Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum ke-3

Mikrobiologi Nutrisi

Hari / Tanggal : Kamis / 8 Oktober 2015


Laboratorium : Biokimia Fisiologi
Mikrobiologi Nutrisi
Nama Asisten :
Hany Zatira Putri (D24110033)

PENGENALAN IN VITRO
Fajar Janato
D24140017 / Kelompok 1

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015
PENDAHULUAN

Latar belakang
Pencernaan merupakan proses memasukkan makanan ke tubuh dan mengambil
kandungan yang ada di dalam makanan tersebut untuk kebutuhan hidup suatu
organisme. Dalam pencernaan, ada beberapa komponen yang ikut membantu
diantaranya mikroorganisme, bakteri, dan protozoa. Untuk mengukur seberapa baik
pencernaan suatu makhluk hidup, melihat kecernaannya. Kecernaan adalah suatu
standar yang digunakan untuk melihat apakah pencernaan suatu makhluk hidup itu
baik atau tidak, semakin tinggi kecernaan suatu makhluk hidup, maka semakin baik
pula pencernaan makhluk hidup tersebut.
Ada beberapa metode dalam mengukur kecernaan suatu makhluk hidup, yaitu in
vitro, in vivo, dan in sacco. Metode in vitro merupakan metode dengan mengukur
kecernaan di dalam lab (tidak langsung) akan tetapi keadaannya hampir menyerupai
keadaan secara langsung. Kelemahan dari metode in vitro adalah tidak adanya
penyerapan dikarenakan belum ada alat yang menyerupai persis organ pencernaan
pada ternak. Metode in vivo merupakan metode mengukur kecernaan langsung
kepada ternak, bukan di dalam lab. Kecernaan in vitro biasanya lebih rendah
dibandingkan kecernaan in vivo karena keterbatasan alat yang tidak menyerupai
secara sempurna organ pencernaan yang ada di dalam tubuh ternak. Oleh karena itu,
pada praktikum kali ini akan mempelajari tentang metode kecernaan in vitro dan
memahami prosedur evaluasi kecernaan secara in vitro.
Tujuan
Praktikum kali ini bertujuan untuk mempelajari prinsip dan prosedur evaluasi
kecernaan secara in vitro.
TINJAUAN PUSTAKA
Ada beberapa teknik dalam analisa kecernaan pakan seperti teknik in vivo, in
vitro dan teknik in sacco. Teknik in vitro atau yang dikenal dengan dengan teknik
mengukur daya secara laboratoris adalah suatu teknik alternatif untuk memecahkan
permasalahan yang terdapat pada teknik in vivo (Soebarinoto dkk, 2010). Kecernaan
meliputi kecernaan suatu bahan pakan pada ternak non ruminansia dan untuk ternak
ruminansia, tetapi analisa kecernaan dapat dilakukan hanya pada kecernaan untuk
ruminansia. Kecernaan suatu bahan pakan untuk ternak ruminansia dapat dihitung
secara akurat pada skala laboratorium dengan percobaan menggunakan cairan rumen
dan pepsin (Zakariah, 2012).
Dalam analisa kecernaan secara in vitro dapat dipengaruhi beberapa hal yang
harus diketahui. Faktor yang mempengaruhi metode kecernaan in vitro antara lain
pencampuran pakan, cairan rumen, pengontrolan temperatur, variasi waktu dan

metode analisis (Zakariah, 2012). Teknik kecernaan in vitro adalah teknik penentuan
kecernaan yang dilakukan secara kimiawi di laboratorium dengan meniru proses
pencernaan yang terjadi di dalam tubuh ternak ruminansia (Vansoest,2005).
Kelebihan dari metode ini yaitu jumlah sampel yang digunakan sedikit tetapi dapat
menentukan kecernaan sampel dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang
singkat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan penelitian in vitro adalah
larutan penyangga, suhu fermentasi, derajat keasaman (pH) yang optimum, sumber
inokulum, periode fermentasi, mengakhiri fermentasi dan prosedur analisis
(Harahap, 2007).
Cairan rumen merupakan limbah yang diperoleh dari rumah potong hewan yang
dapat mencemari lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik. Bagian cair dari is
rumen kaya akan protein, vitamin B kompleks serta mengandung enzim-enzim hasil
sintesa mikroba rumen (Sophian, 2012). Kadar rumen yang berkisar antara 2 sampai
50 mg/dl cukup untuk memenuhi kebutuhan sintesis protein mikroba rumen secara
optimal. Kondisi dalam rumen adalah anaerobic dengan temperature suhu 38-42 oC.
Tekanan osmosis pada rumen mirip dengan tekanan aliran darah, pH dipertahankan
dengan adanya absorpsi asam lemak dan amoniak. Saliva yang masuk kedalam rumen
berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahankan pH tetap pada 6,8. Saliva
bertipe cair, membuffer asam-asam, hasil fermentasi mikroba rumen. (Nursiam,
2010).
Saliva buatan McDougall berperan sebagai larutan penyangga (buffer) dalam
medium atau sebagai pengganti fungsi saliva. Penggunaan saliva buatan McDougall
penting untuk mempertahankan pH agar tetap berada dalam kisaran normal.
Pembuatan saliva buatan ini mengacu kepada metode McDougall tahun 1948.
Larutan saliva buatan McDougall mempunyai kandungan antara lain campuran 58,80
g NaHCO3, 48g Na2HPO4.7H2O, 3,42g KCL, 2,82g NaCl, 0,72g MgSO4.7H2O, 0,24g
CaCl2 dalam 6 liter akuades (Tanuwiria dkk, 2006).
Rumen merupakan organ yang sangat unik yang ada di ternak ruminansia.
Banyak sekali mikroorganisme yang ada di dalam rumen, salah satunya adalah
protozoa. Jumlah protozoa dalam rumen berkisar sekitar 105 sampai 106 sel/g dari iri
rumen, yang mana terdiri dari protozoa yang berflagellata dan berciliata. Jumlah
protozoa dalam rumen sangat beragam menurut jenis makanan, umur, dan keturunan
hewan tersebut. Protozoa juga sangat sensitive terhadap asam, dan jumlahnya
berkurang jika berada pada pH yang rendah. Protozoa biasanya memberikan
kontribusi sekitar 40% dari total nitrogen mikroba rumen (Sembiring, 2010).
MATERI DAN METODE
Materi
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah 4 buah tabung efentor,
tutup tabung erlenmeyer, gas CO2, balp, neraca analitik, cover glass dan kaca objek,

spoit, shaker water bath, dan mikroskop. Bahan yang digunakan pada praktikum kali
ini adalah cairan rumen, dan saliva buatan McDougall.
Metode
Pembuatan saliva buatan
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah alat dan bahan disiapkan.
Masing masing bahan ditimbang di neraca analitik. Na2.HPO4 ditimbang sebanyak
0,70 gram, Na.HCO3 ditimbang sebanyak 0,983, KCl ditimbang sebanyak 0,057
gram, NaCl ditimbang sebanyak 0,047 gram, MgSO4 ditimbang sebanyak 0,012
gram, dan CaCl ditimbang sebanyak 0,004 gram. Setelah itu, semua bahan
dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer dan ditambahkan aquadest 100 ml dan
dihomogenkan.
Pembuatan in vitro
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah alat dan bahan disiapkan.
Selanjutnya, 5 bahan yang ditimbang tadi kecuali CaCl digabung, dan dimasukkan ke
dalam labu erlenmeyer dan dimasukkan 50 ml aquadest, diaduk sampai larut, setelah
itu dimasukkan CaCl sampai larut (homogen). Langkah selanjutnya, ditambah
aquadest 100 ml dan dimasukkan gas CO2 yang bertujuan untuk menghilangkan gas
O2. Langkah selanjutnya, di cek pH nya dengan kertas pH sampai 6,8 atau 6,9.
Setelah itu, larutan saliva dimasukkan sebanyak 12 ml dan cairan rumen dimasukkan
sebanyak 8 ml masing masing ke dalam 4 tabung efentor.
Pengamatan preparat
Setelah dibuat dengan proses in vitro, diambil sampel untuk diamati di
mikroskop untuk dilihat apakah ada protozoanya. Setelah itu dimasukkan ke dalam
shaker water bath dan diambil sedikit lagi samplnya untuk dilihat lagi protozonya dan
dilihat perbedaannya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kecernaan metode in vitro atau yang dikenal dengan dengan teknik mengukur
daya secara laboratoris adalah suatu teknik alternatif untuk memecahkan
permasalahan yang terdapat pada teknik in vivo. Ada beberapa cara analisis in vitro,
dan pada praktikum kali ini menggunakan metode toha sutardi. Metode toha sutardi
merupakan metode yang ditemukan oleh orang Indonesia bernama Bapak Toha
Sutardi dan menggunakan perbandingan antara saliva buatan dan rumen adalah 12 : 8.
Kandungan saliva buatan yang cukup banyak ini agar sebagai buffer dari cairan
rumen agar pH nya tidak cepat berubah karena jika cepat berubah maka
mikroorganisme di dalam rumen termasuk protozoa akan mati dan tidak berkembang.
Cara analisis toha sutardi dipilih dikarenakan cara analisisnya cukup sederhana dan

hanya memerlukan waktu selama 24 jam. Analisis in vitro juga menggunakan


keadaan anaerob dimana oksigen tidak boleh ada ataupaun jika ada harus sangat
sedikit kadarnya dikarenakan untuk menyerupai kondisi di dalam rumen yang
anaerob.
Pada pengamatan protozoa sebelum dan sesudah diberikan saliva buatan
McDougall dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Hasil pengamatan protozoa sebelum diberikan saliva buatan McDougall perbesaran
10 x 10 dapat dilihat pada gambar 1.1

Gambar 1.1 Penampakan protozoa sebelum diberikan saliva buatan McDougall


perbesaran 10 x 10
Hasil pengamatan protozoa sebelum diberikan saliva buatan McDougall perbesaran
40 x 10 dapat dilihat pada gambar 1.2

Gambar 1.2 Penampakan protozoa sebelum diberikan saliva buatan McDougall


perbesaran 40 x 10
Dapat dilihat bahwa pada pengamatan protozoa sebelum diberikan saliva
buatan McDougall, protozoa terlihat cukup jelas pada penampang mikroskop.
Jumlahnya pun sangat banyak dan ada yang berkubu kubu juga protozonya.
Bentuknya pun bermacam macam, ada yang bulat, lonjong, dan ada juga yang tidak
jelas bentuknya dikarenakan perbesaran pada mikroskop yang kurang besar. Pada
perbesaran 40 x 10, ada protozoa yang terlihat inti selnya dan ada yang tidak. Pada
perbesaran 40 x 10 bakteri juga lebih terlihat sendiri sendiri dibandingkan berkubu
kubu. Dari segi warna pun lebih terlihat jelas yang tidak diberikan saliva buatan
daripada yang diberikan saliva buatan.

Hasil pengamatan protozoa sesudah diberikan saliva buatan McDougall perbesaran


10 x 10 dapat dilihat pada gambar 1.3

Gambar 1.3 Penampakan protozoa sesudah diberikan saliva buatan McDougall


perbesaran 10 x 10
Hasil pengamatan protozoa sesudah diberikan saliva buatan McDougall perbesaran
40 x 10 dapat dilihat pada gambar 1.4

Gambar 1.4 Penampakan protozoa sesudah diberikan saliva buatan McDougall


perbesaran 40 x 10
Dapat dilihat bahwa pada pengamatan protozoa setelah diberikan saliva
buatan McDougall, protozoa nya terlihat kurang jelas dan jumlahnya lebih sedikit
dibandingkan dengan yang tidak diberikan saliva buatan McDougall. Pada perbesaran
10 x 10 dan 40 x 10 bakteri pun terlihat menjadi sendiri sendiri, tidak berkubu
kubu seperti yang tidak diberikan saliva buatan. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan
saliva buatan McDougall menghambat perkambangan protozoa sehingga jumlahnya
lebih sedikit dan membuat protozoa satu dengan lainnya terpisah dan menjadi sendiri
sendiri.
SIMPULAN
Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa penambahan saliva buatan
McDougall menyebabkan populasi protozoa berkurang. Pada perbesaran 40 x 10, ada
protozoa yang terlihat inti selnya sedangkan pada perbesaran 10 x 10, inti sel dari
protozoa belum terlihat. Protozoa di dalam preparat pun aktif bergerak gerak

dengan cepat, menandakan bahwa proses in vitro berhasil dilakukan. Pembuatan


saliva buatan pun berhasil dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, S. N; Sembiring, K. C. 2010. Bioproses dan Teknologi Pembuatan Bioetanol.
Majalah Berita Iptek LIPI.
Harahap, N. 2007. Pelaksanaan Pengelolaan da Pemanfaatan Jerami Padi untuk
Pakan. Dalam : M. Soejono, A. Musafie, R. Utomo, N. K Warmdam dan
J. B. Schiee (Editor).Crop Residues for Feed and other Purpose.
Bioconvertion Project Second Workshop on Crop Residues for Feed and other
Purpose. Grati. P. (27-127).
Nursiam, I. 2010. Buffer. Departemen Ilmu dan Teknologi Pakan. Fakultas
Peternakan. Institut Pertanian Bogor
Soebarianto,dkk. 2010. Tinjauan ulang mengenai evaluasi suplemen pada jerami
padi.Pros. Seminar Pemanfaatan Limbah Pangan dan Limbah Pertanian untuk
Makanan Ternak. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, hal : 192-197.
Tanuwiria U Hidayat,. Budinuryanto D.C, S. Darodjah dan Putranto W.S., 2006. Studi
Suplemen Kompleks Mineral Minyak dan Mineral-Organik dan Pengaruhnya
terhadap Fermentabilitas dan Kecernaan Ransum in vitro serta Pertumbuhan
pada Domba Jantan. Jurnal Protein vol 14 (2), p:170.
Vansoest , 2005. Effect of Chopping and level inclusion of whole sugarcane in the
diet on intake and growth of goats. Livestock Produktion science .66 : 25
34.
Zakariah, 2012. An Animal Nutritionist View of the Equatorial Swamp Potetential.
The First International Sago Tg Sym. Kuching-Malaysia. P. 255-260.