Anda di halaman 1dari 13

PADA SAPI

Andi Ainun Karlina, Hidayanti Adillah, Muh.Iqbal Djamil, Elphan Augusta, Suci Nurfiriani

Bagian Bedah & Radiologi. Departemen Klinik, Reproduksi & Patologi

Program Studi Kedokteran Hewan (PSKH), Universitas Hasanuddin (UNHAS)

Korespondensi penulis: andiainunkarlina@gmail.com

Abstrak
Tujuan praktikum ini adalah untuk memaparkan kasus penyakit myasis,
trypanosomiasis, cascado, dysplasia abomasums, kastrasi serta infestasi caplak pada sapi.
Sapi FH (Friesian Holstein) yang berumur 5-6 tahun, memiliki warna rambut hitam putih,
berjenis kelamin jantan dengan BCS (Body Condition Score) 2, bertingkah laku normal, suhu
tubuh 39,1oC, frekuensi nadi 60x/menit, frekuensi nafas 28x/menit dan frekuensi jantung
72x/menit. Anamnesis yang didapatkan sapi yang dikandangkan di Teaching Farm
Fak.Peternakan Unhas berada di lingkungan yang kotor, jarang dimandikan, ada luka di
sekitar kedua mata. Dilakukan pemeriksaan keadaan umum dengan hasil pada kedua mata &
orbita terdapat luka atau lesi, konjunctiva & membran nictitans pada kedua mata dalam
keadaan normal, mukosa mulut serta lidah normal, gigi geligi kotor, frekuensi gerakan rumen
6x/5menit. Dari hasil pemeriksaan tersebut, dapat dikatakan bahwa sapi tersebut tidak terkena
penyakit pregnancy toxaemia, paresis puerpuralis maupun tumor namun perlu dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut mengenai pemeriksaan mata dan pemeriksaan ektoparasit. Terapi
yang dapat diberikan yaitu pemberian vitamin, obat anti ektoparasit. Perawatan pada sapi
seperti dimandikan serta lingkungan kandang juga harus diperhatikan. Karena dalam
praktikum kali ini tidak ditemukan adanya gejala-gejala yang mengarah ke penyakit
pregnancy toxaemia, paresis puerpuralis, maupun tumor.
Kata kunci :Pregnancy Toxaemia, Paresis Puerpuralis, Tumor, Sapi FH

PENDAHULUAN
Myasis atau belatungan adalah
infestasi larva lalat ke dalam jaringan
hidup hewan maupun manusia. Beberapa
jenis lalat telah diidentifikasi sebagai
penyebab penyakit ini, namun yang

bersifat obligat parasit adalah Chrysomya


bezziana sehingga perlu diperhatikan.
Awal infestasi larva terjadi pada daerah
kulit yang terluka, selanjutnya larva
bergerak lebih dalam menuju ke jaringan
otot sehingga menyebabkan daerah luka

semakin
lebar.
Kondisi
tersebut
menyebabkan tubuh ternak menjadi lemah,
nafsu makan menurun, demam serta
diikuti penurunan produksi susu dan bobot
badan bahkan dapat terjadi anemia
(SPRADBERY, 1991; SUKARSIH et al.,
1999). Lalat C. bezziana mempunyai
daerah penyebaran yang sangat luas, yaitu
di kawasan Afrika bagian tropis dan
subtropis, subkontinen India dan Asia
Tenggara termasuk Malaysia, Indonesia
dan Papua New Guinea (SUKARSIH et
al., 1989; SUTHERST et al., 1989,
SUNARYA, 1998). Sumba Timur dan
Sulawesi Selatan telah dilaporkan sebagai
daerah endemik myasis yang hingga kini
belum dapat dikendalikan dengan baik
(SEMBIRING, 1991; WARDHANA et al.
2004a).

Trypanosomiasis atau Surra adalah


penyakit parasit yang disebabkan oleh
agen Trypanosoma evansi dan ditularkan
melalui gigitan lalat penghisap darah
(haematophagus flies). Agen T. evansi
telah tersebar luas di kawasan Asia
Tenggara, Afrika dan Amerika). Pada
wilayah yang berbeda tersebut, parasit ini
dapat menyerang berbagai spesies hewan.
Di Amerika Selatan, kasus penyakit Surra
paling sering ditemukan pada kuda.
Hewan yang terinfeksi di Cina umumnya
kuda, kerbau, dan rusa. Di Timur Tengah
dan Afrika parasit ini menyerang unta, dan
di Asia Tenggara penyakit Surra dapat
ditemukan pada kuda, sapi, dan kerbau.
Radang kulit atau dermatitis adalah istilah lain yang di
gunakan untuk menggambarkan proses radang yang terjadi pada
lapisan-lapisan kulit, baik pada bagian dermis maupun epidermis. Dari
sekian banyak jenis radang kulit, salah satunya yang cukup banyak di
temukan pada sapi adalah stephanofilariasis atau sering disebut
dengan penyakit kaskado.

arasit adalah suatu organisme lebih kecil yang


hidup menempel pada tubuh organisme
yang lebih besar yang disebut host. Parasit
merupakan organisme yang hidupnya
merugikan
induk
semang
yang
ditumpanginya.Keberadaan parasit dalam

tubuh host dapat bersifat sebagai parasit


sepenuhnya dan tidak sepenuhnya sebagai
parasit. Ada beberapa sifat hidup dari
parasit seperti parasit fakultatif, obligat,
insidentil temporer dan permanen.
Penyebarannya di atas permukaan bumi
dipengaruhi
oleh
beberapa
faktor
diantaranya siklus hidup, iklim, sosial
budaya atau ekonomi dan kebersihan.
Biasanya hospes atau induk semang yang
jadi sasarannya bisa berupa hospes
definitif (akhir), insidentil,
carrier,
perantara danhospes mekanik.
Salah satu penyakit parasit yang
sering menimbulkan gangguan pada
ternak, khususnya sapi adalah serangan
caplak. Caplak merupakan salah satu
ektoparasit yang terdapat pada hewan
ternak dan pada umumnya selalu
menimbulkan kerugian, baik secara fisik
bagi
hewan
itu
sendiri,
maupun kerugian secara ekonomis bagi
para peternak. Kerugian-kerugian ini
timbul karena umumnya caplak menghisap
darah sehingga dapat mengakibatkan
anemia, merusak kulit, menimbulkan
kegatalan, dan dermatitis. Namun kerugian
yang paling utama adalah peranannya
sebagai vektor penyakit, antara lain vektor
dari piroplasmosis, anaplasmosis dan
theileriosis.

TINJAUAN PUSTAKA
A. Myasis
1. Etiologi
Myasis disebabkan oleh lalat Chrysomya
bezziana famili Calliphoridae yang biasa
disebut Old World Screwworm Fly yang
memiliki warna biru metalik, biru
keunguan atau biru kehijauan. Kepala lalat
berwarna orange dengan mata merah
gelap. Perbedaan antara lalat betina dan
jantan terletak pada matanya. Lalat betina

memiliki celah yang memisahkan mata


kanan dan kiri yang lebih lebar
dibandingkan lalat jantannya. Ukuran lalat
10 mm (panjang) x 4,1 mm (lebar).
Telur Chrysomya bezziana berwarna putih
transparan dengan panjang 1,25 mm dan
diameter 0,26 mm serta berbentuk silindris
dan
tumpul
pada
kedua
ujungnya. Chrysomya bezziana merupakan
parasit obligat.
2.
Awal terbentuknya myasis adalah
apabila sapi mengalami luka
karena birahi, tesayat benda tajam,
pascapartus, gigitan caplak, gigitan
lalat Tabanidae, atau akibat
infestasi Sarcoptes
scabei akan
menyebabkan keluarnya darah.
Bau darah segar yang mengalir
tersebut akan menarik perhatian
lalatChrysomya
bezziana betina
untuk meletakkan telurnya ke luka
tersebut. Dalam waktu 12-24 jam,
telur akan menetas menjadi larva
dan bergerak masuk ke jaringan.
3.
4.

Aktivitas larva didalam jaringan


tubuh mengakibatkan luka semakin
besar dan kerusakan jaringan kulit
semakin parah. Larva mungkin
akan berdiam di tempat masuknya
pada
kulit.
Kondisi
ini
menyebabkan bau yang menyengat
dan mengundang lalat lain untuk
hinggap seperti Sarcophaga sp .,
Chrysomya megachepalla, Musca
sp dan memicu terjadinya infeksi
sekunder oleh bakteri.
Gejala Klinis

Infestasi
larva
myasis
tidak
menimbulkan gejala klinis spesifik dan sangat
bervariasi
tergantung
pda
lokasi
luka.
Gambaran klinis pada kulit umumnya berupa
kerusakan kulit dan jaringan subkutan, leleran
serous disertai bau busuk. Gejala klinis pada
hewan antara lain demam, radang, peningkatan
suhu tubuh, kurang nafsu makan, sapi tidak
tenang, penurunan bobot badan dan produksi
susu, kerusakan kulit, hipereosinofilia, serta
anemia. Apabila tidak diobati, myasis dapat
mengakibatkan
kematian
sebagai
akibat
keracunan kronis amonia.

Diagnosis
Penegakan
diagnosis
myasis
pada
penderita adalah dengan ditemukannya
larva Chrysomya bezzianapada daerah
luka.
Umumnya,
larva Chrysomya
bezziana ditemukan pada kondisi infestasi
primer namun jika telah terjadi lama maka
akan dijumpai larva lalat yang lain
seperti Sarcophaga sp ., Chrysomya
megachepalla,
Musca
domestica.
Identifikasi larva lalat dilakukan dibawah
mikroskop untuk melihat spirakel anterior
dan posterior serta bentuk spina (duri)
yang khas pada masing-masing spesies
larva lalat.
Treatment
Luka yang mengandung larva dibersihkan
dengan seksama dengan menggunakan
pinset
untuk
mengeluarkan
larva.
Pemberian obat karbamat dan Echon
cukup beresiko karena merupakan
insektisida
sistemik
yang
dapat
menyebabkan keracunan pada ternak
pascapengobatan ataupin pengobatan
tradisional dengan ektrak tembakau dan
rotenon untuk mengeluarkan larva dari
luka. Pengendalian kejadian myasis juga
dapat melalui perendaman (dipping) rutin
2 kali seminggu dengan mencampur 6 liter
Ecoflee dengan 3 L air namun cara ini
perlu memperhatikan aspek ekonomi
peternak terhadap harga obat atau dengan
campuran 50 gr yodium, 200 ml alkohol
75%, dan 5 ml Ecoflee dan ditambah 1 L
air
kemudian
campuran
tersebut
disemprotkan pada luka serta dilakukan 2
kali seminggu.
Selain itu, trearment myasis juga dapat
menggunakan Gusanex spray (anti
larva), salep yang dapat merangsang
granulasi seperti asuntol 2%, dan
antibiotika topikal untuk mengobati infeksi
sekunder serta dapat ditambah dengan
pemberian
minyak
ikan
untuk
mempercepat
penyembuhan
luka. Beberapa peneliti juga telah

mengembangkan insektisida botanis dari


biji
srikaya
dan
mindi, Bacillus
thuringiensis untuk
dijadikan
bioinsektisida, maupun pengembangan
minyak atsiri seperti minyak atsiri nilam
dan akar wangi secara invitro sebagai
insektisida
botanis/insektisida
nabati
dimana minyak atsiri ini menghambat atau
membunuh
larva Chrysomya
bezziana melalui sifat toksiknya terhadap
saluran cerna larva dan melalui kutikula
larva.
2.7 Pengendalian dan pencegahan
Pengendalian populasi lalat Chrysomya
bezziana dengan
cara
penyemprotan
insektisida atau
pestisida, pembuatan vaksin rekombinan yang
diekspresikan ke dalam E. coli, dengan
metode
Sterile Insect Tecnique (SIT)/Sterile Insect
Release
Method (SIRM)
dan
pengembangan pemikat lalat (attraktan).
SIT adalah metode pengandalian populasi
lalat dengan cara melepaskan jantan yang
disterilisasi dengan teknik radiasi.
Keberhasilan teknik ini sangat tergantung
pada pemahaman tentang keragaman
genetik yang ada didalam populasi
tersebut.
Sedangkan pemikat lalat (attraktan)
memiliki fungsi memikat lalat jantan dan
sebagai pengganti hati sapi yang
sebelumnya digunakan sebagai umpan.
Formula pemikat lalat terbuat dari darah
sapi yang terkontaminasi bakteri, darah
steril yang diinokulasi dengan bakteri, dan
darah yang mengalami defibirinasi.
Namun meskipun telah dikembangkan
metode
terbaru,
peternak-peternak
tradisional
di
pedesaan
masih
menggunakan gerusan hati sebagai
pemikat lalat. Pengendalian juga dilakukan
melalui vaksinasi dengan memakai vaksin
rekombinan.
Selain itu, tindakan pengawasan lalu lintas
ternak perlu ditingkatkan karena ternak
yang dikirim dari daerah endemis dapat
menyebarkan penyakit myasis di daerah

bebas. Hal ini dapat terjadi karena ternak


yang menderita myasis atau mengandung
larva Chrysomya bezziana di sepanjang
perjalanan larva yang sudah matang
berpotensi untuk jatuh ketanah lalu
membuat terowongan kecil dan menjadi
pupa kemudian berkembang menjadi lalat
dewasa.

B. trypanosomiasis
1. Etiologi
Penyakit Surra disebabkan oleh
protozoa yang merupakan parasit
darah, yaitu Trypanosoma evansi.
Parasit ini dapat ditemukan di
dalam sirkulasi darah pada fase
infeksi akut. T. evansi memiliki
ukuran panjang 15 to 34 m dan
dapat membelah (binary fission)
untuk memperbanyak diri.
Bentuknya yang khas seperti daun
atau kumparan dicirikan dengan
adanya flagella yang panjang
sebagai alat gerak. Di bagian
tengah tubuh terdapat inti. Salah
satu ujung tubuh berbentuk lancip,
sedangkan ujung tubuh yang lain
agak tumpul dan terdapat bentukan
yang disebut kinetoplast.
Trypanosoma evansi memiliki
morfologi yang mirip dengan
trypanosoma lainnya seperti T.
equiperdum, T. brucei, T. gambiense
dan T. rhodesiense. Permukaan
tubuh T. evansi diselubungi oleh
lapisan protein tunggal yaitu
glikoprotein yang dapat
berubahubah bentuk (variable
surface glycoprotein). Dengan
kemampuan glikoprotein yang
dapat berubah bentuk, maka T.
evansi dapat memperdaya sistem
kekebalan tubuh inang (host).
Konsekuensinya akan terjadi variasi
antigenik (antigenic variation)
dimana tubuh akan selalu berusaha

membentuk antibodi yang berbedabeda sesuai dengan protein


permukaan yang ditampilkan oleh T.
evansi.
2. Gejala Klinis
Gejala klinis yang tampak pada
hewan bervariasi tergantung pada
keganasan/virulensi
agen T. evansi, jenis hewan (host)
yang terinfeksi dan faktor lain yang
dapat
menimbulkan menimbulkan stress.
Lama waktu antara awal infeksi dan
munculnya gejala klinis (masa
inkubasi) bervariasi, rata rata 5
sampai 60 hari pada infeksi akut. Akan
tetapi penyakit
Surra umumnya berlangsung kronis
(chronic infection) dengan angka
kematian yang
rendah sehingga pernah dilaporkan
masa inkubasi yang lebih lama yaitu 3
bulan.
Setelah masa inkubasi, dalam waktu
kurang dari 14 hari akan ditemukan
parasit yang
beredar dalam sirkulasi darah
(parasitemia).
Manisfestasi klinis penyakit Surra
dapat berupa gejala demam berulang
(intermiten)
akibat parasitaemia. Parasitemia
sangat tinggi variasinya selama masa
infeksi: tinggi
pada awal infeksi, rendah selama
infeksi berjalan kronis dan hampir tidak
ada pada
hewan pembawa agen (carrier).
Anemia merupakan gejala yang paling
banyak ditemukan pada infeksi oleh
trypanosoma. Membran sel darah
merah akan kehilangan salah satu
komponen
penyusun yaitu asam sialik (sialic
acid). Hal tersebut akan mengaktifkan
makrofag pada
organ limpa, hati, paru-paru,
limfonodus dan sum-sum tulang untuk
memfagosit sel

darah merah sehingga menyebabkan


penurunan jumlah sel darah merah.
Gejala lain diantaranya penurunan
berat badan, pembengkakan
limfonodus
prescapularis kiri dan kanan,
kelemahan otot tubuh, oedema pada
anggota tubuh
bagian bawah seperti kaki dan
abdomen, urtikaria pada kulit,
perdarahan titik (petechial
haemorrhages) pada membran serous
kelopak mata, hidung dan anus,
keguguran
(abortus), dan gangguan syaraf.
Penurunan imunitas tubuh
(imunosupresi) juga ditemui
sehingga hewan inang menjadi rentan
terhadap infeksi sekunder.
Cara Penularan
Penularan penyakit Surra antarhewan
terjadi melalui darah yang
mengandung parasit
T. evansi. Penularan yang paling
utama terjadi secara mekanis oleh
lalat penghisap
darah (hematophagous flies). Di
Indonesia, vektor penular yang
berperan adalah lalat
Tabanus, Haematopota, dan
Chrysops. Jenis lalat lain seperti
Stomoxys, Musca,
Haematobia juga dapat menjadi vektor
pada saat populasi lalat tersebut
meningkat di
suatu wilayah. Walaupun penularan
terjadi melalui gigitan lalat, tetapi agen
T. evansi
tidak melakukan perkembangan siklus
hidup di dalam tubuh lalat. Hewan
karnivora dapat terinfeksi trypanosoma
apabila memakan daging yang
mengandung trypanosoma. Penularan
melalui air susu dan selama masa
kebuntingan
pernah pula dilaporkan (OIE, 2009).
Namun karena parasit ini tidak mampu
bertahan

lama di luar tubuh inang, maka resiko


penularan melalui produk asal hewan
(daging
dan susu) dapat diabaikan.
Penularan melalui peralatan kandang
seperti dehorner (alat pemotong
tanduk) serta
alat-alat medis misalnya jarum suntik
dan alat bedah dapat terjadi apabila
peralatan
tersebut terkontaminasi darah yang
mengandung parasit trypanosoma.
Diagnosa Banding
Trypanosomiasis (Surra) pada sapi
dan kerbau dapat dikelirukan dengan
gejala
penyakit lain seperti babesiosis,
anaplasmosis, theileriosis, perdarahan
sepsis,
anthraks, penyakit parasit kronis dan
malnutrisi. Pada kuda,
trypanosomiasis memiliki
gejala yang mirip dengan African horse
sickness, equine viral arteritis, anemia
infeksius,
penyakit parasit kronis, dan dourine.
Trypanosomiasis yang ditularkan oleh
lalat tse-tse,
anthraks, dan penyakit parasit kronis
merupakan diagnosis banding Surra
pada unta.
Sedangkan pada anjing dan kucing,
3. Pengobatan dan Pencegahan
Upaya yang perlu dilakukan untuk
pengendalian terhadap penyakit Surra
yaitu dengan
menekan vector lalat Tabanus di
sekitar kandang ternak. Cara efektif
adalah menjaga
lingkungan kandang tetap bersih dari
limbah pakan ternak yang menumpuk
disekitar
kandang dan melakukan control lalat
dengan obat anti lalat. Obat anti lalat
yang
beredar di pasaran antara lain
Gusanex, Ralat, dll.

Tindakan pencegahan dan


pengobatan terhadap penderita Surra
dengan preparat obat
Naganol, Surramin (tidak beredar lagi
di Indonesia) Triponyl, Trypamidium,
Vetquin.
Agar efektif pengobatan kasus positif
Surra dilakukan pengobatan 2(dua)
kali interval 1
minggu dan untuk pencegahan dapat
dilakukan pengobatan 1 (satu) kali di
lingkungan ternak yang ada kasus.
C. Dysplasia abomasum
1. Etiologi

2. Displasia Abomasum (DA) adalah suatu


perpindahan abomasum dari lokasi
sebenarnya. Abomasum dapat terdorong
ke

arah

kiri

Abomasum),

(Left
ke

Displacement
kanan

(Right

Displacement Abomasum), terdorong


ke

depan

(Forward

Displacement

Abomasum) dan perputaran abomasum


yang dikenal dengan Torsio Abomasum
(Subronto 1995).
Patogenesa
Kejadian Displasia
Abomasum
(DA) biasanya diawali dengan adanya
atoni abomasum dan timbunan gas
sehingga abomasum mudah sekali bergeser.
Pergeseran letak abomasum bisa ke bagian
perut sebelah kiri bisa juga bergeser ke
sebelah kanan dan/atau disertai dengan
perputaran. Pergeseran abomasum pada
sebagian besar kejadian mengarah ke kiri
(80%), dimana sebagian abomasum
bergeser dan terletak di sebelah lateral kiri
rumen, di belakang omasum, dengan
kurvatura mayor abomasum yang terjepit
diantara rumen dan dinding perut sebelah
ventral. Pada pergeseran abomasum ke arah
kanan, lambung tersebut terletak diantara
hati
dan
dinding
perut
sebelah
kanan (Subronto 1995).
Predisposisi
3.

Displasia Abomasum merupakan


salah satu penyakit yang sering terjadi
pada sapi perah terutama di masa awal
laktasi atau beberapa minggu post
partus.Gejala umum yang terlihat biasa
terjadi pada saat hewan berada dalam masa
akhir kebuntingan atau setelah melahirkan
(2 minggu pre partus sampai dengan 8
minggu post partus). Kejadian Displasia
Abomasum banyak terjadi pada sapi yang
dipelihara di kandang dalam jangka waktu
yang panjang dan diet yang tidak
seimbang seperti pemberian konsentrat
dan
biji-bijian
yang
berlebihan
dibandingkan dengan rumput (fiber),
sehingga mengakibatkan tingginya rasio
antara rumput dan konsentrat yang
memungkinkan
tingginya
Displasia
Abomasum. Kasus Displasia Abomasum
ini biasa terjadi pada musim kemarau, hal
ini dikarenakan keterbatasan hijauan
sehingga para peternak lebih banyak
memberikan
konsentrat
dibanding.
Pemberian konsentrat yang berlebihan
pada peternak biasanya juga digunakan
untuk meningkatkan produksi susu
sapi. Kasus
Displasia
Abomasum
biasanya juga disertai atau disebabkan oleh
beberapa penyakit seperti Hypocalcemia,
Ketosis, Mastitis, dan Metritis.
Gejala Klinis Displasia Abomasum
Gejala awal kejadian Displasia
Abomasum
ini
ditandai
dengan
menurunnya
nafsu
makan
secara
mendadak
serta
adanya
distensi
perut. Gejala klinis lainnya berupa
bentukan abdomen kembung asimetris
antara kiri dan kanan bagian samping
bawah bila dilakukan inspeksi dari
belakang, feses berwarna hitam, encer dan
berbau busuk. Pada palpasi dari fossa
paralumbar kiri, yang kadang-kadang
meluas sampai ke atas, Abomasum bagian
atas yang mengalami pergeseran akan
terisi dengan gas, sehingga rumen tidak
teraba tetapi akan terasa abomasum yang
membesar. Gas di dalam abomasum
menghasilkan bunyi ping (ketukan uang
logam kegelas) pada saat proses perkusi
dan auskultasi (tangan dan stetoskop)

dilakukan, bunyi ini sangat khas pada


kasus Displasia Abomasum. Bunyi ping
pada Displasia Abomasum ini diakibatkan
karena resonansi yang menyebabkan
tadinya abomasum di bawah karena
terpelintir
menyebabkan
abomasum
menempel di diafragma, dan paru-paru
yang ada di rongga thoraks akan terus
menuju diafragma akibat abomasum yang
terpelintir sehingga saat diketuk di thoraks
suara akan dipantulkan yang menyebabkan
bunyi ping.
Biasanya anamnese sapi tidak mau
makan 3 hari, abdomen terlihat
membesar dan feses berwarna hitam, encer
dan berbau busuk. Saat dilakukan
auskultasi dan perkusi pada daerah yang
mengalami displasia terdengar bunyi
seperti logam dipukul (ping-ping) yang
merupakan gejala klinis yang khas pada
kasus ini. Pemeriksaan kondisi fisik secara
umum, dapat terlihat bagian abdomen
yang asimetris antara kiri dan kanan jika
dilihat dari belakang (bagian kiri terlihat
lebih besar).
Ada beberapa kondisi variasi pada
Displasia Abomasum, hal ini ditentukan
dari
arah
abomasum
berpindah. Perpindahan abomasum bisa
terjadi kebagian abdomen sebelah kiri,
dapat juga berpindah ke sebelah kanan
dan/atau disertai dengan perputaran. Letak
abomasum secara normal adalah di bagian
ventral rongga perut sebelah kanan,
diantara Os Lumbal I sampai dengan Os
Lumbal III.
Penanganan Displasia Abomasum
Penanganan
Kasus
Displasia
Abomasum (DA) dapat dilakukan dengan
beberapa cara yaitu dengan terapi tanpa
operasi dan terapi dengan operasi. Pada
kasus ringan dengan tingkat DA baru
berkisar 20-30% maka dapat dilakukan
penggulingan Hewan (Rolling Technique).
Selain itu metode lain yang dapat
dilakukan untuk mengobati DA ialah
dengan pemberian ion kalsium (Ca).
Terapi yang dapat diberikan di
lapangan yaitu terapi non bedah dengan
garam inggris. Terapi ini berfungsi sebagai

obat pencahar yang ditujukan agar isi


rumen yang ada di dalam dapat
dikeluarkan. Setelah ditunggu 30 menit1 jam terlihat hasil bahwa sapi
mengeluarkan feses berwarna hitam, encer
dan berbau busuk. Bau busuk ini dapat
disebabkan karena akumulasi bakteri
dalam
saluran
pencernaan.
Terapi
selanjutnya yaitu dengan pemberian
multivitamin Vitol-140 10 cc IM (Vit A
(retino propionate) 80.000 IU;Vit D3
(cholecalciferol) 40.000 IU;Vit E (alpha
tocopherol acetate) 20 mg), Vit B
kompleks 10 cc IM (Tiap 100 ml
mengandung Vit B1 250 mg; Vit B2 125
mg; Vit B6 125 mg; Nicotinamide 250 mg;
Ca-D Panthotenat 250 mg) untuk
menambah nafsu makan dan memperbaiki
kondisi tubuh. Injeksi sulpidon 10 cc IM
(Dipyrone 250 mg, Lidocaine 2%) sebagai
analgesik (penahan rasa sakit), antipiretik
(anti demam) untuk menurunkan suhu
tubuh kembali normal dan sebagai
antispasmodik. Kemudian injeksi Intertrim
LA 20 cc IM (Sulfadoxine 200 mg,
Trimethoprim
40
mg)
untuk
menghilangkan infeksi pada saluran
pencernaan.
Terapi-terapi lain yang dapat diberikan
antara lain:
a. Rolling Technique
Kelebihan : Murah, tanpa operasi
Kelemahan : Tingkat keberhasilan rendah.
Kemungkinan untuk kambuh lagi besar
Point penting: Berbahaya apalagi untuk
hewan bunting
b. Toggle Fixation
Kelebihan: Cepat dan murah, luka
minimal, tanpa pembedahan dinding
abdomen
Kelemahan: Berbahaya jika salah tusuk
Point penting : Sangat berbahaya untuk
kasus RDA apalagi disertai volvulus.
c. Right flank omentopexy
Kelebihan: Hewan masih dalam keadaan
berdiri. Dapat dipakai untuk kasus LDA,
RDA maupun volvulus. Manipulasi

terhadap abomasum minimal. Mudah


untuk mengidentifikasi
jika terjadi
volvulus.
Kelemahan: Sulit
untuk
melakukan
reposisi abomasum dan fiksasi terutama
pada kasus LDA. Abomasum sulit untuk di
lihat. Resiko terjadinya kontaminasi saat
melakukan pengeluaran gas. Kemungkinan
untuk kambuh kembali jika lokasi fiksasi
terlalu caudal atau terlalu dorsal dari
pylorus.
D. CASCADO
1. Etiologi
Stephanofilariasis/kaskado di
sebabkan oleh cacing nematode dari
genus stephanofilaria dan di tularkan
melalui vector lalat.
Gejala Klinis
Pada umumnya penyakit ini ditandai
dengan rasa gatal, bulu rontok,
ulerasi (luka terbuka pada kulit), sera
pendarahan pada kulit yang
tergantung pada tingkat keparahan
infeksinya. Cacing stephanofilaria ini
hidup pada bagian epitel, terutama
pada lapisan malpigi dari kulit
ternak. Seiap spesies dari cacing ini
menyebabkan luka dan peradangan
di lokasi yang berbeda-beda. Akibat
adanya luka tersebut, maka ternak
tidak bisa berakivitas seperti biasa,
seperti menarik gerobak atau
membajak sawah. Kualitas ternak
juga menurun dan harganya bisa
merosot tajam akibat adanya cacat
tubuh serta kerusakan kulit.
Beberapa spesies stephanofilaria sp.
Di temukan di Indonesia sebagai
penyebab penyakit kaskado, yaitu
stephanofilaria dedoesi penyebab
dermatitis pada leher, bahu, daerah
sekitar mata, telinga dan gelambir
pada sapi. S. kaeli menyebabkan
dermatitis di daerah kaki pada sapi

dan daerah muka, leher serta telinga


kerbau. Penularan penyakit kaskado
memerlukan vector, yaitu lalat.
Beberapa spesies lalat yang telah
dilaporkan dapat bertindak sebagai
vector penyakit kaskado yaitu:
Siphona exigua, musca conducens,
M.conducens, sarcophagi sp, dan
haematobia irritans.
Pengendalian dan penanganan:
Penanganan kaskado dapat
dilakukan dengan pengobatan pada
ternak yang terinfeksi dan
pembasmian vector lalat secara
berkala. Obat anti parasit dengan
kandungan ivermectin telah
dilaporkan keberhasilannya dalam
mengobati kaskado di lapangan.
Contoh, antiparasit yang bisa
digunakan adalah wormectin injeksi
Lakukan pemisahan antara hewan
yang sakit dan yang sehat agar tidak
berada di dalam satu kandang,
tujuannya untuk menghindari
terjadinya penularan penyakit
Lakukan pemberantasan lalat
secara berkala dan teratur dengan
insektisida choumapos 0,005-0,1%
dan diazinon 0,5%(Dirjen
Peternakan, 1981).

E. KASTRASI
Kastrasi atau yang lebih populer dan
dikenal dengan istilah pengebirian
adalah salah satu aspek penting
dalam tatalaksana pemeliharaan dan
perawatan ternak potong.Kastrasi
adalah usaha untuk menghilangkan
fungsi reproduksi ternak jantan
sebagai pejantan atau pemacak,
dengan cara menghambat proses
pembentukan
dan
pengeluaran
sperma. Kastrasi dapat dilakukan
dengan jalan mengikat, mengoperasi
maupun memasukan cairan tertentu

kedalam organ tubuh tertentu.


Ternak yang akan dikastrasi adalah
ternak yang tidak akan dijadikan
bibit, oleh karena itu waktu terbaik
melakukan kastrasi yaitu setelah
program seleksi selesai dilaksanakan
sehingga
ternak
yang
tidak
mencapai standar seleksi dikastrasi
untuk
menghasilkan
daging.
Umumnya umur ternak yang akan
dikastrasi haruslah yang berumur
muda karena mengkastrasi ternak
tua membawa resiko yang lebih
berat dan akan mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan
ternak
selanjutnya
yang
dipersiapkan sebagai ternak potong.
Pada
sapi,
domba
dan
babi
perlakuan kastrasi
dapat
berpengaruh terhadap pertumbuhan,
koefesien konversi makanan, kualitas
karkas (Turton, 1962), juga pada
kecepatan
metabolisme
dan
pertumbuhan tulang (Rice, 1957).

Tujuan dilakukannya kastrasi adalah :


1. Agar
kualitas
daging
lebih
baik.Mengurangi tingkat agresifitas ternak.
2. Mencegah terjadinya perkawinan ternak
yang tidak diinginkan atau ternak yang
tidak lolos seleksi sesuai standar produksi
yang ditargetkan.
3. Untuk penggemukan ternak jantan.
4. Memenuhi permintaan pemilik untuk
tujuan tertentu.
Manfaat Kastrasi adalah
1. Mengurangi
biaya
produksi
atau
pemborosan biaya yang tidak diinginkan.
2. Mendapatkan ternak yang bertempramen
lebih jinak sehingga memudahkan dalam
menghandel ternak tersebut.
3. Ternak yang jinak lebih cenderung sedikit
aktivitas geraknya sehingga energinya bisa
dihemat untuk pembentukan daging.
Berdasarkan cara melakukan kastrasi
dikenal dua bentuk, yaitu kastrasi tertutup
dan kastrasi terbuka, Kastrasi tertutup
biasanya dilakukan terhadap ternak yang
memilki alat kelamin menggantung dan

menjauh dari tubuh misalnya seperti pada


ternak kambing dan sapi. Sedangkan
Kastrasi terbuka umum dilakukan pada
ternak yang kelaminnya menempel atau
dekat dengan tubuhnya contohnya ternak
babi.
1. Kastrasi Tertutup
Kastrasi tertutup menggunakan tang
burdizzo digunakan untuk menjepit leher
secrotum (saluran tes-tes) pada ternak
yang sudah dewasa. Dengan tujuan untuk
menghambat saluran tes-tes dan akhirnya
fungsi tes-tes semakin lama semakin
mengering cara ini tidak menimbulkan
luka dan pendarahan maka dari itu kastrasi
ini disebut dengan metode tertutup.
Kastrasi dengan tang burdizzo dapat
menimbulkan kegagalan kalau cara
penjepitannya kurang sempurna. Tujuan
penjepitan diarahkan pada pada pemutusan
hubungan penyediaan darah darah ke testes dan pemutusan saluran mani dan tes-tes
serta menjaga agar dalam proses
degenerasi
secrotum
tidak terjadi
pembusukan. Penjepitan dilakukan 2 kali :
yang pertama dilakukan pada saluran mani
atau leher secrotum yang kiri selama
kurang dari 15 menit dan yang kedua
pada saluran secrotum atau leher secrotum
yang kanan dengan lama penjepitan
selama 15 menit. Supaya tidak terjadi
kerusakan pada secrotum maka penjepitan
harus diberi jarak antara tes-tes sebelah
kanan dan kirinya. Pelaksaan penjepitan
agar miring, maksudnya agar masih ada
saluran atau hubungan pengaliran udara
pada secrotum lewat kulit scrotum. Untuk
melihat hasil akhir pelaksaan kastrasi, kita
dapat melihatnya pada bulan berikutnya.
Bila secrotum yang dijepit itu tetep
tumbuh besar maka kastrasi tersebut
dikatakan gagal sedangkan apabila
secrotum itu mengecil dan hilang sama
sekali itu berarti kastrasi kita berhasil.
Cara ini efektif dilakukan pada ternak
umur 1 minggu.
2. Kastrasi Terbuka
Kastrasi terbuka adalah kastrasi yang
dilakukan dengan jalan pembedahan untuk
mengeluarkan testes, cara ini efektif

dilakukan pada ternak yang berumur 7-14


hari. Kastrasi pada usia dewasa tidak
terlalu berpengaruh terhadap pertumbuhan,
namun dapat memperbaiki kualitas karkas
daging setelah ternak dipotong, ternak
yang dikastrasi pembawaannya akan lebih
tenang
dan
pertumbuhannya
cepat. Sebaiknya ternak yang akan
dikastrasi berumur tidak lebih dari 8
bulan, sebab setelah umur lebih dari 8
bulan mudah mengalami cekaman dan
pendarahan yang hebat. Kastrasi atau
pengebirian yang dilakukan pada ternak
bertujuan
untuk
mempercepat
pertumbuhan,
selain
itu
agar
memungkinkan untuk memperoleh nilai
karkas daging yang berkualitas baik.
Ternak
yang
dikastrasi
akan
memperlihatkan tubuh yang lebih gemuk,
bulat, dan lebih mudah dikelola terutama
dalam suatu peternakan yang besar. Ternak
yang tidak terseleksi sebagai pejantan
lebih
baik
dikastrasi agar
tidak mengawini betina dan mempunyai
keturunan. Hilangnya fungsi ternak
sebagai pejantan akan menghilangkan
nafsu untuk kawin, sehingga dapat
mengurangi peluang penularan penyakit,
khususnya penyakit yang menular lewat
perkawinan.
F.

INFESTASI CAPLAK
ETIOLOGI

Boophilus
Caplak ini tidak memiliki hiasan pada
skutum dan tidak memiliki festoon. Basis
kapituli berbentuk segienam. Caplak ini
memiliki hipostoma yang pendek . palpi
menonjol ke dorsal dan lateral. Pada lateral
skutum terdapat mata. Pada pasangan kaki
pertama terdapat celah. Caplak jantan
memiliki

keping

adanal

dan

keping

asesori.
Genus ini terdiri dari 5 spesies
(Harwood dan James, 1979). Spesies yang

penting adalah Boophilus microplus, B.


annulatus dan B.

decoloratus. Ketiganya

merupakan vektor penting piroplasmosis


pada sapi di Amerika, Afrika, Asia, Eropa,
dan Australi
Caplak sapi adalah jenis caplak berkulit
keras yang dianggap paling penting dalam
dunia

pertenakan

sapi.

Karena

telah

mendatangkan kerugian yang sangat besar bagi


peternakan

sapi.

Dalam

keadaan

tidak

menghisap darah caplak ini berukuran hanya


sebesar biji mentimun dan berwarna coklat. Alat
penghisap terletak di ujung yang berfungsi
untuk menempel dan menghisap darah. Caplak
sapi betina dapat mengembang 10-12 kali dari
ukuran

aslinya

sesudah

menghisap

darah.

Caplak sapi terkenal sebagai caplak satu induk


yang berarti larva, nimfa, dapat di jumpai pada
satu induk semang. Setelah kenyang menghisap
darah akan menjatuhkan diri dari induk semang
untuk bertelur. Telurnya sejumlah 3.000-5.000
butir yang di keluarkan sedikit demi sedikit
setiap harinya. Dalam keadaan kelembaban
tinggi dan suhu yang memadai telur akan
menetas dalam waktu sekitar 14 hari. Larva
yang berkaki 3 pasang segera naik ke daundaun rumput untuk menunggu kesempatan
menempel pada induk semang. Bila tidak cepat
mendapat induk semang yang baru larva dapat
menahan

lapar

untuk

berminggu-minggu

bahkan sampai berbulan-bulan. Setelah berhasil


mendapatkan induk semang dan menghisap
darahnya, larva akan melepaskan diri dari induk
semang untuk berganti kulit menjadi nimfa.
Proses ini di ulangi lagi oleh nimfa untuk
menjadi dewasa (Hendrix dan Robinson, 2006).

Gejala Klinis dan Dampak Umum Akibat


Terkena Caplak
1.

2.

Dermatosis
Infestasi caplak dapat mengakibatkan
kerusakan kulit atau dermatosis sehingga
menurunkan kualitas kulit. Infestasi caplak
juga menghilangkan rambut penutup dan
menimbulkan suatu jaringan nekrotik pada
kulit.
Penyebaran Berbagai Penyakit.
Caplak berperan dalam penularan dan
pemindahan berbagai penyakit yang
disebabkan oleh bakteri, virus, protozoa,

3.

dan rickettsia. Beberapa diantaranya


bersifat zoonosis. Caplak berinang satu
menularkan
agen
penyakit
secara
transovarial (melalui telur) sedangkan
caplak berinang dua dan tiga secara
transtadial (dari larva ke nimfa dan dari
nimfa ke caplak dewasa). Peran caplak
sebagai penular penyakit dari hewan ke
manusia telah banyak diketahui. Beberapa
penyakit yang ditularkan caplak pada
manusia adalah demam Q, demam
hemoragi Crimean-Congo, penyakit lyme.
Penyakit yang dapat ditularkan oleh caplak
pada sapi antara lain anaplasmosis,
babesiosis,
theileriosis,
ensefalitis,
ehrlichiosis, dan lain-lain. Penyakit
babesiosis yang ditularkan berbagai caplak
dapat menyebabkan kematian 80-90% sapi
dewasa yang tidak diobati dan 10-15%
ternak muda umur satu sampai dua tahun.
Kerugian lain yang timbul akibat penyakit
ini adalah penurunan berat badan,
penurunan produksi susu.
Iritasi dan Penurunan Produksi
Tusukan kelisera menyebabkan iritasi
dan kegelisahan sehingga aktivitas dan
waktu istirahat inang akan berkurang.
Tusukan kelisera akan memperbesar faktor
stress yaitu banyak energi yang
terbuang, sehingga akan menurunkan
efisiensi
makanan
dan
sekaligus
menghambat laju pertumbuhan badan dan
daya produksi.

Pengendalian Caplak
Pengendalian caplak tergantung
pada jenis caplak dan induk semangnya
disamping penggunaan bahan kimia,
pengendalian caplak juga melibatkan
berbagai bahan non kimia dan tatalaksana
lingkungan
kandang
atau
padang
pengembalaaan
yang
baik.Keadaan
lingkungan padang penggembalaan yang
dapat tertembus sinar matahari umumnya
tidak disukai oleh caplak. Pemangsa atau
predator caplak adalah jenis-jenis burung
tertentu, hewan pengerat, dan semut.
Predator-predator ini dapat menurunkan
populasi caplak.

Cara pengendalian yang paling


PERMASALAHAN
DAN
efektif adalah dengan pestisida atau
PENANGGULANGANNYA.
Balai
akarisida, yaitu sejenis bahan kimia yang
Penelitian Veteriner Bogor: Bogor
mampu membunuh caplak. Bahan kimia
umumnya sangat efektifuntuk membunuh Wwardhana, April H. 2011. PENGOBATAN
MYASIS DENGAN SEDIAAN KRIM
caplak, tetapi penggunaan yang berlebihan
dapat menyebabkan caplak menjadi
MINYAK ATSIRI DAUN SIRIH HIJAU
resisten atau tahan terhadap pengaruh
(Piper betle L) PADA DOMBA YANG
kimia tersebut. Di tempat-tempat tertentu
TERINFESTASI
DENGAN
LARVA
berbagai jenis dan galur caplak telah tahan
Chrysomya bezziana. Balai Penelitian
terhadap jenis pestisida tertentu, sehingga
Veteriner Bogor: Bogor
pengendalian dengan bahan kimia tidak
Sukarsih, Partoutomo S, Satria E, Eiseman
efektif lagi.
CH dan Wiladsen P 1999.
Pengendalian dengan cara celup
Pengendalian caplak yang paling
Pengembangan vaksin myasis,
efektif terutama bagi peternakan skala
Deteksi in vitro respon kekebalan
sedang atau besar adalah dengan cara
protektif antigen protein Perithropic
celup (dipping) menggunakan akarisida
Membrane, pellet dan supernatant
yang cocok. Peternakan skala kecil bila
Larva L1 lalat Chrysomya bezziana
menggunakan
cara
ini
dapat
pada domba. Jurnal ilmu Ternak dan
mengupayakan secara kelompok.
Veteriner.
Dari hasil praktikum didapatkan
bahwa sapi-sapi yang dipraktikumkan
dalam keadaan yang kotor,lingkungan
yang kotor dan perawatan yang kurang
baik dilihat dari keadaan kandang yang
kotor dan BCS pada sapi-sapi dibawah
standar sapi normal.
Pustaka Acuan
Subronto, Tjahajati I. 1989. Ilmu Penyakit
Ternak. Edisi pertama. Yogyakarta: Gajah
Mada University Press.
______. 1995. Ilmu Penyakit Ternak I.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
______. 2003.
Ilmu Penyakit Ternak 1
(Mamalia). Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Wwardhana, April H. 2006. Chrysomya
bezziana PENYEBAB MYASIS PADA
HEWAN
DAN
MANUSIA:

Smith, B. P. 2002. Large Animal Internal


Medicine. New York : Mosby
Subronto, 2003. Ilmu Penyakit Ternak
( Mamalia ) I. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press