Anda di halaman 1dari 24

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

BAB I
PENDAHULUAN
Hubungan antara psikis (jiwa) dan soma (badan) telah menjadi perhatian
para ahli dan para peneliti sejak dahulu. Keduanya (psikis dan soma) saling terkait
secara erat dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Kedua aspek
saling mempengaruhi yang selanjutnya tercermin dengan jelas dalam ilmu
kedokteran psikosomatik. 1
Di masa prasejarah masyarakat percaya bahwa penyakit disebabkan oleh
kekuatan roh jahat/setan. Oleh karena itu pengobatannya harus dilakukan dengan
mantera-mantera. Di masa peradaban kuno kemudian dipercaya bahwa pikiran
memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi badan, sehingga gangguan pada
badan tidak bisa disembuhkan tanpa mengobati kepalanya (pikiran).1
Dalam perkembangannya tidak hanya aspek fisis dan psikis saja yang menjadi
titik perhatian, tetapi juga aspek spiritual (agama) dan lingkungan merupakan
faktor yang harus diperhatikan untuk mencapai keadaan kesehatan yang optimal.
Hal ini sesuai dengan definisi WHO tentang pengertian sehat yang meliputi
kesehatan fisis, psikologis, sosial, dan spiritual. Jadi mempunyai 4 dimensi yaitu
bio-psiko-sosio-spiritual.1
Dalam pengertian kedokteran psikosomatik secara luas, aspek bio-psiko-sosiospiritual tersebut sangat perlu dipahami untuk melakukan pendekatan dan
pengobatan terhadap pasien secara holistic (menyeluruh) dan ekliktik (rinci) yaitu
pendekatan psikosomatik.1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. DEFINISI
Gangguan psikosomatik ialah gangguan atau penyakit dengan gejala-gejala yang
menyerupai penyakit fisis dan diyakini adanya hubungan yang erat antara suatu
FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

peristiwa psikososial tertentu dengan timbulnya gejala-gejala tersebut. Ada juga


yang memberikan batasan bahwa gangguan psikosomatik merupakan suatu
kelainan fungsional suatu alat atau sistem organ yang dapat dinyatakan secara
obyektif, misalnya adanya spasme, hipo atau hipersekresi, perubahan konduksi
saraf dan lain-lain. Keadaan ini dapat disertai adanya organik/struktural sebagai
akibat gangguan fungsional yang sudah berlangsung lama.1
Menurut JC. Heinroth yang dimaksud dengan gangguan psikosomatik ialah
adanya gangguan psikis dan somatik yang menonjol dan tumpang tindih.
Berdasarkan pengertian dan kenyataan diatas dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan gangguan psikosomatik adalah gangguan atau penyakit yang
ditandai oleh keluhan-keluhan psikis dan somatik yang dapat merupakan kelainan
fungsional suatu organ dengan ataupun tanpa gejala objektif dan dapat pula
bersamaan dengan kelainan organik/ struktural yang berkaitan dengan stressor
atau peristiwa psikososial tertentu.1
Gangguan fungsional yang ditemukan bersamaan dengan gangguan struktural
organis dapat berhubungan sebagai berikut:

Gangguan fungsional yang lama dapat menyebabkan atau mempengaruhi


timbulnya gangguan struktural seperti asma bronchial, hipertensi, penyakit

jantung koroner, arthritis rheumatoid dan lain-lain


Gangguan atau kelainan struktural dapat menyebabkan gangguan psikis dan
menimbulkan gejala-gejala gangguan fungsional seperti pada pasien

penyakit jantung, penyakit kanker, gagal ginjal dan lain-lain.


Gangguan fungsional dan struktural organik berada bersamaan oleh sebab
yang berbeda.1

FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

Dalam kenyataannya, di klinik jarang sekali faktor psikis/emosi seperti frustasi,


konflik, ketegangan dan sebagainya dikemukakan sebagai keluhan utama oleh
pasien. Justru keluhan keluhan fisis yang beraneka ragam yang selalu
ditonjolkan oleh pasien. Keluhan-keluhan yang dirasakan pasien umumnya
terletak di bidang penyakit dalam seperti keluhan sitem kardiovaskuler, sistem
pernapasan, saluran cerna, saluran urogenital, dan sebagainya.
Keluhan-keluhan tersebut adalah manifestasi adanya ketidakseimbangan sistem
saraf otonom vegetatif, seperti sakit kepala, pusing, serasa mabuk, cenderung
untuk pingsan, banyak keringat, jantung berdebar-debar, sesak napas, gangguan
pada lambung, dan usus, diare, anoreksia, kaki dan tangan dingin, kesemutan,
merasa panas atau dingin seluruh tubuh dan banyak lagi gejala lainnya. 1

II. PATOMEKANISME
Patofisiologi timbulnya kelainan fisis yang berhubungan dengan gangguan
psikis/emosi belum seluruhnya dapat diterangkan namun sudah terdapat banyak
bukti dari hasil penelitian para ahli yang dapat dijadikan pegangan. Gangguan
psikis/konflik emosi yang menimbulkan gangguan psikosomatik ternyata diikuti
oleh perubahan-perubahan fisiologis dan biokimia pada tubuh seseorang.
Perubahan fisiologi ini berkaitan erat dengan adanya gangguan pada sistem saraf
autonom vegetatif, sistem endokrin dan sistem imun.1
Patofisiologi gangguan psikosomatik dapat diterangkan melalui beberapa teori
sebagai berikut:
a. Gangguan Keseimbangan Saraf Autonom Vegetatif
Pada keadaan ini konflik emosi yang timbul diteruskan melalui korteks serebri ke
sistem limbik kemudian hipotalamus dan akhirnya ke sistem saraf autonom
FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

vegetatif. Gejala klinis yang timbul dapat berupa hipertoni parasimpatik, ataksi
vegetatif yaitu bila koordinasi antara simpatik dan parasimpatik sudah tidak ada
lagi dan amfotoni bila gejala hipertoni simpatik dan parasimpatik terjadi silih
berganti.1
b. Gangguan Konduksi Impuls Melalui Neurotransmitter
Gangguan konduksi ini disebabkan adanya kelebihan atau kekurangan
neurotransmitter di presinaps atau adanya gangguan sensitivitas pada reseptorreseptor postsinaps. Beberapa neurotransmitter yang telah diketahui berupa amin
biogenik antara lain noradrenalin, dopamine, dan serotonin.1
c. Hiperalgesia Alat Viseral
Meyer dan Gebhart (1994) mengemukakan konsep dasar terjadinya gangguan
fungsional pada organ visceral yaitu adanya visceral hyperalgesia. Keadaan ini
mengakibatkan respon reflex yang berlebihan pada beberapa bagian alat visceral
tadi. Konsep ini telah dibuktikan pada kasus-kasus non-cardiac chest pain, nonulcer dyspepsia dan irritable bowel syndrome.1
d. Gangguan Sistem Endokrin/Hormonal
Perubahan-perubahan fisiologi tubuh yang disebabkan adanya stress dapat terjadi
akibat

gangguan

sistem

hormonal.

hypothalamic-pitutary-adrenal

Perubahan

axis

(jalur

tersebut

terjadi

melalui

hipotalamus-pituitari-adrenal).

Hormone yang berperan pada jalur ini antara lain: hormon pertumbuhan (growth
hormone), prolactin, ACTH, katekolamin.1
e. Perubahan dalam Sistem Imun
Perubahan tingkah laku dan stress selain dapat mengaktifkan sistem endokrin
melalui hypothalamus-pituitary axis (HPA) juga dapat mempengaruhi imunitas
seseorang sehingga mempermudah timbulnya nfeksi dan penyakit neoplastik.
Fungsi

imun

menjadi

terganggu

karena

sel-sel

imunitas

merupakan

immunotransmitter mengalami berbagai perubahan. 1


Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi imunitas adalah sebagai berikut:
FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

Kualitas dan kuantitas stress yang timbul


Kamampuan individu dalam mengatasi suatu stress secara efektif
Kualitas dan kuantitas rangsang imunitas
Lamanya stress
Latar belakang lingkungan sosio-kultural pasien
Faktor pasien sendiri (umur, jenis kelamin, status gizi)1

III.
DIAGNOSIS
Menegakkan diagnosis pasien dengan gangguan psikosomatik tidak berbeda
dengan menegakkan diagnosis penyakit lain pada umumnya yaitu dengan cara
anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan
penunjang lain yang diperlukan. Pada umumnya pasien dengan gangguan
psikosomatik datang ke dokter dengan keluhan somatiknya. Jarang sekali keluhan
psikis atau konfliknya dikeluhkan secara spontan. Keluhan psikis yang menjadi
stressornya baru akan muncul setelah dilakukan anamnesis yang baik dan
mendalam. Keluhan somatisnya sangat beraneka ragam dan sering berpindahpindah dari satu sistem organ ke organ lain.1
Gangguan psikosomatik pada orang yang tidak stabil, dapat disebabkan bukan
saja oleh stress yang luar biasa, tetapi juga oleh kejadian-kejadian dan keadaan
sehari-hari, umpamanya rumah tangga yang sibuk, terlalu banyak orang di dalam
satu rumah, suami atau isteri yang tidak dapat menyesuaikan diri atau tidak
mengindahkan keinginan satu sama lain.2
Untuk itu, penting ditanyakan beberapa pertanyaan berikut dalam proses
anamnesis:
Faktor sosial dan ekonomi: kepuasan dalam pekerjaan; kesukaran ekonomi;
pekerjaan yang tidak tentu; hubungan dengan keluarga dan orang lain;
minatnya; pekerjaan yang terburu-buru; kurang terbiasa
FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

Faktor perkawinan: perselisihan, perceraian, dan kekecewaan dalam


hubungan sexual; anak-anak yang nakal dan menyusahkan.
Faktor kesehatan: penyakit-penyakit yang menahun; pernah masuk rumah
sakit; pernah dioperasi; adiksi terhadap obat-obatan, tembakau, dan lain-lain
Faktor psikologik: stress psikologik; keadaan jiwa waktu operasi; status
dalam keluarga.2

Untuk menentukan gangguan fungsional, maka anmnesa penting sekali. Bila kita
sudah menentukan bahwa penderita itu mempunyai gangguan fungsional, maka
selanjutnya kita harus menetapkan apakah sebabnya itu gangguan psikogenik atau
non-psikogenik. Apabila kita sudah menduga bahwa hal itu merupakan gangguan
psikogenik, sebaiknya harus dicari juga korelasi antara gejala-gejala dan stress
psikologik.2
Lewis memberikan beberapa kriteria untuk diagnosa gangguan psikomatik:
1.

2.

3.
4.

Gejala-gejala yang didapat mempunyai permulaan, akibat, manifestasi dan


jalannya yang sangat mencurigakan akan adanya gangguan psikosomatik
Dengan pemeriksaan fisis dan laboratorium tidak didapati penyakit organik
yang dapat menyebabkan gejala-gejala (atau sebagian gejal-gejala)
Adanya suatu stress atau konflik yang menyukarkan penderita
Reaksi penderita terhadap stress ini banyak hubungannya dengan gejalagejala yang dikeluhkannya, yaitubahwa gejala-gejala itu secara psikosomatik
merupakan manifestasi badaniah dari konflik atau penyelesaian masalah yang

5.

tidak memuaskan
Terjadinya stress itu harus mempunyai korelasi antara waktu dan timbulnya
keluhan, bertambah beratnya atau/dan menahunnya penyakit yang ada.2

Tidak semua kriteria harus ada, tetapi apabila terdapat beberapa kriteria yang
sesuai sudah merupakan indikasi kea rah gangguan psikosomatik.1
FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

IV.
JENIS GANGGUAN PSIKOSOMATIK
Untuk klasifikasi jenis gangguan psikosomatik, maka jenis gangguan dibagi
menurut organ yang paling sering terkena, yaitu gangguan gastrointestinal,
gangguan kardiovaskular, gangguan pernapasan, gangguan endokrin, gangguan
kulit, gangguan muskuloskeletal, psiko-onkologi.
a. Gangguan Gastrointestinal
1. Dispepsia Fungsional
Merupakan perasaan tidak enak dan sakit pada daerah
epigastrium, sering disebabkan karena kelainan fungsi lambung:
sekresi asam lambung yang berlebihan, motilitas dan tonus yang
meninggi pada otot-otot dinding lambung.2 Legarde dan Spiro
(1984) mengatakan bahwa keluhan tidak enak pada perut bagian
atas yang bersifat intermitten sedangkan pada pemeriksaan tidak
didapatkan kelainan organis. Gejala-gejala yang sering dikeluhkan
pasien berupa rasa penuh pada ulu hati sesudah makan, kembung,
sering bersendawa, cepat kenyang, anoreksia, nausea, vomitus, rasa
terbakar pada daerah ulu hati dan regurgitasi.3
Peran faktor psikososial pada dispepsia fungsional sangat
penting karena dapat menyebabkan hal-hal di bawah ini:
Menimbulkan perubahan fisiologi saluran cerna
Perubahan penyesuaian terhadap gejala-gejala yang timbul
Mempengaruhi karakter dan perjalanan penyakitnya
Mempengaruhi prognosis
Rangsangan psikis/emosi sendiri secara fisiologi dapat
mempengaruhi lambung dengan dua cara:
Jalur Neurogen: rangsangan konflik emosi pada korteks serebri
mempengaruhi kerja hipotalamus anterior dan selanjutnya ke
nucleus vagus, dan kemudian ke lambung
FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

Jalur Neurohormonal: rangsangan pada korteks serebri


diteruskan ke hipotalamus anterior selanjutnya ke hipofisis
anterior yang

mengeluarkan kortikotropin. Hormon ini

merangsang korteks adrenal dan kemudian menghasilkan


hormon adrenal yang selanjutnya merangsang produksi asam
lambung.3
Pengobatan melalui pendekatan psikosomatis yaitu dengan
memperhatikan aspek-aspek fisik, psikososial, dan lingkungan.
Terhadap keluhan-keluhan dispepsia dapat diberikan pengobatan
simptomatis seperti antasida, obat-obat H2 antagonis seperti
Cimetidin, ranitidine. Obat inhibitor pompa proton seperti
omeprazole, lansoprazole. Yang tidak kalah pentingnya ialah
melakukan psikoterapi dengan beberapa edukasi dan saran agar
dapat mengatasi atau mengurangi stress dan konflik psikososial.3
2. Konstipasi Psikogenik
Buang air besar biasanya terjadi setelah timbul rangsangan di
hipotalamus yang diteruskan ke kolon dan sfingter ani melalui
susunan saraf autonom. Pada waktu tertentu kemungkinan
rangsangan tersebut tidak timbul. Hal ini dapat terjadi pada
seseorang yang sedang murung, kecewa, putus asa, dan gangguan
jiwa lain. Pasien sering mempunyai keluhan tidak dapat atau
mengalami kesulitan buang air besar. Akibat kelainan tersebut,
rangsangan di hipotalamus ikut menurun sampai tidak ada,
sehingga rangsangan di usus besar pun sangat berkurang. Bila
FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

berlangsung terus-menerus akan terjadi atoni kolon dan konstipasi


kronik yang selanjutnya disebut konstipasi psikogenik. 4
Pengelolaan
pasien
konstipasi
psikogenik

lebih

menitikberatkan pada psikoterapi. Perlu pendekatan psikomatik


dengan memperdulikan faktor-faktor psikis sebagai penyebabnya. 4
3. Diare Psikogenik
Seseorang yang sedang mengalami ketegangan jiwa, sedang
emosi, atau sedang dalam keadaan stress , hidupnya tidak teratur.
Keadaan demikian akan menyebabkan terangsangnya hipotalamus
terus-menerus secara tidak teratur. Rangsangan di hipotalamus ini
akan diteruskan ke susunan saraf autonom. Susunan saraf yang
berulang kali terangsang ini akan menyebabkan timbulnya
hiperperistaltik kolon, sehingga bolus makanan terlalu cepat
dikeluarkan karena hiperperistaltik tersebut, reabsorpsi air di kolon
terganggu, dan timbullah diare. Bila terjadi berulang kali, timbul
diare kronik. Keadaan demikian disebut diare psikogenik kronik. 4
Sifat diare psikogenik pada umumnya memperlihatkan sering
buang air besar yang bersifat lembek, hampir tidak pernah bersifat
cair, jarang disertai lender dan darah, dan tidak pernah disertai
demam. Diare yang timbul biasanya berlangsung beberapa hari,
selama masih ada gangguan psikis. 4
4. Obesitas
Pada obesitas yang hebat sering didapati faktor psikologik.
Tidak dapat diterangkan secara memuaskan dengan teori: efisiensi
otot-otot yang tinggi, respiratory quotient yang rendah, specific

FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

dynamic action dari makanan atau penyimpanan yang abnormal


oleh orang gemuk itu. 2
Faktor psikologik, mulai dari ketegangan yang ringan smapai
dengan suatu nerosa yang hebat dapat menyebabkan makan
berlebihan. Kadang-kadang orang yang merasa tidak bahagia
mencari kesenangan dalam makanan. Mungkin bila ia mengalami
banyak kekecewaan dalam pekerjaan atau kehidupan seksual,
makanan bukan saja daoat merupakan pembelaan atau hiburan,
tetapi juga dapat merupakan substitusi. 2
Pengobatan ialah meyakinkan penderita bahwa berat badan itu
perlu diturunkan, mengatur tabiat makanan, diet yang pantas, dan
psikoterapi bila terdapat konflik; dapat juga diberikan obat-obat
untuk menekan nafsu makan beserta vitamin supaya tidak
kekurangan bila makan berkurang. 2
b. Gangguan Kardiovaskular
1. Hipertensi
Hipertensi oleh banyak peneliti dianggap sebagai suatu
penyakit

yang

multifaktorial.

Selain

faktor

psikis

yang

menstimulasi efek simpatikotonik, pengaruh lingkungan sekitar


dan sosio-kultural juga ikut berperan. Faktor-faktor psikis
stuasional yang menyebabkan kenaikan tekanan darah, merupakan
model outlet yang aman sebagai reaksi normal fisiologis. 5
Menurut Groen, mekanisme utama perkembanghan menjadi
hipertensi

yaitu

perubahan

suatu

reaksi

fisiologis

yang

dihubungkan dengan behavior readiness, oleh suatu reaksi


neuroviseral; sebagai ganti aktivitas neuromuscular yang kuat dan
FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

10

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

volume semenit jantung yang meningkat, serta resistensi pembuluh


darah yang meningkat pula.5
Karena sifat etiologi yang multifaktorial, kebanyakan pasien
membutuhkan terapi kombinasi. Terapi dengan obat seringkali
perlu diberikan, namun efek samping harus diperhatikan.
Reserpine, misalnya, juga mempunyai efek samping depresif.
Latihan autogen (autogenic training) sebagai latihan rileks pada
hakikatnya sangat baik, namun seringkali menambah rasa takut dan
kegelisahan, karena aktivitas defense yang menutup-nutupi rasa
takut dihilangka, sehingga konflik internal malah dialami lebih
jelas. 5
2. Gangguan Irama Jantung
Mekanisme

regulasi

jantung

mudah

bereaksi

terhadap

rangsangan pikis dan penilaiannya dalam hal khayalan dan


pengalaman merupakan faktor-faktor yang menentukan dalam
terjadinya penyakit. Faktor-faktor emosional dapat bekerja dengan
3 cara:
a.

Afek seperti rasa takut, sedih, gembira atau ketegangan jiwa


mempengaruhi fungsi somatik secara tidak khas.emosi agresif
mempercepat frekuensi jantung. Pengalaman depresif menekan

b.

dan memperlambatnya.
Bila dalam keadaan normal, jantung berdenyut teratur, maka
persepsi gangguan irama dapat menimbulkan kecemasan atau
ketidakseimbangan vegetatif.5

FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

11

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

Faktor-faktor psikis berpengaruh pada timbulnya gangguan


frekuensi denyut dan disaritmia jantung. Pada gangguan frekuensi
jantung, pengaruh fisis, toksik, infeksi dan degenerasi, juga faktor
piskis.5
Aritmia psikogenik tanpa adanya gangguan struktural pada
umumnya tidak akan menyebabkan kematian, namun dapat
memberikan impilkasi yang buruk terhadap kondisi ppsikis pasien.
Maka psikoterapi suportif dan pemberian ansiolitik dapat
mencegah perburukan kondisi psikis dan menghilangkan ritma.5
c. Gangguan Pernapasan
1. Sindrom Hiperventilasi
Sindrom hiperventilasi didefinisikan sebagai suatu keadaan
ventilasi berlebihan yang menyebabkan perubahan hemodinamik
dan kimia sehingga menimbulkan berbagai gejala. Mekanisme
yang mendasari hingga terjadi sindrom hiperventilasi belim jelas
diketahui.6
Menurut Arautigam (1973) secara psikologis penyebab yang
mencetuskan penyakit ini ialah perubahan pernapasan, yang ia
namakan sindrom pernapasan nervous yang biasanya disebabkan
oleh faktor emosional/stress psikis. Terapat 2 jenis pernapasan
yang dapat ditemukan, yaitu: 6
a. Pernapasan yang tidak teratur yang dianggap sebagai
pengutaraan rasa takut yang khas.
b. Pernapasan yang dangkal yang diselingi dengan penarikan
napas dalam sebagai pengutaraan situasi pribadi yang bersifat
keletihan dan pasrah, yaitu pertanda tujuan tidak dapat dicapai
kendati sudah diusahakan.
FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

12

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

Gejala klinis yang dapat ditemukan pada pasien adalah napas


sesak, napas pendek, dada tertekan, nyeri pada epigastrium, pusing,
sakit kepala,mulut dan tenggorokan kering, disfagi, dan rasa penuh
pada lambung.penyebab paling sering untuk hiperventilasi ialah
emosi rasa takut dan kegelisahan. 6
Terapi untuk pasien dengan sindrom hiperventilasi:
a. Pasien disuruh bernapas (inspirasi dan ekspirasi) ke dalam
sungkup kantong plastic bila didapatkan tanda alkalosis agar
PCO2 dalam darah naik.
b. Suntikkan 10 cc larutan kalsium glukonas 10% intravena
mempunyai efek placebo. Pasien merasa hangat dan enak,
tetapi kadar ion kalsium tidak akan naik.
c. Belajar bernapas torako-abdominal dengan menggerakkan
diafragma.
d. Psikoterapi:

membantu

menyelesaikan

problem-problem

emosional pada pasien, termasuk melakukan terapi pelaku


(Cogntive Behavioral Teraphy)
e. Karena hiperventilasi sering merupakan bagian dari serangan
panic (panic disorder), maka pemberian obat yang tepat adalah
golongan

benzodizepin

atau

golongan

SSRI

(Selective

Serotonin Reuptake Inhibitor)


2. Asma Bronkial
Asma merupakan suatu gangguan karena hiperaktivitas yang
diikuti bronkokontriksi yang reversible serta adanya reaksi
inflamasi kronik serta kerusakan epitel. Dalam perkembangannya,
pathogenesis asam dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu faktor genetik ,
FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

13

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

permusuhan, kejengkel(atopi dan hiperaktivitas bronkus pada


keluarga), faktor lingkungan, allergen seperti debu rumah, serbuk
sari bunga, virus dan bakteri, polusi udara; faktor individu, adanya
stressor dan kemampuan untuk mengatasi asma.7
Beberapa keadaan yang merupakan stressor psikososial,
sebagai berikut:
Pengalaman luar biasa: permulaan masuk sekolah, ujian,
pertama masuk kerja, menderita penyakit, berpisah dengan
-

orang tua, dll


Kejadian-kejadian traumatic: perkelahian/pertentangan dengan
orang tua, permusuhan, kejengkelan dalam kerja.
Pengalaman yang menyedihkan: kematian orang tua, atau anak,
kehilangan harta benda, dan musibah lainnya7
Terhadap gejala asma secara fisik diberikan pengobatan standar

yang sudah baku sesuai dengan tingkat beratnya penyakit


(bronkodilator,

kortikosteroid).

psikosomatik seperti adanya


bersamaan

dilakukan

Sedangkan

untuk

gangguan

anxietas atau depresi secara

psikoterapi

dan

psikoedukasi

serta

psiokfarmaka yang sesuai. Pada gangguan anxietas yang menyertai


atau mencetuskan asma dapat diberikan golongan benzodiazepine
seperti alprazolam, klobazam. Bila dijumpai adanya presi, maka
dapat diberikan antidepresan yang aman misalnya golongan SRI
seperti sertraline, fluoksetin.7
Cara pengobatan psikosomatik yang khusus pada asma
memang belum ada standar, namun pada umumnya pengobatan
meliputi psikoterapi superfisial, edukasi, instruksi.
FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

14

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

Psikoterapi individual dan psikoterapi kelompok. Mereka


diberikan edukasi mengenai perjalanan penyakit asma,
mekanisme timbul, faktor resiko, pengobatan dan pencegahan.
Psikoterapi ini diberikan untuk meningkatkan daya adaptasi
dan kemampuan untuk menyelesaikan atau menghilangkan

stressor psikososial yang dialami pasien.2,7


Instruksi tentang penatalaksanaan mandiri dengan monitoring
PEFR (Peak Expiratory Flow Rate) di rumah.
Autogrnic training yaitu latihan untuk dapat bersantai dengan
memahami bahwa faktor psikis dapat menimbulkan reaksi

bronkospasme.
Cara sugestif yaitu mengalihkan atau mencurahkan perhatian
diri sendiri kepada hal-hal yang bermanfaat.
Psikoterapi analisis yang sederhana.7

d. Gangguan Endokrin
1. Kelainan Tiroid
Pasien tirotoksikosis umumnya datang dengan keluhan yang
dianggap bersifat psiksi belaka. Misalnya rasa cemas, mudah
marah, paranoid, rasa seperti leher tercekik atau terikat, rasa takut
tanpa sebab yang jelas, insomnia dengan mimpi buruk, dan gugup.
Keluhan ini sering diikuti dengan hiperaktivitas saraf otonom
seperti keringat banyak, mulut kering, pupil lebar, kulit pucat, nadi
cepat, dan sebagainya.8
Pengobatan ialah usaha untuk mengendalikan metabolism
dengan obat-obat dan bila perlu dioperasi. Transquilaizer dapat
sangat membantu. Psikoterapi perlu, terutama pada penderita
FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

15

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

dengan

konflik

yang

mendalam

dan

yang

tidak

dapat

menyesuaikan diri.2
2. Diabetes Melitus
Diabetes Melitus adalah suatu kelompok penyakit meabolik
yang ditandai dengan adanya defek pada sekresi insulin, kerja
insulin, atau keduanya. Hipetglikemia kronik pada pasien diabetes
berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau
kegagalan berbagai organ seperti mata, ginjal, saraf, jantung, dan
pembuluh darah serta mempengaruhi kondisi psikis. Gangguan
psikis yang biasa terjadi pada penderita diabetes mellitus adalah
depresi. 9
Depresi terjadi akibat faktor psikologis dan psikososial yang
berhubungan dengan penyakit atau terapinya. Depresi pada
diabetes terjadi akibat meningkatnya tekanan pasien yang dialami
dari penyakitnya yang kronik. Hubungan ketidakmampuan
adaptasi dengan gejala depresi ditentukan oleh beberapa faktor,
yaitu:9
a. Pandangan terhadap penyakit yang diderita.
b. Dukungan sosial yang kurang baik
c. Coping strategy, mencegah pikiran untuk lari dari kenyataan
dan

adaptasi

psikologis

menjadi

lebih

baik

sehingga

mengurangi kemungkinan gejala depresi.


Pengobatan depresi dan diabetes dilakukan bersama-sama
dengan psikoterapi, psikoedukasi, psikofarmaka secara serentak.
Cognitive

Behavioral

Theraphy

(CBT)

sangat

bermanfaat

diberikan pada pasien depresi dengan diabetes mellitus dan


FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

16

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

dikombinasikan dengan edukasi diabetes. Teknik CBT tersebut


adalah:9
a. Merubah perilaku dengan mengembalikan aktuvitas fisik dan
kehidupan sosial yang menyenangkan pasien.
b. Upaya pemecahan masalah atau stress yang dihadapi.
c. Teknik kognitif dengan mengidentifikasi adanya maldaptasi
dan menggantinya dengan pandangan yang akurat, adaptif dan
akurat.
Beberapa golongan obat antidepresan yang biasa diberikan
untuk penderita diabetes melitus adalah golongan SSRI (Selective
Serotonin Reuptake Inhibitor) dapat mengurangi resistensi insulin
sehingga gula darah dapat lebih terkontrol. Beberapa golongan
obat SSRI seperti fluoksetin memiliki efek menurunkan berat
badan sehingga baik diberikan pada penderita diabetes yang
gemuk. Efek samping yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan
terjadinya hipoglikemia, disfungsi seksual dan pasien yang disertai
gangguan ginjal.9
e. Gangguan Muskuloskeletal
Arthritis rheumatoid adalah penyakit inflamasi kronik dengan
pathogenesis autoimun dan etiologi yang multikompleks. Berbagai
faktor yang dapat berperan penting seperti immunogenetik, kelamin,
umur dan stress. Hubungan stress dengan AR masih belum jelas,
meskipun pada berbagai penelitian terdapat perkembangan bahwa
faktor stressor lingkungan, psikologis, dan biologis menjadi faktor
predisposisi.10
Sebelum timbulnya penyakit AR, pasien menunjukkan ciri-ciri
psikodinaik dan kepribadian yang khas, yaitu:
FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

17

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

Ketelitian yang berlebihan, perfeksionisme, kepatuhan, dengan


kecenderungan menekan semua dorongan agresi dan permusuhan.
Ciri mesokistis-depresif dengan tendensi pengorbanan diri, sifat
menolong yang berlebihan, bermoral tinggi dan cenderung

depresif.
Kebutuhan aktivitas badaniah seperti olahraga, kerja di rumah dan
berkebun sebagai penyaluran agresi.2,10
Kepribadian,

stressor

psikologis,

ancaman

terserang

AR,

kemampuan menanggulangi nyeri dan menanggulagi ketidakmampuan


serta dukungan sosial telah terbukti berhubungan dengan derajat nyeri,
disabilitas dn aktivitas penyakit AR. Faktor psikososial seperti stress
psikologis, penyesuaian, depresi, keyakinan dalam kemampuan
menanggulangi penyakit dan dukungan sosial berperan pada keadaan
sakit dengan mempengaruhi pelepasan hormone stress, yang
selanjutnya berpengaruh pada mekanisme dalam tubuh termasuk
kerentanan dan kekambuhan penyakit AR.10

f. Gangguan Urologi
Irritable bladder, yang bukan disebabkan oleh kelainan organik
terutama pada wanita hingga klimakterium, jarang pada pria. Secara
psikofisiologis yang mendasari terjadinya irritable bladder ialah
sensibilitas fungsi kandung kemih yang berlebihan atau ambang
rangsang yang rendah yang bersifat psikovegetatif, yang dapat
ditemukan

dengan

pengukuran

tegangan

intravesikal.

Dengan

demikian perubahan-perubahan pengisian kandung kemih yang


FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

18

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

berlebihan. Secara psikodinamik hal ini dapat terjadi pada situasi


konflik seksual, rasa malu dan takut pada percobaan koitus, rasa segan
terhadap pasangan.11
Beberapa contoh lain gangguan psikosomatik saluran kemih:
Fobia mengenai buang air kecil yang tak diinginkan
Polakisuria tanpa ada kelainan organ
Retensio urin tidak organik yang sepintas lalu atau residivans
Bercampur aduknya fungsi berkemih dengan fungsi seksual11

V.

PENATALAKSANAAN

Di Amerika Serikat 1/3 penderita yang datang berobat pada dokter umum tidak
mempunyai gangguan organik, 1/3 yang lain mempunyai gangguan organik tetapi
keluhannya berlebihan.2
Dengan kesabaran dan simpati banyak penderita dengan gangguan psikosomatik
dapat ditolong. Kita dapat menerangkan kepada penderita tidak dapat sesuatu
dalam tubuhnya yang rusak atau yang kurang, tidak terdapat infeksi dan kanker,
hanya anggota tubuhnya bekerja tidak teratur. Untuk menerangkan bagaimana
emosi dapat mengganggu tubuh dapat diambil contoh sehari-hari seperti orang
yang malu mukanya akan menjadi merah, orang yang takut menjadi
bergemetar dan pucat. Dapat dipakai perumpamaan menurut pendidikan dan
pengetahuan penderita.2
Setelah dibuat diagnosis gangguan psikosomatis, terdapat 3 fase terapi yaitu: 2
Fase 1 : ialah fase pemeriksaan dan pemberian ketenangan, penderita dan dokter
bersama-sama berusaha dan saling membantu melalui anamnesis yang baik,
pemeriksaan fisik yang teliti dan tes laboratorium bila perlu. Diusahakan
membuktikan bahwa tidak terdapat penyakit organik dan dijelaskan kepada
FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

19

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

penderita tentang mekanisme fisiologik serta keterangan tentang gejala-gejala.


Berikan kesempatan kepada penderita untuk bertanya.
Fase 2 : merupakan fase pendidikan, fase ini dokter lebih banyak bicara. Untuk
memberi keterangan tentang keluhan, meyakinkan serta menenangkan pasien,
dapat dikatakan antara lain :
Bahwa gejala-gejalanya benar ada, dapat dimengerti kalau ia mengeluh dan
menderita
Bahwa gejala-gejalanya sering terdapat juga pada orang lain yang sudah kita
obati
Bahwa tidak ada kanker atau penyakit berbahaya lain
Bahwa gejala-gejala itu timbul karena ketegangan sehari-hari dan gangguan
emosional
Bahwa gejala itu tidak akan segera hilang, diperlukan beberapa waktu, tetapi
akan hilang atau

berkurang bila diobati dengan baik

Bahwa kita semua mengalami ketegangan, kekecewaan, godaan dan


kecemasan
Bahwa kelelahan fisik atau jiwa dapat mengurangi daya tahan tubuh sehingga
timbul gejala
Bahwa kita apabila terlalu terburu-buru akan timbul ketegangan jiwa
Bahwa tubuh kita bereaksi terhadap ketegangan yang terlalu berat. Sering
gejala merupakan pekerjaan alat tubuh yang bekerja berlebihan
Bahwa ini akan lebih baik bila pasien mengerti akan penyebab gejala.

FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

20

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

Fase 3 : ialah fase keinsafan intelektual dan emosional. Pada fase ini pasien yang
lebih banyak bicara. Terjadi pengakuan, katarsis dan wawancara psikiatrik. Hal ini
harus berjalan sangat pribadi, rahasia, tanpa sering terganggu dan dalam suasana
penuh kepercayaaan dan pengertian. Dokter menjelaskan saja agar pembicaraan
berjalan dengan baik, tidak terlalu menyimpang dari pokok pembicaraan. Terdapat
3 golongan senyawa psikofarmaka2
1. Obat tidur (hipnotik)
Diberikan dalam jangka waktu pendek 2-4 minggu. Obat yang dianjurkan adalah
senyawa benzodiazepine berkhasiat pendek seperti nitrazepam, flurazepam, dan
triazolam. Pada insomnia dengan kegelisahan dapat diberikan senyawa fenotiazin
seperti tioridazin, prometazin.2,12
2. Obat penenang minor dan mayor
Obat penenang minor
Diazepam

merupakan

obat

yang

efektif

yang

dapat

digunakan

pada

anxietas,agitasi, spasme otot, delirium, epilepsi. Benzodiazepine hanya diberikan


pada anxietas hebat maksimal 2 bulan sebelum dicoba dihentikan secara perlahan
(tapering off) untuk menghindari toleransi dan adiksi.2,12

Obat penenang mayor


Yang paling sering digunakan adalah senyawa fenotiazin dan butirofenon seperti
clorpromazin, tioridazin dan haloperidol. Diberikan hanya pada kasus gejala
agitasi , kegelisahan yang berlebihan, agresi dan kegaduhan.2,12
FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

21

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

3. Antidepresan
Yang biasa digunakan adalah senyawa trisiklik dan tetrasiklik seperti amitriptilin,
imipramin, mianserin dan maprotilin yang dimulai dengan dosis kecil yang
kemudian ditingkatkan. Saat ini, golongan trisiklik sudah jarang digunakan karena
efek samping yang banyak akibat kerja anti kolinergiknya. Antidepresan baru
dengan efek samping yang minimal adalah golongan:
SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor): sertalin, paroksetin, fluoksetin,
fluvoksamin
SSRE (Selective Serotonin Reuptake Enhancer): Tianeptin
SNRI (Serotonin Nor Epinephrin Reuptake Inhibitor): Venlafaksin
RIMA (Reversible Inhibitory Monoamine Oxidose type A): Moklobemid
NaSSA (Nor-adrenalin ang Serotonin Anti Depressant): Mitrazapin
Atipik: Trazodon, Nefazodon12

BAB III
SIMPULAN
1.

Gangguan psikosomatik merupakan gangguan yang melibatkan antara


pikiran dan tubuh. Hal ini berarti bahwa adanya faktor psikologis yang
mempengaruhi kondisi medis.

2.

Komponen emosional memainkan peranan penting pada gangguan


psikosomatik.

3.

Manifestasi penyakit fisik juga sering diturunkan dan kepribadian


seseorang.

4.

Gangguan psikosomatik dapat rnelibatkan berbagai sistem organ di dalam


tubuh sehingga memerlukan penanganan secara terintegrasi dari ahli medis
dan ahli psikiatri.

FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

22

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

5.

Pengobatan gangguan psikosomatik dari sudut pandang psikiatrik adalah


tugas yang sulit.

6.

Tujuan terapi haruslah mengerti motivasi dan mekanisme gangguan fungsi


dan untuk membantu pasien mengerti sifat penyakitnya.

7.

Tilikan tersebut harus menghasilkan pola perilaku yang berubah dan lebih
sehat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Mudjaddid, E. Shatri, Hamzah. Gangguan Psikosomatik: Gambaran Umum
dan Patofisiologinya. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI.
Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006. p896-8
2. Maramis, W.F. Gangguan Psikosomatik. Dalam Catatan Ilmu Kedokteran
Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press. p339-72
3. Elvira, Sylvia D., Hadisukanto, Gitayanti. Faktor Psikologik Yang
Mempengaruhi Kondisi Medis (d/h Gangguan Psikosomatik). Dalam Buku
Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.2010.p287-93
4. Mudjaddid, E. Dispepsia Fungsional. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006. p906
FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

23

G A N G G U A N P S I K O S O M A T I S | 2015

5. Hadi, Sujeno. Psikosomatik Pada Saluran Cerna Bagian Bawah. Dalam Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI.
2006. p907-9
6. Halim, S. Budi, dkk. Aspek Psikosomatik Hipertensi. Dalam Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006. p913-4
7. Putranto, Rudi. Mudjaddid, E. shatri, Hamzah. Sindrom Hiperventilasi. Dalam
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan
FKUI. 2006. p920-1
8. Mudjaddid, E. Aspek Psikosomatik pada Asma Brokhial. Dalam Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006.
p922-3
9. Djokomoeljanto, R. Psikosomatik Pada Kelainan Tirod. Dalam Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006.
p937-8
10. Mudjaddid, E. Putranto, Rudi. Aspek Pikosomatik Pasien Diabetes Melitus.
Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat
Penerbitan FKUI. 2006. p939-40
11. Sukatman, D. Budihalim, S. Putranto, Rudi. Gangguan Psikosomatik Pada
Penyakit Reumatik dan Sistem Muskuloskeletal. Dalam Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006. p924-5
12. Budihalim, S. Sukatman, D. Mudjaddid, E. Gangguan Psikosomatik Saluran
Kemih. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat
Penerbitan FKUI. 2006. p953
13. Mudjaddid, E. Budihalim, S. Sukatman, D. Psikofarmaka dan Psikosomatik.
Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat
Penerbitan FKUI. 2006. p901-2

FK UNLAM
PSIKIATRI RSUD ULIN BANJARMASIN

24