Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH TAWADHU

BAB I PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Sejak empat belas abad yang silam, al-Quran telah menginformasikan bahwa ajaran
Islam yang di bawa oleh Nabi Muhammad saw. adalah sebagai rahmat bagi semesta alam
(lihat al-Quran surat al-Anam ayat: 107). Sayyid Qutb, Ibn Jarir al-Thabary dan Ahmad
Mustafa al-Maraghy, sebagai mufassir berpendapat bahwa maksud rahmat ini adalah dapat di
terima oleh seluruh umat manusia, apakah mereka dari kalangan mukmin maupun mereka
yang bukan mukmin. Dalam arti lain bahwa, rahmatan li al-alamin bisa bermakna bahwa
ajaran Islam sejak diturunkannya telah memiliki karakteristik sebagai ajaran yang abadi,
sempurna dan universal. Kebanyakan kalangan muslim percaya bahwa salah satu aspek
penting untuk mengetahui keuniversalan ajaran Islam tersebut adalah adanya dorongan untuk
senantiasa mencari ilmu pengetahuan dimana saja dan kapan saja umat Islam berada. Dengan
adanya dorongan dari ayat-ayat al-Quran maupun dalam al-Hadits yang menganjurkan umat
Islam agar mencari ilmu pengetahuan inilah yang menyebabkan lahirnya beberapa disiplin
ilmu pengetahuan dalam Islam, dimana salah satu di antaranya adalah lahirnya ilmu tasawuf
yang akan dibahas dalam isi makalah ini. Ilmu tasawuf sesungguhnya ialah salah satu cabang
dari ilmu-ilmu Islam yang utama, selain ilmu Tauhid (Ushuluddin)dan ilmu Fiqih. Yang mana
dalam ilmu Tauhid bertugas membahas tentang soal-soal Itiqad (kepercayaan) seperti Itiqad
(kepercayaan) mengenai hal Ketuhanan, kerasulan, hari ahir, ketentuan qadla dan qadar
Allah dan sebagainya. Kemudian dalam ilmu Fiqih adalah lebih membahas tentang hal-hal
ibadah yang bersifat dhahir (lahir), seperti soal shalat, puasa, zakat, ibadah haji dan
sebagainya. Sedangkan dalam ilmu Tasawuf lebih membahas soal-soal yang bertalian dengan
akhlak, budi pekerti, amalan ibadah yang bertalian dengan masalah bathin (hati), seperti:
cara-cara ihlash,khusu, taubat, tawadhu, sabar, redhla (kerelaan), tawakkal dan yang
lainnya.

BAB II PEMBAHASAN
2.1. PENGERTIAN TAWADHU

Pengertian Tawadhu adalah rendah hati, tidak sombong. Pengertian yang lebih dalam
adalah kalau kita tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah yang
lainnya. Orang yang tawadhu adalah orang menyadari bahwa semua kenikmatan yang
didapatnya bersumber dari Allah SWT. Yang dengan pemahamannya tersebut maka tidak
pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya kesombongan dan merasa lebih baik dari orang
lain, tidak merasa bangga dengan potrensi dan prestasi yang sudah dicapainya. Ia tetap
rendah diri dan selalu menjaga hati dan niat segala amal shalehnya dari segala sesuatu selain
Allah. Tetap menjaga keikhlasan amal ibadahnya hanya karena Allah. Tawadhu ialah bersikap
tenang, sederhana dan sungguh-sungguh menjauhi perbuatan takabbur (sombong), ataupun
sumah

ingin

diketahui

orang

lain

amal

kebaikan

kita.

Tawadhu merupakan salah satu bagian dari akhlak mulia, jadi sudah selayaknya kita sebagai
umat muslim bersikap tawadhu, karena tawadhu merupakan salah satu akhlak terpuji yang
wajib dimiliki oleh setiap umat islam. Perhatikan sabda Nabi SAW berikut ini : Rasulullah
SAW bersabda: yang artinya "Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada
menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang
bertawadhu

kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat

izzah) oleh Allah. (HR.

Muslim). Rasulullah SAW bersabda: yang artinya "Tiada berkurang harta karena sedekah,
dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada
seseorang yang bertawadhu kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat izzah) oleh
Allah. (HR. Muslim). Iyadh

bin

Himar

ra.

berkata:

Bersabda

Rasulullah

SAW:

"Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku: "Bertawadhu lah hingga seseorang
tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap
lainnya.(HR. Muslim). Rasulullah SAW bersabda, Sombong adalah menolak kebenaran dan
meremehkan manusia. (HR. Muslim)
Ibnu Taimiyah, seorang ahli dalam madzhab Hambali menerangkan dalam
kitabnya, Madarijus Salikin bahwa tawadhu ialah menunaikan segala yang haq dengan
bersungguh-sungguh, taat menghambakan diri kepada Allah sehingga benar-benar hamba
Allah, (bukan hamba orang banyak, bukan hamba hawa nafsu dan bukan karena pengaruh
siapa pun) dan tanpa menganggap dirinya tinggi. Tanda orang yang tawadhu adalah disaat
seseorang semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu dan
kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut
dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan
nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan
kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan

posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan
berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.. Ini karena orang yang
tawadhu menyadari akan segala nikmat yang didapatnya adalah dari Allah SWT, untuk
mengujinya apakah ia bersykur atau kufur. Perhatikan firman Allah berikut ini : "Ini termasuk
kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmatNya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan)
dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi
Maha Mulia." (QS. An Naml: 40). Berikut beberapa ayat-ayat Al Quran yang menegaskan
perintah Allah SWT untuk senantiasa bersikap tawadhu dan menjauhi sikap sombong,
sebagai berikut :Dan janganlah kalian berjalan di atas bumi ini dengan menyombongkan
diri, karena kalian tidak akan mampu menembus bumi atau menjulang setinggi gunung (QS
al-Isra-37).

Firman Allah SWT lainnya: Negeri akhirat itu Kami jadikan

untuk orang-orang yang tidak menginginkan kesombongan di muka bumi dan kerusakan di
(muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa (QS alQashshash-83.) Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang
yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa
mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.(QS. Al Furqaan:
63) Tidak diragukan lagi bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka
rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang sombong. (QS: an-Nahl: 23)Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat
Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka
pintu-pintu langitdan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.
Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (QS:
al-Araf: 40) Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah
kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka
Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.
2.2. CONTOH KETAWAADHUAN RASULULLAH SAW
a. Anas ra jika bertemu dengan anak-anak kecil maka selalu mengucapkan salam pada mereka,
ketika ditanya mengapa ia lakukan hal tersebut ia menjawab: Aku melihat kekasihku Nabi
SAW senantiasa berbuat demikian. (HR Bukhari, Fathul Bari-6247).
b. Dari Anas ra berkata: Nabi SAW memiliki seekor unta yang diberi nama al-adhba` yang
tidak terkalahkan larinya, maka datang seorang arabiy dengan untanya dan mampu
mengalahkan, maka hati kaum muslimin terpukul menyaksikan hal tersebut sampai hal itu

diketahui oleh nabi SAW, maka beliau bersabda: Menjadi haq Allah jika ada sesuatu yang
meninggikan diri di dunia pasti akan direndahkan-Nya. HR Bukhari (Fathul Bari-2872).
c.

Abu Said al-Khudarii ra pernah berkata: Jadilah kalian seperti Nabi SAW, beliau SAW
menjahit bajunya yang sobek, memberi makan sendiri untanya, memperbaiki rumahnya,
memerah susu kambingnya, membuat sandalnya, makan bersama-sama dengan pembantu
pembantunya, memberi mereka pakaian, membeli sendiri keperluannya di pasar dan
memikulnya sendiri ke rumahnya, beliau menemui orang kaya maupun miskin, orang tua
maupun anak-anak, mengucapkan salam lebih dulu pada siapa yang berpapasan baik tua
maupun anak, kulit hitam, merah, maupun putih, orang merdeka maupun hamba sahaya
sepanjang termasuk orang yang suka shalat.
Dan beliau SAW adalah orang yang sangat rendah hati, lembut perangainya,
dermawan luar biasa, indah perilakunya, selalu berseri-seri wajahnya, murah senyum pada
siapa saja, sangat tawadhu tapi tidak menghinakan diri, dermawan tapi tidak berlebihlebihan, mudah iba hatinya, sangat penyayang pada semua muslimin. Beliau SAW datang
sendiri menjenguk orang sakit, menghadiri penguburan, berkunjung baik mengendarai
keledai maupun berjalan kaki, mengabulkan undangan dari para hamba sahaya siapapun dan
dimanapun. Bahkan ketika kekuasaannya SAW telah meliputi jazirah Arabia yang besar
datang seorang Arabiy menghadap beliau SAW dengan gemetar seluruh tubuhnya, maka
beliau SAW yang mulia segera menghampiri orang tersebut dan berkata: Tenanglah,
tenanglah, saya ini bukan Raja, saya hanyalah anak seorang wanita Quraisy yang biasa
makan daging kering. (HR Ibnu Majah-3312 dari abu Masud al-Badariiy).Berbicara lebih
jauh tentang tawadhu, sebenarnya tawadhu sangat diperlukan bagi siapa saja yang ingin
menjaga amal shaleh atau amal kebaikannya, agar tetap tulus ikhlas, murni dari tujuan selain
Allah. Karena memang tidak mudah menjaga keikhlasan amal shaleh atau amal kebaikan kita
agar tetap murni, bersih dari tujuan selain Allah. Sungguh sulit menjaga agar segala amal
shaleh dan amal kebaikan yang kita lakukan tetap bersih dari tujuan selain mengharapkan
ridha-Nya. Karena sangat banyak godaan yang datang, yang selalu berusaha mengotori amal
kebaikan kita. Apalagi disaat pujian dan ketenaran mulai datang menghampiri kita, maka
terasa semakin sulit bagi kita untuk tetap bisa menjaga kemurnian amal shaleh kita, tanpa
terbesit adanya rasa bangga dihati kita. Disinilah sangat diperlukan tawadhu dengan
menyadari sepenuhnya, bahwa sesungguhnya segala amal shaleh, amal kebaikan yang
mampu kita lakukan, semua itu adalah karena pertolongan dan atas ijin Allah SW. Tawadhu
juga mutlak dimiliki bagi para pendakwah yang sedang berjuang meninggikan Kalimatullah
di muka bumi ini, maka sifat tawadhu mutlak diperlukan untuk kesuksesan misi dakwahnya.

Karena bila tidak, maka disaat seorang pendakwah mendapatkan pujian, mendapatkan banyak
jemaah, dikagumi orang dan ketenaran mulai menghampirinya, tanpa ketawadhuan, maka
seorang pendakwah pun tidak akan luput dari berbangga diri atas keberhasilannya
2.3. KEUTAMAAN SIFAT TAWADHU
Pertama: Sebab mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba
sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang
memiliki sifat tawadhu (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.
(HR. Muslim no. 2588). Yang dimaksudkan di sini, Allah akan meninggikan derajatnya di
dunia maupun di akhirat. Di dunia, orang akan menganggapnya mulia, Allah pun akan
memuliakan dirinya di tengah-tengah manusia, dan kedudukannya akhirnya semakin mulia.
Sedangkan di akhirat, Allah akan memberinya pahala dan meninggikan derajatnya karena
sifat tawadhunya di dunia (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16: 142) Tawadhu juga
merupakan akhlak mulia dari para nabi alaihimush sholaatu wa salaam. Lihatlah Nabi Musa
alaihis salam melakukan pekerjaan rendahan, memantu memberi minum pada hewan ternak
dalam rangka menolong dua orang wanita yang ayahnya sudah tua renta. Lihat pula Nabi
Daud alaihis salam makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Nabi Zakariya dulunya
seorang tukang kayu. Sifat tawadhu Nabi Isa ditunjukkan dalam perkataannya,

Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi
celaka. (QS. Maryam: 32). Lihatlah sifat mulia para nabi tersebut. Karena sifat tawadhu,
mereka menjadi mulia di dunia dan di akhirat.
Kedua: Sebab adil, disayangi, dicintai di tengah-tengah manusia.
Orang tentu saja akan semakin menyayangi orang yang rendah hati dan tidak
menyombongkan diri. Itulah yang terdapat pada sisi Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam.
Beliau shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,




Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu. Janganlah
seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada
2.4. MENCONTOH SIFAT TAWADHU NABI SAW
Allah Taala berfirman,

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah. (QS. Al Ahzab: 21)

Lihatlah

Nabi shallallahu alaihi wa sallam masih memberi salam pada anak kecil dan yang lebih
rendah kedudukan di bawah beliau. Anas berkata,

Sungguh Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa berkunjung ke orang-orang Anshor.
Lantas beliau memberi salam kepada anak kecil mereka dan mengusap kepala mereka. (HR.
Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 459. Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syuaib Al
Arnauth) Subhanallah ... Ini sifat yang sungguh mulia yang jarang kita temukan saat ini.
Sangat sedikit orang yang mau memberi salam kepada orang yang lebih rendah
derajatnya dari dirinya. Boleh jadi orang tersebut lebih mulia di sisi Allah karena takwa yang
ia miliki.
Coba lihat lagi bagaimana keseharian Nabi shallallahu alaihi wa sallam di
rumahnya. Beliau membantu istrinya. Bahkan jika sendalnya putus atau bajunya sobek,
beliau menjahit dan memperbaikinya sendiri. Ini beliau lakukan di balik kesibukan beliau
untuk berdakwah dan mengurus umat.
:



Urwah bertanya kepada Aisyah, Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)? Aisyah
menjawab, Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika
sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat
air di ember. (HR. Ahmad 6: 167 dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 5676. Sanad
hadits ini shahih kata Syaikh Syuaib Al Arnauth). Lihatlah beda dengan kita yang lebih
senang menunggu istri untuk memperbaiki atau memerintahkan pembantu untuk
mengerjakannya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tanpa rasa malu membantu
pekerjaan istrinya. Aisyah pernah ditanya tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu
alaihi wa sallam ketika berada di rumah. Lalu Aisyah menjawab,




Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau
keluar untuk melaksanakan shalat. (HR. Bukhari no. 676). Beda dengan kita yang mungkin
agak sungkan membersihkan popok anak, menemani anak ketika istri sibuk di dapur, atau
mungkin membantu mencuci pakaian.

2.5. NASEHAT PARA ULAMA TENTANG TAWADHU


: :
.
Al Hasan Al Bashri berkata, Tahukah kalian apa itu tawadhu? Tawadhu adalah
engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang muslim. Kemudian engkau
merasa bahwa ia lebih mulia darimu.
: : :
Imam Asy Syafii berkata, Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak
pernah menampakkan kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak
pernah menampakkan kemuliannya. (Syuabul Iman, Al Baihaqi, 6: 304)
" :" .
Basyr bin Al Harits berkata, Aku tidaklah pernah melihat orang kaya yang duduk di tengahtengah orang fakir. Yang bisa melakukan demikian tentu yang memiliki sifat tawadhu.

" :
.[(6/298) ]
Abdullah bin Al Mubarrok berkata, Puncak dari tawadhu adalah engkau meletakkan dirimu
di bawah orang yang lebih rendah darimu dalam nikmat Allah, sampai-sampai engkau
memberitahukannya bahwa engkau tidaklah semulia dirinya. (Syuabul Iman, Al Baihaqi, 6:
298)
:
. .
Sufyan bin Uyainah berkata, Siapa yang maksiatnya karena syahwat, maka taubat akan
membebaskan dirinya. Buktinya saja Nabi Adam alaihis salam bermaksiat karena nafsu
syahwatnya, lalu ia bersitighfar (memohon ampun pada Allah), Allah pun akhirnya
mengampuninya. Namun, jika siapa yang maksiatnya karena sifat sombong (lawan dari
tawadhu), khawatirlah karena laknat Allah akan menimpanya. Ingatlah bahwa Iblis itu
bermaksiat karena sombong (takabbur), lantas Allah pun melaknatnya.
. :
Abu Bakr Ash Shiddiq berkata, Kami dapati kemuliaan itu datang dari sifat takwa, qonaah
(merasa cukup) muncul karena yakin (pada apa yang ada di sisi Allah), dan kedudukan mulia
didapati dari sifat tawadhu.
. :
Urwah bin Al Warid berkata, Tawadhu adalah salah satu jalan menuju kemuliaan. Setiap
nikmat pasti ada yang merasa iri kecuali pada sifat tawadhu.

!! :

Yahya bin Main berkata, Aku tidaklah pernah melihat orang semisal Imam Ahmad! Aku
telah bersahabat dengan beliau selama 50 tahun, namun beliau sama sekali tidak pernah
menyombongkan diri terhadap kebaikan yang ia miliki.
.. :
Ziyad An Numari berkata, Orang yang zuhud namun tidak memiliki sifat tawadhu adalah
seperti pohon yang tidak berbuah.
Ya Allah, muliakanlah kami dengan sifat tawadhu dan jauhkanlah kami dari sifat sombong.







Allahummah-diinii li-ahsanil akhlaaqi, laa yahdi li-ahsaniha illa anta (Ya Allah, tunjukilah
padaku akhlaq yang baik. Tidak ada yang dapat menunjuki pada baiknya akhlaq tersebut
kecuali Engkau) (HR. Muslim no. 771).
Sesungguhnya

kesombongan

akan

menimpa

mereka

yang

ketawadhuan. Padahal sejatinya kesombongan itu hanya khusus untuk-Nya.

tidak

memiliki