000.000.000,Rp.

10.000.000.000,6. Tanggal 18 Juni 2009 MSS menyerahkan 150 unit rumah siap pakai
kepada Bank dengan nilai persediaan (150 x 120000.000 = Rp.
18.000.000.000,-)
Persediaan/Aktiva istishna

Rp.
18.000.000.000,-

Aktiva Istishna dalam

Rp.

Penyelesaian

18.000.000.000,-

7. Tanggal 25 Juni 2009 Bank menyerahkan 150 unit rumah siap pakai
kepada PNS dan Guru bernomor urut 351-500.
Piutang istishna

Rp.
23.400.000.000,-

Persediaan/Aktiva istishna

Rp.

Margin istishna Tangguhan

18.000.000.000,Rp.
5.400.000.000,-

8. Pembayaran angsuran sama dengan jurnal pembayaran anggaran dalam


Murabahah, sebagai berikut :

30

a. Penerimaan secara kas/tunai pembayaran angsuran oleh nasabah


sebesar Rp. 2.600.000,- / bulan (pokok Rp. 2.000.000 dan
keuntungan Rp. 600.000)
Rekening Nasabah

Rp.
2.600.000,-

Rekening PT. MSS

Rp.
2.600.000,-

Margin istishna Tangguhan

Rp.
600.000,-

Pendapatan istishna

Rp.
600.000,-

b. Pengakuan pendapatan atas angsuran yang tidak diterima


(menunggak) yang dilakukan pada akhir bulan (jika menggunakan
accrual basis)
Piutang istishna jth tempo

Rp.
2.600.000,-

Piutang istishna

Rp.
2.600.000,-

Margin istishna Tangguhan

Rp.
600.000,-

Piutang istishna

Rp.
600.000,-

c. Penerimaan secara kas pembayaran angsuran yang menunggak.


Rekening Nasabah

Rp.
2.600.000,-

Piutang istishna Jatuh Tempo

Rp.
2.600.000,-

31

Ilustrasi 4. Penyelesaian Awal


Dalam catatan administrasi pembiayaan BPRS AMWALUNA tercatat bahwa
piutang istishna dari nasabah Saudari NABILA adalah Rp. 900.000.000,- yang akan
jatuh tempo tanggal 30 Juni 2008. Piutang tersebut terdiri dari harga pokok barang
pesanan Rp. 650.000.000,- dan margin istishna yang belum direalisasikan sebesar Rp.
250.000.000,-. Tanggal 21 Juni 2008 Sdri. NABILA melunasi seluruh pembiayaan
istishna kepada BPRS AMWALUNA (LEBIH CEPAT 9HARI DARI JATUH TEMPO).
Atas perhitungan terhadap saldo pembiayaan dan kondisi Internal BPRS AMWALUNA,
maka Sdri. Nabila diberi potongan pembayaran Rp. 100.000.000,-. Jurnal-jurnal
berkaitan dengan transaksi tersebut antara lain:
1. Jika pada saat penyelesaian, BPRS AMWALUNA mengurangi piutang istishna
dan margin/pendapatan istishna.
Kas
Margin istishna Tangguhan
Pendapatan istishna
Piutang istishna

Rp. 800.000.000,Rp. 250.000.000,Rp. 150.000.000,Rp. 900.000.000,-

2. Jika setelah Penyelesaian, BPRS AMWALUNA terlebih dahulu menerima


pelunasan piutang istishna dari Sdri. NABILA, kemudian BPRS membayar
muqosah kepada nasabah dengan mengrangi keuntungan istishna.
Kas/ Rekening Nasabah
Margin istishna Tangguhan
Pendapatan istishna
Piutang istishna

Rp. 900.000.000,Rp. 250.000.000,-

Beban Muqosah Istishna


Kas/ Rekening NABILA

Rp. 100.000.000,-

Rp. 250.000.000,Rp. 900.000.000,-

Rp. 100.000.000,-

Ilustrasi 5. Perubahan Pesanan dan Klaim Tambahan


Tuan Fajar memesanrumah melalui Bank Syariah AMWALUNA dengan akad
Istishna senilai Rp. 500.000.000,-. Pada akhir masa akad ternyata terdapat perubahan

32

harga material sehingga mengakibatkan nilai kontrak berubah dan hal tersebut sudah
disepakati dalam akad. Nilai rumah yang dipesan oleh Tuan Fajar menjadi Rp.
600.000.000,- sebagai akibat penyesuaian harga-harga material meningkat. Maka Bank
Syariah AMWALUNA mencatat klaim tambahan sesuai dengan kesepakatan:
Biaya Istishna (klaim tambahan)
Pendapatan istishna

Rp. 100.000.000,Rp. 100.000.000,-

Dalam kasus ini, Bank tidak memperhitungkan tambahan margin sehubungan


kenaikan harga material walaupun harga pokok barang berubah. Hal ini sesuai dengan
kesepakatan Tuan Fajar dan Bank dimana perubahan harga-harga material diakomodasi
namun tidak mempengaruhi margin istishna yang diterima oleh Bank.
Ilustrasi 6. LKS Sebagai Pembeli
Dalam PSAK 104 khususnya paragraf 36 42 menjelaskan akuntansi Istishna
dari sudut pandang pembeli, antara lain:
1. Pembeli mengakui aset Istishna dalam penyelesaian sebesar jumlah termin yang
ditagih oleh penjual dan sekaligus mengakui hutang istishna kepada penjual.
2. Aset istishna yang diperoleh melalui transaksi istishna dengan pembayaran
tangguh lebih dari satu tahun diakui sebesar biaya perolehan tunai. Selisih antara
harga beli yang disepakati dalam akad istishna tangguh dan biaya perolehan
tunai diakui sebagai beban istishna tangguhan.
3. Beban istishna tangguhan diamortisasi secara proporsional sesuai dengan porsi
pelunasan hutang istishna.
4. Jika barang terlambat diserahkan karena kelalaian atau kesalahan penjual dan
mengakibatkan kerugian pembeli, maka kerugian itu dikurangkan dari garansi
penyelesaian proyek, maka selisihnya akan diakui sebagai piutang jatuh tempo
kepada penjual dan jika diperlukan dibentuk penyisihan kerugian piutang.
Biaya Kerugian Keterlambatan
xx
Kas/ Hutang/ Rekenang

xx

Pembelian

33

Pada saat yang sama, LKS juga mengajukan klaim kepada sub kontraktor selaku
penjual dan mencatat dalam jurnal sebagai berikut:
Piutang Istishna Jatuh Tempo
Pendapatan Nonoperasi

xx
xx

5. Jika pembeli menolak menerima barang pesanan karena tidak sesuai dengan
spesifikasi dan tidak memperoleh kembali seluruh jumlah uang yang telah
dibayarkan kepada penjual, maka jumlah yang belum diperoleh kembali diakui
sebagai piutang jatuh tempo kepada penjual dan jika diperlukan dibentuk
penyisihan kerugian piutang.
Piutang Istishna Jatuh Tempo
Aktiva Istishna

xx

Beban penyisihan Kerugian Piutang


Penyisihan Piutang Istishna

xx

xx

xx

6. Jika pembeli menerima barang yang tidak sesuai dengan spesifikasi maka barang
tersebut diukur dengan nilai yang lebih rendah antara nilai wajar dan biaya
perolehan. Selisih yang terjadi diakui sebagai kerugian dalam laporan laba rugi
LKS pada periode berjalan.
Kerugian Penurunan Aktiva Istishna
Persediaan/ Aktiva Istishna

xx
xx

7. Dalam Istishna paralel, jika pembeli menolak menerima barang pesanan karena
tidak sesuai dengan spesifikasi, maka barang akan dinilai rendah antara nilai
wajar dan harga pokok Istishna.Selisih yang terjadi diakui sebagai kerugian pada
periode berjalan.
Ilustrasi7. Beban Pemeliharaan dan Penjaminan Barang Pesanan
Biaya perawatan dan jaminan dari barang pesanan dapat dicatat dengan menggunakan
metode berikut:

34

a. Accrual Basis, yaitu biaya perawatan dan jaminan yang diperkirakan akan terjadi
untuk masing-masing periode dihitung dan disesuaikan dengan pendapatan
Istishna yang diakui untuk periode yang sama. Ketika terjadi pengeluaran biaya
perawatan dan jaminan, maka biaya bisa dibebankan dengan menggunakan
perkiraan Cadangan Perawatan dan Jaminan.
b. Cash basis, yaitu perawatan dan jaminan yang dibebankan pada pendapatan
Istishna untuk periode berjalan laporan keuangan saat terjadinya transaksi.
Accrual basis dipilih transaksi Istishna karena memberikan perhitingan perkiraan
lebih baik dari pendapatan dan biaya. Sedaangkan Cash basis dipilih untuk kontrak
Istishna paralel berdasar prinsip materialitas karena terdapat biaya-biaya yang
ditanggung sub kontraktor. Pada transaksi Istishna, LKS dapat membentuk
penyisihan sebesar perkiraan biaya pemeliharaan dan penjaminan. Jurnal yang
dicatat:
Beban penyisihan Aktiva Istishna
Penyisihan Aktiva Istishna

xx
xx

35