Anda di halaman 1dari 11

DAFTAR ISI

BAB I

2

 

PENDAHULUAN

2

1.1.

Latar Belakang

2

1. 2.

Isu dan Konteks

4

1. 3.

Masalah

6

1. 4.

Kajian Preseden

8

1.

4. 1. Pruitt Igoe

8

1. Objek Usulan

5.

10

1.5.1. Pengertian dan Tujuan Objek

11

1.5.2. Lingkup dan Batasan Objek

11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tempat tinggal merupakan salah satu dari kebutuhan dasar manusia, sejajar dengan makanan, pendidikan dan kesehatan. Kebutuhan akan tempat tinggal juga merupakan salah satu dari apa yang seharusnya diberikan oleh Negara. Dalam konstitusi Negara Indonesia, hak untuk bertempat tinggal diatur dalam hukum tertulis dan dijamin oleh Negara.

Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan

mendapalkan

memperoleh

pelayanan kesehatan

lingkungan

hidup

yang

baik

dan

sehat

serta

berhak

- UUD 45 pasal 28H ayat 1

Setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan/atau menikmati dan/atau memiliki rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur.”

- UU nomor 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman pasal 5 poin 1

Oleh karenanya, pemerintah Indonesia bertanggung jawab terhadap penyediaan rumah tinggal yang layak dan sehat untuk seluruh warganya. Namun, bagaimanapun juga hal ini bukan merupakan sebuah perkara mudah sebagaimana Indonesia merupakan Negara ke empat terpadat di dunia dimana pada tahun 2000, penduduk Indonesia mencapai 209 juta jiwa. Meskipun Indonesia telah mencoba untuk mengurangi angka pertumbuhan penduduk, pertumbuhan penduduk pada daerah perkotaan masih tinggi, yaitu 5% pertahun. Pada tahun 2000, 40% dari populasi Indonesia tinggal di daerah kota. Presentasi tersebut diperkirakan akan terus tumbuh setiap tahunnya dan di prediksikan pada tahun 2025, populasi daerah perkotaan akan mencapai 61% (ADB, 2001).

Seiring dengan perkembangan jumlah penduduk, berkembang juga kebutuhan akan rumah tinggal. Sehingga, dapat diprediksikan bahwa kebutuhan rumah tinggal di Indonesia dapat mencapai hingga 800.000 unit per tahunnya. Prediksi merupakan akumulasi dari backlog dalam penyediaan rumah tinggal yang tidak terpenuhi sebelumnya; 5.93 juta rumah pada tahun 2003. Jika pemerintah menyediakan

1.150.000 rumah per tahun, kebutuhan rumah untuk seluruh populasi Indonesia akan terpenuhi dalam 17 tahun (www.satujutarumah.com).

Pada umumnya, dari perumahan yang ada, terdapat 14,5 juta atau 28,22 persen rumah yang tidak memenuhi standart tempat tinggal. Di samping itu, terdapat daerah kumuh sebanyak 10,065 area yang dihuni oleh sekitar 17,2 juta orang, tersebar di 10.000 lokasi, dengan luas besar sekitar 47.4 juta hektar. Sementara itu, Asian Development Bank (ADB) membuat estimasi kebutuhan perumahan secara rinci seperti yang diilustrasikan pada tabel 1.

Tabel 1. Estimasi Kebutuhan Rumah Tinggal di Indonesia

seperti yang diilustrasikan pada tabel 1. Tabel 1. Estimasi Kebutuhan Rumah Tinggal di Indonesia Sumber :

Sumber : ADB, 2001

Seperti pada tabel 1, menurut ADB antara tahun 2000 dan 2010 penduduk perkotaan akan menjadi 50 persen dari total penduduk Indonesia. Lalu, pada akhir tahun 2020, persentase penduduk perkotaan akan menjadi 60 persen atau 217.47 juta. Hal tersebut akan berujung pada peningkatan permintaan tempat tinggal.

Urbanisasi dan pertumbuhan penduduk di kota-kota besar, khususnya di Jawa, akan menimbulkan berbagai masalah, terutama pada sektor rumah tinggal, transportasi, sanitasi, dan lingkungan yang sehat. Sebagai pulau utama, Jawa adalah rumah bagi 120 juta orang atau 60 persen dari populasi Negara sehingga masalah masalah tersebut kerap terjadi di kota kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan lainnya.

Dengan ketidakmerataannya persebaran penduduk di Indonesia dan pertumbuhan penduduk yang pesat, membuat pemerintah kota kota besar di Jawa berpikir keras supaya terwujud penyelesaian yang cepat dan tepat serta efektif. Sehingga muncul lah solusi mujarab yaitu rumah susun, yang status kepemilikannya terdiri dari rusunawa (rumah susun sederhana sewa) dan rusunami (rumah susun sederhana milik).

Rumah susun sederhana ini kemudian banyak bermunculan di kota kota besar di pulau Jawa. Tidak sedikit penghuni di daerah tidak layak huni perkotaan dipindahkan ke rumah susun sederhana oleh pemerintah ini. Namun, tidak sedikit dari mereka yang berpindah ke rumah susun tidak betah dan memutuskan untuk pindah lagi, sehingga seakan akan rumah susun hanyalah sebuah transit penghuni daerah kumuh untuk berpindah ke daerah kumuh yang lain.

Beberapa dari mereka yang memutuskan untuk menetap pun memiliki banyak masalah, seperti ketersediaan air bersih bahkan kerap dijumpai tindakan kriminalitas dari kelas kecil hingga yang kelas kakap sehingga rumah susun sederhana semakin jauh dari citra yang baik.

1. 2. Isu dan Konteks

Tempat tinggal, tempat bernaung, rumah atau yang selanjutnya disebut dengan housing merujuk kepada produk fisik dan proses pencapaiannya. Housing dipersepsikan menurut performanya dan kegunaannya yang bervariasi dengan tingkatan kenyamanan dan kebersihan yang diberikan. Housing juga berarti privasi dan suatu ungkapan dari cara hidup, aspirasi dan sosial budaya pengguna (maupun suatu komunitas dan bahkan lebih luas). Oleh karenanya, housing hakikatnya

memberikan tempat berlindung yang nyaman, dengan ketersediaan infrastruktur, servis dan fasilitas yang memenuhi kebutuhan pengguna.

Arsitek, planner, kontraktor, serta pihak pihak yang terlibat dalam penyediaan rumah tinggal perlu memahami bahwa nilai dalam sebuah rumah bukanlah hanya sebuah tempat tinggal saja, tetapi seharusnya menanungi keberagaman dari kebutuhan seorang manusia.

Good quality housing design must be able to respond to a range of human needs

- Heywood, 2004; Imrie, 2004

Menurut Blauw (1994), rumah mempunyai setidaknya lima fungsi,

1. Tempat berlindung, yang diyakini sebagai fungsi paling dasar dari rumah dan perumahan

2. Fungsi utilitas, fasilitas yang menaungi pengguna dan lingkungan, seperti memasak dan mencuci

3. Domain function, dimana rumah merupakan teritori dari penghuni

4. Fungsi sosial, fasilitas untuk berkomunikasi, dari dalam rumah itu sendiri hingga ke dunia luar

5. Fungsi simbolik atau kultur dari rumah itu sendiri

Housing sebagai tempat berlindung mencerminkan tingkatan hidup, kesejahteraan, keamanan, kepribadian dan budaya (Silas, 2001). Sebuah rumah tidak dapat serta merta dilihat sebagai sebuah tempat untuk tidur dan fungsi dalam fasilitas serta infrastruktur saja, tetapi rumah melibatkan sebuah proses bermukim dan fungsi sebagaimana manusia berkomunikasi dengan lingkungannya (tetangga, komunitas, alam sekitar). Oleh karena itu, housing dapat diartikan sebagai sarana untuk aktualisasi diri individu serta sarana untuk pengintegrasian lingkungan.

Masalah perumahan telah menjadi sebuah isu global pada perkembangan kota, khususnya kurangnya ketersediaan rumah bagi kaum miskin di Third World Countries. Masalah masalah ini mencakup kesenjangan antara pasokan dan permintaan, kurangnya kualitas perumahan dan permukiman, masalah keterjangkauan, masalah sosial-ekonomi dan kecocokan budaya, dll. Masalah ini akan meningkat kedepannya dikarenakan migrasi dan jumlah orang di daerah perkotaan yang meningkat cepat, membutuhkan peningkatan pasokan perumahan.

Dalam kebanyakan kasus, kendala tersebut cenderung membebani para pengembang dalam meningkatkan produksi perumahan untuk memenuhi kebutuhan

perumahan dari kaum miskin di kota (Adams, 1995; Keivani dan Werna, 2001). Kenyataannya, produksi perumahan massal tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan bertabrakan dengan budaya. Sebagian rumah telah disediakan dengan ukuran yang kecil, kualitas desain yang minim, dan servis yang tidak memadai untuk manusia settle (Tunner, 1976; Gelebet, 1998). Selain itu, Lewin (2003) mencatat bahwa rumah yang dibangun dan diberikan langsung kepada penduduk kota hanya sebuah box, tidak dapat memenuhi rumah sebagai ekspresi dari cara hidup dan sebagai proses budaya. Tampaknya bahwa perumahan menjadi jauh di luar jangkauan keluarga miskin perkotaan, dihadapkan oleh masalah keterjangkauan (affordability) dan penyediaan perumahan yang tidak memenuhi kualitas rumah (housing quality).

Housing quality is subjective. Quality is a dimension of housing that relates to implications for human beings

- Heywood, 2004; Garc ia Mira, 2005; Apparicio et al., 2008

Upaya untuk mengukur kualitas perumahan diperumit oleh karakteristik sosial, ekonomi dan politik masyarakat. Namun, pada dasarnya pengukuran kualitas rumah mempertimbangkan struktur fisik tempat tinggal dan fasilitas yang ditawarkan oleh rumah, termasuk fasilitas seperti air, listrik, ukuran, jumlah kamar, ketersediaan dapur, toilet dan mandi fasilitas; serta lingkungan fisik, termasuk lokasi.

Telah ada studi ekstensif untuk penyediaan perumahan yang terjangkau di Negara - negara berkembang.

The research shows that lack of standard meaning in housing has a correlation with the provision of quality housing

- Batley, 1996; Godish, 2001; Heywood, 2004; Karsten, 2007

Pemahaman yang minim mengenai rumah biasanya menghasilkan produksi rumah yang tidak berguna, dibawah standar dan membahayakan. Waterson (1990) berargumen bahwa nilai sebuah rumah adalah ketika rumah tersebut cocok dengan penghuni, memuaskan cara hidup penghuni juga dengan nilai budayanya.

1. 3. Masalah

Rumah susun merupakan wujud efektifitas dan optimalisasi ruang pemukiman di perkotaan. Teknologi sangat berperan, kebebasan memilih bentuk dan keunikan rumah semakin terbatas, luas ruang hunian yang terbatas dan tidak dapat diperluas, tidak ada halaman, pola hunian dan hidup bertetangga yang sangat padat dan rapat,

keharusan menggunakan tangga yang kesemuanya memerlukan sikap dan kebiasaan yang berbeda dengan rumah tinggal biasa (landed house).

Dengan prinsip prinsip keterjangkauan dan target kuantitas dalam pembangunan rumah susun sederhana, makan pendekatan ekonomi atau rumah sebagai komoditas menjadi sangat dominan dan menjadi dasar penentuan tipe atau luasan satuan rumah susun serta fasilitas fasilitasnya. Akhibatnya apa yang dibangun dan ditawarkan berbeda dengan yang dibutuhkan penghuni, sehingga menimbulkan masalah masalah baru dalam proses penghunian.

Hasil penelitian dampak prisikologis dan sosiologis penghuni rumah susun terdapat beberapa permasalahan (Komarudin, 1997 : 175-176) antara lain : gangguan akibat keterbatasan luasan satuan rumah susun, keadaan rumah susun berbeda dengan harapan penghuni, kekurangan fasilitas, kenyamanan ruang kurang, lingkungan sosial yang kurang memadai untuk pendidikan anak. Akibat luas satuan rumah susun yang kecil, banyak ruang ruang yang bukan miliknya digunakan untuk perluasan rumahnya sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan ruang. Moersid (1996 : 3) menyebutnya sebagai ruang ruang imajiner sebagai kompensasi kekurangan ruang. Akibatnya satuan rumah susun dan ruang ruang luarnya menjadi kumuh, tak sesuai dengan konsep perancangan awalnya.

Tata ruang yang ada pada satuan rumah susun kurang memberikan peluang bagi penghuni untuk menyesuaikan ruang ruangnya sesuai dengan perkembangan hidupnya yang dinamis. Keinginan penghuni rumah sebagai proses bermukim tak terakomodasi. Meskipun satuan rumah susun tipenya berbeda, tampilan tampak muka rumahnya sama, status pribadi penghuni tidak terlihat, sehingga rumah tidak mencerminkan identitas dan citra pribadi penghuninya.

Komarudin (1997 : 178) menyatakan pula bahwa ternyata hanya 34% - 39% penghuni yang menyatakan ingin tetap tinggal di rumah susun, 23% ingin pindah ke rumah biasa karena ingin memiliki pekarangan, 33% ingin pindah kerumah yang kondisinya lebih baik dan sisanya tidak mau menghuni rumah susun. Sedangkan menurut DR. Paulus Wiroutomo (Konstruksi, April 1995 : 89) bahwa banyak penghuni yang pindah karena kurangnya sosialisasi atau pembudayaan, kurang menjamin adanya kelanjutan aspek sosial dan ekonomi serta harga yang tidak terjangkau.

1. 4. Kajian Preseden

1. 4. 1. Pruitt Igoe Pruitt Igoe-adalah proyek perumahan perkotaan besar pertama diduduki pada tahun 1954 di kota Amerika Serikat, St. Louis, Missouri. Kondisi hidup di Pruitt Igoe- mulai menurun segera setelah selesai pada tahun 1956. Pada akhir 1960-an, kompleks telah menjadi berita internasional karena kemiskinan, kejahatan, dan segregasi. 33 bangunan yang dihancurkan dengan bahan peledak di pertengahan 1970-an, dan proyek telah menjadi ikon pembaharuan perkotaan dan kegagalan perencanaan kebijakan publik.

Gambar 1.01. Pruitt - Igoe

perencanaan kebijakan publik. Gambar 1.01. Pruitt - Igoe Sumber : Wikipedia.org Menurut Heimsath (1977:11) menyebut

Sumber : Wikipedia.org

Menurut Heimsath (1977:11) menyebut penghancuran apartemen Pruitt Igoe sebagai tangisan mental sebagai akibat menurunnya lingkungan, karena tidak ada pendekatan perilaku dalam proses perancangannya dan menurutnya pada perancangan rumah susun sederhana yang perlu diperhatikan adalah melestarikan kebutuhan atau keinginan penghuni atau disebutnya dengan kesehatan lingkungan serta menyelesaikan masalah sosial penghuninya.

Pruitt Igoe akhirnya tidak dapat menyelesaikan masalah yang ada di lingkungan tersebut, solusi arsitektural yang dibuat walikota dan pemerintah St. Louis tidak dapat merubah keadaan dan perilaku masyarakat kota tersebut malah menimbulkan masyarakat semakin memburuk dengan perubahan perilaku akibat dibangunnya Pruitt Igoe

Di dalam banguanan Pruitt Igoe terdapat banyak perilaku yang terjadi, perilaku- perilaku tersebut terjadi akibat kesalahan dalam berbagai macam faktor diantaranya lingkungan, material bahan bangunan, faktor ekonomi, faktor strata sosial, dan dari desain arsitektural bangunan itu sendiri.

Penghuni Pruitt Igoe merasa ia terbebani dengan adanya Pruitt Igoe dan harus tinggal disana, rakyat dengan ekonomi menegah kebawah bahwa mereka ditempatkan pada Pruitt Igoe karena hukuman atas keadaan mereka yang tidak mempunyai biaya hidup untuk menyewa tempat tinggal yang mahal dan layak, oleh karena itu ia memperalkukan Pruitt Igoe sebagai tempat yang tidak digunakan selayaknya, sebagaimana ia apartemen, yang berakibat banyaknya tindakan kriminalitas didalamnya.

Inovasi yang diberikan kurang memperhatikan perilaku pengguna, seperti Skip stop elevator yang dirasa dapat memecahkan dan menguntungkan dari kedua belah pihak yaitu menurunkan biaya anggaran namun tetap menggunakan teknologi canggih (elevator). Namun sangat disayangkan dengan perancangan yang seolah memaksakan keberadaannya ini skip stop elevator menimbulakn dampak negatif. Anak-anak kecil kesusahan untuk mencapai lantai kamar apartemen nya pada saat darurat dan ingin buang air kecil, akibatnya elevator kumuh dan bau urin karena anak-anak kecil tersebut melakukan aktivitas yang tidak seharusnya dilakukan di dalam sebuah elevator. Konsep skip stop elevator yang hanya berhenti pada kelipatan 3 lantai tersebut menimbulkan penghuni yang ada di dalamnya memanfaatkan lorong-lorong sekat antar lantai yang tidak terjamah elevator digunakan sebagai tempat perampokan dan pencurian dan tak jarang pula pemerkosaan.

Dari studi kasus di atas dapat disimpulkan bahwa perancangan arsitektur yang bermakna adalah yang memasukan perilaku dalam persyaratan dan tujuan perancangannya karena berhubungan erat dengan bangunan. Perancangan apartemen yang bertujuan meningkatkan mutu bermukim penghuni tidak akan berhasil jika tidak berhubungan dengan kebutuhan dan budaya penghuni.

1. 5. Objek Usulan

Permasalah-permasalahan di atas dapat terjawab apabila dalam merancang, arsitek memperhatikan beberapa hal yang berkaitan dengan motivasi dan kebutuhan pengguna. Hal tersebut didukung dengan manifesto dan teori yang berkaitan dengan isu yang mengarah kepada objek;

1. Thomas Rapopport, (1969) Rumah adalah suatu gejala structural yang bentuk dan organisasinya sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya yang dipunyai serta erat hubungannya dengan kehidupan penghuninya. Manusia sebagai penghuni, rumah, budaya serta lingkungannya merupakan satu kesatuan yang erat, sehingga rumah sebagai lingkungan binaan merupakan refleksi dari kekuatan sosial budaya seperti kepercayaan, hubungan keluarga, organisasi sosial serta interaksi sosial antar individu. Hubungan penghuni dengan rumahnya merupakan hubungan saling ketergantungan (transactional interdepency), yaitu manusia memperngatuhi rumah dan sebaliknya rumah mempengaruhi penghuninya.

2. Abraham Maslow Teori tingkat kebutuhan dari Abraham Maslow bersama sama dengan Kurt Goldstein dalam hubungan dengan interaksi kebutuhan rumah dapat digambarkan sebagai berikut,

Gambar 1.02. Tingkat Kebutuhan Abraham Maslow

rumah dapat digambarkan sebagai berikut, Gambar 1.02. Tingkat Kebutuhan Abraham Maslow Sumber : Newmark (1977 :

Sumber : Newmark (1977 : 13)

Berdasarkan teori dan manifesto di atas, maka objek yang diusulkan oleh penulis adalah collective community housing

1.5.1. Pengertian dan Tujuan Objek Dalam memberikan sebuah tempat tinggal yang layak dan dapat diterima oleh masyarakat Indonesia, dibutuhkan pendekatan yang berkaitan dengan perilaku dan budaya masyarakat Indonesia. Ada beberapa kegiatan yang tidak dapat diwadahi oleh rumah susun sederhana yang kerap tidak membuat penghuni merasa nyaman bermukim dan menetap.

Berpegang kepada kegiatan kegiatan pada land housing yang masih dapat dibawa ke dalam vertical housing sehingga memperkecil adaptasi yang harus dilewati oleh penghuni dan terpilihlah collective community housing sebagai judul rancangan, collective berarti gabungan dari keberagaman kebutuhan manusia sebagai individu individu, community yang berarti perilaku yang di amati tidak hanya berfokuskan kepada manusianya saja melainkan kepada interaksi antara sesama manusia maupun lingkungan, housing merajuk kepada proses bermukim manusia.

1.5.2. Lingkup dan Batasan Objek

Manusia sebagai penghuni, meliputi antara lain : peran rumah tinggal pada kehidupan manusia, motivasi dan kebutuhan yang harus dipenuhi dan sesuai dengan aspirasi penghuni, kegiatan dan tipologi penghuni serta aspek aspek rumah tinggal yang nantinya akan dibatasi lagi oleh lokasi

Perilaku dan interaksi dengan lingkungan sekitarnya (Rappoport, 1977 : 22) meliputi persepsi, hubungan perilaku dengan lingkungan binaan serta penyesuaian perilaku seperti adaptasi, adjustment dan kondisi homeostatis

Tata ruang meliputi aspek aspek tata ruang, persyaratan rumah sehat serta hubungannya dengan kesesakan dan kepadatan. Tata ruang merupakan perhatian perancangan agar dapat diperoleh kenyamanan psikologis dan fisiologis bagi penghuni

Lokasi berada pada daerah yang padat dan kumuh, masyarakat pada daerah tersebut rata rata memiliki sumber penghasilan yang sama dan berada pada tingkat ekonomi yang sama.