Anda di halaman 1dari 26

ALAT PENGECAPAN

A. TUJUAN
1. Mengetahui peta rasa di lidah
2. Mengetahui cara menguji rasa pada lidah
B. TEORI DASAR
Lidah mempunyai reseptor khusus yang berkaitan dengan rangsangan kimia.
Lidah merupakan organ yang tersusun dari otot. Permukaan lidah dilapisi dengan
lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir, dan reseptor pengecap
berupa tunas pengecap. Tunas pengecap terdiri atas sekelompok sel sensori yang
mempunyai tonjolan seperti rambut.
Permukaan atas lidah penuh dengan tonjolan (papila). Tonjolan itu dapat
dikelompokkan menjadi tiga macam bentuk,yaitu bentuk benang,bentuk dataran
yang dikelilingi parit-parit,dan bentuk jamur.

Tunas pengecap terdapat pada

paritparit papila bentuk dataran, di bagian samping dari papila berbentuk jamur, dan
di permukaan papila berbentuk benang.
Lidah mempunyai reseptor khusus yang berkaitan dengan rangsangan kimia.
Lidah merupakan organ yang tersusun dari otot. Permukaan lidah dilapisi dengan
lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir, dan reseptor pengecap
berupa tunas pengecap. Reseptor untuk pengecap di sebut reseptor system
gustatoty. Reseptor perasa disebut taste buds, yang terletak disekitar kuncup
pengecap yang disebut papillae. Taste buds bersifat untuk mendeteksi segala
macam rasa asam, manis, pahit dan lain sebagainya. Untuk menghindari kerusakan
disyaraf pengecap dianjurkan tidak makan makanan yang terlalu panas.
Rasa klasik yang dapat dirasakan manusia (manis, asin, asam, pahit dan
umami) ternyata melakukan mekanisme transduksi yang berbeda-beda dan terjadi di
sel reseptor yang berbeda pula. 2 dari mekanisme ini merupakan ionotrophic (rasa
asin dan asam) dan sisanya (rasa manis, umami dan pahit) merupakan
metabrotropic
Tranduksi Rasa Manis
Rasa manis dimulai dengn melekatnya molekul gula pada porus perasa.
Kemudian hal ini akan mengaktifkan stimulator yang terdapat pada sitoplasma yang
terdapat pada membran. Stimulator (protein G) akan teraktivasi selanjutnya akan
mengaktifkan enzim adenilat siklase. Enzim ini akan mengaktifkan pembentukan
Camp dari ATP. Terjadinya peningkatan camp akan mengakibatkan terstimulasinya

enzim sitoplasma lainnya. Hal ini akan membuat ion K dapat keluar sehingga
mengakibatkan depolarisasi pada puting pengecap. Hal ini akan mengakibatkan
terlepasnya neotransmiter ke sinaps dan selanjutnya akan diteruskan ke otak.
Tranduksi Rasa Asin
Rasa asin disebabkan masuknya ion Na. Masuknya ion Na mengakibatkan
tertutupnya saluran keluar ion K. Depolarisasi mengakibatkan neotransmiter keluar,
dan impuls bisa diterima oleh otak.
Tranduksi Rasa Pahit
Transduksi pahit akan berikatan dengan reseptor pada membran. Pelekatan
ini

akan mengakibatkan teraktivasinya protein G lainnya yang kemudian akan

mengaktifkan enzim fosfolipase. Enzim ini akan membuat IP3 yang merupan
senyawa yang larut daam sitoplasma yang terdapat dalam RE. Berikatan IP3
dengan reseptor akan membuat terbukanya

ion Ca. Maka ion Ca akan keluar

menuju Sitoplasma. Peningkatan ion Ca akan membuat saluran K terbuka dan


terjadi sinaps.
Tranduksi Rasa Asam
Tidak sepeti rasa manis dan pahit, ras asam terjadi karena konsentrasi
proteon atau ion H. Membran sanyat permeable terhadap proton ini. Masuknya
proton akan membuat depolarisasi akibatnya neotransmiter dilepaskan ke sinaps.
C. ALAT DAN BAHAN :

Wadah
Lidi kapas
Peta lidah
Larutan gula
Larurtan garam
Larutan asam cuka
Larutan kininasulfat

D. CARA KERJA
1. OP diminta untuk berpuasa selama 15 menit sebelum pemeriksaan
2. Kemudian OP diminta menjulurkan lidahnya. Lalu oleskan salah satu larutan
yang tidak diketahuinya dengan menggunakan lidi kapas

3. OP diminta menyebutkan rasa pada salah satu bagian lidah, bila OP


merasakannya beri tanda pada peta lidah dan bila tidak dapat merasakan beri
tanda (-)
4. Lalu perlakukan langkah 1-3 dengan menggunakan larutan yang berbeda
5. Begitu seterusnya sehingga semua larutan dapat dirasakan
6. Dicatat semua hasil pengujiannya
E. HASIL PENGAMATAN
Lidah peka terhadap semua rasa.
F. PEMBAHASAN
Larutan gula digunakan untuk menguji reseptor rasa manis, larutan garam
digunakan untuk menguji reseptor rasa asin, larutan kininasulfat digunakan untuk
menguji reseptor rasa pahit, dan larutan asam cuka digunakan untuk menguji
reseptor rasa asam.
Peta rasa menurut teori, ada empat pengecap dasar
yang digunakan untuk mengetahui lokasi reseptor dan
variasi waktu sensasinya. Pada bagian ujung lidah memiliki
reseptor rasa manis, pada bagian tepi depan lidah memiliki
reseptor rasa asin, bagian tepi belakang lidah memiliki respetor rasa asam dan pada
bagian pangkal lidah memiliki reseptor rasa pahit.
Namun dengan perkembangan penelitian dan teknologi yang
semakin canggih, teori pembagian daerah lidah dengan spesifikasi
rasa yang dideteksi di patahkan, karena ditemukan bahwa semua
daerah lidah sesungguhnya secara seimbang dapat mendeteksi
semua rasa. Walaupun beberapa daerah lidah dapat mendeteksi
rasa asin atau manis sebelum bagian daerah lidah yang lain, semua sensasi rasa
berasal dari semua daerah pada lidah. Juga penambahan rasa umami (lezat atau
gurih).
Hal ini dibuktikan pada praktikum dengan meletakan rasa yang diujicobakan
dengan cotton bud pada daerah lidah yang tidak mengikuti daerah spesifikasi rasa.
Dari hasil praktikum terlihat bahwa masing-masing rasa yang diletakan di daerah
lidah yang berbeda dengan daerah spesifikas rasa masih dapat mendeteksi rasa
yang diujicobakan, menunjukan bahwa reseptor kecap semua rasa terdapat pada

semua daerah pada lidah, untuk daerah lebih cepat pendeteksian rasa tergantung
dari jumlah papila rasa yang ada pada daerah tersebut.
Seperti rasa pahit, pada praktikum cotton bud rasa pahit diletakan di daerah
spesifik rasa asin, hasilnya tidak terdeteksi sebagai rasa pahit, detik pertama hingga
lima belas terdeteksi sebagai rasa hambar. Setelah lebih dari lima belas detik
terdeteksi bahwa rasa tersebut bukanlah hambar namun rasa pahit. Dari hal tersebut
disimpulkan bahwa daerah spesifik rasa asin memiliki reseptor pahit (walau tidak
sebanyak pada daerah pangkal lidah) sehingga daerah lidah tersebut tidak dapat
dinyatakan sebagai daerah spesifik asin (karena terdapat reseptor pahit, dan rasa
lainnya). Ini juga terjadi pada pengujian rasa lainnya yang diletakan bukan pada
daerah spesifiknya.
Beberapa praktikan memberikan pernyataan deteksi rasa yang berbeda pada
daerah lidah yang sama, karena setiap praktikan memiliki jumlah papila dan lokasi
papila sensori reseptor yang berbeda-beda ini disebabkan adanya perbedaan
genetik pada setiap orang yang menyebabkan berbedanya jumlah kuncup kecap di
permukaan lidah. Kuncup kecap adalah salah satu sel reseptor yang menerima
impuls berupa senyawa kimia rasa yang akan diteruskan ke sistem saraf pusat untuk
diterjemahkan.
Tingkat sensitivitas lidah seseorang juga mempengaruhi kemampuannya
mengecap suatu rasa. Ada beberapa hal yang mempengaruhi sensitivitas ini.
Sensitivitas mungkin disebabkan struktur dari lidah itu sendiri yang rusak atau tidak
bagus akibat dari pola makan seseorang. Hal lain yang mempengaruhi sensitivitas
adalah proses pengantaran rangsang dari organ menuju otak, hal tersebut biasanya
terjadi pada orang uang kondisi tubuhnya lemah (sakit) sehingga daya tanggap
terhadap rangsang sedikit terganggu. Cepat lambatnya seseorang dalam mengecap
rasa dapat dipengaruhi oleh kecepatan penghantaran rangsang yang diberikan jika
dalam penyampaian rangsang tersebut terjadi gangguan maka dapat mempengaruhi
waktu sensasi yang dihasilkan. Selain itu jenis kelamin juga kemungkinan
mempengaruhi sensasi reseptor pengecap.
Sensasi rasa dipengaruhi oleh saliva (air liur). Hal ini disebabkan karena
saliva akan melarutkan dan mengkatalis zat yang masuk ke dalam mulut. Kuncup
kecap hanya akan dapat terstimulasi bila zat tersebut telah dikatalis oleh saliva
(chemoreseptor), sehingga apabila konsentrasi saliva terlalu rendah maka

dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengkatalis zat-zat tersebut, dan semakin
lambat pula respon rasa tersebut.
Faktor lain yang mempengaruhi reseptor perasa adalah suhu dan usia. Suhu
kurang dari 20 atau lebih dari 30 akan mempengaruhi sensitifitas kuncup rasa
(taste bud). Suhu yang terlalu panas akan merusak sel-sel pada kuncup rasa
sehingga sensitifitas berkurang, namun keadaan ini cenderung berlangsung cepat
karena sel yang rusak akan cepat diperbaiki dalam beberapa hari. Suhu yang terlalu
dingin akan membius kuncup lidah sehingga sensifitas berkurang.
Usia mempengaruhi sensitifitas reseptor perasa. Menurut Sunariani (2007),
pada orang yang berusia lanjut terdapat penurunan sensitifitas dalam menraskan
rasa asin. Hal ini disebabkan pada orang berusia lanjut karena berkurangnya jumlah
papilla sirkumvalata seiring dengan bertambahnya usia dan penurunan fungsi
transmisi kuncup rasa pada lidah sehingga mengurangi sensasi rasa.
Gambar Macam-Macam Papila

Reseptor perasa merespon stimulasi rasa


dengan

berbeda-beda.Pengecapan

adalah

sensasi yang dirasakan oleh kuncup kecap,


yaitu reseptor yang terutama terletak pada
lidah (terdapat kurang lebih 10.000 kuncup
kecapa pada lidah manusia) dan dalam jumlah
yang lebih kecil pada polatum mole dan
permukaan laringeal dari epiglottis. Kuncup kecap terbenam dari epitel berlapis dari
papilla sirkumvalata, papilla foliota, papilla fungiformis. Bahan kimia masuk melalui
pori pengecap, yaitu lubang kecil menuju ke sel-sel reseptor. Penyebaran kuncup
kecap berada pada seluruh permukaan lidah sehingga setiap lidah dapat merasakan
rasa pada penjuru lidahnya.

Rasa manis mendepolarisasi sel kecap


dengan membuka channel Na+. Channel ini
tertutup oleh amiloride dan biasa ditemukan
pada ginjal dan sel epitel. Selain

itu, juga

dengan menaktikan adenylate cyclase. cAMP


akan diprduksi oleh adenylate cyclase untuk
menutup channel K+. Susbtansi perasa pahit
akan menstimulasi produksi IP3, yang selajutnya
akan

meningkatkan

level

Ca2+

yang

akan

melepaskan trasmiter sinapsis dan mengaktifasi


saraf gustatory. Substansi perasa mendepolarisasi sel kecap dengan menaktifkan
channel amiloride-sensitive Na+. Substansi rasa masam akan mendepolarisasi sel
kecap secara langsung dengan menaikkan konsentrasi ion H + yang menutup
channel K+.
Rasa asin disebabkan masuknya ion Na. Masuknya ion Na mengakibatkan
tertutupnya saluran keluar ion K. Depolarisasi mengakibatkan neotransmiter keluar,
dan impuls bisa diterima oleh otak. Transtan pahit akan berikatan dengan reseptor
pada membran. Pelekatan ini akan mengakibatkan teraktivasinya protein G lainnya
yang kemudian akan mengaktifkan enzim fosfolipase. Enzim ini akan membuat IP3
yang merupakann senyawa yang larut dalam sitoplasma yang terdapat dalam RE.
Berikatan IP3 dengan reseptor akan membuat terbukanya ion Ca. Maka ion Ca akan
keluar menuju Sitoplasma. Peningkatan ion Ca akan membuat saluran K terbuka
dan terjadi sinaps. Tidak sepeti rasa manis dan pahit, rasa asam terjadi karena
konsentrasi proteon atau ion H. Membran sanyat permeable terhadap proton ini.
Masuknya proton akan membuat depolarisasi akibatnya neotransmiter dilepaskan ke
sinaps.
Rasa asam, adanya molekul asam yang di
maksud di sini ion adalah H +. Ion H+ masuk ke
outer pore taste kemudian dibaca sama reseptor
rasa asam di papila foliate. Tidak
reseptor-reseptor

rasa

lainnya

yang

seperti
telah

teridentifikasi, reseptor untuk rasa asam termasuk


dalam famili TRP (Taransient Reseptor Potential).

TRP termasuk ion channel karena channelnya hanya dilalui oleh ion H+ yang
sifatnya kation. Setelah dibaca oleh reseptor akan di baca lagi oleh sensori cell. Ion
H+ masuk, maka ion ini selanjutnya akan menutupi/memblock K + channel agar tidak
keluar. Pada rasa asam tidak ada molekul Na. Jadi, supaya ion K tetap di
dalam maka ion H+ akan menutup channel ion K agar ion K tidak keluar
menyebabkan depolarisasi. Saat

depolarisasi

maka

Ca

masuk

dan

menyebabkan neurotrasmitter keluar dari vesikelnya. Neurotransmitternya adalah


serotonin.
Rasa pahit, transtan pahit akan berikatan dengan reseptor pada membran.
Pelekatan ii akan mengakibatkan teraktivasinya protein G lainnya yang kemudian
akan mengaktifkan enzim fosfolipase. Enzim ini akan membuat IP3 yang merupan
senyawa yang larut daam sitoplasma yang terdapat dalam RE. Berikatan IP3
dengan reseptor akan membuat terbukanya ion Ca. Maka ion Ca akan keluar
menuju Sitoplasma. Peningkatan ion Ca akan membuat saluran K terbuka dan
terjadi sinaps.
G. KESIMPULAN
1. Lidah merupakan organ panca indera yang terdiri atas otot dengan adanya
reseptor pengecap sebagai taste bud untuk menerima impuls kimia pada
makanan yang kemudian akan diteruskan ke sistem saraf pusat untuk
diterjemahkan.
2. Sel sel reseptor untuk pengecapan adalah sel sel ephitelium yang telah
termodifikasi yang diorganisasikan menjadi kuncup pengecapan yang
tersebar di daerah lidah.
3. Waktu sensasi reseptor setiap orang adalah berbeda-beda, hal tersebut
terjadi akibat sensitivitas taste bud dalam menerima impuls dari zat kimia
serta perbedaan genetis setiap orang.
4. Setiap orang memiliki lokasi reseptor yang berbeda-beda.
5. Tingkat sensitivitas lidah seseorang mempengaruhi

kemampuannya

mengecap suatu rasa. Sensitivitas disebabkan struktur dari lidah itu sendiri
yang rusak atau tidak bagus akibat dari pola makan seseorang.
6. Dari setiap rasa otak mengintegrasikan input yang berbeda dari kuncup
pengecapan.
H. DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N.A.,J.B. Reece, & Mitchell. 2009. BIOLOGY 8th Edition. San Fransisco:
Pearson.

Frandson, Boron WF & Boulpeap EL. 1992. Medical physiology. Jakarta: Penerbit
EGC.
Guyton AC, Hall JE. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Irawati S. Ed. ke-9.
Jakarta: Penerbit EGC.
Jalmo, Tri. 2007. Buku Ajar Fisiologi Hewan. Bandar Lampung: Unila
Junqueira, L. Carlos, Jose Carneiro &Robert Kelley. 2009. Basic Histology
Text&Atlas 12th Edition. New York: McGraw Hill.
LAMPIRAN FOTO PRAKTIKUM ALAT PENGECAPAN (LIDAH)

Foto :

(a)

(b)

(c)

(d)

(e)

(f)

(a) Pemberian rasa pada bagian tengah lidah


(b) Pemberian rasa pada bagian pinggir pangkal lidah
(c) Pemberian rasa pada bagian pinggir ujung lidah (asin)
(d) Pemberian rasa pada bagian pinggir pangkal lidah (asam)
(e) Pemberian rasa pada bagian pangkal lidah (pahit)
(f) Pemberian rasa pada bagian ujung lidah (manis)

ALAT PENGLIHATAN
A. TUJUAN
1. Menguji terjadinya reflek-reflek pada pupil mata seseorang.
2. Menyebutkan macam-macam reflek pupil mata.
3. Menjelaskan mekanisme terjadinya reflek-reflek pupil mata.
B. TEORI DASAR
Muscllus aillator pupilae yaitu mengatur lebarnya pupil geraknya disebut
indriasi. Dan muscllus spinter papillae yaitu mengatur mengecilnya pupil, gerakkan
mengecilnya dari otot yang melingkarinya.

Respon cahaya konsensual Jika pada pupil yang satu disinari maka secara
serentak pupil lainnya mengecil dengan ukuran yang sama. Sentuhan kapas pada
kornea atas akan menimbulkan refleks menutup mata pada mata kiri dan sebaliknya
kegunaan pemeriksaan refleks kornea konsensual ini sama dengan refleks cahaya
konsensual, yaitu untuk melihat lintasan mana yang rusak (aferen atau eferen).

C. ALAT DAN BAHAN :

Senter
Cermin

D. CARA KERJA
1. PEMERIKSAAN REFLEKS CAHAYA
a. Satu mata disinari dengan senter dari arah samping mata. Reaksi pupil
diperhatikan
b. Cahaya senter disingkirkan, lalu reaksi pupil diperhatikan
c. Kemudian hasil pengamatan dicatat
2. PEMERIKSAAN REFLEKS KONSENSUAL
a. Dengan kedua mata OP terbuka, diberi batas antara kedua mata,
misalnya dengan telapak tangan. Satu mata disinari lampu senter dan
seorang teman bertugas mengawasi mata lain yang tidak diberi
penyinaran. Reaksi pupil diperhatikan
b. Hasil pengamatan dicatat
3. PEMERIKSAAN REFLEX PUPIL MATA AKIBAT AKOMODASI
a. OP diminta untuk melihat tempat yang jauh tak terhingga dan reaksi
pupil diperhatikan
b. Kemudian tiba-tiba OP diminta untuk melihat benda yang dekat dan
reaksi pupil diperhatikan
c. Hasil pengamatan diperhatikan.
E. HASIL PENGAMATAN
No Nama op

Reaksi pupil
Refleks cahaya

Refleks

Refleks akibat

(kedua mata)

konsendual

akomodasi

Cahaya

Tanpa

Satu

Satu

cahaya

mata

mata

dengan

tanpa

Jauh

Dekat

cahaya

Rica

cahaya

Mengecil Membesar Mengecil Mengecil Mengecil Membesar

Fitriyani

F. PEMBAHASAN
ALAT PENGLIHATAN
1. Pemeriksaan Refleks Pupil.
a. Refleks cahaya.
Pada percobaan refleks cahaya ini, praktikan menyinari mata
OP dengan lampu senter dari arah samping dan ternyata dari
perlakuan tersebut diperoleh data bahwa OP mengalami pengecilan
pada pupilnya. Pengecilan pupil ini bertujuan untuk mengurangi
jumlah cahaya yang masuk ke mata. Pengecilan pupil ini di karenakan
oleh variasi kontraksi otot-otot iris untuk memungkinkan lebih banyak
atau sedikit cahaya masuk sesuai kebutuhan. Selain itu juga seratserat otot memendek jika berkontraksi sehingga menyebabkan pupil
akan mengecil.
Refleks kontraksi pupil ini terjadi pada cahaya terang untuk
mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke mata dan apabila otot
radialis memendek maka ukuran pupil pun akan meningkat. Otot-otot
iris ini dikontrol oleh sistem saraf otonom sedangkan apabila tidak
diberikan rangsangan cahaya, maka pupil akan normal. Dan ketika
cahaya dijauhkan maka pupil OP kembali ke keadaan normal atau
membesar.
b. Refleks Konsensual.
Untuk percobaan refleks konsensual, praktikan mengamati
dengan cara membuka kedua mata OP kemudian memberinya batas
dengan telapak tangan. Satu mata disinari lampu senter sedangkan
yang satunya tidak. Reaksi pupil OP yang terjadi menunjukkan bahwa
mata yang terkena cahaya mengecil
terkena cahaya ikut mengecil.

sedangkan

mata

yang

tidak

Menurut teori ketika satu mata disinari dengan flash light terlihat
bahwa tidak hanya mata yang disinari cahaya, pupilnya mengecil tetapi
pupil yang tidak disinari juga ikut mengecil. Di dalam mata yang
disinari terjadi refleks pupil, sedangkan didalam mata yang tidak
disinari terjadi refleks konsensual.
c. Refleks Akibat Akomodasi.
Pada refleks akibat akomodasi, hal yang dilakukan untuk
mengamati

refleks pupilnya yaitu dengan cara meminta OP

untuk

melihat tempat yang jauh tak terhingga seperti langit kemudian


praktikan memperhatikan reaksi pupil dari OP. Kemudian dengan tibatiba, OP melihat tempat yang dekat dan praktikan memperhatikan
reaksi pupilnya. Pada pengamatan ini reaksi pupil OP mengecil ketika
melihat tempat yang jauh. Kemudian ketika melihat tempat dekat,
reaksi pupil OP membesar. Saat merespon jauh pupil mata
mengecil karena serat- serat otot memendek. Pengecilan pupil
ini terjadi apabila otot sirkuler atau kontriktor berkontraksi
membentuk cincin yang lebih kecil. Hal ini terjadi untuk
merespon cahaya terang.
Akibat melihat benda

jauh

ya n g

berada

diluar

r u a n g a n p u p i l m e n g e c i l u n t u k mengurangi jumlah cahaya


yang masuk dan pupil membesar saat melihat benda dekat di
tempat teduh. Pembesaran daya akomodasi mata juga diatur melalui
syaraf parasimpatis, perangsangan syaraf parasimpatis menimbulkan
kontraksi

otot

siliaris

yang

menyebabkan

pupil

mata

mengecil, yang selanjutnya kan mengendurkan gligamen lensa


dan meningkatkan daya bias. Dengan meningkatkan daya bias, mata
mampu melihat objek lebih dekat dibanding waktu daya biasnya
rendah. Akibatnya dengan mendekatnya objek ke arah mata,
frekuensi

impuls

ditingkatkan

agar

parasimpatis
objek

tetap

ke

melihat

otot

siliaris

dengan

jelas

progresif
(mampu

melihat benda jarak jauh). Begitupun sebaliknya pada saat OP diminta


tiba-tiba

melihat benda jarak dekat, otot

siliaris

akan

berdilatasi

sehingga pupil mata melebar. Pada hasil pengamatan yang didapat


ternyata sama dengan teori yang dikemukakan.

G. KESIMPULAN
1. Pemeriksaan refleks pada pupil terdapat beberapa jenis yaitu
pemeriksaan refleks cahaya, pemeriksaan refleks konsensual, dan
pemeriksaan refleks pupil mata akibat akomodasi.
2. Ukuran pupil dikendalikan oleh keseimbangan antara tonus
parasiompatis (konstriktor) dan simpatis (dilator).
3. Refleks kontraksi pupil terjadi pada cahaya

terang

untuk

mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke mata dan saat otot radialis
memendek maka

ukuran pupil akan meningkat. Otot-otot iris dikontrol

oleh

sistem

saraf

B i l a t i d a k d i b e r i k a n r a n g s a n g a n c a h a ya ,

otonom.
maka

pupil

akan

normal.
4. Saat satu mata disinari dengan flash light, maka pupil yang
terkena

sinar

akan

mengecildan

hal

ini

juga

berpengaruh

terhadap pupil mata yang tidak disinari. Pada mata yang disinari
terjadi kontraksi pupil dan pada mata yang tidak disinari terjadi
refleks konsensual.
5. Pupil akan berkontriksi jika fokus suatu benda dipindahkan dari
jarak jauh ke dekat.
G. DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N.A.,J.B. Reece, & Mitchell. 2009. BIOLOGY 8th Edition. San Fransisco:
Pearson.
Guyton AC, Hall JE. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Irawati S. Ed. ke-9.
Jakarta: Penerbit EGC.
Pearce, E.C, 2000, Anatomi & Fisiologi untuk Paramedis, Jakarta: PT. Gramedia.
Sherwood L. 2001. Fisiologi Manusia. Ed. ke-2. Jakarta: Penerbit EGC.
LAMPIRAN FOTO PRAKTIKUM PEMERIKSAAN REFLEKS PUPIL
REFLEKS CAHAYA (KEDUA MATA)

TANPA CAHAYA

CAHAYA

REFLEKS KONSENSUAL

SATU MATA DENGAN

SATU MATA TANPA

REFLEKS AKIBAT AKOMODASI

JAUH

DEKAT

PEMERIKSAAN VISUS
A. TUJUAN
1. Mengukur visus (ketajaman penglihatan) seseorang dengan benar
2. Menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi visus
B. TEORI DASAR
Visus adalah ketajaman atau kejernihan penglihatan, sebuah bentuk yang
khusus di mana tergantung dari ketajaman fokus retina dalam bola mata dan
sensitifitas dari interpretasi di otak.

Pratikum mengenai visus (ketajaman

penglihatan) dilakukan dengan menggunakan alat Optotype Snellen, yaitu sebuah


ukuran kuantitatif suatu kemampuan untuk mengidentifikasi simbol-simbol berwarna
hitam dengan latar belakang putih dengan jarak yang telah distandarisasi serta
ukuran dari simbol yang bervariasi.

Berkas cahaya sejajar yang jatuh ke suatu lensa bikonveks akan mengalami
pembiasaan suatu titik (fokus prinsipal) di belakang warna fokus prinsipal terletak di
sebuah garis yang berjalan melintasi pusat lengkungan lensa, sumbu prinsipal.
Jarak antara lensa dan fokus prinsipal disebut jarak fokus prinsipal. Berkas cahaya
yang jatuh di lensa dari suatu benda dengan jarak lebih dekat dari 20ft akan
mengalami sejajar. Berkas cahaya dari suatu benda yang terletak lebih dekat dari 20
ft akan mengalami divergensi sehingga jatuh ke fokus yang lebih ke belakang di
sumbu prinsipal daripada fokus prinsipal.
Apabila otot siliaris berada dalam keadaan istirahat maka berkas cahaya
paraleel yang jatuh di mata yang secara optis normal akan difokuskan di retina.
Selama relaksasi ini dipertahankan, maka berkas cahaya dari benda yng kurang dari
6 m dari pengamat akan berfokus di belakang retina dan akibatnya benda tersebut
tampak kabur. Masalah yang timbul membawa berkas divergen dari benda dekat ke
suatu fokus di retina dapat di atasi dengan meningkatkan jarak antara lensa dan
retina atau dengan meningkatkan kelengkungan (akomodasi).
Untuk

menghasilkan

detail

penglihatan,

sistem

optik

mata

harus

memproyeksikan gambaran yang fokus pada fovea, sebuah daerah di dalam makula
yang memiliki densitas tertinggi akan fotoreseptor konus/kerucut sehingga memiliki
resolusi tertinggi dan penglihatan warna terbaik. Ketajaman dan penglihatan warna
sekalipun dilakukan oleh sel yang sama, memiliki fungsi fisiologis yang berbeda dan
tidak tumpang tindih kecuali dalam hal posisi. Ketajaman dan penglihatan warna
dipengaruhi secara bebas oleh masing-masing unsur. Cahaya datang dari sebuah
fiksasi objek menuju fovea melalui sebuah bidang imajiner yang disebut visual aksis.
Jaringan-jaringan mata dan struktur-struktur yang berada dalam visual aksis (serta
jaringan yang terkait di dalamnya) mempengaruhi kualitas bayangan yang dibentuk.
Dengan kartu snellen dapat ditentukan tajam penglihatan atau kemampuan
melihat
seseorang, seperti :
o Bila tajam penglihatan 6/6 maka ia dapat melihat huruf pada jarak 6 meter,
yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 6 meter.
o Bila pasien membaca hanya sebatas huruf baris yang menunjukkan angka
30, tajam penglihatan pasien adalah 6/30.
o Bila tajam penglihatan adalah 6/60 berarti ia hanya dapat terlihat pada jarak 6
meter yang pada orang normal dapat dilihat pada jarak 60 meter.

o Bila pasien tidak dapat mengenal huruf terbesar pada kartu snellen maka
dilakukan uji hitung jari. Jari dapat dilihat terpisah oleh orang normal pada
jarak 60 meter.
o Bila pasien hanya dapat melihat jari pada jarak 3 meter, maka dinyatakan
tajam penglihatan adalah 3/60. Dengan pengujian ini tajam penglihatan hanya
dapat dinilai sampai 1/60, yaitu menghitung jari pada jarak 1 meter.
o Dengan uji lambaian tangan, maka dapat dinyatakan tajam penglihatan
pasien lebih buruk dari 1/60. orang normal dapat melihat lambaian tangan
pada jarak 300 meter. Bila pasien hanya dapat melihat lambaian tangan pada
jarak 1 meter, berarti tajam penglihatan 1/300.
o Kadang-kadang mata hanya dapat melihat sinar. Keadaan ini disebut sebagai
tajam penglihatan 1/~.
o Bila penglihatan sama sekali tidak mengenal sinar maka penglihatan adalah 0
(buta total).
C. ALAT DAN BAHAN :

Alat optotype dari snellen

D. CARA KERJA
1. Alat optotype dari snellen diletakkan pada jarak 6 meter (d=6m) dari tempat
OP berada. Dengan menggunakan dua mata, huruf dibaca satu demi satu
dalam tiap deret hingga diketahui nilai D. Kemudian ditentukan nilai visusnya
dan dicatat hasil pengamatannya
2. Alat optotype dari snellen diletakkan pada jarak 6 meter (d=6m) dari tempat
OP berada. Dengan menggunakan satu mata tertutup (mata ditutup dengan
telapak tangan tetapi tidak ditekan), huruf dibaca satu demi satu dalam tiap
deret hingga diketahui nilai D. Kemudian ditentukan nilai visusnya dan dicatat
hasil pengamatannya
3. Lakukan modifikasi dengan meletakkan alat optotype dari snellen diletakkan
pada jarak 5 meter (d=5m) dari tempat OP berada. Dengan menggunakan
dua mata, huruf dibaca satu demi satu dalam tiap deret hingga diketahui nilai
D. Kemudian ditentukan nilai visusnya dan dicatat hasil pengamatannya
4. Alat optotype dari snellen diletakkan pada jarak 5 meter (d=5m) dari tempat
OP berada. Dengan menggunakan satu mata tertutup (mata ditutup dengan
telapak tangan tetapi tidak ditekan), huruf dibaca satu demi satu dalam tiap
deret hingga diketahui nilai D. Kemudian ditentukan nilai visusnya dan dicatat
hasil pengamatannya.

E. HASIL PENGAMATAN
No

Nama OP

Ayumitia Putri

Ketajaman Penglihatan (visus)


d=6 meter
d=5 meter
2 mata
1 mata
2 mata
1 mata
6/6 (normal
6/6 (normal)

normal

normal

F. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini melakukan tes visus, yaitu pemeriksa ketajaman
mata/pemeriksaan mata. Visus juga mempunyai arti yang lebih luas, yaitu memberi
keterangan tentang baik dan buruknya fungsi mata secara keseluruhan.
Pemeriksaan visus mata dapat dilakukan mengunankan optotype snallen. Optotype
snallen terdiri atas deretan huruf dengan ukuran yang berbeda dan bertingkat serta
disusun dalam baris mendatar, huruf yang teratas adalah yang paling besar dan
makin kebawah akan semakin kecil. Probandus harus membaca optotype snallen
pada jarak 6 meter karena pada jarak ini mata akan melihat benda dalam keadaan
beristirahat dan tanpa akomodasi.
Pemeriksaan diawali dengan pembacaan dengan menggunakan kedua mata
lalu mata kanan dengan menutup mata kiri, lalu di lakukan juga pada jarak 5 meter,
penguji menunjuk huruf dari yang besar sampai terkecil sampai probandus tidak
melihat lagi. Ketajaman pengelihatan dinyatakan dalam pecahan, pembilang
menunjukkan jarak probandus dengan optotype snallen, sedangkan penyebut
adalah jarak probandus yang penglihatannya masih normal bisa membaca huruf
pada optotype snallen.
Pada praktikum kali ini probandus didapatkan hasil NORMAL hal ini berarti
probandus memiliki visus 6/6 berarti ia dapat melihat huruf pada jarak 6 meter, yang
oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat dari jarak 6 meter, visus mata antara
kanan dan kiri sama. Untuk modifikasi data dilakukan pula pada jarak 5 meter dan
didapatkan pula hasil NORMAL pada visus probandus.
G. KESIMPULAN
1. Pemeriksaan visus mata menggunakan optotype snallen
2. Data akomodasi setiap mata tidak sama atau berbeda-beda
3. Dikatakan normal bila visus nya 6/6

4. Visus adalah tes ketajaman mata


H. DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N.A.,J.B. Reece, & Mitchell. 2009. BIOLOGY 8th Edition. San Fransisco:
Pearson.
Guyton AC, Hall JE. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Irawati S. Ed. ke-9.
Jakarta: Penerbit EGC.
Junqueira, L. Carlos, Jose Carneiro &Robert Kelley. 2009. Basic Histology
Text&Atlas 12th Edition. New York: McGraw Hill.
Pearce, E.C, 2000, Anatomi & Fisiologi untuk Paramedis, Jakarta: PT. Gramedia.
Sherwood L. 2001. Fisiologi Manusia. Ed. ke-2. Jakarta: Penerbit EGC.

LAMPIRAN FOTO PRAKTIKUM PEMERIKSAAN VISUS

PEMERIKSAAN BUTA WARNA


A. TUJUAN
1. Mengetahui cara melakukan pemeriksaan buta warna
2. Menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi buta warna
3. Memeriksa buta warna
B. TEORI DASAR
Buta warna adalah suatu kelainan yang disebabkan ketidakmampuan selsel kerucut mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu akibat faktor
genetis sehingga penderita butawarna tidak mampu membedakan warnawarna dasar tertentu. Buta warna merupakan kelainan genetik yang diturunkan
dari orang tua kepada anaknya, kelainan ini sering juga disebut sex linked,
karena kelainan ini dibawa oleh kromosom X. Artinya kromosom Y tidak
membawa faktor buta warna. Hal inilah yang membedakan antara penderita
buta warna pada laki dan wanita. Hal ini menujukkan ada satu kromosom X
yang membawa sifat buta warna. Wanita dengan pembawa sifat, secara fisik
tidak mengalami kelalinan buta warna sebagaimana wanita normal pada

umumnya. Tetapi wanita dengan pembawa sifat berpotensi menurunkan faktor


buta warna kepada anaknya kelak. Apabila pada kedua kromosom X
mengandung faktor buta warna maka seorang wanita tersebut menderita buta
warna. ( Suryo, 2008 : 191-193)
Retina mata memiliki hampir tujuh juta sel fotoreseptor yang terdiri dari
dua jenis sel yaitu sel batang dan sel kerucut yang terkonsentrasi di bagian
tengahnya yang disebut makula. Sel batang sangat sensitif terhadap cahaya,
dan dapat menangkap cahaya yang lemah seperti cahaya daribintang di
malam hari, tetapi sel itu tidak dapat membedakan warna. Berkat sel batang
kita dapat melihat hal-hal di sekitar kita di malam hari, tetapi hanya dalam
nuansa hitam, abu-abu, dan putih. Sel kerucut dapat melihat detail obyek lebih
rinci dan membedakan warna tetapi hanya bereaksi terhadap cahaya terang.
Kedua jenis sel tersebut berfungsi saling melengkapi sehingga kita bisa
memiliki penglihatan yang tajam, rinci, dan beraneka warna.
Ada tiga jenis sel kerucut pada retina. Mereka masing-masing berisi
pigmen visual (opsin) yang berbeda sehingga bereaksi terhadap panjang
gelombang cahaya yang berbeda : merah, hijau dan biru. Sel kerucut
menangkap gelombang cahaya sesuai dengan pigmen masing-masing dan
meneruskannya dalam bentuk sinyal transmisi listrik ke otak. Otak kemudian
mengolah dan menggabungkan sinyal warna merah, hijau dan biru dari retina
ke tayangan warna tertentu. Karena perbedaan intensitas dari masing-masing
warna pokok tersebut, kita dapat membedakan jutaan warna. Gangguan
penerimaan cahaya pada satu jenis atau lebih sel kerucut di retina berdampak
langsung pada persepsi warna di otak. Seseorang yang buta warna memiliki
cacat atau kekurangan satu atau lebih jenis sel kerucut. (Cummings, 2011 : 81)
Saraf sel di retina terdiri atas sel batang yang peka terhadap hitam dan
putih, serta sel kerucut yang peka terhadap warna lainnya. Buta warna terjadi
ketika syaraf reseptor cahaya di retina mengalami perubahan, terutama sel
kerucut.
Buta warna sendiri dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu trikromasi,
dikromasi dan monokromasi. Buta warna jenis trikomasi adalah perubahan
sensitifitas warna dari satu jenis atau lebih sel kerucut. Ada tiga macam
trikomasi yaitu:
1. Protanomali yang apabila yang rusak/lemah adalah bagian mata yang
sensitif warna merah,

2. Deuteromali yaitu apabila yang rusak/lemah adalah bagian mata yang


sensitif terhadap warna hijau
3. Tritanomali (low blue) yaitu apabila yang rusak/lemah adalah bagian mata
yang sensitif terhadap warna biru.
Dikromasi merupakan tidak adanya satu dari 3 jenis sel kerucut, tediri dari:
1. Protanopia yaitu tidak adanya sel kerucut warna merah sehingga kecerahan
warna merah dan perpaduannya berkurang,
2. Deuteranopia yaitu tidak adanya sel kerujut yang peka terhadap hijau, dan
3. Tritanopia untuk warna biru.
Sedangkan monokromasi ditandai dengan hilangnya atau berkurangnya
semua penglihatan warna, sehingga yang terlihat hanya putih dan hitam pada
jenis typical dan sedikt warna pada jenis atypical. Jenis buta warna ini
prevalensinya sangat jarang. Buta warna dibagi dalam dua kategori, yaitu buta
warna total dan buta warna parsial. Pada buta warna total, penyandangnya
tidak bisa mengenali warna lain, kecuali hitam dan putih. Untungnya, kasus
yang disebabkan ketiadaan pigmen warna pada sel retina dan ini sangat jarang
terjadi. Sementara itu, pada buta warna parsial, penyandang mengalami
defisiensi (kekurangan) pigmen dalam sel retina sehingga tidak bisa melihat
warna tertentu saja. Gabungan defisiensi merah dan hijau adalah gangguan
yang paling sering terjadi, sedangkan defisiensi biru jarang sekali. Yang perlu
diluruskan, penderita buta warna bukan tidak bisa mengenali satu warna
tertentu, tetapi ia tak bisa mengenali kombinasi atau campuran warna. Ia bisa
saja tahu warna-warna dasar, seperti kuning, merah, dan biru, serta warnawarna sekunder, seperti hijau, jingga, dan ungu. Namun, ketika warna-warna
itu dikombinasikan lagi dengan warna lainnya, ia tidak mampu mengenali atau
bingung menentukan, apakah itu hijau tua atau biru, dan sebagainya
Buta warna dapat dites dengan tes Ishihara, dimana lingkaran- lingkaran
berwarna yang beberapa diantaranya dirancang agar ada tulisan tertentu
yang hanya dapat dilihat atau tidak dapat dilihat oleh penderita buta warna.
C. ALAT DAN BAHAN :

Buku pemeriksaan warna oleh Ishihara-Stiling

D. CARA KERJA
1. Letakkan gambar gambar pseudo-isokromatik pada jarak tertentu dari OP

2. Minta OP melihatnya dan menyebutkan satu per satu


3. Catat hasil pengamatan
E. HASIL PENGAMATAN
No
1
2
3
4
5

Nama
Ayumitia Putri
Evi Novita Sari
Hoeruninsyah Setiabudi
Rica Fitriyani
Wahyu Nugroho

Jenis Kelamin
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki

Umur
20
20
19
20
20

Interpretasi Gambar
Tidak buta warna
Tidak buta warna
Tidak buta warna
Tidak buta warna
Tidak buta warna

F. PEMBAHASAN
Buta warna merupakan suatu sifat keturunan yang menyebabkan seseorang
tidak dapat membedakan warna-warna dasar tertentu. Selain itu buta warna dapat
diartikan sebagai suatu kelainan penglihatan yang disebabkan ketidakmampuan selsel kerucut pada retina mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu
sehingga warna objek yang terlihat bukan warna yang sesungguhnya. Pada
keadaan normal, terdapat bagian mata yang disebut retina. Retina memiliki dua
macam sel yaitu sel batang (rod cells) dan sel kerucut (cone cells) yang peka
terhadap cahaya. Sel batang ini lebih peka pada malam hari dan juga warna hitam
dan putih. Sedangkan sel kerucut lebih banyak bekerja pada siang hari yang peka
terhadap berbagai warna. Sel kerucut ada 3 jenis yang masing masing paling peka
terhadap spektrum warna merah, kuning dan biru. Oleh karena itu, pada orang
normal dapat melihat dan membedakan ketiga warna tersebut, gradasi serta
perpaduannya pada macam-macam objek, sedangkan pada orang yang buta warna
memilki kelemahan untuk melihat salah satu atau lebih warna-warna tersebut dan
perpaduannya.
Dalam praktikum ini praktikan menggunakan buku tes buta warna (Ishiharas
test), Tes Ishihara adalah tes buta warna yang dikembangkan oleh Dr. Shinobu
Ishihara. Tes ini pertama kali dipublikasi pada tahun 1917 di Jepang. Sejak saat itu,
tes ini terus digunakan di seluruh dunia, sampai sekarang. Tes buta warna Ishihara
terdiri dari lembaran yang didalamnya terdapat titik-titik dengan berbagai warna dan
ukuran. Titik berwarna tersebut disusun sehingga membentuk lingkaran. Warna titik
itu dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak akan melihat perbedaan
warna seperti yang dilihat orang normal (pseudo-isochromaticism).

Adapun beberapa contoh dari Ishiharas test yaitu:


Baik normal dan mereka dengan semua jenis defisiensi penglihatan warna
membacanya sebagai 12.
Orang yang normal membaca ini sebagai angka tetapi orang yang
kekurangan merah-hijau membaca ini sebagai 3. Mereka yang buta warna
total tidak bisa membaca angka apapun.
Orang normal membaca ini sebagai 29. Mereka yang kekurangan merahhijau membaca ini sebagai 70. Mereka yang buta warna total tidak bisa
membaca angka apapun.
Orang normal membaca ini sebagai 5. Mayoritas mereka dengan kekurangan
penglihatan warna tidak bisa membacanya atau membacanya dengan benar.
Orang normal membaca ini sebagai 3. Mereka yang kekurangan merah-hijau
membaca ini sebagai 5. Mereka yang buta warna total tidak bisa membaca
angka apapun.
Dalam menelusuri garis berkelok-kelok antara dua X, orang yang normal
menelusuri sepanjang garis Ungu dan Merah, tetapi pada penderita butawarna
protanopia dan protanomalia kuat, hanya garis ungu yang ditelusuri, dan pada
penderita protanomalia ringan, kedua baris adalah ditelusuri tetapi garis ngu lebih
mudah untuk mengikuti. Sedangkan pada deuteranopia dan deuteranomalia kuat
hanya garis merah yang ditelusuri, dan pada penderita deuteranomalia ringan kedua
bars ditelusuri tetapi garis merah lebih mudah untuk diikuti.
Berdasarkan hasil tes buta warna juga dapat diketahui kemungkinan genotip
dan fenotip kedua orang tuanya yaitu:
P

XCXC

Normal
Gamet
F1

XCY
normal

XC

XC, Y

XCXC (), normal


XCY (), normal
Berdasarkan bagan silsilah tersebut, apabila perempuan homozigot normal

kawin dengan laki-laki normal maka keturunan yang akan diperoleh semuanya
normal, yaitu anak perempuan normal homozigot dan anak laki-laki normal sehingga
dapat diketahui pula kemungkinan genotip dari praktikan (saya) yaitu XCXC karena

dari praktikum yang dilakukan oleh probandus dapat diketahui bahwa probandus
tidak mengalami buta warna.
Sampai saat ini belum ada tindakan atau pengobatan yang dapat mengatasi
gangguan butawarna ini. Namun pada penderita buta warna ringan dapat di atasi
dengan belajar mengasosiasikan warna dengan objek tertentu.
Penyebab buta warna lainnya antara lain :
1. Penuaan
2. Mata bermasalah seperti glaukoma degenerasi makula, katarak/retinopati
diabetic
3. Cedera pada mata
4. Efek samping dari beberapa obat
G. KESIMPULAN
1. Tes buta warna menggunakan buku Ishihara
2. Buta warna merupakan penyakit keturunan yang bersifat genetic dengan sifat
gen terangkai kromosom X
E. DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N.A.,J.B. Reece, & Mitchell. 2009. BIOLOGY 8th Edition. San Fransisco:
Pearson.
Guyton AC, Hall JE. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Irawati S. Ed. ke-9.
Jakarta: Penerbit EGC.
Junqueira, L. Carlos, Jose Carneiro &Robert Kelley. 2009. Basic Histology
Text&Atlas 12th Edition. New York: McGraw Hill.
Pearce, E.C, 2000, Anatomi & Fisiologi untuk Paramedis, Jakarta: PT. Gramedia.
Sherwood L. 2001. Fisiologi Manusia. Ed. ke-2. Jakarta: Penerbit EGC.
LAMPIRAN FOTO PRAKTIKUM PEMERIKSAAN BUTA WARNA