Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Degenerasi kornea adalah pemecahan dan penipisan kornea yang merupakan gangguan
yang cukup langka yang mungkin disebabkan oleh kondisi genetik atau lingkungan. Kebanyakan
gangguan yang menyebabkan degenerasi kornea diwariskan. Di antara penyakit ini turuntemurun adalah dua yang paling umum, keratoconus dan Fuchs endotel distrofi.

BAB II PEMBAHASAN
2.1.

Definisi
Degenerasi kornea adalah pemecahan dan penipisan kornea yang merupakan suatu

gangguan yang cukup langka yang mungkin disebabkan oleh kondisi genetik atau lingkungan.
Kebanyakan gangguan yang menyebabkan degenerasi kornea . Di antara penyakit ini turuntemurun adalah dua yang paling umum, keratoconus dan Fuchs endotel distrofi.1
2.2.

Etiologi
Penyebab pasti degenerasi kornea belum diketahui namun di duga sebagai penyebab auto

imun berhubungan dengan system kekebalan tubuh dan dapat terjadi pada semua umur.1
2.2.1 Anatomi dan fisiologi kornea
Kornea merupakan jaringan yang avaskular, bersifat transparan, berukuran
11- 12 mm horizontal dan 10-11 mm vertikal, serta memiliki indeks refraksi 1,37.
Kornea memberikan kontribusi 74 % atau setara dengan 43,25 dioptri (D) dari total
58,60 kekuatan dioptri mata manusia. Dalam nutrisinya, kornea bergantung pada
difusi glukosa dari aqueus humor dan oksigen yang berdifusi melalui lapisan air
mata. Sebagai tambahan, kornea perifer disuplai oksigen dari sirkulasi limbus.
Kornea adalah salah satu organ tubuh yang memiliki densitas ujung-ujung saraf
terbanyak dan sensitifitasnya adalah 100 kali jika dibandingkan dengan konjungtiva
( AAO, 2008). Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 550 m, diameter
horizontalnya sekitar 11,75 mm dan vertikalnya 10,6 mm. 2 3

Gambar 1.0 Anatomi Kornea Mata


Fisiologi Kornea

Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui


berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan oleh strukturnya
yang uniform, avaskuler dan deturgesensi. Deturgesensi atau keadaan dehidrasi
relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel
dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Dalam mekanisme dehidrasi ini, endotel
jauh lebih penting daripada epitel. Kerusakan kimiawi atau fisis pada endotel
berdampak jauh lebih parah daripada kerusakan pada epitel. Kerusakan sel-sel
endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan. 2
Penguapan air dari lapisan air mata prekorneal menghasilkan hipertonisitas
ringan pada lapisan air mata tersebut. Hal ini mungkin merupakan faktor lain dalam
menarik air dari stroma kornea superfisial dan membantu mempertahankan
keadaan dehidrasi. Penetrasi kornea utuh oleh obat bersifat bifasik. Substansi larutlemak dapat melalui epitel utuh dan substansi larut-air dapat melalui stroma yang
utuh. Agar dapat melalui kornea, obat harus larut-lemak dan larut-air sekaligus.
Epitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme kedalam
kornea. Namun sekali kornea ini cedera, stroma yang avaskular dan membran
Bowman mudah terkena infeksi oleh berbagai macam organisme, seperti bakteri,
virus, amuba, dan jamur (Biswell, 2010).2

2.3. Epidemiologi
Sumber WHO menyebutkan 285 juta orang diperkirakan mengalami kebutaan di seluruh
dunia: 39 juta buta dan 246 memiliki low vision.Sekitar 90% dari dunia tunanetra hidup dalam
pengaturan berpenghasilan rendah.82% dari orang yang hidup dengan kebutaan yang berusia 50 dan di
atas.Secara global, kesalahan bias dikoreksi adalah penyebab utama gangguan penglihatan sedang dan
berat; katarak tetap penyebab utama kebutaan di negara-negara berpenghasilan menengah dan
rendah.Jumlah orang tunanetra dari penyakit menular telah berkurang dalam 20 tahun terakhir menurut
perkiraan kerja global.80% dari semua gangguan penglihatan dapat dicegah atau disembuhkan. 3

Gambar :

Penelitian penyakit mata yang menyebabkan gangguan penglihatan merupakan ilmu yang
terus berkembang. Sorsby melaporkan insiden dan penyebab kebutaan di Inggris dan Wales
selama 1948 1962, namun laporan ini dibawah perkiraan prevalensi pada populasi yang
sebenarnya karena hanya melibatkan populasi pada saat pencatatan.Pada tahun 1978 WHO
mencanangkan program pencegahan kebutaan dan penekanannya pada model epidemiologi
untuk memperkirakan kebutaan dengan menggunakan survei dengan metode yang sederhana dan
murah. Kelemahan terbesar pada pendekatan ini adalah tidak termasuk refraksi, inderek
ophthalmoskop, fotografi, dan lapangan pandang. Pada tahun 1987 WHO memperkirakan 27
35 juta penduduk dunia mengalami gangguan penglihatan (< 20/400) dan hampir 75 80%
tinggal di Asia dan Afrika. Perkiraan konservatif pada kebutaan anak seluruh dunia sampai 1 juta
anak.
Dengan menggunakan perkiraan itu, prevalensi kebutaan orang dewasa di dunia
mendekati 26 34 juta. Belakangan ini WHO memperkirakan 135 juta dari seluruh penduduk
dunia mengalami gangguan penglihatan (1%. Keadaan ini bervariasi dari negara ke negara, yang
paling umum adalah defisiensi Vitamin A pada anak-anak, trauma pada orang dewasa, sama
dengan katarak, trachoma, dan glaukoma pada orang deDi India pada suatu laporan penelitian
penyakit mata tahun 1992 oleh National Programme for Control of Blindness (NPCB)
menyatakan bahwa penyakit kornea mengakibatkan kebutaan 23,6%, namum penelitian ini tidak
melakukan pemeriksaan fundus detail atau pemeriksaan lapang pandangan pada metodologinya.

Pada penelitian National Andhra Pradesh Eye Disease Study (APEDS), yang melakukan
pemeriksaan detail dilatasi, fundus fotografi, dan lapang pandangan hasilnya berbeda yakni
20,1%.12 Di Tanzania dilaporkan tahun 1990 dari 1847 sampel terdapat kelainan kornea
1,26%.12 Hasil Survey Morbiditas Mata dan Kebutaan tahun 1982 di Indonesia yang
dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan
RI yang meliputi 8 Provinsi yakni Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah,
Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan, prevalensi kebutaan
adalah 1,2% dan kelainan Kornea 0,13% (urutan 3).
Survey Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran merupakan kegiatan terpadu
antara Departemen Kesehatan, Departement Sosial, Biro Pusat Statistik, Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia, Perdami, dan Perhati tahun 1993 1996 prevalensi
meningkat menjadi 1,5% kelainan Kornea menurun menjadi 0,10% (urutan 5). Dari 20 diagnosa
penyakit mata yang hampir sama di setiap Provinsi, jika pada survei tahun 1982 masih
didapatkan trachoma dan kekurangan vitamin A dalam 10 urutan penyakit mata tertinggi maka
keadaan tersebut sudah tidak didapatkan lagi saat ini. Trachoma masih didapatkan di Jawa Timur
(0,2%) dan Nusa Tenggara Barat ( 0,7%). Sedangkan kekurangan vitamin A masih didapatkan di
Provinsi Sulawesi Selatan (0,3%) dan NTB (0,1%)

2.4

Gejala
Sebagai pemecahan dan penipisan kornea pada kornea degenerasi mengakibatkan

penglihatan kurang baik timbul astigmat tinggi,sehingga menimbulkan gejala gejala sebagai
berikut :
Pandangan tidak jelas,mata merah,disertai gatal,rasa sakit seperti ada pasir dan sangat
sensitive terhadap cahaya,pasien akan mengalami penglihatan baik jika di koreksi dengan lensa
silinder koreksi silinder dapat mencapai 8-9 dioptri.
2.5
Patofisiologi
kornea secara bertahap menjadi lebih datar, lebih tebal dan sedikit
transparan. Penurunan indeks refraktif dan membran descemet menjadi lebih tebal
meningkat dari 0,3 m pada waktu lahir sampai 10 m pada orang dewasa sebagai
akibat dari meningkatnya ketebalan zona posterior. Kadang-kadang guttata perifer
dikenal sebagai Hassal-Henle bodies, dapat terbentuk sesuai dengan usia.
Pengikisan sel endotel kornea menyebabkan kehilangan 100.000 sel selama 50
tahun pertama dari kehidupan. Dari kepadatan sel 4000 sel / mm2 pada saat lahir

sampai kepadatan 2500-3000 sel / mm 2 pada orang dewasa. Angka rata-rata


kepadatan sel endotel menurun selama kehidupan orang dewasa sampai hampir
0,6% pertahun.4
Degenerasi kornea terjadi pada epitel dan subepitel, stroma dan endotel.7
Karena tidak ada klassifikasi alamiah mengenai degenerasi kornea, klasifikasi
artifisial harus dibuat. Degenerasi ini sering dikelompokkan berdasarkan lokasi yang
terkena yaitu sentral atau perifer dan berdasarkan penuaan primer atau akibat
proses lain.4
2.6
Klasifikasi
1.Kornea degenerasi arcus senilis
2.Kornea degenerasi keratokonus
3.Korenea terrien
2.6

Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan dengan slit lamp bertujuan untuk
1.Mengetahui keadaan segmen anterior
2.Mengetahui defek kornea
3.Mengetahui adanya lubang atau fistel pada kornea
4.Mengetahui kedalaman sudut bilik mata depan

Gambar : Pemeriksaan menggunakan slit lamp

Pemeriksaan slit lamp biasanya ditandai oleh band perangkat penipisan kornea dalam kornea
rendah 04:00-08:00. Menipis bisa mencapai 20% dari kornea yang normal dan 1 sampai 2 mm dari
limbus. Curam tonjolan kornea di PMD terjadi di atas (pusat) seluas stroma menipis, muncul seperti
"perut bir" secara cross section. Hal ini menyebabkan tinggi dan teratur "melawan-the-aturan" Silindris
hingga 20 dioptri dan mendatarkan meridian vertikal. Silindris yang justru bisa menjadi "dengan aturan"
jika kelengkungan rendah lebih curam daripada kelengkungan horisontal. Daerah menipis di PMD selalu
epithelialized, jelas, avaskular, dan tanpa deposisi lipid (membedakannya dari degenerasi terrein
marginal). Limfatik menonjol juga terkait dengan PMD di paralel limbus kalah dengan daerah menipis
Striations vertikal pada tingkat membran Descemet (mirip dengan Vogt striae), hydrops, vaskularisasi,
dan jaringan parut yang relatif jarang, seperti perforasi kornea spontan. The ectasia dan menipis juga
dapat terjadi superior. PMD tidak hadir dengan cincin besi, kerucut, jaringan parut apikal, atau sensasi
kornea normal. Lipatan Descemet dapat mengembangkan konsentris dengan limbus dan posterior rendah
stroma jaringan parut dapat dicatat di daerah tipis.4

2.7

Diagnosis Banding
keratoconus
Keratoglobus
Terrien degenerasi marjinal
Furrow degenerasi
Mooren ulkus4

2.8

Diagnosis

Diagnosis dibuat secara klinis sebagai pasien yang biasanya asimtomatik kecuali untuk
kerusakan visual yang progresif.
Beberapa tes yang ada untuk membantu deteksi dan diagnosis dini :
topografi kornea
Komputerisasi videokeratography: Menampilkan "kupu-kupu" klasik penampilan dengan PMD,
menunjukkan daya rendah sepanjang sumbu vertikal pusat, meningkatkan daya dalam kornea
inferior dan daya tinggi sepanjang meridian rendah-miring.
Pachymetry: Digunakan untuk mengukur untuk menipis kornea rendah, yang merupakan
kebalikan dari pola yang khas di mana kornea menebal dari pusat ke pinggiran.4
. 2.9

Penatalaksanaan
Keratoplasty

Slit lamp
Hars lens atau lensa RGP

2.10

Pencegahan
1.Mencegah terjadinya trauma pada mata,karena kornea sangat rapuh
2.Jangan menggosok mata berlebihan karena kornea sangat rapuh
3.Gunakan kacamata sebagai pelindung trauma

1,

Mencegah

Menggosok

terjadinya
mata

trauma

berlebihan

pada
dapat

mata.

Kornea

menimbulkan

sangat
perforasi

rapuh.
kornea.

2. Gunakan kaca mata untuk memperbaiki koreksi penglihatan dan sebagai pelindung trauma.
3.Lensa

kontak

4.Cangkok

kornea

:
:

Hars
Keratoplasty

lens
Lameler

atau

Lensa

RGP.

bisa

sebagai

pilihan.

5. Hindari atau kurangi konsumsi alkohol, alkohol memperburuk kondisi ini. nan

Daftar Pustaka
1.Massachuschets eye and ear Waltham 2011
2. Riordan-Eva, 2010: http://www.aao.org/eyecare/anatomy/
3.World Healthy Organization 2013 Sumber : http://www.aao.org/eyecare/anatomy/
4. Dylan Griffith,Maria A.woodward.MD.and yannis M.Paulus MD.pellucid marginal corneal
degeneration March 11, 2015.