Anda di halaman 1dari 3

Judul :

Respon Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L. Var.


Tuktuk) Asal Biji terhadap Pemberian Pupuk Kalium dan Jarak Tanam
Identitas Jurnal :
Sitepu, Benhard., Sabar, Ginting., Mariati. 2013. Respon Pertumbuhan dan
Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L. Var. Tuktuk) Asal Biji
terhadap Pemberian Pupuk Kalium dan Jarak Tanam. Jurnal Online
Agroekoteknologi Vol.1, No.3 hal 711-724: USU Medan
Tujuan Penulisan Jurnal :
Bertujuan untuk mengevaluasi dosis pupuk kalium (K) dan jarak tanam
yang sesuai terhadap pertumbuhan dan produksi bawang merah (Allium
ascalonicum L.) varietas Tuktuk asal biji.
Fakta Unik Jurnal :
Tuk Tuk merupakan varietas unggul bawang merah yang diproduksi oleh
PT. East West Seed Indonesia dan telah diregistrasikan oleh Departemen Pertanian
RI, sehingga menjadi varietas unggul bawang merah asal biji pertama yang
terdaftar.
Pembahasan Jurnal :
Kurangnya tingkat produksi bawang merah dalam hal mencukupi
kebutuhan konsumsi bawang merah di Sumatra Utara maupun di tingkat nasional.
Untuk memenuhi kebutuhan bawang merah, maka dilakukanlah impor dari luar
negeri. Hal ini terjadi karena cara bercocok tanam kurang maksimal. Perlu
peningkatan hasil dan mutu pada tanaman bawang merah dan juga biaya yang
terjangkau oleh petani dengan memperhatikan kultur teknis yaitu jarak tanam,
pemupukan yaitu penggunaan pupuk kalium dan penggunaan benih asal biji.
Berdasarkan latar belakang diperoleh rumusan masalah yakni apakah ada respon
dosis pupuk kalium (K) dan jarak tanam yang sesuai terhadap pertumbuhan dan
produksi bawang merah (Allium ascalonicum L.) varietas Tuktuk asal biji.

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian langsung (eksperimental) dengan


analisis data yang digunakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok
(RAK) Faktorial dengan dua faktor perlakuan.
Poin penting berdasarkan hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk
kalium berpengaruh nyata terhadap diameter umbi, bobot basah umbi per sampel
dan bobot kering umbi per sampel. Jarak tanam yang biasa digunakan untuk
tanaman bawang merah dengan umbi adalah 15 x 20 cm dan 20 x 20 cm,
sedangkan jarak tanam yang direkomendasikan untuk penanaman bawang merah
dengan menggunakan biji adalah 10 x 10 cm. Kelebihan dalam penelitian ini
adalah dalam analisis data sudah memaparkan sajian data, pembacaan data dengan
jelas dan lengkap, serta dalam pembahasan sudah dihubungkan antara hasil
penelitian dengan literatur, hasil yang disajikan masing-masing sudah didukung
dengan literatur yang ada. Namun, dalam penelitian tersebut masih menggunakan
beberapa rujukan yang kurang baru atau kurang termutakhir, masih menggunakan
rujukan lama lebih dari 10 tahun terakhir. Disarankan agar dalam penelitian
selanjutnya diusahakan menggunakan rujukan atau literatur yang termutakhir
(minimal 10 tahun terakhir), dengan memasukkan berbagai macam sumber jurnal
nasional maupun jurnal internasional yang sudah terakreditasi.
Kesimpulan Jurnal :
Pemberian pupuk kalium hingga 20 g KCl/m nyata meningkatkan
diameter umbi,bobot basah umbi per sampel, bobot basah umbi per plot, bobot
kering umbi per sampel dan bobot kering umbi per plot, tetapi tidak nyata
meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah daun. Jarak tanam 10 cm x 10 cm (J1)
nyata meningkatkan tinggi tanaman, bobot basah umbi per plot dan bobot kering
umbi per plot, tetapi tidak nyata meningkatkan jumlah daun, diameter umbi, bobot
basah umbi per sampel dan bobot kering umbi per sampel.
Pertanyaan yang Muncul dari Reviewer :
1. Apakah cara peningkatan hasil dan mutu pada tanaman bawang merah
hanya dengan memperhatikan kultur teknis yaitu jarak tanam, pemupukan
yaitu penggunaan pupuk kalium dan penggunaan benih asal biji saja?

2. Bagaimana hasil yang didapatkan jika varietas bawang merah Tuktuk


diganti dengan varietas lain (ex: Aggregatum)?
3. Bagaimana dampak yang ditimbulkan akibat jarak tanam bawang merah
yang terlalu dekat?
Refleksi :
Keterkaitan antara artikel dengan penelitian yang akan saya buat adalah
kesamaan dalam hal objek yang diteliti yakni menggunakan bawang merah.
Namun, bawang merah yang saya gunakan berbeda varietasnya dengan yang ada
di artikel jurnal. Walaupun berbeda varietas, cara pengelolaan bawang merah
masih tetap sama. Yang ingin saya kembangkan lebih lanjut adalah mengenai cara
peningkatan hasil dan mutu bawang melalui cara teknis yang lain yaitu
pemotongan ujung umbi bawang merah dengan berbagai tingkat pemotongan.
Bagian yang akan saya rujuk dalam proyek penelitian saya adalah:
Bawang merah merupakan komoditas hortikultura yang tergolong sayuran
rempah. Tanaman bawang ini membentuk umbi, umbi tersebut dapat membentuk
tunas baru, tumbuh dan membentuk umbi kembali. Karena sifat pertumbuhannya
yang demikian maka dari satu umbi dapat membentuk rumpun tanaman yang
berasal dari peranakan umbi. Produksi bawang merah provinsi Sumatera Utara
pada tahun 2010 menurut Dinas Pertanian yang dikutip dari BPS (2011) adalah
16.236 ton, sedangkan kebutuhan bawang merah mencapai 66.940 ton. Dari data
tersebut terlihat bahwa produksi bawang merah Sumatera Utara masih jauh di
bawah

kebutuhan.

Untuk

memenuhi

kebutuhan

bawang

merah,

maka

dilakukanlah impor dari luar negeri. Dari data tersebut produksi bawang merah
masih sangat rendah dan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan Sumut dan
nasional. Oleh karena itu perlu peningkatan hasil dan mutu pada tanaman bawang
merah dan juga biaya yang terjangkau oleh petani. Hasil dan mutu umbi dapat
ditingkatkan dengan memperhatikan kultur teknis. Dibutuhkan jarak tanam yang
optimum untuk memperoleh hasil yang maksimum. Jarak tanam yang biasa
digunakan untuk tanaman bawang merah dengan umbi adalah 15 x 20 cm dan 20
x 20 cm.