Anda di halaman 1dari 12

Anemia Defisiensi Besi

Melisa Pongtiku *
102010291
C2
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 06 Jakarta 11510
No Telp (021) 5694-2051 email: ichabuatallulolo@yahoo.com

Pendahuluan
Anemia defisiensi besi (ADB) adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya
penyediaan besi untuk eritropoiesis, karena cadangan besi kosong yang pada akhirnya
mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang. ADB ditandai oleh anemia
hipokromik mikrositer dan hasil laboratorium yang menunjukkan cadangan besi kosong.
Berbeda dengan ADB, pada anemia akibat penyakit kronik penyediaan besi untuk
eritropoiesis berkurang oleh karena pelepasan besi dari system retikuloendotelial
berkurang, sedangkan cadangan besi masih normal. Pada anemia sideroblastik penyedian
besi untuk eritropoiesis berkurang karena gangguan mitokondria yang menyebabkan
inkorporasi besi ke dalam heme terganggu. Oleh karena itu ketiga jenis anemia ini
digolongkan sebagai anemia gangguan metabolisme besi.1
Anemia defisiensi besi merupakan anemia yang paling sering djumpai, terutama
di negara-negara tropic atau negara dunia ketiga, oleh karena sangat berkaitan erat
dengan taraf social ekonomi. Anemia ini mengenai lebih dari sepertiga penduduk dunia
yang memberikan dampak kesehatan yang sangat merugikan serta dampak social yang
cukup serius.1

Anamnesis
Jenis anamnesis yang biasa dilakukan pada Anemia adalah jenis auto-anamnesis, karena
terkadang pasien masih sadar (tidak hilang kesadaran). Ada beberapa pertanyaan yang
sebaiknya diajukan pada penderita untuk mengetahui pasien menderita anemia atau tidak,
antara lain :

Gejala apa yang sering dirasakan oleh pasien ? lelah, malaise, sesak nafas, nyeri dada,
atau tanpa gejala.

Adakah petunjuk mengenai penyebab anemia?

Tanyakan kecukupan makanan dan kandungan Fe. Adakah gejala yang konsitensi dengan
malabsopsi? Adakah tanda-tanda kehilangan darah dari saluran cerna (tinja gelap, darah
per rektal, muntah butiran kopi)?

Jika pasien seorang wanita, adakah kehilangan darah menstruasi berlebihan? Tanyakan
frekuensi dan durasi menstruasi, dan penggunaan tampon serta pembalut.

Adakah sumber kehilangan darah yang lain?

Riwayat penyakit dahulu dan penyelidikan fungsional

Adakah riwayat anemia sebelumnya?

Adakah riwayat penyakit kronis (misalnya artritis reumatoid atau gejala yang
menunjukkan keganasan)?

Adakah tanda-tanda kegagalan sumsum tulang (memar, perdarahan, dan infeksi yang
tidak lazim atau rekuren)

Riwayat keluarga

Adakah riwayat anemia dalam keluarga ? khususnya pertimbangkan penyakit sel sabit,
talasemia, dan anemia hemolitik yang diturunkan.

Berpergian

Tanyakan riwayat berpergian dan pertimbangakan kemungkinan infeksi parasit (misalnya


cacing tambang dan malaria)?

Obat-obatan

Obat-obatan tertentu berhubungan dengan kehilangan darah (misalnya OAINS


menyebabkan erosi lambung atau supresi sumsum tulang akibat obat sitotoksik).1

Pemeriksaan Fisik

Tanda-tanda vital
Tanda-tanda vital meliputi tekanan darah, nadi, frekuensi nafas, dan suhu. Tekanan darah
normal, nadi meningkat, frekuensi nafas normal atau sedikit meningkat, suhu normal.
Inspeksi
Pada inspeksi akan ditemukan kulit pucat (muka, telapak tangan, konjungtiva, daun
telinga, telapak kaki);
kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertikal dan menjadi cekung sehingga berbentuk
seperti sendok (koilonikia);
atrofi papil lidah dimana permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil lidah
menghilang;
stomatitis angularis (keilosis) peradangan pada sudut mulut berwarna pucat keputihan.
Palpasi
Palpasi abdomen tidak ditemukan adanya perbesaran organ.
Auskultasi
Terdengar peningkatan denyut jantung (takikardi) yang merupakan kompensasi.1

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium
Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin adalah parameter status besi yang memberikan suatu ukuran
kuantitatif tentang beratnya kekurangan zat besi setelah anemia berkembang.
Penentuan Indeks Eritrosit
Penentuan indeks eritrosit secara tidak langsung dengan flowcytometri atau
menggunakan rumus:

Mean Corpusculer Volume (MCV)


MCV adalah volume rata-rata eritrosit, MCV akan menurun apabila
kekurangan zat besi semakin parah, dan pada saat anemia mulai berkembang.
MCV merupakan indicator kekurangan zat besi yang spesifik setelah
thalasemia dan anemia penyakit kronis disingkirkan. Dihitung dengan
membagi hematokrit dengan angka sel darah merah. Nilai normal 82-92 fl,
mikrositik < 82 fl dan makrositik >92 fl.
Mean Corpuscle Haemoglobin (MCH)
MCH adalah berat hemoglobin rata-rata dalam satu sel darah merah. Dihitung
dengan membagi hemoglobin dengan angka sel darah merah. Nilai normal 2737 pg, mikrositik hipokrom < 27 pg dan makrositik > 37 pg.
Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration (MCHC)
MCHC adalah konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata. Dihitung dengan
membagi hemoglobin dengan hematokrit. Nilai normal 32-37% dan hipokrom
< 32% .2
Pemeriksaan Hapusan Darah Perifer
Pemeriksaan hapusan darah perifer dilakukan secara manual dan akan ditemukan
gambaran anemia hipokrom mikrositik, anisositosis (banyak variasi ukuran
eritrosit), poikilositosis (banyak kelainan bentuk eritrosit), sel pensil, kadangkadang adanya sel target.2
Besi Serum (Serum Iron = SI)
Besi serum peka terhadap kekurangan zat besi ringan, serta menurun setelah
cadangan besi habis sebelum tingkat hemoglobin jatuh. Keterbatasan besi serum
karena variasi diurnal yang luas dan spesitifitasnya yang kurang. Besi serum yang
rendah ditemukan setelah kehilangan darah maupun donor, pada kehamilan,
infeksi kronis, syok, pireksia, rheumatoid arthritis, dan malignansi. Besi serum
dipakai kombinasi dengan parameter lain, dan bukan ukuran mutlak status besi
yang spesifik.2
Serum Transferin (TI)
Transferin adalah protein transport besi dan diukur bersama-sama dengan besi
serum. Serum transferin dapat meningkat pada kekurangan besi dan dapat
menurun secara keliru pada peradangan akut, infeksi kronis, penyakit ginjal dan
keganasan.2
Transferrin Saturation (Jenuh Transferin)
Jenuh transferin adalah rasio besi serum dengan kemampuan mengikat besi,
merupakan indikator yang paling akurat dari suplai besi ke sumsum tulang.
Penurunan jenuh transferin dibawah 10% merupakan indeks kekurangan suplai
besi yang meyakinkan terhadap perkembangan eritrosit. Jenuh transferin dapat
menurun pada penyakit peradangan. Jenuh transferin umumnya dipakai pada studi
populasi yang disertai dengan indikator status besi lainnya. Tingkat jenuh
transferin yang menurun dan serum feritin sering dipakai untuk mengartikan
kekurangan zat besi.2
Jenuh transferin dapat diukur dengan perhitungan rasio besi serum dengan
kemampuan mengikat besi total (TIBC), yaitu jumlah besi yang bisa diikat secara
khusus oleh plasma.2
Serum Ferritin

Serum feritin adalah suatu parameter yang terpercaya dan sensitive untuk
menentukan cadangan besi orang sehat. Serum feritin < 20 g/l sangat spesifik
untuk kekurangan zat besi, yang berarti kehabisan semua cadangan besi, sehingga
dapat dianggap sebagai diagnostic untuk kekurangan zat besi.2
Rendahnya serum feritin menunjukkan serangan awal kekurangan zat besi, tetapi
tidak menunjukkan beratnya kekurangan zat besi karena variabilitasnya sangat
tinggi. Penafsiran yang benar dari serum feritin terletak pada pemakaian range
referensi yang tepat dan spesifik untuk usia dan jenis kelamin. Konsentrasi serum
feritin cenderung lebih rendah pada wanita dari pria, yang menunjukkan cadangan
besi lebih rendah pada wanita. Serum feritin pria meningkat pada decade kedua,
dan tetap stabil atau naik secara lambat sampai usia 65 tahun. Pada wanita tetap
saja rendah sampai usia 45 tahun, dan mulai meningkat sampai sama seperti pria
yang berusia 60-70 tahun, keadaan ini mencerminkan penghentian menstruasi dan
melahirkan anak. Pada wanita hamil serum feritin jatuh secara dramatis dibawah
20 g/l selama trimester II dan III bahkan pada wanita yang mendapatkan
suplemen zat besi.2
Serum feritin adalah reaktan fase akut, dapat juga meningkat pada inflamasi
kronis, infeksi, keganasan, penyakit hati, alcohol. Serum feritin diukur dengan
mudah memakai Essay immunoradiometris (IRMA), Radioimmunoassay (RIA),
atau Essay immunoabsorben (ELISA).2
Pemeriksaan Sumsum Tulang
Sumsum tulang menunjukkan hyperplasia normoblastik ringan sampai sedang dengan
normoblas kecil-kecil. Sitoplasma sangat sedikit dan tepi tidak teratur. Pengecatan
besi sumsum tulang dengan biru prusia (Perls stain) menunjukkan cadangan besi
yang negative (butir hemosiderin negative). Dalam keadaan normal 40-60%
normoblast mengandung granula feritin dalam sitoplasmanya, disebut sebagai
sideroblas. Pada defisiensi besi maka sideroblas negative. Di klinik, pengecatan besi
pada sumsum tulang dianggap sebagai baku emas (gold standard) diagnosis defisiensi
besi, namun akhir-akhir ini perannya banyak diambil alih oleh pemeriksaan feritin
serum yang lebih praktis. Pengujian sumsum tulang adalah suatu teknik invasif,
sehingga sedikit dipakai untuk mengevaluasi cadangan besi dalam populasi umum. 2
Tabel 1. Tahap Defisiensi Besi. 2
feritin

Saturasi transferin

hemoglobin

Tahap 1

menurun

Normal

normal

Tahap 2

menurun

Menurun

normal

Tahap 3

menurun

Menurun

Menurun

Diagnosis Kerja
Anemia defisiensi besi (ADB)
Anemia defisiensi besi (ADB) adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya

penyediaan besi untuk eritropoesis, karena cadangan besi kosong (depleted iron store)
yang pada akhirnya mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang. ADB di tandai
oleh anemia hipokromik mikrositer dan hasil laboratorium yang menunjukan cadangan
besi kosong. Anemia defisiensi besi merupakan anemia yang paling sering dijumpai,
terutama di Negara-negara tropic. Anemia ini mengenai lebih dari sepertiga penduduk
dunia yang memberikan dampak kesehatan yang sangat merugikan serta dampak social
yang cukup serius.1
Dilihat dari beratnya kekurangan besi dalam tubuh maka defisiensi besi dapat di bagi
menjadi 3 tingkatan:1

Deplesi besi (iron depletet state): cadangan besi menurun tetapi penyediaan besi untuk
eritropoisis belum terganggu

Eritropoisis defisiensi besi (iron depicient erythropoiesis);

Cadangan besi kosong, penyediaan besi untuk erytropoisis terganggu, tetapi belum
timbul anemia secara labolatorik.
Anemia defisiensi besi ; cadangan besi kosong disertai anemia devisiensi besi

Manifestasi klinik
Gejala anemia defiensi besi dapat di golongkan menjadi 3 golongan besar, yaitu: gejala
umum anemia, gejala khas akibat defisiensi besi, gejala penyakit dasar.1

Gejala umum anemia


Gejala umum anemia yang di sebut juga sebagai sindrom anemia (anemia syndrome) di
jumpai pada anemia defisiensi besi apabila kadar hemoglobin turun di bawah 7-8g/dl.
Gejala ini berupa badan lemah, lesu, cepat lelah, mata berkunang-kunang, serta telinga
mendenging. Pada anemia defisiensi besi karena penurunan kadar hemoglobin yang
terjadi secara perlahan-perlahan sering kali sindroma anemia tidak terlalu menyolok
dibandingkan dengan anemia lain yang penurunan kaar hemoglobinnya terjadi lebih
cepat. Oleh karena mekanisme kompensasi tubuh dapat berjalan dengan baik. Anemia
bersifat simptomatik jika hemoglobin telah turun di bawah 7g/dl. Pada pemeriksaan fisik
dijumpai pasien yang pucat, terutama pada konjungtiva dan jaringan dibawah kuku.1

Gejala khas defisiensi besi


Gejala yang khas dijumpai pada defisiensi besi, tetapi tidak dijumpai pada anemia jenis

lain adalah:1

Koiloychia: kuku sendok (spoon nail), kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertical dan
menjadi cekung sehingga mirip sendok

Atrofi papil lidah: permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil lidah
menghilang.

Stomatitis angularis (cheilosis): adanya keradangan pada sudut mulut sehingga tampak
sebagai bercak berwarna pucat keputihan.

Disfagia: nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring

Atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan akhloriia

Pica: keinginan untuk memakan bahan yang tidak lazim, seperti : tanah liat, es, lem, dan
lain-lain.
Sindrom plummer Vinson atau disebut juga sindrom Paterson Kelly adalah kumpulan
gejala yang terdiri dari anemia hipokromik mikrositer, atrofi papil lidah, dan disfagia.1

Gejala penyakit dasar


Pada anemia defisiensi besi dapat di jumpai gejala-gejala penyakit yang menjadi
penyebab anemia defisiensi besi tersebut. Misalnya pada anemia akibat penyakit cacing
tambang di jumpai dipepsia, parotis membengkak, dan kulit telapak tangan berwarna
kuning seperti jerami. Pada anemia karena karena perdarahan kronik akibat kanker kolon
di jumpai gejala gangguan kebiasaan buang besar atau gejala lain tergantung dari lokasi
kanker tersebut.1

Diagnosis
Terdapat tiga tahap diagnosis ADB. Tahap pertama adalah menentukan adanya anemia
dengan mengukur kadar hemoglobin atau hematokrit. Cut off point anemia tergantung
criteria yang di pilih, apakah criteria WHO atau criteria klinik. Tahap kedua mematikan
adanya defisiensi besi, sedangkan ketiga adalah menentukan penyebab dari defisiensi
besi yang terjadi.1
Secara laboratories untuk menegakan diagnosis anemia defisiensi besi (tahap satu dan
tahap dua) dapat di pakai criteria anemia defisiensi besi (modifikasidari criteria kerlin et
al) sebagai berikut:1
Anemia hipokromik mikrositer pada hapusan darah tepi, atau MCV <80 fl dan MCHC
<31% dengan salah satu dari a,b, c, atau d.1
Dua dari tiga parameter di bawah ini:
Besi serum <50 mg/dl
TIBC >350 mg/dl
Saturasi transferin: <15%, atau
Feritin serum <20 mg/dl, atau

Pengecatan sumsum tulang dengan biru prusia (perls stain) menunjukan cadangan besi
(butir-butir hemosiderin) negative, atau
Dengan pemberian sulfas ferosus 3x200 mg/hari (atau dengan preparat besi lain yang
setara) selama 4 minggu disertai kenaikan kadar hemoglobin lebih dari 2 g/dl.1
Pada tahap ketiga ditentukan penyakit dasar yang menjadi penyebab defisiensi besi.
Tahap ini sering merupakan proses yang rumit yang memerlukan berbagai jenis
pemeriksaan tetapi merupakan tahap yang sangat penting untuk mencegah kekambuhan
defisiensi besi serta kemungkinan untuk dapat menemukan sumber perdarahan yang
membahayakan. Meskipun dengan pemeriksaan yang baik, sekitar 20% kasus ADB tidak
diketahui penyebabnya.1
Untuk pasien dewasa focus utama adalah mencari sumber perdarahan. Dilakukan
anamnesis dan pemeriksaan fisis yang teliti. Pada perempuan masa reproduksi anamnesis
tentang menstruasi sangat penting, kalau perlu dilakukan pemeriksaan ginekologi. Untuk
laki-laki dewasa di Indonesia dilakukan pemeriksaan feses untuk mencari telur cacing
tambang. Tidak cukup hanya dilakukan hapusan langsung (direct smear dengan eosin),
tetapi sebaiknya dilakukan pemeriksaan semikuantitatif, seperti misalnya teknik katokatz, untuk menentukan beratnya infeksi. Jika ditemukan infeksi ringan tidaklah serta
merta dapat dianggap sebagai penyebab utama ADB, haru di cari penyebab lainnya. Titik
kritis cacing tambang sebagai penyebab utama jika ditemukan telur per gram feses
(TPG) atau egg per gram feses (EPG) >2000 pada perempuan dan >4000 pada laki-laki.
Dalam suatu penelitian lapangan di temukan hubungan yang nyata antara derajat infeksi
cacing tambang dengan cadangan besi pada laki-laki, tetapi hubungan ini lebih lemah
pada perempuan.1
Anemia akibat cacing tambang (hookworm anemia) adalah anemia defissiensi besi yang
disebabkan oleh infeksi cacing tambang berat (TPG>2000). Anemia akibat cacing
tambang sering disertai pembengkakan parotis dan warna kuning pada telapak tangan.
Pada pemeriksaan laboratorium di samping tanda-tanda defisiensi besi yang disertai
adanya eosinofilia. Jika tidak di temukan perdarahan yang nyata, dapat dilakukan tes
darah samar (occult blood test) pada feses, dan jika terdapat indikasi dilakukan endoskopi
saluran cerna atas atau bawah.1

Diagnosis Banding
Anemia defisiensi besi perlu dibedakan dengan anemi hipokromik lainnya seperti:
anemia akibat penyakit kronik thalasemia, anemia sideroblastik.3
Tabel 2. Diferrential Diagnosis Anemia Defisiensi Besi.3
Trait
Thalase
mia

Anemia
defisiensi besi

Anemia akibat
penyakit kronik

Anemia
sideroblastik

Derajat anemia

Ringan sampai
berat

Ringan

Ringan

Ringan

MCV

Menurun

Menurun/norm
al

menurun

Menurun/norm
al

MCH

Menurun

Menurun/norm
al

menurun

Menurun/norm
al

Besi serum

Menurun<30

Menurun<50

Normal/ tinggi

Normal/ tinggi

TIBC

Meningkat>36
0

Menurun<300

Normal/turun

Normal/ turun

Saturasi
transferin

Menurun<15%

Menurun/
normal 10-20%

Meningkat
>20%

Meningkat
>20%

Negative

Positif

Positif kuat

Positif dan ring


sideroblast

Protoporfirin
eritrosit

Meningkat

meningkat

normal

Normal

Feritin serum

Menurun<20g
/l

Normal 20200g/l

Meningkat
>50g/l

Meningkat>50
g/l

Elektrofoisis Hb

Hb.A2
meningkat

Besi sumsum
tulang

Alur Diagnosis Anemia Mikrositik Hipokrom2


Alur Diagnosis Anemia Mikrositik Hipokrom2
Anemia Hipokromik Mikrositer
Besi serum
Menurun
TIBC
Feritin
Besi sumsum
sideroblast
tulang negatif
tulang

Normal
TIBC
Feritin N/
besi sumsum

Feritin normal

elektroforesis Hb

tulang positif

ring
dlm sumsum

Hb A2
Hb F
anemia defisiensi
sideroblastik
besi

anemia akibat
penyakit kronik

Thalassemia beta

anemia

Etiologi
Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh rendahnya masukan besi, gangguan
absorbsi, serta kehilangan besi akibat perdarahan menahun:3

Kehilangan besi sebagai akibat perdarahan menahun dapat berasal dari:

Saluran cerna: akibat ari tukak peptic, pemakaian salisilat atau NSAID, kanker lambung,
kanker kolon, divertikulosis, hemoroid dan infeksi cacing tambang.

Saluran genital perempuan: menorrhagia atau metrorhagia.

Saluran kemih: hematuria

Saluran nafas: hemaptoe.

Factor nutrisi: akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan, kualitas besi
(bioavailabilitas) besi yang tidak baik (makanan banyak serat, rendah vitamin C, dan
rendah daging).

Kebutuhan besi meningkat: seperti pada prematuritas, anak dalam masa pertumbuhan dan
kehamilan.

Gangguan absorbsi besi: gastrektomi, tropical sprue atau colitis kronik.


Pada orang dewasa anemia defisiensi yang di jumpai di klinik hampir identik dengan
perdarahan menahun. Factor nutrisi atau peningkatan kebutuhan besi jarang sebagai
penyebab utama. Penyebab perdarahan paling sering pada laki-laki ialah perdarahan
gastrointestinal, di Negara tropic paling sering karena infeksi cacing tambang. Sedangkan
pada perempuan dalam masa reproduksi paling sering karena menometrorhagia.3

Epidemiologi
Anemia defisiensi besi merupakan jenis anemia yang paling sering dijumpai baik
diklinik maupun di masyarakat. Anemia defisiensi besi merupakan anemia yang sangat
sering di jumpai dinegara berkembang. Defisiensi zat besi terjadi pada sekitar 30%
populasi dunia. Dari berbagai data yang dikumpulkan sampai saat ini, di dapatkan
gambaran prevalensi anemia defisiensi besi seperti tertera di bawah ini.3
Tabel 3. Prevalensi Anemia Defisiensi Besi.1

Laki dewasa

Afrika

Amerika Latin

Indonesia

6%

3%

16-50%

Wanita tak hamil

20%

17-21%

25-48%

Wanita hamil

60%

39-46%

46-92%

Patofisiologi
Perdarahan menahun menyebabkan kehilangan besi sehingga cadangan besi
semakin menurun. Jika cadangan besi menurun, keadaan ini disebut iron depleted state
atau negative iron balance. Keadaan ini ditandai oleh penurunan kadar feritin serum,
peningkatan absorpsi besi dalam usus, serta pengecatan besi dalam sumsum tulang
negatif. Apabila kekurangan besi berlanjut terus maka cadangan besi menjadi kosong
sama sekali, penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang sehingga menimbulkan
gangguan pada bentuk eritrosit tetapi anemia secara klinis belum terjadi, keadaan ini
disebut sebagai: iron deficient erythropoiesis. Pada fase ini kelainan pertama yang
dijumpai ialah peningkatan kadar free protophorphyrin atau zinc protophorphyrin dalam
eritrosit.1
Saturasi transferin menurun dan total iron binding capacity (TIBC) meningkat. Akhirakhir ini parameter yang sangat spesifik ialah peningkatan reseptor transferin dalam
serum. Apabila jumlah besi menurun terus maka eritropoesis semakin terganggu sehingga
kadar hemoglobin mulai menurun, akibatnya timbul anemia hipokromik mikrositer,
disebut sebagai iron deficiency anemia. Pada saat ini juga terjadi kekurangan besi pada
epitel serta pada beberapa enzim yang dapat menimbulkan gejala pada kuku, epitel mulut
dan faring serta berbagai gejala lainnya.1

Penatalaksanaan

Terapi kausal yaitu dengan mengatasi terlebih dahulu penyebab utamanya.


Pemberian preparat Fe :
Ferrous sulphat 3 x 325 mg per oral dalam keadaa perut kosong
Ferrous gluconate 3 x 200 mg per oral setelah makan
Iron dextran (mengandung Fe 50 mg/ml) IM, mula-mula 50 mg kemudian 100-200 mg
setiap 1-2 hari. Bisa juga secara IV, mula-mula 0,5 ml sebgai dosis percobaan, dan bila 35 menit tidak ada reaksi diberikan 250-500 mg.
Transfusi PRC. Jarang diperlukan, hanya bila kadar Hb < 4 g/dl.
Vitamin C 3 x 100 mg per hari untuk meningkatkan absorpsi besi.
Diet makanan bergizi dengan tinggi protein.4

Komplikasi
Komplikasi seperti pada anemia yang lain apabila anemianya berat maka akan timbul
komplikasi pada sistem kardiovaskuler berupa dekompensatio cordis. Komplikasi lain
yang mungkin terjadi adalah komplikasi dari traktus gastrointestinal berupa keluhan

epigastric distress atau stomatis.4

Pencegahan

Pendididikan gizi
Pendidikan gizi merupakan hal yang penting dalam pencegahan defisiensi besi.ASI
merupakan besi yang kurang dibandingkan dengan susu sapi. Tetapi penyerapan
/bioaavailabilitasnya lebih tinggi ( 50% ) dari susu sapi. Bahkan susu sapi dapat
menghambat penyerapan besi yang berasal dari sumber makanan lain. Karenanya
pemberian ASI eksklusif perlu digalakkan dengan memberi pula makanan tambahan
sesuai dengan usia. Perlu dijelaskan bahwa kadar besi pada ikan,hati,daging,lebih tinggi
ketimbang pada beras,bayam,gandum,kacang kedelai. Penyerapan besi nabati dihambat
oleh tanin,kalsium dan serat dan dipercepat oleh Vit C, HCL, Asam Amino dan fruktosa.
Besi yang berasal dari ikan,hati,daging tidak dipengaruhi oleh hal hal itu.1,4
Pemberian suplemen/fortifikasi besi.
Pencegahan primer. Pemberian ASI eksklusif sesudah 4-6 bulan masih menyebabkan
terjadinya defisiensi besi. Karenanya perlu suplementasi besi sebagai pencegahan primer.
Bila digunakan susu formula perlu dipilih formula yang difortifikasi dengan besi.1,4
Pencegahan sekunder. Bayi yang disertai satu atau lebih kriteria resiko yang seperti yang
tercantum dalam tabel 2 harus menjalani skrining untuk kemungkinan menderita
defisiensi besi. Skrining meliputi pemeriksaan darah tepi lengkap dan bila ada biaya
sebaiknya memeriksa kadar feritin serum dan saturasi transferin.1,4
Pendidikan kebersihan lingkungan
Pendidikan kebersihan lingkungan untuk mengurangi kemungkinan infeksi
bakteri/infestasi parasit sebagai penyebab defisiensi besi karena infeksi dan defisiensi
besi merupakan lingkaran ( circulus vitiousus ) yang harus diputus.1,4

Prognosis
Prognosis baik apabila penyebab anemianya hanya karena kekurangan besi saja dan
diketahui penyebabnya serta kemudian dilakukan penanganan yang adekuat.5

Kesimpulan
Wanita 35 tahun dengan keluhan mudah lelah sejak 3 bulan terakhir dan disertai
riwayat diet yang berhasil menurunkan berat badan 5 kg dalam waktu 4 bulan menderita
anemia defisiensi besi. Anemia defisiensi besi (ADB) adalah anemia yang timbul akibat
berkurangnya penyediaan besi untuk eritropoiesis, karena cadangan besi kosong yang
pada akhirnya mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang.

Daftar Pustaka

Sudoyo W, Setyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit


Dalam. Dalam; Bakta ID, Suega K, Dharmayuda TG. Anemia Defisiensi Besi. Jilid II
Edisi V. Jakarta : FKUI. 2006.p. 1127-35
Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Jakarta: EGC;2009.h.410,427
Sudiono H, Iskandar I, Edward H, Halim SL, Santoso R. Penuntun Patologi Klinik
Hematologi. Dalam; Anemia Defisiensi Besi. Ed II . Jakarta : Biro Publikasi FK
UKRIDA. 2007.p. 108-9

Hoffbrand,A.V.,Pettit,J.E.,Moss,P.A.H.,2005.KapitaSelektaHematologi.Jakarta:
EGC.
Mitchell, dkk. Buku saku dasar patologis penyakit Robbins & Cotran ed. 7. Jakarta:
EGC;2008.h.373-6