Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH ANALISIS JURNAL

Chronic Unilateral Neglect from Focal Meningoencephalitis Lesions in an


Immune-Compromised Hemodialysis Patient
(Rick Jepson, RN)

Oleh Kelompok SGD 3 :


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Kadek Ikapatria Sandre Putri


Ni Putu Giri Karmany
A.A Sagung Diah Gayatri Dippa
Ni Made Dita Andayani
I Dewa Made Surya Wibawantara
Ni Made Putri Raras Iswara
Ni Putu Lilik Cahyani
Ni Made Yuli Kusuma Dewi
Ni Luh Putu Mira Santana Sari

(1302105003)
(1302105010)
(1302105026)
(1302105027)
(1302105034)
(1302105050)
(1302105052)
(1302105066)
(1302105087)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini penyakit yang menyerang otak telah mencuri perhatian kita
bersama. Mulai dari yang hanya menyerang lapisan terluar otak, hingga ke
jaringan otak sendiri yaitu meningitis dan ensefalitis. Tak hanya kedua penyakit
tersebut, kini juga muncul kombinasi dari kedua penyakit tersebut yang
mengenai bukan hanya salah satu tapi keduanya yaitu lapisan dan otak secara
bersamaan yang dikenal dengan meningoensefalitis.
Meningitis adalah peradangan meninges, meliputi otak dan sumsum tulang
belakang. Ini adalah yang paling sering disebabkan oleh infeksi ( bakteri, , virus
atau jamur), tetapi juga dapat diproduksi oleh iritasi kimia, perdarahan
subaraknoid, kanker dan kondisi - kondisi lain (WHO, 2014). Menurut data WHO
Sepanjang 2009 ini telah menerimanya, 7 dan 14 negara Afrika, di bawah
pengawasan dari peningkatan outbreaks harus menerimanya.Distrik di burkina
faso, sebanyak 217 Kamerun, Republik di Afrika Tengah. Chad, Republik
Demokratik Kongo, ini menerimanya dan Niger, Nigeria yang melintasi ambang
pintu. Nigeria karena sebagian besar dari wabah ini, 175 wilayah yang terkena
dampak. Selain itu merupakan kasus yang serius sebanyak 25 orang
(WHO,2009). Berdasarkan data di atas menjelaskan bahwa prevalensi meningitis
masih tinggi di belahan dunia seberang benua. Namun bukan berarti kita
masyarakat Indonesia menjadi lengah terhadap potensi terjadinya meningitis di
Indonesia.
Data lain dari US Census Bureau, International Data Base ( 2004)
mengungkapkan bahwa insiden terjadinya meningitis di Indonesia tahun 2004
sebanyak 21,916 dengan jumlah populasi detail sebanyak 238,452,9522 orang.
Meskipun data ini merupakan rekap data tahun 2004 namun sudah menunjukkan
angka yang mendapat warning berdasarkan jumlah kasus yang terjadi pada
tahun tersebut. Ensefalitis juga merupakan kasus tersering yang menjadi
perhatian pada penyakit yang menyerang otak. Sekitar 4000 kasus ensefalitis
terus bertambah tiap tahunnya. Infeksi paling sering menyerang dan dengan
frekuensi yang berat pada anak anak dan lansia. Ensefalitis paling serng
disebabkan oleh virus. Meningoensefalitis adalah proses inflamasi yang sering

terjadi karena infeksi virus maupun bakteri yang menyerang otak dan meningen
(Patient UK, 2014).
Meningoensefalitis juga menimbulkan dampak Unilateral Neglect (UN).
Unilateral Neglect yang juga disebut hemi-inattention, unilateral asomatognosia
(unilateral

spatial

agnosia,

Anton-Babinski

syndrome),

anosogmia

dan

atopognosia. Penyebab UN yang umum dari unilateral neglect adalah kerusakan


hemisfer otak kanan, khususnya lesi pada lobus parietal yang menyebabkan
kerusakan ini. Lesi lobus frontal, lobus parietal inferior, talamus dan striatum juga
dapat menyebabkan UN. Unilateral neglect ditandai dengan ketidaksadaran dan
penolakan terhadap setengah tubuhnya, seringkali dapat meluas. Hal ini dapat
berkembang setelah stroke. Sembuh total terjadi 13% pada penelitian. Pasien
yang mengalami unilateral neglect

(UN) menimbulkan tanda seperti berikut

impulsif, perhatian yang cepat teralihkan, kurang luasnya lapang pandang,


kemampuan beljar yang menurun, tidak mampu mengenali, penurunan pemikiran
konkrit

dan konfusi. Anak anak mempunyai risiko terbesar untuk

berkembangnya unilateral neglect diperoleh dari hemiplegia (contohnya karena


stroke). Stroke dapat terjadi pada anak anak dengan penyakit jantung bawaan,
sickle cell anemia, meningitis atau trauma kepala (Carpenito, 2008). Dengan
banyaknya akibat yang disebabkan oleh Unilateral Neglect (UN) pada pasien
jelas hal ini harus menjadi perhatian kita bersama untuk menyikapinya. Penting
bagi seorang perawat untuk memahami hal ini terutama perawat neurologi.
Pada jurnal dipaparkan bahwa pasien meningoensefalitis dengan Unilateral
Neglect (UN) kronis terus dilakukan pengkajian lebih lanjut oleh perawat selama
mendapat perawatan baik sejak pasien datang ke Emergency Departement (ER)
dan setelah pasien pulang ke rumah. Pasien yang juga diketahui mempunyai
riwayat diabetes melitus tipe 1 yang tidak terkontrol dan mendapat transplantasi
ginjal pada tahun 2002. Proses hemodialisis yang dilakukan pasien selama
menunggu

transplantasi

selama

tahun

dicurigai

sebagai

penyebab

menyebarnya bakteri melalui darah menuju ke otak pasien. Pada jurnal ini
membahas perkembangan yang dialami pasien UN dengan lesi fokal pada
meningoensefalitis dan perubahan imun pada hemodialisis akibat transplantasi
ginjal. Perawat neurologi penting untuk memahami Unilateral Neglect sehingga
dapat dikaji, dirawat dan dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai Unilateral

Neglect sehingga dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam merawat


pasien meningoensefalitis dengan Unilateral Neglect (UN) kronis.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun permasalah yang dikaji dalam jurnal ini adalah sebagai berikut.
1.1 Bagaimana pengaruh Unilateral Neglect (UN) kronis pada pasien lesi
fokal meningoensefalitis ?
1.2 Pengakjian apa saja yang dapat diberikan kepada pasien lesi fokal
meningoensefalitis dengan Unilateral Neglect (UN) kronis ?
1.3 Tujuan Analisis Jurnal
Tujuan penulisan analisis jurnal ini adalah sebagai berikut.
1.3.1 Tujuan Umum
1. Menambah wawasan mahasiswa mengenai perkembangan dan pengaruh
Unilateral

Neglect

(UN)

kronis

terhadap

pasien

lesi

fokal

meningoensefalitis.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui perkembangan pasien meningoensefalitis dengan Unilateral
Neglect (UN) kronis selama perawatan.
2. Mengetahui pengkajian yang diberikan kepada pasien meningoensefalitis
dengan Unilateral Neglect (UN) kronis.

1.4 Manfaat Analisis Jurnal


Adapun manfaat yang diperoleh dari penulisan analisis jurnal ini adalah sebagai
berikut.
1. Meningkatkan kemampuan perawat dalam melakukan perawatan bagi
pasien meningoensefalitis dengan Unilateral Neglect (UN) kronis
2. Sebagai bahan penelitian lebih lanjut untuk perkembangan pengaruh
Unilateral Neglect (UN) kronis pada pasien meningoensefalitis.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Ringkasan Jurnal
Meskipun ERS telah meningkat dari waktu ke waktu, ia terus untuk
menampilkan beberapa bentuk halus dari PBB. Sulit untuk memastikan
berapa banyak ini mempengaruhi nya sehari-hari kegiatan. Menurut laporan
diri, dia adalah sebagai fungsional sekarang seperti dulu sebelum infeksi.
Tapi laporan ini harus dipertanyakan karena sejarah nya Anosognosia.
Pacarnya dan keluarga mungkin dapat secara akurat menilai aktual nya
penurunan, tetapi mereka telah absen dari semua sesi penilaian dan
tampaknya tidak tertarik pada berpartisipasi. Fakta bahwa E. R. S. terus
menunjukkan bukti PBB dalam uji pembatalan dan variasi dari Baking Tray
Tugas menunjukkan bahwa ia mungkin belum memiliki defisit spasial yang
dapat mengganggu sehari-hari kegiatan. Terutama jitu adalah scanning
terganggu dan memori spasial dia terus menampilkan 12 bulan setelah onset
PBB. Meskipun ia sekarang mengakui dan merasa kepemilikan lengan
kirinya, dia melakukan tidak menghapus bola kapas yang ditempelkan
selama versi Test Fluff. Ini juga menunjukkan berlama-lama PBB yang dapat
mengganggu beberapa kegiatan sehari-hari nya. Ada kemungkinan bahwa
E. R. S. hanya memiliki subklinis PBB (yaitu, PBB yang mewujud dalam
situasi pengujian tapi tidak dalam perilaku yang sebenarnya). Dia tidak
menunjukkan tanda-tanda UN sementara dia makan, ambulated, erpakaian,
atau pantomimed dandan. Namun, tetap mungkin bahwa kelelahan, stres,
atau gangguan bisa memperburuk nya PBB subklinis dan terlalu
pengganggu dia keluar tingkah laku.
3.2 Analisis Jurnal
A. Population
Populasi dalam penelitian ini adalah Ny. E. R. S, usia 37 tahun yang
mempunyai riwayat diabetes tipe 1 yang tidak terkontrol, dan riwayat
transplantasi ginjal pada tahun 2002.

B. \
C. Intervention
Selama perawatan, Ny. E.R.S dikaji tubuh bagian kirinya karena dicurigai
mengalami Unilateral Neglect (UN). Beberapa bentuk tes yang dilakukan
setelah Ny. E.R S. meninggalkan rumah sakit adalah Line Cancellation Test,
Baking Tray Task, dan Fluff Test.
D. Comparison
Ketiga test tersebut dilakukan terhadap Ny. E.R.S sehingga hasil dari masing
masing tes menunjukkan hasil yang sama pada 4 bulan dan 6 bulan
setelah meninggalkan rumah sakit. Namun hasil yang berbeda pada 12
bulan setelah meninggalkan rumah sakit.
E. Outcome
Setelah dilakukan beberapa test untuk mendiagnosis Unilateral Neglect (UN)
yang terjadi pada Ny. E.R.S, ditemukan hasil yang sama pada 6 bulan
pertama setelah meninggalkan rumah sakit. Ny. E.R.S gagal dalam test
tersebut. Hal ini yang membuktikan bahwa pasien mengalami Unilateral
Neglect (UN). Namun menurut Rossetti dan Rode, mengkaji Unilateral
Neglect (UN) dengan menggunakan pensil dan kertas kurang efektif karena
bukan merupakan indikator yang baik dalam mendiagnosis UN pada pasien.
Untuk pengkajian lebih lanjut pada Ny. E.R.S diberikan tes Baking Tray Test
yang meminta pasien untuk menyebar 12 cup selai kacang di atas nampan
makan siang. Hasilnya pasien menyebarkan cup selai kacang secara
seragam namun hanya pada sisi kanan nampan. Begitu juga dengan Fluff
Test, pasien menunjukkan tanda tanda Unilateral Neglect (UN). Namun
ppada 12 bulan seteah meninggalkan rumah sakit didapati pasien pertama
kali dapat melewati tes tersebut. Meskipun tes ini berhasil namun masih
dipertanyakan karena pasien mempunyai riwayat anosognosia. Walaupun
pasien dapat menyadari dan menggunakan tangan kirinya lebih banyak
daripada sebelumnya, dicurigai UN mungkin sebagai tanda klinis yang
muncul tapi tidak sampai mempengaruhi aktivitasnya sehari hari.
F. Time frame

Pengkajian dalam

jurnal ini dilakukan sejak pasien datang ke ER pada

pertengahan akhir 2006 hingga 12 bulan setelah meninggalkan rumah sakit.

Daftar Pustaka

WHO. 2014. Meningitis. Available at http://www.who.int/topics/meningitis/en/


(Diakses pada 25 Oktober 2014)
WHO. 2009. Number of meningitis epidemics : Highlight on 2009 epidemiological
season. Available at
http://www.who.int/gho/epidemic_diseases/meningitis/epidemic_districts_2009_te
xt/en/ (Diakses pada 25 Oktober 2014)
US Census Bureau, International Data Base. 2004. Statistics by Country for
Meningitis. Available at http://www.rightdiagnosis.com/m/meningitis/statscountry.htm (Diakses pada 25 Oktober 2014)
Patient UK. 2014. Encephalitis and Meningoencephalitis. Available at
www.patient.co.uk/doctor/Encephalitis-and-Meningoencephalitis.htm. (Diakses
pada 25 Oktober 2014)
Carpenito LJ, Moyet. 2008. Nursing Diagnosis : Application to Clinical Practice
12th ed. USA : Lippincott Williams & Wilkins